Strategi Itu Penting

Sebagaimana sudah saya katakan di beberapa posting yang lalu, belakangan ini saya memang cukup sering menggunakan jasa layanan Uber untuk menunjang aktivitas saya. Besarnya biaya untuk layanan transportasi Uber, ditentukan oleh 2 komponen dasar: jarak dan waktu.

Misalkan saja (hanya untuk ilustrasi), harga per km adalah 3000 rupiah, dan harga per menit (waktu perjalanan) adalah 300 rupiah.
Maka, kalau perjalanan anda sepanjang 20 km, yang ditempuh dalam waktu 30 menit, biaya yang harus anda bayar adalah kurang lebih 69.000 rupiah.

Namun di kala jam-jam sibuk (misal: jam pulang kantor), dan ada banyak permintaan untuk suatu area tertentu (misal: area segitiga emas di Jakarta), maka Uber akan mengenakan yang namanya “surge price”. Ilustrasinya ada di gambar di bawah ini.

 

uber-surge

Surge price ini berfungsi sebagai faktor pengali dari tarif dasar.

Yang saya tahu, “surge price” ini adalah untuk menarik lebih banyak pengemudi Uber untuk masuk ke area yang sedang ramai ini, sehingga para pengguna Uber dapat mendapatkan pelayanan yang lebih cepat. Lebih lengkapnya bisa dibaca di https://newsroom.uber.com/indonesia/informasi-mengenai-harga-ramai-surge-pricing/.

Jadi, menilik ulang contoh sebelumnya, kalau pemesanan anda itu kena surcharge 1,75x, maka jumlah yang harus dibayar menjadi sekitar 120.000 rupiah. Tentunya bagi pengemudi Uber, surge price ini merupakan peningkatan penghasilan yang signifikan (sehingga akan menarik lebih banyak pengemudi untuk masuk ke area yang sedang ramai).

Apa impact surge price bagi pengguna? 
Kebanyakan orang akan menunda perjalanannya, menunggu permintaan mereda (kembali ke tarif normal tanpa surge price atau mendekati tarif normal), baru melakukan pemesanan. Hal ini tentunya adalah perilaku yang wajar, karena pengguna menginginkan harga yang efisien. Namun, bagi Uber, perilaku seperti ini mengurangi jumlah pemesanan mereka.

Perubahan pada Uber minggu ini
Berdasarkan pengamatan saya pribadi, tampilan surge yang menakutkan itu sepertinya ditiadakan. Yang Uber lakukan adalah menampilkan hasil total estimasi biaya perjalanan (yang sudah memasukkan konsep surge, bila berlaku).

Dengan cara ini, pertimbangan pengguna adalah langsung ke hasil akhir, total estimasi biaya perjalanan. Misalkan dari titik A ke B, biasanya harganya 30.000. Namun, pada suatu waktu, harga yang muncul adalah 45.000 (bisa disimpulkan, bahwa surge 1,5x sedang berlaku). Namun, bagi pengguna yang tidak mau pusing, tinggal membuat keputusan apakah harga 45.000 ini memenuhi ekspektasi mereka (jadi pesan atau tidak).

Pertimbangan penggguna untuk membuat keputusan, disederhanakan oleh Uber, dengan harapan lebih banyak pengguna yang melakukan pemesanan (dibandingkan ketika masih menampilkan faktor pengali surge price).


Apa kaitannya dengan beasiswa?
Dari contoh di atas, kita melihat kekreatifan Uber dalam mengemas paket harganya. Dengan menghilangkan tampilan surge dan langsung menampilkan, bisa dibilang tidak ada perubahan konsep perhitungan biaya di sisi Uber. Namun, mereka memberikan nilai tambah bagi penggunanya (dan juga bagi Uber sendiri).

Bagi para pencari beasiswa, ada hal-hal yang mungkin sudah tidak bisa diubah (apalagi kalau sudah lulus), misal saja: nilai IPK, prestasi akademik yang sudah dicapai, kegiatan organisasi yang sudah diikuti. Namun, ada juga hal-hal yang masih bisa diusahakan, misalnya: nilai TOEFL/IELTS, motivation letter, recommendation letter.

Kembali ke contoh Uber di atas, intinya adalah bagaimana mengemas komponen-komponen dasar aplikasi beasiswa yang anda miliki, supaya menjadi suatu kemasan yang menarik bagi pemberi beasiswa. Dengan kata lain, bagaimana caranya menonjolkan diri di aplikasi beasiswa, sehingga menjadi kandidat serius yang bisa dipertimbangkan untuk diberikan beasiswa.

Tidak ada suatu ilmu atau konsep generik untuk hal ini. Perlu pemahaman mengenai apa yang anda punyai, dan apa yang beasiswa harapkan, supaya anda bisa merumuskan suatu konsep aplikasi yang diharapkan bisa “tembus” dan mendapatkan beasiswa.

Memang konsep pemikiran ini sepertinya agak abstrak dan tidak konkret (harus melihat case by case untuk merumuskan strategi yang tepat), tetapi ini adalah salah satu pekerjaan rumah anda sebagai pencari beasiswa (yang pada waktunya nanti, semoga status itu berubah menjadi penerima beasiswa).

Selamat berjuang !! 🙂

Raihlah Kesempatan Terbaik

Selama 2 hari ini, 22 dan 23 Oktober 2016 (Sabtu dan Minggu), pengguna transportasi online Uber mobil (di Jakarta) mungkin tahu (dikirimi email atau notifikasi di aplikasi) kalau Uber mengadakan promo khusus diskon sebesar 35 ribu rupiah, untuk maksimal 5x perjalanan.

uberpromo

Jadi, kalau misalkan biaya perjalanannya 35 ribu atau kurang, maka pengguna jasa tidak usah bayar apa-apa (gratis).
Tetapi kalau lebih dari 35 ribu, tinggal membayar selisihnya saja.

Di tengah kondisi Jakarta yang hujan terus dari pagi, saya menggunakan promo ini.
Agak heran, ketika di jalan menjumpai ada orang2 yang masih ber-ojek ria (hujan-hujanan, tanpa jas hujan).

Ada beberapa kemungkinan:

  • Bukan pengguna Uber, jadi tidak tahu ada promo
  • Jarak tempuhnya jauh, jadi masih lebih murah naik ojek online, dibandingkan naik Uber mobil (walaupun bisa disiasati sih dengan memecah perjalanan menjadi beberapa bagian @ 35 ribu)

Anyway, tidak ada yang salah, pilihan transportasi adalah hak masing-masing orang.
Namun, kalau ada orang yang menempuh jarak dekat, sambil hujan-hujanan, seandainya dia tahu ada promo Uber ini, dia kira-kira akan kesal ga ya hehehe..
Kalau dia ambil promo dari Uber ini, kan selain gratis juga tidak basah-basahan.


Dalam hal beasiswa, kalau kita bisa membuka diri terhadap banyak informasi, akan sangat baik.

Karena, sekalipun kesempatan beasiswa yang cocok dengan profil kita ada, tetapi kalau kita tidak tahu (dan tidak apply), bagaimana bisa dapat beasiswanya.

Bagaimana caranya supaya bisa mendapat banyak informasi?

  • Gabung dengan komunitas pencari beasiswa (milis / grup Facebook / lainnya)
  • Daftarkan email di badan-badan pemberi beasiswa
  • Pro-aktif dalam mencari informasi beasiswa (bisa secara online, ataupun via menghadiri EHEF Indonesia yang akan dimulai dalam 2 minggu ke depan di 3 kota)

Dan semoga, usaha keras yang sudah dilakukan, suatu hari akan membawa hasil yang manis  🙂

Selamat berjuang.

Semuanya adalah Pilihan

Erasmus Mundus (yang sekarang disebut Erasmus+), adalah salah satu beasiswa yang membebaskan penerimanya untuk menentukan masa depannya setelah lulus.

Beberapa pilihan teman-teman saya:

  • Lanjut S3 di Eropa (dengan beasiswa Erasmus+ ataupun lainnya)
  • Kerja di Eropa
  • Merajut hidup baru (menikah) dan tinggal di Eropa
  • Kembali ke Indonesia dan bekerja sebagai PNS
  • Kembali ke Indonesia dan bekerja sebagai akademisi
  • Kembali ke Indonesia dan bekerja di bidang swasta
  • Kembali ke Indonesia dan berwiraswasta
  • Kembali ke Indonesia dan terjun ke dunia politik

dan berbagai kemungkinan lainnya.


Dalam sebuah acara kumpul-kumpul dengan beberapa alumni Erasmus Mundus (EM) bulan lalu, baru terkuak bahwa salah satu di antara kami akan segera melanjutkan pendidikan lagi ke Jerman (per hari ini, dia sudah 1 minggu berada di sana), dengan pendanaan dari salah satu beasiswa lokal.

Keputusan yang agak mengejutkan, karena ternyata dia akan menempuh program S2 lagi (walaupun dengan jurusan yang berbeda 180 derajat dengan S2 sebelumnya). Yang lebih mengejutkan, jumlah beasiswa yang akan dia dapatkan hanyalah sekitar 50% dari yang dia peroleh 10 tahun lalu, sebagai penerima beasiswa EM. Terus terang, dengan jumlah segitu, rasanya akan sangat pas-pasan untuk biaya hidup di Jerman.

Anyway, keputusan dan keberanian teman saya ini patut dihargai.
It is his life, and as long he is happy with it, then there is nothing wrong in it.

Di sinilah menurut saya, ada yang namanya passion.
Harus diakui, ada orang-orang yang memang suka berkecimpung di dunia akademik, suka menimba ilmu, suka memperluas pengetahuan melalui berbagai mata kuliah. Dan juga sambil memperluas pengalaman melihat dunia tentunya.

