Mengubah Cara Pandang

Beberapa waktu belakangan ini, di grup Facebook “Erasmus Mundus Indonesia”, banyak cerita-cerita seputar perjuangan, motivasi, dan tips-tips untuk apply beasiswa yang di-share oleh para awardee beasiswa Erasmus+.

fb

Sangat menyenangkan melihat satu sama lain saling berbagi kisah dan cerita inspiratif, sehingga bisa menjadi penyemangat bagi mereka yang sedang mencari beasiswa.

Hari ini, saya membaca salah satu thread yang sedang aktif di grup ini.

Jadi, ada seorang member yang posting demikian:

fb2

Lalu di salah satu komentar, ada yang menulis demikian:

diyan

Well, saya harus bilang, saya sangat setuju dengan komentar di atas.

Terkadang, ketika antara kenyataan tidak sesuai dengan impian atau ekspektasi, maka mencari alasan, menyalahkan kondisi, atau menyesali keadaan memang tindakan yang rasanya beralasan untuk dilakukan. Sayangnya, dengan melakukan hal-hal tersebut, fokus kita teralih pada kondisi yang ada dan kalau tidak diatasi dengan baik, maka bisa membuat makin terpuruk.

Di sisi lain, apalagi bila masih muda (masih bisa mengubah diri dan masih ada banyak waktu), mungkin bisa melihat dari perspektif lain.

Buat list impianmu, letakkan di 1 kotak.

Buat list kondisimu, letakkan di 1 kotak.

Coba hubungkan kedua kotak tersebut, dan identify, ada gap apa saja di antara kondisi dan impian.

Contoh sederhana:

Impian: Kuliah di Eropa

Kondisi: Bahasa Inggris belum lancar, nilai kuliah masih pas-pasan

Maka, dari gap yang ada, anda bisa menentukan langkah apa yang harus diambil untuk mengatasi gap tersebut –> belajar Bahasa Inggris dan belajar lebih giat di kuliah. Teruslah bertanya “how” sampai anda menemukan solusi praktis bagaimana mengatasi gap tersebut.

Misalkan, belajar Bahasa Inggris –> bisa melalui buku, bisa melalui online, bisa melalui les.

  1. Hmm, mungkin yang cocok untuk saya adalah belajar melalui buku, sedangkan ekonomi pas-pasan –> bagaimana caranya?
    Hmm, mungkin bisa tanya2 teman yang pernah les Bahasa Inggris, atau pernah ikut tes TOEFL? Atau coba cari buku2 bagus di pasar loak (tidak perlu malu, saya pun pernah beli buku di toko loak) –> siapa ya kira-kira teman yang bisa dipinjami buku, dan pertanyaan2 lanjutannya (sampai anda menemukan solusi praktis yang bisa dilakukan).
  2. Lalu mungkin harus meluangkan waktu juga.. Mengurangi waktu2 yang dirasa tidak produktif, dan mengarahkannya kepada kegiatan-kegiatan yang produktif dan bermanfaat.

Semoga tulisan di atas bisa dimengerti, dan anda menjadi orang yang semakin tangguh dalam mengatasi masalah.

Hasil Technical Meeting EHEF 2014 – European Union

stakeholder-meeting

Berhubung sudah jam 11 malam, jadi tanpa terlalu banyak intro ini itu, hasil technical meetingnya (yang sudah bisa di-share) sbb:

1. Untuk panggung alumni di EHEF Jakarta, panggung ini tidak dikhususkan bagi alumni Erasmus+ saja.

Lokasinya ada di sebelah kiri peta (lihat floor plan https://emundus.wordpress.com/2014/11/02/mark-your-destination-ehef-floor-plan/)

Jadi, nanti akan kita pakai bersama2, bersama dengan alumni dari beasiswa dan negara lainnya (kalau ada yang mau berpartisipasi).

Karena di sisi kanan peta ada presentasi2 yang sudah terjadwal (lihat https://emundus.wordpress.com/2014/10/29/jadwal-presentasi-ehef-jakarta/), maka pembahasan topik di panggung alumni akan bersifat lebih umum dan practical, tidak spesifik mengenai suatu beasiswa tertentu.

