Tips Jitu Mendapatkan Beasiswa Itu….

Terus terang sebenarnya saya bukan orang yang paling tepat untuk membahas topik ini. Ada lebih banyak alumni Erasmus+ (dulu Erasmus Mundus) yang semangat untuk mengejar beasiswanya jauh lebih hebat dari saya. Kalau ditanya tentang bagaimana cara sukses mendapat beasiswa atau apa tips jitu untuk dapat beasiswa, saya akan jawab saya tidak tahu. I really have NO idea. (Terus ngapain bikin postingan ini?) Well, karena saya tahu bagaimana tips jitu untuk menghancurkan perjuangan tersebut. Ha ha ha ha. 😀

Dearest teman-teman yang ingin mendapatkan beasiswa (dengan alasan apapun, dengan motivasi apapun),

Ketahuilah, salah satu cara termudah untuk gagal mendapatkan beasiswa adalah dengan berhenti berusaha. You missed 100% chance of every shot you didn’t take. Berusaha dengan setengah hati? Buat saya, itu sama parahnya.

Tanpa kita sadari sebenarnya setiap hari, setiap waktu yang kita habiskan di sekolah, di ruang kuliah, atau di tempat kerja, akan berefek pada keberhasilan kita mendapatkan beasiswa, kalau memang salah satu tujuan hidup kita dapet beasiswa lho ya. (Ah moso’ sih?) Eh… beneran ini. 🙂

Kalau diingat-ingat, biasanya cari beasiswa itu syarat utama yang selalu diminta adalah CV (Curriculum Vitae atau Daftar Riwayat Hidup), Motivation Letter, dan Recommendation Letter. Bagaimana kita mau buat CV yang keren, kalau kita tidak pernah melakukan sesuatu? Bagaimana mau bikin motivation letter yang menarik, kalau bahkan besok pagi mau ngapain aja tidak terpikir? Bagaimana mau minta Recommendation Letter yang benar-benar menggambarkan kemampuan kita (atau bahkan lebih dari itu), kalau kita tidak pernah berinteraksi dan menjalin hubungan baik dengan orang yang akan kita mintai rekomendasi?

“Tapi tapi tapi tapi… CV saya keren, motivation letter saya luar biasa, pemberi rekomendasi saya adalah orang-orang hebat di bidangnya, dan saya masih gagal mendapatkan beasiswa. Hidupku hampa. Aku terjatuh dalam lautan luka dalam dan tak sanggup bangkit lagi. Toloooooong….”

*doeeeeng, sebentar, saya mau pingsan dulu*

Sampai dimana kita tadi ya? Ada banyak sekali kemungkinan kenapa beasiswa kita tidak dikabulkan (dan sebagian besarnya diluar kontrol kita). Mungkin pemberi beasiswa merasa  dengan kualifikasi dimiliki kita tidak perlu diberi beasiswa, bisa jadi pemberi beasiswa menganggap kita tidak memenuhi target group yang diinginkan, bisa juga karena alasan-alasan sepele seperti ‘kelewatan baca aplikasi kerennya, Bro’. Saya tahu yang terakhir itu nggak lucu, but it might happen, memangnya yang kirim aplikasi cuma 20 orang? Trus kenapa hidupmu jadi hampa? Katanya CVnya keren? Katanya motivation letternya luar biasa? Katanya pemberi rekomendasinya orang-orang hebat?

Saya ingat sekali, angkatan saya dulu dipenuhi dengan anak-anak fresh graduate. Bisa dibilang 80% fresh graduate dan 20% sisanya adalah orang-orang yang sudah memiliki karier dan ingin memperdalam pengetahuannya. Tahun berikutnya, isinya sebagian besar orang-orang yang sudah mapan kariernya dan sedikit sekali fresh graduate yang diberikan beasiswa program tersebut alias kebalikan dari angkatan saya. Coba bayangkan kalau saya tidak mendaftar di tahun awal dan memutuskan untuk menunda, apa nggak lebih kecil chance untuk mendapatkan beasiswa? Ini lho yang saya maksud dengan kita tidak memenuhi target group yang diinginkan. Pemberi beasiswa punya rencana mereka sendiri, punya kriteria sendiri dalam menentukan orang-orang yang akan diterima. Begitu aplikasi kita masuk, ya tinggal berdoa aja, itu sudah diluar kontrol kita. Kita hanya bisa mengontrol sampai, ‘apakah kualitas aplikasi yang kita kirim itu sudah terbaik dari yang bisa kita kirimkan?’

