Motivation Letter #13: Menjadi Seorang Pribadi yang Tangguh

Lama kelamaan, saya merasa hasil proofread ini sangat baik lho..
Menginspirasi saya untuk meberikan tips-tips tambahan, yang semoga bermanfaat bagi seluruh pembaca blog, untuk artikel seri Motivation Letter ini.

Chalkboard texture background with copy space
(Gambar diambil dari http://www.smoothjazznetwork.com)

Nah dalam artikel kali ini, pembahasannya mengenai menjadi pribadi yang tangguh.
Saya mengangkat topik ini karena dalam beberapa motivation letter, saya menjumpai semacam keraguan dari kalimat yang ditulis.

Supaya lebih jelas, saya akan berikan beberapa contoh di bawah ini.

“If it’s possible, I will pursue my doctorate program after finishing my master’s programme”

Saya merasa ada ketidak yakinan di kalimat ini. Saya tidak mengingkari prinsip-prinsip lain misal: pasrah, lihat kondisi, atau manusia berusaha Tuhan yang menentukan, dll. Tetapi, dalam hal menulis motivation letter, anda harus menunjukkan bahwa anda lah yang pegang kendali atas hidup anda, dalam artian anda tahu persis arah mana yang mau dituju, dan kalau hal tersebut tidak tercapai, maka anda sudah punya plan lainnya.

Jadi, untuk perbaikannya, mungkin ada 2 opsi:
1. Di-remove saja statement tsb –> saat ini kita ga usah jauh-jauh ngomong PhD, mending fokus dapetin Master saja dulu
2. Kalimatnya di-retouch sedikit untuk menghilangkan kata “possible”

“I would like to learn and apply the technology used there, because I assume that the methods used in Indonesia are not advanced enough”

Kata “assume” di sini sangat buruk. Ini salah satu kata yang harus dihindari dalam konteks kalimat seperti di atas. Assume di sini berarti anda masih belum pasti juga, yang bisa lead to the confusion bagi pembaca motivation letter (yang juga orang awam yang tidak kenal anda).

Salah satu pertanyaan yang mungkin muncul di benak pembaca adalah, apakah anda menguasai dan tahu detail mengenai bidang anda?

“I want to study in the field of XXX due to my interest and passion on it in Europe especially that links with AAA, BBB, CCC and other related courses”

Ada banyak pertanyaan yang bisa muncul di benak pembaca.
– Kenapa Eropa? (bukan Amerika atau Australia atau Singapura)
– Apakah topik AAA, BBB, CCC, hanya ada di XXX? (bukankah itu topik umum MSc bidang YYY yang juga ada di program2 lainnya?)
– Other related courses atau etc adalah kata2 yang harus dihindari dalam motivation letter, karena menandakan anda tidak tahu persis scope yang anda bicarakan

“I have read the description of the program and it is to my excitement that the courses offered in the program are simply the ones that will fulfill my need”

Nah kalimat ini kesannya high-level banget. Kalau anda ngomong, misalnya dengan bos (di pekerjaan), high-level perhaps works karena mereka memang si bos tidak perlu tahu secara detail, cukup garis besarnya saja. Namun, kalau anda ngomong “high-level” sama orang yang ngerti detail, sebaiknya jangan deh.

Sebaiknya disebutkan, nama coursenya apa, dan kenapa cocok bagi anda.

“I believe its surrounded with top quality lecturers and potential students”

Believe = percaya (seakan2 kondisinya belum nyata).
Nah sekarang, kalau anda lihat daftar pengajar program tsb, secara fakta, apakah mereka “sudah” luar biasa?
Ataukah mereka saat ini masih biasa2 saja (sehingga anda baru sampai tahap “believe”, bahwa mereka akan menjadi top quality lecturers)? (Semoga maksud kalimat saya bisa dimengerti)

Proofread: Update per 30 November

pile-of-paper
(Gambar diambil dari http://asmarterplanet.com)

Berhubung jumlah proofread yang saya terima dalam 3 hari ini membludak sekali (saat ini ada sekitar 20 email yang belum dibalas), maka saya tidak menjamin bisa me-reply semua email pada hari yang sama.

Worst case, anda mungkin harus menunggu sampai 6-7 hari sebelum saya reply.