Pengalaman saya pribadi, menjadi mahasiswa adalah salah satu kesempatan terbaik untuk bisa punya waktu luang yang banyak untuk traveling dan melihat sisi lain dunia (dibandingkan dengan kerjaan kantoran hehehe..).


Ada seorang teman lain lagi.
Kami dulu berjuang bersama-sama menempuh S2 di kota dan universitas yang sama di Eropa. Setelah lulus, dan kembali ke Indonesia, tidak lama kemudian dia kembali ke Eropa (Belgia) untuk melanjutkan studi S3. Menyusul kemudian, istri dan kedua anak balitanya. Anak ketiganya baru saja lahir beberapa bulan yang lalu.

Bisa dibilang, dalam 10 tahun terakhir, mungkin 7 tahun sudah dia habiskan di Eropa.
Namun, kondisi Eropa yang teratur, bersih, transportasi yang nyaman, ataupun fasilitas penunjang akademik yang luar biasa, tidak membuat dia untuk memutuskan untuk menghabiskan sisa hidupnya di Eropa. Hatinya ada di Indonesia, kampung halamannya, keluarga besarnya, dan teman-teman masa lalunya.

Apakah ada yang salah? Sekali lagi, tidak.
Setiap orang memiliki pilihan, seperti apa dia ingin merajut masa depannya.


So, what I am trying to say?

  1. Waktu terus berjalan maju, usia terus bertambah (tidak bisa mengulang waktu yang sudah lalu)
  2. Pikirkan baik-baik masa depanmu, keputusanmu hari ini mungkin menentukan masa depan hidupmu
  3. Make good decision for your life, and don’t regret it !!
    Boleh saja mendengar saran dan minta pendapat dari orang lain, tetapi keputusan terakhir ada di tanganmu. It’s your life, by the way !!  😉

life

 

Comfort Zone itu Memang Enak

Untuk menunjang kebutuhan berselancar di dunia maya, saya berlangganan jasa internet mobile dari salah satu provider. As usual, menjelang masa berlaku paket akan berakhir, maka si provider akan memberikan notifikasi, dan saya pun memperpanjang paket tersebut.

Rutinitas seperti ini sudah berlangsung cukup lama, sampai baru-baru ini saya tahu, kalau ternyata sudah ada paket baru yang lebih menarik yang sudah diluncurkan beberapa waktu.

Agak geregetan memang, karena paket yang baru ini lebih sesuai untuk kebutuhan saya. Biaya dan layanan yang ditawarkan lebih optimal.

Namun, dipikir-pikir, tidak bisa menyalahkan si provider karena tidak memberitahu kepada saya mengenai adanya paket baru ini. Lebih kepada dari sisi saya yang memang sudah nyaman dengan paket lama (comfort zone), dan tidak melihat-lihat tawaran baru yang tersedia.


Hal serupa bisa juga terjadi pada beasiswa.

Pada umumnya, fokus kita hanya tertuju pada beasiswa-beasiswa yang sudah “punya nama” dan sudah kita tahu. Satu hal yang pasti, semakin terkenal beasiswa tersebut, berarti semakin banyak aplikan-nya, dan otomatis tingkat persaingannya pun akan semakin ketat (analogi yang sama untuk tingkat persaingan masuk PTN, ada universitas dan jurusan tertentu yang sangat tinggi passing grade-nya).

Padahal ada kemungkinan, ada peluang beasiswa-beasiswa lain yang mungkin juga cocok dengan apa yang kita cari. Jadi, jangan tutup mata, dan teruslah menggali informasi yang ada (baik pasif maupun aktif) !!


Dulu saya lulus S1 di tahun 2004 dan langsung cari-cari beasiswa setelahnya.

Program Erasmus+ (yang dulu namanya masih Erasmus Mundus, disingkat EM) baru dimulai di tahun 2004, tetapi saya tidak tahu akan adanya peluang itu. Sedangkan, salah satu teman yang lulus bareng saya (universitas yang sama, tetapi fakultas yang berbeda), dia malah sudah apply dan dapat beasiswa EM di 2004 (karena fakultasnya punya kerja sama dengan salah satu konsorsium EM). Jadi, ada faktor keterbatasan informasi juga di sini.

Singkat cerita, saya baru dapat EM di tahun 2006 (mulai kuliah Oktober 2006, pengajuan aplikasinya sudah dari akhir 2005). Di kala itu, mungkin karena baru 2 tahun berjalan, sepertinya belum terlalu banyak yang tahu.

2006em

(Intermezzo dikit, foto di atas diambil Agustus lalu, dimana saya dan teman2 seangkatan 2006 baru saja merayakan peringatan 10 tahunan di acara Erasmus+ Pre Departure 2016 di hotel Pullman, Jakarta)

Baru di tahun-tahun selanjutnya, karena semakin banyak yang membicarakan mengenai EM, juga banyak informasi di internet (melalui blog ini salah satunya), maka EM menjadi makin populer sampai saat ini (dan tentunya persaingan menjadi semakin ketat, persyaratan seleksi menjadi semakin banyak).

Ibarat kata, kalau dulu itu, universitas yang butuh mahasiswa (untuk diberikan beasiswa), sekarang ini kebalikannya. Makanya dulu pendaftaran beasiswa EM begitu sederhana dan praktis, dibandingkan sekarang, beberapa pembaca bertanya mengenai biaya pendaftaran, dokumen ini itu yang harus disediakan.

Anyway, jangan putus asa dan jangan terpaku dengan beasiswa Erasmus+ (atau beasiswa terkenal lainnya). Tetap buka mata untuk peluang-peluang lainnya. Who knows, you will find the next “Erasmus+” !!

Selamat berjuang !!

 

It isn’t exciting, but it’s a must

Pernahkah Anda mendapatkan suatu tugas yang rasanya sulit sekali untuk dilakukan?
Tugasnya sih tidak mustahil untuk dilakukan, tetapi motivasi untuk mengerjakannya itu yang hampir tidak ada.

Hal-hal seperti ini ada dalam berbagai aspek kehidupan, misalkan saja pada kegiatan akademik, ada tugas kuliah, baca paper/jurnal, riset mengenai hal baru, buat skripsi, dan sebagainya. Demikian pula pada aspek kehidupan lainnya semisal dunia kerja, rumah tangga, kegiatan organisasi, dan lainnya.

Yang lebih parah adalah kalau hal-hal ini wajib untuk diselesaikan. Semakin menundanya berarti semakin menumpuk pekerjaan “outstanding“.

Menunda untuk memberi kesempatan diri beristirahat, atau menumbuhkan motivasi baru, atau sekedar recharge diri, terkadang memang diperlukan supaya bisa lebih produktif ketika memulai kembali. Namun, bila terus-menerus menunda, then this is not a good sign. Karena, in the end, toh tugas-tugas tersebut harus diselesaikan juga.

Jadi, lebih baik diselesaikan sesegera mungkin, supaya tidak lama-lama membebani pikiran. It is about how you control your mind.


Dalam mencari beasiswa, apa tantanganmu hari ini?
Misal saja:

  • Menyiapkan motivation letter
  • Menyiapkan diri (belajar) untuk tes kemampuan Bahasa Inggris
  • Mencari tahu beasiswa-beasiswa yang tersedia, apa persyaratan dan ketentuannya
  • dan lainnya

Sebisa mungkin, siapkan apa yang sudah bisa disiapkan.

Sehingga ketika kesempatan beasiswa yang dinanti datang, Anda sudah siap dengan amunisi lengkap untuk memenangkan perlombaan tersebut.

Semoga mencerahkan !!

Semua ada kelebihan (dan juga kekurangannya)

Belakangan ini, saya cukup sering menggunakan transportasi berbasis aplikasi online. Tanpa bermaksud mempromosikan merk (tulisan ini bukan pesanan siapapun), saya banyak menggunakan Uber dan Gojek.

Tetapi, ada kalanya juga, di saat atau kondisi tertentu, saya menggunakan taksi berlisensi.

Anyway, inti tulisan saya bukanlah tentang transportasi (ulasan berikut hanya untuk memberi bayangan saja, bukan ulasan komprehensif mengenai perbandingan moda transportasi).

Keunggulan Uber (motor) dan Gojek (motor): 

  • Mudah didapatkan, jam berapapun, tinggal pesan via aplikasi
  • Harga ekonomis (kalau Uber berdasarkan jarak dan waktu, kalau Gojek sudah ditentukan di awal berdasarkan inputan lokasi asal dan tujuan)
  • Relatif lebih cepat menembus kemacetan, dibandingkan mobil

Kelemahannya:

  • Kalau hujan, ya kehujanan; kalau panas, ya kepanasan
  • Terpapar debu sepanjang perjalanan (dibandingkan bila naik mobil)

Keunggulan Uber (mobil) dan Gojek (mobil)

  • Lebih nyaman dibanding motor, dan lebih murah dibandingkan taksi berlisensi
  • Jenis mobil umumnya menggunakan MPV, sehingga lebih banyak tempat bila membawa barang (misal: koper)

Kelemahannya:

  • Terkena peraturan ganjil-genap di beberapa ruas jalan di Jakarta
  • Di beberapa tempat publik (misal: mal, airport), pada umumnya harus menunggu sampai kendaraan datang (dibanding taksi yang sudah standby di pangkalannya)

Keunggulan taksi berlisensi

  • Tidak kena peraturan ganjil-genap
  • Bila ada pangkalan (dan tidak ada antrian panjang), taksi bisa didapatkan lebih cepat dibandingkan kendaraan yang dipesan via aplikasi online

Kelemahannya

  • Harga lebih tinggi

Nah, dalam hubungannya dengan usaha kita untuk meraih sesuatu yang lebih baik, apakah itu beasiswa, pekerjaan, bisnis/usaha, ataupun pasangan hidup, setiap orang pasti memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Terkadang memang mudah melihat “kelebihan/keunggulan” orang lain, sebagaimana pepatah “rumput tetangga lebih hijau”, tanpa menyadari bahwa diri kita juga tentunya punya sesuatu kelebihan, entah itu sudah tampak, atau masih menunggu untuk dimunculkan.

