Hari ini, semua ngomongin beasiswa

Tidak terasa, sudah 6 bulan tidak menulis apapun di blog ini.
Posting terakhir di awal tahun, tahu-tahu sekarang sudah bulan Juli.
Waktu terasa cepat sekali.

Anyway, banyak momen saya hari ini, seputar beasiswa.

Pertama, pengunduran diri dari salah satu team member di kantor.
Alasannya untuk melanjutkan S2 di bidang Master Management di Paris (dengan beasiswa penuh, non Erasmus+).
Dia dapat 1200 EUR per bulan !! (not bad lho)

Jadi, sesi diskusi pengunduran diri yang biasanya tegang menjadi cair, dan kita ngobrol2 mengenai pengalaman kuliah di Eropa.
Kebetulan, ada 1 orang alumni Erasmus+ juga yang sekantor, jadi kita saling share info dan cerita2 unik semasa di Eropa.
Seruu !! (jadi pengen kuliah lagi hahaha ;))

.

Kedua, diminta bantuannya oleh admin Instagram @indonesia_ema untuk posting kegiatan “MEET THE ALUMNI” di FB page Erasmus Mundus Indonesia.

Setiap minggu, akan ditampilkan profil2 alumni Erasmus+ dan menceritakan mengenai berbagai hal seperti apa sih kegiatan mereka sekarang? Kenapa pilih Erasmus+? Juga bagaimana impact Erasmus+ ke dalam kehidupan mereka.

It’s a good chance to know the alumni dan konsultasi beasiswa !!
Follow IG-nya ya.

.

Ketiga, saat santap malam.

Meja sebelah (yang jaraknya paling 20 cm dari meja saya, karena agak mepet ruangannya) diisi 2 orang pemuda, yang lagi seru ngomongin mengenai apply beasiswa. Mulai dari LPDP, Chevening, DAAD, sampai Erasmus+.

Gatel sih pengen ikutan nimbrung pas ngomongin Erasmus+ hahaha..
Tapi kali ini menahan diri aja.. Takut makanan keburu dingin kalau asik ngomongin beasiswa hahaha..

 

Advertisements

Pameran Beasiswa – Manado (12 Agustus 2017)

Uni Eropa dan Universitas Sam Ratulangi, Manado, Sulawesi Utara untuk pertama kalinya mengadakan Pameran Beasiswa pada:

Sabtu, 12 Agustus 2017
08:00-17:00
Auditorium Universitas Sam Ratulangi
Manado, Sulawesi Utara

Menampilkan Beasiswa dari Uni Eropa (Erasmus+), Belanda, Irlandia, Perancis, Jerman, Polandia dan Swedia.

Terbuka untuk umum dan gratis

Pendaftaran pengunjung di:
http://bit.ly/infobeasiswaeu2017

Surat dari Morningside Height

Saya mengenal Kristiono karena kami berkerja di tempat yang sama. Minggu lalu, dia mengundurkan diri dari perusahaan, untuk melanjutkan pendidikannya. Berikut adalah sharing dari dirinya. Petiklah pelajaran dari pengalamannya. Semoga menginspirasi !!

Tulisan aslinya ada di sini:
https://www.facebook.com/notes/kristiono-kristiono/surat-dari-morningside-height/10154674528190907?qid=6370989608353686642&mf_story_key=7947207293618612201

Salam kenal, saya Kristiono, mahasiswa program Master of Business Administration (MBA) di Columbia Business School, New York. Saya anak petani dari Lampung dan untuk kesekian kalinya saya rela berpisah sementara dari keluarga yang saya cintai demi mengejar cita-cita. Tapi walau jarak terpisah jauh, saya berkhidmat untuk berusaha lebih banyak membina komunikasi yang baik dengan keluarga, sekaligus menjalin relasi baru dengan orang-orang luar biasa yang akan saya temui dalam perjalanan ini. Melalui surat ini saya ingin berbagi tiga pelajaran penting yang saya dapatkan dalam upaya menggapai cita-cita saya berkuliah di salah satu universitas terbaik dunia.

Pertama, saya membuat peta jalan yang jelas. Peta jalan yang jelas membantu saya lebih fokus dan tidak menyia-nyiakan sumberdaya saya yang terbatas, baik itu waktu, energi, maupun keuangan. Buat saya, peta jalan bak pengejawantahan niat yang bulat. Terpatri dalam logika pikiran sadar, tertanam dalam lubuk hati, dan tertulis di sebuah catatan. Bahwasanya Kristiono, dengan seizin Tuhan, bisa lulus pendidikan MBA dari kampus bergengsi. Saya menuliskan peta jalan ini sejak tahun 2014. Jadi, membuka tahun 2017 dengan mengawali perkuliahan bukanlah awal dari sebuah cita-cita besar, tapi “sudah” separuh akhir dari sebuah perjalanan yang saya mulai sejak tiga tahun silam. I am very excited!

