Strategi Itu Penting

Sebagaimana sudah saya katakan di beberapa posting yang lalu, belakangan ini saya memang cukup sering menggunakan jasa layanan Uber untuk menunjang aktivitas saya. Besarnya biaya untuk layanan transportasi Uber, ditentukan oleh 2 komponen dasar: jarak dan waktu.

Misalkan saja (hanya untuk ilustrasi), harga per km adalah 3000 rupiah, dan harga per menit (waktu perjalanan) adalah 300 rupiah.
Maka, kalau perjalanan anda sepanjang 20 km, yang ditempuh dalam waktu 30 menit, biaya yang harus anda bayar adalah kurang lebih 69.000 rupiah.

Namun di kala jam-jam sibuk (misal: jam pulang kantor), dan ada banyak permintaan untuk suatu area tertentu (misal: area segitiga emas di Jakarta), maka Uber akan mengenakan yang namanya “surge price”. Ilustrasinya ada di gambar di bawah ini.

 

uber-surge

Surge price ini berfungsi sebagai faktor pengali dari tarif dasar.

Yang saya tahu, “surge price” ini adalah untuk menarik lebih banyak pengemudi Uber untuk masuk ke area yang sedang ramai ini, sehingga para pengguna Uber dapat mendapatkan pelayanan yang lebih cepat. Lebih lengkapnya bisa dibaca di https://newsroom.uber.com/indonesia/informasi-mengenai-harga-ramai-surge-pricing/.

Jadi, menilik ulang contoh sebelumnya, kalau pemesanan anda itu kena surcharge 1,75x, maka jumlah yang harus dibayar menjadi sekitar 120.000 rupiah. Tentunya bagi pengemudi Uber, surge price ini merupakan peningkatan penghasilan yang signifikan (sehingga akan menarik lebih banyak pengemudi untuk masuk ke area yang sedang ramai).

Apa impact surge price bagi pengguna? 
Kebanyakan orang akan menunda perjalanannya, menunggu permintaan mereda (kembali ke tarif normal tanpa surge price atau mendekati tarif normal), baru melakukan pemesanan. Hal ini tentunya adalah perilaku yang wajar, karena pengguna menginginkan harga yang efisien. Namun, bagi Uber, perilaku seperti ini mengurangi jumlah pemesanan mereka.

Perubahan pada Uber minggu ini
Berdasarkan pengamatan saya pribadi, tampilan surge yang menakutkan itu sepertinya ditiadakan. Yang Uber lakukan adalah menampilkan hasil total estimasi biaya perjalanan (yang sudah memasukkan konsep surge, bila berlaku).

Dengan cara ini, pertimbangan pengguna adalah langsung ke hasil akhir, total estimasi biaya perjalanan. Misalkan dari titik A ke B, biasanya harganya 30.000. Namun, pada suatu waktu, harga yang muncul adalah 45.000 (bisa disimpulkan, bahwa surge 1,5x sedang berlaku). Namun, bagi pengguna yang tidak mau pusing, tinggal membuat keputusan apakah harga 45.000 ini memenuhi ekspektasi mereka (jadi pesan atau tidak).

Pertimbangan penggguna untuk membuat keputusan, disederhanakan oleh Uber, dengan harapan lebih banyak pengguna yang melakukan pemesanan (dibandingkan ketika masih menampilkan faktor pengali surge price).


Apa kaitannya dengan beasiswa?
Dari contoh di atas, kita melihat kekreatifan Uber dalam mengemas paket harganya. Dengan menghilangkan tampilan surge dan langsung menampilkan, bisa dibilang tidak ada perubahan konsep perhitungan biaya di sisi Uber. Namun, mereka memberikan nilai tambah bagi penggunanya (dan juga bagi Uber sendiri).

Bagi para pencari beasiswa, ada hal-hal yang mungkin sudah tidak bisa diubah (apalagi kalau sudah lulus), misal saja: nilai IPK, prestasi akademik yang sudah dicapai, kegiatan organisasi yang sudah diikuti. Namun, ada juga hal-hal yang masih bisa diusahakan, misalnya: nilai TOEFL/IELTS, motivation letter, recommendation letter.

Kembali ke contoh Uber di atas, intinya adalah bagaimana mengemas komponen-komponen dasar aplikasi beasiswa yang anda miliki, supaya menjadi suatu kemasan yang menarik bagi pemberi beasiswa. Dengan kata lain, bagaimana caranya menonjolkan diri di aplikasi beasiswa, sehingga menjadi kandidat serius yang bisa dipertimbangkan untuk diberikan beasiswa.

Tidak ada suatu ilmu atau konsep generik untuk hal ini. Perlu pemahaman mengenai apa yang anda punyai, dan apa yang beasiswa harapkan, supaya anda bisa merumuskan suatu konsep aplikasi yang diharapkan bisa “tembus” dan mendapatkan beasiswa.

Memang konsep pemikiran ini sepertinya agak abstrak dan tidak konkret (harus melihat case by case untuk merumuskan strategi yang tepat), tetapi ini adalah salah satu pekerjaan rumah anda sebagai pencari beasiswa (yang pada waktunya nanti, semoga status itu berubah menjadi penerima beasiswa).

Selamat berjuang !! 🙂

Raihlah Kesempatan Terbaik

Selama 2 hari ini, 22 dan 23 Oktober 2016 (Sabtu dan Minggu), pengguna transportasi online Uber mobil (di Jakarta) mungkin tahu (dikirimi email atau notifikasi di aplikasi) kalau Uber mengadakan promo khusus diskon sebesar 35 ribu rupiah, untuk maksimal 5x perjalanan.

uberpromo

Jadi, kalau misalkan biaya perjalanannya 35 ribu atau kurang, maka pengguna jasa tidak usah bayar apa-apa (gratis).
Tetapi kalau lebih dari 35 ribu, tinggal membayar selisihnya saja.

Di tengah kondisi Jakarta yang hujan terus dari pagi, saya menggunakan promo ini.
Agak heran, ketika di jalan menjumpai ada orang2 yang masih ber-ojek ria (hujan-hujanan, tanpa jas hujan).

Ada beberapa kemungkinan:

  • Bukan pengguna Uber, jadi tidak tahu ada promo
  • Jarak tempuhnya jauh, jadi masih lebih murah naik ojek online, dibandingkan naik Uber mobil (walaupun bisa disiasati sih dengan memecah perjalanan menjadi beberapa bagian @ 35 ribu)

Anyway, tidak ada yang salah, pilihan transportasi adalah hak masing-masing orang.
Namun, kalau ada orang yang menempuh jarak dekat, sambil hujan-hujanan, seandainya dia tahu ada promo Uber ini, dia kira-kira akan kesal ga ya hehehe..
Kalau dia ambil promo dari Uber ini, kan selain gratis juga tidak basah-basahan.


Dalam hal beasiswa, kalau kita bisa membuka diri terhadap banyak informasi, akan sangat baik.

Karena, sekalipun kesempatan beasiswa yang cocok dengan profil kita ada, tetapi kalau kita tidak tahu (dan tidak apply), bagaimana bisa dapat beasiswanya.

Bagaimana caranya supaya bisa mendapat banyak informasi?

  • Gabung dengan komunitas pencari beasiswa (milis / grup Facebook / lainnya)
  • Daftarkan email di badan-badan pemberi beasiswa
  • Pro-aktif dalam mencari informasi beasiswa (bisa secara online, ataupun via menghadiri EHEF Indonesia yang akan dimulai dalam 2 minggu ke depan di 3 kota)

Dan semoga, usaha keras yang sudah dilakukan, suatu hari akan membawa hasil yang manis  🙂

Selamat berjuang.

It isn’t exciting, but it’s a must

Pernahkah Anda mendapatkan suatu tugas yang rasanya sulit sekali untuk dilakukan?
Tugasnya sih tidak mustahil untuk dilakukan, tetapi motivasi untuk mengerjakannya itu yang hampir tidak ada.

Hal-hal seperti ini ada dalam berbagai aspek kehidupan, misalkan saja pada kegiatan akademik, ada tugas kuliah, baca paper/jurnal, riset mengenai hal baru, buat skripsi, dan sebagainya. Demikian pula pada aspek kehidupan lainnya semisal dunia kerja, rumah tangga, kegiatan organisasi, dan lainnya.

Yang lebih parah adalah kalau hal-hal ini wajib untuk diselesaikan. Semakin menundanya berarti semakin menumpuk pekerjaan “outstanding“.

Menunda untuk memberi kesempatan diri beristirahat, atau menumbuhkan motivasi baru, atau sekedar recharge diri, terkadang memang diperlukan supaya bisa lebih produktif ketika memulai kembali. Namun, bila terus-menerus menunda, then this is not a good sign. Karena, in the end, toh tugas-tugas tersebut harus diselesaikan juga.

Jadi, lebih baik diselesaikan sesegera mungkin, supaya tidak lama-lama membebani pikiran. It is about how you control your mind.


Dalam mencari beasiswa, apa tantanganmu hari ini?
Misal saja:

  • Menyiapkan motivation letter
  • Menyiapkan diri (belajar) untuk tes kemampuan Bahasa Inggris
  • Mencari tahu beasiswa-beasiswa yang tersedia, apa persyaratan dan ketentuannya
  • dan lainnya

Sebisa mungkin, siapkan apa yang sudah bisa disiapkan.

Sehingga ketika kesempatan beasiswa yang dinanti datang, Anda sudah siap dengan amunisi lengkap untuk memenangkan perlombaan tersebut.

Semoga mencerahkan !!

Tips Jitu Mendapatkan Beasiswa Itu….

Terus terang sebenarnya saya bukan orang yang paling tepat untuk membahas topik ini. Ada lebih banyak alumni Erasmus+ (dulu Erasmus Mundus) yang semangat untuk mengejar beasiswanya jauh lebih hebat dari saya. Kalau ditanya tentang bagaimana cara sukses mendapat beasiswa atau apa tips jitu untuk dapat beasiswa, saya akan jawab saya tidak tahu. I really have NO idea. (Terus ngapain bikin postingan ini?) Well, karena saya tahu bagaimana tips jitu untuk menghancurkan perjuangan tersebut. Ha ha ha ha. 😀

Dearest teman-teman yang ingin mendapatkan beasiswa (dengan alasan apapun, dengan motivasi apapun),

Ketahuilah, salah satu cara termudah untuk gagal mendapatkan beasiswa adalah dengan berhenti berusaha. You missed 100% chance of every shot you didn’t take. Berusaha dengan setengah hati? Buat saya, itu sama parahnya.

Tanpa kita sadari sebenarnya setiap hari, setiap waktu yang kita habiskan di sekolah, di ruang kuliah, atau di tempat kerja, akan berefek pada keberhasilan kita mendapatkan beasiswa, kalau memang salah satu tujuan hidup kita dapet beasiswa lho ya. (Ah moso’ sih?) Eh… beneran ini. 🙂

Kalau diingat-ingat, biasanya cari beasiswa itu syarat utama yang selalu diminta adalah CV (Curriculum Vitae atau Daftar Riwayat Hidup), Motivation Letter, dan Recommendation Letter. Bagaimana kita mau buat CV yang keren, kalau kita tidak pernah melakukan sesuatu? Bagaimana mau bikin motivation letter yang menarik, kalau bahkan besok pagi mau ngapain aja tidak terpikir? Bagaimana mau minta Recommendation Letter yang benar-benar menggambarkan kemampuan kita (atau bahkan lebih dari itu), kalau kita tidak pernah berinteraksi dan menjalin hubungan baik dengan orang yang akan kita mintai rekomendasi?

“Tapi tapi tapi tapi… CV saya keren, motivation letter saya luar biasa, pemberi rekomendasi saya adalah orang-orang hebat di bidangnya, dan saya masih gagal mendapatkan beasiswa. Hidupku hampa. Aku terjatuh dalam lautan luka dalam dan tak sanggup bangkit lagi. Toloooooong….”

*doeeeeng, sebentar, saya mau pingsan dulu*

Sampai dimana kita tadi ya? Ada banyak sekali kemungkinan kenapa beasiswa kita tidak dikabulkan (dan sebagian besarnya diluar kontrol kita). Mungkin pemberi beasiswa merasa  dengan kualifikasi dimiliki kita tidak perlu diberi beasiswa, bisa jadi pemberi beasiswa menganggap kita tidak memenuhi target group yang diinginkan, bisa juga karena alasan-alasan sepele seperti ‘kelewatan baca aplikasi kerennya, Bro’. Saya tahu yang terakhir itu nggak lucu, but it might happen, memangnya yang kirim aplikasi cuma 20 orang? Trus kenapa hidupmu jadi hampa? Katanya CVnya keren? Katanya motivation letternya luar biasa? Katanya pemberi rekomendasinya orang-orang hebat?

Saya ingat sekali, angkatan saya dulu dipenuhi dengan anak-anak fresh graduate. Bisa dibilang 80% fresh graduate dan 20% sisanya adalah orang-orang yang sudah memiliki karier dan ingin memperdalam pengetahuannya. Tahun berikutnya, isinya sebagian besar orang-orang yang sudah mapan kariernya dan sedikit sekali fresh graduate yang diberikan beasiswa program tersebut alias kebalikan dari angkatan saya. Coba bayangkan kalau saya tidak mendaftar di tahun awal dan memutuskan untuk menunda, apa nggak lebih kecil chance untuk mendapatkan beasiswa? Ini lho yang saya maksud dengan kita tidak memenuhi target group yang diinginkan. Pemberi beasiswa punya rencana mereka sendiri, punya kriteria sendiri dalam menentukan orang-orang yang akan diterima. Begitu aplikasi kita masuk, ya tinggal berdoa aja, itu sudah diluar kontrol kita. Kita hanya bisa mengontrol sampai, ‘apakah kualitas aplikasi yang kita kirim itu sudah terbaik dari yang bisa kita kirimkan?’

