Talkshow beasiswa di Destination Europe 2014 – Bagian 2

Tulisan ini adalah bagian kedua, melanjutkan posting sebelumnya di https://emundus.wordpress.com/2014/10/19/talkshow-beasiswa-di-destination-europe-2014/

3. Persiapan apa saja yang dilakukan sebelum ke Eropa, dan bagaimana rasanya saat pertama kali menginjak Eropa?
Idfi: “Sebelum ke Eropa, saya mengambil kursus bahasa Italia dulu di IIC (Istituto Italiano di Cultura). Kursusnya ada beberapa level, dan bisa dipilih sesuai kebutuhan.”

Eva: “Saya tidak mengambil kursus bahasa sebelum berangkat. Kota tujuan pertama saya adalah Bologna. Tidak ada penerbangan langsung dari Jakarta ke Bologna. Jadi, yang saya lakukan adalah terbang ke kota Milan, lalu melanjutkan dengan kereta ke kota Bologna.”

“Nah, karena kebanyakan orang Italia tidak berbahasa Inggris, maka setibanya saya di airport Milano Malpensa, saya kebingungan bagaimana saya pergi ke stasiun kereta Milano Centrale. Nah, terjebaklah saya akan saran seseorang yang menyarankan untuk mengambil taksi. Di kemudian hari, barulah saya tahu kalau ternyata ada airport bus (ulang alik antara Malpensa dan Centrale) yang harganya 6.5 euro. Untuk taksi, saya menghabiskan 42 euro !!”

4. Apa pesan dari para alumni beasiswa kepada pejuang beasiswa?

Rama: “Luangkan waktu yang cukup untuk persiapan. Bikin perencanaan yang baik. Kalau mau apply beasiswa tahun depan, dari tahun ini sudah persiapan, misalnya untuk tes bahasa.”

Dita: “Peluang itu banyak, tetapi kalau tidak ada yang mempergunakan, semudah apapun peluang tsb, menjadi tidak ada gunanya. Terkadang bukan beasiswanya yang tidak ada, tetapi kita yang tidak mencarinya.”

Eva: “Persiapkan mental untuk apply beasiswa. Selalu ada kemungkinan gagal, ditolak, dsb. Kalau istilah sekarang ‘sakitnya tuh di sini’. Namun, jangan cepat menyerah, coba terus sampai suatu saat ada beasiswa yang nyantol.”

6698003_20140517080212

Yuanita: “Jaman sekarang, apa sih yang ga ada? Motivation letter, banyak contoh dan tipsnya (misal: https://emundus.wordpress.com/2014/05/04/summary-tips-untuk-motivation-letter1/). Surat rekomendasi, syukur2 ada template dari program yang mau di-apply. Kalaupun tidak ada, sudah banyak juga template2 yang bertebaran, tinggal mencari siapa yang bonafid untuk memberi rekomendasi.”

Helena: “Belajar, belajar, dan persiapkan diri. Saya sempat 1.5 tahun kursus bahasa Jerman. Setelah itu juga sempat kursus bahasa Spanyol. Namun karena peluang dan bidang yang diminati di kedua negara tersebut tidak saya dapati, malah akhirnya saya mendapat beasiswa Stuned untuk Belanda.”

“Nah, ketika saya mau apply lagi untuk Chevening, banyak orang bilang mana mungkin, sudah pernah S2 masa S2 lagi. Namun, saya tetap apply dan ternyata saya bisa lolos. Jadi, kalau saya yang sudah pernah S2 dengan beasiswa, bisa dapat beasiswa lagi, apalagi kamu-kamu yang masih belum pernah S2, pasti peluangnya lebih besar !!”

Idfi: “Mendapatkan beasiswa adalah satu hal. Tetapi what’s next is more important.”

“Saya cuma dapat beasiswa kursus 3 bulan. Tetapi dari situ saya membangun network saya dan kemampuan lainnya. Walaupun saya cuma mengunjungi 3 negara Eropa selama masa tersebut, tetapi saat ini saya sudah menjadi freelance tour guide dengan pengalaman keliling ke 5 benua. Banyak order, dan bisa dibilang non-stop traveling. Sudah jalan-jalan, menikmati pemandangan, dibayar pula !!”

(Akhir diskusi)

Advertisements

Talkshow beasiswa di Destination Europe 2014 – Bagian 1

Sehubungan dengan acara Destination Europe 2014, pada hari pertama penyelenggaraannya, 18 Oktober 2014, diadakan ada talkshow mengenai “Jalan-jalan ke Eropa secara gratis, dengan beasiswa”, dimana 6 orang penerima beasiswa berbagi cerita.

