Refleksi Diri – Bagi yang masih S1

Untuk refleksi diri saja.. Terutama mereka yang masih di bangku S1.

Belajar S1 dengan baik, raih nilai tinggi, buat publikasi2 penting, lalu dapat beasiswa Erasmus+..

Ketika lihat ke belakang, tidak ada yang perlu disesali karena kerja keras yang berbuah manis..

Maaf kata, buat apa terlalu sibuk ikut kegiatan ini itu kalau membuat kuliah tidak terpegang dan nilai jadi jeblok. Buat apa terlalu pusing ikut campur polemik ini itu kalau itu mengalihkan fokus dari tanggung jawab untuk belajar dengan baik.

Catatan tambahan:

Tidaklah salah ikut berorganisasi dan kegiatan2 kemahasiswaan selama kuliah karena akan membuka perspektif dan melatih nilai-nilai kerja sama, adaptasi, sosialiasi, dan nilai baik lainnya. Harus pintar-pintar bagi waktu supaya bisa seimbang antara mengikuti kuliah dengan kegiatan luar kuliah.

Kalau sudah meraih impian2 itu, silahkan untuk sibuk sana sini, komentar sana sini, ikut polemik ini itu.

Karena waktu tidak bisa berulang. Menit yang baru dilalui saja tidak bisa diulang. Apalagi nilai S1 ??

Padahal salah satu persyaratan utama beasiswa pada umumnya adalah nilai S1. Jadi kalau senjatamu tidak siap, bagaimana mau berkompetisi dengan aplikan lainnya?

retrospect

Sharing Motivasi #1: Peluang itu ada

Setiap Sabtu, saya biasanya main basket di lapangan dekat rumah.
Permainannya sendiri cukup unik karena pesertanya tidak tetap, dan belum tentu saling kenal satu sama lain.
Secara rutin sudah terbentuk semacam kebiasaan, bahwa Sabtu sore, kita kumpul bareng di lapangan, dan main bareng.
Siapapun yang datang, asal bisa main basket, boleh join.

Kalau dibandingkan dengan main di lapangan bagus, misalnya saja di Senayan, kontras sih.
Di tempat saya main ini, pesertanya berasal dari berbagai kalangan.
Secara usia, ada yang masih SMU, universitas, sudah kerja, bahkan sampai yang sudah beranak tiga.

basket

Secara atribut, tidak ada ketentuan juga.
Syaratnya cuma 1, yaitu pakai sepatu.
Mau itu sepatu basket, sepatu kets, sepatu casual, sepatu tenis, apapun tidak masalah.
Mau sepatunya masih baru, setengah baru, atau robek, atau sudah dilem berulang kali, tidak dipermasalahkan.
Mau belinya di toko olahraga atau Taman Puring atau Pasar Ular, tidak masalah juga.

Secara pakaian, mau pakai baju basket, mau pakai kaos oblong, mau pakai kaos robek, mau pakai baju training, apapun ga masalah.
Malah kadang-kadang ada yang karena kepanasan malah dia mainnya telanjang dada.

———-

Nah, hari ini terpikir oleh saya, bukankah konsep beasiswa itu juga demikian?
Beberapa beasiswa memang membatasi aplikannya dari universitas tertentu –> tapi kita ga ngomongin beasiswa yang seperti ini.

Kalau ngomong beasiswa EM, mereka membuka peluang bagi siapapun.
Apakah universitas anda di Pulau Jawa, Sulawesi, Papua, atau pulau lainnya, bahkan luar negeri, anda bisa join.
Tentunya ada syarat-syarat, semisal berkualifikasi S1, punya nilai tes bahasa Inggris yang memadai, dan beberapa syarat lainnya.

Apakah bisa dicapai? Tentu saja bisa, kalau anda mau berusaha untuk mencapainya.
Sama seperti ilustrasi mengenai main basket, dimana pertama anda harus belajar main, tahu peraturan, lalu at least memakai sepatu, maka di beasiswa juga kurang lebih sama.

Intinya, yang saya mau sampaikan, apapun kondisi anda saat ini, peluang itu ada.
Kalau anda sudah lulus S1, tetapi IPK pas-pasan, ya mungkin tulisan ini sudah telat.

Tetapi kalau anda masih di bangku S1, apalagi baru mau mulai S1, rasanya sangat penting untuk menyadari bahwa apa yang anda usahakan selama S1, akan menentukan perjalanan hidup anda berikutnya.
Gunakan waktu yang ada sebaik-baiknya.
Belajar yang banyak di program studi yang anda tempuh.
Belajar Bahasa Inggris yang benar (ada banyak cara yang murah meriah tapi manjur untuk memoles kemampuan ini).
Hindari kebiasaan-kebiasaan yang tidak berguna dan membuang waktu.
Bukan berarti tidak boleh refreshing atau harus kerja keras terus menerus, tetapi berinvestasilah pada diri anda sebaik2nya.

Kalaupun tujuannya bukan untuk beasiswa S2, maka segala skill, kemampuan, kepintaran yang anda pupuk semasa S1, tidak akan sia-sia karena akan berguna untuk tujuan lainnya, misal: mencari pekerjaan di perusahaan yang baik dengan posisi dan tawaran remunerasi yang menarik.

Jadi, perlu diingat, peluang itu ada, tinggal bagaimana masing-masing kita memaksimalkan diri untuk menggunakan peluang tersebut sebaik2nya.