Memang, ada kalanya kegagalan itu menampar kita, bahkan mungkin kalau harapan kita tinggi, rasa gagal itu rasanya seperti ditinju sama Mike Tyson. Tapi kalau nggak move on-move on, kapan mau dapet beasiswanya? Kapaaaaaan? 😛 Kegagalan mendapatkan beasiswa itu bisa dibilang kesempatan untuk menyusun ulang logistik. Kesempatan untuk baca-baca lagi aplikasi yang sudah dikirim. Kesempatan untuk minta tolong rekan sejawat atau sahabat untuk membaca ulang motivation letter atau CV kita. Jangan-jangan ada typo parah disana? Jangan-jangan kalimat-kalimat yang kita susun bagai jajaran pulau dari Sabang sampai Merauke ternyata membingungkan dan tidak jelas maksudnya. Ada baiknya juga kita bicara dengan pemberi rekomendasi, menurut pemberi rekomendasi, dimana kelebihan yang bisa kita ‘jual’? Hal-hal apa yang perlu diperbaiki, hal-hal apa yang perlu ditingkatkan. See? Kegagalan itu bukan berarti pintunya tertutup semua. Kita aja yang belum tahu, setelah ini ada kesempatan yang lebih baik menunggu kita. Saya kok makin merasa ini postingannya bukan tentang beasiswa lagi ya? Pake move on-move on segala. Ha ha ha.

PS. Saya baru saja teringat obrolan santai dengan dosen beberapa waktu silam, “You know what? For me, all those scholarship applicants are all the same. What’s the different between having TOEFL 575, 600, 620? What’s the different of having 3,3, 3,5, or even 4 GPA? For me, once they pass the qualification, they are equal. What important for me was, since I have to do more jobs with administrative things once this batch arrived, I want those students who I can trust to be able to take care on themselves. Those who didn’t make me pick up the phone and hear that one of my students have troubles….” 

Nah kan, ada banyak hal tidak terduga yang mempengaruhi keberhasilan kita untuk dapat beasiswa. So, have no worries, keep on your best (if this is what you really want) dan jangan lupa minta doa restu orang tua. 😀 Selamat mempersiapkan aplikasi beasiswanya ya teman-teman… Ini sudah bulan Desember. Waktunya mempersiapkan aplikasi untuk yang mau daftar tahun depan, karena untuk daftar tahun ini sudah banyak yang memasuki waktu seleksi. 😛

Baca. Tunda, Tanya. :)

Halo,

saya penulis tamu di blog ini. Mungkin saya akan beberapa kali menulis disini, untuk selingan di musim ujian. 🙂

Kita mulai dari awal ya… Emundus dan saya kebetulan beberapa kali berbagi jaga stand di pameran-pameran pendidikan dan beasiswa, beberapa kali juga stand kami bersebelahan dengan stand-stand pemberi beasiswa yang lain. LPDP, Dikti, maupun beasiswa-beasiswa dari negara-negara Eropa lain seperti Chevening dari Inggris, Nuffic Neso dari Belanda, DAAD dari Jerman, dan beasiswa-beasiswa lainnya. Banyak lho kesempatan untuk beasiswa ke luar negeri itu. Kalau memang sudah berniat untuk melanjutkan studi ke luar negeri, jangan berhenti di satu kesempatan. Ibarat kata begitu layar terkembang, pantang surut ke belakang. GO! Ndak dapet beasiswa yang satu, ya cari yang lain, ndak perlu tuh tarik napas dulu, tunda beberapa bulan lagi. NO. Just. GO!

Kalau baca-baca postingnya emundus yang telah lalu, beberapa inti post-nya adalah jangan pake manja, jangan kebanyakan tanya. Baca yang banyak, kalau punya pertanyaan yang benar-benar mentok, baru tanya. Mungkin ini kebiasaan kita ya, tradisi kita cenderung lisan padahal di Eropa sini kebanyakan informasi tertulis (kecuali yang tidak). Kebiasaan kita di Indonesia itu mudah sekali bertanya bahkan untuk hal-hal yang sudah tertulis (mohon dibedakan antara menanyakan basic questions dan bertanya untuk konfirmasi ya.)

Ada sedikit cerita tentang kebiasaan ini, kebetulan pada saat terjadi tragedi di Paris beberapa minggu lalu saya baru saja sampai di Paris. Karena satu dan lain hal, saya memutuskan untuk meninggalkan Paris. Segera. Seharusnya saya masih tinggal di Paris beberapa waktu dan tiket sudah dipesan, maka saya berupaya untuk mengganti tiket. Sampai di Gare du Noord yang tiba-tiba penuh orang dan tentara bersenjata di Sabtu pagi, saya ke loket tiket, yang apesnya ditutup. Cek jadwal di papan, ternyata beberapa jadwal diubah karena pengetatan keamanan. Stasiun kereta yang saya tuju adalah stasiun antara, bukan stasiun tujuan akhir, bolak-balik saya cek papan pengumuman, nggak keluar-keluar juga tulisannya. Akhirnya saya putuskan untuk bertanya. Dan apa yang terjadi para pembaca yang budiman? Saya diomelin. Yes. Diomelin. Sama penjaga antrian loket. “See it with your eyes.” Dan dia masih mengomel panjang, yang saya langsung males dengernya. Mak nyos sekali bukan? Dikiranya saya ini nggak berusaha baca-baca di kerumuman yang berantakan itu? 🙂

Selama di sini apa-apa harus mandiri. “Saya tidak tahu,” itu berlaku apabila kita sedang diskusi keilmuan di kampus; tapi nggak ada harganya kalau kita ditanya Kondektur kereta/tram kenapa kita nggak nge-tap kartu di gate. “Saya tidak tahu,” tidak berlaku apabila kita buang sampah pakai kantong yang salah; yang ada sampah kita nggak diangkut sama tukang sampah. Ya selamat aja deh kalo sampai seperti itu 😛

Seperti yang selalu diingatkan, mendapat beasiswa itu bukan goal akhir, mendapatkan beasiswa itu artinya perjuangan baru-mau-akan dimulai. Jangan disangka berjauh-jauh dari keluarga dan teman itu selamanya menyenangkan, jangan dikira bisa pegang salju itu selalu jadi keren. Bergelut dengan musim dingin yang biasanya dilengkapi jackpot hujan dan angin itu tantangan. kalau kuliah pagi, berangkat ke kampus di musim dingin itu artinya ngampus ditemani cahaya bulan. Beberapa bulan kemudian, jam 3 pagi matahari sudah terbit dan mungkin baru tenggelam jam 8 malam. Pictures are indeed worth a thousand words, but pictures are only taken in seconds; yet we need to spend thousand seconds to get the moment. 

Sudah siapkah teman-teman untuk mendapatkan beasiswa di luar negeri?

Happy weekend, I’ll see you next time. 🙂

Pengalaman Wawancara

Kemarin sore, saya berkesempatan untuk melakukan wawancara untuk beberapa kandidat pegawai baru untuk program Management Trainee di sebuah lembaga perbankan ternama.

Tiga CV dan hasil ulasan assessment sebelumnya sudah menanti di meja. Menarik mengetahui bahwa ketiga kandidat ini berasal dari universitas yang sama, range tahun lahir 1992-1993, dan kesemuanya berasal dari Teknik.

Dalam tulisan ini, saya bahas 1 aspek saja dari proses wawancara ini. Next time, aspek lainnya.

interview

 

CV mereka menarik, singkat padat, 1-2 lembar saja, dipenuhi berbagai prestasi dan pencapaian yang mengagumkan. Dari CV tersebut, saya memberikan peringkat mana yang nomor 1, 2, dan 3.

Tibalah saat wawancara. Tanya jawab, menguji kemampuan dan ketahanan para kandidat dalam menghadapi pertanyaan2 kritis dari pewawancara.

Tak disangka, kondisi berbalik. Kandidat yang CV-nya paling bagus, ternyata kurang bisa untuk mengkomunikasikan visi dan impiannya. Bahasa Inggrisnya yang kurang lancar juga menjadi halangan bagi dirinya untuk bisa mengekspresikan dirinya secara penuh.

Karena tidak ingin kehilangan kandidat yang baik hanya karena masalah bahasa (yang menurut saya bisa dipelajari dan dilatih), saya memberinya kesempatan untuk menjawab dalam bahasa Indonesia. Namun ternyata hasilnya tidak jauh berbeda. Jawabannya tetap mengawang-awang dan kurang konkret.

Pada akhirnya, saya memilih salah satu dari kedua kandidat lainnya.

Apa lessons learnt-nya, dihubungkan dengan konteks beasiswa?
1. CV yang baik merupakan pembuka jalan supaya calon pemberi beasiswa punya gambaran yang baik mengenai anda.
2. Tidak semua beasiswa membutuhkan sesi wawancara. Di Erasmus+, banyak program yang hanya application-based.
3. Kalau kebetulan beasiswa yang anda apply memerlukan wawancara, maka cara berkomunikasi harus dipelajari, supaya potensi diri anda bisa terlihat sepenuhnya.
4. Salah satu cara untuk menghadapi wawancara adalah: persiapkan list-list pertanyaan yang mungkin utk diajukan oleh pewawancara. Lalu anda siapkan jawaban yang tepat. Lebih bagus kalau bisa ada teman untuk berlatih tanya jawab, apalagi kalau wawancaranya menggunakan Bahasa Inggris.
5. Jawaban yang tepat tidak selalu harus panjang. Terlalu bertele-tele kadang menyebalkan juga.
6. Jawaban harus logis dan konkrit. Mulai dari jawaban utama, yang kemudian bisa dielaborate lebih detil kemudian.
7. Terkadang, jawaban tidak harus 100% benar, tetapi yang penting anda menjawabnya dengan keyakinan, tidak gugup, dan bisa mempertanggung jawabkannya bila ada pertanyaan lanjutan.

Semoga memberikan pencerahan

Celoteh tips mendapatkan beasiswa

Kadang bingung jawab kalau orang bertanya mengenai tips dapat beasiswa..

Secara generik, kalau sesuatu itu bagus dan bersinar, pasti akan cepet laku deh.. lihat aja di pasar, buah atau sayuran yang segar pasti lebih cepat dibeli orang daripada yang layu.

Nah jadi balik ke beasiswa, kalau anda punya nilai akademik yang bagus, bahasa Inggris yang bagus, visi yang jelas, perencanaan yang konkrit, dan cara berkomunikasi yang baik (sehingga bisa memyampaikan ide, gagasan, serta mempresentasikan diri anda di depan calon pemberi beasiswa), rasanya beasiswa sih tinggal tunggu waktu aja 😉

Apalagi peluang beasiswa sekarang ini banyak banget. Di kantor saya saja, tahun ini ada 5 orang yang bersamaan dapat LPDP, jumlah total LPDP 2015 mungkin ribuan. Erasmus+, tahun ini 97 orang dapat beasiswa.

Jadi, rintangan terbesar ya mungkin diri sendiri. Bagaimana mengalahkan godaan2 yang ada, dan lebih menekunkan diri untuk bisa menjadi seorang pribadi yang berkilau.

Note: Saya ga bilang bahwa harus belajar terus, mengurung diri, dan semacamnya. Kehidupan sosial juga penting utk membangun jaringan, melatih komunikasi, membuka perspektif. Work-life balance juga penting. So, do what makes you happy, but don’t forget your dreams. Go towards the right direction !! 🙂

Jangan Sepelekan Hal-Hal Kecil

When opportunity came at your doorstep, do you ready to take it?

Cerita berikut ini sebenarnya dari kehidupan kerja saya, dan tidak ada hubungannya dengan beasiswa. Tetapi, mungkin ada beberapa hal yang bisa dipetik bagi para pencari beasiswa.

Seringkali kita memberikan penilaian negatif terhadap tugas yang diberikan. Ini tugas apa ya? Kok saya ya yang disuruh mengerjakan? Tugas seperti ini sepertinya ga cocok buat saya deh. Di dalam pekerjaan saya di bidang perencanaan, banyak laporan dan analisa yang harus dibuat. Ada laporan teknis yang terkait dengan proyek yang sedang ditangani, ada juga laporan yang sifatnya lebih umum karena ditujukan untuk orang non-teknis, ada juga laporan yang sekedar sebagai risalah catatan pertemuan (meeting). Risalah catatan pertemuan seringkali dipandang sebelah mata karena sifatnya yang hanya untuk dokumentasi semata dan tidak bisa ditonjolkan sebagai suatu prestasi. Padahal membuat risalah juga butuh usaha yang tidak sedikit untuk menganalisa pembicaraan di dalam pertemuan tersebut, dan menuangkannya menjadi risalah yang komprehensif dan bermutu. Jadi, ada beberapa orang, yang kalau kebagian mengerjakan risalah ini, kelihatan kalau mereka kurang suka mengerjakannya. Mukanya cemberut, kerjanya lama, sambil main gadget, dan hasil akhirnya masih perlu banyak koreksi (kelihatan kalau kurang sungguh2 mengerjakannya, karena hatinya tidak di situ). ———— Namun rupanya tugas yang sama, tetapi dalam konteks yang berbeda, bisa ditanggapi secara berbeda. Sekitar 1,5 bulan ke depan, kantor saya akan menyelenggarakan konferensi regional Asia Pasifik di luar Jakarta. Kebetulan, bagian saya mendapatkan tugas untuk menjadi komite penyelenggaraan acara ini. Guess what, ibarat gula, banyak orang yang menyemut mendaftarkan diri secara sukarela untuk bisa menjadi bagian dari komite (mungkin berharap untuk diajak ikut ke lokasi konferensi). Perlu dicatat bahwa dalam konferensi regional ini, tidak semua posisi komite itu mentereng (misal: penyambut tamu, pembicara, MC). Pastinya ada juga posisi-posisi administratif semisal pembuat risalah !! Nah, dari sekian banyak yang menyatakan minatnya, siapakah yang saya pilih? Tentunya saya akan memilih mereka yang kualitas kerjanya sudah terbukti baik untuk setiap bidang yang dibutuhkan. Termasuk untuk pembuat risalah. Jadi, bagi mereka yang kemarin-kemarin malas-malasan mengerjakannya, mohon maaf ya, belum bisa ikut dalam komite.