Sebagai nara sumber, dihadirkan para “jejawa” penerima beasiswa dari Erasmus Mundus (yang saat ini namanya berubah menjadi Erasmus+), Stuned, DAAD, Chevening, Kementerian, dan pemerintah Italia.

IMG_6389

(Dari kiri ke kanan)

Kedua orang berbaju kuning gonjreng tersebut adalah Yuanita dan Anggara yang menjadi MC untuk talkshow ini. Keduanya pernah mendapatkan beasiswa Erasmus Mundus. Selama masa studinya, Anggara sudah berkeliling ke 12 negara Eropa !! Kalau penasaran, silahkan lihat temukan foto jalan2nya di Facebook Anggara.

Selanjutnya ada Mbak Helena yang adalah perwakilan beasiswa Chevening. Namun ternyata sebelum Chevening, beliau juga pernah mendapatkan beasiswa dari Stuned !!

Selanjutnya, ada Rama (DAAD), dilanjutkan dengan dua orang mas-mas: Idfi dan Garry, masing-masing dari beasiswa Pemerintah Italia dan STUNED. Lalu di ujung, ada Eva (Erasmus Mundus) dan Dita (Kementerian). Rekor Anggara yang mengunjungi 12 negara ternyata dikalahkan oleh Eva yang sudah mengunjungi 22 negara !!

Berikut adalah key points dari talkshow kemarin yang dibagi per topik.

Pembahasaannya ditulis ulang, tidak persis dengan apa yang mereka katakan, tetapi maknanya tidak diubah (sesuai penangkapan saya).

——————-

1. Apply beasiswa itu susah ga sih?

Eva: “Point pentingnya adalah bagaimana “menjual” kualifikasi kita ke pihak pemberi beasiswa. IPK bisa sama, tetapi motivation letter bisa menjadi penentu.”

Dita: “Untuk beasiswa Kementerian, salah satu syaratnya adalah membuat jurnal ilmiah.”

Helena: “Untuk kuliah di UK, level bahasa Inggris yang diperlukan cenderung tinggi dibandingkan dengan negara Eropa lainnya. Namun, untuk mendapatkan skor TOEFL/IELTS yang tinggi, bisa kita usahakan.”

“Rintangannya biasanya berasal dari dalam diri. Menentukan pilihan bidang mana yang mau diambil, fokus mempelajari bidang yang diminati, membuat motivation letter/personal statement (butuh ketekunan, proofread berulang kali, dll), minta surat rekomendasi (harus hubungi dosen, balik ke kampus, dll) bisa menjadi barrier untuk mengajukan aplikasi beasiswa.”

“Kebanyakan orang biasanya terpacu ketika pameran pendidikan, ambil flyer banyak, brosur banyak, tanya sana sini. Tetapi setelah beberapa waktu, motivasinya mulai kendor, dan akhirnya tidak meneruskan mimpinya.”

Rama: “Apply beasiswa itu tidak sulit. Jadikan rintangan sebagai tantangan” (bahasa motivator nih hehe..).

“Terdapat berbagai kualifikasi beasiswa, ada yang syaratnya tinggi, menengah, maupun tidak begitu tinggi. Pada intinya butuh kemauan untuk mencari informasi dan peluang yang tersedia.”

——————-

2. Pengalaman menarik apa yang didapat selama masa studi di Eropa? Dan bagaimana mengenai masalah bahasa selama di Eropa?

Idfi: “Saya memperoleh beasiswa untuk kursus bahasa Italia di kota Siena. Dari Internet, Siena itu adalah kota yang sangat indah. Namun, ketika saya tiba di kota Siena, hari sudah malam, gelap, dan keindahan kota tidak terlihat. Setelah menginap semalam menggunakan jaringan couchsurfing, keesokan paginya ketika saya membuka jendela, saya melihat kabut yang menutupi kota Siena yang indah seperti di foto-foto, mencium bau khas espresso Italia, dan melihat bangunan-bangunan jaman medieval yang melambungkan pikiran saya.”

Helena: “Saya kuliah di kota Cardiff, yang dekat dengan Wales. Di sana, orang2 setempat memiliki bahasa lokal yang sangat berbeda dari Bahasa Inggris.”