Dalam beberapa reuni dengan teman-teman sekolah di masa lalu, saya melihat bahwa tidak selalu, mereka yang dulunya ranking top 5, populer di sekolah, berpengaruh, saat ini, ada dalam posisi yang sama seperti dahulu. Ada teman-teman yang dulunya biasa-biasa saja, kurang menonjol, tetapi sekarang menjadi seseorang yang mengagumkan.

Jadi, pendapat saya, tergantung bagaimana setiap orang mau “menerima” kondisi dirinya, mengenali kekuatan dan kelemahannya, tidak berputus asa terhadap kelemahan, dan mencari jalan bagaimana bisa menjadi sukses, berhasil, dan meraih apa yang dia berani impikan/cita-citakan.

Sebuah kutipan mengatakan “The journey of a thousand miles begins with one step”. Jadi, jangan berfokus pada kelemahan dan kekuranganmu. Tetaplah miliki impian, dan berjalanlah ke arah yang yang dicita-citakan.

Semoga mencerahkan !!

Berbagi Cerita – dari seorang Supir Uber

Beberapa waktu yang lalu, saya menggunakan jasa Uber untuk menembus kemacetan Jakarta di malam hari (sekitar jam 21:00). Berikut snapshot obrolan santai dengan supirnya.

Saya: Ini banyak banget ya taksi (dengan lampu menyala, tanda tidak ada penumpang) yang mangkal di deoan gedung2 perkantoran (bisa sampai 10 taksi yang berderet menunggu penumpang)

Pak Supir (dengan logat daerahnya yang kental): Iya, sekarang orang carinya Uber.

Supir2 taksi ini pada ga mau pindah sih. Alasannya ga punya mobil. Padahal bisa daftar pakai mobil rental.
Atau, kalau mau mobil sendiri, ada kok yang DP cuma 4 juta, cicilan juga 4 juta. Kalau sehari dapat 500rb, 8 hari selesai lah sudah cicilan bulan itu..

Saya: Emangnya bisa sehari dapat 500rb?

Pak Supir: Bisa lah, kalau dapat order yang jauh2.

Saya paling suka itu dari Bekasi ke airport. Itu pulang dari airport juga ga mungkin kosong (maksudnya, pasti ada penumpang yang akan pesan Uber dari airport). Apalagi kalau ada surcharge (ini tarif pengali, di saat banyak permintaan akan Uber di suatu area tertentu). Ga usah besar2 surchargenya, ga ada yang mau naik. 1,3x atau 1,5x saja sudah mantap kalau ke Bekasi.


Nah, dalam melakukan pencarian beasiswa, beranikah kita untuk mengatur cara pikir dan pola pandang kita untuk optimis seperti si Pak Supir ini?

Tantangan pasti ada.

Kerja keras diperlukan.

Komentar2 orang lain yang mungkin menekan (misalkan dalam konteks cerita di atas, mungkin saja ada yang akan berkomentar “supir Uber terus bertambah, pasti persaingan untuk mendapatkan penumpang semakin ketat”).

Pilihan kembali ke tangan anda, maju terus, atau tetap di tempat, atau memikirkan jalan lain.

quotes-about-change-and-moving-on-39-image

(Gambar diambil dari http://picturelava.com/)

Tips Jitu Mendapatkan Beasiswa Itu….

Terus terang sebenarnya saya bukan orang yang paling tepat untuk membahas topik ini. Ada lebih banyak alumni Erasmus+ (dulu Erasmus Mundus) yang semangat untuk mengejar beasiswanya jauh lebih hebat dari saya. Kalau ditanya tentang bagaimana cara sukses mendapat beasiswa atau apa tips jitu untuk dapat beasiswa, saya akan jawab saya tidak tahu. I really have NO idea. (Terus ngapain bikin postingan ini?) Well, karena saya tahu bagaimana tips jitu untuk menghancurkan perjuangan tersebut. Ha ha ha ha. 😀

Dearest teman-teman yang ingin mendapatkan beasiswa (dengan alasan apapun, dengan motivasi apapun),

Ketahuilah, salah satu cara termudah untuk gagal mendapatkan beasiswa adalah dengan berhenti berusaha. You missed 100% chance of every shot you didn’t take. Berusaha dengan setengah hati? Buat saya, itu sama parahnya.

Tanpa kita sadari sebenarnya setiap hari, setiap waktu yang kita habiskan di sekolah, di ruang kuliah, atau di tempat kerja, akan berefek pada keberhasilan kita mendapatkan beasiswa, kalau memang salah satu tujuan hidup kita dapet beasiswa lho ya. (Ah moso’ sih?) Eh… beneran ini. 🙂

Kalau diingat-ingat, biasanya cari beasiswa itu syarat utama yang selalu diminta adalah CV (Curriculum Vitae atau Daftar Riwayat Hidup), Motivation Letter, dan Recommendation Letter. Bagaimana kita mau buat CV yang keren, kalau kita tidak pernah melakukan sesuatu? Bagaimana mau bikin motivation letter yang menarik, kalau bahkan besok pagi mau ngapain aja tidak terpikir? Bagaimana mau minta Recommendation Letter yang benar-benar menggambarkan kemampuan kita (atau bahkan lebih dari itu), kalau kita tidak pernah berinteraksi dan menjalin hubungan baik dengan orang yang akan kita mintai rekomendasi?

“Tapi tapi tapi tapi… CV saya keren, motivation letter saya luar biasa, pemberi rekomendasi saya adalah orang-orang hebat di bidangnya, dan saya masih gagal mendapatkan beasiswa. Hidupku hampa. Aku terjatuh dalam lautan luka dalam dan tak sanggup bangkit lagi. Toloooooong….”

*doeeeeng, sebentar, saya mau pingsan dulu*

Sampai dimana kita tadi ya? Ada banyak sekali kemungkinan kenapa beasiswa kita tidak dikabulkan (dan sebagian besarnya diluar kontrol kita). Mungkin pemberi beasiswa merasa  dengan kualifikasi dimiliki kita tidak perlu diberi beasiswa, bisa jadi pemberi beasiswa menganggap kita tidak memenuhi target group yang diinginkan, bisa juga karena alasan-alasan sepele seperti ‘kelewatan baca aplikasi kerennya, Bro’. Saya tahu yang terakhir itu nggak lucu, but it might happen, memangnya yang kirim aplikasi cuma 20 orang? Trus kenapa hidupmu jadi hampa? Katanya CVnya keren? Katanya motivation letternya luar biasa? Katanya pemberi rekomendasinya orang-orang hebat?

Saya ingat sekali, angkatan saya dulu dipenuhi dengan anak-anak fresh graduate. Bisa dibilang 80% fresh graduate dan 20% sisanya adalah orang-orang yang sudah memiliki karier dan ingin memperdalam pengetahuannya. Tahun berikutnya, isinya sebagian besar orang-orang yang sudah mapan kariernya dan sedikit sekali fresh graduate yang diberikan beasiswa program tersebut alias kebalikan dari angkatan saya. Coba bayangkan kalau saya tidak mendaftar di tahun awal dan memutuskan untuk menunda, apa nggak lebih kecil chance untuk mendapatkan beasiswa? Ini lho yang saya maksud dengan kita tidak memenuhi target group yang diinginkan. Pemberi beasiswa punya rencana mereka sendiri, punya kriteria sendiri dalam menentukan orang-orang yang akan diterima. Begitu aplikasi kita masuk, ya tinggal berdoa aja, itu sudah diluar kontrol kita. Kita hanya bisa mengontrol sampai, ‘apakah kualitas aplikasi yang kita kirim itu sudah terbaik dari yang bisa kita kirimkan?’

Memang, ada kalanya kegagalan itu menampar kita, bahkan mungkin kalau harapan kita tinggi, rasa gagal itu rasanya seperti ditinju sama Mike Tyson. Tapi kalau nggak move on-move on, kapan mau dapet beasiswanya? Kapaaaaaan? 😛 Kegagalan mendapatkan beasiswa itu bisa dibilang kesempatan untuk menyusun ulang logistik. Kesempatan untuk baca-baca lagi aplikasi yang sudah dikirim. Kesempatan untuk minta tolong rekan sejawat atau sahabat untuk membaca ulang motivation letter atau CV kita. Jangan-jangan ada typo parah disana? Jangan-jangan kalimat-kalimat yang kita susun bagai jajaran pulau dari Sabang sampai Merauke ternyata membingungkan dan tidak jelas maksudnya. Ada baiknya juga kita bicara dengan pemberi rekomendasi, menurut pemberi rekomendasi, dimana kelebihan yang bisa kita ‘jual’? Hal-hal apa yang perlu diperbaiki, hal-hal apa yang perlu ditingkatkan. See? Kegagalan itu bukan berarti pintunya tertutup semua. Kita aja yang belum tahu, setelah ini ada kesempatan yang lebih baik menunggu kita. Saya kok makin merasa ini postingannya bukan tentang beasiswa lagi ya? Pake move on-move on segala. Ha ha ha.

