Hasil Technical Meeting EHEF 2014 – European Union

stakeholder-meeting

Berhubung sudah jam 11 malam, jadi tanpa terlalu banyak intro ini itu, hasil technical meetingnya (yang sudah bisa di-share) sbb:

1. Untuk panggung alumni di EHEF Jakarta, panggung ini tidak dikhususkan bagi alumni Erasmus+ saja.

Lokasinya ada di sebelah kiri peta (lihat floor plan https://emundus.wordpress.com/2014/11/02/mark-your-destination-ehef-floor-plan/)

Jadi, nanti akan kita pakai bersama2, bersama dengan alumni dari beasiswa dan negara lainnya (kalau ada yang mau berpartisipasi).

Karena di sisi kanan peta ada presentasi2 yang sudah terjadwal (lihat https://emundus.wordpress.com/2014/10/29/jadwal-presentasi-ehef-jakarta/), maka pembahasan topik di panggung alumni akan bersifat lebih umum dan practical, tidak spesifik mengenai suatu beasiswa tertentu.

Topik2 yang sudah diusulkan adalah sbb:

  • Cara pembuatan motivation letter
  • Bagaimana meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris (tanpa les/kursus) untuk bisa mendapatkan skor tes yang bagus
  • Sharing mengenai pengalaman hidup, studi, dan adaptasi di Eropa
  • Sharing mengenai tips mendapatkan beasiswa

Keempat topik ini durasinya 1-2 jam, dan kalau tidak ada usulan lain dari exhibitor lainnya, maka keempat topik ini akan dilaksanakan selama dua hari, dengan pembicara yang berbeda-beda, supaya bisa dapat perspektif yang lebih luas.

Jadwal detil akan menyusul kemudian.

2. Quiz untuk menyambut EHEF 2014.

Mulai Senin besok, sampai Jumat, di grup FB, kami akan menyelenggarakan quiz dengan 10 hadiah setiap harinya.

Perlu diperhatikan, bahwa hadiah hanya bisa diambil di booth Uni Eropa, di lokasi penyelenggaraan EHEF (Jakarta / Surabaya / Makassar). Tidak ada pengiriman ke alamat peserta.

Caranya:

  • Pertanyaan bisa diumumkan sewaktu2 di grup FB.
  • Penjawab pertama yang benar adalah pemenangnya.
  • Pemenang akan dihubungi melalui inbox email FB-nya, setelah quiz pada hari tsb selesai.
  • Bila tidak ada konfirmasi dalam 1×24 jam, maka hadiahnya hangus.
  • Khusus untuk quiz hari Jumat, konfirmasi dari pemenang harus diberikan sebelum jam 23.59.

Untuk Senin besok, quiz akan dimulai antara pukul 7-9 malam.

Siap2 pantau grup FB !!

Mark your Destination (EHEF Floor Plan) !!

Tengok floor plan EHEF sebelum datang.

Supaya sesampainya disana, sudah tahu booth yang mau dituju dimana saja letaknya.

floorplan

Jakarta: http://ehef-indonesia.org/wp-content/uploads/2014/10/EHEF2014-FloorplanwithInstitutionsList-Jakarta1.jpg

Surabaya: http://ehef-indonesia.org/wp-content/uploads/2014/10/EHEF2014-FloorplanwithInstitutionsList-Surabaya1.jpg

Makassar: http://ehef-indonesia.org/wp-content/uploads/2014/10/EHEF2014-FloorplanwithInstitutionsList-Makassar1.jpg

Kalau ingin menghadiri presentasi, be prepared at least 15 menit sebelum jamnya, karena biasanya antriannya cukup panjang. Apalagi untuk beasiswa, institusi, atau negara tertentu.

————

Jangan lupa, ada panggung alumni juga.

Saat ini kami masih menyiapkan jadwalnya dan pembicaranya.

Akan diumumkan dalam minggu ini, sebelum EHEF.

Jadi, kalau di presentasi, materinya adalah seputar pengenalan beasiswa Erasmus+, kalau di panggung alumni, materinya adalah hal-hal yang lebih practical, semisal:

  • How to start your Erasmus+ application
  • How to make a good motivation letter
  • How to survive living and studying in other countries

Dll dll..

Summary tips untuk motivation letter

Beberapa bulan lalu, saya menulis seri artikel seputar tips untuk motivation letter.
Karena masih banyak/sering ditanyakan maka berikut summary artikelnya.

Semoga menginspirasi.

Motivation Letter #1: Pertimbangkan perspektif pembacanya
Motivation Letter #2: Apakah harus 1 lembar?
Motivation Letter #3: Pertanggungjawabkan Tulisan Anda
Motivation Letter #4: How to Start
Motivation Letter #5: Buat Kerangka
Motivation Letter #6: Paragraf Pertama
Motivation Letter #7: Paragraf Pertama – Bagaimana Merangkainya
Motivation Letter #8: Berikan 1001 alasan
Motivation Letter #9: Belajar dari Tokyo Metro
Motivation Letter #10: Jangan takut “jual kecap”
Motivation Letter #11: Maksimalkan editormu
Motivation Letter #12: Sebutkan beasiswanya
Motivation Letter #13: Menjadi Seorang Pribadi yang Tangguh
Motivation Letter #14: Pro Kontra itu Wajar
Motivation Letter #15: Pengalaman Berorganisasi

Motivation

Motivation Letter #14: Pro Kontra itu Wajar

Kemarin saya mendapatkan email berikut dari seseorang:
motlet

Sebenarnya tanggapan yang berbeda-beda seperti ini adalah sangat wajar, mengingat setiap orang punya sudut pandang dan penilaian masing-masing. Dan karena motivation letter bukanlah ilmu pasti (kalau di matematika, 1+1 pasti sama dengan 2), maka tidak bisa dibilang mana yang benar.

Banyak analoginya.
Misal saja, kalau anda nonton salah satu TV reality show: MasterChef US, masakan oleh orang yang sama, bisa dinilai berbeda-beda oleh setiap juri.

Atau, ada juga sebuah analogi umum mengenai orang tipe pesimis (sisi kiri) vs optimis (sisi kanan):
screen-shot-2012-09-21-at-11-07-37-am

Jadi, pada intinya, listen to your heart and follow your gut.
Para proofreader hanya memberi masukan berdasarkan sudut pandang dan penilaian mereka.
Konsorsium yang akan mengevaluasi aplikasi anda, bisa jadi berbeda pula.

