Perbandingan Statistik Awardees Action 1 (ASEAN), 2014 vs 2015

Berdasarkan data yang saya miliki dari Delegasi untuk Indonesia, Brunei Darussalam dan ASEAN, statistiknya adalah sebagai berikut:

statistikem

Untuk Main List, Indonesia turun drastis, dari 30 awardees tahun 2014, menjadi 15 awardees di tahun 2015.
Demikian pula untuk Reserve List, dari 223 orang ke 138 orang.

Hal sebaliknya terjadi untuk Vietnam dan Thailand.
Jumlah Main List mereka meningkat (untuk Thailand, hampir) 2x lipat di tahun 2015.

Yang aneh, jumlah main list Indonesia dan Vietnam di 2014 dan 2015 kok angkanya persis sama yah ?? (seperti tukar guling) hehehe.. Aneh tapi nyata !!

increase-decrease

Semoga di 2016, jumlah awardees asal Indonesia bisa kembali pulih dan makin banyak yang diterima beasiswanya yah !!

Advertisements

Motivation Letter #6: Paragraf Pertama

Bayangkan anda pergi ke toko buku, ingin mencari bahan bacaan yang menarik, kira2 apa yang anda lakukan?

Kalau saya, saya akan pergi ke toko buku, cari bagian mengenai topik yang saya minati, misalnya “perjalanan wisata”, lalu lihat-lihat buku yang ditawarkan. Namun, tidak semua toko buku menyediakan buku sample. Kebanyakan buku-buku yang dijual akan diplastik rapat.

Kalau demikian kondisinya, dan merobek si plastik bukanlah suatu opsi, maka sinopsis di bagian belakang buku adalah kuncinya. Kalau sinopsisnya menarik, ada kemungkinan bukunya akan dibeli. Namun, kalau tidak menarik, besar kemungkinan tidak akan dibeli.

————–
Menarik atau tidak menarik adalah 1 isu.
Isu lainnya adalah, apakah anda akan membaca seluruh sinopsis tsb, sebelum membuat keputusan menarik atau tidak menarik?

Beberapa kali, saya mendapat rekomendasi bagus mengenai sebuah film. Ketika saya coba tonton, dari pembukaannya saja, saya sudah bingung memahami ceritanya. Jadi saya memutuskan untuk tidak melanjutkan nonton. Sebagai akibatnya saya tidak pernah tahu mengapa teman yang merekomendasikan film tsb mengatakan bahwa film tersebut adalah suatu masterpiece.

Ada quote populer, “don’t judge the book by it’s cover”.
Namun, di dalam dunia yang serba instan dan cepat ini, cover adalah faktor judgement pertama untuk buku tsb.

BTW, menurut anda, sinopsis buku EM ini, menjual ga sih? (klik untuk gambar yang lebih besar)

————–
Anyway, dari intermezzo yang cukup panjang ini, saya mencoba mengatakan bahwa membuat motivation letter yang menarik dan “menjual” adalah 1 isu, dan memastikan si pembaca akan membaca keseluruhan isi motivation letter adalah isu lainnya.

paragraph
(Gambar diambil dari http://connectere.files.wordpress.com/2011/01/paragraph.gif)

Sebab itu, paragraf pertama adalah sangat krusial menurut saya, karena paragraf tsb adalah pembukaan. Walaupun setiap orang punya gaya masing-masing dalam penulisan motivation letter, saya lebih suka kalau ada sedikit perkenalan mengenai calon applicant di paragraf pertama. Apakah anda mengenalkan diri berdasarkan universitas anda, tempat kerja anda, pengalaman anda, itu terserah. Tetapi yang pasti, paragraf pertama ini harus menjadi dasar bagi si pembaca, untuk bisa memahami paragraf-paragraf berikutnya.

Ada 2 kemungkinan:
1) Motivation letter adalah dokumen yang dibaca pertama
2) Motivation letter adalah dokumen yang dibaca kemudian (misal: setelah baca CV)

Berhubung saya baru kembali dari perjalanan panjang overnight yang melelahkan, maka besok/lusa saja ya saya coba lanjutkan pembahasan mengenai 2 kemungkinan ini. Saya mau memulihkan tenaga dulu malam ini.

————–

Bagi yang minggu ini sudah kirim motivation letternya untuk di-proofread (refer to: https://emundus.wordpress.com/2013/10/17/proofread-motivation-letter/), mohon sabar dulu ya. Belum semuanya saya balas hari ini. Akan saya balas secepatnya.
Lumayan banyak yang masuk dalam minggu ini.