“Suatu hari saya berjalan-jalan di pasar setempat dan tertarik untuk membeli pancake strawberry. Si ibu penjual menyapa saya dengan ramah dan menanyakan (dalam Bahasa Inggris) apa yang saya ingin beli. Woww, pikir saya, saya aman karena ibu ini menggunakan Bahasa Inggris. Lalu, dengan hati-hati mengatakan ‘I want to have the strawberry pancake’. Namun, si ibu tidak mengerti apa yang saya ucapkan. Saya coba ulang lagi dengan pelafalan yang lebih hati-hati, sambil menunjuk-nunjuk ke kue yang saya maksud. Barulah si ibu mengerti dan berkata ‘Ooo, you want strawberry pancake’ dengan aksen ‘Brit’-nya  yang sangat kental (untuk aksen ‘Brit’, bayangkan saja kalau anda nonton film Harry Potter). Ternyata, miskomunikasi ini hanya gara-gara aksen saya yang American English !!”

Garry: “Untuk Belanda, 90% penduduknya bisa berbahasa Inggris. Program kuliah pun banyak yang berbahasa Inggris. Bahkan, bila berkunjung ke kota Rotterdam atau Eindhoven, kita bisa mendengar orang berbicara Bahasa Indonesia di tempat umum. Untuk makanan, merk2 mie instan, kecap, saos yang terkenal di Indonesia, bisa didapatkan di toko setempat.”

Rama: “Untuk Jerman, disarankan mencari program kuliah yang berbahasa Inggris. Karena, untuk memahami bahasa Jerman saja sudah sulit, apalagi kalau harus disambi kuliah. Mengambil kursus basic bahasa Jerman sebelum berangkat, sangat disarankan.”

“Kebanyakan orang Jerman tidak mau spontan berbicara Bahasa Inggris. Namun, ada triknya. Cobalah keluarkan kemampuan Bahasa Jerman anda sebaik2nya, walaupun cuma 1-2 kalimat. Nantinya ketika sudah mentok, baru katakan “Entschuldigung” (excuse me), nah biasanya nanti mereka akan coba berbicara dalam Bahasa Inggris.

Kemana saja?

2329935244_cdc56c7689

Beberapa email masuk ke saya menanyakan kemana saja, sudah sekian lama tidak aktif menulis lagi.
Beberapa email lainnya bahkan langsung ke sasaran, dalam artian menyertakan motivation letter untuk direview.

Well, singkat cerita selama 3 bulan terakhir (Juli-September), hampir setengahnya saya gunakan untuk perjalanan sehubungan dengan pekerjaan. Dan karena perjalanannya melibatkan kunjungan ke 2 negara yang masih mengharuskan visa (dengan proses yang cukup berliku-liku) bagi pemegang paspor Indonesia, maka di bulan Juni itu, saya kejar-kejaran dengan kedutaan supaya bisa dapat visa tepat waktu (karena aplikasinya satu per satu, tidak bisa paralel).

Ada beberapa pengalaman menarik yang saya dapatkan sepanjang perjalanan tsb, dan nanti satu per satu akan di-share.

Belakangan ini saya juga berpikir untuk mengubah blog ini ke arah penggunaan domain pribadi.
Bagi anda para pembaca, seharusnya tidak berdampak.
Bagi saya, saya akan lebih punya akses dalam pengaturan blog ini.
Hal ini masih sedang dipikirkan.

Anyway, hari ini, saya hadir di acara Destination Europe 2014 yang diadakan di Balai Kartini, Jakarta.
Acara yang meriah, menarik, dengan banyak kesempatan untuk mendapatkan suvenir dan hadiah dari negara-negara Eropa.

Dalam 2-3 minggu ke depan, juga akan ada EHEF yang kali ini akan diadakan di beberapa kota.
Dari tahun ke tahun, dari pihak alumni, kita selalu berusaha untuk meningkatkan kualitas informasi yang bisa kita berikan pada saat pameran berlangsung. Tahun ini, semoga ada sesuatu yang baru yang bisa kami berikan.

Besok saya akan tulis liputan talkshow hari ini mengenai “Jalan-jalan ke Eropa secara gratis, dengan beasiswa”, dimana 6 orang penerima beasiswa berbagi cerita. Tidak hanya penerima beasiswa dari Erasmus+ (Erasmus Mundus), tetapi hadir juga penerima beasiswa dari Stuned, DAAD, Chevening, Kementerian, dan pemerintah Italia.

Bagi yang follow Facebook “Erasmus Mundus Indonesia” bisa baca 3 liputan singkat dari saya untuk Destination Europe 2014 hari ini.

Selamat malam dan selamat beristirahat.
Sekian dulu update dari saya.

Presentasi Lainnya dari EU Scholarships Day