Strategi Itu Penting

Sebagaimana sudah saya katakan di beberapa posting yang lalu, belakangan ini saya memang cukup sering menggunakan jasa layanan Uber untuk menunjang aktivitas saya. Besarnya biaya untuk layanan transportasi Uber, ditentukan oleh 2 komponen dasar: jarak dan waktu.

Misalkan saja (hanya untuk ilustrasi), harga per km adalah 3000 rupiah, dan harga per menit (waktu perjalanan) adalah 300 rupiah.
Maka, kalau perjalanan anda sepanjang 20 km, yang ditempuh dalam waktu 30 menit, biaya yang harus anda bayar adalah kurang lebih 69.000 rupiah.

Namun di kala jam-jam sibuk (misal: jam pulang kantor), dan ada banyak permintaan untuk suatu area tertentu (misal: area segitiga emas di Jakarta), maka Uber akan mengenakan yang namanya “surge price”. Ilustrasinya ada di gambar di bawah ini.

 

uber-surge

Surge price ini berfungsi sebagai faktor pengali dari tarif dasar.

Yang saya tahu, “surge price” ini adalah untuk menarik lebih banyak pengemudi Uber untuk masuk ke area yang sedang ramai ini, sehingga para pengguna Uber dapat mendapatkan pelayanan yang lebih cepat. Lebih lengkapnya bisa dibaca di https://newsroom.uber.com/indonesia/informasi-mengenai-harga-ramai-surge-pricing/.

Jadi, menilik ulang contoh sebelumnya, kalau pemesanan anda itu kena surcharge 1,75x, maka jumlah yang harus dibayar menjadi sekitar 120.000 rupiah. Tentunya bagi pengemudi Uber, surge price ini merupakan peningkatan penghasilan yang signifikan (sehingga akan menarik lebih banyak pengemudi untuk masuk ke area yang sedang ramai).

Apa impact surge price bagi pengguna? 
Kebanyakan orang akan menunda perjalanannya, menunggu permintaan mereda (kembali ke tarif normal tanpa surge price atau mendekati tarif normal), baru melakukan pemesanan. Hal ini tentunya adalah perilaku yang wajar, karena pengguna menginginkan harga yang efisien. Namun, bagi Uber, perilaku seperti ini mengurangi jumlah pemesanan mereka.

Perubahan pada Uber minggu ini
Berdasarkan pengamatan saya pribadi, tampilan surge yang menakutkan itu sepertinya ditiadakan. Yang Uber lakukan adalah menampilkan hasil total estimasi biaya perjalanan (yang sudah memasukkan konsep surge, bila berlaku).

Dengan cara ini, pertimbangan pengguna adalah langsung ke hasil akhir, total estimasi biaya perjalanan. Misalkan dari titik A ke B, biasanya harganya 30.000. Namun, pada suatu waktu, harga yang muncul adalah 45.000 (bisa disimpulkan, bahwa surge 1,5x sedang berlaku). Namun, bagi pengguna yang tidak mau pusing, tinggal membuat keputusan apakah harga 45.000 ini memenuhi ekspektasi mereka (jadi pesan atau tidak).

Pertimbangan penggguna untuk membuat keputusan, disederhanakan oleh Uber, dengan harapan lebih banyak pengguna yang melakukan pemesanan (dibandingkan ketika masih menampilkan faktor pengali surge price).


Apa kaitannya dengan beasiswa?
Dari contoh di atas, kita melihat kekreatifan Uber dalam mengemas paket harganya. Dengan menghilangkan tampilan surge dan langsung menampilkan, bisa dibilang tidak ada perubahan konsep perhitungan biaya di sisi Uber. Namun, mereka memberikan nilai tambah bagi penggunanya (dan juga bagi Uber sendiri).

Bagi para pencari beasiswa, ada hal-hal yang mungkin sudah tidak bisa diubah (apalagi kalau sudah lulus), misal saja: nilai IPK, prestasi akademik yang sudah dicapai, kegiatan organisasi yang sudah diikuti. Namun, ada juga hal-hal yang masih bisa diusahakan, misalnya: nilai TOEFL/IELTS, motivation letter, recommendation letter.

Kembali ke contoh Uber di atas, intinya adalah bagaimana mengemas komponen-komponen dasar aplikasi beasiswa yang anda miliki, supaya menjadi suatu kemasan yang menarik bagi pemberi beasiswa. Dengan kata lain, bagaimana caranya menonjolkan diri di aplikasi beasiswa, sehingga menjadi kandidat serius yang bisa dipertimbangkan untuk diberikan beasiswa.

