Strategi Itu Penting

Sebagaimana sudah saya katakan di beberapa posting yang lalu, belakangan ini saya memang cukup sering menggunakan jasa layanan Uber untuk menunjang aktivitas saya. Besarnya biaya untuk layanan transportasi Uber, ditentukan oleh 2 komponen dasar: jarak dan waktu.

Misalkan saja (hanya untuk ilustrasi), harga per km adalah 3000 rupiah, dan harga per menit (waktu perjalanan) adalah 300 rupiah.
Maka, kalau perjalanan anda sepanjang 20 km, yang ditempuh dalam waktu 30 menit, biaya yang harus anda bayar adalah kurang lebih 69.000 rupiah.

Namun di kala jam-jam sibuk (misal: jam pulang kantor), dan ada banyak permintaan untuk suatu area tertentu (misal: area segitiga emas di Jakarta), maka Uber akan mengenakan yang namanya “surge price”. Ilustrasinya ada di gambar di bawah ini.

 

uber-surge

Surge price ini berfungsi sebagai faktor pengali dari tarif dasar.

Yang saya tahu, “surge price” ini adalah untuk menarik lebih banyak pengemudi Uber untuk masuk ke area yang sedang ramai ini, sehingga para pengguna Uber dapat mendapatkan pelayanan yang lebih cepat. Lebih lengkapnya bisa dibaca di https://newsroom.uber.com/indonesia/informasi-mengenai-harga-ramai-surge-pricing/.

Jadi, menilik ulang contoh sebelumnya, kalau pemesanan anda itu kena surcharge 1,75x, maka jumlah yang harus dibayar menjadi sekitar 120.000 rupiah. Tentunya bagi pengemudi Uber, surge price ini merupakan peningkatan penghasilan yang signifikan (sehingga akan menarik lebih banyak pengemudi untuk masuk ke area yang sedang ramai).

Apa impact surge price bagi pengguna? 
Kebanyakan orang akan menunda perjalanannya, menunggu permintaan mereda (kembali ke tarif normal tanpa surge price atau mendekati tarif normal), baru melakukan pemesanan. Hal ini tentunya adalah perilaku yang wajar, karena pengguna menginginkan harga yang efisien. Namun, bagi Uber, perilaku seperti ini mengurangi jumlah pemesanan mereka.

Perubahan pada Uber minggu ini
Berdasarkan pengamatan saya pribadi, tampilan surge yang menakutkan itu sepertinya ditiadakan. Yang Uber lakukan adalah menampilkan hasil total estimasi biaya perjalanan (yang sudah memasukkan konsep surge, bila berlaku).

Dengan cara ini, pertimbangan pengguna adalah langsung ke hasil akhir, total estimasi biaya perjalanan. Misalkan dari titik A ke B, biasanya harganya 30.000. Namun, pada suatu waktu, harga yang muncul adalah 45.000 (bisa disimpulkan, bahwa surge 1,5x sedang berlaku). Namun, bagi pengguna yang tidak mau pusing, tinggal membuat keputusan apakah harga 45.000 ini memenuhi ekspektasi mereka (jadi pesan atau tidak).

Pertimbangan penggguna untuk membuat keputusan, disederhanakan oleh Uber, dengan harapan lebih banyak pengguna yang melakukan pemesanan (dibandingkan ketika masih menampilkan faktor pengali surge price).


Apa kaitannya dengan beasiswa?
Dari contoh di atas, kita melihat kekreatifan Uber dalam mengemas paket harganya. Dengan menghilangkan tampilan surge dan langsung menampilkan, bisa dibilang tidak ada perubahan konsep perhitungan biaya di sisi Uber. Namun, mereka memberikan nilai tambah bagi penggunanya (dan juga bagi Uber sendiri).

Bagi para pencari beasiswa, ada hal-hal yang mungkin sudah tidak bisa diubah (apalagi kalau sudah lulus), misal saja: nilai IPK, prestasi akademik yang sudah dicapai, kegiatan organisasi yang sudah diikuti. Namun, ada juga hal-hal yang masih bisa diusahakan, misalnya: nilai TOEFL/IELTS, motivation letter, recommendation letter.

Kembali ke contoh Uber di atas, intinya adalah bagaimana mengemas komponen-komponen dasar aplikasi beasiswa yang anda miliki, supaya menjadi suatu kemasan yang menarik bagi pemberi beasiswa. Dengan kata lain, bagaimana caranya menonjolkan diri di aplikasi beasiswa, sehingga menjadi kandidat serius yang bisa dipertimbangkan untuk diberikan beasiswa.

Tidak ada suatu ilmu atau konsep generik untuk hal ini. Perlu pemahaman mengenai apa yang anda punyai, dan apa yang beasiswa harapkan, supaya anda bisa merumuskan suatu konsep aplikasi yang diharapkan bisa “tembus” dan mendapatkan beasiswa.

Memang konsep pemikiran ini sepertinya agak abstrak dan tidak konkret (harus melihat case by case untuk merumuskan strategi yang tepat), tetapi ini adalah salah satu pekerjaan rumah anda sebagai pencari beasiswa (yang pada waktunya nanti, semoga status itu berubah menjadi penerima beasiswa).

Selamat berjuang !! 🙂

Comfort Zone itu Memang Enak

Untuk menunjang kebutuhan berselancar di dunia maya, saya berlangganan jasa internet mobile dari salah satu provider. As usual, menjelang masa berlaku paket akan berakhir, maka si provider akan memberikan notifikasi, dan saya pun memperpanjang paket tersebut.

Rutinitas seperti ini sudah berlangsung cukup lama, sampai baru-baru ini saya tahu, kalau ternyata sudah ada paket baru yang lebih menarik yang sudah diluncurkan beberapa waktu.

Agak geregetan memang, karena paket yang baru ini lebih sesuai untuk kebutuhan saya. Biaya dan layanan yang ditawarkan lebih optimal.

Namun, dipikir-pikir, tidak bisa menyalahkan si provider karena tidak memberitahu kepada saya mengenai adanya paket baru ini. Lebih kepada dari sisi saya yang memang sudah nyaman dengan paket lama (comfort zone), dan tidak melihat-lihat tawaran baru yang tersedia.


Hal serupa bisa juga terjadi pada beasiswa.

Pada umumnya, fokus kita hanya tertuju pada beasiswa-beasiswa yang sudah “punya nama” dan sudah kita tahu. Satu hal yang pasti, semakin terkenal beasiswa tersebut, berarti semakin banyak aplikan-nya, dan otomatis tingkat persaingannya pun akan semakin ketat (analogi yang sama untuk tingkat persaingan masuk PTN, ada universitas dan jurusan tertentu yang sangat tinggi passing grade-nya).

Padahal ada kemungkinan, ada peluang beasiswa-beasiswa lain yang mungkin juga cocok dengan apa yang kita cari. Jadi, jangan tutup mata, dan teruslah menggali informasi yang ada (baik pasif maupun aktif) !!


Dulu saya lulus S1 di tahun 2004 dan langsung cari-cari beasiswa setelahnya.

Program Erasmus+ (yang dulu namanya masih Erasmus Mundus, disingkat EM) baru dimulai di tahun 2004, tetapi saya tidak tahu akan adanya peluang itu. Sedangkan, salah satu teman yang lulus bareng saya (universitas yang sama, tetapi fakultas yang berbeda), dia malah sudah apply dan dapat beasiswa EM di 2004 (karena fakultasnya punya kerja sama dengan salah satu konsorsium EM). Jadi, ada faktor keterbatasan informasi juga di sini.

Singkat cerita, saya baru dapat EM di tahun 2006 (mulai kuliah Oktober 2006, pengajuan aplikasinya sudah dari akhir 2005). Di kala itu, mungkin karena baru 2 tahun berjalan, sepertinya belum terlalu banyak yang tahu.

2006em

(Intermezzo dikit, foto di atas diambil Agustus lalu, dimana saya dan teman2 seangkatan 2006 baru saja merayakan peringatan 10 tahunan di acara Erasmus+ Pre Departure 2016 di hotel Pullman, Jakarta)

Baru di tahun-tahun selanjutnya, karena semakin banyak yang membicarakan mengenai EM, juga banyak informasi di internet (melalui blog ini salah satunya), maka EM menjadi makin populer sampai saat ini (dan tentunya persaingan menjadi semakin ketat, persyaratan seleksi menjadi semakin banyak).