PS. Saya baru saja teringat obrolan santai dengan dosen beberapa waktu silam, “You know what? For me, all those scholarship applicants are all the same. What’s the different between having TOEFL 575, 600, 620? What’s the different of having 3,3, 3,5, or even 4 GPA? For me, once they pass the qualification, they are equal. What important for me was, since I have to do more jobs with administrative things once this batch arrived, I want those students who I can trust to be able to take care on themselves. Those who didn’t make me pick up the phone and hear that one of my students have troubles….” 

Nah kan, ada banyak hal tidak terduga yang mempengaruhi keberhasilan kita untuk dapat beasiswa. So, have no worries, keep on your best (if this is what you really want) dan jangan lupa minta doa restu orang tua. 😀 Selamat mempersiapkan aplikasi beasiswanya ya teman-teman… Ini sudah bulan Desember. Waktunya mempersiapkan aplikasi untuk yang mau daftar tahun depan, karena untuk daftar tahun ini sudah banyak yang memasuki waktu seleksi. 😛

Jawaban yang Tepat saat Wawancara

Hari ini saya mau melanjutkan pembahasan mengenai “wawancara”. Post ini masih berhubungan dengan post sebelumnya. Konteks yang mau saya bahas mengenai “jawaban yang tepat”.

Salah satu pertanyaan klasik yang hampir selalu muncul saat interview adalah “mengapa pilih perusahaan ini, bukan perusahaan lain (yang setara atau yang lebih besar)”.

Di sesi wawancara kemarin, saya memvariasikan pertanyaannya menjadi “kenapa pilih bank, bukan industri lain yang terkait latar belakang pendidikan” (secara ketiga kandidat ini semuanya dari teknik: 1 dari kimia, 1 dari penerbangan, 1 dari kelautan).

Salah satu kandidat menjawab bahwa dia sudah memutuskan untuk beralih dari latar belakang tekniknya karena saat ini lebih tertarik ke dunia finansial dan bisnis.

Jawaban seperti ini menimbulkan keraguan bahwa si kandidat ini minatnya suka berubah-ubah. Bisa saja saat ini dia tertarik ke bank, lalu kalau tahun depan tertarik ke bidang lain, maka pindah kerja lagi? Hal ini sehubungan dengan investasi perusahaan untuk program Management Trainee yang jumlahnya besar, sehingga tentunya para trainee diharapkan bisa bekerja lama untuk perusahaan.

recruit

Pertanyaan lanjutan yang saya tanyakan adalah “kenapa pilih bank ini (sebut saja bank X), bukan bank besar lainnya seperti bank A, bank B?”

Salah satu kandidat menjawab karena dia sudah membaca nilai-nilai bank X, dan dia merasa dirinya sangatlah sesuai karena memiliki nilai-nilai yang sama dengan bank X.

Jujur, saya agak sebal dengan jawaban2 “idealis” semacam ini. Jadi saya bertanya “apakah kamu sudah baca nilai-nilai bank A dan bank B?”. Si kandidat bilang “Belum”.
(Kalau dia bilang sudah, saya akan tanyakan apa nilai-nilai bank A dan bank B hehe..)

Anyway, jadi mana bisa ditarik kesimpulan seperti jawaban dia sebelumnya. Jawaban dia sebelumnya itu adalah jawaban yang “menghindar” (semoga anda mengerti point saya di sini).

Saya lebih menghargai kandidat yang menjawab “Saat ini lowongan yang sedang dibuka hanyalah untuk bank X. Dan setelah saya mempelajari data-data ketiga bank ini, saya berpendapat bahwa bank X merupakan salah satu bank yang sehat dan secara finansial cukup kuat. Jadi, dalam hal ini, saya memilih bank X.”

——————–
Setelah kurang lebih 1,5 jam, saya meminta ketiga kandidat ini untuk membuat final statement mengapa merekalah yang harus dipilih (dibandingkan kedua kandidat lainnya).

Kandidat pertama sangat sopan, dia tidak membahas mengenai kedua pesaingnya, dia hanya menonjolkan mengenai dirinya saja (mengulang prestasi-prestasi di CVnya).

Kandidat kedua mengatakan bahwa dia tidak tahu kualifikasi kedua pesaingnya, tetapi dia merasa dia unggul karena bisa menjawab seluruh pertanyaan di interview dengan baik.

Kandidat ketiga menjawab bahwa dia menunjukkan dirinya seperti apa adanya, dan “melempar balik” ke panelis, untuk menilai apakah dirinya yang terbaik atau bukan.

Sejujurnya, tidak ada jawaban benar/salah mengenai final statement ini. Yang perlu saya lihat di sini adalah “keyakinan” dalam menjawab.

——————–
Anyway, dari share di atas, apa benang merah yang bisa diambil ?
1. Perlu strategi dan pikiran yang seksama dalam menjawab. Karena dari satu pertanyaan, bisa berlanjut ke pertanyaan-pertanyaan berikutnya.
2. Jangan “lari” atau menghindar dari pertanyaan karena akan menimbulkan keraguan apakah anda orang yang suka lari dari tanggung jawab.
3. Ketika diberi kesempatan untuk menunjukkan superioritas anda, jangan malu-malu. Karena di dalam dunia bisnis, terkadang persaingan itu begitu ketat. Kalau terlalu malu-malu, bisa-bisa kalah dalam kompetisi.

Bayangkan kalau anda sudah apply Erasmus+ dan konsorsium cuma punya 1 sisa beasiswa nih, apakah anda akan “pasrah” saja, atau anda akan memberikan semua alasan untuk konsorsium memilih anda ?

Secara ideal, semua yang punya kualifikasi setara, seharusnya diberikan beasiswa. Tetapi, seringkali dunia tidak seindah itu, dan tindakan anda mungkin menentukan apakah anda yang jadi pemenang atau pecundang.

Happy Saturday !! 🙂

Celoteh tips mendapatkan beasiswa

Kadang bingung jawab kalau orang bertanya mengenai tips dapat beasiswa..

Secara generik, kalau sesuatu itu bagus dan bersinar, pasti akan cepet laku deh.. lihat aja di pasar, buah atau sayuran yang segar pasti lebih cepat dibeli orang daripada yang layu.

Nah jadi balik ke beasiswa, kalau anda punya nilai akademik yang bagus, bahasa Inggris yang bagus, visi yang jelas, perencanaan yang konkrit, dan cara berkomunikasi yang baik (sehingga bisa memyampaikan ide, gagasan, serta mempresentasikan diri anda di depan calon pemberi beasiswa), rasanya beasiswa sih tinggal tunggu waktu aja 😉

Apalagi peluang beasiswa sekarang ini banyak banget. Di kantor saya saja, tahun ini ada 5 orang yang bersamaan dapat LPDP, jumlah total LPDP 2015 mungkin ribuan. Erasmus+, tahun ini 97 orang dapat beasiswa.

Jadi, rintangan terbesar ya mungkin diri sendiri. Bagaimana mengalahkan godaan2 yang ada, dan lebih menekunkan diri untuk bisa menjadi seorang pribadi yang berkilau.

Note: Saya ga bilang bahwa harus belajar terus, mengurung diri, dan semacamnya. Kehidupan sosial juga penting utk membangun jaringan, melatih komunikasi, membuka perspektif. Work-life balance juga penting. So, do what makes you happy, but don’t forget your dreams. Go towards the right direction !! 🙂

Jangan Sepelekan Hal-Hal Kecil

When opportunity came at your doorstep, do you ready to take it?

Cerita berikut ini sebenarnya dari kehidupan kerja saya, dan tidak ada hubungannya dengan beasiswa. Tetapi, mungkin ada beberapa hal yang bisa dipetik bagi para pencari beasiswa.

Seringkali kita memberikan penilaian negatif terhadap tugas yang diberikan. Ini tugas apa ya? Kok saya ya yang disuruh mengerjakan? Tugas seperti ini sepertinya ga cocok buat saya deh. Di dalam pekerjaan saya di bidang perencanaan, banyak laporan dan analisa yang harus dibuat. Ada laporan teknis yang terkait dengan proyek yang sedang ditangani, ada juga laporan yang sifatnya lebih umum karena ditujukan untuk orang non-teknis, ada juga laporan yang sekedar sebagai risalah catatan pertemuan (meeting). Risalah catatan pertemuan seringkali dipandang sebelah mata karena sifatnya yang hanya untuk dokumentasi semata dan tidak bisa ditonjolkan sebagai suatu prestasi. Padahal membuat risalah juga butuh usaha yang tidak sedikit untuk menganalisa pembicaraan di dalam pertemuan tersebut, dan menuangkannya menjadi risalah yang komprehensif dan bermutu. Jadi, ada beberapa orang, yang kalau kebagian mengerjakan risalah ini, kelihatan kalau mereka kurang suka mengerjakannya. Mukanya cemberut, kerjanya lama, sambil main gadget, dan hasil akhirnya masih perlu banyak koreksi (kelihatan kalau kurang sungguh2 mengerjakannya, karena hatinya tidak di situ). ———— Namun rupanya tugas yang sama, tetapi dalam konteks yang berbeda, bisa ditanggapi secara berbeda. Sekitar 1,5 bulan ke depan, kantor saya akan menyelenggarakan konferensi regional Asia Pasifik di luar Jakarta. Kebetulan, bagian saya mendapatkan tugas untuk menjadi komite penyelenggaraan acara ini. Guess what, ibarat gula, banyak orang yang menyemut mendaftarkan diri secara sukarela untuk bisa menjadi bagian dari komite (mungkin berharap untuk diajak ikut ke lokasi konferensi). Perlu dicatat bahwa dalam konferensi regional ini, tidak semua posisi komite itu mentereng (misal: penyambut tamu, pembicara, MC). Pastinya ada juga posisi-posisi administratif semisal pembuat risalah !! Nah, dari sekian banyak yang menyatakan minatnya, siapakah yang saya pilih? Tentunya saya akan memilih mereka yang kualitas kerjanya sudah terbukti baik untuk setiap bidang yang dibutuhkan. Termasuk untuk pembuat risalah. Jadi, bagi mereka yang kemarin-kemarin malas-malasan mengerjakannya, mohon maaf ya, belum bisa ikut dalam komite.

