Surat dari Morningside Height

Saya mengenal Kristiono karena kami berkerja di tempat yang sama. Minggu lalu, dia mengundurkan diri dari perusahaan, untuk melanjutkan pendidikannya. Berikut adalah sharing dari dirinya. Petiklah pelajaran dari pengalamannya. Semoga menginspirasi !!

Tulisan aslinya ada di sini:
https://www.facebook.com/notes/kristiono-kristiono/surat-dari-morningside-height/10154674528190907?qid=6370989608353686642&mf_story_key=7947207293618612201

Salam kenal, saya Kristiono, mahasiswa program Master of Business Administration (MBA) di Columbia Business School, New York. Saya anak petani dari Lampung dan untuk kesekian kalinya saya rela berpisah sementara dari keluarga yang saya cintai demi mengejar cita-cita. Tapi walau jarak terpisah jauh, saya berkhidmat untuk berusaha lebih banyak membina komunikasi yang baik dengan keluarga, sekaligus menjalin relasi baru dengan orang-orang luar biasa yang akan saya temui dalam perjalanan ini. Melalui surat ini saya ingin berbagi tiga pelajaran penting yang saya dapatkan dalam upaya menggapai cita-cita saya berkuliah di salah satu universitas terbaik dunia.

Pertama, saya membuat peta jalan yang jelas. Peta jalan yang jelas membantu saya lebih fokus dan tidak menyia-nyiakan sumberdaya saya yang terbatas, baik itu waktu, energi, maupun keuangan. Buat saya, peta jalan bak pengejawantahan niat yang bulat. Terpatri dalam logika pikiran sadar, tertanam dalam lubuk hati, dan tertulis di sebuah catatan. Bahwasanya Kristiono, dengan seizin Tuhan, bisa lulus pendidikan MBA dari kampus bergengsi. Saya menuliskan peta jalan ini sejak tahun 2014. Jadi, membuka tahun 2017 dengan mengawali perkuliahan bukanlah awal dari sebuah cita-cita besar, tapi “sudah” separuh akhir dari sebuah perjalanan yang saya mulai sejak tiga tahun silam. I am very excited!

Kedua, saya bekerja dengan segenap kemampuan. Disamping keberuntungan, saya percaya bahwa berani punya cita-cita besar kudu dibarengi sikap siap bekerja sepenuh hati demi menggapainya. Ibarat membangun rumah, peta jalan hanyalah gambar desain di atas kertas. Perlu kerja keras nan bercucuran keringat guna mewujudkan gambar menjadi sebuah bangunan. Saya pikir Ini adalah hal yang niscaya, saya boleh punya rancang bangun hasil karya arsitek ternama, tapi tanpa kerja nyata mustahil sebuah bangunan rumah bisa berdiri. Di fase ini saya jumpai banyak sekali hambatan. Tapi di fase ini pula saya belajar bahwa hambatan apapun bisa saya lalui berbekal ketekunan, tekad, dan keluwesan dalam melakukan penyesuaian-penyesuaian di lapangan. Aplikasi MBA saya ditolak tiga universitas sebelum akhirnya diterima oleh Columbia University. Almamater Presiden Obama ini bukan merupakan universitas impian saya. Tapi ya sudahlah, ibarat pepatah, tiada rotan akar pun jadi. Toh saya tetap bisa kuliah MBA di kampus berkelas. I wrote a plan, and I expect little adjustments along the way!

Ketiga, mintakanlah pertolongan Tuhan. Saya sangat bersyukur, dalam perjalanan meraih cita-cita, saya banyak mendapatkan pertolongan Tuhan melalui orang-orang yang dengan tulus bersedia membantu saya. Pertama, dari segi biaya, mustahil bagi saya untuk bisa membayar uang kuliah MBA yang sangat mahal. Alhamdulilah, saya mendapat beasiswa LPDP dari pemerintah Indonesia. Kedua, dari sisi kualifikasi, dengan bekal IPK 3,28 dan pengalaman kerja sebagai pegawai bank, sangat beruntung saya bisa diterima program MBA di Columbia Business School (CBS). Ini tak lepas dari bantuan teman-teman dari kantor, senior di ITB, dan orang Indonesia alumni CBS yang telah dengan sangat baik hati memberikan masukan untuk memaksimalkan peluang saya diterima dalam program ini. Saya berdoa agar budi baik mereka, disiapkan balasan istimewa oleh Tuhan yang maha kuasa.

Akhir kata, saya berprinsip bahwa perbuatan yang baik tujuannya, pasti baik pula hasilnya. Jika belum mendapatkan hasil sesuai harapan, jangan patah semangat. Terus berusaha dengan ikhlas. Melangkah pelan-pelan, setiap hari kita semakin dekat dengan tujuan. Salam dari Morningside Height, New York!

Fosbury Flop

Kemarin ini, saya menghadiri sebuah pelatihan di Jakarta.

Dalam pelatihan ini, salah satu materi yang diberikan, yang saya rasa bisa dikaitkan dengan pencarian beasiswa, adalah mengenai “Fosbury Flop”.
Saya coba Google, salah dua artikel yang menarik bisa dibaca di sini:

https://the16percent.com/2013/06/12/it-depends-on-how-you-define-flop/

http://jamesclear.com/dick-fosbury

dick-fosbury-mexico-city-high-jump

(Gambar diambil dari http://jamesclear.com/)

 

Seperti bisa dibaca di artikel tersebut, sebelum Fosbury bisa membuktikan konsepnya, banyak ejekan, banya ketidak percayaan.
Namun, di sini lah dibutuhkan keberanian untuk melangkah sesuai “kata hati”.

Bagaimana dengan beasiswa?
Kalau dilihat, syarat2 beasiswa kan itu-itu saja: ijazah, transkrip nilai, nilai kemampuan bahasa Inggris, dll.
Apa yang bisa membedakan adalah hal-hal yang sifatnya “subjektif” (tidak hitam putih), misalnya: motivation letter, statement of purpose, CV yang mudah dibaca, dll.
Tentunya banyak contoh dokumen2 tersebut yang tersedia di internet, maupun di komunitas pencari beasiswa, yang bisa dijadikan referensi.

Namun, perlu diingat, dokumen milik si A yg sudah mendapatkan beasiswa, belum tentu cocok untuk si B.
Perlu untuk bisa “membaca” kemauan pemberi beasiswa itu kira-kira seperti apa, dan untuk hal tersebut, butuh usaha “lebih”.

Tidak ada benar salah, hanya pastikan saja jangan sampai menyesal di masa depan, karena waktu tidak bisa berulang.
Gunakanlah waktu sebaik-baiknya untuk investasi masa depanmu.


Apa itu beasiswa Erasmus+?
Bisa baca di: https://emundus.wordpress.com/selamat-datang/

Cara daftarnya?
Bisa baca di: https://emundus.wordpress.com/2012/11/10/coba-yuk-step-by-step-apply-emmc/

 

Tips Jitu Mendapatkan Beasiswa Itu….

Terus terang sebenarnya saya bukan orang yang paling tepat untuk membahas topik ini. Ada lebih banyak alumni Erasmus+ (dulu Erasmus Mundus) yang semangat untuk mengejar beasiswanya jauh lebih hebat dari saya. Kalau ditanya tentang bagaimana cara sukses mendapat beasiswa atau apa tips jitu untuk dapat beasiswa, saya akan jawab saya tidak tahu. I really have NO idea. (Terus ngapain bikin postingan ini?) Well, karena saya tahu bagaimana tips jitu untuk menghancurkan perjuangan tersebut. Ha ha ha ha. 😀

Dearest teman-teman yang ingin mendapatkan beasiswa (dengan alasan apapun, dengan motivasi apapun),

Ketahuilah, salah satu cara termudah untuk gagal mendapatkan beasiswa adalah dengan berhenti berusaha. You missed 100% chance of every shot you didn’t take. Berusaha dengan setengah hati? Buat saya, itu sama parahnya.

Tanpa kita sadari sebenarnya setiap hari, setiap waktu yang kita habiskan di sekolah, di ruang kuliah, atau di tempat kerja, akan berefek pada keberhasilan kita mendapatkan beasiswa, kalau memang salah satu tujuan hidup kita dapet beasiswa lho ya. (Ah moso’ sih?) Eh… beneran ini. 🙂

Kalau diingat-ingat, biasanya cari beasiswa itu syarat utama yang selalu diminta adalah CV (Curriculum Vitae atau Daftar Riwayat Hidup), Motivation Letter, dan Recommendation Letter. Bagaimana kita mau buat CV yang keren, kalau kita tidak pernah melakukan sesuatu? Bagaimana mau bikin motivation letter yang menarik, kalau bahkan besok pagi mau ngapain aja tidak terpikir? Bagaimana mau minta Recommendation Letter yang benar-benar menggambarkan kemampuan kita (atau bahkan lebih dari itu), kalau kita tidak pernah berinteraksi dan menjalin hubungan baik dengan orang yang akan kita mintai rekomendasi?

“Tapi tapi tapi tapi… CV saya keren, motivation letter saya luar biasa, pemberi rekomendasi saya adalah orang-orang hebat di bidangnya, dan saya masih gagal mendapatkan beasiswa. Hidupku hampa. Aku terjatuh dalam lautan luka dalam dan tak sanggup bangkit lagi. Toloooooong….”

*doeeeeng, sebentar, saya mau pingsan dulu*

Sampai dimana kita tadi ya? Ada banyak sekali kemungkinan kenapa beasiswa kita tidak dikabulkan (dan sebagian besarnya diluar kontrol kita). Mungkin pemberi beasiswa merasa  dengan kualifikasi dimiliki kita tidak perlu diberi beasiswa, bisa jadi pemberi beasiswa menganggap kita tidak memenuhi target group yang diinginkan, bisa juga karena alasan-alasan sepele seperti ‘kelewatan baca aplikasi kerennya, Bro’. Saya tahu yang terakhir itu nggak lucu, but it might happen, memangnya yang kirim aplikasi cuma 20 orang? Trus kenapa hidupmu jadi hampa? Katanya CVnya keren? Katanya motivation letternya luar biasa? Katanya pemberi rekomendasinya orang-orang hebat?

Saya ingat sekali, angkatan saya dulu dipenuhi dengan anak-anak fresh graduate. Bisa dibilang 80% fresh graduate dan 20% sisanya adalah orang-orang yang sudah memiliki karier dan ingin memperdalam pengetahuannya. Tahun berikutnya, isinya sebagian besar orang-orang yang sudah mapan kariernya dan sedikit sekali fresh graduate yang diberikan beasiswa program tersebut alias kebalikan dari angkatan saya. Coba bayangkan kalau saya tidak mendaftar di tahun awal dan memutuskan untuk menunda, apa nggak lebih kecil chance untuk mendapatkan beasiswa? Ini lho yang saya maksud dengan kita tidak memenuhi target group yang diinginkan. Pemberi beasiswa punya rencana mereka sendiri, punya kriteria sendiri dalam menentukan orang-orang yang akan diterima. Begitu aplikasi kita masuk, ya tinggal berdoa aja, itu sudah diluar kontrol kita. Kita hanya bisa mengontrol sampai, ‘apakah kualitas aplikasi yang kita kirim itu sudah terbaik dari yang bisa kita kirimkan?’

Memang, ada kalanya kegagalan itu menampar kita, bahkan mungkin kalau harapan kita tinggi, rasa gagal itu rasanya seperti ditinju sama Mike Tyson. Tapi kalau nggak move on-move on, kapan mau dapet beasiswanya? Kapaaaaaan? 😛 Kegagalan mendapatkan beasiswa itu bisa dibilang kesempatan untuk menyusun ulang logistik. Kesempatan untuk baca-baca lagi aplikasi yang sudah dikirim. Kesempatan untuk minta tolong rekan sejawat atau sahabat untuk membaca ulang motivation letter atau CV kita. Jangan-jangan ada typo parah disana? Jangan-jangan kalimat-kalimat yang kita susun bagai jajaran pulau dari Sabang sampai Merauke ternyata membingungkan dan tidak jelas maksudnya. Ada baiknya juga kita bicara dengan pemberi rekomendasi, menurut pemberi rekomendasi, dimana kelebihan yang bisa kita ‘jual’? Hal-hal apa yang perlu diperbaiki, hal-hal apa yang perlu ditingkatkan. See? Kegagalan itu bukan berarti pintunya tertutup semua. Kita aja yang belum tahu, setelah ini ada kesempatan yang lebih baik menunggu kita. Saya kok makin merasa ini postingannya bukan tentang beasiswa lagi ya? Pake move on-move on segala. Ha ha ha.