Kedua, saya bekerja dengan segenap kemampuan. Disamping keberuntungan, saya percaya bahwa berani punya cita-cita besar kudu dibarengi sikap siap bekerja sepenuh hati demi menggapainya. Ibarat membangun rumah, peta jalan hanyalah gambar desain di atas kertas. Perlu kerja keras nan bercucuran keringat guna mewujudkan gambar menjadi sebuah bangunan. Saya pikir Ini adalah hal yang niscaya, saya boleh punya rancang bangun hasil karya arsitek ternama, tapi tanpa kerja nyata mustahil sebuah bangunan rumah bisa berdiri. Di fase ini saya jumpai banyak sekali hambatan. Tapi di fase ini pula saya belajar bahwa hambatan apapun bisa saya lalui berbekal ketekunan, tekad, dan keluwesan dalam melakukan penyesuaian-penyesuaian di lapangan. Aplikasi MBA saya ditolak tiga universitas sebelum akhirnya diterima oleh Columbia University. Almamater Presiden Obama ini bukan merupakan universitas impian saya. Tapi ya sudahlah, ibarat pepatah, tiada rotan akar pun jadi. Toh saya tetap bisa kuliah MBA di kampus berkelas. I wrote a plan, and I expect little adjustments along the way!

Ketiga, mintakanlah pertolongan Tuhan. Saya sangat bersyukur, dalam perjalanan meraih cita-cita, saya banyak mendapatkan pertolongan Tuhan melalui orang-orang yang dengan tulus bersedia membantu saya. Pertama, dari segi biaya, mustahil bagi saya untuk bisa membayar uang kuliah MBA yang sangat mahal. Alhamdulilah, saya mendapat beasiswa LPDP dari pemerintah Indonesia. Kedua, dari sisi kualifikasi, dengan bekal IPK 3,28 dan pengalaman kerja sebagai pegawai bank, sangat beruntung saya bisa diterima program MBA di Columbia Business School (CBS). Ini tak lepas dari bantuan teman-teman dari kantor, senior di ITB, dan orang Indonesia alumni CBS yang telah dengan sangat baik hati memberikan masukan untuk memaksimalkan peluang saya diterima dalam program ini. Saya berdoa agar budi baik mereka, disiapkan balasan istimewa oleh Tuhan yang maha kuasa.

Akhir kata, saya berprinsip bahwa perbuatan yang baik tujuannya, pasti baik pula hasilnya. Jika belum mendapatkan hasil sesuai harapan, jangan patah semangat. Terus berusaha dengan ikhlas. Melangkah pelan-pelan, setiap hari kita semakin dekat dengan tujuan. Salam dari Morningside Height, New York!

Strategi Itu Penting

Sebagaimana sudah saya katakan di beberapa posting yang lalu, belakangan ini saya memang cukup sering menggunakan jasa layanan Uber untuk menunjang aktivitas saya. Besarnya biaya untuk layanan transportasi Uber, ditentukan oleh 2 komponen dasar: jarak dan waktu.

Misalkan saja (hanya untuk ilustrasi), harga per km adalah 3000 rupiah, dan harga per menit (waktu perjalanan) adalah 300 rupiah.
Maka, kalau perjalanan anda sepanjang 20 km, yang ditempuh dalam waktu 30 menit, biaya yang harus anda bayar adalah kurang lebih 69.000 rupiah.

Namun di kala jam-jam sibuk (misal: jam pulang kantor), dan ada banyak permintaan untuk suatu area tertentu (misal: area segitiga emas di Jakarta), maka Uber akan mengenakan yang namanya “surge price”. Ilustrasinya ada di gambar di bawah ini.

 

uber-surge

Surge price ini berfungsi sebagai faktor pengali dari tarif dasar.

Yang saya tahu, “surge price” ini adalah untuk menarik lebih banyak pengemudi Uber untuk masuk ke area yang sedang ramai ini, sehingga para pengguna Uber dapat mendapatkan pelayanan yang lebih cepat. Lebih lengkapnya bisa dibaca di https://newsroom.uber.com/indonesia/informasi-mengenai-harga-ramai-surge-pricing/.

Jadi, menilik ulang contoh sebelumnya, kalau pemesanan anda itu kena surcharge 1,75x, maka jumlah yang harus dibayar menjadi sekitar 120.000 rupiah. Tentunya bagi pengemudi Uber, surge price ini merupakan peningkatan penghasilan yang signifikan (sehingga akan menarik lebih banyak pengemudi untuk masuk ke area yang sedang ramai).