Pelajaran apa yang bisa diambil dari cerita di atas, dalam hubungannya dengan beasiswa?

  1. Tidak ada orang yang tahu akan masa depan. Kesempatan dan tawaran bisa datang kapan saja, mungkin sekejap. Tergantung diri kita siap/tidak saat itu.
  2. Kalau memang berminat untuk meraih beasiswa, persiapkan diri dari sekarang. Terlepas dari beasiswa yang diminati itu sudah ada/belum, sudah dibuka/belum, persiapkan diri saja. Misalnya: tidak usah tunggu mau tes TOEFL/IELTS baru mati-matian belajar, tidak usah tunggu mau lulus baru belajar sebaik2nya atau “mencuci” mata kuliah untuk memperbaiki nilai IPK.
  3. Setiap hari, setiap ada kesempatan, selalu lakukan setiap hal sebaik2nya untuk meningkatkan nilai diri. Kalau nilai diri anda tinggi, sekalipun tidak ada beasiswa yang ditawarkan, mungkin akan ada orang/institusi yang akan menawarkan beasiswa. Kalaupun beasiswa bukan “jalan” anda, tentunya kualitas tinggi itu selalu menjadi incaran para pemberi kerja.
  4. Jalin hubungan yang baik dengan orang2 sekitar. Misalnya saja dosen pengajar. Mana tahu, suatu waktu di masa depan, dosen ini ditanya oleh relasinya, apakah ada mahasiswa/i yang bisa direkomendasikan untuk beasiswa? Bila kesempatan itu menjadi nyata, kira2 apakah anda yang akan dia rekomendasikan?

Terima kasih Malang

UB

Terima kasih bagi teman-teman di Malang yang sudah hadir dalam sesi sharing dan presentasi Erasmus+ di kampus UB yang megah, Sabtu kemarin.

Dari pertanyaan2nya, kelihatan kalau teman-teman ini sudah mempersiapkan diri sebelum datang ke acara ini.
Banyak pertanyaan2 unik yang diajukan, tidak sekedar “apa sih Erasmus+ ?”

Semoga ini adalah awal dari sebuah langkah kesuksesan untuk mendapatkan beasiswa (Erasmus+ ataupun beasiswa lainnya) di masa yang akan datang.

Terima kasih secara khusus untuk 2 orang mahasiswa UB: Ali Akbar Hakim yang menyediakan transportasi selama perjalanan di Malang sampai Batu, dan Dharu Feby Smaradhana yang menyediakan ruangan besar lengkap dengan semua kelengkapan yang dibutuhkan untuk acara.

Bagi yang tidak bisa hadir, berikut saya share-kan beberapa pertanyaan yang muncul dalam sesi ini.

(1) Bagaimana sistem evaluasi di EM, apakah ada target (nilai atau kredit) yang harus dicapai, dan apakah ada sanksi yang diberikan bila tidak mencapai target tsb?
Jawab:

  • Per saat ini, beberapa program memang menerapkan semacam “kontrak” kepada mahasiswa/i-nya, bahwa ada target tertentu yang harus dicapai dalam periode tertentu.
  • Hal ini dikarenakan pihak konsorsium pun harus bertanggung jawab mengenai penggunaan dana hibah yang sudah diberikan oleh Uni Eropa (jangan sampai beasiswa diberikan kepada mereka yang tidak niat kuliah atau malas-malasan).
  • Namun, harus dipahami bahwa karena mahasiswa/i-nya berasal dari berbagai negara dengan atar belakang “kecukupan” ilmu yang berbeda-beda pula, terkadang tidak mudah bagi mereka yang berasal dari negara dengan standar ilmu yang di bawah yang diharapkan, untuk mencapai target yang ditetapkan.
  • Pada akhirnya, apakah sanksi tersebut akan diterapkan/tidak, biasanya di-review secara case by case.

(2) Apakah ada kuota beasiswa untuk setiap negara?
Jawab:

  • Untuk kuota secara negara, Indonesia sayangnya tidak memiliki kuota khusus seperti Western Balkan
  • Sebab itu, aplikan asal Indonesia harus berjuang “keras” untuk bisa menang dalam kompetisi dengan aplikan dari negara lain.
  • Untuk kuota per program, dibatasi maksimal 2 orang dari negara yang sama per programnya. Dengan kata lain, kalau saat ini ada 132 program, maka jumlah maksimum mahasiswa/i Indonesia yang bisa diterima adalah 264 orang.
  • Informasi tambahan bisa refer ke penjelasan salah satu EMMC: http://postgrad.pe.uth.gr/emsep/index.php?option=com_content&view=article&id=83&Itemid=186&lang=en

(3) Terkait mobilitas, bagaimana kalau setelah kuliah di negara/universitas X, kita menginginkan supaya tidak pindah ke univ/negara lainnya (hanya studi di X saja)?
Jawab:

  • Mobilitas adalah sebuah konsep dasar EM (kuliah di minimal 2 negara/universitas).
  • Skema mobilitas sudah diutarakan di awal sejak pendaftaran (transparan).
  • Sebagai awardee beasiswa, yang sudah mendapatkan kesempatan untuk pendidikan yang lebih baik, rasanya sepantasnya kita mencoba untuk mengikuti semua aturan yang berlaku, apalagi yang memang sudah dinyatakan dari awal.
  • Dalam prakteknya, memang kasus seperti ini terjadi, terutama bila universitas tujuan berikutnya tidak “seindah” universitas sebelumnya. Jadi, bila memang hal ini terjadi, cobalah untuk sesegera mungkin bicara dengan koordinator program di univ tsb, untuk dicari solusi bersama yang baiknya seperti apa.

(4) Bagaimana langkah2 yang harus ditempuh supaya bisa masuk main list?
Jawab:

  • Lulus seleksi administrasi (ikuti semua petunjuk pendaftaran, jangan ada yang terlewat atau melanggar aturan)
  • Perhatikan kriteria seleksi penilaian (bila dinyatakan di website program). Misal: kalau mereka menekankan pengalaman riset, titik beratkan kualifikasi di situ.
  • Perhatikan penilaian kualitatif dan kuantitatif.
  • Kuantitatif adalah yang bersifat angka (misal: Indeks Prestasi, nilai TOEFL, ranking universitas asal), yang bisa dengan mudah dibadingkan antara satu aplikan dengan yang lainnya (misal: aplikan yang nilai TOEFLnya 600 tentunya lebih baik daripada yang nilainya hanya 500).
  • Kualitatif adalah aspek penilaian lainnya, misalkan: motivation letter, recommendation/reference letter, pengalaman riset, organisasi, dll; yang penilaiannya subjektif (tergantung apakah informasi yang diberikan, misal dalam motivation letter, bisa meyakinkan konsorsium bahwa anda adalah kandidat yang tepat).
  • Sebisa mungkin, baik kualitatif maupun kuantitatif harus sebaik2nya. Dalam artian, kalau saat ini anda masih di semester2 awal, belajarlah dengan baik supaya nilai kuantitatif anda juga baik. Banyak orang yang sudah di semester akhir, baru menyesal kenapa tidak belajar lebih giat dari dulu.

(5) Terkait reserve list, beasiswa lain apa yang bisa di-apply? (ditanyakan oleh salah satu peserta yang merupakan reserve list untuk IT4BI tahun ini)
Jawab:

(6) Apakah kalau tahun ini reserve list, status “acceptance”-nya bisa dibawa ke tahun berikutnya?
Jawab:

  • Coba konsultasikan dengan konsorsium, karena syarat diterima di EMMC itu lebih mudah dibandingkan mendapatkan beasiswa EM.
  • Secara administratif, ada kemungkinan akan disuruh apply lagi tahun depan.
  • Bila apply lagi, jangan menggunakan aplikasi yang sama. Pada aplikasi berikutnya, harus ada perubahan dan nilai tambah yang diberikan.

(7) Bagaimana dengan uang beasiswanya, apakah lancar?
Jawab:

  • So far sih lancar-lancar saja, hanya saja biasanya baru diberikan setelah kita buka rekening di negara EU (supaya mempermudah proses transfer, dan juga biaya transfer yang lebih kecila dibandingkan transfer internasional.)
  • Ada kemungkinan, untuk persiapan keberangkatan awal, harus ada modal awal dulu. Namun, bila hal ini dirasa akan membawa kesulitan, nanti bisa dinegosiasikan case by case. Point pentingnya adalah dapatkan dulu beasiswanya ya !!

(8) Seberapa berpengaruh essay/motivation letter dan recommendation/reference letter dalam mensukseskan aplikasi beasiswa?
Jawab:

  • Lihat lagi pembahasan di atas menjadi kualitatif dan kuantitatif.
  • Bila ada 2 aplikasi yang nilai kuantitatifnya sama, maka penentunya adalah aspek kualitatif ini.
  • Jadi, supaya aplikasi kita bisa “outstanding”, buatlah semua faktor kuantitatif dan kualitatif itu sebaik mungkin.