 

Reference post terdahulu:

https://emundus.wordpress.com/2013/11/26/proofread-terima-kasih-untuk-antusiasme-yang-besar/

Motivation Letter #12: Sebutkan beasiswanya

Lagi-lagi dari hasil proofread, saya menemukan kecenderungan, bahwa orang cerita banyak mengenai latar belakang hidupnya (ada yang cerita dari dia SD, SMP, dst), pendidikannya (beberapa sangat2 mengagumkan), pengalaman kerjanya, minatnya, kecocokan dengan program yang mau diapply, dll. Pokoknya motivation letter yang mereka kirim itu sudah sangat lengkap, menjual, jelas, dan siap kirim. Namun ada 1 hal yang sering terlupakan, yaitu mengenai aplikasi beasiswanya, dan mengapa butuh beasiswa tersebut.

scholarships

Perlu diingat, bahwa program2 studi yang ditawarkan oleh EM, bisa juga ditempuh melalui beasiswa lain (misal: LPDP, beasiswa spesifik universitas, beasiswa pemerintah, dan lainnya).

Hasil dari seleksi EM juga bisa 3 macam:
1. Diterima di program, dengan beasiswa EM (istilahnya “main list”)
2. Diterima di program, tanpa beasiswa EM (istilahnya “reserve list”)
3. Tidak diterima

Nah, walaupun di form pendaftaran terkadang ada kolom khusus yang harus di-tick kalau anda mau apply beasiswa EM, tetapi alangkah baiknya kalau hal ini di-mention juga di motlet, untuk memperkuat argumen/justifikasi, mengapa anda apply beasiswanya juga (tidak cuma apply programnya).

Alasan klasik yang digunakan oleh 99% aplikan tentunya adalah karena alasan ekonomi. Tidak ada salahnya menggunakan alasan ini, karena sangat reasonable. Hanya saja, anda perlu ingat, mayoritas kandidat lain pun (mungkin) akan menggunakan alasan yang sama. Jadi, kalau anda bisa menemukan cara bagaimana anda bisa menjadi unggul di point ini, that’s a good point for you.

Motivation Letter #11: Maksimalkan editormu

Masih banyak motivation letter proofread yang saya terima, yang kalau dibuka dengan menggunakan MS Word, masih kelihatan garis2 merah dan hijau, tanda ada sesuatu yang tidak beres.

Optimalkan fungsi word editor anda sebagai pertolongan pertama, untuk mendeteksi kesalahan penulisan di motivation letter anda.

Capture

Motivation Letter #10: Jangan takut “jual kecap”

kecap-no-1
(Gambar diambil dari http://ridertua.com/)

Pernah dengar “jualan kecap nomor 1“?
Kalau belum, coba google deh.
Kalau dari hasil google saya sih, kebanyakan ngomongin tentang janji politik baik dari parpol ataupun calon pemimpin.
Secara garis besar, mungkin bisa diartikan janji-janji yang bombastis, yang sangat menyenangkan kalau bisa terwujud (pertanyaannya, bisa diwujudkan atau tidak?). Misalkan saja janji salah satu mantan cagub DKI Jakarta di sini.

Tanpa bermaksud meng-generalisir seluruh orang Indonesia, saya mengerti, sebagai orang Indonesia, adat kita sebagai orang “timur” cenderung introvert, sungkan, dan malu-malu.
Misalnya saja, kalau di kelas, biasanya mahasiswa/i Indonesia akan cenderung diam, tidak terbiasa untuk mengungkapkan ide atau menanyakan pertanyaan yang (kita anggap) sepele kepada guru/dosen. Hal ini sangat berbeda dengan mahasiswa/i dari negara “barat” yang begitu bebas berekspresi dan bertanya banyak hal. Bagi mereka, salah tidak menjadi soal, namanya juga toh pembelajaran.

Nah, dari sekian banyak motivation letter yang minta di-proofread, saya menemukan beberapa orang cenderung malu-malu untuk mengungkapkan kualifikasi dan nilai lebihnya. Mereka menulis hal-hal yang biasa-biasa saja. Nah, yang begini harus dihindari. Ketika anda punya banyak nilai lebih, bersyukurlah. Tidak semua orang seberuntung anda. Justru anda harus berani memaksimalkan nilai lebih tsb, dengan menonjolkannya pada motivation letter.

Supaya lebih jelas, berikut saya beri beberapa contoh before (kalimat semula) dan after (kalimat yang dianjurkan). Semua kalimat di bawah ini hanya untuk ilustrasi saja.
Before: I am a graduate from ITB, with GPA 3.65
After: I am a graduate from ITB (one of the best university in Indonesia, ranked 10th based on Webometrics), with cum laude predicate (GPA 3.65 from scale of 4). In my class, I am one among 3 students that got cum laude predicate with normal study time of 8 semesters.

Before: I was assigned as team leader in my final graduation project
After: I was assigned as team leader (with 5 members, including me) in my final graduation project, where I take important role in ensuring each team member to move in the same direction to achieve our common goal.

Pada intinya, selama bisa dipertanggungjawabkan dan dibuktikan, jangan ragu-ragu untuk menjual “kecap” anda. Agak bombastis sedikit tidak apa-apa, toh nothing to lose juga kan?