Pelajaran apa yang bisa diambil dari cerita di atas, dalam hubungannya dengan beasiswa?

  1. Tidak ada orang yang tahu akan masa depan. Kesempatan dan tawaran bisa datang kapan saja, mungkin sekejap. Tergantung diri kita siap/tidak saat itu.
  2. Kalau memang berminat untuk meraih beasiswa, persiapkan diri dari sekarang. Terlepas dari beasiswa yang diminati itu sudah ada/belum, sudah dibuka/belum, persiapkan diri saja. Misalnya: tidak usah tunggu mau tes TOEFL/IELTS baru mati-matian belajar, tidak usah tunggu mau lulus baru belajar sebaik2nya atau “mencuci” mata kuliah untuk memperbaiki nilai IPK.
  3. Setiap hari, setiap ada kesempatan, selalu lakukan setiap hal sebaik2nya untuk meningkatkan nilai diri. Kalau nilai diri anda tinggi, sekalipun tidak ada beasiswa yang ditawarkan, mungkin akan ada orang/institusi yang akan menawarkan beasiswa. Kalaupun beasiswa bukan “jalan” anda, tentunya kualitas tinggi itu selalu menjadi incaran para pemberi kerja.
  4. Jalin hubungan yang baik dengan orang2 sekitar. Misalnya saja dosen pengajar. Mana tahu, suatu waktu di masa depan, dosen ini ditanya oleh relasinya, apakah ada mahasiswa/i yang bisa direkomendasikan untuk beasiswa? Bila kesempatan itu menjadi nyata, kira2 apakah anda yang akan dia rekomendasikan?

Mengubah Cara Pandang

Beberapa waktu belakangan ini, di grup Facebook “Erasmus Mundus Indonesia”, banyak cerita-cerita seputar perjuangan, motivasi, dan tips-tips untuk apply beasiswa yang di-share oleh para awardee beasiswa Erasmus+.

fb

Sangat menyenangkan melihat satu sama lain saling berbagi kisah dan cerita inspiratif, sehingga bisa menjadi penyemangat bagi mereka yang sedang mencari beasiswa.

Hari ini, saya membaca salah satu thread yang sedang aktif di grup ini.

Jadi, ada seorang member yang posting demikian:

fb2

Lalu di salah satu komentar, ada yang menulis demikian:

diyan

Well, saya harus bilang, saya sangat setuju dengan komentar di atas.

Terkadang, ketika antara kenyataan tidak sesuai dengan impian atau ekspektasi, maka mencari alasan, menyalahkan kondisi, atau menyesali keadaan memang tindakan yang rasanya beralasan untuk dilakukan. Sayangnya, dengan melakukan hal-hal tersebut, fokus kita teralih pada kondisi yang ada dan kalau tidak diatasi dengan baik, maka bisa membuat makin terpuruk.

Di sisi lain, apalagi bila masih muda (masih bisa mengubah diri dan masih ada banyak waktu), mungkin bisa melihat dari perspektif lain.

Buat list impianmu, letakkan di 1 kotak.

Buat list kondisimu, letakkan di 1 kotak.

Coba hubungkan kedua kotak tersebut, dan identify, ada gap apa saja di antara kondisi dan impian.

Contoh sederhana:

Impian: Kuliah di Eropa

Kondisi: Bahasa Inggris belum lancar, nilai kuliah masih pas-pasan

Maka, dari gap yang ada, anda bisa menentukan langkah apa yang harus diambil untuk mengatasi gap tersebut –> belajar Bahasa Inggris dan belajar lebih giat di kuliah. Teruslah bertanya “how” sampai anda menemukan solusi praktis bagaimana mengatasi gap tersebut.

Misalkan, belajar Bahasa Inggris –> bisa melalui buku, bisa melalui online, bisa melalui les.

  1. Hmm, mungkin yang cocok untuk saya adalah belajar melalui buku, sedangkan ekonomi pas-pasan –> bagaimana caranya?
    Hmm, mungkin bisa tanya2 teman yang pernah les Bahasa Inggris, atau pernah ikut tes TOEFL? Atau coba cari buku2 bagus di pasar loak (tidak perlu malu, saya pun pernah beli buku di toko loak) –> siapa ya kira-kira teman yang bisa dipinjami buku, dan pertanyaan2 lanjutannya (sampai anda menemukan solusi praktis yang bisa dilakukan).
  2. Lalu mungkin harus meluangkan waktu juga.. Mengurangi waktu2 yang dirasa tidak produktif, dan mengarahkannya kepada kegiatan-kegiatan yang produktif dan bermanfaat.

Semoga tulisan di atas bisa dimengerti, dan anda menjadi orang yang semakin tangguh dalam mengatasi masalah.

Hasil Technical Meeting EHEF 2014 – European Union

stakeholder-meeting

Berhubung sudah jam 11 malam, jadi tanpa terlalu banyak intro ini itu, hasil technical meetingnya (yang sudah bisa di-share) sbb:

1. Untuk panggung alumni di EHEF Jakarta, panggung ini tidak dikhususkan bagi alumni Erasmus+ saja.

Lokasinya ada di sebelah kiri peta (lihat floor plan https://emundus.wordpress.com/2014/11/02/mark-your-destination-ehef-floor-plan/)

Jadi, nanti akan kita pakai bersama2, bersama dengan alumni dari beasiswa dan negara lainnya (kalau ada yang mau berpartisipasi).

Karena di sisi kanan peta ada presentasi2 yang sudah terjadwal (lihat https://emundus.wordpress.com/2014/10/29/jadwal-presentasi-ehef-jakarta/), maka pembahasan topik di panggung alumni akan bersifat lebih umum dan practical, tidak spesifik mengenai suatu beasiswa tertentu.

Topik2 yang sudah diusulkan adalah sbb:

  • Cara pembuatan motivation letter
  • Bagaimana meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris (tanpa les/kursus) untuk bisa mendapatkan skor tes yang bagus
  • Sharing mengenai pengalaman hidup, studi, dan adaptasi di Eropa
  • Sharing mengenai tips mendapatkan beasiswa

Keempat topik ini durasinya 1-2 jam, dan kalau tidak ada usulan lain dari exhibitor lainnya, maka keempat topik ini akan dilaksanakan selama dua hari, dengan pembicara yang berbeda-beda, supaya bisa dapat perspektif yang lebih luas.

Jadwal detil akan menyusul kemudian.

2. Quiz untuk menyambut EHEF 2014.

Mulai Senin besok, sampai Jumat, di grup FB, kami akan menyelenggarakan quiz dengan 10 hadiah setiap harinya.

Perlu diperhatikan, bahwa hadiah hanya bisa diambil di booth Uni Eropa, di lokasi penyelenggaraan EHEF (Jakarta / Surabaya / Makassar). Tidak ada pengiriman ke alamat peserta.

Caranya:

  • Pertanyaan bisa diumumkan sewaktu2 di grup FB.
  • Penjawab pertama yang benar adalah pemenangnya.
  • Pemenang akan dihubungi melalui inbox email FB-nya, setelah quiz pada hari tsb selesai.
  • Bila tidak ada konfirmasi dalam 1×24 jam, maka hadiahnya hangus.
  • Khusus untuk quiz hari Jumat, konfirmasi dari pemenang harus diberikan sebelum jam 23.59.

Untuk Senin besok, quiz akan dimulai antara pukul 7-9 malam.

Siap2 pantau grup FB !!

Mark your Destination (EHEF Floor Plan) !!

Tengok floor plan EHEF sebelum datang.

Supaya sesampainya disana, sudah tahu booth yang mau dituju dimana saja letaknya.

floorplan

Jakarta: http://ehef-indonesia.org/wp-content/uploads/2014/10/EHEF2014-FloorplanwithInstitutionsList-Jakarta1.jpg

Surabaya: http://ehef-indonesia.org/wp-content/uploads/2014/10/EHEF2014-FloorplanwithInstitutionsList-Surabaya1.jpg

Makassar: http://ehef-indonesia.org/wp-content/uploads/2014/10/EHEF2014-FloorplanwithInstitutionsList-Makassar1.jpg

Kalau ingin menghadiri presentasi, be prepared at least 15 menit sebelum jamnya, karena biasanya antriannya cukup panjang. Apalagi untuk beasiswa, institusi, atau negara tertentu.

————

Jangan lupa, ada panggung alumni juga.

Saat ini kami masih menyiapkan jadwalnya dan pembicaranya.

Akan diumumkan dalam minggu ini, sebelum EHEF.

Jadi, kalau di presentasi, materinya adalah seputar pengenalan beasiswa Erasmus+, kalau di panggung alumni, materinya adalah hal-hal yang lebih practical, semisal:

  • How to start your Erasmus+ application
  • How to make a good motivation letter
  • How to survive living and studying in other countries

Dll dll..

Talkshow beasiswa di Destination Europe 2014 – Bagian 2

Tulisan ini adalah bagian kedua, melanjutkan posting sebelumnya di https://emundus.wordpress.com/2014/10/19/talkshow-beasiswa-di-destination-europe-2014/

3. Persiapan apa saja yang dilakukan sebelum ke Eropa, dan bagaimana rasanya saat pertama kali menginjak Eropa?
Idfi: “Sebelum ke Eropa, saya mengambil kursus bahasa Italia dulu di IIC (Istituto Italiano di Cultura). Kursusnya ada beberapa level, dan bisa dipilih sesuai kebutuhan.”

Eva: “Saya tidak mengambil kursus bahasa sebelum berangkat. Kota tujuan pertama saya adalah Bologna. Tidak ada penerbangan langsung dari Jakarta ke Bologna. Jadi, yang saya lakukan adalah terbang ke kota Milan, lalu melanjutkan dengan kereta ke kota Bologna.”

“Nah, karena kebanyakan orang Italia tidak berbahasa Inggris, maka setibanya saya di airport Milano Malpensa, saya kebingungan bagaimana saya pergi ke stasiun kereta Milano Centrale. Nah, terjebaklah saya akan saran seseorang yang menyarankan untuk mengambil taksi. Di kemudian hari, barulah saya tahu kalau ternyata ada airport bus (ulang alik antara Malpensa dan Centrale) yang harganya 6.5 euro. Untuk taksi, saya menghabiskan 42 euro !!”

4. Apa pesan dari para alumni beasiswa kepada pejuang beasiswa?

Rama: “Luangkan waktu yang cukup untuk persiapan. Bikin perencanaan yang baik. Kalau mau apply beasiswa tahun depan, dari tahun ini sudah persiapan, misalnya untuk tes bahasa.”

Dita: “Peluang itu banyak, tetapi kalau tidak ada yang mempergunakan, semudah apapun peluang tsb, menjadi tidak ada gunanya. Terkadang bukan beasiswanya yang tidak ada, tetapi kita yang tidak mencarinya.”

Eva: “Persiapkan mental untuk apply beasiswa. Selalu ada kemungkinan gagal, ditolak, dsb. Kalau istilah sekarang ‘sakitnya tuh di sini’. Namun, jangan cepat menyerah, coba terus sampai suatu saat ada beasiswa yang nyantol.”

6698003_20140517080212

Yuanita: “Jaman sekarang, apa sih yang ga ada? Motivation letter, banyak contoh dan tipsnya (misal: https://emundus.wordpress.com/2014/05/04/summary-tips-untuk-motivation-letter1/). Surat rekomendasi, syukur2 ada template dari program yang mau di-apply. Kalaupun tidak ada, sudah banyak juga template2 yang bertebaran, tinggal mencari siapa yang bonafid untuk memberi rekomendasi.”

Helena: “Belajar, belajar, dan persiapkan diri. Saya sempat 1.5 tahun kursus bahasa Jerman. Setelah itu juga sempat kursus bahasa Spanyol. Namun karena peluang dan bidang yang diminati di kedua negara tersebut tidak saya dapati, malah akhirnya saya mendapat beasiswa Stuned untuk Belanda.”

“Nah, ketika saya mau apply lagi untuk Chevening, banyak orang bilang mana mungkin, sudah pernah S2 masa S2 lagi. Namun, saya tetap apply dan ternyata saya bisa lolos. Jadi, kalau saya yang sudah pernah S2 dengan beasiswa, bisa dapat beasiswa lagi, apalagi kamu-kamu yang masih belum pernah S2, pasti peluangnya lebih besar !!”

Idfi: “Mendapatkan beasiswa adalah satu hal. Tetapi what’s next is more important.”