Jadi, karena ini aplikasi anda, masa depan anda, di tengah banyak persimpangan, pilihlah satu jalan yang tidak akan anda sesali di kemudian hari.

Semoga berhasil.

Bala Bantuan Datang

Setelah saya menyatakan diri “overload” karena banyaknya email yang masuk untuk proofread (refer to https://emundus.wordpress.com/2013/11/30/proofread-update-per-30-november-2/), selain mencoba menyelesaikan sebanyak mungkin, saya juga mencoba mencari alternatif lain.

Sebagai applicant, anda tentunya berharap proofread bisa selesai dalam hari yang sama, atau maksimal 2-3 hari. Tetapi kalau antriannya ada 20 email, dan saya cuma sanggup proofread 4-5 email per hari, maka butuh 4-5 hari sampai antriannya selesai.

To be noted here, seluruh kegiatan per-Erasmus Mundus-an ini dilakukan atas dasar voluntary basis. Sehari-hari, saya juga punya pekerjaan utama, yang menyita waktu sekitar 10-12 jam, belum termasuk kalau ada pekerjaan yang harus dibawa pulang.

Dan, dalam kehidupan nyata, tidaklah semudah dalam permainan/game. Dalam beberapa game, kalau anda kekurangan resource, tinggal rekrut saja orang2 tambahan untuk membantu anda. baik orang tambahan itu adalah pemain game lainnya (manusia), atau bot (mesin).

url

Pernah dengar quote “A friend in need is a friend indeed”?

Nah, terinspirasi quote tsb, saya berpikir untuk minta bantuan dari beberapa teman alumni EM yang saya kenal karena (pada masanya) kita sering sama-sama hadir meramaikan kegiatan EM.
Note: Pada masa sekarang, mereka juga sama dengan saya, sibuk dengan pekerjaan utamanya.

Anyway, per hari ini, saya sudah dapat konfirmasi dari 2 orang yang akan membantu proofread:
1. Mbak Manda (alumni ME3) untuk program ME3
2. Mbak Netta (alumni SEFOTECH nut) untuk program terkait “Food” (FIPDes, Food ID, SEFOTECH nut, EDAMUS, dan EMFOL) –> tolong yang mau minta tolong di proofread motivation letternya, agar diberi keterangan tentang persyaratan motivation letter dari EMMC ya, misal limit jumlah kata/halaman, hal-hal yang harus diceritakan dalam motivation letter, etc.

Very very grateful to have friends like them.

Jadi, kalau anda kirim proofread sehubungan program di atas, ada kemungkinan saya akan minta Mbak Manda/Mbak Netta untuk membantu proofread. Saya akan coba bantu proofread juga, kalau sudah sempat.

Menyatakan nama program yang mau di-apply dalam body email, sangat penting, karena saya bisa langsung forward-kan emailnya ke mereka.

6860880-256-k885875

Kalau ada student/alumni EM yang kebetulan membaca artikel ini, dan merasa “terpanggil”, pls inform me.

edited by ema-id Dec 15, 2013

Motivation Letter #13: Menjadi Seorang Pribadi yang Tangguh

Lama kelamaan, saya merasa hasil proofread ini sangat baik lho..
Menginspirasi saya untuk meberikan tips-tips tambahan, yang semoga bermanfaat bagi seluruh pembaca blog, untuk artikel seri Motivation Letter ini.

Chalkboard texture background with copy space
(Gambar diambil dari http://www.smoothjazznetwork.com)

Nah dalam artikel kali ini, pembahasannya mengenai menjadi pribadi yang tangguh.
Saya mengangkat topik ini karena dalam beberapa motivation letter, saya menjumpai semacam keraguan dari kalimat yang ditulis.

Supaya lebih jelas, saya akan berikan beberapa contoh di bawah ini.

“If it’s possible, I will pursue my doctorate program after finishing my master’s programme”

Saya merasa ada ketidak yakinan di kalimat ini. Saya tidak mengingkari prinsip-prinsip lain misal: pasrah, lihat kondisi, atau manusia berusaha Tuhan yang menentukan, dll. Tetapi, dalam hal menulis motivation letter, anda harus menunjukkan bahwa anda lah yang pegang kendali atas hidup anda, dalam artian anda tahu persis arah mana yang mau dituju, dan kalau hal tersebut tidak tercapai, maka anda sudah punya plan lainnya.

Jadi, untuk perbaikannya, mungkin ada 2 opsi:
1. Di-remove saja statement tsb –> saat ini kita ga usah jauh-jauh ngomong PhD, mending fokus dapetin Master saja dulu
2. Kalimatnya di-retouch sedikit untuk menghilangkan kata “possible”

“I would like to learn and apply the technology used there, because I assume that the methods used in Indonesia are not advanced enough”

Kata “assume” di sini sangat buruk. Ini salah satu kata yang harus dihindari dalam konteks kalimat seperti di atas. Assume di sini berarti anda masih belum pasti juga, yang bisa lead to the confusion bagi pembaca motivation letter (yang juga orang awam yang tidak kenal anda).

Salah satu pertanyaan yang mungkin muncul di benak pembaca adalah, apakah anda menguasai dan tahu detail mengenai bidang anda?

“I want to study in the field of XXX due to my interest and passion on it in Europe especially that links with AAA, BBB, CCC and other related courses”

Ada banyak pertanyaan yang bisa muncul di benak pembaca.
– Kenapa Eropa? (bukan Amerika atau Australia atau Singapura)
– Apakah topik AAA, BBB, CCC, hanya ada di XXX? (bukankah itu topik umum MSc bidang YYY yang juga ada di program2 lainnya?)
– Other related courses atau etc adalah kata2 yang harus dihindari dalam motivation letter, karena menandakan anda tidak tahu persis scope yang anda bicarakan

“I have read the description of the program and it is to my excitement that the courses offered in the program are simply the ones that will fulfill my need”

Nah kalimat ini kesannya high-level banget. Kalau anda ngomong, misalnya dengan bos (di pekerjaan), high-level perhaps works karena mereka memang si bos tidak perlu tahu secara detail, cukup garis besarnya saja. Namun, kalau anda ngomong “high-level” sama orang yang ngerti detail, sebaiknya jangan deh.

Sebaiknya disebutkan, nama coursenya apa, dan kenapa cocok bagi anda.