Ibarat kata, kalau dulu itu, universitas yang butuh mahasiswa (untuk diberikan beasiswa), sekarang ini kebalikannya. Makanya dulu pendaftaran beasiswa EM begitu sederhana dan praktis, dibandingkan sekarang, beberapa pembaca bertanya mengenai biaya pendaftaran, dokumen ini itu yang harus disediakan.

Anyway, jangan putus asa dan jangan terpaku dengan beasiswa Erasmus+ (atau beasiswa terkenal lainnya). Tetap buka mata untuk peluang-peluang lainnya. Who knows, you will find the next “Erasmus+” !!

Selamat berjuang !!

 

It isn’t exciting, but it’s a must

Pernahkah Anda mendapatkan suatu tugas yang rasanya sulit sekali untuk dilakukan?
Tugasnya sih tidak mustahil untuk dilakukan, tetapi motivasi untuk mengerjakannya itu yang hampir tidak ada.

Hal-hal seperti ini ada dalam berbagai aspek kehidupan, misalkan saja pada kegiatan akademik, ada tugas kuliah, baca paper/jurnal, riset mengenai hal baru, buat skripsi, dan sebagainya. Demikian pula pada aspek kehidupan lainnya semisal dunia kerja, rumah tangga, kegiatan organisasi, dan lainnya.

Yang lebih parah adalah kalau hal-hal ini wajib untuk diselesaikan. Semakin menundanya berarti semakin menumpuk pekerjaan “outstanding“.

Menunda untuk memberi kesempatan diri beristirahat, atau menumbuhkan motivasi baru, atau sekedar recharge diri, terkadang memang diperlukan supaya bisa lebih produktif ketika memulai kembali. Namun, bila terus-menerus menunda, then this is not a good sign. Karena, in the end, toh tugas-tugas tersebut harus diselesaikan juga.

Jadi, lebih baik diselesaikan sesegera mungkin, supaya tidak lama-lama membebani pikiran. It is about how you control your mind.


Dalam mencari beasiswa, apa tantanganmu hari ini?
Misal saja:

  • Menyiapkan motivation letter
  • Menyiapkan diri (belajar) untuk tes kemampuan Bahasa Inggris
  • Mencari tahu beasiswa-beasiswa yang tersedia, apa persyaratan dan ketentuannya
  • dan lainnya

Sebisa mungkin, siapkan apa yang sudah bisa disiapkan.

Sehingga ketika kesempatan beasiswa yang dinanti datang, Anda sudah siap dengan amunisi lengkap untuk memenangkan perlombaan tersebut.

Semoga mencerahkan !!

Semua ada kelebihan (dan juga kekurangannya)

Belakangan ini, saya cukup sering menggunakan transportasi berbasis aplikasi online. Tanpa bermaksud mempromosikan merk (tulisan ini bukan pesanan siapapun), saya banyak menggunakan Uber dan Gojek.

Tetapi, ada kalanya juga, di saat atau kondisi tertentu, saya menggunakan taksi berlisensi.

Anyway, inti tulisan saya bukanlah tentang transportasi (ulasan berikut hanya untuk memberi bayangan saja, bukan ulasan komprehensif mengenai perbandingan moda transportasi).

Keunggulan Uber (motor) dan Gojek (motor): 

  • Mudah didapatkan, jam berapapun, tinggal pesan via aplikasi
  • Harga ekonomis (kalau Uber berdasarkan jarak dan waktu, kalau Gojek sudah ditentukan di awal berdasarkan inputan lokasi asal dan tujuan)
  • Relatif lebih cepat menembus kemacetan, dibandingkan mobil

Kelemahannya:

  • Kalau hujan, ya kehujanan; kalau panas, ya kepanasan
  • Terpapar debu sepanjang perjalanan (dibandingkan bila naik mobil)

Keunggulan Uber (mobil) dan Gojek (mobil)

  • Lebih nyaman dibanding motor, dan lebih murah dibandingkan taksi berlisensi
  • Jenis mobil umumnya menggunakan MPV, sehingga lebih banyak tempat bila membawa barang (misal: koper)

Kelemahannya:

  • Terkena peraturan ganjil-genap di beberapa ruas jalan di Jakarta
  • Di beberapa tempat publik (misal: mal, airport), pada umumnya harus menunggu sampai kendaraan datang (dibanding taksi yang sudah standby di pangkalannya)

Keunggulan taksi berlisensi

  • Tidak kena peraturan ganjil-genap
  • Bila ada pangkalan (dan tidak ada antrian panjang), taksi bisa didapatkan lebih cepat dibandingkan kendaraan yang dipesan via aplikasi online

Kelemahannya

  • Harga lebih tinggi

Nah, dalam hubungannya dengan usaha kita untuk meraih sesuatu yang lebih baik, apakah itu beasiswa, pekerjaan, bisnis/usaha, ataupun pasangan hidup, setiap orang pasti memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Terkadang memang mudah melihat “kelebihan/keunggulan” orang lain, sebagaimana pepatah “rumput tetangga lebih hijau”, tanpa menyadari bahwa diri kita juga tentunya punya sesuatu kelebihan, entah itu sudah tampak, atau masih menunggu untuk dimunculkan.

Dalam beberapa reuni dengan teman-teman sekolah di masa lalu, saya melihat bahwa tidak selalu, mereka yang dulunya ranking top 5, populer di sekolah, berpengaruh, saat ini, ada dalam posisi yang sama seperti dahulu. Ada teman-teman yang dulunya biasa-biasa saja, kurang menonjol, tetapi sekarang menjadi seseorang yang mengagumkan.

Jadi, pendapat saya, tergantung bagaimana setiap orang mau “menerima” kondisi dirinya, mengenali kekuatan dan kelemahannya, tidak berputus asa terhadap kelemahan, dan mencari jalan bagaimana bisa menjadi sukses, berhasil, dan meraih apa yang dia berani impikan/cita-citakan.

Sebuah kutipan mengatakan “The journey of a thousand miles begins with one step”. Jadi, jangan berfokus pada kelemahan dan kekuranganmu. Tetaplah miliki impian, dan berjalanlah ke arah yang yang dicita-citakan.

Semoga mencerahkan !!

Fosbury Flop

Kemarin ini, saya menghadiri sebuah pelatihan di Jakarta.

Dalam pelatihan ini, salah satu materi yang diberikan, yang saya rasa bisa dikaitkan dengan pencarian beasiswa, adalah mengenai “Fosbury Flop”.
Saya coba Google, salah dua artikel yang menarik bisa dibaca di sini:

https://the16percent.com/2013/06/12/it-depends-on-how-you-define-flop/

http://jamesclear.com/dick-fosbury

dick-fosbury-mexico-city-high-jump

(Gambar diambil dari http://jamesclear.com/)

 

Seperti bisa dibaca di artikel tersebut, sebelum Fosbury bisa membuktikan konsepnya, banyak ejekan, banya ketidak percayaan.
Namun, di sini lah dibutuhkan keberanian untuk melangkah sesuai “kata hati”.

Bagaimana dengan beasiswa?
Kalau dilihat, syarat2 beasiswa kan itu-itu saja: ijazah, transkrip nilai, nilai kemampuan bahasa Inggris, dll.
Apa yang bisa membedakan adalah hal-hal yang sifatnya “subjektif” (tidak hitam putih), misalnya: motivation letter, statement of purpose, CV yang mudah dibaca, dll.
Tentunya banyak contoh dokumen2 tersebut yang tersedia di internet, maupun di komunitas pencari beasiswa, yang bisa dijadikan referensi.

Namun, perlu diingat, dokumen milik si A yg sudah mendapatkan beasiswa, belum tentu cocok untuk si B.
Perlu untuk bisa “membaca” kemauan pemberi beasiswa itu kira-kira seperti apa, dan untuk hal tersebut, butuh usaha “lebih”.

Tidak ada benar salah, hanya pastikan saja jangan sampai menyesal di masa depan, karena waktu tidak bisa berulang.
Gunakanlah waktu sebaik-baiknya untuk investasi masa depanmu.


Apa itu beasiswa Erasmus+?
Bisa baca di: https://emundus.wordpress.com/selamat-datang/

Cara daftarnya?
Bisa baca di: https://emundus.wordpress.com/2012/11/10/coba-yuk-step-by-step-apply-emmc/

 

Tips Jitu Mendapatkan Beasiswa Itu….