Memang, ada kalanya kegagalan itu menampar kita, bahkan mungkin kalau harapan kita tinggi, rasa gagal itu rasanya seperti ditinju sama Mike Tyson. Tapi kalau nggak move on-move on, kapan mau dapet beasiswanya? Kapaaaaaan? 😛 Kegagalan mendapatkan beasiswa itu bisa dibilang kesempatan untuk menyusun ulang logistik. Kesempatan untuk baca-baca lagi aplikasi yang sudah dikirim. Kesempatan untuk minta tolong rekan sejawat atau sahabat untuk membaca ulang motivation letter atau CV kita. Jangan-jangan ada typo parah disana? Jangan-jangan kalimat-kalimat yang kita susun bagai jajaran pulau dari Sabang sampai Merauke ternyata membingungkan dan tidak jelas maksudnya. Ada baiknya juga kita bicara dengan pemberi rekomendasi, menurut pemberi rekomendasi, dimana kelebihan yang bisa kita ‘jual’? Hal-hal apa yang perlu diperbaiki, hal-hal apa yang perlu ditingkatkan. See? Kegagalan itu bukan berarti pintunya tertutup semua. Kita aja yang belum tahu, setelah ini ada kesempatan yang lebih baik menunggu kita. Saya kok makin merasa ini postingannya bukan tentang beasiswa lagi ya? Pake move on-move on segala. Ha ha ha.

PS. Saya baru saja teringat obrolan santai dengan dosen beberapa waktu silam, “You know what? For me, all those scholarship applicants are all the same. What’s the different between having TOEFL 575, 600, 620? What’s the different of having 3,3, 3,5, or even 4 GPA? For me, once they pass the qualification, they are equal. What important for me was, since I have to do more jobs with administrative things once this batch arrived, I want those students who I can trust to be able to take care on themselves. Those who didn’t make me pick up the phone and hear that one of my students have troubles….” 

Nah kan, ada banyak hal tidak terduga yang mempengaruhi keberhasilan kita untuk dapat beasiswa. So, have no worries, keep on your best (if this is what you really want) dan jangan lupa minta doa restu orang tua. 😀 Selamat mempersiapkan aplikasi beasiswanya ya teman-teman… Ini sudah bulan Desember. Waktunya mempersiapkan aplikasi untuk yang mau daftar tahun depan, karena untuk daftar tahun ini sudah banyak yang memasuki waktu seleksi. 😛

Celoteh tips mendapatkan beasiswa

Kadang bingung jawab kalau orang bertanya mengenai tips dapat beasiswa..

Secara generik, kalau sesuatu itu bagus dan bersinar, pasti akan cepet laku deh.. lihat aja di pasar, buah atau sayuran yang segar pasti lebih cepat dibeli orang daripada yang layu.

Nah jadi balik ke beasiswa, kalau anda punya nilai akademik yang bagus, bahasa Inggris yang bagus, visi yang jelas, perencanaan yang konkrit, dan cara berkomunikasi yang baik (sehingga bisa memyampaikan ide, gagasan, serta mempresentasikan diri anda di depan calon pemberi beasiswa), rasanya beasiswa sih tinggal tunggu waktu aja 😉

Apalagi peluang beasiswa sekarang ini banyak banget. Di kantor saya saja, tahun ini ada 5 orang yang bersamaan dapat LPDP, jumlah total LPDP 2015 mungkin ribuan. Erasmus+, tahun ini 97 orang dapat beasiswa.

Jadi, rintangan terbesar ya mungkin diri sendiri. Bagaimana mengalahkan godaan2 yang ada, dan lebih menekunkan diri untuk bisa menjadi seorang pribadi yang berkilau.