(9) Bila ada 10 pemberi rekomendasi, apakah akan membuat nilai sebuah aplikasi menjadi lebih bagus dibandingkan aplikasi lain yang pemberi rekomendasinya hanya 2?
Jawab:

  • Belum tentu, kalau konsorsium hanya minta 2 rekomendasi, tetapi anda kasih 10, bisa jadi malah tidak lolos syarat administrasi (saat pendaftaran saja sudah tidak tertib aturan, ada kemungkinan kalau diberi beasiswa nanti malah bisa menimbulkan masalah dalam perkuliahan)
  • Bila memang ada 10 orang pemberi rekomendasi, pilih 2 yang paling bagus. Sisanya bisa anda “simpan” untuk apply beasiswa lainnya (jadi, punya stok pemberi rekomendasi).

(10) Bagaimana mengenai tugas akhir, apakah ada tugas akhir di tiap universitas?
Jawab:

  • Jawabannya ada di course structure, di program yang anda minati (baca baik2).
  • Pada umumnya tugas akhir/thesis cuma 1, tetapi disupervisi oleh beberapa akademisi dari universitas yang pernah dikunjungi.

(11) Bila diterima EM, apakah ada birokrasi tertentu yang harus dijalani (lapor ke siapa, daftar diri kemana, dll)?
Jawab:

  • Tidak ada.
  • Setiap tahun, Delegasi EU akan menyelenggarakan pre-departure. Untuk tahun ini akan diadakan pada 21 Juni 2014 di Jakarta. Acara ini pun sifatnya tidak mandatory, cuma sayang saja kalau tidak hadir 😉

(12) Bagaimana peran PPI dalam membantu mahasiswa EM yang akan datang ke Eropa?
Jawab:

  • PPI membantu mahasiswa/pelajar secara umum, tidak khusus untuk mahasiswa EM saja.
  • Tidak semua negara punya PPI yang aktif, tidak semua kota ada PPI-nya.
  • Dalam hal anda akan studi di tempat terpencil yang tidak ada PPI-nya, coba cari kontak orang Indonesia di sana, banyak2 bertanya dengan pihak “International Relations” dari univ yang dituju.
  • Beberapa univ menyadari akan kesulitan mahasiswa asing untuk “settling-in”, maka mereka bisa saja menugaskan mahasiswa lokal untuk membantu anda selama masa studi.

(13) Bagaimana bila masa studi leih dari periode normal (misal: harusnya 2 tahun, menjadi 3 tahun)?
Jawab:

  • Telat lulus adalah hal yang bisa saja terjadi.
  • Dalam hal beasiswa, tidak ada perpanjangan/tambahan.
  • Banyak mahasiswa yang hidup hemat untuk persiapan diri, kalau2 perlu perpanjangan di akhir masa studi.
  • Untuk tuition fee, biasanya ada kebijakan dari univ untuk memberi keringanan selama masa perpanjangan ini.

Venue untuk acara Malang

venue

Refer ke:
https://emundus.wordpress.com/2014/05/31/sharing-session-malang-berubah-tanggalnya-ke-7-juni/

Akhirnya kita sudah mendapatkan tempat untuk acara ini:

Studio Gambar (SGB)
Gedung Teknik Mesin II, Lt 2
Universitas Brawijaya

Kapasitas: 50 orang ++

Terima kasih kepada Dharu dan Ali Akbar yang sudah bekerja sama untuk perijinan tempat ini.

Sharing Session Malang –> berubah tanggalnya ke 7 Juni

plane

Refer ke posting ini: https://emundus.wordpress.com/2014/05/24/sharing-session-malang-dan-sekitarnya/
Perjalanan saya dimajukan tanggalnya ke 7 Juni (Sabtu depan).

—————
Mengenai tempat, masih dalam proses pengurusan perijinan di Universitas Brawijaya (UB).

Mengenai waktu, sesi sharing akan diadakan 11:30-13:00.
(Saya dijadwalkan landing jam 10:05, semoga tidak delay dan tidak macet ya dari airport ke UB).

Acaranya santai saja, diskusi, tanya jawab.
Sekitar 20-30 menit untuk presentasi, sisanya interaktif saja (semoga 1 jam cukup ya).

Supaya waktunya bisa efektif, sangat disarankan anda membaca dulu materi-materi yang tersedia di http://bit.ly/infoEM supaya tidak “blank” pada saat acara.

Catat pertanyaan-pertanyaan yang mengganjal, dan ajukan saat sesi tanya jawab (semoga saya bisa jawab).
Catatan: Background saya adalah beasiswa untuk EMMC (Action 1).

Mengenai brosur, sudah saya mintakan ke Delegasi EU, tetapi stok terakhir mereka terpakai habis di acara UGM minggu lalu. Anyway, semua materi ada di http://bit.ly/infoEM. Sekali-sekali kita mendukung “go green” yah.

—————

Bila ada info tambahan, akan saya infokan via WordPress ini.
Pastikan anda sudah subscribe (baca: https://emundus.wordpress.com/2014/05/03/email-subscription-jangan-ketinggalan-berita/)

Sampai ketemu di Malang !!

Sharing Session: Malang dan sekitarnya

Saya kebetulan akan ada di kota Batu, Malang pada Sabtu, 14 Juni Sabtu, 7 Juni.

malang_district_w400

Karena ada beberapa permintaan untuk sharing session Erasmus+ (Erasmus Mundus) di kota Malang, maka bagi yang berminat untuk hadir, mohon konfirmasinya dengan cara:

Menulis komentar di bawah artikel ini, dengan isi:
Nama, nama universitas, sudah lulus atau sedang semester berapa, beasiswa apa yang dicari (S2 atau S3)

Note:
Supaya adil, maka pendaftaran hanya diterima melalui jalur komentar di artikel WordPress ini. Tidak melalui email, FB, maupun media lainnya.

Pengumuman berikutnya akan disampaikan via email yang anda masukkan ketika mengisi komentar.
Pendaftaran dibuka untuk 20 orang pertama saja (kalau ternyata ada tempat yang lebih luas, akan saya update lagi).

Venue: to be decided (salah satu hotel di kota Batu –> nanti kita cari tempat kosong di sekitaran hotel)
Waktu: to be decided 4-6 sore

Note:
Bila ada yang berbaik hati mencarikan tempat yang lebih luas di kota Batu supaya yang hadir bisa lebih banyak, please mail me at emundus.wordpress (at) gmail.com

Update per 24 Mei, 15:22
Terima kasih kepada salah satu mahasiswa Unbraw, Ali Akbar Hakim dan Dharu, yang bersedia mengaturkan tempat di Unbraw dengan kapasitas 100 orang untuk acara sharing ini.

Bila ijin tempat bisa diperoleh, maka nanti kita pindah tempat ke Unbraw saja ya.
Untuk waktunya, saya akan landing di airport Malang sekitar jam 10.
Jadi mungkin kita akan mulai sekitar jam 11:30.

Pastinya nanti akan diupdate lagi ya.
(Saya pribadi juga masih mengatur ijin perjalanan dari sisi saya)

Terima kasih untuk antusiasmenya.

Sharing Motivasi #4: Beasiswa, haruskah punya IPK tinggi?

Pertanyaan ini sangat-sangat dan teramat sering ditanyakan.
Masalah IPK selalu menjadi momok bagi para aplikan beasiswa.

Well, apa yang mau saya tulis di bawah ini, sekedar sharing saja, mencoba memberikan pandangan lain dari pertanyaan tersebut.

Kisah 1:
Ketika saya ambil program Erasmus Mundus tahun pertama saya, saya ketemu dengan 3 orang mahasiswa Indonesia yang juga sedang ambil program Master di universitas dan bidang ilmu yang sama.

Secara jujur, saya tidak tahu berapa IPK S1 mereka.
Yang pasti, ketiga teman saya ini berjuang sangat keras selama S2-nya, dan mereka membutuhkan beberapa semester tambahan (dari durasi waktu normal yaitu 4 semester) sebelum bisa meraih gelar Master-nya.

Mengenai beasiswanya, ketika itu mereka dapat beasiswa dari pemerintah di kota dimana universitas tsb terletak, sebagai bentuk kepedulian mereka terhadap bencana Tsunami yang melanda Aceh pada tahun 2004 yang lampau.
Jadi, kalau saat itu anda adalah mahasiswa yang berasal dari Aceh, kesempatan beasiswanya terbuka lebar.

Kisah 2:
Kisah ini pernah saya singgung sedikit di https://emundus.wordpress.com/2013/12/25/sharing-motivasi-2-positive-mindset/

Teman (alias senior) saya yang satu ini emang jagoan.
Ketika itu dia sudah punya posisi yang cukup mapan di salah satu perusahaan konsultan IT di Indonesia.
Tetapi ketika dia dapat beasiswa dari sebuah universitas di Italia, dia langsung memutuskan berangkat.

Perlu dicatat, ketika itu, dia sudah beranak 2, dan istrinya sedang hamil anak ketiga.
Besaran beasiswanya pun mepet sekali, dan perkuliahannya dilakukan dalam bahasa Italia (bahasa yang sama sekali tidak dia kuasai kala itu).

Semasa kuliah, dia mengalami banyak kesulitan, bukan cuma masalah di kuliah saja karena bahasanya, tetapi juga masalah beasiswa yang telat, administrasi yang berbelit-belit, dsb.

Pernah sampai tempat tinggalnya didatangi “Carabinieri” (polisi Italia), mau diusir, ketika dia menunggak beberapa bulan pembayaran sewa tempat tinggal karena beasiswanya belum turun, dan pemilik housingnya tidak mau tahu.

Bagaimana dengan IPK S1-nya?
Ini juga saya ga tahu pasti angkanya berapa, tetapi kalau di angkatan dia (secara dia adalah senior saya), yang saya tahu terkenal “pintar” (alias IPK tinggi) sih orang-orang lain.