“Saya cuma dapat beasiswa kursus 3 bulan. Tetapi dari situ saya membangun network saya dan kemampuan lainnya. Walaupun saya cuma mengunjungi 3 negara Eropa selama masa tersebut, tetapi saat ini saya sudah menjadi freelance tour guide dengan pengalaman keliling ke 5 benua. Banyak order, dan bisa dibilang non-stop traveling. Sudah jalan-jalan, menikmati pemandangan, dibayar pula !!”

(Akhir diskusi)

Summary tips untuk motivation letter

Beberapa bulan lalu, saya menulis seri artikel seputar tips untuk motivation letter.
Karena masih banyak/sering ditanyakan maka berikut summary artikelnya.

Semoga menginspirasi.

Motivation Letter #1: Pertimbangkan perspektif pembacanya
Motivation Letter #2: Apakah harus 1 lembar?
Motivation Letter #3: Pertanggungjawabkan Tulisan Anda
Motivation Letter #4: How to Start
Motivation Letter #5: Buat Kerangka
Motivation Letter #6: Paragraf Pertama
Motivation Letter #7: Paragraf Pertama – Bagaimana Merangkainya
Motivation Letter #8: Berikan 1001 alasan
Motivation Letter #9: Belajar dari Tokyo Metro
Motivation Letter #10: Jangan takut “jual kecap”
Motivation Letter #11: Maksimalkan editormu
Motivation Letter #12: Sebutkan beasiswanya
Motivation Letter #13: Menjadi Seorang Pribadi yang Tangguh
Motivation Letter #14: Pro Kontra itu Wajar
Motivation Letter #15: Pengalaman Berorganisasi

Motivation

Brosur EM versi singkat

Beasiswa Erasmus Mundus (atau sekarang disebut juga Erasmus+), Action 1, menyediakan kesempatan beasiswa untuk jenjang S2 (disebut Erasmus Mundus Masters Course) dan S3 (disebut Erasmus Mundus Joint Doctorate).

Program apa saja yang ditawarkan / bisa dibiayai dengan beasiswa EM?
Hanya program-program yang tertera di link berikut:
EMMC: http://bit.ly/EM-emmc (hati-hati dalam penulisan link, capital matters)
EMJD: http://bit.ly/EM-emjd (hati-hati dalam penulisan link, capital matters)

url

Bagaimana cara mendaftarnya?
Untuk EMMC saya pernah buatkan step by step-nya, bisa ditengok di link berikut:
https://emundus.wordpress.com/2012/11/10/coba-yuk-step-by-step-apply-emmc/comment-page-1/

Berapa besar beasiswanya?
Untuk EMMC, category A (dengan syarat: dalam 5 tahun terakhir, tidak beraktivitas utama di Eropa selama lebih dari 12 bulan), amountnya adalah EUR 24000 per tahun.
(terbagi menjadi: 8000 untuk tuition fee; 12000 untuk biaya hidup selama 12 bulan; 4000 untuk relokasi dan biaya lain-lain)

Untuk EMJD, amountnya lebih besar lagi (pls check the program), tetapi subject to tax (besaran tax-nya berbeda antar negara), karena PhD dianggap sebagai “pekerjaan”, sehingga beasiswanya sebagai “pendapatan” (bukan grant).

Kapan buka pendaftarannya dan pengumumannya?
Pendaftaran buka sekitar September/Oktober setiap tahunnya.
Deadline penutupan sekitar 1-2 bulan sejak pendaftaran dibuka.
(Pls check the program’s website for exact dates).

Pengumuman final sekitar April/Mei.
Mulai kuliah sekitar September tahun berikutnya (winter semester).

Sekarang masih bulan Mei, adakah yang bisa dilakukan untuk persiapan?
Banyak yang bisa dilakukan.
Bisa pilih2 program yang dituju (melalui link di atas).
Baca syarat2nya (biasanya tidak terlalu berubah dari tahun ke tahun).
Siapkan dokumen-dokumen yang diperlukan (terjemahan, legalisir, dll).
Coba dipikir siapa yang layak untuk memberi rekomendasi.
Bisa coba-coba mengarang indah untuk motivation letter juga.

Selamat mencoba !!

Motivation Letter #13: Menjadi Seorang Pribadi yang Tangguh

Lama kelamaan, saya merasa hasil proofread ini sangat baik lho..
Menginspirasi saya untuk meberikan tips-tips tambahan, yang semoga bermanfaat bagi seluruh pembaca blog, untuk artikel seri Motivation Letter ini.

Chalkboard texture background with copy space
(Gambar diambil dari http://www.smoothjazznetwork.com)

Nah dalam artikel kali ini, pembahasannya mengenai menjadi pribadi yang tangguh.
Saya mengangkat topik ini karena dalam beberapa motivation letter, saya menjumpai semacam keraguan dari kalimat yang ditulis.

Supaya lebih jelas, saya akan berikan beberapa contoh di bawah ini.

“If it’s possible, I will pursue my doctorate program after finishing my master’s programme”

Saya merasa ada ketidak yakinan di kalimat ini. Saya tidak mengingkari prinsip-prinsip lain misal: pasrah, lihat kondisi, atau manusia berusaha Tuhan yang menentukan, dll. Tetapi, dalam hal menulis motivation letter, anda harus menunjukkan bahwa anda lah yang pegang kendali atas hidup anda, dalam artian anda tahu persis arah mana yang mau dituju, dan kalau hal tersebut tidak tercapai, maka anda sudah punya plan lainnya.

Jadi, untuk perbaikannya, mungkin ada 2 opsi:
1. Di-remove saja statement tsb –> saat ini kita ga usah jauh-jauh ngomong PhD, mending fokus dapetin Master saja dulu
2. Kalimatnya di-retouch sedikit untuk menghilangkan kata “possible”

“I would like to learn and apply the technology used there, because I assume that the methods used in Indonesia are not advanced enough”

Kata “assume” di sini sangat buruk. Ini salah satu kata yang harus dihindari dalam konteks kalimat seperti di atas. Assume di sini berarti anda masih belum pasti juga, yang bisa lead to the confusion bagi pembaca motivation letter (yang juga orang awam yang tidak kenal anda).

Salah satu pertanyaan yang mungkin muncul di benak pembaca adalah, apakah anda menguasai dan tahu detail mengenai bidang anda?

“I want to study in the field of XXX due to my interest and passion on it in Europe especially that links with AAA, BBB, CCC and other related courses”

Ada banyak pertanyaan yang bisa muncul di benak pembaca.
– Kenapa Eropa? (bukan Amerika atau Australia atau Singapura)
– Apakah topik AAA, BBB, CCC, hanya ada di XXX? (bukankah itu topik umum MSc bidang YYY yang juga ada di program2 lainnya?)
– Other related courses atau etc adalah kata2 yang harus dihindari dalam motivation letter, karena menandakan anda tidak tahu persis scope yang anda bicarakan

“I have read the description of the program and it is to my excitement that the courses offered in the program are simply the ones that will fulfill my need”

Nah kalimat ini kesannya high-level banget. Kalau anda ngomong, misalnya dengan bos (di pekerjaan), high-level perhaps works karena mereka memang si bos tidak perlu tahu secara detail, cukup garis besarnya saja. Namun, kalau anda ngomong “high-level” sama orang yang ngerti detail, sebaiknya jangan deh.

Sebaiknya disebutkan, nama coursenya apa, dan kenapa cocok bagi anda.

“I believe its surrounded with top quality lecturers and potential students”

Believe = percaya (seakan2 kondisinya belum nyata).
Nah sekarang, kalau anda lihat daftar pengajar program tsb, secara fakta, apakah mereka “sudah” luar biasa?
Ataukah mereka saat ini masih biasa2 saja (sehingga anda baru sampai tahap “believe”, bahwa mereka akan menjadi top quality lecturers)? (Semoga maksud kalimat saya bisa dimengerti)

Motivation Letter #12: Sebutkan beasiswanya

Lagi-lagi dari hasil proofread, saya menemukan kecenderungan, bahwa orang cerita banyak mengenai latar belakang hidupnya (ada yang cerita dari dia SD, SMP, dst), pendidikannya (beberapa sangat2 mengagumkan), pengalaman kerjanya, minatnya, kecocokan dengan program yang mau diapply, dll. Pokoknya motivation letter yang mereka kirim itu sudah sangat lengkap, menjual, jelas, dan siap kirim. Namun ada 1 hal yang sering terlupakan, yaitu mengenai aplikasi beasiswanya, dan mengapa butuh beasiswa tersebut.

scholarships

Perlu diingat, bahwa program2 studi yang ditawarkan oleh EM, bisa juga ditempuh melalui beasiswa lain (misal: LPDP, beasiswa spesifik universitas, beasiswa pemerintah, dan lainnya).

Hasil dari seleksi EM juga bisa 3 macam:
1. Diterima di program, dengan beasiswa EM (istilahnya “main list”)
2. Diterima di program, tanpa beasiswa EM (istilahnya “reserve list”)
3. Tidak diterima

Nah, walaupun di form pendaftaran terkadang ada kolom khusus yang harus di-tick kalau anda mau apply beasiswa EM, tetapi alangkah baiknya kalau hal ini di-mention juga di motlet, untuk memperkuat argumen/justifikasi, mengapa anda apply beasiswanya juga (tidak cuma apply programnya).

Alasan klasik yang digunakan oleh 99% aplikan tentunya adalah karena alasan ekonomi. Tidak ada salahnya menggunakan alasan ini, karena sangat reasonable. Hanya saja, anda perlu ingat, mayoritas kandidat lain pun (mungkin) akan menggunakan alasan yang sama. Jadi, kalau anda bisa menemukan cara bagaimana anda bisa menjadi unggul di point ini, that’s a good point for you.

Erasmus Mundus, bisa apply sebelum lulus?

Ada kemungkinan bisa.

Baca baik2 syarat program yang anda minati, siapa tahu tercantum seperti ini:

gemma

Kalau tidak tercantum gimana?
Coba email ke koordinator program tsb, dan jelaskan kondisinya bahwa anda akan lulus sebelum perkuliahan di program tsb dimulai (biasanya mulai sekitar Sep/Okt tahun berikutnya). Minta ijin supaya anda boleh ikut “bersaing” memperebutkan beasiswa EM.

Motivation Letter #9: Belajar dari Tokyo Metro

TokyoSubwayMap3
Gambar diambil dari Google (lupa link persisnya dimana)

Dalam membuat motivation letter, seringkali dijumpai constraint atau pembatasan seperti: maksimal 1 halaman, maksimal 700 kata, dsb. Pembatasan seperti ini sebenarnya adalah kesempatan anda untuk menunjukkan apakah anda orang yang bisa membuat prioritas dari semua kelebihan anda.

Minggu lalu, dalam beberapa hari perjalanan dinas di Tokyo, saya melihat inspirasi baru untuk mengilustrasikan konsep limited space, unlimited creativity ini. Cek gambar berikut:

315x500_ac
Gambar diambil dari http://snapguide.com/

Gambar di atas ditempel di dinding2 Tokyo Metro subway (kereta bawah tanah).
Seorang kolega saya yang berkebangsaan Jepang berkata demikian “now you see Japan, so many information to be packed in such size of paper”.
Coba perhatikan, ada informasi apa saja dalam poster tersebut:

  • Di sisi kiri, dari atas ke bawah, ada nama stasiun yang akan dilalui
  • Di paling kiri (fotonya terpotong), ada informasi berapa menit mencapai stasiun tsb
  • Kotak2 bernomor 1 sampai 6 adalah nomor gerbong
  • Di setiap stasiun, diinformasikan letak pintu keluar, pintu transfer ke “line” lain, terhadap posisi gerbong –> jadi, sebelum naik, penumpang bisa memutuskan, gerbong nomor berapa yang lebih efisien untuk dia naiki
  • Ada color codes berwarna merah muda, hijau, dan biru yang saya belum tahu maknanya (saya sedang tanyakan ke kolega saya)

Anyway, dari contoh ini, bisa kita lihat, bukan saja informasinya yang lengkap dan bermanfaat, tetapi penyajiannya pun mudah dimengerti, bahkan bagi first-timer seperti saya (improvement pointnya adalah: harus ada versi Bahasa Inggrisnya ;)).

Kalau anda bisa buat motivation letter anda seperti demikian, singkat padat, dengan penyajian yang jelas, you make your way closer to Erasmus Mundus scholarship.

Semoga menambah inspirasi.

———————-

Informasi tambahan tentang Tokyo Metro (hanya bagi yang tertarik saja):

Motivation Letter #8: Berikan 1001 alasan

Love-Couple-Photography-HD-Wallpaper-1080x675

Gambar diambil dari http://hdwallpaper2013.com

Bagi anda yang sudah punya pasangan, bisakah anda memberikan alasan/jawaban ketika ada orang yang bertanya, misalnya:

  • Mengapa anda memilih pasangan anda?
  • Apa saja kelebihan dia?
  • Apa hal-hal yang membuat anda jatuh cinta dengan dia?
  • Petualangan apa yang anda ingin lakukan bersama dengan dia?
  • Mengapa dia, dan bukan teman sekelas anda yang lebih tampan/cantik?
  • Dan sebagainya.

Pada intinya, secara hiperbola, anda punya 1001 alasan untuk membela dan memberikan penjelasan/argumen mengenai pasangan anda.