“I believe its surrounded with top quality lecturers and potential students”

Believe = percaya (seakan2 kondisinya belum nyata).
Nah sekarang, kalau anda lihat daftar pengajar program tsb, secara fakta, apakah mereka “sudah” luar biasa?
Ataukah mereka saat ini masih biasa2 saja (sehingga anda baru sampai tahap “believe”, bahwa mereka akan menjadi top quality lecturers)? (Semoga maksud kalimat saya bisa dimengerti)

Proofread: Terima kasih untuk antusiasme yang besar

Sehubungan dengan tawaran saya untuk proofread motivation letter para applicant EM 2014, antusiasmenya cukup besar, dan saya cukup kewalahan belakangan ini. Mungkin karena deadline pendaftaran yang semakin mendekat, volume email yang masuk cukup deras belakangan ini.

Refer to:
https://emundus.wordpress.com/2013/10/17/proofread-motivation-letter/
https://emundus.wordpress.com/2013/11/18/proofread-motivation-letter-butuh-hati-yang-besar/

Belum semuanya sempat saya review dan balas.
Mohon sabar menunggu.
Sebisa mungkin saya luangkan waktu setiap hari untuk bisa membantu proofread.

proofreadmotlet

Bagi beberapa orang, kalau kebetulan saya ada kenalan di program yang dituju, biasanya saya forwardkan supaya dibantu review langsung oleh alumni program tsb (dengan harapan semoga lebih tepat sasaran arahan motivation letternya).

Akhir kata, silahkan bagi yang masih mau mengirimkan proofreadnya.
Pastikan sudah baca tips2 motivation letter di blog ini sebelumnya, supaya sudah isi motivation letternya sudah lebih terarah dan lebih dekat ke sasaran.

Rekap artikel untuk motivation letter:
https://emundus.wordpress.com/2013/07/25/motivation-letter-1-pertimbangkan-perspektif-pembacanya/
https://emundus.wordpress.com/2013/07/27/motivation-letter-2-apakah-harus-1-lembar/
https://emundus.wordpress.com/2013/08/03/motivation-letter-3-pertanggungjawabkan-tulisan-anda/
https://emundus.wordpress.com/2013/08/10/motivation-letter-4-how-to-start/
https://emundus.wordpress.com/2013/11/02/motivation-letter-5-buat-kerangka/
https://emundus.wordpress.com/2013/11/02/motivation-letter-6-paragraf-pertama/
https://emundus.wordpress.com/2013/11/03/motivation-letter-7-paragraf-pertama-bagaimana-merangkainya/
https://emundus.wordpress.com/2013/11/09/motivation-letter-8-berikan-1001alasan/
https://emundus.wordpress.com/2013/11/10/motivation-letter-9-belajardari-tokyo-metro/
https://emundus.wordpress.com/2013/11/20/motivation-letter-10-jangan-takut-jual-kecap/

Proofread motivation letter: butuh hati yang besar

Hari ini ada 7 motivation letter yang pending untuk direview.
Dan per malam ini, sudah saya reply semuanya.

Kalau anda tertarik untuk meminta saya melakukan proofread (https://emundus.wordpress.com/2013/10/17/proofread-motivation-letter/), mohon bisa berbesar hati dalam membaca feedbacknya, karena saya termasuk orang yang straight-talking dalam memberikan komentar.

Contohnya ada seperti di bawah ini (bagi pemiliknya, tidak usah takut, semua detil terkait diri anda sudah disamarkan).

proofread

Motivation Letter #9: Belajar dari Tokyo Metro

TokyoSubwayMap3
Gambar diambil dari Google (lupa link persisnya dimana)

Dalam membuat motivation letter, seringkali dijumpai constraint atau pembatasan seperti: maksimal 1 halaman, maksimal 700 kata, dsb. Pembatasan seperti ini sebenarnya adalah kesempatan anda untuk menunjukkan apakah anda orang yang bisa membuat prioritas dari semua kelebihan anda.

Minggu lalu, dalam beberapa hari perjalanan dinas di Tokyo, saya melihat inspirasi baru untuk mengilustrasikan konsep limited space, unlimited creativity ini. Cek gambar berikut:

315x500_ac
Gambar diambil dari http://snapguide.com/

Gambar di atas ditempel di dinding2 Tokyo Metro subway (kereta bawah tanah).
Seorang kolega saya yang berkebangsaan Jepang berkata demikian “now you see Japan, so many information to be packed in such size of paper”.
Coba perhatikan, ada informasi apa saja dalam poster tersebut:

  • Di sisi kiri, dari atas ke bawah, ada nama stasiun yang akan dilalui
  • Di paling kiri (fotonya terpotong), ada informasi berapa menit mencapai stasiun tsb
  • Kotak2 bernomor 1 sampai 6 adalah nomor gerbong
  • Di setiap stasiun, diinformasikan letak pintu keluar, pintu transfer ke “line” lain, terhadap posisi gerbong –> jadi, sebelum naik, penumpang bisa memutuskan, gerbong nomor berapa yang lebih efisien untuk dia naiki
  • Ada color codes berwarna merah muda, hijau, dan biru yang saya belum tahu maknanya (saya sedang tanyakan ke kolega saya)

Anyway, dari contoh ini, bisa kita lihat, bukan saja informasinya yang lengkap dan bermanfaat, tetapi penyajiannya pun mudah dimengerti, bahkan bagi first-timer seperti saya (improvement pointnya adalah: harus ada versi Bahasa Inggrisnya ;)).

Kalau anda bisa buat motivation letter anda seperti demikian, singkat padat, dengan penyajian yang jelas, you make your way closer to Erasmus Mundus scholarship.

Semoga menambah inspirasi.

———————-

Informasi tambahan tentang Tokyo Metro (hanya bagi yang tertarik saja):

Motivation Letter #8: Berikan 1001 alasan

Love-Couple-Photography-HD-Wallpaper-1080x675

Gambar diambil dari http://hdwallpaper2013.com

Bagi anda yang sudah punya pasangan, bisakah anda memberikan alasan/jawaban ketika ada orang yang bertanya, misalnya:

  • Mengapa anda memilih pasangan anda?
  • Apa saja kelebihan dia?
  • Apa hal-hal yang membuat anda jatuh cinta dengan dia?
  • Petualangan apa yang anda ingin lakukan bersama dengan dia?
  • Mengapa dia, dan bukan teman sekelas anda yang lebih tampan/cantik?
  • Dan sebagainya.