PS. Saya baru saja teringat obrolan santai dengan dosen beberapa waktu silam, “You know what? For me, all those scholarship applicants are all the same. What’s the different between having TOEFL 575, 600, 620? What’s the different of having 3,3, 3,5, or even 4 GPA? For me, once they pass the qualification, they are equal. What important for me was, since I have to do more jobs with administrative things once this batch arrived, I want those students who I can trust to be able to take care on themselves. Those who didn’t make me pick up the phone and hear that one of my students have troubles….” 

Nah kan, ada banyak hal tidak terduga yang mempengaruhi keberhasilan kita untuk dapat beasiswa. So, have no worries, keep on your best (if this is what you really want) dan jangan lupa minta doa restu orang tua. 😀 Selamat mempersiapkan aplikasi beasiswanya ya teman-teman… Ini sudah bulan Desember. Waktunya mempersiapkan aplikasi untuk yang mau daftar tahun depan, karena untuk daftar tahun ini sudah banyak yang memasuki waktu seleksi. 😛

Erasmus dan Jalan-jalan

Hello, it’s me… (jangan diterusin nyanyi lagunya mbak Adele ya 😛 )

Program beasiswa yang banyak dibahas di blog ini sekarang disebut Erasmus+. Duluuuuuu, disebutnya Erasmus Mundus (makanya nama blog ini emundus—ya siapa tahu ada yang mengira ‘e’-nya berarti ‘electronic’ 😛 ). Why Erasmus? Erasmus adalah seorang cendekiawan berkebangsaan Belanda yang belajar di berbagai negara di Eropa. Yang bersangkutan pernah hidup dan menuntut ilmu di Perancis, Belgia, Inggris, Itali, Jerman, dan Swiss. Tentunya kultur negara-negara tersebut berpengaruh pada perkembangan karakter Erasmus, tapi menurut Lord Acton (googling sendiri ya siapa Lord Acton ini) “none (of those countries-red) set its stamp upon him.” Erasmus adalah orang yang mempopulerkan kembali “Dulce bellum inexpertis”, judul buku yang diterbitkan tahun 1515 ini diambil dari syair Pindar, penyair jaman Yunani kuno. “War is sweet for those who have never experience it”. Okay. Cukup ya kita ngobrol sejarahnya.

Yang unik dari program Erasmus+ ini adalah kesempatan untuk berkelana, dulu memang hanya sebatas Eropa, sekarang sudah merambah ke Asia, Australia, dan Amerika. Why the travel? Kalau jaman Erasmus dulu, kita bisa paham lah, belum ada telepon apalagi email, mau bertanya sama Pak/Bu Guru, ya repot kalau harus kirim-kiriman surat, datengin aja langsung, minta diajarin, sampe pinter. Terus cari guru lain lagi, untuk subyek-subyek yang masih harus dipelajari. Ya gampangnya gitu sih. Kalau dipikir-pikir, ngapain ya taxpayer di Eropa spending their money for students dari negara ketiga? Jawaban gampangnya, ‘tak kenal maka tak sayang’. Komunikasi adalah salah satu masalah terbesar manusia. Selain adanya barrier bahasa, ada juga kegagalan menerjemahkan konteks, level tidak percaya yang tinggi (mistrust), dll.

Rumit ya? Iya, saya yang nulis aja sampe belibet. 😛 Suatu hari saya bertukar email yang cukup panjang dengan Sekretaris Program yang bertanggungjawab atas keberangkatan, kepulangan, ada segala urusan administrasi saya yang berkaitan dengan beasiswa. Berbalasan email ini disertai dengan emosi yang makin naik di setiap email yang terkirim, hanya karena perkara sepele: biaya transportasi. Kebetulan batas tertinggi transportasi saya adalah X Euro, ternyata karena peak season, biaya transportasi saya jadi 1,2X Euro. Dengan kondisi seperti ini, maunya saya: “Ya udah, beli aja tiket pesawatnya, geser dikit tanggalnya, ntar saya bisa cari tumpangan nginep atau hostel murah dan naik bus atau kereta ke kota tujuan, dengan dana pribadi saya. Kalau 0,2X + nginep hostel sehari mah saya masih hepi-hepi aja kok disuruh bayar sendiri.” Tapi maunya Bu Sekretaris, “Udah sih, kamu tinggal nurut aja. Pokoknya pakai yang ini.” Kondisi seperti ini nggak enak banget deh. Belum kenal, by email, malah diskusinya ngga selesai-selesai. Akhirnya, saya tulis, “Sorry, sepertinya kita ada misunderstanding. Saya nggak pengen merepotkan anda, jangan terlalu khawatir dengan tanggal, saya bisa mandiri kok.” Dan nggak lama ada balasan, “I only want what is best for you.” Terharu nggak sih kalau kayak gitu? Kami menginginkan hal yang sama, she wanted the best for me, I wanted the best for her. But we were fighting each other in the process. Good. Another lesson learnt! 🙂

Melanjutkan topik ‘tak kenal maka tak sayang’, dengan kehadiran kita di sini, kita mengenalkan sesuatu yang lain kepada penduduk sekitar. Buat orang-orang disini, mungkin saya kelihatan seperti minion. Kecil, pendek, bisa jalan, idup lagi *sarcasm_detected*. Bagi saya, mereka itu seperti raksasa, tinggi-tinggi. Kalau saya mau nonton pertunjukan dan terhalang oleh mereka, mau saya loncat-loncat kaya’ apa juga nggak bakal bisa keliatan. Akhirnya ya, “misi Bang, saya gak kliatan, geseran dikit boleh, aye mau liat lenong di depan.” Atau just as simple as, “Haaaaa? Dari Indonesia? Indonesia itu di sebelah mananya Turki?” *pingsan* “Jauh, Brooooo… itu baru separoh jalan. Kami ada di atasnya Australia.” *sambil nunjukin peta*.

Culture yang berbeda membuat adanya perbedaan pola pikir, kurang informasi bisa bikin interpretasi yang berbeda. Baru tadi siang kelas saya membahas tentang tumpukan sampah di lapangan terbuka, praktek yang biasa banget kan di Indonesia? Orang kita buang sampah aja kalo bisa di got depan rumah kita lempar ke sana. (Iya ngga? Ayo ngaku!! Alhamdulillah kalo enggak 🙂 ) Rekan sekelas yang orang Belanda dan Inggris bilang mereka nggak bisa membayangkan kondisi seperti itu. Dibilangnya, ‘ini seriusan ada kasus kaya’ gini? Bikin-bikin nih ya kasusnya? Masak ada sih orang mau hidup di tumpukan bahan busuk beracun kaya gitu?’ Well. Saya cuma bisa manggut-manggut aja, karena udah keduluan temen dari Brazil yang cerita tumpukan sampah kota juga mudah ditemui di dekat kawasan yang dilindungi di sekitar Hutan Amazon. (Sedih nggak sih dengernya?)

Anyway, salah satu hal yang membuat saya tidak berhenti bersyukur adalah kesempatan travelling dari beasiswa model seperti ini. Travel a lot, as much as possible, leave no trace except photographs and kindness. Menurut saya pribadi, nggak perlu lah jadi mahasiswa kutu/kuper (kuliah-pulang/kuliah-perpustakaan). Yang penting bertanggungjawab. Sudah diberi beasiswa, kewajibannya apa? Mendapatkan ilmu sebanyak-banyaknya sesuai dengan bidang yang diambil, selain itu, wawasan dan pengetahuan yang lain juga perlu ditingkatkan, toh? Sehingga kita jadi orang-orang yang lebih dewasa. Sehingga kita benar-benar siap untuk menjadi future leader. Sehingga kita tidak mudah berubah menjadi hakim untuk orang lain. Setuju nggak? After all, other people might have the same destination as us. Who knows, kan? 😀

PS. Walau saya sedang punya waktu luang, saya belum punya topik menarik untuk dibahas di postingan berikutnya. So kalau ada yang pengen dibahas, request aja ya. Kalau nggak ada, ya berarti suka-suka saya. 😀 I’ll see you next time.

Transkrip diskusi Scholatalk#7 – Erasmus Mundus

fb-post

5:10pm, Mar 8 – ‪[MODERATOR]‬ created group “KELAS 2 #SCHOTALK7✌”
8:00pm, Mar 8 – ‪[MODERATOR]‬ added you
8:00pm, Mar 8 – ‪[MODERATOR]‬: Baiklah Beri tepuk tangan👏👏👏
Selamat dtg mas yansen
8:01pm, Mar 8 – Yansen: Halo semua terima kasih untuk antusiasme yang sangat besar.
Saya melihat daftar peserta, dimana banyak sekali universitas yang bergabung di sesi ini.
Semoga apa yang kita diskusikan malam ini bisa membawa manfaat bagi semua.

Nama saya Yansen, saya alumni Erasmus Mundus (yang saat ini namanya sudah diubah menjadi Erasmus+). Saya alumni tahun 2006-2008, sudah cukup lama. Tetapi semoga masih bisa memberikan sharing hehe..
8:05pm, Mar 8 – Yansen: Iya, ada 10 menitan nih kalo mau tanya2 santai
8:05pm, Mar 8 – ‪[MODERATOR]‬: Mungkin pada malu mas. Boleh lanjut sesi perkenalan.😊
8:05pm, Mar 8 – Yansen: Hmm.. Mungkin saya bahas ke materi langsung saja ya kalau begitu.. Nanti mungkin lebih enak tanya2 setelah ada materinya..
8:06pm, Mar 8 – Yansen: Saya sudah bagi materinya menjadi (1)-(12)
8:06pm, Mar 8 – Yansen: Part pertama (1)-(9) dulu ya, lalu kita tanya jawab
8:06pm, Mar 8 – Yansen: Baru dilanjut (10)-(12)
8:07pm, Mar 8 – Yansen: MARI KITA MULAI
8:07pm, Mar 8 – Yansen: (1) Erasmus+ (nama sebelumnya adalah Erasmus Mundus) adalah nama beasiswa yang diberikan oleh Uni Eropa untuk mahasiswa/i dari seluruh dunia (dari negara dunia ketiga, maupun negara berkembang). Terdapat 2 skema untuk beasiswa E+, yang lazim disebut Action 1 dan Action 2.

Perhatikan penjelasan berikutnya secara baik-baik supaya bisa mengerti perbedaan Action 1 dan Action 2.

Action 1 akan dibahas dari (2)-(9)
Action 2 akan dibahas dari (10)-(12)
8:07pm, Mar 8 – ‪[MODERATOR]‬: Baiklah silahkan mas.👍
8:07pm, Mar 8 – Yansen: (2)
ACTION 1
Peluang beasiswa yang dibuka adalah untuk jenjang S2 dan S3.

Kalau anda mencari beasiswa S1 atau staf akademik, sabar dulu ya, nanti akan dibahas di ACTION 2.

Ilustrasinya sebagai berikut:
Bayangkan anda pergi ke sebuah pesta pernikahan, dimana tersedia beberapa pondokan makanan:
Pondok A menyajikan kambing guling,
Pondok B menyajikan sate,
Pondok C menyajikan dimsum,
Pondok D menyajikan es krim,
Pondok E menyajikan bakso malang

Tolong camkan baik2, bahwa pada umumnya anda akan memilih “makanan yang anda sukai”, terlepas dari siapa yang berada di pondok tersebut untuk menyajikan hidangan.
8:08pm, Mar 8 – Yansen: (3)
Untuk Action 1, analoginya sbb:
Jenis makanan = Jenis program atau jurusan yang ditawarkan
Pondokan = Konsorsium (gabungan 3 universitas atau lebih yang bersama-sama menyelenggarakan program/jurusan tsb)
Penyelenggara pernikahan = Uni Eropa, melalui beasiswa E+

Dengan kata lain, di Action 1, yang anda pilih pertama kali adalah jurusannya terlebih dahulu. Setelah menentukan jurusan, anda bisa lihat universitas mana saja yang tergabung dalam konsorsium untuk jurusan tersebut.

