Awardee Action 2 untuk Erasmus+ 2015

Untuk tahun 2015, cukup banyak orang Indonesia yang juga mendapatkan beasiswa E+ dari Action 2.

Secara total (data sementara, dari yang sudah dikumpulkan s/d kemarin), ada 60 orang awardee yang terdaftar baik untuk Action 1 maupun Action 2.

Note: pengumuman Action 1 sudah di-post sebelumnya di https://emundus.wordpress.com/2015/06/03/pengumuman-em-2015-action-1/

Detail untuk awardee Action 2 adalah sbb:

INTACT – 3 orang (ITB)

LOTUS UNLIMITED – 2 orang Masters Exchange (UGM)

LOTUS+ – 10 orang Bachelor Exchange, 1 orang Master Degree, 1 orang Staff Exchange (UGM)

AREAS+ – 4 orang Bachelor Exchange (UGM)

EXPERT4ASIA – 3 orang Bachelor Exchange, 1 orang Staff Exchange (Universitas Syiah Kuala)

EXPERTS SUSTAIN – 11 orang Bachelor Exchange, 1 orang Master Exchange, 2 orang Academician Exchange (Universitas Syiah Kuala)

SMARTLINK – 3 orang Bachelor Exchange, 2 orang Administrative Staff (4 dari Binus, 1 dari Surya University)

Note: Untuk Action 2, keterangan mengenai setiap program di atas bisa dimulai baca2nya dari http://bit.ly/EM-Action2

Another book ?

CRC-New-books-banner

Beberapa bulan yang lalu, dari hasil kumpul-kumpul dengan beberapa alumni Erasmus Mundus, ada wacana untuk menuangkan cerita dan pengalaman selama masa kuliah di Eropa ke dalam sebuah buku.

Konsepnya mungkin akan agak berbeda dari buku yang pernah diluncurkan sebelumnya (bisa refer ke https://emundus.wordpress.com/2011/07/18/beasiswa-erasmus-mundus-the-stories-behind/).

Namun, karena masih wacana, dan belum tahu akan diwujudkan atau tidak, maka berikut adalah salah satu kisah yang ingin saya share di dalam buku. Kisah berikut ini adalah salah satu cerita adalah mengenai peristiwa-peristiwa yang saya rasakan “ajaib” selama kuliah di Eropa.

Judul: Secangkir kopi untuk nilai A?

Your attitude, not your aptitude, determines your altitude (Zig Ziglar)

Di universitas saya di Italia, setiap pengajar memiliki preferensi masing-masing bagaimana mereka akan memberikan penilaian.

Bisa berdasarkan nilai absolut (misalkan nilai ujian di atas 90 dapat A, antara 80-90 dapat B, dst).
Bisa juga berdasarkan statistik kelas (misalkan 2% nilai terbaik di kelas dapat A, atau nilai rata-rata ditambah sekian deviasi dapat A).
Bisa juga gabungan keduanya, misalkan 2% nilai terbaik di kelas akan dapat A, asalkan nilai tersebut tidak kurang dari 80.

Ada salah satu mata kuliah yang materinya kurang saya sukai (kurang bisa saya pahami), menggunakan penilaian berbasis statistik.

Tantangan di kuliah ini bertambah, dengan adanya seseorang mahasiswa lokal di kelas, yang sangat pintar, cerdas, brilian, dan sering menanyakan pertanyaan yang sangat-sangat susah (susah dimengerti dan susah dijawab). Dia berpotensi merusak statistik nilai di kelas.

Namun, persaingan itu wajar dan alami, kita tidak bisa selalu menganggap diri kita yang paling hebat. Kalau orang lain memang lebih hebat, harus diakui dengan jujur, he/she deserves the credit.

Nah, menjelang akhir perkuliahan, entah bagaimana, si teman yang sangat pintar ini, yang biasanya akrab dengan para dosen, malah bertengkar dan adu mulut dengan dosen kuliah tersebut, hanya karena masalah absen. Diawali dengan beberapa kali datang telat ke kelas, teguran dari dosen yang tidak bisa dia terima, dan berakhir dengan adu mulut di antara keduanya di dalam kelas, yang menyebabkan teman saya itu diusir dari kelas.

Persis di sesi kuliah terakhir sebelum ujian, di saat kelas sedang break, tak disangka saya disapa oleh dosen ini. Entah bagaimana, beliau ingin membeli kopi di vending machine, tetapi tidak membawa kartu miliknya (catatan: seluruh pembayaran di universitas menggunakan kartu identitas yang berfungsi juga sebagai kartu prabayar). Jadi, dia meminjam kartu saya untuk membeli kopinya.

Dalam perjalanan kembali ke ruang kuliah, seorang teman bertanya, mengapa dosen tsb menghampiri saya. Sambil bercanda, saya mengatakan “Perhaps it’s a good sign, a coffee for an A”.