Pada intinya, secara hiperbola, anda punya 1001 alasan untuk membela dan memberikan penjelasan/argumen mengenai pasangan anda.

Hal demikian pula lah yang harus anda lakukan kalau anda benar2 “jatuh cinta” pada program yang anda tuju.
Anda harus melakukan riset, misalnya:

  • Di program ini saya akan belajar apa saja sih?
    Jangan puas pada high-level detail, tetapi coba browsing sampai level deskripsi mata kuliahnya (sebisa mungkin).
  • Siapa saja sih pengajarnya?
    Apakah mereka qualified enough?
  • Bentuk kuliahnya gimana ya?
    Apakah lebih ke arah classroom, coursework, atau research?
  • Mobilitynya gimana ya?
    Saya akan kuliah dimana saja sih?
    Apakah kombinasi negara, universitas, dan modulnya cocok untuk saya dan sesuai minat?
  • Apakah kalau ambil program ini, tujuan saya bisa tercapai?
    Apa nilai tambah program ini bagi diri saya?
  • Mata kuliah X, sepertinya sama nih sama S1 saya?
    Apa hal berbeda yang bisa saya pelajari, sekalipun materi kuliahnya hampir sama?

Semakin banyak anda menemukan alasan untuk “jatuh cinta” pada program tsb, semakin mudah merangkai motivation letter. Dan sangat disarankan anda riset banyak dulu sebelum memulai menulis motivation letter. Otherwise, you may get stuck in the middle. Lalu perasaan malas mengedit motivation letter karena “stuck” akan semakin menghinggapi (I’ve been there).

Jangan lupa, motivation letter seharusnya berisi mengenai motivasi mengapa anda tertarik akan program tsb. Bukan ringkasan CV, bukan curhatan kegagalan di masa lalu. Kalaupun hal2 tsb perlu dimasukkan sebagai “bumbu” atau “side dish”, maka ingatlah, bahan pelengkap tidak boleh lebih banyak dari main coursenya.

Selamat mencoba.

Motivation Letter #7: Paragraf Pertama – Bagaimana Merangkainya

Orchestrate-Facilitate
(Gambar diambil dari http://blog.mwpreston.net/)

How to orchestrate your writing?
Di bagian akhir posting terdahulu (refer to: https://emundus.wordpress.com/2013/11/02/motivation-letter-6-paragraf-pertama/), saya mengatakan mengenai ada 2 kemungkinan kapan motivation letter itu dibaca.

Ada 2 kemungkinan:
1) Motivation letter adalah dokumen yang dibaca pertama
2) Motivation letter adalah dokumen yang dibaca kemudian (misal: setelah baca CV)

Untuk kemungkinan pertama, maka akan sangat baik kalau paragraf pertama bisa memberikan sedikit gambaran “inti” mengenai semua hal yang dicantumkan pada paragraf2 berikutnya. Ingat, gambaran inti berarti hal yang penting-penting saja. Kalaupun anda juara nasional matematika di SD, tetapi kalau di motivation letter anda lebih cerita mengenai pengalaman riset, pengalaman kerja, maka tidak usah cantumkan pernah jadi juara nasional. Prestasi tersebut dicantumkan di CV saja.

Untuk kemungkinan kedua, anda sebenarnya lebih enak, bisa langsung menyoroti ke hal-hal yang mau anda jual. Ruang untuk “menjual” diri akan lebih luas (note: seringkali jumlah kata/halaman dibatasi).

Masalahnya, kita tidak pernah tahu apakah kita akan dapat kondisi pertama atau kedua. Bisa saja, sekalipun kita sering komunikasi dengan profesor A di universitas A1 (sehingga kita kirim motivation letter dengan cara penulisan kedua), tetapi yang me-review adalah profesor lainnya di univ tsb, atau malah profesor lainnya di univ lain (ingat, dalam penyelenggaraan EM, ada konsorsium, yang terdiri dari perwakilan bbrp universitas, minimal 3 universitas).

Sebab itu, cara paling aman adalah dengan cara penulisan pertama. Kalau orang yang me-review sudah membaca CV kita, sudah tahu siapa kita (karena sering korespondensi), at least paragraf pertama ini bisa menjadi refreshment untuk dia, supaya memorinya tidak ketukar dengan orang lain (siapa tahu dia korespondensi dengan banyak orang).
————-

Next issue, bagaimana pemilihan kata/kalimat untuk paragraf pertama.
Untuk mudahnya, saya berikan dua contoh ilustrasi di bawah ini:

Classic:
My name is XXX, I’m a Bachelor of XXX, graduating from university of XXX in Indonesia, with GPA XXX in the scale of XXX. During my study, I learn about X1, X2, X3, where I’m so much interested in learning X1 in a higher level since … In relation to my interest, I have attended important trainings and certifications such as … I was surprised when knowing that this year Erasmus Mundus had a Master Course program for XXX which is very matched to my interest. Therefore, I would like to apply for this XXX program.

Starting with quotation:
A famous philosopher said “what doesn’t kill you makes you stronger”. This statement strengthened me when I faced difficult moment in my study few years ago. My parents’ business was suddenly bankrupt and we had much debt to the bank. I was in the middle of college at that time and I had to fight to work while study, to be able to self-funding. However, it’s through those difficult moments, here I am standing now as a Bachelor of XXX, graduating from university of XXX in Indonesia, with GPA XXX in the scale of XXX (cum laude). Now that I know that Erasmus Mundus has a program in XXX, I am interested to apply because …

Yang mana yang lebih bagus?
Itu penilaian masing2 orang.
Baik si penulis, maupun si pembaca.
Yang penting adalah perangkaian kalimat yang tepat, pemilihan kata, dan aliran ide yang menyambung satu dengan lainnya.

Selamat mencoba !!

Motivation Letter #6: Paragraf Pertama

Bayangkan anda pergi ke toko buku, ingin mencari bahan bacaan yang menarik, kira2 apa yang anda lakukan?

Kalau saya, saya akan pergi ke toko buku, cari bagian mengenai topik yang saya minati, misalnya “perjalanan wisata”, lalu lihat-lihat buku yang ditawarkan. Namun, tidak semua toko buku menyediakan buku sample. Kebanyakan buku-buku yang dijual akan diplastik rapat.