Motivation Letter #5: Buat Kerangka

Dalam pelajaran Bahasa Indonesia (di jaman saya sekolah – ga tahu ya kurikulum sekarang), kalau ada tugas mengarang, Bapak/Ibu guru selalu mengajarkan untuk mulai dahulu dari kerangka karangan. Dari kerangka, baru dikembangkan ide-ide bagaimana mengisi setiap paragraf dengan kalimat-kalimat pendukung, sesuai dengan topik paragraf tsb.

Terkait dengan tulisan saya sebelumnya di:
https://emundus.wordpress.com/2013/08/10/motivation-letter-4-how-to-start/
kalau anda sudah mencoba mempraktekkannya, maka anda sudah punya bahan2 dasar untuk motivation letter.

writing if i can think it chant
(Gambar diambil dari: http://firstgradewow.blogspot.com/2012/06/writers-tool-box.html)

Bagaimana untuk EM?
Salah satu contoh kerangka yang mungkin adalah sbb (ini cuma contoh, silahkan disesuaikan sendiri):
Paragraf 1: Perkenalan siapa saya (lulusan mana, major apa, achievement, kondisi ekonomi mengapa apply beasiswa)
Paragraf 2: Minat terhadap EM, program apa, mengapa, apa yang mau dipelajari
Paragraf 3: Tujuan yang mau dicapai (diri sendiri, komunitas, Indonesia)
Paragraf 4: Hal-hal tambahan
Paragraf 5: Kesimpulan

Bagaimana merangkai tulisannya/mengembangkan paragrafnya?
Ikuti tips berikutnya.. (akan saya tulis segera)
Dan ingat, let’s not make this complicated.
Maksudnya apa? Yang mau kita tulis adalah motivation letter yang “menjual”. Bukan motivation letter yang 100% mengikuti kaidah bahasa dan penulisan formal yang terkadang terlalu kaku.

Berapa kuota Erasmus Mundus untuk Indonesia?

Per saat ini, belum ada kuota khusus yang ditujukan bagi applicant dari Indonesia.
Applicant dari Indonesia harus bersaing dengan applicant dari negara2 lainnya untuk memperebutkan beasiswa EM.
Worst case, kalau kalah bersaing, bisa saja applicant dari Indonesia tidak ada yang diterima sama sekali.

statistics-graphs

Namun, kalau dilihat dari sisi optimisnya, per program EM boleh menerima sampai dengan 2 applicant dari negara yang sama. Dalam artian, kalau program tsb punya jatah 15 beasiswa, dia bisa kasih ke 15 orang dari 15 negara berbeda, atau 15 orang dari 8 negara (2 orang x 7 negara + 1 orang x 1 negara), atau kombinasi (misal: 2 orang x 3 negara + 9 orang x 1 negara).

Untuk tahun akademik 2014 (yang pendaftarannya sudah dibuka saat ini, dan kuliahnya mulai Sep/Okt 2014), ada 138 program EMMC yang membuka pendaftaran (refer to: http://bit.ly/EM-emmc).

Jadi, peluang maksimal applicant Indonesia 138 x 2 orang = 276 orang.
Per tahun lalu, baru sekitar 40 applicant Indonesia yang beruntung mendapatkan beasiswa EM.
Jadi, masih cukup banyak kuota yang bisa diraih, dengan catatan, siap untuk berkompetisi dengan applicant dari negara2 lain.

Are you ready?

Insights from EHEF Jakarta today

Hari ini, berjaga di Booth European Union (EU) dari dimulainya EHEF pukul 11 tepat sampai kesudahannya, membuat saya sempat agak “keleleran”. Saya harus mengacungkan jempol bagi para pengunjung yang datang atas antusiasme dan kehausan mereka akan informasi. Walaupun ada kami ber-14 di booth EU, aliran pengunjung yang deras dan tanpa henti membuat kami harus bergantian untuk mengistirahatkan fisik dan pita suara, karena masih ada 1 hari lagi untuk EHEF. Walaupun, untuk besok akan ada beberapa tenaga bantuan baru yang datang untuk melayani serbuan pengunjung EHEF.