Di mana anda bisa melihat daftar jurusan untuk Action 1?
http://bit.ly/EM-emmc (untuk S2) >> ada 118 jurusan
http://bit.ly/EM-emjd (untuk S3) >> ada 29 jurusan
8:09pm, Mar 8 – Yansen: (4)
Kalau anda sedang berada di dekat komputer, anda bisa coba cek misalkan link untuk S2 http://bit.ly/EM-emmc.
Anda bisa browsing lebih dari 100 jurusan yang ditawarkan di situ.
(Tolong jangan browsing jurusan2 tsb sekarang, lakukan nanti saja setelah sesi schotalk ini selesai !!)

Misalkan anda memiliki latar belakang urban studies, maka program yang paling atas ”4CITIES – UNICA Euromaster in Urban Studies” mungkin cocok bagi anda.
Nah, untuk mendapatkan informasi lebih detail, anda bisa meng-klik link yang terletak di kanan program tsb: http://www.4cities.eu/

Di website tersebut, anda akan tahu bahwa konsorsium 4Cities terdiri dari:
VUB Brussels,
ULB Brussels,
Universitat Wien,
University of Copenhagen,
Universidad Autonoma Madrid,
Universidad Madrid

Catatan:
Sebagaimana setiap pondokan memiliki penyaji yang berbeda-beda, demikian pula di Action 1. Setiap jurusan memiliki konsorsium yang anggota universitasnya berbeda-beda.
8:09pm, Mar 8 – Yansen: (5)
Berapa besar beasiswanya?
Bila anda berhasil mendapatkan beasiswa E+, maka per tahun anda akan mendapatkan EUR 24.000 yang terbagi atas:
EUR 12.000 untuk biaya hidup selama 12 bulan
EUR 8.000 untuk tuition fee (langsung dipotong oleh konsorsium)
EUR 4.000 untuk biaya relokasi dan travel
Asuransi kesehatan juga disediakan.

Jumlah di atas adalah jumlah yang sama untuk seluruh penerima beasiswa E+ action 1.
>> Terlepas dari jurusan apa yang anda ambil
>> Terlepas dari mau pergi sendiri atau membawa keluarga
>> Terlepas dari universitas atau negara mana tujuan anda
8:09pm, Mar 8 – Yansen: (6)
Mobilitas.
Di Action 1, anda akan kuliah di minimal 2 universitas (bisa saja lebih).
>> Untuk saya, saya kuliah tahun pertama di Bolzano, Italia, dan tahun kedua di Vienna, Austria.

Gelar.
Ada konsorsium yang memberikan joint degree (1 ijazah ditandatangani ramai2 oleh seluruh universitas di konsorsium tsb).
Ada juga konsorsium yang memberikan multiple degree (1 ijazah dari tiap universitas yang pernah dikunjungi).
>> Untuk saya, saya dapat ijazah dari 2 universitas

Periode pendaftaran.
Pembukaan sekitar Oktober setiap tahunnya
Deadline bervariasi, ada yang Desember sudah tutup pendaftaran
Harus lihat di website jurusan yang diminati.
8:09pm, Mar 8 – Yansen: (7)
Persyaratan untuk daftar?
Cara daftar?
Dokumen apa yang harus dilengkapi?
Bolehkah daftar lompat jurusan (jurusan S1 tidak berhubungan dengan jurusan S2)?
Bolehkah daftar sebelum lulus S1 (untuk jenjang S2)?
Dll dll

Semua pertanyaan anda harusnya sudah terjawab di website masing-masing jurusan.
Jadi, pilih programnya dulu, lalu baca isi websitenya baik-baik !!

Kalau masih ada pertanyaan yang belum terjawab, cari bagian “contact us”, dan hubungi orang yang bersangkutan.

Catatan:
Di Indonesia tidak ada kantor perwakilan khusus Erasmus+ (berbeda dengan DAAD, NUffic NESO, CampusFrance, dan lainnya). Sebab itu, untuk pertanyaan spesifik mengenai program, lebih baik ditujukan langsung ke konsorsium yang bersangkutan.
8:10pm, Mar 8 – Yansen: Sorry ada salah info.. Point (7) adalah akhir dari skema beasiswa E+ ACTION 1
8:10pm, Mar 8 – Yansen: Jadi, setelah selesai baca sampai point (7), silahkan kalau ada pertanyaan
8:12pm, Mar 8 – Yansen: Jadi, untuk action 1 ini, beasiswa yang dibuka hanyalah untuk S2 dan S3
8:12pm, Mar 8 – Yansen: Dan perhatikan baik2 ilustrasi di point (2)
8:12pm, Mar 8 – ‪[MODERATOR]‬: Silahkan teman”. Langsung kita buka sesi tanya jawab😊
Silahkan menjapri saya
8:13pm, Mar 8 – Yansen: Dengan kata lain, untuk action 1, kita tidak memilih universitas atau negara, yang dipilih adalah jurusan
8:14pm, Mar 8 – Yansen: Jadi, urutannya memang agak berbeda dari beasiswa2 lainnya, dimana biasanya kita mulai cari universitas/negara yang dituju, apply kesana, kalau diterima, baru cari beasiswanya
8:14pm, Mar 8 – ‪[MODERATOR]‬: Pertnyaan sesi pertama :
1. Apakah semua univ di eropa menggunakan english dalam perkuliahan?
2. apakah action 1 mengutamakan bbrapa kampus tertentu, yg bekerja sama. Atau perlakuan sama thp seluruh kampus di Indonesia. Makasih
8:15pm, Mar 8 – ‪[MODERATOR]‬: Monggo dijawab mas yansen 🙂
Prtnyaan brikutnya menyusul
8:16pm, Mar 8 – Yansen: 1. Mayoritas menggunakan English –> berarti ada sebagian juga yang tidak menggunakan English –> kalau sudah baca materi di https://emundus.files.wordpress.com/2014/06/erasmus-erasmus-mundus-brawijaya-jun-2014.pdf slide 31, akan mengerti 😉
8:17pm, Mar 8 – Yansen: 2. Perlakuan sama, tetapi beberapa program mengikutsertakan “peringkat” universitas asal aplikan ke dalam penilaian mereka terhadap si aplikan tsb
8:17pm, Mar 8 – ‪[MODERATOR]‬: Sudah mas?
8:18pm, Mar 8 – Yansen: Sudah.. next question silahkan
8:18pm, Mar 8 – ‪[MODERATOR]‬: Wah terima kasih mas untuk jwabannya😊👍

Berikutnya :
3. setelah saya amati, tidak ada jurusan utk pendidikan. Menurut anda, bagaimana mensiasati teman2 yg berminat di bidang pendidikan agar bisa mendapatkan beasiswa ini?
4. Kak, di aplikasi kan ada permintaan untuk konversi dari sks, nah kalau umpama kita dapet ijazah pendidikan kampus dan profesi, apakah ijazah profesi juga bisa diikutkan dalam konversinya apa hanya ijazah pendidikan di kampus?
8:19pm, Mar 8 – Yansen: 3. Balik ke point (2), kalau anda ingin makan siomay, tetapi pondokannya ga ada, mau gimana??
Anda bisa kompromi dengan diri sendiri, misal makan dimsum (yang mungkin ada siomaynya).
Atau, kalau memang siomay adalah pilihan ultimate, ya anda harus cari pesta lain (beasiswa lain).
8:20pm, Mar 8 – Yansen: Pendidikan salah satunya ada: EM SIE – Erasmus Mundus Masters in Special and Inclusive Education
8:20pm, Mar 8 – Yansen: Atau GLOBED – Education Policies for Global Development
8:21pm, Mar 8 – Yansen: 4. Secara formal, yang berlaku adalah ijazah pendidikan. Ijazah profesi adalah sebagai nilai tambah.
8:21pm, Mar 8 – Yansen: Silahkan Q berikutnya 😉
8:22pm, Mar 8 – Yansen: Sambil menunggu, saya tambahkan, pada prinsipnya, untuk E+ Action 1, anda hanya bisa pilih dari menu yang tertera di http://bit.ly/EM-emmc
8:22pm, Mar 8 – Yansen: Kalau selera anda tidak ada di menu tsb, E+ Action 1 bukan untuk anda 😉
8:23pm, Mar 8 – ‪[MODERATOR]‬: Wah top mas👍😊

5.Jadi pihak erasmus+ yang akan menentukan univ mana kita akan ditempatkan?  Bagaimana dengan sidang thesisny nanti mas? Di kampus terakhir ya?
8:25pm, Mar 8 – Yansen: 5. Lebih tepatnya, pihak konsorsium program.
Setiap program memiliki skema mobilitas masing2, dan memang harus dibaca langsung di web program yang bersangkutan.

Sebagai referensi: https://emundus.files.wordpress.com/2014/06/erasmus-erasmus-mundus-brawijaya-jun-2014.pdf slide 8
8:26pm, Mar 8 – Yansen: Sidang thesis pun belum tentu di kampus terakhir..
Harus dibaca di web program yang diminati ya 😉
8:26pm, Mar 8 – Yansen: Ujian pertama untuk apply E+ (sebelum dapat beasiswanya), memang harus banyak baca..
8:27pm, Mar 8 – Yansen: Bersakit2 dahulu lah.. Berenang2 kemudian 😉
8:28pm, Mar 8 – ‪[MODERATOR]‬: Usaha dlu ya mas😊
Terima kasih mas berikutnya
6. apakah emundus (action 1) memprioritaskan kampus berkelas?
7. untuk point 6. Minimal memilih 2 universitas atau lebih, lalu proses untuk mendapatkan / memilihnya itu bagaimana? & apabila terpaksa hanya mendapatkan 1 universitas bagaimana?
8:29pm, Mar 8 – Yansen: 6. Sudah dijawab di pertanyaan 2
8:31pm, Mar 8 – Yansen: 7. Kita daftar ke program yang ditawarkan (1x pendaftaran saja).
Setiap program diselenggarakan oleh konsorsium (gabungan univ).
–> Jadi, tidak perlu aplikasi terpisah ke setiap univ yang ada di konsorsium
–> Kalau aplikasi beasiswa kita diterima di program tsb, maka otomatis akan ter-enrol ke univ2 yang ada di konsorsium