Kalau demikian kondisinya, dan merobek si plastik bukanlah suatu opsi, maka sinopsis di bagian belakang buku adalah kuncinya. Kalau sinopsisnya menarik, ada kemungkinan bukunya akan dibeli. Namun, kalau tidak menarik, besar kemungkinan tidak akan dibeli.

————–
Menarik atau tidak menarik adalah 1 isu.
Isu lainnya adalah, apakah anda akan membaca seluruh sinopsis tsb, sebelum membuat keputusan menarik atau tidak menarik?

Beberapa kali, saya mendapat rekomendasi bagus mengenai sebuah film. Ketika saya coba tonton, dari pembukaannya saja, saya sudah bingung memahami ceritanya. Jadi saya memutuskan untuk tidak melanjutkan nonton. Sebagai akibatnya saya tidak pernah tahu mengapa teman yang merekomendasikan film tsb mengatakan bahwa film tersebut adalah suatu masterpiece.

Ada quote populer, “don’t judge the book by it’s cover”.
Namun, di dalam dunia yang serba instan dan cepat ini, cover adalah faktor judgement pertama untuk buku tsb.

BTW, menurut anda, sinopsis buku EM ini, menjual ga sih? (klik untuk gambar yang lebih besar)

————–
Anyway, dari intermezzo yang cukup panjang ini, saya mencoba mengatakan bahwa membuat motivation letter yang menarik dan “menjual” adalah 1 isu, dan memastikan si pembaca akan membaca keseluruhan isi motivation letter adalah isu lainnya.

paragraph
(Gambar diambil dari http://connectere.files.wordpress.com/2011/01/paragraph.gif)

Sebab itu, paragraf pertama adalah sangat krusial menurut saya, karena paragraf tsb adalah pembukaan. Walaupun setiap orang punya gaya masing-masing dalam penulisan motivation letter, saya lebih suka kalau ada sedikit perkenalan mengenai calon applicant di paragraf pertama. Apakah anda mengenalkan diri berdasarkan universitas anda, tempat kerja anda, pengalaman anda, itu terserah. Tetapi yang pasti, paragraf pertama ini harus menjadi dasar bagi si pembaca, untuk bisa memahami paragraf-paragraf berikutnya.

Ada 2 kemungkinan:
1) Motivation letter adalah dokumen yang dibaca pertama
2) Motivation letter adalah dokumen yang dibaca kemudian (misal: setelah baca CV)

Berhubung saya baru kembali dari perjalanan panjang overnight yang melelahkan, maka besok/lusa saja ya saya coba lanjutkan pembahasan mengenai 2 kemungkinan ini. Saya mau memulihkan tenaga dulu malam ini.

————–

Bagi yang minggu ini sudah kirim motivation letternya untuk di-proofread (refer to: https://emundus.wordpress.com/2013/10/17/proofread-motivation-letter/), mohon sabar dulu ya. Belum semuanya saya balas hari ini. Akan saya balas secepatnya.
Lumayan banyak yang masuk dalam minggu ini.

Motivation Letter #5: Buat Kerangka

Dalam pelajaran Bahasa Indonesia (di jaman saya sekolah – ga tahu ya kurikulum sekarang), kalau ada tugas mengarang, Bapak/Ibu guru selalu mengajarkan untuk mulai dahulu dari kerangka karangan. Dari kerangka, baru dikembangkan ide-ide bagaimana mengisi setiap paragraf dengan kalimat-kalimat pendukung, sesuai dengan topik paragraf tsb.

Terkait dengan tulisan saya sebelumnya di:
https://emundus.wordpress.com/2013/08/10/motivation-letter-4-how-to-start/
kalau anda sudah mencoba mempraktekkannya, maka anda sudah punya bahan2 dasar untuk motivation letter.

writing if i can think it chant
(Gambar diambil dari: http://firstgradewow.blogspot.com/2012/06/writers-tool-box.html)

Bagaimana untuk EM?
Salah satu contoh kerangka yang mungkin adalah sbb (ini cuma contoh, silahkan disesuaikan sendiri):
Paragraf 1: Perkenalan siapa saya (lulusan mana, major apa, achievement, kondisi ekonomi mengapa apply beasiswa)
Paragraf 2: Minat terhadap EM, program apa, mengapa, apa yang mau dipelajari
Paragraf 3: Tujuan yang mau dicapai (diri sendiri, komunitas, Indonesia)
Paragraf 4: Hal-hal tambahan
Paragraf 5: Kesimpulan

Bagaimana merangkai tulisannya/mengembangkan paragrafnya?
Ikuti tips berikutnya.. (akan saya tulis segera)
Dan ingat, let’s not make this complicated.
Maksudnya apa? Yang mau kita tulis adalah motivation letter yang “menjual”. Bukan motivation letter yang 100% mengikuti kaidah bahasa dan penulisan formal yang terkadang terlalu kaku.

Proofread motivation letter?

Anda mau apply EM 2014?
Butuh bantuan untuk proofread motivation letter?

blog-writing-service1

Kalau memang anda serius untuk apply, open-minded, dan berbesar hati untuk terima kritik dan koreksi, send your motivation letter to:
emundus (dot) wordpress (at) gmail.com

Sertakan detil berikut:
– Program yang mau di-apply dan link ke website program tsb
– CV anda (optional)
– Tanggal deadline pendaftaran (atau kapan anda mau submit aplikasinya)

Tolong jangan canvassing ya.

Kalau anda takut dengan saya, boleh coba alumni lainnya:
https://emundus.wordpress.com/2012/11/15/berkomunikasi-dengan-penerima-beasiswa-erasmus-mundus/comment-page-1/#comment-8979
(semoga dia masih bersedia membantu, coba diapproach saja baik2 hehe..)

Kalau anda butuh panduan untuk membuat motivation letter, lihat sebelah kiri halaman ini (kalau anda buka blog ini dari PC/laptop, atau buka dari tablet/smartphone dengan browser versi desktop), ada beberapa artikel tips untuk motivation letter.

Motivation Letter #4: How to Start

plateful

Anggaplah/ilustrasikanlah bahwa menulis motivation letter seperti mengisi sebuah mangkuk dengan bahan makanan.

Anda sebagai chef-nya, bahan makanan adalah kisah-kisah anda, dan pemberi beasiswa adalah konsumen anda.