Apa impact surge price bagi pengguna? 
Kebanyakan orang akan menunda perjalanannya, menunggu permintaan mereda (kembali ke tarif normal tanpa surge price atau mendekati tarif normal), baru melakukan pemesanan. Hal ini tentunya adalah perilaku yang wajar, karena pengguna menginginkan harga yang efisien. Namun, bagi Uber, perilaku seperti ini mengurangi jumlah pemesanan mereka.

Perubahan pada Uber minggu ini
Berdasarkan pengamatan saya pribadi, tampilan surge yang menakutkan itu sepertinya ditiadakan. Yang Uber lakukan adalah menampilkan hasil total estimasi biaya perjalanan (yang sudah memasukkan konsep surge, bila berlaku).

Dengan cara ini, pertimbangan pengguna adalah langsung ke hasil akhir, total estimasi biaya perjalanan. Misalkan dari titik A ke B, biasanya harganya 30.000. Namun, pada suatu waktu, harga yang muncul adalah 45.000 (bisa disimpulkan, bahwa surge 1,5x sedang berlaku). Namun, bagi pengguna yang tidak mau pusing, tinggal membuat keputusan apakah harga 45.000 ini memenuhi ekspektasi mereka (jadi pesan atau tidak).

Pertimbangan penggguna untuk membuat keputusan, disederhanakan oleh Uber, dengan harapan lebih banyak pengguna yang melakukan pemesanan (dibandingkan ketika masih menampilkan faktor pengali surge price).


Apa kaitannya dengan beasiswa?
Dari contoh di atas, kita melihat kekreatifan Uber dalam mengemas paket harganya. Dengan menghilangkan tampilan surge dan langsung menampilkan, bisa dibilang tidak ada perubahan konsep perhitungan biaya di sisi Uber. Namun, mereka memberikan nilai tambah bagi penggunanya (dan juga bagi Uber sendiri).

Bagi para pencari beasiswa, ada hal-hal yang mungkin sudah tidak bisa diubah (apalagi kalau sudah lulus), misal saja: nilai IPK, prestasi akademik yang sudah dicapai, kegiatan organisasi yang sudah diikuti. Namun, ada juga hal-hal yang masih bisa diusahakan, misalnya: nilai TOEFL/IELTS, motivation letter, recommendation letter.

Kembali ke contoh Uber di atas, intinya adalah bagaimana mengemas komponen-komponen dasar aplikasi beasiswa yang anda miliki, supaya menjadi suatu kemasan yang menarik bagi pemberi beasiswa. Dengan kata lain, bagaimana caranya menonjolkan diri di aplikasi beasiswa, sehingga menjadi kandidat serius yang bisa dipertimbangkan untuk diberikan beasiswa.

Tidak ada suatu ilmu atau konsep generik untuk hal ini. Perlu pemahaman mengenai apa yang anda punyai, dan apa yang beasiswa harapkan, supaya anda bisa merumuskan suatu konsep aplikasi yang diharapkan bisa “tembus” dan mendapatkan beasiswa.

Memang konsep pemikiran ini sepertinya agak abstrak dan tidak konkret (harus melihat case by case untuk merumuskan strategi yang tepat), tetapi ini adalah salah satu pekerjaan rumah anda sebagai pencari beasiswa (yang pada waktunya nanti, semoga status itu berubah menjadi penerima beasiswa).

Selamat berjuang !! 🙂

Kapan saatnya apply beasiswa? (SEKARANG)

Bagi anda yang sudah eligible, bulan-bulan ini adalah bulan yang tepat untuk mengajukan beasiswa Master degree Erasmus+.

Daftar lengkap programnya (ada 101 program yang ditawarkan untuk tahun ini) bisa ditemukan di:
https://eacea.ec.europa.eu/erasmus-plus/library/emjmd-catalogue_en


Bagaimana cara apply-nya?

  1. Dari daftar yang tersedia di atas, pilihlah program yang kira2 Anda minati
  2. Masuk ke websitenya, untuk membaca lebih dalam mengenai isi program tersebut secara lebih seksama

Supaya lebih relevan, langsung saja saya berikan contoh:

Misalkan saja, saya adalah seorang lulusan Ilmu Komputer, dan saya berminat untuk program “BDMA – Big Data Management and Analytics”.

Maka, langkah berikutnya, saya mengunjungi website BDMA, yaitu di http://bdma.univ-tours.fr/bdma/.

Di website ini, beragam informasi bisa ditemukan, misalnya:

  • Keunggulan BDMA (di sini)
  • Struktur mobilitas (akan kuliah dimana saja, selama menempuh program ini, di sini)
  • Gelar yang akan diperoleh, dan skema penilaian (di sini)
  • Kalender akademik (di sini)
  • Isi program (di sini)
  • Dan yang terpenting, prosedur pendaftaran (di sini)

Semoga cukup jelas sampai di sini. Intinya berbagai informasi penting mengenai beasiswa tersebut, ada di website program tersebut.