Baca pula skema mobilitas di website program tsb, supaya kita bisa tahu kira2nya akan belajar di univ mana dan negara mana, untuk berapa semester..
8:32pm, Mar 8 – Yansen: Lagi2 referensinya https://emundus.files.wordpress.com/2014/06/erasmus-erasmus-mundus-brawijaya-jun-2014.pdf slide 8
8:32pm, Mar 8 – Yansen: Jadi, langkah pertama, tentukan dulu, program mana yang diminati, setelah itu baca isi web program tsb baik2, referensi: https://emundus.files.wordpress.com/2014/06/erasmus-erasmus-mundus-brawijaya-jun-2014.pdf slide 7 dan 8
8:33pm, Mar 8 – Yansen: Tidak perlu buka 1-1 dari 118 program S2 tsb.. CUKUP YANG DIMINATI SAJA 🙂
8:33pm, Mar 8 – Yansen: Dari judul programnya kan bisa kelihatan apakah program tsb kira2 sesuai dengan minat kita atau tidak..
8:34pm, Mar 8 – ‪[MODERATOR]‬: Terima kasih mas. Lengkap sekali👏Berikutnya :
Untuk sesi pertma kita batasi 10 ya🙏
8.Dari semua persyaratan erasmus+ apa yang harus kita tonjolkan agar peluang lolosny lbh besar utk action 1 ini mas?
9. untuk mendapatkan beasiswa erasmus mundus itu apakah harus dapat univeraitasnya dulu atau bagaimana ? Terimakasih
8:34pm, Mar 8 – Yansen: 9. Refer ke pertanyaan 7
8:35pm, Mar 8 – Yansen: 8. Semua harus ditonjolkan (sebisa mungkin).
Tetapi kalau sudah lulus, dengan IPK pas2an gimana?
Kan ga bisa “dicuci” lagi IPKnya?
–> Dalam kasus ini, ya berusaha di persyaratan lainnya (selain IPK), misalnya: surat rekomendasi, nilai tes English, dan motivation letter
8:36pm, Mar 8 – Yansen: Kalau belum lulus?
Ya belajarlah sebaik2nya supaya IPK bagus.
Cicillah belajar Bahasa Inggris, supaya tidak kebut semalam ketika mengambil tes English.
Jalinlah relasi yang baik dengan dosen dan pengajar, supaya mereka mau memberikan surat rekomendasi yang baik.
8:37pm, Mar 8 – Yansen: Masih mau nilai tambah?
Ikuti kegiatan2 berskala nasional/regional/internasional.
Coba2 submit paper.
Pilih topik skripsi yang “menjual”, jangan pilih yang mudah supaya sekedar lulus.
8:38pm, Mar 8 – Yansen: Untuk syarat, setiap program berbeda syaratnya, bisa baca2 di https://emundus.files.wordpress.com/2014/06/erasmus-erasmus-mundus-brawijaya-jun-2014.pdf slide 25-36
8:39pm, Mar 8 – ‪[MODERATOR]‬: Pertnyaan terkahir untuk sesi pertama 😊
10. kak saya kan skrg kuliah di s1 tekim undip niatnya mau melanjutkan di IMIM (international Master of Industrial Management) nah disitu lebih berfokus u/ electrical dan industrial engineering graduate. Tp di persyaratan blh dr all type engineering. Masalahnya mereka lbh memprioritaskan t.elektro sm t.industri brarti kan ya? Ato saya sbg anak tekim tetap nyoba apply kesana. Mohon pencerahannya. Makasiiih banyak
8:42pm, Mar 8 – Yansen: 10. Dari segi persyaratan ga masalah dong, karena boleh untuk semua engineering.
Tetapi dari segi prioritas dan penilaian, yang tahu persis adalah konsorsium IMIM.

Coba apply sih silahkan saja.
Tetapi harus berhitung juga.
Beasiswa ada kuotanya, sehingga kompetisi pasti ketat.
Nah, apa kelebihan yang anda bisa tonjolkan dibandingkan aplikan dari jurusan engineering lainnya?

Lalu, kenapa anda nyebrang jauh dari Tekim ke IMIM?
Apakah salah pilih jurusan S1?
8:43pm, Mar 8 – Yansen: Dari segi pemberi beasiswa (konsorsium), pertanyaan2 tsb pasti muncul
8:43pm, Mar 8 – Yansen: Kurang lebih begitu hehe..
8:43pm, Mar 8 – Yansen: BTW, kalau masih ada yang mau nanya Action 1, monggo dilanjut..
8:43pm, Mar 8 – Yansen: Mengenai Action 2, tidak terlalu banyak materinya
8:45pm, Mar 8 – ‪[MODERATOR]‬: 👏👏 terima kasih jawabannya mas.
Baiklah kita buka sesi kedua😊
8:45pm, Mar 8 – ‪[MODERATOR]‬: 11. Berapa orang per program yang akan diterima? Mengingat pasti byk sekali yang melamar di program/jurusan yang sama?
8:46pm, Mar 8 – ‪[MODERATOR]‬: 12. Untuk yang sudah bekerja ckup lama. Tentu agak sulit untuk meminta surat rekomendasi dr kantor krn kemungkinan besar pasti resign krn melanjutkan sekolah. Apa pengalaman bekerja juga jd pertimbangan yg sangat bagus bagi mereka dlm memilih aplicant?jika hanya surat rekomendasi kampus, bagi yg sdh bekerja sudah ckup? (misal stelah berupaya penuh meminta dr kantor dan gagal)
8:46pm, Mar 8 – Yansen: 11. Kuotanya berbeda2 tiap program.. Secara average, sekitar 10 beasiswa per program (untuk aplikan dari negara dunia ketiga, termasuk Indonesia), dan max 2 orang dari negara yang sama per program
8:47pm, Mar 8 – Yansen: Jadi, kalau ada 118 program S2 yang ditawarkan –> di atas kertas, maksimal orang Indonesia yang bisa dapat beasiswa adalah 236 orang
8:47pm, Mar 8 – Yansen: Sayangnya kita belum pernah tembus kesitu hehe..
8:50pm, Mar 8 – Yansen: 12. Cukup lama ini berapa tahun ya?
Saya dulu lulus kuliah S1 di Jan 2004, dapat EM di 2006.
Saya menggunakan surat rekomendasi dari kampus saja, tidak dari atasan, dengan pertimbangan yang sama dengan yang anda utarakan (angapan akan resign).

Di 1 sisi, pendaftaran beasiswa ini kan hal akademik, jadi rekomendasi kampus akan berguna.
Di sisi lain adalah relevansinya.
Kalau sudah lulus 10 tahun yll, apakah tidak lebih baik ada 1 surat rekomendasi (biasanya diminta 2-3 surat rekomendasi) juga yang dari employer? (Karena employer yang paling tahu diri anda pada saat apply beasiswa)
8:53pm, Mar 8 – ‪[MODERATOR]‬: Baiklah selanjutnya😊 :
13. Adakah kendala ketika kita kuliah dikampus yg berbeda? Itu kan beda negara ya mas, lalu bekal apa yg diperlukan untuk tetap bertahan dalam kondisi tsb. Untuk IPK harus dipertahankan ya mas? Adakah sistem DO/ beasiswany ditarik (byr sendiri) seperti yg saya pernah dengar di Indonesia.
8:54pm, Mar 8 – Yansen: Sebelum jawab 13, saya senang nih makin lama makin “menggigit” pertanyaannya..
8:54pm, Mar 8 – Yansen: Semoga bisa terus diteruskan ya analisa untuk pertanyaan2 menggigit..
8:55pm, Mar 8 – ‪[MODERATOR]‬: 👏👏👍😊
8:57pm, Mar 8 – Yansen: Untuk nomor 13, ini jawabannya akan agak panjang
8:59pm, Mar 8 – Yansen: 13a. Kendala
Pasti ada lah..
Contoh real saja, saya tahun 1 di Italia, tahun 2 di Austria.
Sistem pendidikan berbeda,
gaya dosen berbeda,
sistem penilaian berbeda (Italia pake skala 30 dimana 30 adalah nilai terbaik, Austria pakai skala 1-5 dimana 1 adalah nilai terbaik),
bahasa lokal berbeda (di Austria, kalau kelas itu mayoritasnya adalah mahasiswa lokal, mereka tidak senang kalau ada mahasiswa EM karena kelas harus diajarkandalam bahasa INggris)
9:00pm, Mar 8 – Yansen: Tetapi semua itu kan bisa diatasi, dengan diri kita beradaptasi.
Satu hal yang pasti, ketika kita hidup di lingkungan baru, kitalah yang harus menyesuaikan diri.
Tidak bisa membawa sifat “keras kepala” dan mau dengan cara sendiri.
9:02pm, Mar 8 – Yansen: 13b. Ya, performance kita akan dimonitor tiap semester, karena konsorsium juga dinilai oleh Komisi Eropa (yang memberikan dana beasiswa).

Kalau mahasiswanya tidak perform, maka bisa jadi program tersebut tidak akan dapat kuota beasiswa untuk tahun berikutnya –> semoga jadi paham sekarang, kenapa konsorsium juga menyeleksi benar2 siapa yang akan mereka berikan beasiswa.
9:04pm, Mar 8 – Yansen: 13c. So far, untuk mahasiswa Indonesia cenderung sih “baik2” dan aman2 saja beasiswanya.
Ada beberapa orang yang memang “bermasalah”.
1 orang saya tahu persis dia mengundurkan diri dari programnya karena merasa tidak cocok lagi, dan sudah tidak bisa diperbaiki kondisinya.
9:04pm, Mar 8 – Yansen: Sedangkan, kalau ngmg mahasiswa negara lain, ada juga orang2 yang “menyalahgunakan” beasiswa yang diberikan untuk hal2 lain, misal: cari pekerjaan, jalan2 Eurotrip –> orang2 seperti inilah yang membuat pengawasan beasiswa menjadi makin ketat
9:06pm, Mar 8 – ‪[MODERATOR]‬: Luar biasa mas. Perjuangan panjang ya mas😊
Berikutnya :
14. Itu berati living cost perbulan €1000 kan ya? Cukup kah untuk tempat tinggal+makan nya? Atau disediakan dorm dari univ nya gt?
15. Kak, saya mw tanya. Masalah yg sedikit sensitif, tp sangat umum adanya. Bagaimana dengan mahasiswa yg menggunakan hijab? Saya dengar beberapa negara d eropa sangat anti pati dan ahirnya sering timbuk deskriminasi untuk para hijabers
9:08pm, Mar 8 – Yansen: 14. Tergantung pintar2nya kita mencukupkan diri..
Dalam kasus saya di Italia dan Austria, sangat cukup..

Breakdownnya kurang lebih sbb:
Housing (dorm) = 250-400 eur
Makan (kl masak sendiri) = 3-5 eur per hari –> 1 bulan = 90-150 eur
Transportasi = less than 100 eur
Jadi, masih lumayan ada sisa tohh..
9:09pm, Mar 8 – Yansen: Apalagi kalau anda benar2 hemat..
Ada teman saya yang cukup 5 eur seminggu untuk makan..

Cuma bagaimana kalau studinya di negara mahal? (misal: UK)
Kalau niatannya benar, pasti bisa kok mencukupkan diri 😉
9:11pm, Mar 8 – Yansen: Untuk dorm, tergantung univ, kota, atau negara.
Di Italia, saya dapat dorm dari univ.
Di Vienna (Austria), saya dapat dorm dari kota Vienna (univ tidak menyediakan dorm).

Ada teman2 yang di Spanyol, mereka harus cari housing sendiri (tanda tangan kontrak pake bahasa Spanyol lho !!)
9:12pm, Mar 8 – Yansen: 15. Ini memang seringkali ditanyakan, dan seringkali para alumni EM juga share untuk masalah hijab ini.. Yang saya dengar, baik2 saja sih.. Tidak usah “parno”, tetapi harus bisa “jaga diri” juga. Kalau memang mau tanya2 lebih lanjut, bisa saya referensikan (setelah sesi ini) ke beberapa teman yang berhijab untuk tanya2 langsung.

Salah satunya: https://www.youtube.com/watch?v=Z-KmqSzCnqE
9:14pm, Mar 8 – Yansen: Sambil iseng untuk baca2 ya..
Bobot perkuliahan: https://emundus.wordpress.com/2013/12/08/bobot-perkuliahan/
9:15pm, Mar 8 – Yansen: Kompromi mengenai pilihan jurusan S2: https://emundus.wordpress.com/2013/12/25/sharing-motivasi-2-positive-mindset/
9:15pm, Mar 8 – ‪[MODERATOR]‬: Berikutnya :
16. Bagaimn dulu pengalamannya waktu kuliah di dua tempat yg berbeda mas?
9:15pm, Mar 8 – Yansen: Pengalaman pribadi gimana bisa diterima EM: https://emundus.wordpress.com/2013/12/27/sharing-motivasi-3-jangan-berasa-dikerjain/
9:16pm, Mar 8 – Yansen: 16. FUN !!!
Bolzano, ITalia –> kota kecil banget, cuma ada bus saja, benar2 alami.. ga banyak godaan untuk bolos kuliah
9:17pm, Mar 8 – Yansen: Vienna, Austria –> ibukota, metropolitan, begitu banyak hiburan, ada KBRI sehingga banyak teman2 sebaya asal Indonesia
9:18pm, Mar 8 – Yansen: Jadi, 2 kota yang benar2 bertolak belakang hehe..
9:18pm, Mar 8 – Yansen: Di Bolzano, sering bosen ga ada hiburan.. Di Vienna, banyak hiburan yang sayang untuk dilewatkan hehe
9:20pm, Mar 8 – Yansen: Ini website wordpress mendadak counternya melejit nih.. Lagi banyak yang baca yah hehe..
9:20pm, Mar 8 – ‪[MODERATOR]‬: Wah haha
Pentesan pada sepi yg nanya😅
9:21pm, Mar 8 – Yansen: Lanjut action 2 dulu deh ya
9:21pm, Mar 8 – Yansen: Monggo dibaca sampai point (12)
9:22pm, Mar 8 – ‪[MODERATOR]‬: Baiklah. Sesi dua ditutup ya😊
Terima kasih jawabannya mas yansen. 👍
Menginspirasi
9:22pm, Mar 8 – Yansen: (9)
Tolong clear-kan dulu pikiran anda dari ACTION 1, supaya tidak bingung dan tercampur2.
Kalau ini adalah pertama kalinya bagi anda mengenal mengenai Erasmus+, yang diingat ilustrasinya saja dulu. Setelah sesi ini selesai, baru silahkan anda riset dan cerna sebaik2nya informasi yang sudah diberikan.