Terus terang sebenarnya saya bukan orang yang paling tepat untuk membahas topik ini. Ada lebih banyak alumni Erasmus+ (dulu Erasmus Mundus) yang semangat untuk mengejar beasiswanya jauh lebih hebat dari saya. Kalau ditanya tentang bagaimana cara sukses mendapat beasiswa atau apa tips jitu untuk dapat beasiswa, saya akan jawab saya tidak tahu. I really have NO idea. (Terus ngapain bikin postingan ini?) Well, karena saya tahu bagaimana tips jitu untuk menghancurkan perjuangan tersebut. Ha ha ha ha. 😀

Dearest teman-teman yang ingin mendapatkan beasiswa (dengan alasan apapun, dengan motivasi apapun),

Ketahuilah, salah satu cara termudah untuk gagal mendapatkan beasiswa adalah dengan berhenti berusaha. You missed 100% chance of every shot you didn’t take. Berusaha dengan setengah hati? Buat saya, itu sama parahnya.

Tanpa kita sadari sebenarnya setiap hari, setiap waktu yang kita habiskan di sekolah, di ruang kuliah, atau di tempat kerja, akan berefek pada keberhasilan kita mendapatkan beasiswa, kalau memang salah satu tujuan hidup kita dapet beasiswa lho ya. (Ah moso’ sih?) Eh… beneran ini. 🙂

Kalau diingat-ingat, biasanya cari beasiswa itu syarat utama yang selalu diminta adalah CV (Curriculum Vitae atau Daftar Riwayat Hidup), Motivation Letter, dan Recommendation Letter. Bagaimana kita mau buat CV yang keren, kalau kita tidak pernah melakukan sesuatu? Bagaimana mau bikin motivation letter yang menarik, kalau bahkan besok pagi mau ngapain aja tidak terpikir? Bagaimana mau minta Recommendation Letter yang benar-benar menggambarkan kemampuan kita (atau bahkan lebih dari itu), kalau kita tidak pernah berinteraksi dan menjalin hubungan baik dengan orang yang akan kita mintai rekomendasi?

“Tapi tapi tapi tapi… CV saya keren, motivation letter saya luar biasa, pemberi rekomendasi saya adalah orang-orang hebat di bidangnya, dan saya masih gagal mendapatkan beasiswa. Hidupku hampa. Aku terjatuh dalam lautan luka dalam dan tak sanggup bangkit lagi. Toloooooong….”

*doeeeeng, sebentar, saya mau pingsan dulu*

Sampai dimana kita tadi ya? Ada banyak sekali kemungkinan kenapa beasiswa kita tidak dikabulkan (dan sebagian besarnya diluar kontrol kita). Mungkin pemberi beasiswa merasa  dengan kualifikasi dimiliki kita tidak perlu diberi beasiswa, bisa jadi pemberi beasiswa menganggap kita tidak memenuhi target group yang diinginkan, bisa juga karena alasan-alasan sepele seperti ‘kelewatan baca aplikasi kerennya, Bro’. Saya tahu yang terakhir itu nggak lucu, but it might happen, memangnya yang kirim aplikasi cuma 20 orang? Trus kenapa hidupmu jadi hampa? Katanya CVnya keren? Katanya motivation letternya luar biasa? Katanya pemberi rekomendasinya orang-orang hebat?

Saya ingat sekali, angkatan saya dulu dipenuhi dengan anak-anak fresh graduate. Bisa dibilang 80% fresh graduate dan 20% sisanya adalah orang-orang yang sudah memiliki karier dan ingin memperdalam pengetahuannya. Tahun berikutnya, isinya sebagian besar orang-orang yang sudah mapan kariernya dan sedikit sekali fresh graduate yang diberikan beasiswa program tersebut alias kebalikan dari angkatan saya. Coba bayangkan kalau saya tidak mendaftar di tahun awal dan memutuskan untuk menunda, apa nggak lebih kecil chance untuk mendapatkan beasiswa? Ini lho yang saya maksud dengan kita tidak memenuhi target group yang diinginkan. Pemberi beasiswa punya rencana mereka sendiri, punya kriteria sendiri dalam menentukan orang-orang yang akan diterima. Begitu aplikasi kita masuk, ya tinggal berdoa aja, itu sudah diluar kontrol kita. Kita hanya bisa mengontrol sampai, ‘apakah kualitas aplikasi yang kita kirim itu sudah terbaik dari yang bisa kita kirimkan?’

Memang, ada kalanya kegagalan itu menampar kita, bahkan mungkin kalau harapan kita tinggi, rasa gagal itu rasanya seperti ditinju sama Mike Tyson. Tapi kalau nggak move on-move on, kapan mau dapet beasiswanya? Kapaaaaaan? 😛 Kegagalan mendapatkan beasiswa itu bisa dibilang kesempatan untuk menyusun ulang logistik. Kesempatan untuk baca-baca lagi aplikasi yang sudah dikirim. Kesempatan untuk minta tolong rekan sejawat atau sahabat untuk membaca ulang motivation letter atau CV kita. Jangan-jangan ada typo parah disana? Jangan-jangan kalimat-kalimat yang kita susun bagai jajaran pulau dari Sabang sampai Merauke ternyata membingungkan dan tidak jelas maksudnya. Ada baiknya juga kita bicara dengan pemberi rekomendasi, menurut pemberi rekomendasi, dimana kelebihan yang bisa kita ‘jual’? Hal-hal apa yang perlu diperbaiki, hal-hal apa yang perlu ditingkatkan. See? Kegagalan itu bukan berarti pintunya tertutup semua. Kita aja yang belum tahu, setelah ini ada kesempatan yang lebih baik menunggu kita. Saya kok makin merasa ini postingannya bukan tentang beasiswa lagi ya? Pake move on-move on segala. Ha ha ha.

PS. Saya baru saja teringat obrolan santai dengan dosen beberapa waktu silam, “You know what? For me, all those scholarship applicants are all the same. What’s the different between having TOEFL 575, 600, 620? What’s the different of having 3,3, 3,5, or even 4 GPA? For me, once they pass the qualification, they are equal. What important for me was, since I have to do more jobs with administrative things once this batch arrived, I want those students who I can trust to be able to take care on themselves. Those who didn’t make me pick up the phone and hear that one of my students have troubles….” 

Nah kan, ada banyak hal tidak terduga yang mempengaruhi keberhasilan kita untuk dapat beasiswa. So, have no worries, keep on your best (if this is what you really want) dan jangan lupa minta doa restu orang tua. 😀 Selamat mempersiapkan aplikasi beasiswanya ya teman-teman… Ini sudah bulan Desember. Waktunya mempersiapkan aplikasi untuk yang mau daftar tahun depan, karena untuk daftar tahun ini sudah banyak yang memasuki waktu seleksi. 😛

Baca. Tunda, Tanya. :)

Halo,

saya penulis tamu di blog ini. Mungkin saya akan beberapa kali menulis disini, untuk selingan di musim ujian. 🙂

Kita mulai dari awal ya… Emundus dan saya kebetulan beberapa kali berbagi jaga stand di pameran-pameran pendidikan dan beasiswa, beberapa kali juga stand kami bersebelahan dengan stand-stand pemberi beasiswa yang lain. LPDP, Dikti, maupun beasiswa-beasiswa dari negara-negara Eropa lain seperti Chevening dari Inggris, Nuffic Neso dari Belanda, DAAD dari Jerman, dan beasiswa-beasiswa lainnya. Banyak lho kesempatan untuk beasiswa ke luar negeri itu. Kalau memang sudah berniat untuk melanjutkan studi ke luar negeri, jangan berhenti di satu kesempatan. Ibarat kata begitu layar terkembang, pantang surut ke belakang. GO! Ndak dapet beasiswa yang satu, ya cari yang lain, ndak perlu tuh tarik napas dulu, tunda beberapa bulan lagi. NO. Just. GO!

Kalau baca-baca postingnya emundus yang telah lalu, beberapa inti post-nya adalah jangan pake manja, jangan kebanyakan tanya. Baca yang banyak, kalau punya pertanyaan yang benar-benar mentok, baru tanya. Mungkin ini kebiasaan kita ya, tradisi kita cenderung lisan padahal di Eropa sini kebanyakan informasi tertulis (kecuali yang tidak). Kebiasaan kita di Indonesia itu mudah sekali bertanya bahkan untuk hal-hal yang sudah tertulis (mohon dibedakan antara menanyakan basic questions dan bertanya untuk konfirmasi ya.)

