European Union (EU) – Indonesia Scholarships Info Day, Jakarta, 28 Mei 2016

Jangan lewatkan pameran “European Union (EU) – Indonesia Scholarships Info Day”

Sabtu, 28 Mei 2016
08:30-17:00

Di: Puri Ratna Ballroom, Grand Sahid Jaya Hotel
Jalan Sudirman Kav 86, Jakarta 10220

em_2016scholarshipsbanner

Diikuti oleh 14 lembaga penyedia beasiswa:
– LPDP Indonesia
– Austria
– Inggris / British Council
– Denmark
– Hungaria
– Irlandia
– Spanyol
– Swedia
– Polandia
– Campus France – IFI Perancis
– DAAD Jerman
– Nuffic Neso Belanda
– Uni-Italia
– Uni Eropa

Gratis terbuka untuk umum

Pendaftaran pengunjung: http://bit.ly/eu-scholarships

Maksimal 3,000 pengunjung.

Silakan di share atau tag teman2nya.

Advertisements

Refleksi 2014: Timing dan momentum

Tiga hari mendatang, kembali kita dihadapkan pada penghujung tahun 2014.

Apa yang sudah kita capai di 2014?

Apa yang belum kita capai?

Apa yang seharusnya sudah kita capai, tetapi karena sesuatu hal, menjadi tidak tercapai?

Refleksi diri adalah hal yang baik menjelang penghujung tahun, untuk memperbaiki kesalahan atau kekurangan yang ada, sehingga tahun 2015 bisa dilalui dengan lebih baik.

***

Salah satu hal yang menjadi pemikiran saya di 2014 ini adalah mengenai timing dan momentum. Apa maksudnya?

Dalam berbagai hal dalam kehidupan kita, banyak tawaran, yang terkadang sifatnya hanya sekejap atau terbatas ketersediaannya. Terlalu lama berpikir, bisa jadi peluang tersebut sudah tidak berlaku lagi atau sudah diambil oleh orang lain. Terlalu banyak pertimbangan, bisa menjadikan kita tidak merasa siap untuk “pull the trigger” (ambil keputusan). Dan pada akhirnya, bisa saja kita berakhir dengan kekecewaan dan membayangkan seandainya saja kita mengambil keputusan lebih cepat.

Don’t get me wrong ya, saya tidak bilang bahwa tidak perlu berpikir masak-masak dalam membuat keputusan. Tetapi, kita perlu juga mempertimbangkan aspek timing dan momentum dari peluang yang ditawarkan tersebut.

Timing-is-everything

***

Misalkan saja, kalau anda mengikuti proses lelang, kalau anda tidak cepat ambil keputusan dan bersedia menawar lebih tinggi, maka barang yang anda minati mungkin menjadi milik orang lain.

Atau kalau misalkan anda punya rencana untuk keluar negeri, misalkan saja ke Amerika Serikat, di awal 2015, dan anda menunda-nunda untuk membeli mata uang USD, maka kurs USD saat ini yang sudah di atas 12.000 rupiah sudah kurang bersahabat bagi sebagian orang. Mungkin anda akan menyesali, kenapa tidak beli USD ketika masih 11.000 ya.

(Catatan: ilustrasi di atas dengan asumsi anda punya dana yang dibutuhkan untuk membeli USD ketika masih 11.000, tetapi anda tidak melakukannya karena anda berharap kurs USD akan turun menjelang kepergian anda)

usdidr

Per kondisi saat ini pun, tidak ada yang tahu apakah pembelian USD di kurs 12.000 adalah keputusan yang tepat atau tidak. Kalau ke depannya USD menjadi 15.000, maka pembelian saat ini adalah keputusan yang sangat tepat. Tetapi kalau sebaliknya, maka mungkin anda akan menyesal lagi karena beli di harga tinggi.

Dan masih banyak hal lainnya yang dalam pengambilan keputusannya melibatkan timing dan momentum ini.

Terkadang timing ini sangat krusial, sangat cepat. Misalkan saja, telat sedikit, maka harga sudah berubah (dalam hal kurs mata uang yang mengikuti pergerakan pasar).