Hal demikian pula lah yang harus anda lakukan kalau anda benar2 “jatuh cinta” pada program yang anda tuju.
Anda harus melakukan riset, misalnya:

  • Di program ini saya akan belajar apa saja sih?
    Jangan puas pada high-level detail, tetapi coba browsing sampai level deskripsi mata kuliahnya (sebisa mungkin).
  • Siapa saja sih pengajarnya?
    Apakah mereka qualified enough?
  • Bentuk kuliahnya gimana ya?
    Apakah lebih ke arah classroom, coursework, atau research?
  • Mobilitynya gimana ya?
    Saya akan kuliah dimana saja sih?
    Apakah kombinasi negara, universitas, dan modulnya cocok untuk saya dan sesuai minat?
  • Apakah kalau ambil program ini, tujuan saya bisa tercapai?
    Apa nilai tambah program ini bagi diri saya?
  • Mata kuliah X, sepertinya sama nih sama S1 saya?
    Apa hal berbeda yang bisa saya pelajari, sekalipun materi kuliahnya hampir sama?

Semakin banyak anda menemukan alasan untuk “jatuh cinta” pada program tsb, semakin mudah merangkai motivation letter. Dan sangat disarankan anda riset banyak dulu sebelum memulai menulis motivation letter. Otherwise, you may get stuck in the middle. Lalu perasaan malas mengedit motivation letter karena “stuck” akan semakin menghinggapi (I’ve been there).

Jangan lupa, motivation letter seharusnya berisi mengenai motivasi mengapa anda tertarik akan program tsb. Bukan ringkasan CV, bukan curhatan kegagalan di masa lalu. Kalaupun hal2 tsb perlu dimasukkan sebagai “bumbu” atau “side dish”, maka ingatlah, bahan pelengkap tidak boleh lebih banyak dari main coursenya.

Selamat mencoba.

Motivation Letter #7: Paragraf Pertama – Bagaimana Merangkainya

Orchestrate-Facilitate
(Gambar diambil dari http://blog.mwpreston.net/)

How to orchestrate your writing?
Di bagian akhir posting terdahulu (refer to: https://emundus.wordpress.com/2013/11/02/motivation-letter-6-paragraf-pertama/), saya mengatakan mengenai ada 2 kemungkinan kapan motivation letter itu dibaca.

Ada 2 kemungkinan:
1) Motivation letter adalah dokumen yang dibaca pertama
2) Motivation letter adalah dokumen yang dibaca kemudian (misal: setelah baca CV)

Untuk kemungkinan pertama, maka akan sangat baik kalau paragraf pertama bisa memberikan sedikit gambaran “inti” mengenai semua hal yang dicantumkan pada paragraf2 berikutnya. Ingat, gambaran inti berarti hal yang penting-penting saja. Kalaupun anda juara nasional matematika di SD, tetapi kalau di motivation letter anda lebih cerita mengenai pengalaman riset, pengalaman kerja, maka tidak usah cantumkan pernah jadi juara nasional. Prestasi tersebut dicantumkan di CV saja.

Untuk kemungkinan kedua, anda sebenarnya lebih enak, bisa langsung menyoroti ke hal-hal yang mau anda jual. Ruang untuk “menjual” diri akan lebih luas (note: seringkali jumlah kata/halaman dibatasi).

Masalahnya, kita tidak pernah tahu apakah kita akan dapat kondisi pertama atau kedua. Bisa saja, sekalipun kita sering komunikasi dengan profesor A di universitas A1 (sehingga kita kirim motivation letter dengan cara penulisan kedua), tetapi yang me-review adalah profesor lainnya di univ tsb, atau malah profesor lainnya di univ lain (ingat, dalam penyelenggaraan EM, ada konsorsium, yang terdiri dari perwakilan bbrp universitas, minimal 3 universitas).

Sebab itu, cara paling aman adalah dengan cara penulisan pertama. Kalau orang yang me-review sudah membaca CV kita, sudah tahu siapa kita (karena sering korespondensi), at least paragraf pertama ini bisa menjadi refreshment untuk dia, supaya memorinya tidak ketukar dengan orang lain (siapa tahu dia korespondensi dengan banyak orang).
————-

Next issue, bagaimana pemilihan kata/kalimat untuk paragraf pertama.
Untuk mudahnya, saya berikan dua contoh ilustrasi di bawah ini:

Classic:
My name is XXX, I’m a Bachelor of XXX, graduating from university of XXX in Indonesia, with GPA XXX in the scale of XXX. During my study, I learn about X1, X2, X3, where I’m so much interested in learning X1 in a higher level since … In relation to my interest, I have attended important trainings and certifications such as … I was surprised when knowing that this year Erasmus Mundus had a Master Course program for XXX which is very matched to my interest. Therefore, I would like to apply for this XXX program.

Starting with quotation:
A famous philosopher said “what doesn’t kill you makes you stronger”. This statement strengthened me when I faced difficult moment in my study few years ago. My parents’ business was suddenly bankrupt and we had much debt to the bank. I was in the middle of college at that time and I had to fight to work while study, to be able to self-funding. However, it’s through those difficult moments, here I am standing now as a Bachelor of XXX, graduating from university of XXX in Indonesia, with GPA XXX in the scale of XXX (cum laude). Now that I know that Erasmus Mundus has a program in XXX, I am interested to apply because …

Yang mana yang lebih bagus?
Itu penilaian masing2 orang.
Baik si penulis, maupun si pembaca.
Yang penting adalah perangkaian kalimat yang tepat, pemilihan kata, dan aliran ide yang menyambung satu dengan lainnya.

Selamat mencoba !!

Motivation Letter #6: Paragraf Pertama

Bayangkan anda pergi ke toko buku, ingin mencari bahan bacaan yang menarik, kira2 apa yang anda lakukan?

Kalau saya, saya akan pergi ke toko buku, cari bagian mengenai topik yang saya minati, misalnya “perjalanan wisata”, lalu lihat-lihat buku yang ditawarkan. Namun, tidak semua toko buku menyediakan buku sample. Kebanyakan buku-buku yang dijual akan diplastik rapat.

Kalau demikian kondisinya, dan merobek si plastik bukanlah suatu opsi, maka sinopsis di bagian belakang buku adalah kuncinya. Kalau sinopsisnya menarik, ada kemungkinan bukunya akan dibeli. Namun, kalau tidak menarik, besar kemungkinan tidak akan dibeli.

————–
Menarik atau tidak menarik adalah 1 isu.
Isu lainnya adalah, apakah anda akan membaca seluruh sinopsis tsb, sebelum membuat keputusan menarik atau tidak menarik?

Beberapa kali, saya mendapat rekomendasi bagus mengenai sebuah film. Ketika saya coba tonton, dari pembukaannya saja, saya sudah bingung memahami ceritanya. Jadi saya memutuskan untuk tidak melanjutkan nonton. Sebagai akibatnya saya tidak pernah tahu mengapa teman yang merekomendasikan film tsb mengatakan bahwa film tersebut adalah suatu masterpiece.

Ada quote populer, “don’t judge the book by it’s cover”.
Namun, di dalam dunia yang serba instan dan cepat ini, cover adalah faktor judgement pertama untuk buku tsb.

BTW, menurut anda, sinopsis buku EM ini, menjual ga sih? (klik untuk gambar yang lebih besar)

————–
Anyway, dari intermezzo yang cukup panjang ini, saya mencoba mengatakan bahwa membuat motivation letter yang menarik dan “menjual” adalah 1 isu, dan memastikan si pembaca akan membaca keseluruhan isi motivation letter adalah isu lainnya.

paragraph
(Gambar diambil dari http://connectere.files.wordpress.com/2011/01/paragraph.gif)

Sebab itu, paragraf pertama adalah sangat krusial menurut saya, karena paragraf tsb adalah pembukaan. Walaupun setiap orang punya gaya masing-masing dalam penulisan motivation letter, saya lebih suka kalau ada sedikit perkenalan mengenai calon applicant di paragraf pertama. Apakah anda mengenalkan diri berdasarkan universitas anda, tempat kerja anda, pengalaman anda, itu terserah. Tetapi yang pasti, paragraf pertama ini harus menjadi dasar bagi si pembaca, untuk bisa memahami paragraf-paragraf berikutnya.

Ada 2 kemungkinan:
1) Motivation letter adalah dokumen yang dibaca pertama
2) Motivation letter adalah dokumen yang dibaca kemudian (misal: setelah baca CV)

Berhubung saya baru kembali dari perjalanan panjang overnight yang melelahkan, maka besok/lusa saja ya saya coba lanjutkan pembahasan mengenai 2 kemungkinan ini. Saya mau memulihkan tenaga dulu malam ini.

————–

Bagi yang minggu ini sudah kirim motivation letternya untuk di-proofread (refer to: https://emundus.wordpress.com/2013/10/17/proofread-motivation-letter/), mohon sabar dulu ya. Belum semuanya saya balas hari ini. Akan saya balas secepatnya.
Lumayan banyak yang masuk dalam minggu ini.

Motivation Letter #5: Buat Kerangka

Dalam pelajaran Bahasa Indonesia (di jaman saya sekolah – ga tahu ya kurikulum sekarang), kalau ada tugas mengarang, Bapak/Ibu guru selalu mengajarkan untuk mulai dahulu dari kerangka karangan. Dari kerangka, baru dikembangkan ide-ide bagaimana mengisi setiap paragraf dengan kalimat-kalimat pendukung, sesuai dengan topik paragraf tsb.

Terkait dengan tulisan saya sebelumnya di:
https://emundus.wordpress.com/2013/08/10/motivation-letter-4-how-to-start/
kalau anda sudah mencoba mempraktekkannya, maka anda sudah punya bahan2 dasar untuk motivation letter.

writing if i can think it chant
(Gambar diambil dari: http://firstgradewow.blogspot.com/2012/06/writers-tool-box.html)

Bagaimana untuk EM?
Salah satu contoh kerangka yang mungkin adalah sbb (ini cuma contoh, silahkan disesuaikan sendiri):
Paragraf 1: Perkenalan siapa saya (lulusan mana, major apa, achievement, kondisi ekonomi mengapa apply beasiswa)
Paragraf 2: Minat terhadap EM, program apa, mengapa, apa yang mau dipelajari
Paragraf 3: Tujuan yang mau dicapai (diri sendiri, komunitas, Indonesia)
Paragraf 4: Hal-hal tambahan
Paragraf 5: Kesimpulan

Bagaimana merangkai tulisannya/mengembangkan paragrafnya?
Ikuti tips berikutnya.. (akan saya tulis segera)
Dan ingat, let’s not make this complicated.
Maksudnya apa? Yang mau kita tulis adalah motivation letter yang “menjual”. Bukan motivation letter yang 100% mengikuti kaidah bahasa dan penulisan formal yang terkadang terlalu kaku.

Tips untuk dapat beasiswa

tips-graphic

Judul artikel ini sepertinya klise banget.
Tetapi sepertinya pertanyaan inilah yang cukup jadi trending topic, sepengamatan saya di EHEF kemarin.

Bisa dimengerti, bahwa dengan segala ke-menarik-annya, banyak orang yang ingin dapat beasiswa.
Seandainya saja saya adalah pihak yang melakukan seleksi atau memberikan penilaian terhadap aplikasi yang masuk, maka saya bisa kasih kunci2nya..
Tetapi berhubung seleksi untuk EM saat ini adalah dilakukan oleh konsorsiumnya langsung, dan bukan oleh alumninya, mari kita mereka-reka saja, kira2 gimana sih untuk membuat aplikasi yang menarik dan “menjual”.

Jawabn standar saya ketika ditanya “Kak, gimana tips2 kakak untuk bisa dapat beasiswa?” adalah sbb:
1. Scopenya harus jelas dulu, bahwa kita ngomongin beasiswa EM
Untuk EM, majority of the programs are application-based.
Maksudnya application-based, ada daftar2 dokumen apa saja yang harus disubmit, dengan prosedur tertentu, baik itu secara online (softcopy) dan/atau secara surat-menyurat (hardcopy/paper-based).

2. Karena list dokumen apa saja yang harus disubmit sudah jelas, maka do your best effort to submit the best documents.
Maksudnya gimana? (nah point ini yang ga mungkin saya bahas panjang lebar di EHEF.. bayangin aja kalau ada 50 penanya dan harus ngulang 50x hehe.. semoga orang2 yang nanya ini ke saya during EHEF kemarin, baca juga artikel ini, kan blog ini sudah dipromosikan juga di brosur EM-nya)

  • Kalau transkrip nilai, nilai TOEFL/IELTS, dokumen2 tsb adalah hitam-putih, nilai kuantitatifnya bisa terukur, dan bisa ada parameter penyetaraannya..
  • Tetapi kalau motivation letter, CV, nah ini kualitatif, dan penilaiannya pastilah secara subjektif. Apa yang bagus menurut anda (atau reviewer anda) belum tentu bagus untuk konsorsium. Jadi, menurut saya, karena ini aplikasi anda, buatlah sesuai kata hati anda, supaya tidak menyesal. Sangat boleh untuk minta bantuan orang lain untuk proofread dan review, tetapi keputusan terakhir ada di tangan anda.
  • Bagaimana dengan recommendation letter?
    Nah ini emang tergantung kebaikan hati si pemberi rekomendasi. Tantangan utama adalah kalau ada bagian mengarang atau kasih pendapat. Pemberi rekomendasi yang baik biasanya mau elaborate dengan detail mengenai kelebihan si aplikan

3. Gimana dengan program yang mensyaratkan ada interview (biasanya via Skype)?
Ya hadapi saja.. Toh itu bagian dari proses kan..
Lalu gimana kalau kita ngomongnya grogi? Jangankan interview pakai bahasa Inggris, pakai Bahasa Indonesia saja masih ga lancar?
My answer: prepare from now.. Kalau applynya bulan ini, interview mungkin Desember/Januari.. Ga usah mikir, aplikasi saya diterima/tidak ya.. kalau tidak diterima, kan ga diinterview, buat apa prepare cape2.. ya kalau anda sudah pesimis dari awal, mending ga usah apply sekalian hehe..