Dan siapa yang sangka, perkataan itu menjadi kenyataan.
Saat nilai diumumkan, saya bukan hanya dapat A, tetapi malah A+, satu-satunya di kelas.
(Sedikit bocoran, yang nantinya akan saya ceritakan lebih lengkap di buku, nilai A+ dari kuliah ini menjadi salah satu penentu di akhir masa kuliah, dimana saya bisa lulus dengan predikat “distinction“)

Apa lessons learnt dari kisah ini?

  1. Sepintar-pintarnya anda, kalau anda tidak menjaga attitude anda, maka bisa jadi anda tidak akan sampai ke altitude yang seharusnya menjadi hak anda.
  2. Tetaplah berusaha (belajar) sebaik-baiknya. Kopi mungkin merupakan faktor penolong (who knows?). Tetapi kalau jawaban ujian anda tidak tepat, rasanya tidak mungkin juga dapat nilai yang baik ya.
  3. Expect good things. Kalau saya menyerah di awal (dan belajar santai2 saja untuk kuliah ini) karena minder terhadap teman saya yang pintar itu, mungkin saya tidak akan bisa melalui ujian dengan baik.
  4. Selalu sediakan saldo yang cukup di kartu prabayar 😉

Sharing Challenge #1: Bobot Perkuliahan

Catatan:
Apa yang saya alami ini, mungkin saja berbeda dengan pengalaman orang lain.
Apalagi dengan bidang studi yang berbeda, universitas dan negara yang berbeda, pastinya ada banyak variasi.

Di Eropa, (menurut saya) seluruh fasilitas disediakan dengan lengkap, sehingga bisa dibilang limitnya adalah diri anda sendiri. Anda mau jadi luar biasa, atau biasa-biasa saja, atau tidak biasa, itu tergantung tekad dan kemauan anda.

skys-the-limit

Kenapa saya bilang begitu?
– Akses internet yang melimpah (dan sangat cepat)
– Koleksi perpustakaan yang beragam
– Akses ke jurnal-jurnal ilmiah untuk mencari referensi
– Faktor pengajar (di universitas saya, saya tidak ada kesulitan untuk menemui pengajar di luar jam kuliah, mereka menyediakan yang disebut “office hour” bagi mahasiswa/i-nya untuk berkonsultasi)

————

Anyway, kali ini kita akan lihat salah satu contoh materi kuliah yang pernah saya ambil.
Kuliah ini diadakan 1x seminggu selama 2 jam.
Ada juga sesi “exercise”nya diadakan 1x seminggu selama 1 jam.
Dalam 1 semester, ada 8-10 minggu kuliah.
Bobot kuliah ini adalah 3 ECTS.

Untuk mendapatkan Master degree, syarat di program saya adalah 120 ECTS (untuk 4 semester), yang berarti sekitar 30 ECTS per semester. Jadi, kuliah ini, hanyalah 1 dari sekitar 5-6 mata kuliah yang saya ambil pada semester tersebut (note: setiap mata kuliah punya jumlah kredit yang berbeda, ada juga yang sampai 8 ECTS).

Berikut adalah 3 slide terakhir dari salah satu sesi perkuliahan:
Capture

Capture2

Capture3

Jadi, bisa anda bayangkan bobot kuliahnya, kalau 1 kuliah, dalam 1 minggu saja referensinya sebanyak itu.
Ini baru 1 kuliah, belum lagi bobot dari mata kuliah yang lain.

————

Setiap orang punya pengalaman S1 yang berbeda-beda.
Namun, buat saya pribadi, kuliah ini termasuk “shock culture”.
Kuliah S1 saya sangat jarang yang ada referensi ke jurnal ilmiah seperti ini.

Dan seringkali, kalau anda baca 1 jurnal, mau ga mau anda harus refer lagi ke jurnal lainnya (“jurnal lain” maksudnya yaitu jurnal yang di-refer dari jurnal yang anda baca tsb).
In the end, dari 1 jurnal yang ditugaskan, bisa 3-4 jurnal yang dibaca (jadi, kalau ada 4 jurnal yang ditugaskan, maka totalnya bisa lebih dari 10 jurnal yang harus dibaca).

————

Tujuan saya posting mengenai hal ini, tidaklah untuk menakut-nakuti.
Tidak semua kuliah seseram ini.
Ada juga kuliah yang lebih banyak mengedepankan faktor diskusi dan solusi.

Namun, kita harus selalu “prepare for the worst”.
Kalau memang anda benar-benar ingin supaya “maju”, maka sharing ini seharusnya menguatkan anda, bahwa tantangan apapun yang ada di depan, anda akan siap untuk berjuang mengatasinya.
Bukan malah patah arang dan mundur.

Jadilah orang yang kuat, bukan hanya ketika apply beasiswa (ngotot banget), tetapi juga kuat ketika menjalaninya sampai selesai, dengan hasil yang baik.

Selamat berjuang.