Note: Saya ga bilang bahwa harus belajar terus, mengurung diri, dan semacamnya. Kehidupan sosial juga penting utk membangun jaringan, melatih komunikasi, membuka perspektif. Work-life balance juga penting. So, do what makes you happy, but don’t forget your dreams. Go towards the right direction !! 🙂

Hasil Technical Meeting EHEF 2014 – European Union

stakeholder-meeting

Berhubung sudah jam 11 malam, jadi tanpa terlalu banyak intro ini itu, hasil technical meetingnya (yang sudah bisa di-share) sbb:

1. Untuk panggung alumni di EHEF Jakarta, panggung ini tidak dikhususkan bagi alumni Erasmus+ saja.

Lokasinya ada di sebelah kiri peta (lihat floor plan https://emundus.wordpress.com/2014/11/02/mark-your-destination-ehef-floor-plan/)

Jadi, nanti akan kita pakai bersama2, bersama dengan alumni dari beasiswa dan negara lainnya (kalau ada yang mau berpartisipasi).

Karena di sisi kanan peta ada presentasi2 yang sudah terjadwal (lihat https://emundus.wordpress.com/2014/10/29/jadwal-presentasi-ehef-jakarta/), maka pembahasan topik di panggung alumni akan bersifat lebih umum dan practical, tidak spesifik mengenai suatu beasiswa tertentu.

Topik2 yang sudah diusulkan adalah sbb:

  • Cara pembuatan motivation letter
  • Bagaimana meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris (tanpa les/kursus) untuk bisa mendapatkan skor tes yang bagus
  • Sharing mengenai pengalaman hidup, studi, dan adaptasi di Eropa
  • Sharing mengenai tips mendapatkan beasiswa

Keempat topik ini durasinya 1-2 jam, dan kalau tidak ada usulan lain dari exhibitor lainnya, maka keempat topik ini akan dilaksanakan selama dua hari, dengan pembicara yang berbeda-beda, supaya bisa dapat perspektif yang lebih luas.

Jadwal detil akan menyusul kemudian.

2. Quiz untuk menyambut EHEF 2014.

Mulai Senin besok, sampai Jumat, di grup FB, kami akan menyelenggarakan quiz dengan 10 hadiah setiap harinya.

Perlu diperhatikan, bahwa hadiah hanya bisa diambil di booth Uni Eropa, di lokasi penyelenggaraan EHEF (Jakarta / Surabaya / Makassar). Tidak ada pengiriman ke alamat peserta.

Caranya:

  • Pertanyaan bisa diumumkan sewaktu2 di grup FB.
  • Penjawab pertama yang benar adalah pemenangnya.
  • Pemenang akan dihubungi melalui inbox email FB-nya, setelah quiz pada hari tsb selesai.
  • Bila tidak ada konfirmasi dalam 1×24 jam, maka hadiahnya hangus.
  • Khusus untuk quiz hari Jumat, konfirmasi dari pemenang harus diberikan sebelum jam 23.59.

Untuk Senin besok, quiz akan dimulai antara pukul 7-9 malam.

Siap2 pantau grup FB !!

Mark your Destination (EHEF Floor Plan) !!

Tengok floor plan EHEF sebelum datang.

Supaya sesampainya disana, sudah tahu booth yang mau dituju dimana saja letaknya.

floorplan

Jakarta: http://ehef-indonesia.org/wp-content/uploads/2014/10/EHEF2014-FloorplanwithInstitutionsList-Jakarta1.jpg

Surabaya: http://ehef-indonesia.org/wp-content/uploads/2014/10/EHEF2014-FloorplanwithInstitutionsList-Surabaya1.jpg

Makassar: http://ehef-indonesia.org/wp-content/uploads/2014/10/EHEF2014-FloorplanwithInstitutionsList-Makassar1.jpg

Kalau ingin menghadiri presentasi, be prepared at least 15 menit sebelum jamnya, karena biasanya antriannya cukup panjang. Apalagi untuk beasiswa, institusi, atau negara tertentu.

————

Jangan lupa, ada panggung alumni juga.