Oya, mangkuk adalah batasan jumlah halaman/jumlah kata untuk motivation letter.

Dengan demikian, tentunya anda akan berusaha membuat sajian yang sebaik mungkin (dari sisi/sudut pandang anda).

——————

Bagi pada pemula, memulai membuat motivation letter bukanlah hal yang mudah (I’ve been there).

Beberapa tips/langkah yang bisa saya sarankan:

Pertama, ambil waktu dan tempat dimana anda bisa relax. Jernihkan pikiran anda dari hal-hal lain, dan mulailah membayangkan, misal: hal-hal hebat yang pernah anda lakukan, nilai-nilai personal yang memotivasi anda, aktivitas anda yang mempunyai impact besar, cita2 anda yang sangat ingin anda capai, visi anda beberapa tahun ke depan, dsb. Jangan lupa, sediakan alat tulis dan catatan (cara manual konvensional ini buat saya lebih efektif dibandingkan menggunakan laptop/tablet).

Kedua, anggap saja anda punya mangkuk yang super besar. Jadi, apa pun yang muncul di benak anda (pada tahapan ini, jangan filter idenya, tuliskan saja), segera tulis di catatan (kalau bisa gunakan 1 lembar kertas saja supaya kelihatan semua topiknya dan bagaimana hubungannya satu dengan yang lain). Tidak perlu rapi-rapi menulisnya. Buat coretan sesuai ide anda, hubungkan satu topik dengan yang lain. Hal ini nantinya akan mempermudah anda dalam meng-organisasi-kan ide2 tersebut.

Kalau anda pernah dengar mengenai “mind map”, metode ini cukup efektif untuk mengorganisasikan ide2 anda.

Salah satu contohnya (catatan, gambar di bawah ini hanya untuk ilustrasi saja, bukan mind map untuk motivation letter):

lit_review_1_0

 

(diambil dari http://emedia.rmit.edu.au/learninglab/sites/emedia.rmit.edu.au.learninglab/files/lit_review_1_0.png)

 

 

Contoh lain: http://www.mindmapinspiration.com/wp-content/uploads/2009/06/motivation-mindmap.jpg

 

Ketiga, setelah anda kira2 punya cukup materi, atau pikiran anda sudah lelah (istirahat dulu, tidak usah dipaksa), maka barulah tengok ke  mangkuk yang sebenarnya. Kalau mangkuk tsb lebih kecil, barulah anda filter supaya bahan2 terbaik saja yang masuk. Kalau mangkuk tsb lebih besar, maka luangkan waktu di masa depan, untuk melakukan brainstorming lagi.

——————

Nah, pertanyaan berikutnya mungkin adalah, kalau sudah ada bahan2nya, lalu bagaimana peng-organisasi-an tulisannya?

Hal ini akan saya bahas di artikel berikutnya.

Sementara ini, anda siapkan saja dulu “bahan” anda.

Semoga bermanfaat.

Motivation Letter #3: Pertanggungjawabkan Tulisan Anda

responsibilityaheadBenar bahwa motivation letter adalah salah satu sarana untuk “menjual” diri, untuk meyakinkan si pemberi beasiswa kenapa Anda harus dipilih.

Kalau berbicara soal “jualan”, pernahkah anda mendengar bahwa pedagang2 itu selalu punya “kecap” nomor satu? Walaupun  barang yang mereka jual biasa-biasa saja, namun mereka menjualnya seakan2 barang mereka adalah kualitas nomor 1.

Kalau berbicara soal” kecap”, saya juga teringat di masa2 sekolah dan kuliah dulu, ada pelajaran tertentu yang selalu dibercandakan sebagai pelajaran untuk “ngecap”. Jadi, sekalipun kita tidak ngerti2 amat, tetapi kalau ulangan/ujian, yang penting bisa “ngecap” panjang saja. Karena nilainya diukur pakai penggaris, seberapa panjang jawaban anda, bukan seberapa tepat jawaban anda.

—————–

Anyway, dalam motivation letter, hindari kebiasaan menjual “kecap”. Beranilah untuk mempertanggung jawabkan apa yang anda tulis. Misalnya gimana? Katakan anda punya pengalaman sebagai asisten lab. Tetapi di motivation letter, anda menulis sebagai koordinator asisten lab. Ada kemungkinan, bisa ditanya balik during interview (kalau kebetulan program tsb ada interviewnya), apa saja sih kewajiban anda sebagai koordinator? Berapa asisten lab yang anda monitor? Reporting anda kemana?

Bagus kalau kebetulan anda bisa jawab.
Kalau tidak?
Reputasi anda akan ternoda.
Berhati-hatilah.

7eac9a100e794293a774fbc102c3bc74

—————–

Belum lama ini, dalam korespondensi internal di sebuah organisasi dimana saya jadi membernya, ada sebuah email yang menerangkan bahwa fiscal year sudah hampir berakhir, dan masih ada sisa budget yang belum diutilize (note: ini bukan organisasi pemerintah ya). Bagi anggota yang memiliki ide atau rencana kegiatan yang bisa dieksekusi dalam waktu cepat, dipersilahkan untuk segera mengajukan proposalnya supaya bisa dipertimbangkan apakah diberikan dana/tidak.

Seorang teman saya, dengan cepat langsung reply bahwa dia ingin mengadakan acara kumpul2, seminar, dan ramah tamah dengan biaya 100% dari budget tersisa tsb. Ketika saya tanya (note: saya bertanya sebagai seorang teman, bukan sebagai pihak yang memutuskan penggunaan dana), apa saja sih rincian biayanya, berapa orangnya, bagaimana plannya, dia tidak bisa memberikan jawaban secara rinci. Dia bilang, yang penting diapprove saja dulu, kalau sudah diapprove, baru dia akan susun rencana yang detail.

Dalam contoh ini, keadaannya memang nothing to lose.
Dapat dana syukur, ga juga gpp.

Namun, kalau beasiswa, apakah anda juga mau nothing to lose?
Kalau saya sih pastinya expect to win 🙂

Semoga artikel  ini memberi pencerahan.

Selamat Idul Fitri 1 Syawal 1434 H bagi yang merayakan.

Motivation Letter #2: Apakah harus 1 lembar?

writing

 

 

Salah satu pengunjung blog ini menanyakan hal demikian “motivation letter yang baik itu apakah mesti berlembar-lembar? atau 1 lembar tapi to the point?”.