Saya akan posting materi hari ini di https://emundus.wordpress.com juga.
Dan setelah sesi hari ini selesai, kalau anda punya pertanyaan lanjutan, bisa hub saya di blog tsb atau via FB https://www.facebook.com/emundus.wordpress
9:22pm, Mar 8 – Yansen: (10)
ACTION 2
Agak sulit mencari ilustrasi untuk Action 2.
Jadi, saya akan berikan langkah2nya saja.

Langkah 1: Kunjungi http://bit.ly/EM-Action2
Langkah 2: Pilih “Indonesia”
Langkah 3: Dari daftar yang muncul, pilih salah satu partnerships
(catatan: berbeda dengan Action 1, untuk Action 2 ini anda memang harus sedikit lebih “bekerja” untuk meneliti peluang yang ada di setiap “partnerships”)

Beberapa program Action 2 (hasil pencarian)
LEADERS
SmtLink
EXPERTS
LEADER
LOTUS+
dll
9:22pm, Mar 8 – Yansen: (11)
Misalkan saja, saya pilih LOTUS+, maka di website LOTUS+, saya bisa mendapat beragam informasi, misalkan:

Peluang apa saja yang tersedia, besaran beasiswa, jumlah beasiswa yang tersedia: http://lotusplus.eu/general_information

Bachelor exchanges (1-2 semesters) – open only for students from our Asian partners
Master exchanges (1-2 semesters) – open to all students from the seven partner countries
Master degrees (1-2 years) – open to all students from the seven partner countries
PhD exchanges (6-10 months) – open to all PhD´s from the seven partner countries
PhD degrees (36 months) – open to all master degree holders from the seven partner countries
Post-doc exchanges (6 – 10 months) – open to all nationals of the seven partner countries
Staff exchanges (1 month) – open to staff members at universities from the seven partner countries (priority given to partner universities)

Jurusan kuliah apa saja yang tersedia (sesuai jenjangnya –> klik dropdown “type of mobility”):
http://lotusplus.eu/courses

Cara apply, eligibility:
http://lotusplus.eu/apply
9:22pm, Mar 8 – Yansen: (12)
Tidak banyak yang bisa dibahas untuk Action 2 karena seluruh persyaratan dan proses benar2 spesifik, ditentukan oleh MoU di antara para partners yang tergabung dengan partnerships.
Sebab itu dibutuhkan ketekunan untuk menemukan apakah ada beasiswa yang cocok bagi anda di action 2.
9:23pm, Mar 8 – Yansen: Jadi secara jenjang, peluangnya lebih banyak untuk ACTION 2
9:24pm, Mar 8 – ‪[MODERATOR]‬: Baiklah selanjutnya kita buka sesi ketiga😊
9:25pm, Mar 8 – ‪[MODERATOR]‬: 17. Mas, utk erasmus+. apakah applicant dengan keterbatasan fisik, misal amputee dgn alat bantu jalan (prosthetic leg) tetap memenuhi syarat utk menerima beasiswa tsb?
9:25pm, Mar 8 – ‪[MODERATOR]‬: 18. Mas, dimana kami bisa mendapatkan CP para penerima EM? Terutama yang sama jurusanny?
9:26pm, Mar 8 – Yansen: 17. Waktu presentasi di Brawijaya, pernah ada pertanyaan yang sama.
Di syarat, saya rasanya ga pernah menemukan syarat “umur”.
Apalagi syarat “fisik”.
Dengan kata lain, saya meng-encourage untuk apply saja.
9:28pm, Mar 8 – Yansen: 18. Ini masalah privasi orang.
Ada orang2 tertentu yang “sibuk”.
Jadi, cara paling baik ya bergabung di FB https://www.facebook.com/groups/erasmus.mundus.indonesia/ supaya sama2 nyaman.
9:28pm, Mar 8 – Yansen: Calon aplikan bisa bertanya di FB, kalau pas ada alumninya ya dia jawab..
9:29pm, Mar 8 – ‪[MODERATOR]‬: Oke mas. Informasi yg sgt bermanfaat😊👍
brikutnya :
19.Untuk action 2 itu kan s1 ka, saya tamatan d3 apakah bisa apply beasiswa s1 yg 2 semester itu. Terus apakah selama 2semester itu saya bisa mendapatkan gelarnya atau tidak? Untuk jerman apakah ada tersedia utk lotus+ ini? Surat rekomendasi berlaku gk utk action 2 ini?
9:30pm, Mar 8 – Yansen: 19. Coba dong baca2 dulu Lotus+ nya 😜
9:30pm, Mar 8 – ‪[MODERATOR]‬: 👏👏👏😄
Semangat teman”. Semoga kita bisa meneruskan jejak mas yansen.
9:31pm, Mar 8 – ‪+62 812-7213-xxxx: Aamiin 😊
9:31pm, Mar 8 – Yansen: Jerman –> http://lotusplus.eu/institutions ada University of Goettingen
9:32pm, Mar 8 – Yansen: S1 –> http://lotusplus.eu/general_information

Bachelor exchanges (1-2 semesters) – open only for students from our Asian partners
9:32pm, Mar 8 – Yansen: Asian partners –> refer lagi ke http://lotusplus.eu/general_information
9:35pm, Mar 8 – Yansen: Surat rekomendasi –>http://lotusplus.eu/apply

Tepatnya di “Application Guidelines” –> http://lotusplus.eu/file/download/1

Baca mengenai “Statement  of  support  from  the  University  of  origin”
9:35pm, Mar 8 – Yansen: Ada semua jawabannya di website..
Asal mau dibrowsing dan dibaca 😉
9:36pm, Mar 8 – Yansen: Balik ke pertanyaan 17, di lotus+ ini saya malah nemu ada dokumen “Document  that  specifically  proves  your  actual  status  of  physical  disability”.
9:36pm, Mar 8 – Yansen: Refer ke Application Guidelines  page 3
9:36pm, Mar 8 – Yansen: Linknya: http://lotusplus.eu/file/download/1
9:39pm, Mar 8 – ‪[MODERATOR]‬: apakah cukup mas jwbannya?
9:40pm, Mar 8 – Yansen: Cukup dari saya 😀
9:40pm, Mar 8 – ‪+62 878-2117-xxxx: Semangat✊✊✊
9:41pm, Mar 8 – Yansen: Monggo kalau masih ada pertanyaan
9:41pm, Mar 8 – Yansen: Semoga ga bingung 😁😁
9:41pm, Mar 8 – ‪[MODERATOR]‬: 😊 semangat👏👏👏👏
Terima kasih mas.
Selanjutnya
20. Untuk action 2, apakah lbh sulit menembusnya? (Mnurut kakak2 senior).jujur sangat trtarik dgn action 2 krn lbh bnyk univ nya dan kebetulan skali jurusan saya di action 1 krg ada yg pas (mnurut saya) saya teknik sipil.  kalau di action 2 ada yg cocok dan stlah sy tanya tanya alumni EM yg t. Sipil, mreka rata rata lulusan action 2. Sy cek2 dkit, emg kakak2 itu lulusan univ ternama. Jd penasran apakah emg erasmus + action 2 lbh sulit?
21. Apa perbedaan master degrees yg ada di action 1 dan 2 ?
9:43pm, Mar 8 – Yansen: Jawab yang 21 dulu yah
9:43pm, Mar 8 – ‪[MODERATOR]‬: 👍😊
9:43pm, Mar 8 – Yansen: 21. Kalau action 1, yang dipilih adalah programnya/jurusannya..
Hanya bisa pilih yang ada di menu..
Siapapun (dari univ manapun) bisa daftar..
9:44pm, Mar 8 – Yansen: Kalau action 2, karena sifatnya adalah “partnerships”, kerja sama antar univ, maka terkadang ada persyaratan, hanya bisa diapply oleh mahasiswa dari univ yang tergabung dalam kerja sama
9:45pm, Mar 8 – Yansen: Ada istilah “target group” untuk action 2, salah satunya dijelaskan di sini: http://www.lotus.ugent.be/index.asp?p=2050&a=1361
9:47pm, Mar 8 – Yansen: 20. Untuk univ2 tertentu, karena mereka tergabung dalam partnerships Action 2, memang banyak mahasiswanya yang dapat beasiswa Action 2. Misalnya UGM, UMM, dll.
9:47pm, Mar 8 – Yansen: Tetapi ada 1 teman yang asal univnya bukan dari UGM, tetapi dia bisa dapat beasiswa Action 2..
9:48pm, Mar 8 – Yansen: Jadi, mengenai sulit/gampang, itu relatif..
Selama kita berusaha sebaik2nya, terlepas dari hasil akhir, kita sudah mencoba sebisa kita
9:49pm, Mar 8 – ‪[MODERATOR]‬: Usaha dlu ya mas😊
Baiklah selanjutnya :
21. Jadi bolehkah kita apply k22nya? Master d action 1 dan 2 ?
9:49pm, Mar 8 – Yansen: 21. Boleh
9:49pm, Mar 8 – Yansen: Action 1 max apply 3 program ya dalam 1 tahun pendaftaran
9:50pm, Mar 8 – Yansen: Kalau kombinasi action 1 dan 2, saya tidak tahu apakah ada batasannya atau tidak
9:52pm, Mar 8 – ‪[MODERATOR]‬: 👏👏👏👏
Berikutnya :
22. Utk action satu apakah jika kita melamar 3 program nah ada kemungkinan diterima 3 3. Nya, mengingat konsosium yg berbeda
9:52pm, Mar 8 – ‪[MODERATOR]‬: Semngat mas yansen👏👏😄
Lumayan pertnyaannya smpai 22 buah.
Semangat teman”😊👏👏💪
9:53pm, Mar 8 – Yansen: 22. Benar sekali.. Bisa jadi diterima semuanya.. Nanti tinggal dipilih salah satu saja yang paling diminati.
9:53pm, Mar 8 – Yansen: Secara historis, ada kok yang diterima lebih dari 1 program (hebat banget orang itu)
9:53pm, Mar 8 – Yansen: Kita mau dapet 1 aja susah ya.. Hahaha
9:53pm, Mar 8 – Yansen: Saya sendiri apply EM 2 tahun
9:53pm, Mar 8 – Yansen: Tahun 1 ditolak semua
9:53pm, Mar 8 – Yansen: Tahun berikutnya baru keterima
9:53pm, Mar 8 – Yansen: Hehhee
9:55pm, Mar 8 – Yansen: Tetapi kurang lebih mungkin taktiknya kayak SNMPTN aja.. Jurusan yang kurang populer, saingannya lebih sedikit hehe
9:56pm, Mar 8 – ‪[MODERATOR]‬: Berjuang terus pantang mundur ya mas😊💪
Berikutnya mungkin yg terkhir ya krna waktu diskusi kita tinggal 5 menit lg😊:
23. Action 2 ini bisa dari SMA yg mau melanjutkan k S1 full di europe?
24. Mas yansen yang keterima di tahun k2 itu tetep apply program2 yg sama seperti pd tahun 1 apply?
9:56pm, Mar 8 – Yansen: 23. Sepertinya tidak bisa.. Kalau S1 kan biasanya “exchange”, dalam artian harus tergabung di univ dulu..
9:57pm, Mar 8 – Yansen: 24. Tahun 1 apply program A, tahun 2 apply program A, B
9:57pm, Mar 8 – Yansen: Keterimanya di program B 😜😜
9:57pm, Mar 8 – Yansen: Tetep ditolak ama program A
9:57pm, Mar 8 – Yansen: Di situ saya merasa sedih..
9:57pm, Mar 8 – ‪+62 857-1070-xxxx: 😄😄
9:57pm, Mar 8 – Yansen: Tapi secara realistis, ya kejauhan “nyebrang” jurusan untuk program A
9:58pm, Mar 8 – ‪+62 812-7213-xxxx: 😂😂
10:00pm, Mar 8 – ‪[MODERATOR]‬: Bukan pilihan terbaik mas yansen *eh😅
10:01pm, Mar 8 – Yansen: 😎😎
10:01pm, Mar 8 – ‪[MODERATOR]‬: Baiklah teman” diskusi yg sngat menarik dan informasi yg Luar biasa sangat bermanfaat 😊. Karena kita dibatasi oleh waktu, mungkin sekarang masuk ke closing statement dulu ya oleh mas yansen
Untuk rekan” yang mungkin malu untuk bertnyaa di group nanti bisa japri mas yansen ntuk langsung bertanya 🙂
Via akun fb td ya mas?
Dan selanjutnya kita tutup sesi diskusi formal kali ini.👏👏👏
10:02pm, Mar 8 – ‪[MODERATOR]‬: Silahkan mas closing statement😊
10:02pm, Mar 8 – Yansen: Yess.. via FB boleh..
10:03pm, Mar 8 – ‪+62 812-7213-xxxx: 😟
10:04pm, Mar 8 – Yansen: CLOSING:
Ya, pada intinya, ketika kita ingin meraih beasiswa, harus ada effort yang dikeluarkan.
Memang cape dan melelahkan, tetapi anggap saja itu investasi untuk masa depan kita.