***

Dalam hal pencarian beasiswa, hal mengenai timing dan momentum ini pun ada.

Realistik saja, namanya juga beasiswa, terkadang peluang yang ada mungkin tidak sesuai dengan bayangan ideal kita (misal: mau kuliah di univ A, jurusan B, penelitian di bidang C, dll). Dan karena begitu banyak pencari beasiswa di dunia ini, lebih banyak dari beasiswa yang disediakan, pastinya akan banyak persaingan dan kompetisi untuk memperebutkan beasiswa yang ada.

Sebuah pertanyaan untuk refleksi diri, manakah yang lebih penting bagi anda?

(1) Mendapatkan beasiswa, tetapi kondisi beasiswanya atau bidang yang dituju mungkin tidak seideal impian anda

(2) Menunggu terus (entah sampai kapan), sampai ada beasiswa yang seluruh kondisi dan bidangnya sesuai impian anda

Tidak ada benar salah, karena ini keputusan masing-masing orang. Satu hal yang perlu dicamkan, keputusan manapun yang anda ambil, akan ada konsekuensi dari setiap keputusan. Yang terpenting di sini adalah penguasaan diri, kalau anda puas akan pilihan anda, dan anda siap akan konsekuensinya.

***

Sebagai penutup, saya menyukai sebuah quote dari Richard Branson.

Beliau adalah pengusaha asal Inggris, yang merupakan pendiri dari Virgin Group.

branson

***

Selamat menghadapi tahun 2015 !!

Pokoknya tetap ingin studi di Paris!! (ngotot version)

Artikel ini sih lanjutan dari posting sebelumnya di:

https://emundus.wordpress.com/2013/07/14/saya-ingin-studi-di-paris-beasiswanya-apa-ya/

french-contemporary-studies-paris-main

Jadi, terkadang, memang kalau sudah punya impian dan harapan akan kota/negara tertentu, susah untuk berpaling ke tempat lainnya.

That’s fine, hidup memang harus punya visi.

Jadi, kalau kasusnya yang “ngotot version” seperti ini, disarankan bisa mempertimbangkan langkah2 berikut:

Langkah 1: Lihat web http://www.studyineurope.eu

Web ini cukup powerful, dimana ada university finder, per negara.

Untuk Prancis: http://www.studyineurope.eu/study-in-france/higher-education-institutions

Setelah dapat uni yang diminati, bisa browse ke uni tsb, dan lihat skema pembiayaan yang ditawarkan

Langkah 2: Coba join dan tanya2 di milis beasiswa

Sebisa mungkin agak spesifik bertanyanya.

Jangan cuma, “halo, saya mahasiswa X, lulusan Y, ingin kuliah di Paris. tolong kabari ya kalau ada info beasiswa.”

Langkah 3: Coba main2 atau email2 ke perwakilan lembaga pendidikan negara tsb, dan tanya2..

Untuk Prancis, ada perwakilan Campus France di Indonesia.

Langkah 4: Coba cari kumpulan pelajar Indonesia dalam bentuk PPI lokal (per kota atau negara).

Mereka biasanya berasal dari berbagai latar belakang, dan mungkin lebih tahu mengenai skema beasiswa lainnya yang ada di uni/kota/negara tsb

Silahkan dicoba.

Statistik penerima beasiswa EM

  • Tahun 2006 : 27 orang
  • Tahun 2007 : 39 orang
  • Tahun 2008 : 61 orang
  • Tahun 2009 : 60 orang

Bisa dilihat bahwa peningkatannya cukup signifikan dari tahun ke tahun. Dibandingkan dengan negara2 lain di Asia Pasifik seperti Malaysia, Singapura, Filipina, dan Thailand, Indonesia menang. Bahkan dengan saingan terdekat Vietnam, Indonesia juga menang.

Apakah ini berarti pelajar dari Indonesia lebih baik dari negara lain?  Belum tentu juga.