Semoga artikel ini bisa menginspirasi..
Selamat berjuang !!

Motivation Letter #4: How to Start

plateful

Anggaplah/ilustrasikanlah bahwa menulis motivation letter seperti mengisi sebuah mangkuk dengan bahan makanan.

Anda sebagai chef-nya, bahan makanan adalah kisah-kisah anda, dan pemberi beasiswa adalah konsumen anda.

Oya, mangkuk adalah batasan jumlah halaman/jumlah kata untuk motivation letter.

Dengan demikian, tentunya anda akan berusaha membuat sajian yang sebaik mungkin (dari sisi/sudut pandang anda).

——————

Bagi pada pemula, memulai membuat motivation letter bukanlah hal yang mudah (I’ve been there).

Beberapa tips/langkah yang bisa saya sarankan:

Pertama, ambil waktu dan tempat dimana anda bisa relax. Jernihkan pikiran anda dari hal-hal lain, dan mulailah membayangkan, misal: hal-hal hebat yang pernah anda lakukan, nilai-nilai personal yang memotivasi anda, aktivitas anda yang mempunyai impact besar, cita2 anda yang sangat ingin anda capai, visi anda beberapa tahun ke depan, dsb. Jangan lupa, sediakan alat tulis dan catatan (cara manual konvensional ini buat saya lebih efektif dibandingkan menggunakan laptop/tablet).

Kedua, anggap saja anda punya mangkuk yang super besar. Jadi, apa pun yang muncul di benak anda (pada tahapan ini, jangan filter idenya, tuliskan saja), segera tulis di catatan (kalau bisa gunakan 1 lembar kertas saja supaya kelihatan semua topiknya dan bagaimana hubungannya satu dengan yang lain). Tidak perlu rapi-rapi menulisnya. Buat coretan sesuai ide anda, hubungkan satu topik dengan yang lain. Hal ini nantinya akan mempermudah anda dalam meng-organisasi-kan ide2 tersebut.

Kalau anda pernah dengar mengenai “mind map”, metode ini cukup efektif untuk mengorganisasikan ide2 anda.

Salah satu contohnya (catatan, gambar di bawah ini hanya untuk ilustrasi saja, bukan mind map untuk motivation letter):

lit_review_1_0

 

(diambil dari http://emedia.rmit.edu.au/learninglab/sites/emedia.rmit.edu.au.learninglab/files/lit_review_1_0.png)

 

 

Contoh lain: http://www.mindmapinspiration.com/wp-content/uploads/2009/06/motivation-mindmap.jpg

 

Ketiga, setelah anda kira2 punya cukup materi, atau pikiran anda sudah lelah (istirahat dulu, tidak usah dipaksa), maka barulah tengok ke  mangkuk yang sebenarnya. Kalau mangkuk tsb lebih kecil, barulah anda filter supaya bahan2 terbaik saja yang masuk. Kalau mangkuk tsb lebih besar, maka luangkan waktu di masa depan, untuk melakukan brainstorming lagi.

——————

Nah, pertanyaan berikutnya mungkin adalah, kalau sudah ada bahan2nya, lalu bagaimana peng-organisasi-an tulisannya?

Hal ini akan saya bahas di artikel berikutnya.

Sementara ini, anda siapkan saja dulu “bahan” anda.

Semoga bermanfaat.

Motivation Letter #3: Pertanggungjawabkan Tulisan Anda

responsibilityaheadBenar bahwa motivation letter adalah salah satu sarana untuk “menjual” diri, untuk meyakinkan si pemberi beasiswa kenapa Anda harus dipilih.

Kalau berbicara soal “jualan”, pernahkah anda mendengar bahwa pedagang2 itu selalu punya “kecap” nomor satu? Walaupun  barang yang mereka jual biasa-biasa saja, namun mereka menjualnya seakan2 barang mereka adalah kualitas nomor 1.

Kalau berbicara soal” kecap”, saya juga teringat di masa2 sekolah dan kuliah dulu, ada pelajaran tertentu yang selalu dibercandakan sebagai pelajaran untuk “ngecap”. Jadi, sekalipun kita tidak ngerti2 amat, tetapi kalau ulangan/ujian, yang penting bisa “ngecap” panjang saja. Karena nilainya diukur pakai penggaris, seberapa panjang jawaban anda, bukan seberapa tepat jawaban anda.

—————–

Anyway, dalam motivation letter, hindari kebiasaan menjual “kecap”. Beranilah untuk mempertanggung jawabkan apa yang anda tulis. Misalnya gimana? Katakan anda punya pengalaman sebagai asisten lab. Tetapi di motivation letter, anda menulis sebagai koordinator asisten lab. Ada kemungkinan, bisa ditanya balik during interview (kalau kebetulan program tsb ada interviewnya), apa saja sih kewajiban anda sebagai koordinator? Berapa asisten lab yang anda monitor? Reporting anda kemana?

Bagus kalau kebetulan anda bisa jawab.
Kalau tidak?
Reputasi anda akan ternoda.
Berhati-hatilah.

7eac9a100e794293a774fbc102c3bc74

—————–

Belum lama ini, dalam korespondensi internal di sebuah organisasi dimana saya jadi membernya, ada sebuah email yang menerangkan bahwa fiscal year sudah hampir berakhir, dan masih ada sisa budget yang belum diutilize (note: ini bukan organisasi pemerintah ya). Bagi anggota yang memiliki ide atau rencana kegiatan yang bisa dieksekusi dalam waktu cepat, dipersilahkan untuk segera mengajukan proposalnya supaya bisa dipertimbangkan apakah diberikan dana/tidak.

Seorang teman saya, dengan cepat langsung reply bahwa dia ingin mengadakan acara kumpul2, seminar, dan ramah tamah dengan biaya 100% dari budget tersisa tsb. Ketika saya tanya (note: saya bertanya sebagai seorang teman, bukan sebagai pihak yang memutuskan penggunaan dana), apa saja sih rincian biayanya, berapa orangnya, bagaimana plannya, dia tidak bisa memberikan jawaban secara rinci. Dia bilang, yang penting diapprove saja dulu, kalau sudah diapprove, baru dia akan susun rencana yang detail.

Dalam contoh ini, keadaannya memang nothing to lose.
Dapat dana syukur, ga juga gpp.

Namun, kalau beasiswa, apakah anda juga mau nothing to lose?
Kalau saya sih pastinya expect to win 🙂

Semoga artikel  ini memberi pencerahan.

Selamat Idul Fitri 1 Syawal 1434 H bagi yang merayakan.

Ga enaknya Erasmus Mundus

Hari ini, seorang pengunjung blog ini meminta share mengenai apa ga enaknya selama dapat beasiswa ini.. https://emundus.wordpress.com/2012/11/10/coba-yuk-step-by-step-apply-emmc/comment-page-1/#comment-8716

Bener juga sih, kalau kita mikir enaknya terus, bisa gawat kalau ternyata setelah menjalani sendiri, ternyata ga seindah yang dibayangkan.. Walaupun.. tentunya kita selalu berharap untuk yang terbaik. Anyway, ada quote dari seseorang yang mengatakan “hope for the best, prepare for the worst”..

Anyway, yang saya tulis berikut ini cumalah sebuah share, pengalaman subjektif, dan semoga dapat semakin “menguatkan” niat bagi mereka yang membacanya.. “Menguatkan” dalam hal ilustrasi seperti pohon yang mau menjadi semakin tinggi. Semakin ke atas, semakin kencang anginnya, dan harus kuat bertahan supaya tidak rubuh. Beasiswa EM (dan juga beasiswa lainnya), pastinya akan mengangkat “nilai” anda, baik itu di akademik, di dunia kerja, dan (mungkin) di mata calon mertua. Tetapi mendapatkan beasiswa barulah sebuah step awal untuk menuju impian Anda.

Jadi berikut adalah ga enaknya beasiswa EM, versi saya:

Apa-apa urus sendiri

Di EHEF 2012 kemarin, ada mbak2 ngomel. Apaan sih nih EM, apa-apa suruh liat website, baca sendiri. Ga ada yang bisa ditanya apa..

Gimana pendapat Anda? Kalau saya sih simple aja.. Kalau rule of the game-nya gitu, ya mau ga mau harus diikutin. Dan memang skema EM seperti itu (baca tulisan2 saya sebelumnya, salah satunya https://emundus.wordpress.com/2012/11/03/insights-from-ehef-jakarta-today/). Sekarang ini masih mending.. Bayangkan dulu tahun2 awal adanya beasiswa EM (starting 2004), siapa coba yang bisa ditanyain, dikonsultasiin..

Ga bisa pilih jurusan

Anyway, ini memang kondisi yang ditetapkan oleh pemberi beasiswa, jadi jangan protes.. Kalau protes, berpaling saja ke beasiswa lain.. Perlu diingat, dalam hidup ini, sesuatu yang sifatnya “replaceable” alias mudah tergantikan, posisi tawarnya lemah. Jadi daripada Anda protes, ngomel, coba2 nego untuk masuk program non EM, tetapi dengan biaya dari EM, mending alihkan fokus dan tenaga untuk beasiswa lain yang mungkin lebih sesuai.

Saya pribadi pun ambil jurusan yang bisa dibilang “lompat”. Dan sebenarnya tahun itu saya apply 2 program EM, tetapi kok diterimanya di yang lebih teoretikal.. Padahal saya orangnya practical banget.. Tetapi yah saya commit, toh saya sudah apply, sudah diterima, masa ga diambil.. (sekalipun ada reserve list yang berharap2 untuk gantiin saya)..

Beberapa universitas cenderung “cuek” dengan mahasiswa/i internationalnya

Ini sih pengalaman bbrp teman. Mereka kebetulan ditempatkan di univ dan negara yang cuek. Jadi, harus cari tempat tinggal sendiri, padahal kontrak sewanya pakai bahasa lokal. Di EM itu, kadang kita ga bisa pilih mau belajar di univ/negara mana. Jadi mau ga mau ya mengikuti kehendak konsorsium. Jangan protes!! Hal seperti ini biasanya sudah ditulis di bagian “mobility” saat mendaftar. Dibaca saja baik2.

Kalau saya sih, dalam 2 tahun itu, kebetulan di 2 universitas itu ada semacam badan pengurus housing lah. Jadi, selama kita mau aktif untuk cari tahu dan ikuti prosedur pendaftaran housing, seharusnya bisa dapat. Pada intinya, jangan pernah cuek dan berpikir semua kebutuhan kita akan diurusin ama universitas. Lebih baik selalu berjaga2.

Asuransi kesehatan

Asuransi sih ditanggung full oleh EM. Cuma dulu itu disentralisasi di suatu negara, dan klaim itu dikirim via pos ke kantor asuransi itu. Kalau hilang, ya berarti ga diganti. Dulu saya mengalami hilang klaim, klaim ga dibayar sampai hari terakhir mau pulang ke Indonesia. Tetapi setelah kirim email ke pejabat yang mengurusi EM di Brussels sana, langsung ditelpon, dan langsung ditransfer hari itu juga dananya.

Note: tuh lihat, asuransi kesehatan saja takut sama pejabat EM.. kenapa? karena perusahaan asuransi “replaceable”, kalau kinerjanya ga bagus, siap2 aja diganti.

Anyway, per saat ini, masalah asuransi tidak disentralisasi lagi, tetapi diserahkan pelaksanaannya ke masing2 konsorsium.

Tuntutannya berat

Dibandingkan Indonesia, saya sih merasa kurikulum di Eropa ini lebih “dalam”. Ingat ya, ini pendapat subjektif. Soalnya ada orang2 yang punya pandangan, yang penting selama di luar itu bersosialisasi dengan orang setempat, experience the culture, mengenalkan budaya Indonesia, dll.

Kalau saya pribadi, saya berpendapat prestasi itu juga penting. Bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk “pencitraan” konsorsium ke Brussels. Ya iya dong, konsorsium juga kan ga mau kalau studentnya nilainya ga bagus. Itu menandakan mereka salah seleksi.

Nah, dulu itu karena tuntutannya besar, dan kebetulan jurusan yang saya ambil juga lompat dari jurusan S1 saya, maka saya berjibaku banget untuk adjust. Ibarat lomba lari 400m, temen2 sekelas itu uda 100 meter di depan saya. Belum lagi, mereka juga student2 terbaik dari negara masing2.

Makanya dulu mau belajar bahasa lokal aja ga sempet (padahal gratis lho kelasnya). Orang luar yang ga tahu ceritanya, cuma bisa mencibir ketika tahu saya pulang dari 2 negara ini dan ga bisa ngomong bahasa lokal kedua negara ini. Tetapi, tidak semua kritikan harus diperhatikan. Pembuktian itu bisa dari banyak hal, ga cuma dari kata2 yang defensif terhadap kritikan orang.

Hidup sendiri

Ini belum tentu mudah bagi sebagian orang. Kalau kondisi sedang senang sih mungkin tidak masalah. Tetapi coba bayangkan, Anda di kota kecil, hampir tidak ada orang Indonesia, lalu Anda sakit, masih harus urus diri sendiri, di luar salju tebal dan angin kencang, dokter pun tidak fasih berbahasa Inggris.