Kalaupun setelah berulang kali mencoba, pada akhirnya tidak dapat beasiswa, mungkin ada jalan lain bagi kita.
Saya pun dulu sudah nyaris menyerah, sebelum akhirnya dapat beasiswa.
Ada teman saya, dia juga nyerah, lalu bekerja, eh tak disangka malah dapat beasiswa dari kantornya, dan sampai hari ini, dia lebih banyak keliling dunia dibanding saya (padahal saya yang dapat beasiswa duluan).

Jadi, syukurilah apa yang ada, dan lakukanlah selalu yang terbaik.
Sekian, semoga sesi ini bermanfaat.
Mohon maaf kalau ada salah2 kata.

Athens – Day 1

Melanjutkan posting sebelumnya tentang jalan-jalan di Athena, https://emundus.wordpress.com/2014/10/29/jalan-jalan-ke-athena/.

Akhirnya tibalah hari keberangkatan kami, Minggu, 9 Maret 2008.

Perjalanan dari Vienna ke Athena dengan nomor flight NE 3312 ditempuh selama 2 jam 15 menit, dimana terdapat perbedaan waktu 1 jam antara Vienna dan Athena. Penerbangan berjalan dengan mulus, dan kami mendarat dengan aman di bandara Eleftherios Venizelos.

Di masa sekolah, apalagi bagi yang mengambil jurusan IPA, pastinya tidak asing dengan istilah alpha, beta, theta, gamma, dan sebagainya. Dan, alfabet-alfabet inilah yang pasti akan banyak dijumpai di Athena dan kota-kota Yunani lainnya. Misalnya saja di Airport:

DSCF3420

Sebagaimana kebiasaan pelajar, yang selalu mencari alternatif terbaik (alias termurah), kami pun merencanakan segala pengeluaran kami dengan baik untuk perjalanan ini. Bila untuk tiket pesawat pp kami hanya membayar 63 EUR, maka untuk penginapan kami memilih alternatif termurah yaitu hostel (bukan hotel !!). Walaupun lokasinya terletak agak di pinggir kota, tetapi di hostel ini kami cukup membayar 17 EUR per orang per malam (1 kamar berempat, hanya rombongan kami saja).

Dari airport menuju ke hostel Neos Olympos, kami menggunakan airport bus X95 menuju Syntagma yang memberikan diskon 50% bagi pelajar (dengan menunjukkan student ID yang masih berlaku). Berikut adalah foto suasana bus dan pemandangan di perjalanan.

Oya, jangan heran kalau busnya agak sesak karena harganya memang ekonomis (5 EUR saja).

DSCF3427

Ada yang bisa baca nama restoran ini?DSCF3428

Catatan:

Dalam perjalanan kami di hari-hari berikutnya di Yunani, beberapa tempat menggratiskan tiket masuk bagi student (jadi, kalau jalan-jalan, jangan ditinggal ya student ID-nya, siapa tahu berguna hehe..).

Namun, peraturannya terkadang tidak standar, ada yang hanya menerima student ID dari universitas di Yunani, ada yang menerima student ID dari universitas di negara2 Uni Eropa, ada juga yang menerima student ID dari universitas di negara2 Uni Eropa dengan syarat umur studentnya belum melebihi 26 tahun.

Agak melantur sedikit, ada untungnya kalau anda bisa dapat beasiswa di usia muda (sebelum usia 26 tahun), misal saja, untuk pembuatan ISIC (International Student Identity Card) dimana ada diskon untuk pembelian tiket pesawat di STA Travel (bisa cek http://www.statravel.com), diskon di merchant-merchant tertentu di berbagai negara, dan benefit2 lainnya (lengkapnya bisa baca di http://www.isic.org/)

isic-card

Sesampainya di Syntagma, kami lalu melanjutkan dengan metro ke hostel kami.

DSCF3432

Ada untungnya kami membawa peta berbahasa Inggris. Karena setelah kami turun dari metro, petunjuk jalannya (locality map) ternyata menggunakan Greek alphabet.

DSCF3435

greek

Di hari pertama ini, tidak banyak petualangan yang kami lakukan, sekembalinya di hostel, istirahat sebentar, lalu kami keluar mencari makan malam. Ini makanan pertama saya di Yunani, Calamari (yang harganya sangat mahal kalau dijual di Vienna) !!

DSCF3452

Orang-orang Yunani bisa dibilang ramah pada pendatang. Terlebih lagi, mungkin muka-muka Asia kami yang “lugu” dan “asing”, mengundang pertanyaan dari orang-orang setempat. “Kok bisa nyasar ke Athena?”, mungkin begitu kali ya kasarnya hehe..

Anyway, setelah kami jelaskan bahwa kami adalah mahasiswa Asia yang beruntung dapat beasiswa Erasmus Mundus sehingga bisa menempuh studi di Vienna, yang saat ini sedang masa liburan, mereka malah sepertinya “amazed”. Di beberapa souvenir shop, kami bahkan diberi diskon atau bonus tambahan (catatan: di Athena memang sepertinya tawar menawar adalah bagian dari keramahan kota).

Ketika kami merencanakan perjalanan ini, kami memang menyiapkan beberapa kemungkinan rute. Jadi, dalam perjalanan kembali ke hostel, tidak lupa kami mengunjungi stasiun kereta api “Larissa station” yang terletak dekat dengan hotel, untuk mengecek jadwal kereta ke kota-kota lain di Yunani, dan menentukan rute mana yang bisa kami ambil untuk hari-hari berikutnya.

Malam berlalu dengan cepat, dan dengan badan yang penat, kami segera kembali ke hostel untuk bebersih dan beristirahat. Walaupun kamar agak sempit berdesak2an, tetapi at least 1 orang 1 ranjang, jadi punya kapling tidur masing-masing.

Keesokan paginya, suasana pagi yang cerah menyapa kami dari jendela kamar. Selamat pagi Athena !!

DSCF3433

Nanti dilanjut ya ke Day 2..

Follow me on Twitter @emundusme

Slide Baru untuk Malang

Berikut adalah cuplikan slide yang akan digunakan untuk sharing session di Malang.

siklus

(Refer ke slide di bawah)

Bagi yang sudah mendaftar, berhubung sekarang sudah akhir Mei, maka sebentar lagi nama-nama para awardee yang masuk ke main list sudah akan diumumkan secara resmi.

Bagi yang masuk reserve list, sambil terus berharap dan berdoa, bisa coba proaktif cari-cari kesempatan beasiswa lain yang bisa diapply. Darimana carinya?
1. Web universitas2 yang tergabung dalam konsorsium
2. Web lembaga pendidikan di negara letak universitas2 yang tergabung dalam konsorsium (misal: CampusFrance untuk Prancis, DAAD untuk Jerman, dll)
3. Cek peluang beasiswa lainnya yang pernah saya post di sini: https://emundus.wordpress.com/2014/05/15/other-courses-and-scholarships-in-europe-besides-erasmus-mundus/
4. Dan khusus untuk Indonesia, jangan lupa ada beasiswa LPDP !!

Tidak semua program baik hati memberikan “saran” bagi para reserve list-nya.
Salah satu yang baik adalah program FIPDes (saya attach screen capture-nya).

Sedangkan, bagi yang baru akan mendaftar, bulan ini adalah masa-masa persiapan untuk meningkatkan nilai Bahasa Inggris, mencicil translate dokumen dan legalisasi, mencoba mengarang motivation letter, menabung (misal: untuk kirim aplikasi, untuk biaya tes Bahasa Inggris)

mainlist

Sharing Session Malang –> berubah tanggalnya ke 7 Juni

plane

Refer ke posting ini: https://emundus.wordpress.com/2014/05/24/sharing-session-malang-dan-sekitarnya/
Perjalanan saya dimajukan tanggalnya ke 7 Juni (Sabtu depan).

—————
Mengenai tempat, masih dalam proses pengurusan perijinan di Universitas Brawijaya (UB).

Mengenai waktu, sesi sharing akan diadakan 11:30-13:00.
(Saya dijadwalkan landing jam 10:05, semoga tidak delay dan tidak macet ya dari airport ke UB).

Acaranya santai saja, diskusi, tanya jawab.
Sekitar 20-30 menit untuk presentasi, sisanya interaktif saja (semoga 1 jam cukup ya).

Supaya waktunya bisa efektif, sangat disarankan anda membaca dulu materi-materi yang tersedia di http://bit.ly/infoEM supaya tidak “blank” pada saat acara.

Catat pertanyaan-pertanyaan yang mengganjal, dan ajukan saat sesi tanya jawab (semoga saya bisa jawab).
Catatan: Background saya adalah beasiswa untuk EMMC (Action 1).

Mengenai brosur, sudah saya mintakan ke Delegasi EU, tetapi stok terakhir mereka terpakai habis di acara UGM minggu lalu. Anyway, semua materi ada di http://bit.ly/infoEM. Sekali-sekali kita mendukung “go green” yah.

—————

Bila ada info tambahan, akan saya infokan via WordPress ini.
Pastikan anda sudah subscribe (baca: https://emundus.wordpress.com/2014/05/03/email-subscription-jangan-ketinggalan-berita/)

Sampai ketemu di Malang !!

Sharing Session: Malang dan sekitarnya

Saya kebetulan akan ada di kota Batu, Malang pada Sabtu, 14 Juni Sabtu, 7 Juni.

malang_district_w400

Karena ada beberapa permintaan untuk sharing session Erasmus+ (Erasmus Mundus) di kota Malang, maka bagi yang berminat untuk hadir, mohon konfirmasinya dengan cara:

Menulis komentar di bawah artikel ini, dengan isi:
Nama, nama universitas, sudah lulus atau sedang semester berapa, beasiswa apa yang dicari (S2 atau S3)

Note:
Supaya adil, maka pendaftaran hanya diterima melalui jalur komentar di artikel WordPress ini. Tidak melalui email, FB, maupun media lainnya.