Susah untuk menilainya saat ini, tapi waktu akan menujukkan apakah hal ini benar/tidak.

Seni mencari beasiswa, persiapan mendaftar beasiswa & persiapan berangkat

By: Anggiet Ariefianto
Taken from: Milis beasiswa (beasiswa@yahoogroups.com)

Dear all,
Seorang teman saya minta saya membagikan filosofi saya seputar beasiswa. Berikut ini berapa poin yang sempat terpikir dan pernah saya terapkan.
Harap diingat, tidak semuanya aplikatif, ini adalah persepsi saya, jadi
sangat personal, bukan opini umum dan bukan kebenaran yang hakiki.

Seni Mencari Beasiswa

Memilih beasiswa bisa dilakukan dengan berbagai cara yang semuanya sah.
Idealnya mencari beasiswa itu mengacu kepada kebutuhan, keinginan,
kemampuan dan kemungkinan.

  1. Berdasarkan jurusan
    Sebagian orang memilih beasiswa karena ingin mendalami bidang tertentu yang super spesifik, misalnya nano biologi. Tidak masalah studinya di Negara mana. Jika demikian, yang harus dilakukan adalah  membuat data universitas yang memiliki program yang diingini, kemudian lihat kemungkinannya, adakah beasiswa yang bisa mendukung untuk ambil program itu di uni yang diinginkan.

    Harap diingat, meskipun namanya sama, belum tentu muatan materi ajarnya sama. Ambil contoh misalnya gender studies. Ternyata banyak mainstreamnya seperti women studies, gay studies, domestic violence, gender in development, dst.

    Pengamatan saya di Australia, banyak uni yang sama nama programnya tapi dari mata kuliahnya akan terlihat lebih berfokus ke mana. Ini yang seringkali tidak diantisipasi oleh pendaftar (termasuk saya sendiri). Survey yang akurat dan komprihensif diperlukan, pastikan kita tahu betul apa muatan jurusan yang dituju, karena biasanya pada saat wawancara kita juga harus bisa menjelaskan kenapa kita mau ambil bidang itu di universitas itu

  2. Berdasarkan Negara
    Sebagian orang terobsesi ingin sekolah di negara tertentu. Maka yang harus dilakukan adalah mencari beasiswa yang tersedia dari Negara yang bersangkutan. Seringkali sebuah Negara memberikan lebih dari satu skema beasiswa. Australia misalnya memberikan beasiswa melalui ADS, tetapi juga ada IAFTP. Selain itu universitas Australia juga memiliki skema beasiswanya sendiri.

    Alasan ini yang saya pakai waktu daftar ADS, karena kakak-kakak saya semua dapat ADS, ya saya tidak mau kalah, jadi karena ingin sekolah di Australia ya meriset bidang apa sich yang cocok untuk saya, di universitas mana, dst.

  3. Berdasarkan beasiswa yang ada
    Banyak orang mendaftar beasiswa berdasarkan tawaran yang ada. Ini biasanya terjadi kalau ada beasiswa besar yang memulai seleksi seperti ADS dan Stuned. Dalam hal ini kemampuan untuk memperoleh informasi sangat berperan. Banyak orang tertarik mendaftar karena memperoleh informasi beasiswa yang ternyata cocok untuk mereka. Metode ini saya pakai untuk mendaftar tiga beasiswa terakhir yang saya peroleh. Sering-sering saja mengikuti email-email yang muncul di milis beasiswa. Kalau ada yang kira-kira menarik, kita memenuhi syarat, iseng daftar.

    Harap disadari, biasanya informasi dating mepet atau sudah terlambat, jadi biasakan sedia payung sebelum hujan. Saya selalu punya ijasah IELTS/TOEFL yang masih valid dan referensi2 yang bisa saya sisipkan. Pernah mendaftar beasiswa hanya butuh waktu 2 hari untuk mengumpulkan dokumen, mengisi form dan mengirim. Triknya mudah saja, surat rekomendasi tidak ada tanggalnya, pada bagian akhir mengatakan, mendukung untuk studi lebih lanjut. Jadi semua tidak spesifik. Pada akhirnya hanya perlu modal fotokopi dan ongkos kirim.