Jadi, dari 2 kisah di atas, yang saya mau bilang, kadang masalahnya bukan di IPKnya atau beasiswanya, tetapi dari diri kira sendiri, apakah kita sudah benar-benar siap untuk ambil beasiswa, ketika kesempatan itu datang.

Banyak orang yang pada awalnya semangat apply beasiswa, lalu di belakang baru bingung soal bawa keluarga lah, besaran beasiswa yang ga yakin cukup, bidang beasiswa yang kok rasanya ga 100% sesuai ekspektasi, dll.
Padahal hal-hal semacam ini seharusnya sudah bisa dipertimbangkan dari awal.

———–

Bagaimana dengan beasiswa Erasmus Mundus, haruskah IPK-nya tinggi?
Setiap beasiswa punya tujuan masing-masing kenapa dia diberikan.
Dan setiap pemberi beasiswa harus punya alasan kenapa mereka menerima seseorang, dan bukan orang lain.

Untuk Erasmus Mundus, pengalaman saya pribadi, di program saya sendiri, ada beberapa mahasiswa/i dari negara lain, dimana ada kuota khusus yang diperuntukkan bagi negara/region tersebut, yang secara “perjuangan” menempuh S2, mereka sangat “berdarah-darah”.

Untuk Indonesia, sayangnya belum ada kuota khusus semacam tersebut.
Sehingga, aplikan Erasmus Mundus asal Indonesia harus berkompetisi dengan aplikan negara-negara lain yang juga tidak punya kuota khusus.
Kalau kompetisinya ketat, secara otomatis kriteria penerimaan juga akan makin tinggi (analogikan saja dengan jurusan favorit di SNMPTN; tes penerimaan CPNS; atau tes masuk perusahaan besar, misalkan Pertamina).

Jadi, intinya, tetap buka mata, buka telinga, buka diri, kalau Erasmus Mundus rasanya kurang sesuai untuk kondisi anda, masih ada beasiswa lainnya yang bisa diperjuangkan.

485229_425654084115947_230951443_n

Sharing Challenge #1: Bobot Perkuliahan

Catatan:
Apa yang saya alami ini, mungkin saja berbeda dengan pengalaman orang lain.
Apalagi dengan bidang studi yang berbeda, universitas dan negara yang berbeda, pastinya ada banyak variasi.

Di Eropa, (menurut saya) seluruh fasilitas disediakan dengan lengkap, sehingga bisa dibilang limitnya adalah diri anda sendiri. Anda mau jadi luar biasa, atau biasa-biasa saja, atau tidak biasa, itu tergantung tekad dan kemauan anda.

skys-the-limit

Kenapa saya bilang begitu?
– Akses internet yang melimpah (dan sangat cepat)
– Koleksi perpustakaan yang beragam
– Akses ke jurnal-jurnal ilmiah untuk mencari referensi
– Faktor pengajar (di universitas saya, saya tidak ada kesulitan untuk menemui pengajar di luar jam kuliah, mereka menyediakan yang disebut “office hour” bagi mahasiswa/i-nya untuk berkonsultasi)

————

Anyway, kali ini kita akan lihat salah satu contoh materi kuliah yang pernah saya ambil.
Kuliah ini diadakan 1x seminggu selama 2 jam.
Ada juga sesi “exercise”nya diadakan 1x seminggu selama 1 jam.
Dalam 1 semester, ada 8-10 minggu kuliah.
Bobot kuliah ini adalah 3 ECTS.

Untuk mendapatkan Master degree, syarat di program saya adalah 120 ECTS (untuk 4 semester), yang berarti sekitar 30 ECTS per semester. Jadi, kuliah ini, hanyalah 1 dari sekitar 5-6 mata kuliah yang saya ambil pada semester tersebut (note: setiap mata kuliah punya jumlah kredit yang berbeda, ada juga yang sampai 8 ECTS).

Berikut adalah 3 slide terakhir dari salah satu sesi perkuliahan:
Capture

Capture2

Capture3

Jadi, bisa anda bayangkan bobot kuliahnya, kalau 1 kuliah, dalam 1 minggu saja referensinya sebanyak itu.
Ini baru 1 kuliah, belum lagi bobot dari mata kuliah yang lain.

————

Setiap orang punya pengalaman S1 yang berbeda-beda.
Namun, buat saya pribadi, kuliah ini termasuk “shock culture”.
Kuliah S1 saya sangat jarang yang ada referensi ke jurnal ilmiah seperti ini.

Dan seringkali, kalau anda baca 1 jurnal, mau ga mau anda harus refer lagi ke jurnal lainnya (“jurnal lain” maksudnya yaitu jurnal yang di-refer dari jurnal yang anda baca tsb).
In the end, dari 1 jurnal yang ditugaskan, bisa 3-4 jurnal yang dibaca (jadi, kalau ada 4 jurnal yang ditugaskan, maka totalnya bisa lebih dari 10 jurnal yang harus dibaca).

————

Tujuan saya posting mengenai hal ini, tidaklah untuk menakut-nakuti.
Tidak semua kuliah seseram ini.
Ada juga kuliah yang lebih banyak mengedepankan faktor diskusi dan solusi.

Namun, kita harus selalu “prepare for the worst”.
Kalau memang anda benar-benar ingin supaya “maju”, maka sharing ini seharusnya menguatkan anda, bahwa tantangan apapun yang ada di depan, anda akan siap untuk berjuang mengatasinya.
Bukan malah patah arang dan mundur.

Jadilah orang yang kuat, bukan hanya ketika apply beasiswa (ngotot banget), tetapi juga kuat ketika menjalaninya sampai selesai, dengan hasil yang baik.

Selamat berjuang.

Update per 7 Desember: Thread Baru

Berhubung saat ini sebagian besar para pembaca blog ini sudah atau sedang mempersiapkan aplikasinya, maka saya tidak akan terlalu “getol” lagi memberikan tips seputar Motivation Letter.
Bukan berarti berhenti lho.
Kalau ada inspirasi baru, akan terus saya sambung tips-nya.

new-sign

Mulai post ini, saya akan buat sebuah “thread” seri baru berjudul “sharing”.
Ke depannya, saya merencanakan akan ada thread-thread berseri lainnya, misal: “challenge”, “excitement”, “moments”, dll, yang akan menggambarkan hal-hal yang saya alami selama proses studi Erasmus Mundus.

Harapannya, bisa memberikan gambaran yang lebih komplit mengenai beasiswa dan proses studi, sehingga para pembaca punya sudut pandang yang lebih luas, yang diharapkan bisa semakin memperkaya diri masing-masing, untuk menjadi orang yang berhasil mendapatkan beasiswa dan tangguh menghadapi tantangan.

Nantikan posting saya berikutnya.

Ga enaknya Erasmus Mundus

Hari ini, seorang pengunjung blog ini meminta share mengenai apa ga enaknya selama dapat beasiswa ini.. https://emundus.wordpress.com/2012/11/10/coba-yuk-step-by-step-apply-emmc/comment-page-1/#comment-8716

Bener juga sih, kalau kita mikir enaknya terus, bisa gawat kalau ternyata setelah menjalani sendiri, ternyata ga seindah yang dibayangkan.. Walaupun.. tentunya kita selalu berharap untuk yang terbaik. Anyway, ada quote dari seseorang yang mengatakan “hope for the best, prepare for the worst”..

Anyway, yang saya tulis berikut ini cumalah sebuah share, pengalaman subjektif, dan semoga dapat semakin “menguatkan” niat bagi mereka yang membacanya.. “Menguatkan” dalam hal ilustrasi seperti pohon yang mau menjadi semakin tinggi. Semakin ke atas, semakin kencang anginnya, dan harus kuat bertahan supaya tidak rubuh. Beasiswa EM (dan juga beasiswa lainnya), pastinya akan mengangkat “nilai” anda, baik itu di akademik, di dunia kerja, dan (mungkin) di mata calon mertua. Tetapi mendapatkan beasiswa barulah sebuah step awal untuk menuju impian Anda.

Jadi berikut adalah ga enaknya beasiswa EM, versi saya:

Apa-apa urus sendiri

Di EHEF 2012 kemarin, ada mbak2 ngomel. Apaan sih nih EM, apa-apa suruh liat website, baca sendiri. Ga ada yang bisa ditanya apa..

Gimana pendapat Anda? Kalau saya sih simple aja.. Kalau rule of the game-nya gitu, ya mau ga mau harus diikutin. Dan memang skema EM seperti itu (baca tulisan2 saya sebelumnya, salah satunya https://emundus.wordpress.com/2012/11/03/insights-from-ehef-jakarta-today/). Sekarang ini masih mending.. Bayangkan dulu tahun2 awal adanya beasiswa EM (starting 2004), siapa coba yang bisa ditanyain, dikonsultasiin..

Ga bisa pilih jurusan

Anyway, ini memang kondisi yang ditetapkan oleh pemberi beasiswa, jadi jangan protes.. Kalau protes, berpaling saja ke beasiswa lain.. Perlu diingat, dalam hidup ini, sesuatu yang sifatnya “replaceable” alias mudah tergantikan, posisi tawarnya lemah. Jadi daripada Anda protes, ngomel, coba2 nego untuk masuk program non EM, tetapi dengan biaya dari EM, mending alihkan fokus dan tenaga untuk beasiswa lain yang mungkin lebih sesuai.

Saya pribadi pun ambil jurusan yang bisa dibilang “lompat”. Dan sebenarnya tahun itu saya apply 2 program EM, tetapi kok diterimanya di yang lebih teoretikal.. Padahal saya orangnya practical banget.. Tetapi yah saya commit, toh saya sudah apply, sudah diterima, masa ga diambil.. (sekalipun ada reserve list yang berharap2 untuk gantiin saya)..