Tidak ada suatu ilmu atau konsep generik untuk hal ini. Perlu pemahaman mengenai apa yang anda punyai, dan apa yang beasiswa harapkan, supaya anda bisa merumuskan suatu konsep aplikasi yang diharapkan bisa “tembus” dan mendapatkan beasiswa.

Memang konsep pemikiran ini sepertinya agak abstrak dan tidak konkret (harus melihat case by case untuk merumuskan strategi yang tepat), tetapi ini adalah salah satu pekerjaan rumah anda sebagai pencari beasiswa (yang pada waktunya nanti, semoga status itu berubah menjadi penerima beasiswa).

Selamat berjuang !!🙂

Kapan saatnya apply beasiswa? (SEKARANG)

Bagi anda yang sudah eligible, bulan-bulan ini adalah bulan yang tepat untuk mengajukan beasiswa Master degree Erasmus+.

Daftar lengkap programnya (ada 101 program yang ditawarkan untuk tahun ini) bisa ditemukan di:
https://eacea.ec.europa.eu/erasmus-plus/library/emjmd-catalogue_en


Bagaimana cara apply-nya?

  1. Dari daftar yang tersedia di atas, pilihlah program yang kira2 Anda minati
  2. Masuk ke websitenya, untuk membaca lebih dalam mengenai isi program tersebut secara lebih seksama

Supaya lebih relevan, langsung saja saya berikan contoh:

Misalkan saja, saya adalah seorang lulusan Ilmu Komputer, dan saya berminat untuk program “BDMA – Big Data Management and Analytics”.

Maka, langkah berikutnya, saya mengunjungi website BDMA, yaitu di http://bdma.univ-tours.fr/bdma/.

Di website ini, beragam informasi bisa ditemukan, misalnya:

  • Keunggulan BDMA (di sini)
  • Struktur mobilitas (akan kuliah dimana saja, selama menempuh program ini, di sini)
  • Gelar yang akan diperoleh, dan skema penilaian (di sini)
  • Kalender akademik (di sini)
  • Isi program (di sini)
  • Dan yang terpenting, prosedur pendaftaran (di sini)

Semoga cukup jelas sampai di sini. Intinya berbagai informasi penting mengenai beasiswa tersebut, ada di website program tersebut.

Jadi, segeralah bergegas, sebelum waktu pendaftaran berakhir !!

Semoga kita bisa ketemu di acara Pre-Departure 2017 !!

Bagi yang bisa hadir, jangan lupa ada rangkaian kegiatan EHEF, minggu depan (sudah dibahas di sini).

 

 

Raihlah Kesempatan Terbaik

Selama 2 hari ini, 22 dan 23 Oktober 2016 (Sabtu dan Minggu), pengguna transportasi online Uber mobil (di Jakarta) mungkin tahu (dikirimi email atau notifikasi di aplikasi) kalau Uber mengadakan promo khusus diskon sebesar 35 ribu rupiah, untuk maksimal 5x perjalanan.

uberpromo

Jadi, kalau misalkan biaya perjalanannya 35 ribu atau kurang, maka pengguna jasa tidak usah bayar apa-apa (gratis).
Tetapi kalau lebih dari 35 ribu, tinggal membayar selisihnya saja.

Di tengah kondisi Jakarta yang hujan terus dari pagi, saya menggunakan promo ini.
Agak heran, ketika di jalan menjumpai ada orang2 yang masih ber-ojek ria (hujan-hujanan, tanpa jas hujan).

Ada beberapa kemungkinan:

  • Bukan pengguna Uber, jadi tidak tahu ada promo
  • Jarak tempuhnya jauh, jadi masih lebih murah naik ojek online, dibandingkan naik Uber mobil (walaupun bisa disiasati sih dengan memecah perjalanan menjadi beberapa bagian @ 35 ribu)

Anyway, tidak ada yang salah, pilihan transportasi adalah hak masing-masing orang.
Namun, kalau ada orang yang menempuh jarak dekat, sambil hujan-hujanan, seandainya dia tahu ada promo Uber ini, dia kira-kira akan kesal ga ya hehehe..
Kalau dia ambil promo dari Uber ini, kan selain gratis juga tidak basah-basahan.


Dalam hal beasiswa, kalau kita bisa membuka diri terhadap banyak informasi, akan sangat baik.

Karena, sekalipun kesempatan beasiswa yang cocok dengan profil kita ada, tetapi kalau kita tidak tahu (dan tidak apply), bagaimana bisa dapat beasiswanya.