  4. Berdasarkan jumlah nominal beasiswa
    Biaya hidup di luar negeri biasanya lebih tinggi dari di Indonesia dan banyak beasiswa hanyalah parsial atau mengikuti UMR  Negara setempat, jadi hidup pas-pasan. Beasiswa parsial biasanya hanya memberikan gratis uang sekolah, gratis uang sekolah dan uang saku tapi tidak mengganti tiket, gratis uang sekolah dan akomodasi tapi tidak memberi uang saku dst.

    Pelajari betul skema beasiswa yang diminati, apa saja yang tercover. Kalau memang mau nekat ambil beasiswa parsial, selidiki betul bagaimana menutup kekurangan beasiswanya. Apakah ada badan lain yang dapat membantu (termasuk orang tua, pasangan, jual property dst) ataukah universitas sendiri dapat membantu. Pengalaman teman2 saya yang menerima beasiswa AMINEF beasiswanya memang kurang, tapi universitas tujuan biasanya membantu dgn memberi pekerjaan sebagai asisten dst. Kalau saya pribadi saya punya prinsip saya tidak akan ambil beasiswa yang tidak mengcover penuh.

PERSIAPAN MENDAFTAR BEASISWA
Ketika memilih sebuah beasiswa, ada beberapa hal yang harus diperhatikan untuk memperbesar kemungkinan kita untuk mendapatkan beasiswanya. Karena kesempatan beasiswa hanya datang setahun sekali, harus sangat berhati-hati memilih dan mendaftar beasiswa

  1. Lihat kemampuan dan kesiapan diri sendiri
    Kalau ada tawaran beasiswa, harus ada rekoleksi diri yang jujur. Apakah saya memenuhi syarat terutama dalam hal usia, pekerjaan, latar belakang pendidikan, pendanaan, kesehatan dst. Misalnya, kalau memang tidak punya cadangan dana hindari beasiswa yang parsial, kecuali kalau memang siap menghadapi resiko kesulitan financial di negara orang (meskipun biasanya akhirnya teratasi).

    Kalau memang punya bayi dan beasiswa yang didaftar tidak mengcover keluarga lalu merasa tidak siap meninggalkan keluarga ya jangan daftar dulu, mungkin ditunda sampai anak lebih besar. Pikirkan baik-baik, dapatkah saya meninggalkan keluarga, pekerjaan, kampong halaman dst.

    Selama saya study saya sering sekali jadi tempat curhat ibu-ibu yang harus meninggalkan anak dan suami dan juga suami-suami yang jadi kurang gizi karena jauh dari istri. Pindah ke suatu tempat yang tidak kita kenal, jauh dari keluarga tidak mudah, apalagi kalau kita tidak menguasai bahasa setempat. Pertimbangkan juga stress yang akan muncul kemudian, homesickness dst. Ketika sudah mengambil keputusan, ‘deal with it’, jangan cengeng di negeri orang yang akhirnya akan merepotkan komunitas Indonesia di sana.

    Ketika saya studi di Melbourne ada salah satu rekan saya minta pulang setelah 2 minggu sekolah karena tidak tahan hidup tanpa istri (manja amat sich? Hari gini?)