Pengumuman berikutnya akan disampaikan via email yang anda masukkan ketika mengisi komentar.
Pendaftaran dibuka untuk 20 orang pertama saja (kalau ternyata ada tempat yang lebih luas, akan saya update lagi).

Venue: to be decided (salah satu hotel di kota Batu –> nanti kita cari tempat kosong di sekitaran hotel)
Waktu: to be decided 4-6 sore

Note:
Bila ada yang berbaik hati mencarikan tempat yang lebih luas di kota Batu supaya yang hadir bisa lebih banyak, please mail me at emundus.wordpress (at) gmail.com

Update per 24 Mei, 15:22
Terima kasih kepada salah satu mahasiswa Unbraw, Ali Akbar Hakim dan Dharu, yang bersedia mengaturkan tempat di Unbraw dengan kapasitas 100 orang untuk acara sharing ini.

Bila ijin tempat bisa diperoleh, maka nanti kita pindah tempat ke Unbraw saja ya.
Untuk waktunya, saya akan landing di airport Malang sekitar jam 10.
Jadi mungkin kita akan mulai sekitar jam 11:30.

Pastinya nanti akan diupdate lagi ya.
(Saya pribadi juga masih mengatur ijin perjalanan dari sisi saya)

Terima kasih untuk antusiasmenya.

Other courses and scholarships in Europe (besides Erasmus Mundus)

Saya ambil kutipan berikut dari website Erasmus Mundus:
http://eacea.ec.europa.eu/erasmus_mundus/funding/scholarships_students_academics_en.php

Europe offers a vast range of higher education courses, and scholarships from national, regional or other funds may also be available. You can explore these other scholarship and funding opportunities by consulting the “Study in Europe” website. This provides a range of useful information for students and links to courses, universities and national agencies. http://ec.europa.eu/education/study-in-europe/

You can also visit the following website that brings together information on scholarships offered by national and regional authorities, as well as private sources of financing: http://www.scholarshipportal.eu

Lalu saya coba buka websitenya, dan isinya benar2 sangat memudahkan, karena informasi beasiswa yang tersedia sudah terangkum dan disajikan dengan indah. Tinggal bagaimana informasi ini bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin 😉

scportal

Selamat mencoba.

Brosur EM versi singkat

Beasiswa Erasmus Mundus (atau sekarang disebut juga Erasmus+), Action 1, menyediakan kesempatan beasiswa untuk jenjang S2 (disebut Erasmus Mundus Masters Course) dan S3 (disebut Erasmus Mundus Joint Doctorate).

Program apa saja yang ditawarkan / bisa dibiayai dengan beasiswa EM?
Hanya program-program yang tertera di link berikut:
EMMC: http://bit.ly/EM-emmc (hati-hati dalam penulisan link, capital matters)
EMJD: http://bit.ly/EM-emjd (hati-hati dalam penulisan link, capital matters)

url

Bagaimana cara mendaftarnya?
Untuk EMMC saya pernah buatkan step by step-nya, bisa ditengok di link berikut:
https://emundus.wordpress.com/2012/11/10/coba-yuk-step-by-step-apply-emmc/comment-page-1/

Berapa besar beasiswanya?
Untuk EMMC, category A (dengan syarat: dalam 5 tahun terakhir, tidak beraktivitas utama di Eropa selama lebih dari 12 bulan), amountnya adalah EUR 24000 per tahun.
(terbagi menjadi: 8000 untuk tuition fee; 12000 untuk biaya hidup selama 12 bulan; 4000 untuk relokasi dan biaya lain-lain)

Untuk EMJD, amountnya lebih besar lagi (pls check the program), tetapi subject to tax (besaran tax-nya berbeda antar negara), karena PhD dianggap sebagai “pekerjaan”, sehingga beasiswanya sebagai “pendapatan” (bukan grant).

Kapan buka pendaftarannya dan pengumumannya?
Pendaftaran buka sekitar September/Oktober setiap tahunnya.
Deadline penutupan sekitar 1-2 bulan sejak pendaftaran dibuka.
(Pls check the program’s website for exact dates).

Pengumuman final sekitar April/Mei.
Mulai kuliah sekitar September tahun berikutnya (winter semester).

Sekarang masih bulan Mei, adakah yang bisa dilakukan untuk persiapan?
Banyak yang bisa dilakukan.
Bisa pilih2 program yang dituju (melalui link di atas).
Baca syarat2nya (biasanya tidak terlalu berubah dari tahun ke tahun).
Siapkan dokumen-dokumen yang diperlukan (terjemahan, legalisir, dll).
Coba dipikir siapa yang layak untuk memberi rekomendasi.
Bisa coba-coba mengarang indah untuk motivation letter juga.

Selamat mencoba !!

Terima kasih untuk kehadirannya – EU Scholarships Info Day

EU Scholarships Info Day di Hotel Le Meridien Jakarta hari ini berlangsung sangat meriah dan padat pengunjung. Saya sendiri, yang datang menjelang tengah hari, mengalami kesulitan mencari tempat parkir dan jalan masuk.

Patut dikagumi bahwa para pencari informasi beasiswa mau berpanas-panas (antri di luar), bersabar untuk antri, dan tidak saling dorong-dorongan atau berjubel di pintu masuk. Semoga hal ini bisa terus dipraktekkan dan menular ke lingkungan masing-masing, sehingga menjadi contoh kepribadian bangsa yang baik ya (termasuk antri di busway, antri di MRT – kalo uda jadi, dll).

aaa

Brosur beasiswa dan berbagai suvenir (kalender kecil, kalender meja, pulpen, dsb) yang disediakan di booth EU laris manis. Brosur yang jumlahnya ribuan lembar itu pun habis terbagikan (entah ada yang ambil lebih dari satu ga ya hehehe..)

Tipikal ambil brosur dulu (sebelum kehabisan), baca belakangan, masih terlihat di event ini.
Setelah ambil brosur, lalu bertanya “Erasmus Mundus itu apa ya?” hahaha..

Anyway, bagi yang tidak kebagian brosur, saya akan upload-kan versi elektroniknya segera (menunggu kiriman dari Delegasi EU dulu ya). Nanti akan saya share-kan link-nya.

Namun, kalau anda sudah keburu penasaran, di artikel berikut, saya akan sarikan beberapa info penting yang ada di brosur tsb.

Semoga setelah semangat bertanya, semangat mencari info dan berusaha juga ya.
Have a great weekend !! 😉

Email Subscription – Jangan Ketinggalan Berita

Untuk selalu mendapatkan update artikel terbaru dari blog ini, anda bisa menggunakan fitur “subscribe” yang ada di sebelah kiri atas halaman ini.

subscribe

Silahkan masukkan email anda, kemudian lakukan konfirmasi (dengan mengklik link yang dikirimkan oleh WordPress ke email anda). Dengan demikian, anda akan mendapatkan notifikasi bila ada artikel baru.

Saya tidak terlalu banyak menulis, jadi jangan takut email anda akan penuh dengan notifikasi.

Selamat mencoba.

Sharing Motivasi #4: Beasiswa, haruskah punya IPK tinggi?

Pertanyaan ini sangat-sangat dan teramat sering ditanyakan.
Masalah IPK selalu menjadi momok bagi para aplikan beasiswa.

Well, apa yang mau saya tulis di bawah ini, sekedar sharing saja, mencoba memberikan pandangan lain dari pertanyaan tersebut.

Kisah 1:
Ketika saya ambil program Erasmus Mundus tahun pertama saya, saya ketemu dengan 3 orang mahasiswa Indonesia yang juga sedang ambil program Master di universitas dan bidang ilmu yang sama.

Secara jujur, saya tidak tahu berapa IPK S1 mereka.
Yang pasti, ketiga teman saya ini berjuang sangat keras selama S2-nya, dan mereka membutuhkan beberapa semester tambahan (dari durasi waktu normal yaitu 4 semester) sebelum bisa meraih gelar Master-nya.

Mengenai beasiswanya, ketika itu mereka dapat beasiswa dari pemerintah di kota dimana universitas tsb terletak, sebagai bentuk kepedulian mereka terhadap bencana Tsunami yang melanda Aceh pada tahun 2004 yang lampau.
Jadi, kalau saat itu anda adalah mahasiswa yang berasal dari Aceh, kesempatan beasiswanya terbuka lebar.

Kisah 2:
Kisah ini pernah saya singgung sedikit di https://emundus.wordpress.com/2013/12/25/sharing-motivasi-2-positive-mindset/

Teman (alias senior) saya yang satu ini emang jagoan.
Ketika itu dia sudah punya posisi yang cukup mapan di salah satu perusahaan konsultan IT di Indonesia.
Tetapi ketika dia dapat beasiswa dari sebuah universitas di Italia, dia langsung memutuskan berangkat.

Perlu dicatat, ketika itu, dia sudah beranak 2, dan istrinya sedang hamil anak ketiga.
Besaran beasiswanya pun mepet sekali, dan perkuliahannya dilakukan dalam bahasa Italia (bahasa yang sama sekali tidak dia kuasai kala itu).

Semasa kuliah, dia mengalami banyak kesulitan, bukan cuma masalah di kuliah saja karena bahasanya, tetapi juga masalah beasiswa yang telat, administrasi yang berbelit-belit, dsb.

Pernah sampai tempat tinggalnya didatangi “Carabinieri” (polisi Italia), mau diusir, ketika dia menunggak beberapa bulan pembayaran sewa tempat tinggal karena beasiswanya belum turun, dan pemilik housingnya tidak mau tahu.

Bagaimana dengan IPK S1-nya?
Ini juga saya ga tahu pasti angkanya berapa, tetapi kalau di angkatan dia (secara dia adalah senior saya), yang saya tahu terkenal “pintar” (alias IPK tinggi) sih orang-orang lain.

Jadi, dari 2 kisah di atas, yang saya mau bilang, kadang masalahnya bukan di IPKnya atau beasiswanya, tetapi dari diri kira sendiri, apakah kita sudah benar-benar siap untuk ambil beasiswa, ketika kesempatan itu datang.

Banyak orang yang pada awalnya semangat apply beasiswa, lalu di belakang baru bingung soal bawa keluarga lah, besaran beasiswa yang ga yakin cukup, bidang beasiswa yang kok rasanya ga 100% sesuai ekspektasi, dll.
Padahal hal-hal semacam ini seharusnya sudah bisa dipertimbangkan dari awal.

———–

Bagaimana dengan beasiswa Erasmus Mundus, haruskah IPK-nya tinggi?
Setiap beasiswa punya tujuan masing-masing kenapa dia diberikan.
Dan setiap pemberi beasiswa harus punya alasan kenapa mereka menerima seseorang, dan bukan orang lain.

Untuk Erasmus Mundus, pengalaman saya pribadi, di program saya sendiri, ada beberapa mahasiswa/i dari negara lain, dimana ada kuota khusus yang diperuntukkan bagi negara/region tersebut, yang secara “perjuangan” menempuh S2, mereka sangat “berdarah-darah”.

Untuk Indonesia, sayangnya belum ada kuota khusus semacam tersebut.
Sehingga, aplikan Erasmus Mundus asal Indonesia harus berkompetisi dengan aplikan negara-negara lain yang juga tidak punya kuota khusus.
Kalau kompetisinya ketat, secara otomatis kriteria penerimaan juga akan makin tinggi (analogikan saja dengan jurusan favorit di SNMPTN; tes penerimaan CPNS; atau tes masuk perusahaan besar, misalkan Pertamina).

Jadi, intinya, tetap buka mata, buka telinga, buka diri, kalau Erasmus Mundus rasanya kurang sesuai untuk kondisi anda, masih ada beasiswa lainnya yang bisa diperjuangkan.

485229_425654084115947_230951443_n

Sharing Motivasi #3: Jangan Berasa Dikerjain

Ketika saya sudah lulus sidang skripsi S1, pembimbing saya meminta saya untuk menerjemahkan skripsi saya itu dalam bentuk paper berbahasa Inggris. Bingung juga awalnya, untuk apa ya, bukankah sudah ada buku skripsi yang lebih tebal dan lengkap isinya?