Banyak godaan

Di sana banyak godaan untuk have fun dan menikmati hidup. Bentuknya gimana? Bervariasi!!

Tinggal gimana Anda masing2 bisa menjaga diri, fokus pada tujuan Anda, dan ga lupa kalau Anda di sana adalah dengan beasiswa, jadi jangan sia2kan apa yang diimpi2kan oleh banyak orang lain.

———————–

Sebagai tulisan awal, kayaknya 7 point ini dulu..

Sisanya, mungkin nanti nyambung lagi di part-part berikutnya..

Pada intinya, saya merasa hampir sebagian besar pengalaman EM saya itu enak. Kalaupun ada yang kurang enak, ada sisi positif yang bisa diambil untuk pendewasaan diri, menjadi lebih kuat, dan menjadi pohon yang lebih tinggi lagi. Kalaupun ada kecaman2 negatif, itu biasa, di dunia manapun, tidak cuma akademik, selalu ada orang2 yang berusaha mengkritik dan menjatuhkan kita. Tetapi itu hanya berarti bahwa kita ada di depan mereka, atau kita mengancam posisi mereka. Karena kalau kita bukan ancaman, kenapa mereka repot2 ngurusin kita hehehe..

Di penghujung 2012 ini, di masa2 dimana pendaftaran sudah/hampir ditutup, semoga semua applicant bisa mendapatkan hasil terbaik. Dan semoga kita bisa bertemu di pre-departure 2013 nanti.

Insights from EHEF Jakarta today

Hari ini, berjaga di Booth European Union (EU) dari dimulainya EHEF pukul 11 tepat sampai kesudahannya, membuat saya sempat agak “keleleran”. Saya harus mengacungkan jempol bagi para pengunjung yang datang atas antusiasme dan kehausan mereka akan informasi. Walaupun ada kami ber-14 di booth EU, aliran pengunjung yang deras dan tanpa henti membuat kami harus bergantian untuk mengistirahatkan fisik dan pita suara, karena masih ada 1 hari lagi untuk EHEF. Walaupun, untuk besok akan ada beberapa tenaga bantuan baru yang datang untuk melayani serbuan pengunjung EHEF.

Tidak hanya suara yang habis, brosur2 yang sedianya dijatahkan untuk 2 hari, 90% sudah habis hari ini. Bagi yang sifatnya fotokopian, malam ini ada cukup waktu untuk memperbanyak material. Namun, bagi yang sifatnya cetakan, tidak mungkin melakukan pencetakan hanya dalam 1 hari. Jadi, bagi yang datang di hari kedua EHEF, jangan kecewa kalau brosur dan materi yang disediakan, mungkin, tidak sevariatif hari pertama.

Namun, pada kesempatan ini, saya ingin menekankan bahwa tujuan akhir yang diidam-idamkan oleh banyak orang, yaitu “beasiswa”, sama sekali tidak terkait apakah Anda punya banyak brosur, atau tidak punya brosur sama sekali. Statement saya ini sekaligus juga untuk meng-encourage teman-teman di lokasi selain Jakarta dan Medan, dua kota dimana EHEF diselenggarakan. Seringkali saya nyatakan dalam blog ini, bahwa untuk Erasmus Mundus, seluruh informasi tersedia di internet, dan bisa diakses oleh semua orang. Jadi, punya brosur atau tidak, kesempatan Anda untuk mendapatkan beasiswa tetaplah sama. Tinggal bagaimana kesiapan diri Anda untuk apply ke beasiswa ini.

Anyway, dalam post ini, ada beberapa hal yang saya rasa menarik untuk dibagikan ke para follower blog ini. Pendapat yang saya utarakan adalah pendapat pribadi semata dan tidak untuk menyinggung siapa pun. Scope pembicaraan adalah seputar EM Action 1, untuk program S2 EMMC dan S3 EMJD.

Ada 1 komentar (sambil ngomel) “Gimana sih Erasmus Mundus, apa2 lihat di website …”

Secara umum, syarat mungkin sama: TOEFL/IELTS, motivation letter, recommendation letter, academic transcript, dll. Tetapi, begitu ngomong specific requirement, maka akan ada beragam variasi, tergantung programnya. Program EM ada banyak, syaratnya pun berbeda-beda. Program A butuh TOEFL iBT minimal  90, program B butuh minimal 100.

Tentunya, Anda ingin mendapatkan informasi yang paling update kan? Nah, untuk hal itu, solusinya cuma 1, cek langsung di website program bersangkutan.

Apakah syarat berbeda-beda ini untuk menyusahkan applicant? Tentu tidak, simply karena setiap program membutuhkan level “keyakinan” yang berbeda-beda untuk menilai applicantnya. Karena di sisi lain, setiap penyelenggara program (konsorsium) harus mempertanggung jawabkan juga pencapaian programnya kepada EU.

Internet? Dibandingkan beberapa tahun lalu, akses internet saat ini rasanya ada dimana-mana dan mudah didapat dengan biaya yang ekonomis (paling tidak, masih ada warnet yang tarifnya 6000/jam).
Tidak suka baca softcopy? Ya tinggal di-print.

Banyak pertanyaan “apa sih tips n trik biar pasti dapat beasiswa?”

Jujur, pertanyaan ini gampang2 susah.. Kadang, bukannya kita (yang sudah pernah dapat beasiswa EM) tidak mau memberikan tips n trik, hanya saja kita juga bingung apa ya jawaban benarnya. Kalau dari sisi saya pribadi, saya cuma memberikan “my best effort” pada saat mencoba apply beasiswa.

Apa artinya best effort? Baca requirementnya, pelajari deskripsi di website. Kalau belum mengerti, coba baca lagi 3-4x. Masih belum mengerti juga, coba bertanya. Demikian pula pada saat menyiapkan dokumen, kalau scan/fotokopi, buatlah dokumen yang jelas. Kalau ada yang belum di-translate, translate-lah supaya konsorsium bisa membacanya. Kalau ada hal-hal yang membutuhkan penjelasan tambahan, lakukan itu. Karena data/prestasi berharga yang tidak diketahui oleh orang lain adalah sia-sia.

Terkait motivation letter, banyak juga yang bertanya, point apa sih yang harus ditekankan? Bagi saya, motivation letter tak ubahnya Anda sebagai seorang sales, yang ingin “menjual” diri anda dan kualifikasi anda kepada si pemberi beasiswa, supaya Andalah yang mendapatkan beasiswa tsb, bukan orang lain. Kalau mau dibilang narsis, ya bisa jadi nyerempet2 ke sana, tetapi narsislah yang bisa Anda pertanggung jawabkan, kalau2 jualan Anda dibeli oleh si pemberi beasiswa.

Banyak pertanyaan “bisa/ga sih part time  sambil kuliah?”

Nah menurut saya, ini cara pandang yang perlu diubah. Mungkin terlalu banyak dengar di media cetak, elektronik, dll, banyak mahasiswa/i Indonesia yang part-time sambil kuliah. I’m not against part-time, tetapi kalau Anda sudah sempat baca2 dan cari tahu mengenai beasiswa EM, mungkin Anda sudah tahu kalau amount beasiswanya adalah EUR 24,000/tahun. Sebuah jumlah yang cukup (sangat) besar, yang seringkali membuat iri mahasiswa/i dari beasiswa lain dan mahasiswa/i lokal. Jumlah ini harusnya cukup bagi gaya hidup seorang student.

Jangan terbuai cerita/pengalaman orang lain

Belum lama ini di milis beasiswa, ada email masuk mengenai seseorang Indonesia yang mendapatkan beasiswa EUR 3400/bulan !!! (compare dengan EM yang EUR 1000/bulan) Tetapi orang ini mengalami kesulitan bahasa dalam kuliah (padahal kuliahnya bahasa Inggris lho !!). Dan orang ini gak biasa masak dan cuci baju sendiri. Jadi, mau cari “pembantu” untuk cuci dan beres2 apartemen.

Ya, ini sih kasus langka sekali. Saya tidak bilang kalau Anda tidak bisa dapat beasiswa sebesar itu. Hanya saja, always prepare for the worst case. Janganlah menjadi penerima beasiswa yang cengeng dan manja.

Cuci baju?  Tinggal beli sabun cuci, dan gunakan mesin otomat yang banyak tersedia. Kalau malas menjemur, sekalian sewa mesin pengering.

Bahasa? Ya, untuk itulah ada TOEFL/IELTS, untuk memastikan Anda ga akan keteteran kalau kuliah dengan bahasa Inggris. Saya punya seorang teman, dia dapat beasiswa di Italia, dalam bahasa Italia, dengan jumlah beasiswa yang sangat minim (EUR 400/bulan) !! Dia berangkat ke Italia hanya bermodalkan kamus dan beberapa buku percakapan yang dia beli di Kwitang (sebelum dipindahkan), tanpa persiapan belajar bahasa.

Bayangkan apa jadinya setelah dia sampai di Italia. Bulan2 pertamanya sangat menyedihkan dan penuh tekanan. Ga ngerti materi kuliah, ga bisa ngomong bahasa Italia, uang sangat pas-pasan dan harus benar2 berhemat. Namun, sekarang? Dia sudah lulus, mendapatkan gelar S2, fasih berbahasa Italia, bekerja di Eropa, dan siap melanjutkan S3. Lihatlah kemana mimpimu dan tekadmu dapat membawamu meraih hal-hal yang mungkin sulit terbayangkan di awal, walaupun jalan kesana penuh tantangan.

Know your goal and ACT !!

Banyak orang datang ke booth hari ini, dan bilang “saya mau beasiswa S2 di bidang X, kira2 program apa / univ apa ya yang cocok untuk saya?”.. Hahaha.. seandainya dunia seindah itu.

Sebagian besar penjaga booth EU punya pandangan “no free lunch” dan bahwa kita hanya memberikan kail, bukan menyuapi dengan ikan. Dalam artian, kami selalu menyarankan “lihat websitenya, pilih programnya, baca lagi detailnya, ikuti langkah2nya, dll”. Sebab, proses2 awal ini adalah ujian awal Anda sebelum menempuh jenjang S2 dengan beasiswa.

Toh nantinya sebagai mahasiswa/i, pada saat kuliah Anda tentunya akan menjumpai tantangan2 baru, dimana Anda dituntut untuk kreatif dan bisa menemukan solusi baik untuk memecahkan tantangan Anda.

Ada juga beberapa orang tua yang sangat aktif bertanya mengenai beasiswa, sedangkan si anak hanya manggut2, tengok2 kanan kiri depan belakang, dan kelihatannya tidak interested. Agak lucu sih melihat pemandangan ini. Dalam hati saya bertanya, ini yang mau sekolah bapaknya atau anaknya ya..

Well, sudah jam 11 malam, semoga kalau ada orang2 yang membaca tulisan ini, dan besok datang ke EHEF, hindari membuat kesalahan yang sama. Dan jadilah pejuang2 beasiswa yang tangguh. Sukses untuk Anda semua.

Seni mencari beasiswa, persiapan mendaftar beasiswa & persiapan berangkat

By: Anggiet Ariefianto
Taken from: Milis beasiswa (beasiswa@yahoogroups.com)

Dear all,
Seorang teman saya minta saya membagikan filosofi saya seputar beasiswa. Berikut ini berapa poin yang sempat terpikir dan pernah saya terapkan.
Harap diingat, tidak semuanya aplikatif, ini adalah persepsi saya, jadi
sangat personal, bukan opini umum dan bukan kebenaran yang hakiki.

Seni Mencari Beasiswa

Memilih beasiswa bisa dilakukan dengan berbagai cara yang semuanya sah.
Idealnya mencari beasiswa itu mengacu kepada kebutuhan, keinginan,
kemampuan dan kemungkinan.

  1. Berdasarkan jurusan
    Sebagian orang memilih beasiswa karena ingin mendalami bidang tertentu yang super spesifik, misalnya nano biologi. Tidak masalah studinya di Negara mana. Jika demikian, yang harus dilakukan adalah  membuat data universitas yang memiliki program yang diingini, kemudian lihat kemungkinannya, adakah beasiswa yang bisa mendukung untuk ambil program itu di uni yang diinginkan.

    Harap diingat, meskipun namanya sama, belum tentu muatan materi ajarnya sama. Ambil contoh misalnya gender studies. Ternyata banyak mainstreamnya seperti women studies, gay studies, domestic violence, gender in development, dst.

    Pengamatan saya di Australia, banyak uni yang sama nama programnya tapi dari mata kuliahnya akan terlihat lebih berfokus ke mana. Ini yang seringkali tidak diantisipasi oleh pendaftar (termasuk saya sendiri). Survey yang akurat dan komprihensif diperlukan, pastikan kita tahu betul apa muatan jurusan yang dituju, karena biasanya pada saat wawancara kita juga harus bisa menjelaskan kenapa kita mau ambil bidang itu di universitas itu

  2. Berdasarkan Negara
    Sebagian orang terobsesi ingin sekolah di negara tertentu. Maka yang harus dilakukan adalah mencari beasiswa yang tersedia dari Negara yang bersangkutan. Seringkali sebuah Negara memberikan lebih dari satu skema beasiswa. Australia misalnya memberikan beasiswa melalui ADS, tetapi juga ada IAFTP. Selain itu universitas Australia juga memiliki skema beasiswanya sendiri.