  2. Lihat posibilitas untuk mendaftar
    Hampir tidak mungkin mendaftar beasiswa tanpa restu dan ijin atasan. Sebelum mendaftar, yakinkan bahwa atasan (artinya bos, pasangan dan keluarga) itu mendukung. Salah satu dosen IALF pernah curhat ke saya karena salah satu kandidat beasiswa AUSAID yang tidak jadi berangkat karena suaminya tidak mengijinkan (lho waktu itu apa tidak pamit?). Saya juga banyak menemukan masalah dimana atasan tidak mengijinkan (alasannya bisa karena sirik, gak mau kehilangan staf, dst.)
  3. Pahami betul persyaratan beasiswa yang akan di daftar
    Setiap beasiswa ada peraturannya sendiri. Ada yang menetapkan batasan usia, hanya terbatas untuk bidang tertentu, hanya untuk kalangan tertentu (berdasarkan geografis, agama, etnis, status pekerjaan dst), harus punya pengalaman kerja minimal ….. tahun, dst. Pastikan bahwa kita memenuhi SEMUA kriteria yang diminta, karena seleksi awal adalah kelengkapan dokumen.
  4. Pahami betul aplikasi beasiswanya
    Mengisi formulir beasiswa juga gampang-gampang susah. Kebanyakan beasiswa menilai kualifikasi pendaftar dari motivation letter. Pengalaman saya membantu anggota milis beasiswa membuat motivation letter, kebanyakan motivation letter dari pendaftar beasiswa Indonesia itu isinya muter2, banyak pakai kata-kata yang berbunga-bunga, padahal kalau disaring tidak ada isinya.

    Biasakan mengisi motivation letter itu singkat dan padat, jadi yang membaca langsung mengerti apa yang mau disampaikan, kualifikasi pendaftar dst. Harap diingat bahwa penyeleksi beasiswa itu harus membaca ribuan aplikasi, jadi seleksi pertama biasanya kelengkapan dokumen, setelah itu baru motivation letter dibaca. Dalah satu hari seorang penyeleksi harus membaca puluhan motivation letter. Kalau motivation letter kita tidak jelas, kemungkinan langsung dicoret. Saya biasanya pakai system dot point dalam menulis yang diikuti penjelasan, karena itu sangat memudahkan pembaca untuk mengikuti isi tulisan saya

    Dalam mengisi formulir beasiswa sebaiknya berkonsultasi dengan orang2 yang pernah memperoleh beasiswa itu karena mereka mungkin punya jurus2 jitu yang tidak kita sadari. Pada waktu saya daftar Ausaid, boleh dibilang kakak saya yang mengisi formnya melalui beberapa tahap revisi. Jangan lupa memenuhi SEMUA persyaratan beasiswa. Kalau yang diminta international TOEFL, pastikan yang dikirimkan adalah international TOEFL, jangan yang institusional.

    Kalau diminta tiga referensi, pastikan memang menyertakan tiga referensi. Sebaiknya referensi itu minimal satu dari atasan. Pastikan aplikasi lengkap waktu dikirim dan dikirim sebelum deadline, dst.

  5. Persiapkan peralatan tempur
    Mencari beasiswa itu lebih dari sekedar cari bidang yang diingini dan isi formulir. Ketika kita sudah merasa siap mental untuk mendaftar dan ‘jalan menujur Roma’ sudah dibersihkan dari onak dan duri, persiapkan diri betul. Selidiki budaya dan kebiasaan masyarakat negara tempat tujuan, supaya kamu bisa mengantisipasi kondisi di sana. Dalam setiap wawancara, ada beberapa pertanyaan yang intinya ingin menguji kesiapan mental kita untuk tinggal di negara orang dan pengetahuan kita terhadap kehidupan sosial di sana.

    Setiap wawancara pertanyaannya standar, di sana mau kuliah apa, kenapa ambil kuliah itu, bagaimana nanti mengimplementasikan ilmu yang diperoleh, dst. Lakukan persiapan yang matang sebelum maju wawancara

  6. Banyak berdoa
    Kalau aplikasi sudah dikirim, sambil menunggu panggilan, banyak-banyaklah berdoa, yang diatas juga perlu diyakinkan kenapa beasiswa itu penting buat kamu. Biasakan kalau sudah mendaftar beasiswa segera lupakan, khan belum tentu dapat. Kalau memang dipanggil baru berpanik-panik ria.

PERSIAPAN SETELAH MENERIMA BEASISWA
Ada dua hal penting yang harus dilakukan: persiapkan diri, dan persiapkan
orang lain.