Ada sedikit cerita tentang kebiasaan ini, kebetulan pada saat terjadi tragedi di Paris beberapa minggu lalu saya baru saja sampai di Paris. Karena satu dan lain hal, saya memutuskan untuk meninggalkan Paris. Segera. Seharusnya saya masih tinggal di Paris beberapa waktu dan tiket sudah dipesan, maka saya berupaya untuk mengganti tiket. Sampai di Gare du Noord yang tiba-tiba penuh orang dan tentara bersenjata di Sabtu pagi, saya ke loket tiket, yang apesnya ditutup. Cek jadwal di papan, ternyata beberapa jadwal diubah karena pengetatan keamanan. Stasiun kereta yang saya tuju adalah stasiun antara, bukan stasiun tujuan akhir, bolak-balik saya cek papan pengumuman, nggak keluar-keluar juga tulisannya. Akhirnya saya putuskan untuk bertanya. Dan apa yang terjadi para pembaca yang budiman? Saya diomelin. Yes. Diomelin. Sama penjaga antrian loket. “See it with your eyes.” Dan dia masih mengomel panjang, yang saya langsung males dengernya. Mak nyos sekali bukan? Dikiranya saya ini nggak berusaha baca-baca di kerumuman yang berantakan itu? 🙂

Selama di sini apa-apa harus mandiri. “Saya tidak tahu,” itu berlaku apabila kita sedang diskusi keilmuan di kampus; tapi nggak ada harganya kalau kita ditanya Kondektur kereta/tram kenapa kita nggak nge-tap kartu di gate. “Saya tidak tahu,” tidak berlaku apabila kita buang sampah pakai kantong yang salah; yang ada sampah kita nggak diangkut sama tukang sampah. Ya selamat aja deh kalo sampai seperti itu 😛

Seperti yang selalu diingatkan, mendapat beasiswa itu bukan goal akhir, mendapatkan beasiswa itu artinya perjuangan baru-mau-akan dimulai. Jangan disangka berjauh-jauh dari keluarga dan teman itu selamanya menyenangkan, jangan dikira bisa pegang salju itu selalu jadi keren. Bergelut dengan musim dingin yang biasanya dilengkapi jackpot hujan dan angin itu tantangan. kalau kuliah pagi, berangkat ke kampus di musim dingin itu artinya ngampus ditemani cahaya bulan. Beberapa bulan kemudian, jam 3 pagi matahari sudah terbit dan mungkin baru tenggelam jam 8 malam. Pictures are indeed worth a thousand words, but pictures are only taken in seconds; yet we need to spend thousand seconds to get the moment. 

Sudah siapkah teman-teman untuk mendapatkan beasiswa di luar negeri?

Happy weekend, I’ll see you next time. 🙂

Jangan Sepelekan Hal-Hal Kecil

When opportunity came at your doorstep, do you ready to take it?

Cerita berikut ini sebenarnya dari kehidupan kerja saya, dan tidak ada hubungannya dengan beasiswa. Tetapi, mungkin ada beberapa hal yang bisa dipetik bagi para pencari beasiswa.

Seringkali kita memberikan penilaian negatif terhadap tugas yang diberikan. Ini tugas apa ya? Kok saya ya yang disuruh mengerjakan? Tugas seperti ini sepertinya ga cocok buat saya deh. Di dalam pekerjaan saya di bidang perencanaan, banyak laporan dan analisa yang harus dibuat. Ada laporan teknis yang terkait dengan proyek yang sedang ditangani, ada juga laporan yang sifatnya lebih umum karena ditujukan untuk orang non-teknis, ada juga laporan yang sekedar sebagai risalah catatan pertemuan (meeting). Risalah catatan pertemuan seringkali dipandang sebelah mata karena sifatnya yang hanya untuk dokumentasi semata dan tidak bisa ditonjolkan sebagai suatu prestasi. Padahal membuat risalah juga butuh usaha yang tidak sedikit untuk menganalisa pembicaraan di dalam pertemuan tersebut, dan menuangkannya menjadi risalah yang komprehensif dan bermutu. Jadi, ada beberapa orang, yang kalau kebagian mengerjakan risalah ini, kelihatan kalau mereka kurang suka mengerjakannya. Mukanya cemberut, kerjanya lama, sambil main gadget, dan hasil akhirnya masih perlu banyak koreksi (kelihatan kalau kurang sungguh2 mengerjakannya, karena hatinya tidak di situ). ———— Namun rupanya tugas yang sama, tetapi dalam konteks yang berbeda, bisa ditanggapi secara berbeda. Sekitar 1,5 bulan ke depan, kantor saya akan menyelenggarakan konferensi regional Asia Pasifik di luar Jakarta. Kebetulan, bagian saya mendapatkan tugas untuk menjadi komite penyelenggaraan acara ini. Guess what, ibarat gula, banyak orang yang menyemut mendaftarkan diri secara sukarela untuk bisa menjadi bagian dari komite (mungkin berharap untuk diajak ikut ke lokasi konferensi). Perlu dicatat bahwa dalam konferensi regional ini, tidak semua posisi komite itu mentereng (misal: penyambut tamu, pembicara, MC). Pastinya ada juga posisi-posisi administratif semisal pembuat risalah !! Nah, dari sekian banyak yang menyatakan minatnya, siapakah yang saya pilih? Tentunya saya akan memilih mereka yang kualitas kerjanya sudah terbukti baik untuk setiap bidang yang dibutuhkan. Termasuk untuk pembuat risalah. Jadi, bagi mereka yang kemarin-kemarin malas-malasan mengerjakannya, mohon maaf ya, belum bisa ikut dalam komite.

Pelajaran apa yang bisa diambil dari cerita di atas, dalam hubungannya dengan beasiswa?

  1. Tidak ada orang yang tahu akan masa depan. Kesempatan dan tawaran bisa datang kapan saja, mungkin sekejap. Tergantung diri kita siap/tidak saat itu.
  2. Kalau memang berminat untuk meraih beasiswa, persiapkan diri dari sekarang. Terlepas dari beasiswa yang diminati itu sudah ada/belum, sudah dibuka/belum, persiapkan diri saja. Misalnya: tidak usah tunggu mau tes TOEFL/IELTS baru mati-matian belajar, tidak usah tunggu mau lulus baru belajar sebaik2nya atau “mencuci” mata kuliah untuk memperbaiki nilai IPK.
  3. Setiap hari, setiap ada kesempatan, selalu lakukan setiap hal sebaik2nya untuk meningkatkan nilai diri. Kalau nilai diri anda tinggi, sekalipun tidak ada beasiswa yang ditawarkan, mungkin akan ada orang/institusi yang akan menawarkan beasiswa. Kalaupun beasiswa bukan “jalan” anda, tentunya kualitas tinggi itu selalu menjadi incaran para pemberi kerja.
  4. Jalin hubungan yang baik dengan orang2 sekitar. Misalnya saja dosen pengajar. Mana tahu, suatu waktu di masa depan, dosen ini ditanya oleh relasinya, apakah ada mahasiswa/i yang bisa direkomendasikan untuk beasiswa? Bila kesempatan itu menjadi nyata, kira2 apakah anda yang akan dia rekomendasikan?

Mengubah Cara Pandang

Beberapa waktu belakangan ini, di grup Facebook “Erasmus Mundus Indonesia”, banyak cerita-cerita seputar perjuangan, motivasi, dan tips-tips untuk apply beasiswa yang di-share oleh para awardee beasiswa Erasmus+.

fb

Sangat menyenangkan melihat satu sama lain saling berbagi kisah dan cerita inspiratif, sehingga bisa menjadi penyemangat bagi mereka yang sedang mencari beasiswa.

Hari ini, saya membaca salah satu thread yang sedang aktif di grup ini.

Jadi, ada seorang member yang posting demikian:

fb2

Lalu di salah satu komentar, ada yang menulis demikian:

diyan

Well, saya harus bilang, saya sangat setuju dengan komentar di atas.

Terkadang, ketika antara kenyataan tidak sesuai dengan impian atau ekspektasi, maka mencari alasan, menyalahkan kondisi, atau menyesali keadaan memang tindakan yang rasanya beralasan untuk dilakukan. Sayangnya, dengan melakukan hal-hal tersebut, fokus kita teralih pada kondisi yang ada dan kalau tidak diatasi dengan baik, maka bisa membuat makin terpuruk.