Jadi, segeralah bergegas, sebelum waktu pendaftaran berakhir !!

Semoga kita bisa ketemu di acara Pre-Departure 2017 !!

Bagi yang bisa hadir, jangan lupa ada rangkaian kegiatan EHEF, minggu depan (sudah dibahas di sini).

 

 

Semuanya adalah Pilihan

Erasmus Mundus (yang sekarang disebut Erasmus+), adalah salah satu beasiswa yang membebaskan penerimanya untuk menentukan masa depannya setelah lulus.

Beberapa pilihan teman-teman saya:

  • Lanjut S3 di Eropa (dengan beasiswa Erasmus+ ataupun lainnya)
  • Kerja di Eropa
  • Merajut hidup baru (menikah) dan tinggal di Eropa
  • Kembali ke Indonesia dan bekerja sebagai PNS
  • Kembali ke Indonesia dan bekerja sebagai akademisi
  • Kembali ke Indonesia dan bekerja di bidang swasta
  • Kembali ke Indonesia dan berwiraswasta
  • Kembali ke Indonesia dan terjun ke dunia politik

dan berbagai kemungkinan lainnya.


Dalam sebuah acara kumpul-kumpul dengan beberapa alumni Erasmus Mundus (EM) bulan lalu, baru terkuak bahwa salah satu di antara kami akan segera melanjutkan pendidikan lagi ke Jerman (per hari ini, dia sudah 1 minggu berada di sana), dengan pendanaan dari salah satu beasiswa lokal.

Keputusan yang agak mengejutkan, karena ternyata dia akan menempuh program S2 lagi (walaupun dengan jurusan yang berbeda 180 derajat dengan S2 sebelumnya). Yang lebih mengejutkan, jumlah beasiswa yang akan dia dapatkan hanyalah sekitar 50% dari yang dia peroleh 10 tahun lalu, sebagai penerima beasiswa EM. Terus terang, dengan jumlah segitu, rasanya akan sangat pas-pasan untuk biaya hidup di Jerman.

Anyway, keputusan dan keberanian teman saya ini patut dihargai.
It is his life, and as long he is happy with it, then there is nothing wrong in it.

Di sinilah menurut saya, ada yang namanya passion.
Harus diakui, ada orang-orang yang memang suka berkecimpung di dunia akademik, suka menimba ilmu, suka memperluas pengetahuan melalui berbagai mata kuliah. Dan juga sambil memperluas pengalaman melihat dunia tentunya.

Pengalaman saya pribadi, menjadi mahasiswa adalah salah satu kesempatan terbaik untuk bisa punya waktu luang yang banyak untuk traveling dan melihat sisi lain dunia (dibandingkan dengan kerjaan kantoran hehehe..).


Ada seorang teman lain lagi.
Kami dulu berjuang bersama-sama menempuh S2 di kota dan universitas yang sama di Eropa. Setelah lulus, dan kembali ke Indonesia, tidak lama kemudian dia kembali ke Eropa (Belgia) untuk melanjutkan studi S3. Menyusul kemudian, istri dan kedua anak balitanya. Anak ketiganya baru saja lahir beberapa bulan yang lalu.

Bisa dibilang, dalam 10 tahun terakhir, mungkin 7 tahun sudah dia habiskan di Eropa.
Namun, kondisi Eropa yang teratur, bersih, transportasi yang nyaman, ataupun fasilitas penunjang akademik yang luar biasa, tidak membuat dia untuk memutuskan untuk menghabiskan sisa hidupnya di Eropa. Hatinya ada di Indonesia, kampung halamannya, keluarga besarnya, dan teman-teman masa lalunya.

Apakah ada yang salah? Sekali lagi, tidak.
Setiap orang memiliki pilihan, seperti apa dia ingin merajut masa depannya.


So, what I am trying to say?

  1. Waktu terus berjalan maju, usia terus bertambah (tidak bisa mengulang waktu yang sudah lalu)
  2. Pikirkan baik-baik masa depanmu, keputusanmu hari ini mungkin menentukan masa depan hidupmu
  3. Make good decision for your life, and don’t regret it !!
    Boleh saja mendengar saran dan minta pendapat dari orang lain, tetapi keputusan terakhir ada di tanganmu. It’s your life, by the way !!  😉

life

 

European Union Scholarships Fair, Medan (19 October 2016)

European Union Scholarships Fair

List of Exhibitors:

Embassy of Ireland | Study in Sweden – Swedish Embassy | Embassy of Poland | Campus France – IFI | DAAD Germany | Nuffic Neso Netherlands | Uni-Italia | European Union

More information:

http://eeas.europa.eu/delegations/indonesia/11109/european-union-visits-medan_en