  1. Persiapan diri yang matang
    Persiapan diri ini tidak hanya sebatas membuat data barang yang harus dimasukkan ke dalam koper, tapi juga harus paham bagaimana budaya dan kebiasaan masyarakat setempat, keberadaan masyarakat Indonesia di sana, penginapan hari-hari pertama dimana, iklim dst. Sebelum berangkat harus sudah punya daftar kegiatan yang akan dilakukan, alamat2 yg hrs dituju, mesti lapor diri di uni kapan, dst

    Sekolah di luar negeri itu bukan cuma untuk menambah ilmu, tetapi juga menyelami bagaimana kehidupan di negeri sana. Jadi kalau sekolah di luar, jangan cuma berkumpul dengan sesama orang Indonesia tapi berinteraksilah dengan masyarakat lokal, mengasah kemampuan berbahasa asing dan menyelami serba serbi masyarakat setempat. Itu adalah bagian dari pelajaran beasiswa, bagian dari proses pembelajaran. Dari banyak mengamati, diskusi dan berinteraksi, kita akan belajar banyak hal yang tidak akan kita dapat dari textbook. Jangan lupa banyak jalan-jalan, mumpung sudah sampai sana. Menabung memang perlu, tapi jangan kelewatan.

    Perhatikan betul budaya setempat. Salah satu kebiasaan mahasiswa Indonesiayang sangat mengganggu saya adalah kebiasaan ‘numpang makan’. Kalau ada acara kumpul-kumpul datang terlambat, makan langsung pulang. Etika tinggal di luar itu kalau ada acara makan, bawalah makanan untuk dimakan bersama dan karena di luar tidak ada yang punya pembantu, ikut beres-beres setelah acara selesai adalah wajib hukumnya. Acara makan-makan di luar negeri jangan dijadikan ajang perbaikan gizi tapi lebih ke arah silaturahmi.

  2. Persiapan keluarga yang akan dibawa/ditinggal
    Kalau mau bawa keluarga, persiapkan betul mental mereka juga. Saya banyak mengamati tingginya stress pada anak, baik jika anak dibawa bersekolah ataupun ditinggal di rumah. Anak ternyata banyak merasa tersisihkan dalam proses pindah, karena merasa tidak diajak kompromi, merasa terenggut dari dunia yang dia kenal dan ditempatkan di tempat asing, kemudian dia akan mengalami stress kedua saat harus kembali ke Indonesia. Ketika anak ditinggal, ia akan merasa terbuang, bahwa orang tuanya tidak mencintainya ketika mereka pergi sekolah. Memberikan pemahaman pada anak sering butuh waktu yang panjang (hal yang sama juga berlaku untuk orang tua). Jangankan manusia, anjing saya pun stress kalau lihat saya mulai mengisi koper karena artinya ia akan ditinggal dan jadi super manja, tidak mau makan, cari perhatian dst.

    Kalau mau bawa pasangan, ini juga tidak selalu pilihan yang tepat. Biasanya kalau suami yang membawa istri tidak masalah karena istri biasanya lebih pasrah dan mendukung suami. Biasanya suami-suami ini mengalami masalah makan karena banyak yang tidak bisa masak dan baru membaik saat istrinya tiba. Sayangnya kebalikannya tidak selalu sama. Saya banyak jadi tempat curhat istri-istri bete dengan suaminya yang mereka tenteng ke luar negeri. Sayangnya memang masyarakat kita masih sangat chauvinist. Ternyata suami-suami yang jadi pengangguran di luar negeri sering frustrasi karena bosan tidak melakukan apa-apa, banyak yang tidak bisa komunikasi dengan masyarakat luar. Banyak istri-istri mengeluh karena setelah suami tiba pekerjaan bertambah, capek sekolah seharian, sampai di rumah masih harus masak, beres-beres rumah dst. Meskipun banyak juga yang suaminya berubah jadi pinter urus anak, pinter masak dst.

    Saran saya kalau mau bawa pasangan, lihat baik-baik karakter pasangannya, kalau tipe yang bikin repot, lebih baik ditinggal saja di rumah. Atau ikuti yang saya lakukan: Jangan menikah kalau masih suka keluyuran keluar negeri.