Di sisi lain, apalagi bila masih muda (masih bisa mengubah diri dan masih ada banyak waktu), mungkin bisa melihat dari perspektif lain.

Buat list impianmu, letakkan di 1 kotak.

Buat list kondisimu, letakkan di 1 kotak.

Coba hubungkan kedua kotak tersebut, dan identify, ada gap apa saja di antara kondisi dan impian.

Contoh sederhana:

Impian: Kuliah di Eropa

Kondisi: Bahasa Inggris belum lancar, nilai kuliah masih pas-pasan

Maka, dari gap yang ada, anda bisa menentukan langkah apa yang harus diambil untuk mengatasi gap tersebut –> belajar Bahasa Inggris dan belajar lebih giat di kuliah. Teruslah bertanya “how” sampai anda menemukan solusi praktis bagaimana mengatasi gap tersebut.

Misalkan, belajar Bahasa Inggris –> bisa melalui buku, bisa melalui online, bisa melalui les.

  1. Hmm, mungkin yang cocok untuk saya adalah belajar melalui buku, sedangkan ekonomi pas-pasan –> bagaimana caranya?
    Hmm, mungkin bisa tanya2 teman yang pernah les Bahasa Inggris, atau pernah ikut tes TOEFL? Atau coba cari buku2 bagus di pasar loak (tidak perlu malu, saya pun pernah beli buku di toko loak) –> siapa ya kira-kira teman yang bisa dipinjami buku, dan pertanyaan2 lanjutannya (sampai anda menemukan solusi praktis yang bisa dilakukan).
  2. Lalu mungkin harus meluangkan waktu juga.. Mengurangi waktu2 yang dirasa tidak produktif, dan mengarahkannya kepada kegiatan-kegiatan yang produktif dan bermanfaat.

Semoga tulisan di atas bisa dimengerti, dan anda menjadi orang yang semakin tangguh dalam mengatasi masalah.

Challenge Yourself !!

Pernah dengar istilah “comfort zone”?

Secara sederhana, “comfort zone” adalah suatu kondisi dimana kita sudah nyaman, enak, dan betah untuk terus berada dalam kondisi tersebut. Tidak ada yang salah dengan “comfort zone”, karena sebenarnya setiap orang mencari suasana dimana mereka nyaman dan tentram.

Anyway, ketika seseorang menginginkan perubahan di hidupnya, maka keinginan tersebut dapat menyebabkan terganggunya “comfort zone”. Namun, hal tersebut tidak bisa dihindari. Sedikit terganggu di awal, untuk menciptakan level “comfort zone” berikutnya (yang tentunya lebih nyaman).

TargetNah di masa-masa pendaftaram EMJMD saat ini, dimana list program yang bisa dibiayai beasiswa Erasmus+ baru saja diumumkan, bagaimana kalau kita men-challenge diri sendiri, untuk mencoba suatu target tertentu.

Bagi yang sudah eligible untuk apply Erasmus+, coba lihat program2 yang ditawarkan, dan coba untuk apply. Sekalipun rasanya mungkin belum pede, atau ada nilai yang masih kurang, tetapi coba saja. Anggap saja “test the water”, sambil refleksi diri sendiri, bagian mana yang harus dipersiapkan lebih baik, supaya anda bisa yakin untuk apply di masa depan.

Bagi yang masih semester awal atau pertengahan, coba2 saja ikuti proses aplikasinya. Walaupun nanti di tengah2, pasti akan ada requirement yang mengganjal (entah itu dokumen, transkrip nilai, atau lainnya), tetapi cari pengalaman supaya di semester2 anda berikutnya, anda dapat lebih mempersiapkan diri, dan tahu target mana yang dituju.

Catatan:

Cobalah cari program2 yang hanya mengharuskan aplikasi online.Jadi bisa dibilang, hampir tidak ada biaya yang harus anda keluarkan, selain tekad dan kemauan untuk naik ke level berikutnya.

Silahkan mencoba.

Follow me on Twitter @emundusme

Sharing Motivasi #4: Beasiswa, haruskah punya IPK tinggi?

Pertanyaan ini sangat-sangat dan teramat sering ditanyakan.
Masalah IPK selalu menjadi momok bagi para aplikan beasiswa.

Well, apa yang mau saya tulis di bawah ini, sekedar sharing saja, mencoba memberikan pandangan lain dari pertanyaan tersebut.

Kisah 1:
Ketika saya ambil program Erasmus Mundus tahun pertama saya, saya ketemu dengan 3 orang mahasiswa Indonesia yang juga sedang ambil program Master di universitas dan bidang ilmu yang sama.

Secara jujur, saya tidak tahu berapa IPK S1 mereka.
Yang pasti, ketiga teman saya ini berjuang sangat keras selama S2-nya, dan mereka membutuhkan beberapa semester tambahan (dari durasi waktu normal yaitu 4 semester) sebelum bisa meraih gelar Master-nya.

Mengenai beasiswanya, ketika itu mereka dapat beasiswa dari pemerintah di kota dimana universitas tsb terletak, sebagai bentuk kepedulian mereka terhadap bencana Tsunami yang melanda Aceh pada tahun 2004 yang lampau.
Jadi, kalau saat itu anda adalah mahasiswa yang berasal dari Aceh, kesempatan beasiswanya terbuka lebar.

Kisah 2:
Kisah ini pernah saya singgung sedikit di https://emundus.wordpress.com/2013/12/25/sharing-motivasi-2-positive-mindset/

Teman (alias senior) saya yang satu ini emang jagoan.
Ketika itu dia sudah punya posisi yang cukup mapan di salah satu perusahaan konsultan IT di Indonesia.
Tetapi ketika dia dapat beasiswa dari sebuah universitas di Italia, dia langsung memutuskan berangkat.

Perlu dicatat, ketika itu, dia sudah beranak 2, dan istrinya sedang hamil anak ketiga.
Besaran beasiswanya pun mepet sekali, dan perkuliahannya dilakukan dalam bahasa Italia (bahasa yang sama sekali tidak dia kuasai kala itu).

Semasa kuliah, dia mengalami banyak kesulitan, bukan cuma masalah di kuliah saja karena bahasanya, tetapi juga masalah beasiswa yang telat, administrasi yang berbelit-belit, dsb.

Pernah sampai tempat tinggalnya didatangi “Carabinieri” (polisi Italia), mau diusir, ketika dia menunggak beberapa bulan pembayaran sewa tempat tinggal karena beasiswanya belum turun, dan pemilik housingnya tidak mau tahu.

Bagaimana dengan IPK S1-nya?
Ini juga saya ga tahu pasti angkanya berapa, tetapi kalau di angkatan dia (secara dia adalah senior saya), yang saya tahu terkenal “pintar” (alias IPK tinggi) sih orang-orang lain.

Jadi, dari 2 kisah di atas, yang saya mau bilang, kadang masalahnya bukan di IPKnya atau beasiswanya, tetapi dari diri kira sendiri, apakah kita sudah benar-benar siap untuk ambil beasiswa, ketika kesempatan itu datang.

Banyak orang yang pada awalnya semangat apply beasiswa, lalu di belakang baru bingung soal bawa keluarga lah, besaran beasiswa yang ga yakin cukup, bidang beasiswa yang kok rasanya ga 100% sesuai ekspektasi, dll.
Padahal hal-hal semacam ini seharusnya sudah bisa dipertimbangkan dari awal.

———–

Bagaimana dengan beasiswa Erasmus Mundus, haruskah IPK-nya tinggi?
Setiap beasiswa punya tujuan masing-masing kenapa dia diberikan.
Dan setiap pemberi beasiswa harus punya alasan kenapa mereka menerima seseorang, dan bukan orang lain.

Untuk Erasmus Mundus, pengalaman saya pribadi, di program saya sendiri, ada beberapa mahasiswa/i dari negara lain, dimana ada kuota khusus yang diperuntukkan bagi negara/region tersebut, yang secara “perjuangan” menempuh S2, mereka sangat “berdarah-darah”.

Untuk Indonesia, sayangnya belum ada kuota khusus semacam tersebut.
Sehingga, aplikan Erasmus Mundus asal Indonesia harus berkompetisi dengan aplikan negara-negara lain yang juga tidak punya kuota khusus.
Kalau kompetisinya ketat, secara otomatis kriteria penerimaan juga akan makin tinggi (analogikan saja dengan jurusan favorit di SNMPTN; tes penerimaan CPNS; atau tes masuk perusahaan besar, misalkan Pertamina).

