Refleksi Diri – Bagi yang masih S1

Untuk refleksi diri saja.. Terutama mereka yang masih di bangku S1.

Belajar S1 dengan baik, raih nilai tinggi, buat publikasi2 penting, lalu dapat beasiswa Erasmus+..

Ketika lihat ke belakang, tidak ada yang perlu disesali karena kerja keras yang berbuah manis..

Maaf kata, buat apa terlalu sibuk ikut kegiatan ini itu kalau membuat kuliah tidak terpegang dan nilai jadi jeblok. Buat apa terlalu pusing ikut campur polemik ini itu kalau itu mengalihkan fokus dari tanggung jawab untuk belajar dengan baik.

Catatan tambahan:

Tidaklah salah ikut berorganisasi dan kegiatan2 kemahasiswaan selama kuliah karena akan membuka perspektif dan melatih nilai-nilai kerja sama, adaptasi, sosialiasi, dan nilai baik lainnya. Harus pintar-pintar bagi waktu supaya bisa seimbang antara mengikuti kuliah dengan kegiatan luar kuliah.

Kalau sudah meraih impian2 itu, silahkan untuk sibuk sana sini, komentar sana sini, ikut polemik ini itu.

Karena waktu tidak bisa berulang. Menit yang baru dilalui saja tidak bisa diulang. Apalagi nilai S1 ??

Padahal salah satu persyaratan utama beasiswa pada umumnya adalah nilai S1. Jadi kalau senjatamu tidak siap, bagaimana mau berkompetisi dengan aplikan lainnya?

retrospect

Advertisements

Sharing Motivasi #4: Beasiswa, haruskah punya IPK tinggi?

Pertanyaan ini sangat-sangat dan teramat sering ditanyakan.
Masalah IPK selalu menjadi momok bagi para aplikan beasiswa.

Well, apa yang mau saya tulis di bawah ini, sekedar sharing saja, mencoba memberikan pandangan lain dari pertanyaan tersebut.

Kisah 1:
Ketika saya ambil program Erasmus Mundus tahun pertama saya, saya ketemu dengan 3 orang mahasiswa Indonesia yang juga sedang ambil program Master di universitas dan bidang ilmu yang sama.

Secara jujur, saya tidak tahu berapa IPK S1 mereka.
Yang pasti, ketiga teman saya ini berjuang sangat keras selama S2-nya, dan mereka membutuhkan beberapa semester tambahan (dari durasi waktu normal yaitu 4 semester) sebelum bisa meraih gelar Master-nya.

Mengenai beasiswanya, ketika itu mereka dapat beasiswa dari pemerintah di kota dimana universitas tsb terletak, sebagai bentuk kepedulian mereka terhadap bencana Tsunami yang melanda Aceh pada tahun 2004 yang lampau.
Jadi, kalau saat itu anda adalah mahasiswa yang berasal dari Aceh, kesempatan beasiswanya terbuka lebar.

Kisah 2:
Kisah ini pernah saya singgung sedikit di https://emundus.wordpress.com/2013/12/25/sharing-motivasi-2-positive-mindset/

Teman (alias senior) saya yang satu ini emang jagoan.
Ketika itu dia sudah punya posisi yang cukup mapan di salah satu perusahaan konsultan IT di Indonesia.
Tetapi ketika dia dapat beasiswa dari sebuah universitas di Italia, dia langsung memutuskan berangkat.

Perlu dicatat, ketika itu, dia sudah beranak 2, dan istrinya sedang hamil anak ketiga.
Besaran beasiswanya pun mepet sekali, dan perkuliahannya dilakukan dalam bahasa Italia (bahasa yang sama sekali tidak dia kuasai kala itu).

Semasa kuliah, dia mengalami banyak kesulitan, bukan cuma masalah di kuliah saja karena bahasanya, tetapi juga masalah beasiswa yang telat, administrasi yang berbelit-belit, dsb.

Pernah sampai tempat tinggalnya didatangi “Carabinieri” (polisi Italia), mau diusir, ketika dia menunggak beberapa bulan pembayaran sewa tempat tinggal karena beasiswanya belum turun, dan pemilik housingnya tidak mau tahu.

Bagaimana dengan IPK S1-nya?
Ini juga saya ga tahu pasti angkanya berapa, tetapi kalau di angkatan dia (secara dia adalah senior saya), yang saya tahu terkenal “pintar” (alias IPK tinggi) sih orang-orang lain.

Jadi, dari 2 kisah di atas, yang saya mau bilang, kadang masalahnya bukan di IPKnya atau beasiswanya, tetapi dari diri kira sendiri, apakah kita sudah benar-benar siap untuk ambil beasiswa, ketika kesempatan itu datang.

Banyak orang yang pada awalnya semangat apply beasiswa, lalu di belakang baru bingung soal bawa keluarga lah, besaran beasiswa yang ga yakin cukup, bidang beasiswa yang kok rasanya ga 100% sesuai ekspektasi, dll.
Padahal hal-hal semacam ini seharusnya sudah bisa dipertimbangkan dari awal.

———–

Bagaimana dengan beasiswa Erasmus Mundus, haruskah IPK-nya tinggi?
Setiap beasiswa punya tujuan masing-masing kenapa dia diberikan.
Dan setiap pemberi beasiswa harus punya alasan kenapa mereka menerima seseorang, dan bukan orang lain.

Untuk Erasmus Mundus, pengalaman saya pribadi, di program saya sendiri, ada beberapa mahasiswa/i dari negara lain, dimana ada kuota khusus yang diperuntukkan bagi negara/region tersebut, yang secara “perjuangan” menempuh S2, mereka sangat “berdarah-darah”.

Untuk Indonesia, sayangnya belum ada kuota khusus semacam tersebut.
Sehingga, aplikan Erasmus Mundus asal Indonesia harus berkompetisi dengan aplikan negara-negara lain yang juga tidak punya kuota khusus.
Kalau kompetisinya ketat, secara otomatis kriteria penerimaan juga akan makin tinggi (analogikan saja dengan jurusan favorit di SNMPTN; tes penerimaan CPNS; atau tes masuk perusahaan besar, misalkan Pertamina).

Jadi, intinya, tetap buka mata, buka telinga, buka diri, kalau Erasmus Mundus rasanya kurang sesuai untuk kondisi anda, masih ada beasiswa lainnya yang bisa diperjuangkan.

485229_425654084115947_230951443_n

Indonesian Education System

As often asked in this forum, on how to explain the Indonesian Education System, then hopefully this scanned document may help.

Please be noted that this is just a general explanation and serves only for reference.

You may need to adjust based on the implementation in your school/university or based on the changes in our education system (such as the national exam for high school students).

Sistem Pendidikan Indonesia (nasional)
Sistem Pendidikan Indonesia (nasional)