Topik2 yang sudah diusulkan adalah sbb:

  • Cara pembuatan motivation letter
  • Bagaimana meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris (tanpa les/kursus) untuk bisa mendapatkan skor tes yang bagus
  • Sharing mengenai pengalaman hidup, studi, dan adaptasi di Eropa
  • Sharing mengenai tips mendapatkan beasiswa

Keempat topik ini durasinya 1-2 jam, dan kalau tidak ada usulan lain dari exhibitor lainnya, maka keempat topik ini akan dilaksanakan selama dua hari, dengan pembicara yang berbeda-beda, supaya bisa dapat perspektif yang lebih luas.

Jadwal detil akan menyusul kemudian.

2. Quiz untuk menyambut EHEF 2014.

Mulai Senin besok, sampai Jumat, di grup FB, kami akan menyelenggarakan quiz dengan 10 hadiah setiap harinya.

Perlu diperhatikan, bahwa hadiah hanya bisa diambil di booth Uni Eropa, di lokasi penyelenggaraan EHEF (Jakarta / Surabaya / Makassar). Tidak ada pengiriman ke alamat peserta.

Caranya:

  • Pertanyaan bisa diumumkan sewaktu2 di grup FB.
  • Penjawab pertama yang benar adalah pemenangnya.
  • Pemenang akan dihubungi melalui inbox email FB-nya, setelah quiz pada hari tsb selesai.
  • Bila tidak ada konfirmasi dalam 1×24 jam, maka hadiahnya hangus.
  • Khusus untuk quiz hari Jumat, konfirmasi dari pemenang harus diberikan sebelum jam 23.59.

Untuk Senin besok, quiz akan dimulai antara pukul 7-9 malam.

Siap2 pantau grup FB !!

Mark your Destination (EHEF Floor Plan) !!

Tengok floor plan EHEF sebelum datang.

Supaya sesampainya disana, sudah tahu booth yang mau dituju dimana saja letaknya.

floorplan

Jakarta: http://ehef-indonesia.org/wp-content/uploads/2014/10/EHEF2014-FloorplanwithInstitutionsList-Jakarta1.jpg

Surabaya: http://ehef-indonesia.org/wp-content/uploads/2014/10/EHEF2014-FloorplanwithInstitutionsList-Surabaya1.jpg

Makassar: http://ehef-indonesia.org/wp-content/uploads/2014/10/EHEF2014-FloorplanwithInstitutionsList-Makassar1.jpg

Kalau ingin menghadiri presentasi, be prepared at least 15 menit sebelum jamnya, karena biasanya antriannya cukup panjang. Apalagi untuk beasiswa, institusi, atau negara tertentu.

————

Jangan lupa, ada panggung alumni juga.

Saat ini kami masih menyiapkan jadwalnya dan pembicaranya.

Akan diumumkan dalam minggu ini, sebelum EHEF.

Jadi, kalau di presentasi, materinya adalah seputar pengenalan beasiswa Erasmus+, kalau di panggung alumni, materinya adalah hal-hal yang lebih practical, semisal:

  • How to start your Erasmus+ application
  • How to make a good motivation letter
  • How to survive living and studying in other countries

Dll dll..

Sudah siapkah kita untuk Erasmus+? (refleksi dari artikel mengenai IKEA)

Minggu ini di Twitter, snapshot artikel di bawah ini sedang heboh dibahas oleh para netizen Indonesia.

Anyway, topik pembahasan saya bukan ke soal IKEAnya, bukan juga ke soal revolusi mental (seperti yang tertulis di artikel tsb). Intinya adalah mengenai “attitude” pengunjungnya.

Saya ingin mengkaitkan artikel ini dengan Erasmus+, sudah siapkah kita untuk Erasmus+? (yang intinya terkait “attitude” dari calon aplikannya)

—————-

Dalam acara Destination Europe yang saya hadiri minggu lalu, saya berada di kursi penonton.

Bagi yang belum baca liputannya, bisa cek di:

https://emundus.wordpress.com/2014/10/19/talkshow-beasiswa-di-destination-europe-2014/

https://emundus.wordpress.com/2014/10/20/talkshow-beasiswa-di-destination-europe-2014-bagian-2/

Nah, di depan saya,  ada seorang penonton lainnya yang dengan sangat serius dan bersemangat menyimak talkshow. Saking semangatnya, kadang dia bisa tiba2 gebrak meja dan berceloteh sendiri.

Misal saja ketika sang narasumber bercerita “kuliah di Eropa itu sangat menyenangkan karena …”, mendadak dia berteriak “yesss, I want thatttt”. Atau ketika sang narasumber bilang “disarankan belajar bahasa dulu …”, dia gebrak meja, lalu dengan tampang sedih berceloteh “ya gimana gue belajar bahasa, ini aja kuliah masih begini begitu …” (ngedumel).