Jadi, intinya, tetap buka mata, buka telinga, buka diri, kalau Erasmus Mundus rasanya kurang sesuai untuk kondisi anda, masih ada beasiswa lainnya yang bisa diperjuangkan.

485229_425654084115947_230951443_n

Sharing Motivasi #3: Jangan Berasa Dikerjain

Ketika saya sudah lulus sidang skripsi S1, pembimbing saya meminta saya untuk menerjemahkan skripsi saya itu dalam bentuk paper berbahasa Inggris. Bingung juga awalnya, untuk apa ya, bukankah sudah ada buku skripsi yang lebih tebal dan lengkap isinya?

Saya sempat menanyakan “untuk apa ya Bu?”.
Jawab beliau “mau saya coba masukkan ke jurnal ilmiah”.
OK lah, karena saya tidak tahu-menahu mengenai jurnal ilmiah, dan si Ibu sudah berjasa besar dalam membimbing skripsi saya, maka saya turuti saja permintaan si Ibu.

Scientific-paper

(Ini cuma ilustrasi paper ya, bukan paper buatan saya)

Sekitar 6 bulan kemudian, saya mendapat kabar bahwa jurnal tersebut telah diterima untuk publikasi di sebuah international conference di Brazil (ternyata si Ibu yang mengirimkan paper ini), dan penulisnya diundang untuk mempresentasikan papernya. Karena lokasinya jauh, dan juga biayanya besar, maka akhirnya si Ibu yang pergi ke Brazil dengan dana dari sponsor beliau.

Bagi orang yang berkecimpung di dunia akademik, publikasi seperti ini sangatlah WOW.
Namun, bagi saya yang di kala itu sudah masuk ke dunia kerja, jujur saja, publikasi seperti ini tidak berdampak pada karir ataupun salary saya.

————–
Anyway, life goes on..
Kalau anda sudah baca posting saya sebelumnya https://emundus.wordpress.com/2013/12/25/sharing-motivasi-2-positive-mindset/ di situ saya menyebutkan bahwa bidang S1 saya berbeda dengan bidang S2.

Lompat bidang seperti ini juga menjadi pertanyaan banyak orang sih.
Kok bisa?
Gimana caranya?

Secara jujur, saya juga tidak tahu pasti kenapa saya bisa diterima di Erasmus Mundus, mengingat jurusan S1 yang berbeda ini. Saya hanya mencoba membuat aplikasi sebaik2nya, menjawab semua pertanyaan “tantangan” di application form secara sejelas-jelasnya dengan argumentasi yang mendukung, dan selalu berharap akan yang terbaik.

Sampai pada suatu kesempatan, dimana ada gathering untuk seluruh mahasiswa/i dan pengajar dari program EM yang saya ambil (catatan: ada 5 universitas yang ikut serta di program ini, dan mahasiswa/i-nya tersebar di 5 universitas tersebut).

Saat dinner di sebuah restoran kecil bernuansa eksotis romantis, saya ngobrol santai dengan si koordinator utama, dan dengan ucapan yang sangat hati-hati saya coba bertanya (dalam hati, duhhh jangan sampai si prof tiba-tiba “ngeh” kalau dia salah terima orang, lalu beasiswa saya distop dan saya dipulangkan hehehe..).

“Prof, jujur nih, saya penasaran saja. Teman-teman sekelas saya semua backgroundnya dari bidang X, dan mereka sudah punya pengetahuan dasar untuk ikut program ini. Tetapi kalau saya kan dari bidang Y, apa yang membuat saya bisa diterima?”

Si prof tersenyum (dia habis minum beberapa gelas bir, saya bertanya-tanya, apa dia mabok ya).
Saya ikut senyum juga sambil harap-harap cemas, jangan-jangan pertanyaan saya salah nih.

Lalu si prof mulai bersuara, dan jawabannya mencengangkan banget.
“Yes, I know you’re different from the others, but we feel if we accept all students from X, then we only know what’s inside.
You are from Y and we expect you to give us other insights to this program, based on your background.
Why we choose you, because we saw that you published a nice paper and rarely a Bachelor student could reach that level, so we expect more from you.”

Wow wow wow..
Rasanya terbang mendengar jawaban tsb.
Jadi paper yang saya kerjain cape-cape dulu itu, ga sia-sia lho !!
Untung pencahayaan di restoran tsb terbatas, jadi mimik muka saya (sepertinya sih) ga kelihatan hehehe..

Anyway, from this story, again, saya mau bilang, kadang ada hal-hal yang pada saat kita menghadapinya/mengalaminya, rasanya ini kerjaan tambahan, rasanya ini ga ada hubungannya dengan plan kita ke depan, rasanya ini cuma buang-buang waktu, rasanya ini cuma bikin cape doang, dll.
Tetapi, kalau kita tetap mengerjakannya dengan sungguh-sungguh, mencoba meraih yang terbaik yang kita bisa, tidak mustahil apa yang sudah kita usahakan tersebut akan berbuah manis di masa yang akan datang.

Walaupun tidak ada jaminan semua kerja keras itu akan berbuah manis, tetapi lebih baik berusaha, daripada menyesal di masa depan dan berharap bisa mengulang waktu.

Semoga menginspirasi.

Sharing Motivasi #2: Positive Mindset

Setelah saya lulus S1, ada dua pilihan: bekerja atau melanjutkan S2.
Serupa dengan kebanyakan orang yang mencari beasiswa, masalah klasik mengenai “biaya” juga menghadang saya.
2966

Pada saat itu, S2 sepertinya sesuatu yang “jauh” mengingat untuk S1 saja, saya kerja part-time dan bayar kuliah sendiri.
Anyway, satu hal yang saya mau katakan, tidak ada yang perlu disesali dari kondisi yang ada.
Anggap saja itu tantangan hidup untuk membuat kita naik level.
Yang perlu dipikirkan adalah bagaimana bisa mengatasi tantangan yang ada dan membuktikan bahwa diri kita “mampu”.

Intermezzo sedikit, seorang teman saya, yang tidak bisa bahasa Italia, nekat dadakan berangkat ke Italia untuk kuliah karena dia tiba-tiba dapat beasiswa di sana.

Bayangkan coba, bagaimana dia bisa hidup dan kuliah di sana.

Namun, tekad yang kuat telah menjadikannya seorang pemegang gelar Master per saat ini, dan dia juga sudah bisa berbicara bahasa Italia dengan fasih. Bahkan berencana untuk lanjut ke S3 (di Italia juga) dalam waktu dekat.

3125

Jadi, pada saat itu, saya memutuskan untuk masuk dunia kerja saja dulu.
Toh sambil kerja, bisa sambil apply beasiswa juga.

Dari sekian banyak beasiswa yang saya apply ke berbagai universitas, berbagai lembaga, berbagai negara, jujur saja, lebih banyak yang ditolak atau tidak ada jawaban.
Sampai pada akhirnya ada 1 reply dari seorang profesor di sebuah universitas di negara ginseng, yang tertarik dengan aplikasi saya.

Masalahnya ada di sertifikat TOEFL.
Ketika itu, saya belum punya TOEFL international.

Nah, syaratnya adalah saya harus submit TOEFL dalam 1 bulan, dengan standar nilai tertentu.
Kalau tidak bisa dipenuhi, maka beasiswanya akan gugur.

Bagi saya, “biaya” TOEFL itu tidak kecil.
Jadi rasanya perlu persiapan belajar dulu, tidak bisa diburu-buru.
Sayang kan kalau sudah ambil buru-buru, eh nilainya ga bagus.. It’s a waste of money.
Tetapi di sisi lain, si profesor juga “ngotot”.

Sampai pada akhirnya, kita sama-sama setuju bahwa kita tidak bisa sepakat.
Dan saat itu, saya mundur dari aplikasi beasiswa tersebut.

Sedih? Menyesal? Terpukul?
Ya iyalah, wong itu baru pertama kalinya ditawari beasiswa di LN.
Sudah di depan mata, batal cuma gara-gara TOEFL.
Sempat beberapa waktu masih merenungi saja, duh gue salah ambil keputusan ga sih? Harusnya apa kapan itu ambil TOEFLnya aja ya nekat2an?

FAILURE-beginn...