Bagaimana caranya supaya bisa mendapat banyak informasi?

  • Gabung dengan komunitas pencari beasiswa (milis / grup Facebook / lainnya)
  • Daftarkan email di badan-badan pemberi beasiswa
  • Pro-aktif dalam mencari informasi beasiswa (bisa secara online, ataupun via menghadiri EHEF Indonesia yang akan dimulai dalam 2 minggu ke depan di 3 kota)

Dan semoga, usaha keras yang sudah dilakukan, suatu hari akan membawa hasil yang manis  :)

Selamat berjuang.

Comfort Zone itu Memang Enak

Untuk menunjang kebutuhan berselancar di dunia maya, saya berlangganan jasa internet mobile dari salah satu provider. As usual, menjelang masa berlaku paket akan berakhir, maka si provider akan memberikan notifikasi, dan saya pun memperpanjang paket tersebut.

Rutinitas seperti ini sudah berlangsung cukup lama, sampai baru-baru ini saya tahu, kalau ternyata sudah ada paket baru yang lebih menarik yang sudah diluncurkan beberapa waktu.

Agak geregetan memang, karena paket yang baru ini lebih sesuai untuk kebutuhan saya. Biaya dan layanan yang ditawarkan lebih optimal.

Namun, dipikir-pikir, tidak bisa menyalahkan si provider karena tidak memberitahu kepada saya mengenai adanya paket baru ini. Lebih kepada dari sisi saya yang memang sudah nyaman dengan paket lama (comfort zone), dan tidak melihat-lihat tawaran baru yang tersedia.


Hal serupa bisa juga terjadi pada beasiswa.

Pada umumnya, fokus kita hanya tertuju pada beasiswa-beasiswa yang sudah “punya nama” dan sudah kita tahu. Satu hal yang pasti, semakin terkenal beasiswa tersebut, berarti semakin banyak aplikan-nya, dan otomatis tingkat persaingannya pun akan semakin ketat (analogi yang sama untuk tingkat persaingan masuk PTN, ada universitas dan jurusan tertentu yang sangat tinggi passing grade-nya).

Padahal ada kemungkinan, ada peluang beasiswa-beasiswa lain yang mungkin juga cocok dengan apa yang kita cari. Jadi, jangan tutup mata, dan teruslah menggali informasi yang ada (baik pasif maupun aktif) !!


Dulu saya lulus S1 di tahun 2004 dan langsung cari-cari beasiswa setelahnya.

Program Erasmus+ (yang dulu namanya masih Erasmus Mundus, disingkat EM) baru dimulai di tahun 2004, tetapi saya tidak tahu akan adanya peluang itu. Sedangkan, salah satu teman yang lulus bareng saya (universitas yang sama, tetapi fakultas yang berbeda), dia malah sudah apply dan dapat beasiswa EM di 2004 (karena fakultasnya punya kerja sama dengan salah satu konsorsium EM). Jadi, ada faktor keterbatasan informasi juga di sini.

Singkat cerita, saya baru dapat EM di tahun 2006 (mulai kuliah Oktober 2006, pengajuan aplikasinya sudah dari akhir 2005). Di kala itu, mungkin karena baru 2 tahun berjalan, sepertinya belum terlalu banyak yang tahu.

2006em

(Intermezzo dikit, foto di atas diambil Agustus lalu, dimana saya dan teman2 seangkatan 2006 baru saja merayakan peringatan 10 tahunan di acara Erasmus+ Pre Departure 2016 di hotel Pullman, Jakarta)

Baru di tahun-tahun selanjutnya, karena semakin banyak yang membicarakan mengenai EM, juga banyak informasi di internet (melalui blog ini salah satunya), maka EM menjadi makin populer sampai saat ini (dan tentunya persaingan menjadi semakin ketat, persyaratan seleksi menjadi semakin banyak).

Ibarat kata, kalau dulu itu, universitas yang butuh mahasiswa (untuk diberikan beasiswa), sekarang ini kebalikannya. Makanya dulu pendaftaran beasiswa EM begitu sederhana dan praktis, dibandingkan sekarang, beberapa pembaca bertanya mengenai biaya pendaftaran, dokumen ini itu yang harus disediakan.

Anyway, jangan putus asa dan jangan terpaku dengan beasiswa Erasmus+ (atau beasiswa terkenal lainnya). Tetap buka mata untuk peluang-peluang lainnya. Who knows, you will find the next “Erasmus+” !!

Selamat berjuang !!

