Semuanya adalah Pilihan

Erasmus Mundus (yang sekarang disebut Erasmus+), adalah salah satu beasiswa yang membebaskan penerimanya untuk menentukan masa depannya setelah lulus.

Beberapa pilihan teman-teman saya:

  • Lanjut S3 di Eropa (dengan beasiswa Erasmus+ ataupun lainnya)
  • Kerja di Eropa
  • Merajut hidup baru (menikah) dan tinggal di Eropa
  • Kembali ke Indonesia dan bekerja sebagai PNS
  • Kembali ke Indonesia dan bekerja sebagai akademisi
  • Kembali ke Indonesia dan bekerja di bidang swasta
  • Kembali ke Indonesia dan berwiraswasta
  • Kembali ke Indonesia dan terjun ke dunia politik

dan berbagai kemungkinan lainnya.


Dalam sebuah acara kumpul-kumpul dengan beberapa alumni Erasmus Mundus (EM) bulan lalu, baru terkuak bahwa salah satu di antara kami akan segera melanjutkan pendidikan lagi ke Jerman (per hari ini, dia sudah 1 minggu berada di sana), dengan pendanaan dari salah satu beasiswa lokal.

Keputusan yang agak mengejutkan, karena ternyata dia akan menempuh program S2 lagi (walaupun dengan jurusan yang berbeda 180 derajat dengan S2 sebelumnya). Yang lebih mengejutkan, jumlah beasiswa yang akan dia dapatkan hanyalah sekitar 50% dari yang dia peroleh 10 tahun lalu, sebagai penerima beasiswa EM. Terus terang, dengan jumlah segitu, rasanya akan sangat pas-pasan untuk biaya hidup di Jerman.

Anyway, keputusan dan keberanian teman saya ini patut dihargai.
It is his life, and as long he is happy with it, then there is nothing wrong in it.

Di sinilah menurut saya, ada yang namanya passion.
Harus diakui, ada orang-orang yang memang suka berkecimpung di dunia akademik, suka menimba ilmu, suka memperluas pengetahuan melalui berbagai mata kuliah. Dan juga sambil memperluas pengalaman melihat dunia tentunya.

Pengalaman saya pribadi, menjadi mahasiswa adalah salah satu kesempatan terbaik untuk bisa punya waktu luang yang banyak untuk traveling dan melihat sisi lain dunia (dibandingkan dengan kerjaan kantoran hehehe..).


Ada seorang teman lain lagi.
Kami dulu berjuang bersama-sama menempuh S2 di kota dan universitas yang sama di Eropa. Setelah lulus, dan kembali ke Indonesia, tidak lama kemudian dia kembali ke Eropa (Belgia) untuk melanjutkan studi S3. Menyusul kemudian, istri dan kedua anak balitanya. Anak ketiganya baru saja lahir beberapa bulan yang lalu.

Bisa dibilang, dalam 10 tahun terakhir, mungkin 7 tahun sudah dia habiskan di Eropa.
Namun, kondisi Eropa yang teratur, bersih, transportasi yang nyaman, ataupun fasilitas penunjang akademik yang luar biasa, tidak membuat dia untuk memutuskan untuk menghabiskan sisa hidupnya di Eropa. Hatinya ada di Indonesia, kampung halamannya, keluarga besarnya, dan teman-teman masa lalunya.

Apakah ada yang salah? Sekali lagi, tidak.
Setiap orang memiliki pilihan, seperti apa dia ingin merajut masa depannya.


So, what I am trying to say?

  1. Waktu terus berjalan maju, usia terus bertambah (tidak bisa mengulang waktu yang sudah lalu)
  2. Pikirkan baik-baik masa depanmu, keputusanmu hari ini mungkin menentukan masa depan hidupmu
  3. Make good decision for your life, and don’t regret it !!
    Boleh saja mendengar saran dan minta pendapat dari orang lain, tetapi keputusan terakhir ada di tanganmu. It’s your life, by the way !!  😉

life

 

Advertisements

Comfort Zone itu Memang Enak

Untuk menunjang kebutuhan berselancar di dunia maya, saya berlangganan jasa internet mobile dari salah satu provider. As usual, menjelang masa berlaku paket akan berakhir, maka si provider akan memberikan notifikasi, dan saya pun memperpanjang paket tersebut.