Kalau menurut saya pribadi, secara dasar, motivation letter yang baik adalah motivation letter yang memenuhi kriteria yang diharapkan oleh konsorsiumnya.

Ada bbrp contoh sbb (saya coba random pick saja dari bbrp program EMMC).

 

1. ASTROMUNDUS

astroDi sini, konsorsium ASTROMUNDUS hanya memberi 1 kriteria, yaitu jumlah halaman.

Jadi, apapun isi motivation letter itu, pastikan jangan lewat 1 halaman.

Dan tolong diingat juga:

* Jangan “memaksakan” diri (karena cuma boleh 1 halaman, sedangkan yang mau ditulis banyak, maka font dibuat ukuran kecil, margin halaman ditarik sampai pojok).

* Jangan memburu/memaksa konsorsium dengan pertanyaan yang terlalu “njelimet” mengenai berapa sih margin halamannya, ukuran fontnya, jenis fontnya, spacingnya, dll. Bukannya tidak boleh klarifikasi, tetapi lihat2 situasi saja, kalau kira2 konsorsium tidak terlalu “se-njelimet” itu, tidak usah paksa mereka untuk menjawab. Gunakan common sense saja, misal: margin standar MS Word (atau program pengolah kata lainnya), kertas A4, font TNR atau Arial, ukuran 11 atau 12.

 

2. EMSD

EMSD

 

Di EMSD, disebutkan apa isi motivation letter yang di-expect oleh konsorsium, tetapi jumlah halamannya tidak disebutkan.

Nah kalau yang seperti ini, jangan kebablasan juga buat sampai 10 halaman. Common sense sih menurut saya pribadi, sekitar 1-1.5 halaman. Kenapa sih banyak yang bilang lebih baik 1 halaman? Pertimbangannya sbb:

* Konsorsium itu terima banyak sekali aplikasi, bayangkan kalau motivation letternya panjang2, akan sangat melelahkan pembacanya

* Detail mengenai diri anda kan sebenarnya sudah tergambar di dokumen2 lainnya (CV, transkrip, ijazah, dll). Jadi motivation letter ini jangan disalah gunakan. Menurut saya, tujuan utama motivation letter bukanlah untuk men-summary kualifikasi anda (walaupun boleh juga disertakan), tetapi untuk memberikan hal2 yang tidak terlihat di dokumen lainnya.

* Misalnya apa? Salah satu teman saya, bilang begini di motivation letternya, dia ada motivasi tambahan tertarik mengambil program tsb karena almarhum ayahnya punya cita-cita kuliah di Eropa tetapi tidak pernah kesampaian sampai akhir hayatnya. Nah, sebagai anak tertua, dia punya keinginan luhur untuk mewujudkan cita-cita ayahnya. Motivasi seperti ini mungkin tidak  terkait ke akademik, tetapi kalau perangkaian kata2nya tepat, bisa jadi anda dapat beasiswa EM seperti teman saya ini.

 

3. EMM NANO

nano

Di EMM NANO malah tidak ada kriteria sama sekali.

Kalau yang seperti ini, anda memang harus akrobatik sendiri mencari2 kira2 apa sih yang dicari konsorsium dari motivation letter.

Coba gabungkan saja saran2 dari contoh 1 dan 2 di atas.

 

Semoga berguna dan selamat mencoba.

 

Motivation Letter #1: Pertimbangkan perspektif pembacanya

Mulai hari ini, saya mau coba menulis mengenai aspek2 motivation letter.

Supaya ga kepanjangan, dan supaya lebih mudah dipahami, akan dibuat artikel2 pendek saja.

Hopefully kali ini bisa lebih rutin meng-update-nya.

Anyway, secara kebetulan, hari ini salah satu langganan majalah saya baru saja mengirimkan edisi terbarunya.

Nah, ketika melihat salah satu halaman advertorialnya, agak2 heran sih.

Kenapa demikian? I’ll try to describe it below.

 

Pernah lihat gambar ini? Ada di mana kira2?

rambu

Lalu bandingkan dengan advertorial di bawah ini (“check in di minimal 6 tempat”).

IMAG0254

Apakah anda menemukan keanehan atau ketidak-sinkronan?

Kalau ya, selamat bagi anda, you have keen eyes.

 

Apa hubungannya dengan motivation letter?

Terkadang dalam motivation letter, kita terlalu terfokus tentang diri kita, bagaimana menjual diri sehebat2nya, sampai kita melupakan perspektif dari orang yang akan membaca, mencoba memahami, dan mencoba menilai diri anda dari secarik motivation letter tersebut.

Memang tidak mungkin untuk menebak 100% jalan pikiran si penilai (dalam hal ini adalah konsorsium yang menerima aplikasi anda). Apalagi dalam kasus EM, sangat mungkin anda bahkan tidak pernah bertemu dengan sang penilai sebelumnya.

Jadi apa yang bisa dilakukan? Walaupun klise, dan mungkin sudah sering disebutkan di berbagai  tips lainnya, gunakan proofread dari orang lain. Bila orang itu tidak banyak mengenal anda, malah mungkin lebih baik, karena dia bisa memberikan penilaian yang jujur mengenai apakah isi motivation letter itu cukup jelas dibaca bagi “orang awam”.

Kalau benar2 tidak ada channel yang bisa digunakan untuk proofread?? Cobalah cari kumpulan laskar beasiswa di dunia maya, Siapa tahu, ada yang berbaik hati mau membantu.

Yang perlu diingat adalah satu, jangan cepat panas membaca feedback hasil proofread tersebut. Kalau memang feedbacknya tidak menyenangkan, at least anggap saja itu sebagai warning, dan masih ada ruang untuk koreksi.

Selamat mencoba.

 

Intermezzo, sirkuit balapnya ada dimana?

Saya juga ga tahu..

Mungkin di sini? Miripkah?

suzukaGambar diambil dari www.formula1.com

EM Coaching Consultation 2010

Pada 24 Juli 2010 kemarin, bersamaan dengan acara pelepasan dan pembekalan (yang lazim disebut sebagai acara pre-departure) Erasmus Mundus awardee 2010 yang segera akan berangkat untuk memulai studinya di Eropa, telah dilaksanakan juga sebuah acara bagi mereka yang juga mendaftar untuk EM 2010, tetapi masih berada di daftar cadangan (reserve list). Acara ini diberi nama EM Coaching Consultation (EMCC) dan diselenggarakan atas prakarsa student dan alumni Erasmus Mundus, bekerja sama dengan Delegasi Uni Eropa untuk Indonesia.