 

European Union Scholarships Fair, Medan (19 October 2016)

European Union Scholarships Fair

List of Exhibitors:

Embassy of Ireland | Study in Sweden – Swedish Embassy | Embassy of Poland | Campus France – IFI | DAAD Germany | Nuffic Neso Netherlands | Uni-Italia | European Union

More information:

http://eeas.europa.eu/delegations/indonesia/11109/european-union-visits-medan_en

Erasmus+ Bukber dan Baksos 2016

Pada Jumat, 1 Juli 2016, Erasmus+ (yang dikoordinasikan oleh Indonesia Country Representative, Eva Sulistiawaty dan Ira Yulianti) mengadakan acara bukber dan baksos di Panti Asuhan Muhammadiyah, Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Acara ini diikuti oleh 52 anak penghuni panti asuhan tersebut dan sejumlah penggurus panti.

IMG-20160702-WA0011

20160701_152825

Dukungan donasi untuk acara ini diberikan oleh 45 donatur individu dan 1 donatur institusi (EU Delegation to Indonesia and Brunei).

Donasi diberikan dalam bentuk uang tunai serta dalam bentuk barang yang berupa minuman teh kotak, es bubur sumsum, tas backpack EU, kaos, dan pakaian layak pakai.

Donatur perseorangan berasal dari berbagai komunitas maupun tempat kerja, yang merupakan teman-teman ataupun alumni/student Erasmus+.
20160701_162214

IMG-20160702-WA0021

Acara bukber dan baksos ini, juga diisi oleh teman-teman dari alumni Erasmus Mundus yang mengadakan “kelas inspirasi” bagi para anak-anak di panti, dengan tujuan untuk memberikan inspirasi bagi mereka dalam menetapkan cita-cita setinggi-tingginya dan termotivasi untuk mencapainya walaupun dengan berbagai keterbatasan.

IMG-20160702-WA0022

IMG-20160702-WA0027

IMG-20160702-WA0029

IMG-20160702-WA0031

IMG-20160702-WA0030

IMG-20160702-WA0032
Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu berbagai aspek dalam penyelenggaraan acara ini.

Selamat Idul Fitri bagi teman-teman yang merayakan dan selamat berlibur bagi teman-teman semua.

Sampai jumpa lagi dalam event2 Erasmus+ berikutnya.

Berbagi Cerita – dari seorang Supir Uber

Beberapa waktu yang lalu, saya menggunakan jasa Uber untuk menembus kemacetan Jakarta di malam hari (sekitar jam 21:00). Berikut snapshot obrolan santai dengan supirnya.

Saya: Ini banyak banget ya taksi (dengan lampu menyala, tanda tidak ada penumpang) yang mangkal di deoan gedung2 perkantoran (bisa sampai 10 taksi yang berderet menunggu penumpang)

Pak Supir (dengan logat daerahnya yang kental): Iya, sekarang orang carinya Uber.

Supir2 taksi ini pada ga mau pindah sih. Alasannya ga punya mobil. Padahal bisa daftar pakai mobil rental.
Atau, kalau mau mobil sendiri, ada kok yang DP cuma 4 juta, cicilan juga 4 juta. Kalau sehari dapat 500rb, 8 hari selesai lah sudah cicilan bulan itu..

Saya: Emangnya bisa sehari dapat 500rb?

Pak Supir: Bisa lah, kalau dapat order yang jauh2.

Saya paling suka itu dari Bekasi ke airport. Itu pulang dari airport juga ga mungkin kosong (maksudnya, pasti ada penumpang yang akan pesan Uber dari airport). Apalagi kalau ada surcharge (ini tarif pengali, di saat banyak permintaan akan Uber di suatu area tertentu). Ga usah besar2 surchargenya, ga ada yang mau naik. 1,3x atau 1,5x saja sudah mantap kalau ke Bekasi.


Nah, dalam melakukan pencarian beasiswa, beranikah kita untuk mengatur cara pikir dan pola pandang kita untuk optimis seperti si Pak Supir ini?

Tantangan pasti ada.

Kerja keras diperlukan.

Komentar2 orang lain yang mungkin menekan (misalkan dalam konteks cerita di atas, mungkin saja ada yang akan berkomentar “supir Uber terus bertambah, pasti persaingan untuk mendapatkan penumpang semakin ketat”).

Pilihan kembali ke tangan anda, maju terus, atau tetap di tempat, atau memikirkan jalan lain.

quotes-about-change-and-moving-on-39-image

(Gambar diambil dari http://picturelava.com/)