Saat ini kami masih menyiapkan jadwalnya dan pembicaranya.

Akan diumumkan dalam minggu ini, sebelum EHEF.

Jadi, kalau di presentasi, materinya adalah seputar pengenalan beasiswa Erasmus+, kalau di panggung alumni, materinya adalah hal-hal yang lebih practical, semisal:

  • How to start your Erasmus+ application
  • How to make a good motivation letter
  • How to survive living and studying in other countries

Dll dll..

Talkshow beasiswa di Destination Europe 2014 – Bagian 2

Tulisan ini adalah bagian kedua, melanjutkan posting sebelumnya di https://emundus.wordpress.com/2014/10/19/talkshow-beasiswa-di-destination-europe-2014/

3. Persiapan apa saja yang dilakukan sebelum ke Eropa, dan bagaimana rasanya saat pertama kali menginjak Eropa?
Idfi: “Sebelum ke Eropa, saya mengambil kursus bahasa Italia dulu di IIC (Istituto Italiano di Cultura). Kursusnya ada beberapa level, dan bisa dipilih sesuai kebutuhan.”

Eva: “Saya tidak mengambil kursus bahasa sebelum berangkat. Kota tujuan pertama saya adalah Bologna. Tidak ada penerbangan langsung dari Jakarta ke Bologna. Jadi, yang saya lakukan adalah terbang ke kota Milan, lalu melanjutkan dengan kereta ke kota Bologna.”

“Nah, karena kebanyakan orang Italia tidak berbahasa Inggris, maka setibanya saya di airport Milano Malpensa, saya kebingungan bagaimana saya pergi ke stasiun kereta Milano Centrale. Nah, terjebaklah saya akan saran seseorang yang menyarankan untuk mengambil taksi. Di kemudian hari, barulah saya tahu kalau ternyata ada airport bus (ulang alik antara Malpensa dan Centrale) yang harganya 6.5 euro. Untuk taksi, saya menghabiskan 42 euro !!”

4. Apa pesan dari para alumni beasiswa kepada pejuang beasiswa?

Rama: “Luangkan waktu yang cukup untuk persiapan. Bikin perencanaan yang baik. Kalau mau apply beasiswa tahun depan, dari tahun ini sudah persiapan, misalnya untuk tes bahasa.”

Dita: “Peluang itu banyak, tetapi kalau tidak ada yang mempergunakan, semudah apapun peluang tsb, menjadi tidak ada gunanya. Terkadang bukan beasiswanya yang tidak ada, tetapi kita yang tidak mencarinya.”

Eva: “Persiapkan mental untuk apply beasiswa. Selalu ada kemungkinan gagal, ditolak, dsb. Kalau istilah sekarang ‘sakitnya tuh di sini’. Namun, jangan cepat menyerah, coba terus sampai suatu saat ada beasiswa yang nyantol.”

6698003_20140517080212

Yuanita: “Jaman sekarang, apa sih yang ga ada? Motivation letter, banyak contoh dan tipsnya (misal: https://emundus.wordpress.com/2014/05/04/summary-tips-untuk-motivation-letter1/). Surat rekomendasi, syukur2 ada template dari program yang mau di-apply. Kalaupun tidak ada, sudah banyak juga template2 yang bertebaran, tinggal mencari siapa yang bonafid untuk memberi rekomendasi.”

Helena: “Belajar, belajar, dan persiapkan diri. Saya sempat 1.5 tahun kursus bahasa Jerman. Setelah itu juga sempat kursus bahasa Spanyol. Namun karena peluang dan bidang yang diminati di kedua negara tersebut tidak saya dapati, malah akhirnya saya mendapat beasiswa Stuned untuk Belanda.”

“Nah, ketika saya mau apply lagi untuk Chevening, banyak orang bilang mana mungkin, sudah pernah S2 masa S2 lagi. Namun, saya tetap apply dan ternyata saya bisa lolos. Jadi, kalau saya yang sudah pernah S2 dengan beasiswa, bisa dapat beasiswa lagi, apalagi kamu-kamu yang masih belum pernah S2, pasti peluangnya lebih besar !!”