Pada sesi pertanyaan juga, ada pengunjung yang bertanya “apa sih syaratnya supaya bisa dapat beasiswa, minimal IPK berapa, apply kemana, dll” – pertanyaan klasik yang sering sekali ditanyakan dari waktu ke waktu.

Saya berpikir, dari waktu ke waktu, pameran ke pameran, tahun ke tahun, EHEF pertama sampai EHEF kesekian di 2014 ini, bagaimana caranya bisa menggugah para calon aplikan beasiswa Erasmus+, supaya kita bisa “move on”.

“Move on” dalam artian (inginnya saya), mari kita sudahi pertanyaan-pertanyaan pemula (informasi ada di ujung jari anda, cuma butuh sedikit Googling), keluh kesah yang tidak membawa kita kemanapun, semangat semu menggebu2 yang muncul saat event lalu melempem setelahnya.. Instead, kita bergerak maju.. Letakkan angan-anganmu, mimpimu, visimu, tujuanmu, cita-citamu pada sesuatu yang lebih konkrit yang mungkin bisa membawamu meraih kuliah (dan tentunya jalan-jalan) di Eropa.

Sebab itu, di EHEF Jakarta 8-9 November nanti, yang tinggal 2 minggu lagi, selain ada presentasi dari berbagai lembaga pendidikan dan beasiswa di ruang presentasi, ada juga konsep baru yang disebut “panggung alumni”. Per saat ini, saya masih meminta dari pihak panitia untuk rancangan ruangan dan layout-nya seperti apa. Dengan harapan, panggung alumni ini bisa digunakan secara maksimal, untuk lebih berinteraksi antara calon aplikan dengan alumni, untuk hal-hal yang lebih konkrit, apakah itu pembahasan mengenai bagaimana menulis motivation letter, bagaimana survive di negeri orang, trik khusus untuk berkuliah di Eropa, maupun hal-hal lainnya.

Sebab itu, saran anda semua sangat penting supaya apa yang kami (para alumni) rancang untuk EHEF nanti bisa memenuhi kebutuhan anda.

https://emundus.wordpress.com/2014/10/20/ehef-2014-jakarta-panggung-alumni/

Selamat menikmati hari Minggu.

Follow me on twitter @emundusme

ikea

EHEF 2014 – Jakarta – Panggung Alumni

Sedikit bocoran, di EHEF 2014 mendatang, dari panitia merencanakan akan membuat yang namanya “panggung alumni”. Nah, kira2 topik apa sih yang kamu ingin untuk dibahas oleh para alumni Erasmus+?

Yang jelas, jangan introduksi mengenai Erasmus+ ya.

Infonya sudah banyak banget dimana2 (termasuk di blog ini), dan bisa dipersiapkan baca2 dari sekarang (kalau belum tahu apa itu Erasmus+).

Salah satu ide yang sudah diusulkan adalah mengenai coaching clinic untuk penulisan motivation letter.

Apa ada ide lain?

Silahkan dikomentari.

Kemana saja?

2329935244_cdc56c7689

Beberapa email masuk ke saya menanyakan kemana saja, sudah sekian lama tidak aktif menulis lagi.
Beberapa email lainnya bahkan langsung ke sasaran, dalam artian menyertakan motivation letter untuk direview.

Well, singkat cerita selama 3 bulan terakhir (Juli-September), hampir setengahnya saya gunakan untuk perjalanan sehubungan dengan pekerjaan. Dan karena perjalanannya melibatkan kunjungan ke 2 negara yang masih mengharuskan visa (dengan proses yang cukup berliku-liku) bagi pemegang paspor Indonesia, maka di bulan Juni itu, saya kejar-kejaran dengan kedutaan supaya bisa dapat visa tepat waktu (karena aplikasinya satu per satu, tidak bisa paralel).

Ada beberapa pengalaman menarik yang saya dapatkan sepanjang perjalanan tsb, dan nanti satu per satu akan di-share.

Belakangan ini saya juga berpikir untuk mengubah blog ini ke arah penggunaan domain pribadi.
Bagi anda para pembaca, seharusnya tidak berdampak.
Bagi saya, saya akan lebih punya akses dalam pengaturan blog ini.
Hal ini masih sedang dipikirkan.