Acara yang berlangsung selama setengah hari ini (13:00-17:00) diikuti oleh 32 dari 107 nama yang terdaftar di Reserve List 2010. Dari 32 orang yang mendaftar untuk ikut serta, 3 orang berpindah ke Main List beberapa hari sebelum EMCC dilaksanakan.

Format acara ini dibuat santai melalu diskusi bebas. Peserta diizinkan untuk bertanya berbagai hal kepada student/alumni yang hadir. Mengingat jumlah EMMC yang banyak, lebih dari 100 program, memang tidak semua EMMC memiliki perwakilan yang hadir pada acara ini. Kondisi ini disiasati dengan melakukan pengelompokkan berdasarkan bidang EMMC, yang membantu peserta untuk dapat bertemu dan berdiskusi dengan student/alumni dari bidang yang sama.

Pada acara ini, diadakan juga diskusi mengenai penulisan CV dan motivation letter dengan menggunakan contoh aktual dari CV dan motivation letter yang di-share oleh para penulisnya. Dengan berbicara dengan beberapa student/alumni, diharapkan para peserta mendapatkan masukan dari berbagai sudut pandang, baik dari mereka yang satu bidang, maupun mereka yang berasal dari bidang yang lain, untuk pada akhirnya merumuskan suatu bentuk kerangka motivation letter dan CV yang cocok untuk diterapkan pada kondisi mereka masing-masing.

Melihat antusias yang sangat besar dan feedback yang positif dari peserta yang hadir, ada kemungkinan bahwa acara serupa akan diselenggarakan dalam waktu-waktu mendatang, untuk kalangan yang lebih luas atau untuk kalangan umum. Nantikan pengumumannya, di halaman utama blog ini https://emundus.wordpress.com/.

Bila anda ingin tim Erasmus Mundus datang ke universitas/event anda untuk memberi informasi mengenai beasiswa Erasmus Mundus dan peluang apa saja yang ditawarkan, silahkan hubungi kami di indoem.contact (at) gmail.com. Tidak ada biaya apapun yang akan kami kenakan pada anda. Mohon pemberitahuannya diberitahukan sesegera mungkin (minimal 1 bulan di muka untuk acara di luar Pulau Jawa).

Informasi lain: Delegasi Uni Eropa untuk Indonesia akan mengadakan The 2nd European Higher Education Fair di Jakarta pada 9-10 Oktober 2010. Pada event ini, anda dapat mengunjungi booth Uni Eropa dan bertemu dengan para student/alumni EM juga mendapatkan berbagai informasi, tips, dan suvenir menarik selama pameran. Info lebih lengkap akan diberikan di blog ini dalam waktu mendatang, atau anda juga bisa melihat di http://www.ehefjakarta.org/

Motivation Letter / Statement of Purpose

Banyak pertanyaan yang muncul di Holland Education Fair kemarin seputar tips & trik serta contoh motivation letter milik student/alumni Erasmus Mundus (EM).

Seleksi beasiswa EM yang pada umumnya (beberapa program menyelenggarakan interview) hanya berbasiskan pada aplikasi membuat kehadiran motivation letter ini menjadi salah satu elemen penting bagi konsorsium untuk menilai:

  • Kualitas, bobot, kemampuan, dan pengalaman applicant
  • Seberapa jauh research yang telah dilakukan applicant untuk program yang dituju
  • Apakah tujuan applicant untuk mengambil program ini sesuai dengan tujuan program

Berikut adalah beberapa rangkuman tips & trik dari student/alumni EM pada HEF Jakarta (14-15 November 2009):

  1. Buat benang merah baik dari latar belakang pendidikan / pekerjaan ke program yang akan diambil.
  2. Dalam menulis, pikirkan kalau anda ada di posisi konsorsium, mengapa saya harus menerima “A”, bukan “B”. Kualifikasi apa yang dimiliki “A” yang membuatnya bisa unggul dari kandidat lainnya.
  3. Jangan buru-buru menulis. Ambil waktu untuk memikirkan apa sih keunikan anda yang bisa membedakan anda dari kandidat lainnya, misal: keaktifan di aktivitas lingkungan, partisipasi dalam event nasional, dll. Jangan buat motivation letter yang biasa-biasa saja (yang semua orang bisa bikin).
  4. Bila memang IPK anda tidak terlalu menonjol, sertakan alasan yang tepat mengapa terjadi demikian. Hindari menyalahkan kesibukan di organisasi, kesibukan di bisnis karena akan mengesankan anda tidak bertanggung jawab pada kegiatan utama anda.
  5. Bila jurusan S1 anda “tidak nyambung” dengan EMMC yang mau di-apply, adalah tugas anda untuk membantu konsorsium menemukan alasan untuk menerima anda.
  6. Sertakan tujuan anda dalam mengikuti program (tentunya tidak sekedar untuk mendapatkan gelar S2), apakah untuk memajukan bangsa, mengabdi pada bangsa, menjadi expert di bidang tertentu, dll.
  7. Hindari keluh kesah, jangan terlalu banyak bercerita tentang masa lalu anda (misal: kesulitan ekonomi, fasilitas tidak mendukung) sebaliknya ceritakan tentang cita-cita, harapan dan tujuan yang ingin anda capai.

Just write things that have made you who you are now.

Why do you want to continue your education/training to a Master level degree.

What motivate you to do such thing, to do another hard work.

What motivate you to choose EMMC, why ‘that’ EMMC.

What motivate you to study in Europe, with that ‘mobility’.

Et cetera…

That’s why it’s called motivation letter.

Write less bullshit, more some things reached by your own hands.

Berikut adalah contoh motivation letter milik student/alumni EM (mohon tidak di-plagiat !!!), untuk menjawab pertanyaan “Motivation Letter seperti apa sih yang bisa tembus beasiswa EM?“. Beberapa bagian mungkin telah di-edit oleh penulisnya.

  • Carroline, European Master in Computational Logic, 2007 – PDF
  • Efrian, Master of Science in European Forestry, 2006 – PDF
  • Dina Mardiana, Master CLE – Culture Letterarie Europee, 2008 – PDF

Link motivation letter lainnya:

  • A Sample of MOTIVATION STATEMENT for Master Scholarship
  •