Anyway, no one knows the future.
Dalam beberapa bulan berikutnya, eh dipanggil jadi main list-nya EM.
Beasiswanya lebih besar jumlahnya, gelarnya double, dan tidak 100% research-based.

Was EM a perfect choice for me?

Not 100%..
Bidangnya berbeda dari S1 saya (walaupun ketika apply, saya sih mirip2kan supaya diterima).
Kuliahnya? Lebih banyak teori daripada hal-hal praktisnya.

Tetapi karena saya memang sudah ngebet pengen S2 di LN, ya saya ambil saja.
Apakah mudah adaptasinya?
Gimana mengatasi perbedaan bidang kuliah S1 dengan S2?
Next time saya sambung lagi..

Gimana kuliahnya? (untuk pertanyaan ini, jawabannya sudah di-share di https://emundus.wordpress.com/2013/12/08/bobot-perkuliahan/)

Motivation Letter #12: Sebutkan beasiswanya

Lagi-lagi dari hasil proofread, saya menemukan kecenderungan, bahwa orang cerita banyak mengenai latar belakang hidupnya (ada yang cerita dari dia SD, SMP, dst), pendidikannya (beberapa sangat2 mengagumkan), pengalaman kerjanya, minatnya, kecocokan dengan program yang mau diapply, dll. Pokoknya motivation letter yang mereka kirim itu sudah sangat lengkap, menjual, jelas, dan siap kirim. Namun ada 1 hal yang sering terlupakan, yaitu mengenai aplikasi beasiswanya, dan mengapa butuh beasiswa tersebut.

scholarships

Perlu diingat, bahwa program2 studi yang ditawarkan oleh EM, bisa juga ditempuh melalui beasiswa lain (misal: LPDP, beasiswa spesifik universitas, beasiswa pemerintah, dan lainnya).

Hasil dari seleksi EM juga bisa 3 macam:
1. Diterima di program, dengan beasiswa EM (istilahnya “main list”)
2. Diterima di program, tanpa beasiswa EM (istilahnya “reserve list”)
3. Tidak diterima

Nah, walaupun di form pendaftaran terkadang ada kolom khusus yang harus di-tick kalau anda mau apply beasiswa EM, tetapi alangkah baiknya kalau hal ini di-mention juga di motlet, untuk memperkuat argumen/justifikasi, mengapa anda apply beasiswanya juga (tidak cuma apply programnya).

Alasan klasik yang digunakan oleh 99% aplikan tentunya adalah karena alasan ekonomi. Tidak ada salahnya menggunakan alasan ini, karena sangat reasonable. Hanya saja, anda perlu ingat, mayoritas kandidat lain pun (mungkin) akan menggunakan alasan yang sama. Jadi, kalau anda bisa menemukan cara bagaimana anda bisa menjadi unggul di point ini, that’s a good point for you.

Motivation Letter #10: Jangan takut “jual kecap”

kecap-no-1
(Gambar diambil dari http://ridertua.com/)

Pernah dengar “jualan kecap nomor 1“?
Kalau belum, coba google deh.
Kalau dari hasil google saya sih, kebanyakan ngomongin tentang janji politik baik dari parpol ataupun calon pemimpin.
Secara garis besar, mungkin bisa diartikan janji-janji yang bombastis, yang sangat menyenangkan kalau bisa terwujud (pertanyaannya, bisa diwujudkan atau tidak?). Misalkan saja janji salah satu mantan cagub DKI Jakarta di sini.

Tanpa bermaksud meng-generalisir seluruh orang Indonesia, saya mengerti, sebagai orang Indonesia, adat kita sebagai orang “timur” cenderung introvert, sungkan, dan malu-malu.
Misalnya saja, kalau di kelas, biasanya mahasiswa/i Indonesia akan cenderung diam, tidak terbiasa untuk mengungkapkan ide atau menanyakan pertanyaan yang (kita anggap) sepele kepada guru/dosen. Hal ini sangat berbeda dengan mahasiswa/i dari negara “barat” yang begitu bebas berekspresi dan bertanya banyak hal. Bagi mereka, salah tidak menjadi soal, namanya juga toh pembelajaran.

Nah, dari sekian banyak motivation letter yang minta di-proofread, saya menemukan beberapa orang cenderung malu-malu untuk mengungkapkan kualifikasi dan nilai lebihnya. Mereka menulis hal-hal yang biasa-biasa saja. Nah, yang begini harus dihindari. Ketika anda punya banyak nilai lebih, bersyukurlah. Tidak semua orang seberuntung anda. Justru anda harus berani memaksimalkan nilai lebih tsb, dengan menonjolkannya pada motivation letter.

Supaya lebih jelas, berikut saya beri beberapa contoh before (kalimat semula) dan after (kalimat yang dianjurkan). Semua kalimat di bawah ini hanya untuk ilustrasi saja.
Before: I am a graduate from ITB, with GPA 3.65
After: I am a graduate from ITB (one of the best university in Indonesia, ranked 10th based on Webometrics), with cum laude predicate (GPA 3.65 from scale of 4). In my class, I am one among 3 students that got cum laude predicate with normal study time of 8 semesters.

Before: I was assigned as team leader in my final graduation project
After: I was assigned as team leader (with 5 members, including me) in my final graduation project, where I take important role in ensuring each team member to move in the same direction to achieve our common goal.

Pada intinya, selama bisa dipertanggungjawabkan dan dibuktikan, jangan ragu-ragu untuk menjual “kecap” anda. Agak bombastis sedikit tidak apa-apa, toh nothing to lose juga kan?

Motivation Letter #6: Paragraf Pertama

Bayangkan anda pergi ke toko buku, ingin mencari bahan bacaan yang menarik, kira2 apa yang anda lakukan?

Kalau saya, saya akan pergi ke toko buku, cari bagian mengenai topik yang saya minati, misalnya “perjalanan wisata”, lalu lihat-lihat buku yang ditawarkan. Namun, tidak semua toko buku menyediakan buku sample. Kebanyakan buku-buku yang dijual akan diplastik rapat.

Kalau demikian kondisinya, dan merobek si plastik bukanlah suatu opsi, maka sinopsis di bagian belakang buku adalah kuncinya. Kalau sinopsisnya menarik, ada kemungkinan bukunya akan dibeli. Namun, kalau tidak menarik, besar kemungkinan tidak akan dibeli.

————–
Menarik atau tidak menarik adalah 1 isu.
Isu lainnya adalah, apakah anda akan membaca seluruh sinopsis tsb, sebelum membuat keputusan menarik atau tidak menarik?

Beberapa kali, saya mendapat rekomendasi bagus mengenai sebuah film. Ketika saya coba tonton, dari pembukaannya saja, saya sudah bingung memahami ceritanya. Jadi saya memutuskan untuk tidak melanjutkan nonton. Sebagai akibatnya saya tidak pernah tahu mengapa teman yang merekomendasikan film tsb mengatakan bahwa film tersebut adalah suatu masterpiece.

Ada quote populer, “don’t judge the book by it’s cover”.
Namun, di dalam dunia yang serba instan dan cepat ini, cover adalah faktor judgement pertama untuk buku tsb.

BTW, menurut anda, sinopsis buku EM ini, menjual ga sih? (klik untuk gambar yang lebih besar)

————–
Anyway, dari intermezzo yang cukup panjang ini, saya mencoba mengatakan bahwa membuat motivation letter yang menarik dan “menjual” adalah 1 isu, dan memastikan si pembaca akan membaca keseluruhan isi motivation letter adalah isu lainnya.

paragraph
(Gambar diambil dari http://connectere.files.wordpress.com/2011/01/paragraph.gif)

Sebab itu, paragraf pertama adalah sangat krusial menurut saya, karena paragraf tsb adalah pembukaan. Walaupun setiap orang punya gaya masing-masing dalam penulisan motivation letter, saya lebih suka kalau ada sedikit perkenalan mengenai calon applicant di paragraf pertama. Apakah anda mengenalkan diri berdasarkan universitas anda, tempat kerja anda, pengalaman anda, itu terserah. Tetapi yang pasti, paragraf pertama ini harus menjadi dasar bagi si pembaca, untuk bisa memahami paragraf-paragraf berikutnya.