Anyway, hari ini, saya hadir di acara Destination Europe 2014 yang diadakan di Balai Kartini, Jakarta.
Acara yang meriah, menarik, dengan banyak kesempatan untuk mendapatkan suvenir dan hadiah dari negara-negara Eropa.

Dalam 2-3 minggu ke depan, juga akan ada EHEF yang kali ini akan diadakan di beberapa kota.
Dari tahun ke tahun, dari pihak alumni, kita selalu berusaha untuk meningkatkan kualitas informasi yang bisa kita berikan pada saat pameran berlangsung. Tahun ini, semoga ada sesuatu yang baru yang bisa kami berikan.

Besok saya akan tulis liputan talkshow hari ini mengenai “Jalan-jalan ke Eropa secara gratis, dengan beasiswa”, dimana 6 orang penerima beasiswa berbagi cerita. Tidak hanya penerima beasiswa dari Erasmus+ (Erasmus Mundus), tetapi hadir juga penerima beasiswa dari Stuned, DAAD, Chevening, Kementerian, dan pemerintah Italia.

Bagi yang follow Facebook “Erasmus Mundus Indonesia” bisa baca 3 liputan singkat dari saya untuk Destination Europe 2014 hari ini.

Selamat malam dan selamat beristirahat.
Sekian dulu update dari saya.

Berkomunikasi dengan penerima beasiswa Erasmus Mundus

“Saya tertarik program X nih, mohon dibantu dihubungkan dengan alumni program X dong, supaya saya bisa tanya2”. 

Pertanyaan semacam ini kerap kali muncul di dalam tanya jawab di blog ini. Namun, memang sedikit sekali yang bisa terlayani. Mengapa demikian?

Pertama, karena para pengasuh blog ini sifatnya adalah volunteer, maka belum tentu kami punya data para penerima beasiswa EM.

Kedua, kalaupun kami punya, ada yang namanya confidentiality. Belum tentu si penerima beasiswa senang bila emailnya dipublish di forum umum semacam ini. Kadangkala, bila ada waktu dan ada datanya, kami memforward request si peminat program X ke penerima beasiswa program X (alamat emailnya ditaruh di BCC supaya tidak ketahuan oleh si peminat). Bila memang si penerima beasiswa bersedia membantu, maka dia bisa reply ke si peminat, dan komunikasi bisa berlanjut di antara mereka.

Ketiga, karena di EM ini sifatnya bebas, tidak ada ikatan, maka tidak ada jaminan juga bahwa para penerimanya mau aktif untuk membantu anak-anak bangsa lainnya yang membutuhkan beasiswa untuk melanjutkan kuliahnya ke tingkat lebih lanjut S2/S3, di luar negeri (Eropa).

Bila dibandingkan dengan beberapa beasiswa lain (yang saya tahu), EM memang tidak mengharuskan applicantnya untuk memiliki background aktivitas organisasi. Setelah lulus EM pun, tidak ada ikatan sama sekali bagi para penerimanya. Mau lanjut S3 boleh, mau kerja di Eropa boleh, mau kembali ke negara asal dan masuk dunia kerja boleh, mau jadi pengajar boleh.

Jadi, tentunya ada pilihan juga, mau aktif menyebarkan berita mengenai peluang EM dan membantu generasi berikutnya supaya bisa tembus EM, atau mau lebih fokus di aktivitas/pekerjaan, fokus di keluarga, dll. Pada intinya ini adalah pilihan masing-masing orang, dan tidak ada benar-salah. Semua kembali ke pribadi setiap orang.

Setiap orang mungkin memang punya cara masing2 untuk melakukan promosi EM versinya. Ada yang mungkin buka tanya-jawab di blognya, ada yang di facebooknya, dll. Namun, kalau bisa 1 platform dan 1 tempat, why not.. Tinggal subscribe saja di blog ini, kalau ada comment/post baru, maka notifikasinya akan masuk ke email yang bersangkutan. Kalau pas pertanyaannya berkaitan, luangkan sedikit waktu untuk bantu menjawab. Seharusnya tidak terlalu memakan resource dan waktu. Tetapi, again, ini sesuatu yang tidak bisa dipaksa 😉

Pada kondisi saat ini, baru saya agak tersadar, mengapa beasiswa lain mengharuskan kegiatan berorganisasi. Mungkin salah satu alasannya adalah supaya ada komunitas yang tercipta dari para penerima beasiswa tsb, dari berbagai keahlian, yang secara bersama mereka diharapkan dapat menghasilkan sesuatu yang lebih besar lagi, dibandingkan kalau masing2 berjalan dengan keahlian masing-masing.