Idfi: “Mendapatkan beasiswa adalah satu hal. Tetapi what’s next is more important.”

“Saya cuma dapat beasiswa kursus 3 bulan. Tetapi dari situ saya membangun network saya dan kemampuan lainnya. Walaupun saya cuma mengunjungi 3 negara Eropa selama masa tersebut, tetapi saat ini saya sudah menjadi freelance tour guide dengan pengalaman keliling ke 5 benua. Banyak order, dan bisa dibilang non-stop traveling. Sudah jalan-jalan, menikmati pemandangan, dibayar pula !!”

(Akhir diskusi)

Summary tips untuk motivation letter

Beberapa bulan lalu, saya menulis seri artikel seputar tips untuk motivation letter.
Karena masih banyak/sering ditanyakan maka berikut summary artikelnya.

Semoga menginspirasi.

Motivation Letter #1: Pertimbangkan perspektif pembacanya
Motivation Letter #2: Apakah harus 1 lembar?
Motivation Letter #3: Pertanggungjawabkan Tulisan Anda
Motivation Letter #4: How to Start
Motivation Letter #5: Buat Kerangka
Motivation Letter #6: Paragraf Pertama
Motivation Letter #7: Paragraf Pertama – Bagaimana Merangkainya
Motivation Letter #8: Berikan 1001 alasan
Motivation Letter #9: Belajar dari Tokyo Metro
Motivation Letter #10: Jangan takut “jual kecap”
Motivation Letter #11: Maksimalkan editormu
Motivation Letter #12: Sebutkan beasiswanya
Motivation Letter #13: Menjadi Seorang Pribadi yang Tangguh
Motivation Letter #14: Pro Kontra itu Wajar
Motivation Letter #15: Pengalaman Berorganisasi

Motivation

Brosur EM versi singkat

Beasiswa Erasmus Mundus (atau sekarang disebut juga Erasmus+), Action 1, menyediakan kesempatan beasiswa untuk jenjang S2 (disebut Erasmus Mundus Masters Course) dan S3 (disebut Erasmus Mundus Joint Doctorate).

Program apa saja yang ditawarkan / bisa dibiayai dengan beasiswa EM?
Hanya program-program yang tertera di link berikut:
EMMC: http://bit.ly/EM-emmc (hati-hati dalam penulisan link, capital matters)
EMJD: http://bit.ly/EM-emjd (hati-hati dalam penulisan link, capital matters)

url

Bagaimana cara mendaftarnya?
Untuk EMMC saya pernah buatkan step by step-nya, bisa ditengok di link berikut:
https://emundus.wordpress.com/2012/11/10/coba-yuk-step-by-step-apply-emmc/comment-page-1/

Berapa besar beasiswanya?
Untuk EMMC, category A (dengan syarat: dalam 5 tahun terakhir, tidak beraktivitas utama di Eropa selama lebih dari 12 bulan), amountnya adalah EUR 24000 per tahun.
(terbagi menjadi: 8000 untuk tuition fee; 12000 untuk biaya hidup selama 12 bulan; 4000 untuk relokasi dan biaya lain-lain)

Untuk EMJD, amountnya lebih besar lagi (pls check the program), tetapi subject to tax (besaran tax-nya berbeda antar negara), karena PhD dianggap sebagai “pekerjaan”, sehingga beasiswanya sebagai “pendapatan” (bukan grant).

Kapan buka pendaftarannya dan pengumumannya?
Pendaftaran buka sekitar September/Oktober setiap tahunnya.
Deadline penutupan sekitar 1-2 bulan sejak pendaftaran dibuka.
(Pls check the program’s website for exact dates).

Pengumuman final sekitar April/Mei.
Mulai kuliah sekitar September tahun berikutnya (winter semester).

Sekarang masih bulan Mei, adakah yang bisa dilakukan untuk persiapan?
Banyak yang bisa dilakukan.
Bisa pilih2 program yang dituju (melalui link di atas).
Baca syarat2nya (biasanya tidak terlalu berubah dari tahun ke tahun).
Siapkan dokumen-dokumen yang diperlukan (terjemahan, legalisir, dll).
Coba dipikir siapa yang layak untuk memberi rekomendasi.
Bisa coba-coba mengarang indah untuk motivation letter juga.