Tidak hanya suara yang habis, brosur2 yang sedianya dijatahkan untuk 2 hari, 90% sudah habis hari ini. Bagi yang sifatnya fotokopian, malam ini ada cukup waktu untuk memperbanyak material. Namun, bagi yang sifatnya cetakan, tidak mungkin melakukan pencetakan hanya dalam 1 hari. Jadi, bagi yang datang di hari kedua EHEF, jangan kecewa kalau brosur dan materi yang disediakan, mungkin, tidak sevariatif hari pertama.

Namun, pada kesempatan ini, saya ingin menekankan bahwa tujuan akhir yang diidam-idamkan oleh banyak orang, yaitu “beasiswa”, sama sekali tidak terkait apakah Anda punya banyak brosur, atau tidak punya brosur sama sekali. Statement saya ini sekaligus juga untuk meng-encourage teman-teman di lokasi selain Jakarta dan Medan, dua kota dimana EHEF diselenggarakan. Seringkali saya nyatakan dalam blog ini, bahwa untuk Erasmus Mundus, seluruh informasi tersedia di internet, dan bisa diakses oleh semua orang. Jadi, punya brosur atau tidak, kesempatan Anda untuk mendapatkan beasiswa tetaplah sama. Tinggal bagaimana kesiapan diri Anda untuk apply ke beasiswa ini.

Anyway, dalam post ini, ada beberapa hal yang saya rasa menarik untuk dibagikan ke para follower blog ini. Pendapat yang saya utarakan adalah pendapat pribadi semata dan tidak untuk menyinggung siapa pun. Scope pembicaraan adalah seputar EM Action 1, untuk program S2 EMMC dan S3 EMJD.

Ada 1 komentar (sambil ngomel) “Gimana sih Erasmus Mundus, apa2 lihat di website …”

Secara umum, syarat mungkin sama: TOEFL/IELTS, motivation letter, recommendation letter, academic transcript, dll. Tetapi, begitu ngomong specific requirement, maka akan ada beragam variasi, tergantung programnya. Program EM ada banyak, syaratnya pun berbeda-beda. Program A butuh TOEFL iBT minimal  90, program B butuh minimal 100.

Tentunya, Anda ingin mendapatkan informasi yang paling update kan? Nah, untuk hal itu, solusinya cuma 1, cek langsung di website program bersangkutan.

Apakah syarat berbeda-beda ini untuk menyusahkan applicant? Tentu tidak, simply karena setiap program membutuhkan level “keyakinan” yang berbeda-beda untuk menilai applicantnya. Karena di sisi lain, setiap penyelenggara program (konsorsium) harus mempertanggung jawabkan juga pencapaian programnya kepada EU.

Internet? Dibandingkan beberapa tahun lalu, akses internet saat ini rasanya ada dimana-mana dan mudah didapat dengan biaya yang ekonomis (paling tidak, masih ada warnet yang tarifnya 6000/jam).
Tidak suka baca softcopy? Ya tinggal di-print.

Banyak pertanyaan “apa sih tips n trik biar pasti dapat beasiswa?”

Jujur, pertanyaan ini gampang2 susah.. Kadang, bukannya kita (yang sudah pernah dapat beasiswa EM) tidak mau memberikan tips n trik, hanya saja kita juga bingung apa ya jawaban benarnya. Kalau dari sisi saya pribadi, saya cuma memberikan “my best effort” pada saat mencoba apply beasiswa.

Apa artinya best effort? Baca requirementnya, pelajari deskripsi di website. Kalau belum mengerti, coba baca lagi 3-4x. Masih belum mengerti juga, coba bertanya. Demikian pula pada saat menyiapkan dokumen, kalau scan/fotokopi, buatlah dokumen yang jelas. Kalau ada yang belum di-translate, translate-lah supaya konsorsium bisa membacanya. Kalau ada hal-hal yang membutuhkan penjelasan tambahan, lakukan itu. Karena data/prestasi berharga yang tidak diketahui oleh orang lain adalah sia-sia.

Terkait motivation letter, banyak juga yang bertanya, point apa sih yang harus ditekankan? Bagi saya, motivation letter tak ubahnya Anda sebagai seorang sales, yang ingin “menjual” diri anda dan kualifikasi anda kepada si pemberi beasiswa, supaya Andalah yang mendapatkan beasiswa tsb, bukan orang lain. Kalau mau dibilang narsis, ya bisa jadi nyerempet2 ke sana, tetapi narsislah yang bisa Anda pertanggung jawabkan, kalau2 jualan Anda dibeli oleh si pemberi beasiswa.