    Alasan ini yang saya pakai waktu daftar ADS, karena kakak-kakak saya semua dapat ADS, ya saya tidak mau kalah, jadi karena ingin sekolah di Australia ya meriset bidang apa sich yang cocok untuk saya, di universitas mana, dst.

  3. Berdasarkan beasiswa yang ada
    Banyak orang mendaftar beasiswa berdasarkan tawaran yang ada. Ini biasanya terjadi kalau ada beasiswa besar yang memulai seleksi seperti ADS dan Stuned. Dalam hal ini kemampuan untuk memperoleh informasi sangat berperan. Banyak orang tertarik mendaftar karena memperoleh informasi beasiswa yang ternyata cocok untuk mereka. Metode ini saya pakai untuk mendaftar tiga beasiswa terakhir yang saya peroleh. Sering-sering saja mengikuti email-email yang muncul di milis beasiswa. Kalau ada yang kira-kira menarik, kita memenuhi syarat, iseng daftar.

    Harap disadari, biasanya informasi dating mepet atau sudah terlambat, jadi biasakan sedia payung sebelum hujan. Saya selalu punya ijasah IELTS/TOEFL yang masih valid dan referensi2 yang bisa saya sisipkan. Pernah mendaftar beasiswa hanya butuh waktu 2 hari untuk mengumpulkan dokumen, mengisi form dan mengirim. Triknya mudah saja, surat rekomendasi tidak ada tanggalnya, pada bagian akhir mengatakan, mendukung untuk studi lebih lanjut. Jadi semua tidak spesifik. Pada akhirnya hanya perlu modal fotokopi dan ongkos kirim.

  4. Berdasarkan jumlah nominal beasiswa
    Biaya hidup di luar negeri biasanya lebih tinggi dari di Indonesia dan banyak beasiswa hanyalah parsial atau mengikuti UMR  Negara setempat, jadi hidup pas-pasan. Beasiswa parsial biasanya hanya memberikan gratis uang sekolah, gratis uang sekolah dan uang saku tapi tidak mengganti tiket, gratis uang sekolah dan akomodasi tapi tidak memberi uang saku dst.

    Pelajari betul skema beasiswa yang diminati, apa saja yang tercover. Kalau memang mau nekat ambil beasiswa parsial, selidiki betul bagaimana menutup kekurangan beasiswanya. Apakah ada badan lain yang dapat membantu (termasuk orang tua, pasangan, jual property dst) ataukah universitas sendiri dapat membantu. Pengalaman teman2 saya yang menerima beasiswa AMINEF beasiswanya memang kurang, tapi universitas tujuan biasanya membantu dgn memberi pekerjaan sebagai asisten dst. Kalau saya pribadi saya punya prinsip saya tidak akan ambil beasiswa yang tidak mengcover penuh.

PERSIAPAN MENDAFTAR BEASISWA
Ketika memilih sebuah beasiswa, ada beberapa hal yang harus diperhatikan untuk memperbesar kemungkinan kita untuk mendapatkan beasiswanya. Karena kesempatan beasiswa hanya datang setahun sekali, harus sangat berhati-hati memilih dan mendaftar beasiswa

  1. Lihat kemampuan dan kesiapan diri sendiri
    Kalau ada tawaran beasiswa, harus ada rekoleksi diri yang jujur. Apakah saya memenuhi syarat terutama dalam hal usia, pekerjaan, latar belakang pendidikan, pendanaan, kesehatan dst. Misalnya, kalau memang tidak punya cadangan dana hindari beasiswa yang parsial, kecuali kalau memang siap menghadapi resiko kesulitan financial di negara orang (meskipun biasanya akhirnya teratasi).

    Kalau memang punya bayi dan beasiswa yang didaftar tidak mengcover keluarga lalu merasa tidak siap meninggalkan keluarga ya jangan daftar dulu, mungkin ditunda sampai anak lebih besar. Pikirkan baik-baik, dapatkah saya meninggalkan keluarga, pekerjaan, kampong halaman dst.

    Selama saya study saya sering sekali jadi tempat curhat ibu-ibu yang harus meninggalkan anak dan suami dan juga suami-suami yang jadi kurang gizi karena jauh dari istri. Pindah ke suatu tempat yang tidak kita kenal, jauh dari keluarga tidak mudah, apalagi kalau kita tidak menguasai bahasa setempat. Pertimbangkan juga stress yang akan muncul kemudian, homesickness dst. Ketika sudah mengambil keputusan, ‘deal with it’, jangan cengeng di negeri orang yang akhirnya akan merepotkan komunitas Indonesia di sana.

    Ketika saya studi di Melbourne ada salah satu rekan saya minta pulang setelah 2 minggu sekolah karena tidak tahan hidup tanpa istri (manja amat sich? Hari gini?)

  2. Lihat posibilitas untuk mendaftar
    Hampir tidak mungkin mendaftar beasiswa tanpa restu dan ijin atasan. Sebelum mendaftar, yakinkan bahwa atasan (artinya bos, pasangan dan keluarga) itu mendukung. Salah satu dosen IALF pernah curhat ke saya karena salah satu kandidat beasiswa AUSAID yang tidak jadi berangkat karena suaminya tidak mengijinkan (lho waktu itu apa tidak pamit?). Saya juga banyak menemukan masalah dimana atasan tidak mengijinkan (alasannya bisa karena sirik, gak mau kehilangan staf, dst.)
  3. Pahami betul persyaratan beasiswa yang akan di daftar
    Setiap beasiswa ada peraturannya sendiri. Ada yang menetapkan batasan usia, hanya terbatas untuk bidang tertentu, hanya untuk kalangan tertentu (berdasarkan geografis, agama, etnis, status pekerjaan dst), harus punya pengalaman kerja minimal ….. tahun, dst. Pastikan bahwa kita memenuhi SEMUA kriteria yang diminta, karena seleksi awal adalah kelengkapan dokumen.
  4. Pahami betul aplikasi beasiswanya
    Mengisi formulir beasiswa juga gampang-gampang susah. Kebanyakan beasiswa menilai kualifikasi pendaftar dari motivation letter. Pengalaman saya membantu anggota milis beasiswa membuat motivation letter, kebanyakan motivation letter dari pendaftar beasiswa Indonesia itu isinya muter2, banyak pakai kata-kata yang berbunga-bunga, padahal kalau disaring tidak ada isinya.

    Biasakan mengisi motivation letter itu singkat dan padat, jadi yang membaca langsung mengerti apa yang mau disampaikan, kualifikasi pendaftar dst. Harap diingat bahwa penyeleksi beasiswa itu harus membaca ribuan aplikasi, jadi seleksi pertama biasanya kelengkapan dokumen, setelah itu baru motivation letter dibaca. Dalah satu hari seorang penyeleksi harus membaca puluhan motivation letter. Kalau motivation letter kita tidak jelas, kemungkinan langsung dicoret. Saya biasanya pakai system dot point dalam menulis yang diikuti penjelasan, karena itu sangat memudahkan pembaca untuk mengikuti isi tulisan saya

    Dalam mengisi formulir beasiswa sebaiknya berkonsultasi dengan orang2 yang pernah memperoleh beasiswa itu karena mereka mungkin punya jurus2 jitu yang tidak kita sadari. Pada waktu saya daftar Ausaid, boleh dibilang kakak saya yang mengisi formnya melalui beberapa tahap revisi. Jangan lupa memenuhi SEMUA persyaratan beasiswa. Kalau yang diminta international TOEFL, pastikan yang dikirimkan adalah international TOEFL, jangan yang institusional.

    Kalau diminta tiga referensi, pastikan memang menyertakan tiga referensi. Sebaiknya referensi itu minimal satu dari atasan. Pastikan aplikasi lengkap waktu dikirim dan dikirim sebelum deadline, dst.

  5. Persiapkan peralatan tempur
    Mencari beasiswa itu lebih dari sekedar cari bidang yang diingini dan isi formulir. Ketika kita sudah merasa siap mental untuk mendaftar dan ‘jalan menujur Roma’ sudah dibersihkan dari onak dan duri, persiapkan diri betul. Selidiki budaya dan kebiasaan masyarakat negara tempat tujuan, supaya kamu bisa mengantisipasi kondisi di sana. Dalam setiap wawancara, ada beberapa pertanyaan yang intinya ingin menguji kesiapan mental kita untuk tinggal di negara orang dan pengetahuan kita terhadap kehidupan sosial di sana.

    Setiap wawancara pertanyaannya standar, di sana mau kuliah apa, kenapa ambil kuliah itu, bagaimana nanti mengimplementasikan ilmu yang diperoleh, dst. Lakukan persiapan yang matang sebelum maju wawancara

  6. Banyak berdoa
    Kalau aplikasi sudah dikirim, sambil menunggu panggilan, banyak-banyaklah berdoa, yang diatas juga perlu diyakinkan kenapa beasiswa itu penting buat kamu. Biasakan kalau sudah mendaftar beasiswa segera lupakan, khan belum tentu dapat. Kalau memang dipanggil baru berpanik-panik ria.

PERSIAPAN SETELAH MENERIMA BEASISWA
Ada dua hal penting yang harus dilakukan: persiapkan diri, dan persiapkan
orang lain.

  1. Persiapan diri yang matang
    Persiapan diri ini tidak hanya sebatas membuat data barang yang harus dimasukkan ke dalam koper, tapi juga harus paham bagaimana budaya dan kebiasaan masyarakat setempat, keberadaan masyarakat Indonesia di sana, penginapan hari-hari pertama dimana, iklim dst. Sebelum berangkat harus sudah punya daftar kegiatan yang akan dilakukan, alamat2 yg hrs dituju, mesti lapor diri di uni kapan, dst

    Sekolah di luar negeri itu bukan cuma untuk menambah ilmu, tetapi juga menyelami bagaimana kehidupan di negeri sana. Jadi kalau sekolah di luar, jangan cuma berkumpul dengan sesama orang Indonesia tapi berinteraksilah dengan masyarakat lokal, mengasah kemampuan berbahasa asing dan menyelami serba serbi masyarakat setempat. Itu adalah bagian dari pelajaran beasiswa, bagian dari proses pembelajaran. Dari banyak mengamati, diskusi dan berinteraksi, kita akan belajar banyak hal yang tidak akan kita dapat dari textbook. Jangan lupa banyak jalan-jalan, mumpung sudah sampai sana. Menabung memang perlu, tapi jangan kelewatan.

    Perhatikan betul budaya setempat. Salah satu kebiasaan mahasiswa Indonesiayang sangat mengganggu saya adalah kebiasaan ‘numpang makan’. Kalau ada acara kumpul-kumpul datang terlambat, makan langsung pulang. Etika tinggal di luar itu kalau ada acara makan, bawalah makanan untuk dimakan bersama dan karena di luar tidak ada yang punya pembantu, ikut beres-beres setelah acara selesai adalah wajib hukumnya. Acara makan-makan di luar negeri jangan dijadikan ajang perbaikan gizi tapi lebih ke arah silaturahmi.

  2. Persiapan keluarga yang akan dibawa/ditinggal
    Kalau mau bawa keluarga, persiapkan betul mental mereka juga. Saya banyak mengamati tingginya stress pada anak, baik jika anak dibawa bersekolah ataupun ditinggal di rumah. Anak ternyata banyak merasa tersisihkan dalam proses pindah, karena merasa tidak diajak kompromi, merasa terenggut dari dunia yang dia kenal dan ditempatkan di tempat asing, kemudian dia akan mengalami stress kedua saat harus kembali ke Indonesia. Ketika anak ditinggal, ia akan merasa terbuang, bahwa orang tuanya tidak mencintainya ketika mereka pergi sekolah. Memberikan pemahaman pada anak sering butuh waktu yang panjang (hal yang sama juga berlaku untuk orang tua). Jangankan manusia, anjing saya pun stress kalau lihat saya mulai mengisi koper karena artinya ia akan ditinggal dan jadi super manja, tidak mau makan, cari perhatian dst.

    Kalau mau bawa pasangan, ini juga tidak selalu pilihan yang tepat. Biasanya kalau suami yang membawa istri tidak masalah karena istri biasanya lebih pasrah dan mendukung suami. Biasanya suami-suami ini mengalami masalah makan karena banyak yang tidak bisa masak dan baru membaik saat istrinya tiba. Sayangnya kebalikannya tidak selalu sama. Saya banyak jadi tempat curhat istri-istri bete dengan suaminya yang mereka tenteng ke luar negeri. Sayangnya memang masyarakat kita masih sangat chauvinist. Ternyata suami-suami yang jadi pengangguran di luar negeri sering frustrasi karena bosan tidak melakukan apa-apa, banyak yang tidak bisa komunikasi dengan masyarakat luar. Banyak istri-istri mengeluh karena setelah suami tiba pekerjaan bertambah, capek sekolah seharian, sampai di rumah masih harus masak, beres-beres rumah dst. Meskipun banyak juga yang suaminya berubah jadi pinter urus anak, pinter masak dst.

    Saran saya kalau mau bawa pasangan, lihat baik-baik karakter pasangannya, kalau tipe yang bikin repot, lebih baik ditinggal saja di rumah. Atau ikuti yang saya lakukan: Jangan menikah kalau masih suka keluyuran keluar negeri.

Three simple steps for applying EM

The Erasmus Mundus programme is a co-operation and mobility programme in the field of higher education which promotes the European Union as a centre of excellence in learning around the world. It supports European top-quality Masters Courses and enhances the visibility and attractiveness of European higher education in third countries. It also provides EU-funded scholarships for third country nationals participating in these Masters Courses.


Continue reading