Ada 2 kemungkinan:
1) Motivation letter adalah dokumen yang dibaca pertama
2) Motivation letter adalah dokumen yang dibaca kemudian (misal: setelah baca CV)

Berhubung saya baru kembali dari perjalanan panjang overnight yang melelahkan, maka besok/lusa saja ya saya coba lanjutkan pembahasan mengenai 2 kemungkinan ini. Saya mau memulihkan tenaga dulu malam ini.

————–

Bagi yang minggu ini sudah kirim motivation letternya untuk di-proofread (refer to: https://emundus.wordpress.com/2013/10/17/proofread-motivation-letter/), mohon sabar dulu ya. Belum semuanya saya balas hari ini. Akan saya balas secepatnya.
Lumayan banyak yang masuk dalam minggu ini.

Proofread motivation letter?

Anda mau apply EM 2014?
Butuh bantuan untuk proofread motivation letter?

blog-writing-service1

Kalau memang anda serius untuk apply, open-minded, dan berbesar hati untuk terima kritik dan koreksi, send your motivation letter to:
emundus (dot) wordpress (at) gmail.com

Sertakan detil berikut:
– Program yang mau di-apply dan link ke website program tsb
– CV anda (optional)
– Tanggal deadline pendaftaran (atau kapan anda mau submit aplikasinya)

Tolong jangan canvassing ya.

Kalau anda takut dengan saya, boleh coba alumni lainnya:
https://emundus.wordpress.com/2012/11/15/berkomunikasi-dengan-penerima-beasiswa-erasmus-mundus/comment-page-1/#comment-8979
(semoga dia masih bersedia membantu, coba diapproach saja baik2 hehe..)

Kalau anda butuh panduan untuk membuat motivation letter, lihat sebelah kiri halaman ini (kalau anda buka blog ini dari PC/laptop, atau buka dari tablet/smartphone dengan browser versi desktop), ada beberapa artikel tips untuk motivation letter.

Motivation Letter #4: How to Start

plateful

Anggaplah/ilustrasikanlah bahwa menulis motivation letter seperti mengisi sebuah mangkuk dengan bahan makanan.

Anda sebagai chef-nya, bahan makanan adalah kisah-kisah anda, dan pemberi beasiswa adalah konsumen anda.

Oya, mangkuk adalah batasan jumlah halaman/jumlah kata untuk motivation letter.

Dengan demikian, tentunya anda akan berusaha membuat sajian yang sebaik mungkin (dari sisi/sudut pandang anda).

——————

Bagi pada pemula, memulai membuat motivation letter bukanlah hal yang mudah (I’ve been there).

Beberapa tips/langkah yang bisa saya sarankan:

Pertama, ambil waktu dan tempat dimana anda bisa relax. Jernihkan pikiran anda dari hal-hal lain, dan mulailah membayangkan, misal: hal-hal hebat yang pernah anda lakukan, nilai-nilai personal yang memotivasi anda, aktivitas anda yang mempunyai impact besar, cita2 anda yang sangat ingin anda capai, visi anda beberapa tahun ke depan, dsb. Jangan lupa, sediakan alat tulis dan catatan (cara manual konvensional ini buat saya lebih efektif dibandingkan menggunakan laptop/tablet).

Kedua, anggap saja anda punya mangkuk yang super besar. Jadi, apa pun yang muncul di benak anda (pada tahapan ini, jangan filter idenya, tuliskan saja), segera tulis di catatan (kalau bisa gunakan 1 lembar kertas saja supaya kelihatan semua topiknya dan bagaimana hubungannya satu dengan yang lain). Tidak perlu rapi-rapi menulisnya. Buat coretan sesuai ide anda, hubungkan satu topik dengan yang lain. Hal ini nantinya akan mempermudah anda dalam meng-organisasi-kan ide2 tersebut.

Kalau anda pernah dengar mengenai “mind map”, metode ini cukup efektif untuk mengorganisasikan ide2 anda.

Salah satu contohnya (catatan, gambar di bawah ini hanya untuk ilustrasi saja, bukan mind map untuk motivation letter):

lit_review_1_0

 

(diambil dari http://emedia.rmit.edu.au/learninglab/sites/emedia.rmit.edu.au.learninglab/files/lit_review_1_0.png)

 

 

Contoh lain: http://www.mindmapinspiration.com/wp-content/uploads/2009/06/motivation-mindmap.jpg

 

Ketiga, setelah anda kira2 punya cukup materi, atau pikiran anda sudah lelah (istirahat dulu, tidak usah dipaksa), maka barulah tengok ke  mangkuk yang sebenarnya. Kalau mangkuk tsb lebih kecil, barulah anda filter supaya bahan2 terbaik saja yang masuk. Kalau mangkuk tsb lebih besar, maka luangkan waktu di masa depan, untuk melakukan brainstorming lagi.

——————

Nah, pertanyaan berikutnya mungkin adalah, kalau sudah ada bahan2nya, lalu bagaimana peng-organisasi-an tulisannya?

Hal ini akan saya bahas di artikel berikutnya.

Sementara ini, anda siapkan saja dulu “bahan” anda.

Semoga bermanfaat.

Motivation Letter / Statement of Purpose

Banyak pertanyaan yang muncul di Holland Education Fair kemarin seputar tips & trik serta contoh motivation letter milik student/alumni Erasmus Mundus (EM).

Seleksi beasiswa EM yang pada umumnya (beberapa program menyelenggarakan interview) hanya berbasiskan pada aplikasi membuat kehadiran motivation letter ini menjadi salah satu elemen penting bagi konsorsium untuk menilai:

  • Kualitas, bobot, kemampuan, dan pengalaman applicant
  • Seberapa jauh research yang telah dilakukan applicant untuk program yang dituju
  • Apakah tujuan applicant untuk mengambil program ini sesuai dengan tujuan program

Berikut adalah beberapa rangkuman tips & trik dari student/alumni EM pada HEF Jakarta (14-15 November 2009):

  1. Buat benang merah baik dari latar belakang pendidikan / pekerjaan ke program yang akan diambil.
  2. Dalam menulis, pikirkan kalau anda ada di posisi konsorsium, mengapa saya harus menerima “A”, bukan “B”. Kualifikasi apa yang dimiliki “A” yang membuatnya bisa unggul dari kandidat lainnya.
  3. Jangan buru-buru menulis. Ambil waktu untuk memikirkan apa sih keunikan anda yang bisa membedakan anda dari kandidat lainnya, misal: keaktifan di aktivitas lingkungan, partisipasi dalam event nasional, dll. Jangan buat motivation letter yang biasa-biasa saja (yang semua orang bisa bikin).
  4. Bila memang IPK anda tidak terlalu menonjol, sertakan alasan yang tepat mengapa terjadi demikian. Hindari menyalahkan kesibukan di organisasi, kesibukan di bisnis karena akan mengesankan anda tidak bertanggung jawab pada kegiatan utama anda.
  5. Bila jurusan S1 anda “tidak nyambung” dengan EMMC yang mau di-apply, adalah tugas anda untuk membantu konsorsium menemukan alasan untuk menerima anda.
  6. Sertakan tujuan anda dalam mengikuti program (tentunya tidak sekedar untuk mendapatkan gelar S2), apakah untuk memajukan bangsa, mengabdi pada bangsa, menjadi expert di bidang tertentu, dll.
  7. Hindari keluh kesah, jangan terlalu banyak bercerita tentang masa lalu anda (misal: kesulitan ekonomi, fasilitas tidak mendukung) sebaliknya ceritakan tentang cita-cita, harapan dan tujuan yang ingin anda capai.

Just write things that have made you who you are now.

Why do you want to continue your education/training to a Master level degree.

What motivate you to do such thing, to do another hard work.

What motivate you to choose EMMC, why ‘that’ EMMC.

What motivate you to study in Europe, with that ‘mobility’.

Et cetera…

That’s why it’s called motivation letter.

Write less bullshit, more some things reached by your own hands.

Berikut adalah contoh motivation letter milik student/alumni EM (mohon tidak di-plagiat !!!), untuk menjawab pertanyaan “Motivation Letter seperti apa sih yang bisa tembus beasiswa EM?“. Beberapa bagian mungkin telah di-edit oleh penulisnya.

  • Carroline, European Master in Computational Logic, 2007 – PDF
  • Efrian, Master of Science in European Forestry, 2006 – PDF
  • Dina Mardiana, Master CLE – Culture Letterarie Europee, 2008 – PDF

Link motivation letter lainnya:

  • A Sample of MOTIVATION STATEMENT for Master Scholarship
  •