Comfort Zone itu Memang Enak

Untuk menunjang kebutuhan berselancar di dunia maya, saya berlangganan jasa internet mobile dari salah satu provider. As usual, menjelang masa berlaku paket akan berakhir, maka si provider akan memberikan notifikasi, dan saya pun memperpanjang paket tersebut.

Rutinitas seperti ini sudah berlangsung cukup lama, sampai baru-baru ini saya tahu, kalau ternyata sudah ada paket baru yang lebih menarik yang sudah diluncurkan beberapa waktu.

Agak geregetan memang, karena paket yang baru ini lebih sesuai untuk kebutuhan saya. Biaya dan layanan yang ditawarkan lebih optimal.

Namun, dipikir-pikir, tidak bisa menyalahkan si provider karena tidak memberitahu kepada saya mengenai adanya paket baru ini. Lebih kepada dari sisi saya yang memang sudah nyaman dengan paket lama (comfort zone), dan tidak melihat-lihat tawaran baru yang tersedia.


Hal serupa bisa juga terjadi pada beasiswa.

Pada umumnya, fokus kita hanya tertuju pada beasiswa-beasiswa yang sudah “punya nama” dan sudah kita tahu. Satu hal yang pasti, semakin terkenal beasiswa tersebut, berarti semakin banyak aplikan-nya, dan otomatis tingkat persaingannya pun akan semakin ketat (analogi yang sama untuk tingkat persaingan masuk PTN, ada universitas dan jurusan tertentu yang sangat tinggi passing grade-nya).

Padahal ada kemungkinan, ada peluang beasiswa-beasiswa lain yang mungkin juga cocok dengan apa yang kita cari. Jadi, jangan tutup mata, dan teruslah menggali informasi yang ada (baik pasif maupun aktif) !!


Dulu saya lulus S1 di tahun 2004 dan langsung cari-cari beasiswa setelahnya.

Program Erasmus+ (yang dulu namanya masih Erasmus Mundus, disingkat EM) baru dimulai di tahun 2004, tetapi saya tidak tahu akan adanya peluang itu. Sedangkan, salah satu teman yang lulus bareng saya (universitas yang sama, tetapi fakultas yang berbeda), dia malah sudah apply dan dapat beasiswa EM di 2004 (karena fakultasnya punya kerja sama dengan salah satu konsorsium EM). Jadi, ada faktor keterbatasan informasi juga di sini.

Singkat cerita, saya baru dapat EM di tahun 2006 (mulai kuliah Oktober 2006, pengajuan aplikasinya sudah dari akhir 2005). Di kala itu, mungkin karena baru 2 tahun berjalan, sepertinya belum terlalu banyak yang tahu.

2006em

(Intermezzo dikit, foto di atas diambil Agustus lalu, dimana saya dan teman2 seangkatan 2006 baru saja merayakan peringatan 10 tahunan di acara Erasmus+ Pre Departure 2016 di hotel Pullman, Jakarta)

Baru di tahun-tahun selanjutnya, karena semakin banyak yang membicarakan mengenai EM, juga banyak informasi di internet (melalui blog ini salah satunya), maka EM menjadi makin populer sampai saat ini (dan tentunya persaingan menjadi semakin ketat, persyaratan seleksi menjadi semakin banyak).

Ibarat kata, kalau dulu itu, universitas yang butuh mahasiswa (untuk diberikan beasiswa), sekarang ini kebalikannya. Makanya dulu pendaftaran beasiswa EM begitu sederhana dan praktis, dibandingkan sekarang, beberapa pembaca bertanya mengenai biaya pendaftaran, dokumen ini itu yang harus disediakan.

Anyway, jangan putus asa dan jangan terpaku dengan beasiswa Erasmus+ (atau beasiswa terkenal lainnya). Tetap buka mata untuk peluang-peluang lainnya. Who knows, you will find the next “Erasmus+” !!

Selamat berjuang !!