Beberapa universitas cenderung “cuek” dengan mahasiswa/i internationalnya

Ini sih pengalaman bbrp teman. Mereka kebetulan ditempatkan di univ dan negara yang cuek. Jadi, harus cari tempat tinggal sendiri, padahal kontrak sewanya pakai bahasa lokal. Di EM itu, kadang kita ga bisa pilih mau belajar di univ/negara mana. Jadi mau ga mau ya mengikuti kehendak konsorsium. Jangan protes!! Hal seperti ini biasanya sudah ditulis di bagian “mobility” saat mendaftar. Dibaca saja baik2.

Kalau saya sih, dalam 2 tahun itu, kebetulan di 2 universitas itu ada semacam badan pengurus housing lah. Jadi, selama kita mau aktif untuk cari tahu dan ikuti prosedur pendaftaran housing, seharusnya bisa dapat. Pada intinya, jangan pernah cuek dan berpikir semua kebutuhan kita akan diurusin ama universitas. Lebih baik selalu berjaga2.

Asuransi kesehatan

Asuransi sih ditanggung full oleh EM. Cuma dulu itu disentralisasi di suatu negara, dan klaim itu dikirim via pos ke kantor asuransi itu. Kalau hilang, ya berarti ga diganti. Dulu saya mengalami hilang klaim, klaim ga dibayar sampai hari terakhir mau pulang ke Indonesia. Tetapi setelah kirim email ke pejabat yang mengurusi EM di Brussels sana, langsung ditelpon, dan langsung ditransfer hari itu juga dananya.

Note: tuh lihat, asuransi kesehatan saja takut sama pejabat EM.. kenapa? karena perusahaan asuransi “replaceable”, kalau kinerjanya ga bagus, siap2 aja diganti.

Anyway, per saat ini, masalah asuransi tidak disentralisasi lagi, tetapi diserahkan pelaksanaannya ke masing2 konsorsium.

Tuntutannya berat

Dibandingkan Indonesia, saya sih merasa kurikulum di Eropa ini lebih “dalam”. Ingat ya, ini pendapat subjektif. Soalnya ada orang2 yang punya pandangan, yang penting selama di luar itu bersosialisasi dengan orang setempat, experience the culture, mengenalkan budaya Indonesia, dll.

Kalau saya pribadi, saya berpendapat prestasi itu juga penting. Bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk “pencitraan” konsorsium ke Brussels. Ya iya dong, konsorsium juga kan ga mau kalau studentnya nilainya ga bagus. Itu menandakan mereka salah seleksi.

Nah, dulu itu karena tuntutannya besar, dan kebetulan jurusan yang saya ambil juga lompat dari jurusan S1 saya, maka saya berjibaku banget untuk adjust. Ibarat lomba lari 400m, temen2 sekelas itu uda 100 meter di depan saya. Belum lagi, mereka juga student2 terbaik dari negara masing2.

Makanya dulu mau belajar bahasa lokal aja ga sempet (padahal gratis lho kelasnya). Orang luar yang ga tahu ceritanya, cuma bisa mencibir ketika tahu saya pulang dari 2 negara ini dan ga bisa ngomong bahasa lokal kedua negara ini. Tetapi, tidak semua kritikan harus diperhatikan. Pembuktian itu bisa dari banyak hal, ga cuma dari kata2 yang defensif terhadap kritikan orang.

Hidup sendiri

Ini belum tentu mudah bagi sebagian orang. Kalau kondisi sedang senang sih mungkin tidak masalah. Tetapi coba bayangkan, Anda di kota kecil, hampir tidak ada orang Indonesia, lalu Anda sakit, masih harus urus diri sendiri, di luar salju tebal dan angin kencang, dokter pun tidak fasih berbahasa Inggris.

Banyak godaan

Di sana banyak godaan untuk have fun dan menikmati hidup. Bentuknya gimana? Bervariasi!!

Tinggal gimana Anda masing2 bisa menjaga diri, fokus pada tujuan Anda, dan ga lupa kalau Anda di sana adalah dengan beasiswa, jadi jangan sia2kan apa yang diimpi2kan oleh banyak orang lain.

———————–

Sebagai tulisan awal, kayaknya 7 point ini dulu..

Sisanya, mungkin nanti nyambung lagi di part-part berikutnya..

Pada intinya, saya merasa hampir sebagian besar pengalaman EM saya itu enak. Kalaupun ada yang kurang enak, ada sisi positif yang bisa diambil untuk pendewasaan diri, menjadi lebih kuat, dan menjadi pohon yang lebih tinggi lagi. Kalaupun ada kecaman2 negatif, itu biasa, di dunia manapun, tidak cuma akademik, selalu ada orang2 yang berusaha mengkritik dan menjatuhkan kita. Tetapi itu hanya berarti bahwa kita ada di depan mereka, atau kita mengancam posisi mereka. Karena kalau kita bukan ancaman, kenapa mereka repot2 ngurusin kita hehehe..

Di penghujung 2012 ini, di masa2 dimana pendaftaran sudah/hampir ditutup, semoga semua applicant bisa mendapatkan hasil terbaik. Dan semoga kita bisa bertemu di pre-departure 2013 nanti.

Alumni Sharing Session: Indonesian EM Alumni Inviting Other Fellow Alumni Scholars

Following Erasmus Mundus Society Care activities in Jakarta and Bandung, the Indonesian EM alumni co-organized an “Alumni Sharing Session” with Center of Leadership Counseling for Strategic Human Resources (PPSDMS) Nurul Fikri. The event was held in Jakarta, last Saturday, aiming for the undergraduate students who are interested in pursuing their study further.

In order to present wider range of available opportunities, Indonesian EM alumni invited fellow alumni from other scholarships. On that Saturday morning session, five EM alumni with alumni from Baden-Wuttenberg, Stuned, NFP, and from University of Virginia came and sat together with one shared spirit, passion for sharing.

A presentation on activities and achievements of PPSDMS Nurul Fikri remarked the beginning of the event. Since 2002, PPSDMS has been consistently preparing their grantee students to be future leaders through their programs, which in this occasion is discussion on after-graduation activities.

This Alumni Sharing Session stands as a forum for dialogue between nine alumni and a group of potential students. Indonesian EM Alumni representatives (Mr. Efrian, alumnus of MScEF, 2006; Ms. Anggita, alumna of QEM, 2006; Ms. Rythia, alumna of QEM, 2007; Ms. Carroline, alumna of EMCL, 2007; and Ms. Irmanda, alumna of ME3, 2007) presented the Erasmus Mundus scheme and the application procedures for admission on 2011. The crowd’s enthusiast could be seen from the many questions raised during the Q&A session afterwards.

The other alumni also had the chance to tell their stories on the panel discussion led by Ms. Rythia. Ms. Vika started with her story on how her professor has recommended Baden-Wuttenberg Scholarship as a source of finance for her study in Stuttgart University, Germany. Another story comes from Mr. Aldy who was admitted to the University of Virginia, in the U.S. and awarded the scholarship right after graduation. A different story from Ms. Rani, an alumna from the Netherlands Fellowship Program (NFP), saying that the she made her way to Netherlands after showing solid link between her background and the program she was interested in. Thereafter, Mr. Nuri explained that his scholarship, Stuned, comes from different source of funding than NFP, even though both are for the Netherlands.

In between their stories, the alumni implicitly recommended several actions which could boost their prospects. Responding to the questions from the floor, all the nine alumni offered handy tips from their very own experiences, in particular on the right timeline for application, the keys to a powerful motivation letter, and the strategy to approach the professors. It was also advised to link tightly the former academic background with the intended master program so that the gap is less, particularly, in the case of cross-disciplinary.

Furthermore, the crowd was continuously encouraged to creatively improve their English and any other languages not only from the book but also from daily practices. More importantly, it is important to be persistent in exploring all the opportunities. In the end of the session, executing a request from one of the audiences, each alumnus shared their personal motivation to attain the scholarship and what they believe as their personal strength to be finally selected for the scholarship.

The alumni are grateful for the opportunity to have shared their savoir-faire to the crowd seeking for scholarship opportunities and to, at the same time, have learnt from others.

Although Erasmus Mundus is one of the youngest education excellence nameplates, this pioneering activity has formed the first steps moving towards the big dream of contributing to the community for a better nation.

PPSDMS: www.ppsdms.org

Tempat Ngobrol Applicant EM 2010

STOP PRESS – PENGUMUMAN EM 2010

Datanya baru saja diumumkan.
Silahkan baca di halaman utama https://emundus.wordpress.com/2010/03/19/em-2010-announcement-and-schedules/

Bagi anda yang sudah mendaftar untuk EM 2010, silahkan bersabar menunggu pengumuman Anda. Rajin-rajinlah mengecek email anda secara rutin. Jangan sampai tenggat waktu yang ditetapkan konsorsium terlewatkan oleh anda.

Hasil pengumuman bisa dua macam: main list atau reserve list. Keterangannya bisa dibaca di sini (main list) dan di sini (reserve list).

Bila anda termasuk “yang beruntung”, maka kita akan berjumpa di pre-departure EM 2010 sekitar bulan Juli/Agustus 2010 (tempat dan waktu akan diumumkan kemudian).

Berdasarkan permintaan salah satu pengunjung blog ini:

https://emundus.wordpress.com/#comment-1678

maka thread ini dikhususkan untuk ngobrol2 antar sesama applicant EM 2010..

Nanti bila ada yang sudah dapat berita/pengumuman dari EMMC nya, silahkan di-share dengan teman2 applicant lainnya..