Banyak pertanyaan “bisa/ga sih part time  sambil kuliah?”

Nah menurut saya, ini cara pandang yang perlu diubah. Mungkin terlalu banyak dengar di media cetak, elektronik, dll, banyak mahasiswa/i Indonesia yang part-time sambil kuliah. I’m not against part-time, tetapi kalau Anda sudah sempat baca2 dan cari tahu mengenai beasiswa EM, mungkin Anda sudah tahu kalau amount beasiswanya adalah EUR 24,000/tahun. Sebuah jumlah yang cukup (sangat) besar, yang seringkali membuat iri mahasiswa/i dari beasiswa lain dan mahasiswa/i lokal. Jumlah ini harusnya cukup bagi gaya hidup seorang student.

Jangan terbuai cerita/pengalaman orang lain

Belum lama ini di milis beasiswa, ada email masuk mengenai seseorang Indonesia yang mendapatkan beasiswa EUR 3400/bulan !!! (compare dengan EM yang EUR 1000/bulan) Tetapi orang ini mengalami kesulitan bahasa dalam kuliah (padahal kuliahnya bahasa Inggris lho !!). Dan orang ini gak biasa masak dan cuci baju sendiri. Jadi, mau cari “pembantu” untuk cuci dan beres2 apartemen.

Ya, ini sih kasus langka sekali. Saya tidak bilang kalau Anda tidak bisa dapat beasiswa sebesar itu. Hanya saja, always prepare for the worst case. Janganlah menjadi penerima beasiswa yang cengeng dan manja.

Cuci baju?  Tinggal beli sabun cuci, dan gunakan mesin otomat yang banyak tersedia. Kalau malas menjemur, sekalian sewa mesin pengering.

Bahasa? Ya, untuk itulah ada TOEFL/IELTS, untuk memastikan Anda ga akan keteteran kalau kuliah dengan bahasa Inggris. Saya punya seorang teman, dia dapat beasiswa di Italia, dalam bahasa Italia, dengan jumlah beasiswa yang sangat minim (EUR 400/bulan) !! Dia berangkat ke Italia hanya bermodalkan kamus dan beberapa buku percakapan yang dia beli di Kwitang (sebelum dipindahkan), tanpa persiapan belajar bahasa.

Bayangkan apa jadinya setelah dia sampai di Italia. Bulan2 pertamanya sangat menyedihkan dan penuh tekanan. Ga ngerti materi kuliah, ga bisa ngomong bahasa Italia, uang sangat pas-pasan dan harus benar2 berhemat. Namun, sekarang? Dia sudah lulus, mendapatkan gelar S2, fasih berbahasa Italia, bekerja di Eropa, dan siap melanjutkan S3. Lihatlah kemana mimpimu dan tekadmu dapat membawamu meraih hal-hal yang mungkin sulit terbayangkan di awal, walaupun jalan kesana penuh tantangan.

Know your goal and ACT !!

Banyak orang datang ke booth hari ini, dan bilang “saya mau beasiswa S2 di bidang X, kira2 program apa / univ apa ya yang cocok untuk saya?”.. Hahaha.. seandainya dunia seindah itu.

Sebagian besar penjaga booth EU punya pandangan “no free lunch” dan bahwa kita hanya memberikan kail, bukan menyuapi dengan ikan. Dalam artian, kami selalu menyarankan “lihat websitenya, pilih programnya, baca lagi detailnya, ikuti langkah2nya, dll”. Sebab, proses2 awal ini adalah ujian awal Anda sebelum menempuh jenjang S2 dengan beasiswa.

Toh nantinya sebagai mahasiswa/i, pada saat kuliah Anda tentunya akan menjumpai tantangan2 baru, dimana Anda dituntut untuk kreatif dan bisa menemukan solusi baik untuk memecahkan tantangan Anda.

Ada juga beberapa orang tua yang sangat aktif bertanya mengenai beasiswa, sedangkan si anak hanya manggut2, tengok2 kanan kiri depan belakang, dan kelihatannya tidak interested. Agak lucu sih melihat pemandangan ini. Dalam hati saya bertanya, ini yang mau sekolah bapaknya atau anaknya ya..

Well, sudah jam 11 malam, semoga kalau ada orang2 yang membaca tulisan ini, dan besok datang ke EHEF, hindari membuat kesalahan yang sama. Dan jadilah pejuang2 beasiswa yang tangguh. Sukses untuk Anda semua.