Rutinitas seperti ini sudah berlangsung cukup lama, sampai baru-baru ini saya tahu, kalau ternyata sudah ada paket baru yang lebih menarik yang sudah diluncurkan beberapa waktu.

Agak geregetan memang, karena paket yang baru ini lebih sesuai untuk kebutuhan saya. Biaya dan layanan yang ditawarkan lebih optimal.

Namun, dipikir-pikir, tidak bisa menyalahkan si provider karena tidak memberitahu kepada saya mengenai adanya paket baru ini. Lebih kepada dari sisi saya yang memang sudah nyaman dengan paket lama (comfort zone), dan tidak melihat-lihat tawaran baru yang tersedia.


Hal serupa bisa juga terjadi pada beasiswa.

Pada umumnya, fokus kita hanya tertuju pada beasiswa-beasiswa yang sudah “punya nama” dan sudah kita tahu. Satu hal yang pasti, semakin terkenal beasiswa tersebut, berarti semakin banyak aplikan-nya, dan otomatis tingkat persaingannya pun akan semakin ketat (analogi yang sama untuk tingkat persaingan masuk PTN, ada universitas dan jurusan tertentu yang sangat tinggi passing grade-nya).

Padahal ada kemungkinan, ada peluang beasiswa-beasiswa lain yang mungkin juga cocok dengan apa yang kita cari. Jadi, jangan tutup mata, dan teruslah menggali informasi yang ada (baik pasif maupun aktif) !!


Dulu saya lulus S1 di tahun 2004 dan langsung cari-cari beasiswa setelahnya.

Program Erasmus+ (yang dulu namanya masih Erasmus Mundus, disingkat EM) baru dimulai di tahun 2004, tetapi saya tidak tahu akan adanya peluang itu. Sedangkan, salah satu teman yang lulus bareng saya (universitas yang sama, tetapi fakultas yang berbeda), dia malah sudah apply dan dapat beasiswa EM di 2004 (karena fakultasnya punya kerja sama dengan salah satu konsorsium EM). Jadi, ada faktor keterbatasan informasi juga di sini.

Singkat cerita, saya baru dapat EM di tahun 2006 (mulai kuliah Oktober 2006, pengajuan aplikasinya sudah dari akhir 2005). Di kala itu, mungkin karena baru 2 tahun berjalan, sepertinya belum terlalu banyak yang tahu.

2006em

(Intermezzo dikit, foto di atas diambil Agustus lalu, dimana saya dan teman2 seangkatan 2006 baru saja merayakan peringatan 10 tahunan di acara Erasmus+ Pre Departure 2016 di hotel Pullman, Jakarta)

Baru di tahun-tahun selanjutnya, karena semakin banyak yang membicarakan mengenai EM, juga banyak informasi di internet (melalui blog ini salah satunya), maka EM menjadi makin populer sampai saat ini (dan tentunya persaingan menjadi semakin ketat, persyaratan seleksi menjadi semakin banyak).

Ibarat kata, kalau dulu itu, universitas yang butuh mahasiswa (untuk diberikan beasiswa), sekarang ini kebalikannya. Makanya dulu pendaftaran beasiswa EM begitu sederhana dan praktis, dibandingkan sekarang, beberapa pembaca bertanya mengenai biaya pendaftaran, dokumen ini itu yang harus disediakan.

Anyway, jangan putus asa dan jangan terpaku dengan beasiswa Erasmus+ (atau beasiswa terkenal lainnya). Tetap buka mata untuk peluang-peluang lainnya. Who knows, you will find the next “Erasmus+” !!

Selamat berjuang !!

 

European Union Scholarships Fair, Medan (19 October 2016)

European Union Scholarships Fair

List of Exhibitors:

Embassy of Ireland | Study in Sweden – Swedish Embassy | Embassy of Poland | Campus France – IFI | DAAD Germany | Nuffic Neso Netherlands | Uni-Italia | European Union

More information:

http://eeas.europa.eu/delegations/indonesia/11109/european-union-visits-medan_en

It isn’t exciting, but it’s a must

Pernahkah Anda mendapatkan suatu tugas yang rasanya sulit sekali untuk dilakukan?
Tugasnya sih tidak mustahil untuk dilakukan, tetapi motivasi untuk mengerjakannya itu yang hampir tidak ada.