Selamat mencoba !!

Tips untuk dapat beasiswa

tips-graphic

Judul artikel ini sepertinya klise banget.
Tetapi sepertinya pertanyaan inilah yang cukup jadi trending topic, sepengamatan saya di EHEF kemarin.

Bisa dimengerti, bahwa dengan segala ke-menarik-annya, banyak orang yang ingin dapat beasiswa.
Seandainya saja saya adalah pihak yang melakukan seleksi atau memberikan penilaian terhadap aplikasi yang masuk, maka saya bisa kasih kunci2nya..
Tetapi berhubung seleksi untuk EM saat ini adalah dilakukan oleh konsorsiumnya langsung, dan bukan oleh alumninya, mari kita mereka-reka saja, kira2 gimana sih untuk membuat aplikasi yang menarik dan “menjual”.

Jawabn standar saya ketika ditanya “Kak, gimana tips2 kakak untuk bisa dapat beasiswa?” adalah sbb:
1. Scopenya harus jelas dulu, bahwa kita ngomongin beasiswa EM
Untuk EM, majority of the programs are application-based.
Maksudnya application-based, ada daftar2 dokumen apa saja yang harus disubmit, dengan prosedur tertentu, baik itu secara online (softcopy) dan/atau secara surat-menyurat (hardcopy/paper-based).

2. Karena list dokumen apa saja yang harus disubmit sudah jelas, maka do your best effort to submit the best documents.
Maksudnya gimana? (nah point ini yang ga mungkin saya bahas panjang lebar di EHEF.. bayangin aja kalau ada 50 penanya dan harus ngulang 50x hehe.. semoga orang2 yang nanya ini ke saya during EHEF kemarin, baca juga artikel ini, kan blog ini sudah dipromosikan juga di brosur EM-nya)

  • Kalau transkrip nilai, nilai TOEFL/IELTS, dokumen2 tsb adalah hitam-putih, nilai kuantitatifnya bisa terukur, dan bisa ada parameter penyetaraannya..
  • Tetapi kalau motivation letter, CV, nah ini kualitatif, dan penilaiannya pastilah secara subjektif. Apa yang bagus menurut anda (atau reviewer anda) belum tentu bagus untuk konsorsium. Jadi, menurut saya, karena ini aplikasi anda, buatlah sesuai kata hati anda, supaya tidak menyesal. Sangat boleh untuk minta bantuan orang lain untuk proofread dan review, tetapi keputusan terakhir ada di tangan anda.
  • Bagaimana dengan recommendation letter?
    Nah ini emang tergantung kebaikan hati si pemberi rekomendasi. Tantangan utama adalah kalau ada bagian mengarang atau kasih pendapat. Pemberi rekomendasi yang baik biasanya mau elaborate dengan detail mengenai kelebihan si aplikan

3. Gimana dengan program yang mensyaratkan ada interview (biasanya via Skype)?
Ya hadapi saja.. Toh itu bagian dari proses kan..
Lalu gimana kalau kita ngomongnya grogi? Jangankan interview pakai bahasa Inggris, pakai Bahasa Indonesia saja masih ga lancar?
My answer: prepare from now.. Kalau applynya bulan ini, interview mungkin Desember/Januari.. Ga usah mikir, aplikasi saya diterima/tidak ya.. kalau tidak diterima, kan ga diinterview, buat apa prepare cape2.. ya kalau anda sudah pesimis dari awal, mending ga usah apply sekalian hehe..

Semoga artikel ini bisa menginspirasi..
Selamat berjuang !!

Three simple steps for applying EM

The Erasmus Mundus programme is a co-operation and mobility programme in the field of higher education which promotes the European Union as a centre of excellence in learning around the world. It supports European top-quality Masters Courses and enhances the visibility and attractiveness of European higher education in third countries. It also provides EU-funded scholarships for third country nationals participating in these Masters Courses.


Continue reading