————————-

Sedikit beralih topik. Kalau Anda datang ke acara presentasi EM yang marak ada di berbagai tempat, maka presenternya belum tentu penerima beasiswa EM lho. Saat ini kami memiliki beberapa volunteer promoter yang begitu aktif membantu promosi EM ini, ditanya2i layaknya orang yang sudah pernah menerima beasiswa EM, tetapi sejujurnya mereka pun belum mendapat kesempatan tsb.

Kontribusi mereka secara pribadi sangat saya hargai, dan saya kepikiran, ada jalur “titipan” ga ya di EM. At least volunteer2 yang saya maksudkan ini sudah kelihatan bagaimana kontribusinya, dan lebih bisa diharapkan untuk promosi EM di masa depan.

Nanti saya coba tanya2 deh tentang jalur titipan.. Semoga ada, dan semoga EM ga salah pilih penerima beasiswa lagi.

Salah satu perkataan bijak yang saya suka adalah “data/fakta yang tidak diketahui/tidak bisa dibaca orang lain adalah tidak berguna”. Jadi, buat saya, orang2 yang seharusnya bisa bantu memberi informasi, tetapi tidak memberikannya (entah alasannya apa), lebih baik sih ga usah dikasih beasiswa saja.

Tentunya statement di atas bukan berarti, point penilaian satu2nya adalah aktif organisasi lho ya. Aktif organisasi kalau nilai jeblok juga mungkin ga dilirik oleh konsorsium. Why?? Karena konsorsium sendiri pun dinilai oleh Komisi Eropa mengenai performance-nya. Inilah mengapa setiap tahun, program2 itu dievaluasi, ada yang keluar dari list beasiswa, digantikan oleh program lain. Dinilainya dari mana? Ya dari performance student2nya. Inilah mengapa, yang nilainya bagus, peluangnya lebih besar.

Tetaplah berjuang !!

Dan kalau tahun ini Anda dapat beasiswa EM, jadilah orang yang mau membantu generasi berikutnya. Salah satunya ya dengan bantu jawabin pertanyaan2 di blog ini 😉 –> ini bukan promosi blog, tetapi untuk Indonesia, blog ini adalah one-stop blog untuk EM.. walaupun ga semua pertanyaan bisa dijawab secara memuaskan, karena sekali lagi, sifatnya adalah volunteer, bukan representative. Kalau ada yang nanya mengenai program di luar program saya, atau mengenai EMJD atau Action 2, ya susah jg jawabnya karena saya belum pernah mengalami semua itu. Kalau selama ini bisa dijawab ya dari hasil baca2 dan tanya2 ke orang yang lebih berpengalaman.

Talkshow Erasmus Mundus (Plaza Senayan)

Tanggal 15-16 Mei 2010, bersamaan dengan perayaan Hari Eropa (Europe Day), kantor Delegasi Uni Eropa untuk Indonesia mengadakan acara di Plaza Senayan dengan mengusung tema Dua Belas Bintang: Uni Eropa dan Anda.

Salah satu acaranya adalah talkshow Beasiswa Erasmus Mundus yang diadakan selama 1 jam, mulai pada jam 4 sore. Acara ini menampilkan 3 alumni Erasmus Mundus yang menceritakan pengalaman unik, menarik, serta tips-tips praktis seputar beasiswa Erasmus Mundus.

Bila anda tidak sempat hadir pada acara tsb, materinya bisa diunduh pada link di bawah ini (65 KB).

Erasmus Mundus Society Care III

The last week-end in April 2010 became one of the most exhilarating week for Indonesian EMA members when they hold their networking event, titled Erasmus Mundus Society Care III: Giving back to the environment.

The idea of Erasmus Mundus Society Care (EMSC) dated back to January 2010, when several Indonesian EM alumni took initiative to organize two social events for orphanage community in Bandung and Jakarta. Both events ran smoothly and attained support from The Delegation of European Union to Indonesia and various donors coming from the professional network of the alumni.

EMA Networking Event (EMANE) is a scheme provided by EMA to to enhance communication among EMA members from different Erasmus Mundus Master Courses (EMMCs), including students and alumni from different years of the same EMMC.

Erasmus Mundus Society Care III: Giving back to the environment was organized by using EMANE scheme. It was scheduled for two days: 24-25 April 2010 at Pramuka island which is located approximately one and a half hour boat trip from Jakarta harbor. There were 16 alumni from 2005-2008 year of entry that joined this event.

