Motivation Letter #10: Jangan takut “jual kecap”

kecap-no-1
(Gambar diambil dari http://ridertua.com/)

Pernah dengar “jualan kecap nomor 1“?
Kalau belum, coba google deh.
Kalau dari hasil google saya sih, kebanyakan ngomongin tentang janji politik baik dari parpol ataupun calon pemimpin.
Secara garis besar, mungkin bisa diartikan janji-janji yang bombastis, yang sangat menyenangkan kalau bisa terwujud (pertanyaannya, bisa diwujudkan atau tidak?). Misalkan saja janji salah satu mantan cagub DKI Jakarta di sini.

Tanpa bermaksud meng-generalisir seluruh orang Indonesia, saya mengerti, sebagai orang Indonesia, adat kita sebagai orang “timur” cenderung introvert, sungkan, dan malu-malu.
Misalnya saja, kalau di kelas, biasanya mahasiswa/i Indonesia akan cenderung diam, tidak terbiasa untuk mengungkapkan ide atau menanyakan pertanyaan yang (kita anggap) sepele kepada guru/dosen. Hal ini sangat berbeda dengan mahasiswa/i dari negara “barat” yang begitu bebas berekspresi dan bertanya banyak hal. Bagi mereka, salah tidak menjadi soal, namanya juga toh pembelajaran.

Nah, dari sekian banyak motivation letter yang minta di-proofread, saya menemukan beberapa orang cenderung malu-malu untuk mengungkapkan kualifikasi dan nilai lebihnya. Mereka menulis hal-hal yang biasa-biasa saja. Nah, yang begini harus dihindari. Ketika anda punya banyak nilai lebih, bersyukurlah. Tidak semua orang seberuntung anda. Justru anda harus berani memaksimalkan nilai lebih tsb, dengan menonjolkannya pada motivation letter.

Supaya lebih jelas, berikut saya beri beberapa contoh before (kalimat semula) dan after (kalimat yang dianjurkan). Semua kalimat di bawah ini hanya untuk ilustrasi saja.
Before: I am a graduate from ITB, with GPA 3.65
After: I am a graduate from ITB (one of the best university in Indonesia, ranked 10th based on Webometrics), with cum laude predicate (GPA 3.65 from scale of 4). In my class, I am one among 3 students that got cum laude predicate with normal study time of 8 semesters.

Before: I was assigned as team leader in my final graduation project
After: I was assigned as team leader (with 5 members, including me) in my final graduation project, where I take important role in ensuring each team member to move in the same direction to achieve our common goal.

Pada intinya, selama bisa dipertanggungjawabkan dan dibuktikan, jangan ragu-ragu untuk menjual “kecap” anda. Agak bombastis sedikit tidak apa-apa, toh nothing to lose juga kan?

Motivation Letter #3: Pertanggungjawabkan Tulisan Anda

responsibilityaheadBenar bahwa motivation letter adalah salah satu sarana untuk “menjual” diri, untuk meyakinkan si pemberi beasiswa kenapa Anda harus dipilih.

Kalau berbicara soal “jualan”, pernahkah anda mendengar bahwa pedagang2 itu selalu punya “kecap” nomor satu? Walaupun  barang yang mereka jual biasa-biasa saja, namun mereka menjualnya seakan2 barang mereka adalah kualitas nomor 1.

Kalau berbicara soal” kecap”, saya juga teringat di masa2 sekolah dan kuliah dulu, ada pelajaran tertentu yang selalu dibercandakan sebagai pelajaran untuk “ngecap”. Jadi, sekalipun kita tidak ngerti2 amat, tetapi kalau ulangan/ujian, yang penting bisa “ngecap” panjang saja. Karena nilainya diukur pakai penggaris, seberapa panjang jawaban anda, bukan seberapa tepat jawaban anda.

—————–

Anyway, dalam motivation letter, hindari kebiasaan menjual “kecap”. Beranilah untuk mempertanggung jawabkan apa yang anda tulis. Misalnya gimana? Katakan anda punya pengalaman sebagai asisten lab. Tetapi di motivation letter, anda menulis sebagai koordinator asisten lab. Ada kemungkinan, bisa ditanya balik during interview (kalau kebetulan program tsb ada interviewnya), apa saja sih kewajiban anda sebagai koordinator? Berapa asisten lab yang anda monitor? Reporting anda kemana?

Bagus kalau kebetulan anda bisa jawab.
Kalau tidak?
Reputasi anda akan ternoda.
Berhati-hatilah.

7eac9a100e794293a774fbc102c3bc74

—————–

Belum lama ini, dalam korespondensi internal di sebuah organisasi dimana saya jadi membernya, ada sebuah email yang menerangkan bahwa fiscal year sudah hampir berakhir, dan masih ada sisa budget yang belum diutilize (note: ini bukan organisasi pemerintah ya). Bagi anggota yang memiliki ide atau rencana kegiatan yang bisa dieksekusi dalam waktu cepat, dipersilahkan untuk segera mengajukan proposalnya supaya bisa dipertimbangkan apakah diberikan dana/tidak.

Seorang teman saya, dengan cepat langsung reply bahwa dia ingin mengadakan acara kumpul2, seminar, dan ramah tamah dengan biaya 100% dari budget tersisa tsb. Ketika saya tanya (note: saya bertanya sebagai seorang teman, bukan sebagai pihak yang memutuskan penggunaan dana), apa saja sih rincian biayanya, berapa orangnya, bagaimana plannya, dia tidak bisa memberikan jawaban secara rinci. Dia bilang, yang penting diapprove saja dulu, kalau sudah diapprove, baru dia akan susun rencana yang detail.

Dalam contoh ini, keadaannya memang nothing to lose.
Dapat dana syukur, ga juga gpp.

Namun, kalau beasiswa, apakah anda juga mau nothing to lose?
Kalau saya sih pastinya expect to win 🙂

Semoga artikel  ini memberi pencerahan.

Selamat Idul Fitri 1 Syawal 1434 H bagi yang merayakan.