 

Advertisements

Sharing Motivasi #1: Peluang itu ada

Setiap Sabtu, saya biasanya main basket di lapangan dekat rumah.
Permainannya sendiri cukup unik karena pesertanya tidak tetap, dan belum tentu saling kenal satu sama lain.
Secara rutin sudah terbentuk semacam kebiasaan, bahwa Sabtu sore, kita kumpul bareng di lapangan, dan main bareng.
Siapapun yang datang, asal bisa main basket, boleh join.

Kalau dibandingkan dengan main di lapangan bagus, misalnya saja di Senayan, kontras sih.
Di tempat saya main ini, pesertanya berasal dari berbagai kalangan.
Secara usia, ada yang masih SMU, universitas, sudah kerja, bahkan sampai yang sudah beranak tiga.

basket

Secara atribut, tidak ada ketentuan juga.
Syaratnya cuma 1, yaitu pakai sepatu.
Mau itu sepatu basket, sepatu kets, sepatu casual, sepatu tenis, apapun tidak masalah.
Mau sepatunya masih baru, setengah baru, atau robek, atau sudah dilem berulang kali, tidak dipermasalahkan.
Mau belinya di toko olahraga atau Taman Puring atau Pasar Ular, tidak masalah juga.

Secara pakaian, mau pakai baju basket, mau pakai kaos oblong, mau pakai kaos robek, mau pakai baju training, apapun ga masalah.
Malah kadang-kadang ada yang karena kepanasan malah dia mainnya telanjang dada.

———-

Nah, hari ini terpikir oleh saya, bukankah konsep beasiswa itu juga demikian?
Beberapa beasiswa memang membatasi aplikannya dari universitas tertentu –> tapi kita ga ngomongin beasiswa yang seperti ini.

Kalau ngomong beasiswa EM, mereka membuka peluang bagi siapapun.
Apakah universitas anda di Pulau Jawa, Sulawesi, Papua, atau pulau lainnya, bahkan luar negeri, anda bisa join.
Tentunya ada syarat-syarat, semisal berkualifikasi S1, punya nilai tes bahasa Inggris yang memadai, dan beberapa syarat lainnya.

Apakah bisa dicapai? Tentu saja bisa, kalau anda mau berusaha untuk mencapainya.
Sama seperti ilustrasi mengenai main basket, dimana pertama anda harus belajar main, tahu peraturan, lalu at least memakai sepatu, maka di beasiswa juga kurang lebih sama.

Intinya, yang saya mau sampaikan, apapun kondisi anda saat ini, peluang itu ada.
Kalau anda sudah lulus S1, tetapi IPK pas-pasan, ya mungkin tulisan ini sudah telat.

Tetapi kalau anda masih di bangku S1, apalagi baru mau mulai S1, rasanya sangat penting untuk menyadari bahwa apa yang anda usahakan selama S1, akan menentukan perjalanan hidup anda berikutnya.
Gunakan waktu yang ada sebaik-baiknya.
Belajar yang banyak di program studi yang anda tempuh.
Belajar Bahasa Inggris yang benar (ada banyak cara yang murah meriah tapi manjur untuk memoles kemampuan ini).
Hindari kebiasaan-kebiasaan yang tidak berguna dan membuang waktu.
Bukan berarti tidak boleh refreshing atau harus kerja keras terus menerus, tetapi berinvestasilah pada diri anda sebaik2nya.

Kalaupun tujuannya bukan untuk beasiswa S2, maka segala skill, kemampuan, kepintaran yang anda pupuk semasa S1, tidak akan sia-sia karena akan berguna untuk tujuan lainnya, misal: mencari pekerjaan di perusahaan yang baik dengan posisi dan tawaran remunerasi yang menarik.

Jadi, perlu diingat, peluang itu ada, tinggal bagaimana masing-masing kita memaksimalkan diri untuk menggunakan peluang tersebut sebaik2nya.