On the first day, the alumni went for snorkeling to observe the coral reef community around Pramuka island as the basis for the coral reef restoration activity that would be done the next day. As home of the third world’s total corals, Indonesian archipelago has suffered extremely from fishing and bleaching due to climate change.

At night, the alumni gathered for the networking event. Various topics were discussed, among them were: the relation between the country and SEA chapter, EM promotional events to remote/rural areas, cooperation with other scholarships’ alumni, idea of doing coaching-clinic sometime in the second half of 2010, etc.

On the second day, the alumni went for the main activity of the theme “giving back to the environment”. The first one was sea turtles conservation where they release 3-month old baby turtles to their natural habitat. The second one was mangrove plantation. The re-plantation of mangrove can conserve the ecology and resume the initial function on mangrove forest in the ecology. The third one was coral reef restoration which provides shelter for most of the marine species yielding tons of resources for fishery.

This kind of networking event combined with real-life activities such as environment restoration gave unforgettable experiences for the alumni. In addition, the bond and network between the participants became much stronger which will benefit Erasmus Mundus, EMA, and the alumni itself for future cooperation.

Alumni Sharing Session: Indonesian EM Alumni Inviting Other Fellow Alumni Scholars

Following Erasmus Mundus Society Care activities in Jakarta and Bandung, the Indonesian EM alumni co-organized an “Alumni Sharing Session” with Center of Leadership Counseling for Strategic Human Resources (PPSDMS) Nurul Fikri. The event was held in Jakarta, last Saturday, aiming for the undergraduate students who are interested in pursuing their study further.

In order to present wider range of available opportunities, Indonesian EM alumni invited fellow alumni from other scholarships. On that Saturday morning session, five EM alumni with alumni from Baden-Wuttenberg, Stuned, NFP, and from University of Virginia came and sat together with one shared spirit, passion for sharing.

A presentation on activities and achievements of PPSDMS Nurul Fikri remarked the beginning of the event. Since 2002, PPSDMS has been consistently preparing their grantee students to be future leaders through their programs, which in this occasion is discussion on after-graduation activities.

This Alumni Sharing Session stands as a forum for dialogue between nine alumni and a group of potential students. Indonesian EM Alumni representatives (Mr. Efrian, alumnus of MScEF, 2006; Ms. Anggita, alumna of QEM, 2006; Ms. Rythia, alumna of QEM, 2007; Ms. Carroline, alumna of EMCL, 2007; and Ms. Irmanda, alumna of ME3, 2007) presented the Erasmus Mundus scheme and the application procedures for admission on 2011. The crowd’s enthusiast could be seen from the many questions raised during the Q&A session afterwards.

The other alumni also had the chance to tell their stories on the panel discussion led by Ms. Rythia. Ms. Vika started with her story on how her professor has recommended Baden-Wuttenberg Scholarship as a source of finance for her study in Stuttgart University, Germany. Another story comes from Mr. Aldy who was admitted to the University of Virginia, in the U.S. and awarded the scholarship right after graduation. A different story from Ms. Rani, an alumna from the Netherlands Fellowship Program (NFP), saying that the she made her way to Netherlands after showing solid link between her background and the program she was interested in. Thereafter, Mr. Nuri explained that his scholarship, Stuned, comes from different source of funding than NFP, even though both are for the Netherlands.

In between their stories, the alumni implicitly recommended several actions which could boost their prospects. Responding to the questions from the floor, all the nine alumni offered handy tips from their very own experiences, in particular on the right timeline for application, the keys to a powerful motivation letter, and the strategy to approach the professors. It was also advised to link tightly the former academic background with the intended master program so that the gap is less, particularly, in the case of cross-disciplinary.

Furthermore, the crowd was continuously encouraged to creatively improve their English and any other languages not only from the book but also from daily practices. More importantly, it is important to be persistent in exploring all the opportunities. In the end of the session, executing a request from one of the audiences, each alumnus shared their personal motivation to attain the scholarship and what they believe as their personal strength to be finally selected for the scholarship.

The alumni are grateful for the opportunity to have shared their savoir-faire to the crowd seeking for scholarship opportunities and to, at the same time, have learnt from others.

Although Erasmus Mundus is one of the youngest education excellence nameplates, this pioneering activity has formed the first steps moving towards the big dream of contributing to the community for a better nation.

PPSDMS: www.ppsdms.org