Hal-hal seperti ini ada dalam berbagai aspek kehidupan, misalkan saja pada kegiatan akademik, ada tugas kuliah, baca paper/jurnal, riset mengenai hal baru, buat skripsi, dan sebagainya. Demikian pula pada aspek kehidupan lainnya semisal dunia kerja, rumah tangga, kegiatan organisasi, dan lainnya.

Yang lebih parah adalah kalau hal-hal ini wajib untuk diselesaikan. Semakin menundanya berarti semakin menumpuk pekerjaan “outstanding“.

Menunda untuk memberi kesempatan diri beristirahat, atau menumbuhkan motivasi baru, atau sekedar recharge diri, terkadang memang diperlukan supaya bisa lebih produktif ketika memulai kembali. Namun, bila terus-menerus menunda, then this is not a good sign. Karena, in the end, toh tugas-tugas tersebut harus diselesaikan juga.

Jadi, lebih baik diselesaikan sesegera mungkin, supaya tidak lama-lama membebani pikiran. It is about how you control your mind.


Dalam mencari beasiswa, apa tantanganmu hari ini?
Misal saja:

  • Menyiapkan motivation letter
  • Menyiapkan diri (belajar) untuk tes kemampuan Bahasa Inggris
  • Mencari tahu beasiswa-beasiswa yang tersedia, apa persyaratan dan ketentuannya
  • dan lainnya

Sebisa mungkin, siapkan apa yang sudah bisa disiapkan.

Sehingga ketika kesempatan beasiswa yang dinanti datang, Anda sudah siap dengan amunisi lengkap untuk memenangkan perlombaan tersebut.

Semoga mencerahkan !!

Semua ada kelebihan (dan juga kekurangannya)

Belakangan ini, saya cukup sering menggunakan transportasi berbasis aplikasi online. Tanpa bermaksud mempromosikan merk (tulisan ini bukan pesanan siapapun), saya banyak menggunakan Uber dan Gojek.

Tetapi, ada kalanya juga, di saat atau kondisi tertentu, saya menggunakan taksi berlisensi.

Anyway, inti tulisan saya bukanlah tentang transportasi (ulasan berikut hanya untuk memberi bayangan saja, bukan ulasan komprehensif mengenai perbandingan moda transportasi).

Keunggulan Uber (motor) dan Gojek (motor): 

  • Mudah didapatkan, jam berapapun, tinggal pesan via aplikasi
  • Harga ekonomis (kalau Uber berdasarkan jarak dan waktu, kalau Gojek sudah ditentukan di awal berdasarkan inputan lokasi asal dan tujuan)
  • Relatif lebih cepat menembus kemacetan, dibandingkan mobil

Kelemahannya:

  • Kalau hujan, ya kehujanan; kalau panas, ya kepanasan
  • Terpapar debu sepanjang perjalanan (dibandingkan bila naik mobil)

Keunggulan Uber (mobil) dan Gojek (mobil)

  • Lebih nyaman dibanding motor, dan lebih murah dibandingkan taksi berlisensi
  • Jenis mobil umumnya menggunakan MPV, sehingga lebih banyak tempat bila membawa barang (misal: koper)

Kelemahannya:

  • Terkena peraturan ganjil-genap di beberapa ruas jalan di Jakarta
  • Di beberapa tempat publik (misal: mal, airport), pada umumnya harus menunggu sampai kendaraan datang (dibanding taksi yang sudah standby di pangkalannya)

Keunggulan taksi berlisensi

  • Tidak kena peraturan ganjil-genap
  • Bila ada pangkalan (dan tidak ada antrian panjang), taksi bisa didapatkan lebih cepat dibandingkan kendaraan yang dipesan via aplikasi online

Kelemahannya

  • Harga lebih tinggi

Nah, dalam hubungannya dengan usaha kita untuk meraih sesuatu yang lebih baik, apakah itu beasiswa, pekerjaan, bisnis/usaha, ataupun pasangan hidup, setiap orang pasti memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Terkadang memang mudah melihat “kelebihan/keunggulan” orang lain, sebagaimana pepatah “rumput tetangga lebih hijau”, tanpa menyadari bahwa diri kita juga tentunya punya sesuatu kelebihan, entah itu sudah tampak, atau masih menunggu untuk dimunculkan.

Dalam beberapa reuni dengan teman-teman sekolah di masa lalu, saya melihat bahwa tidak selalu, mereka yang dulunya ranking top 5, populer di sekolah, berpengaruh, saat ini, ada dalam posisi yang sama seperti dahulu. Ada teman-teman yang dulunya biasa-biasa saja, kurang menonjol, tetapi sekarang menjadi seseorang yang mengagumkan.

Jadi, pendapat saya, tergantung bagaimana setiap orang mau “menerima” kondisi dirinya, mengenali kekuatan dan kelemahannya, tidak berputus asa terhadap kelemahan, dan mencari jalan bagaimana bisa menjadi sukses, berhasil, dan meraih apa yang dia berani impikan/cita-citakan.

Sebuah kutipan mengatakan “The journey of a thousand miles begins with one step”. Jadi, jangan berfokus pada kelemahan dan kekuranganmu. Tetaplah miliki impian, dan berjalanlah ke arah yang yang dicita-citakan.

Semoga mencerahkan !!

EHEF 2016 is coming

Sebagaimana tahun2 sebelumnya, tahun ini, kembali akan diadakan European Higher Education Fair.

Ada 3 kota yang akan dituju tahun ini:

  • Yogyakarta (2 November 2016)
  • Jakarta (5-6 November 2016)
  • Surabaya (8 November 2016)

Book your schedule on those dates !!

Petunjuk lebih lengkap bisa cek di website http://ehef-indonesia.org/

EHEF visitors

Fosbury Flop

Kemarin ini, saya menghadiri sebuah pelatihan di Jakarta.

Dalam pelatihan ini, salah satu materi yang diberikan, yang saya rasa bisa dikaitkan dengan pencarian beasiswa, adalah mengenai “Fosbury Flop”.
Saya coba Google, salah dua artikel yang menarik bisa dibaca di sini:

https://the16percent.com/2013/06/12/it-depends-on-how-you-define-flop/

http://jamesclear.com/dick-fosbury

dick-fosbury-mexico-city-high-jump

(Gambar diambil dari http://jamesclear.com/)

 

Seperti bisa dibaca di artikel tersebut, sebelum Fosbury bisa membuktikan konsepnya, banyak ejekan, banya ketidak percayaan.
Namun, di sini lah dibutuhkan keberanian untuk melangkah sesuai “kata hati”.

Bagaimana dengan beasiswa?
Kalau dilihat, syarat2 beasiswa kan itu-itu saja: ijazah, transkrip nilai, nilai kemampuan bahasa Inggris, dll.
Apa yang bisa membedakan adalah hal-hal yang sifatnya “subjektif” (tidak hitam putih), misalnya: motivation letter, statement of purpose, CV yang mudah dibaca, dll.
Tentunya banyak contoh dokumen2 tersebut yang tersedia di internet, maupun di komunitas pencari beasiswa, yang bisa dijadikan referensi.

Namun, perlu diingat, dokumen milik si A yg sudah mendapatkan beasiswa, belum tentu cocok untuk si B.
Perlu untuk bisa “membaca” kemauan pemberi beasiswa itu kira-kira seperti apa, dan untuk hal tersebut, butuh usaha “lebih”.

Tidak ada benar salah, hanya pastikan saja jangan sampai menyesal di masa depan, karena waktu tidak bisa berulang.
Gunakanlah waktu sebaik-baiknya untuk investasi masa depanmu.


Apa itu beasiswa Erasmus+?
Bisa baca di: https://emundus.wordpress.com/selamat-datang/

Cara daftarnya?
Bisa baca di: https://emundus.wordpress.com/2012/11/10/coba-yuk-step-by-step-apply-emmc/