Saya sempat menanyakan “untuk apa ya Bu?”.
Jawab beliau “mau saya coba masukkan ke jurnal ilmiah”.
OK lah, karena saya tidak tahu-menahu mengenai jurnal ilmiah, dan si Ibu sudah berjasa besar dalam membimbing skripsi saya, maka saya turuti saja permintaan si Ibu.

Scientific-paper

(Ini cuma ilustrasi paper ya, bukan paper buatan saya)

Sekitar 6 bulan kemudian, saya mendapat kabar bahwa jurnal tersebut telah diterima untuk publikasi di sebuah international conference di Brazil (ternyata si Ibu yang mengirimkan paper ini), dan penulisnya diundang untuk mempresentasikan papernya. Karena lokasinya jauh, dan juga biayanya besar, maka akhirnya si Ibu yang pergi ke Brazil dengan dana dari sponsor beliau.

Bagi orang yang berkecimpung di dunia akademik, publikasi seperti ini sangatlah WOW.
Namun, bagi saya yang di kala itu sudah masuk ke dunia kerja, jujur saja, publikasi seperti ini tidak berdampak pada karir ataupun salary saya.

————–
Anyway, life goes on..
Kalau anda sudah baca posting saya sebelumnya https://emundus.wordpress.com/2013/12/25/sharing-motivasi-2-positive-mindset/ di situ saya menyebutkan bahwa bidang S1 saya berbeda dengan bidang S2.

Lompat bidang seperti ini juga menjadi pertanyaan banyak orang sih.
Kok bisa?
Gimana caranya?

Secara jujur, saya juga tidak tahu pasti kenapa saya bisa diterima di Erasmus Mundus, mengingat jurusan S1 yang berbeda ini. Saya hanya mencoba membuat aplikasi sebaik2nya, menjawab semua pertanyaan “tantangan” di application form secara sejelas-jelasnya dengan argumentasi yang mendukung, dan selalu berharap akan yang terbaik.

Sampai pada suatu kesempatan, dimana ada gathering untuk seluruh mahasiswa/i dan pengajar dari program EM yang saya ambil (catatan: ada 5 universitas yang ikut serta di program ini, dan mahasiswa/i-nya tersebar di 5 universitas tersebut).

Saat dinner di sebuah restoran kecil bernuansa eksotis romantis, saya ngobrol santai dengan si koordinator utama, dan dengan ucapan yang sangat hati-hati saya coba bertanya (dalam hati, duhhh jangan sampai si prof tiba-tiba “ngeh” kalau dia salah terima orang, lalu beasiswa saya distop dan saya dipulangkan hehehe..).

“Prof, jujur nih, saya penasaran saja. Teman-teman sekelas saya semua backgroundnya dari bidang X, dan mereka sudah punya pengetahuan dasar untuk ikut program ini. Tetapi kalau saya kan dari bidang Y, apa yang membuat saya bisa diterima?”

Si prof tersenyum (dia habis minum beberapa gelas bir, saya bertanya-tanya, apa dia mabok ya).
Saya ikut senyum juga sambil harap-harap cemas, jangan-jangan pertanyaan saya salah nih.

Lalu si prof mulai bersuara, dan jawabannya mencengangkan banget.
“Yes, I know you’re different from the others, but we feel if we accept all students from X, then we only know what’s inside.
You are from Y and we expect you to give us other insights to this program, based on your background.
Why we choose you, because we saw that you published a nice paper and rarely a Bachelor student could reach that level, so we expect more from you.”

Wow wow wow..
Rasanya terbang mendengar jawaban tsb.
Jadi paper yang saya kerjain cape-cape dulu itu, ga sia-sia lho !!
Untung pencahayaan di restoran tsb terbatas, jadi mimik muka saya (sepertinya sih) ga kelihatan hehehe..

Anyway, from this story, again, saya mau bilang, kadang ada hal-hal yang pada saat kita menghadapinya/mengalaminya, rasanya ini kerjaan tambahan, rasanya ini ga ada hubungannya dengan plan kita ke depan, rasanya ini cuma buang-buang waktu, rasanya ini cuma bikin cape doang, dll.
Tetapi, kalau kita tetap mengerjakannya dengan sungguh-sungguh, mencoba meraih yang terbaik yang kita bisa, tidak mustahil apa yang sudah kita usahakan tersebut akan berbuah manis di masa yang akan datang.

Walaupun tidak ada jaminan semua kerja keras itu akan berbuah manis, tetapi lebih baik berusaha, daripada menyesal di masa depan dan berharap bisa mengulang waktu.

Semoga menginspirasi.

Sharing Motivasi #2: Positive Mindset

Setelah saya lulus S1, ada dua pilihan: bekerja atau melanjutkan S2.
Serupa dengan kebanyakan orang yang mencari beasiswa, masalah klasik mengenai “biaya” juga menghadang saya.
2966

Pada saat itu, S2 sepertinya sesuatu yang “jauh” mengingat untuk S1 saja, saya kerja part-time dan bayar kuliah sendiri.
Anyway, satu hal yang saya mau katakan, tidak ada yang perlu disesali dari kondisi yang ada.
Anggap saja itu tantangan hidup untuk membuat kita naik level.
Yang perlu dipikirkan adalah bagaimana bisa mengatasi tantangan yang ada dan membuktikan bahwa diri kita “mampu”.

Intermezzo sedikit, seorang teman saya, yang tidak bisa bahasa Italia, nekat dadakan berangkat ke Italia untuk kuliah karena dia tiba-tiba dapat beasiswa di sana.

Bayangkan coba, bagaimana dia bisa hidup dan kuliah di sana.

Namun, tekad yang kuat telah menjadikannya seorang pemegang gelar Master per saat ini, dan dia juga sudah bisa berbicara bahasa Italia dengan fasih. Bahkan berencana untuk lanjut ke S3 (di Italia juga) dalam waktu dekat.

3125

Jadi, pada saat itu, saya memutuskan untuk masuk dunia kerja saja dulu.
Toh sambil kerja, bisa sambil apply beasiswa juga.

Dari sekian banyak beasiswa yang saya apply ke berbagai universitas, berbagai lembaga, berbagai negara, jujur saja, lebih banyak yang ditolak atau tidak ada jawaban.
Sampai pada akhirnya ada 1 reply dari seorang profesor di sebuah universitas di negara ginseng, yang tertarik dengan aplikasi saya.

Masalahnya ada di sertifikat TOEFL.
Ketika itu, saya belum punya TOEFL international.

Nah, syaratnya adalah saya harus submit TOEFL dalam 1 bulan, dengan standar nilai tertentu.
Kalau tidak bisa dipenuhi, maka beasiswanya akan gugur.

Bagi saya, “biaya” TOEFL itu tidak kecil.
Jadi rasanya perlu persiapan belajar dulu, tidak bisa diburu-buru.
Sayang kan kalau sudah ambil buru-buru, eh nilainya ga bagus.. It’s a waste of money.
Tetapi di sisi lain, si profesor juga “ngotot”.

Sampai pada akhirnya, kita sama-sama setuju bahwa kita tidak bisa sepakat.
Dan saat itu, saya mundur dari aplikasi beasiswa tersebut.

Sedih? Menyesal? Terpukul?
Ya iyalah, wong itu baru pertama kalinya ditawari beasiswa di LN.
Sudah di depan mata, batal cuma gara-gara TOEFL.
Sempat beberapa waktu masih merenungi saja, duh gue salah ambil keputusan ga sih? Harusnya apa kapan itu ambil TOEFLnya aja ya nekat2an?

FAILURE-beginn...

Anyway, no one knows the future.
Dalam beberapa bulan berikutnya, eh dipanggil jadi main list-nya EM.
Beasiswanya lebih besar jumlahnya, gelarnya double, dan tidak 100% research-based.

Was EM a perfect choice for me?

Not 100%..
Bidangnya berbeda dari S1 saya (walaupun ketika apply, saya sih mirip2kan supaya diterima).
Kuliahnya? Lebih banyak teori daripada hal-hal praktisnya.

Tetapi karena saya memang sudah ngebet pengen S2 di LN, ya saya ambil saja.
Apakah mudah adaptasinya?
Gimana mengatasi perbedaan bidang kuliah S1 dengan S2?
Next time saya sambung lagi..

Gimana kuliahnya? (untuk pertanyaan ini, jawabannya sudah di-share di https://emundus.wordpress.com/2013/12/08/bobot-perkuliahan/)

Sharing Motivasi #1: Peluang itu ada

Setiap Sabtu, saya biasanya main basket di lapangan dekat rumah.
Permainannya sendiri cukup unik karena pesertanya tidak tetap, dan belum tentu saling kenal satu sama lain.
Secara rutin sudah terbentuk semacam kebiasaan, bahwa Sabtu sore, kita kumpul bareng di lapangan, dan main bareng.
Siapapun yang datang, asal bisa main basket, boleh join.

Kalau dibandingkan dengan main di lapangan bagus, misalnya saja di Senayan, kontras sih.
Di tempat saya main ini, pesertanya berasal dari berbagai kalangan.
Secara usia, ada yang masih SMU, universitas, sudah kerja, bahkan sampai yang sudah beranak tiga.

basket

Secara atribut, tidak ada ketentuan juga.
Syaratnya cuma 1, yaitu pakai sepatu.
Mau itu sepatu basket, sepatu kets, sepatu casual, sepatu tenis, apapun tidak masalah.
Mau sepatunya masih baru, setengah baru, atau robek, atau sudah dilem berulang kali, tidak dipermasalahkan.
Mau belinya di toko olahraga atau Taman Puring atau Pasar Ular, tidak masalah juga.

Secara pakaian, mau pakai baju basket, mau pakai kaos oblong, mau pakai kaos robek, mau pakai baju training, apapun ga masalah.
Malah kadang-kadang ada yang karena kepanasan malah dia mainnya telanjang dada.

———-

Nah, hari ini terpikir oleh saya, bukankah konsep beasiswa itu juga demikian?
Beberapa beasiswa memang membatasi aplikannya dari universitas tertentu –> tapi kita ga ngomongin beasiswa yang seperti ini.

Kalau ngomong beasiswa EM, mereka membuka peluang bagi siapapun.
Apakah universitas anda di Pulau Jawa, Sulawesi, Papua, atau pulau lainnya, bahkan luar negeri, anda bisa join.
Tentunya ada syarat-syarat, semisal berkualifikasi S1, punya nilai tes bahasa Inggris yang memadai, dan beberapa syarat lainnya.

Apakah bisa dicapai? Tentu saja bisa, kalau anda mau berusaha untuk mencapainya.
Sama seperti ilustrasi mengenai main basket, dimana pertama anda harus belajar main, tahu peraturan, lalu at least memakai sepatu, maka di beasiswa juga kurang lebih sama.

Intinya, yang saya mau sampaikan, apapun kondisi anda saat ini, peluang itu ada.
Kalau anda sudah lulus S1, tetapi IPK pas-pasan, ya mungkin tulisan ini sudah telat.

Tetapi kalau anda masih di bangku S1, apalagi baru mau mulai S1, rasanya sangat penting untuk menyadari bahwa apa yang anda usahakan selama S1, akan menentukan perjalanan hidup anda berikutnya.
Gunakan waktu yang ada sebaik-baiknya.
Belajar yang banyak di program studi yang anda tempuh.
Belajar Bahasa Inggris yang benar (ada banyak cara yang murah meriah tapi manjur untuk memoles kemampuan ini).
Hindari kebiasaan-kebiasaan yang tidak berguna dan membuang waktu.
Bukan berarti tidak boleh refreshing atau harus kerja keras terus menerus, tetapi berinvestasilah pada diri anda sebaik2nya.

Kalaupun tujuannya bukan untuk beasiswa S2, maka segala skill, kemampuan, kepintaran yang anda pupuk semasa S1, tidak akan sia-sia karena akan berguna untuk tujuan lainnya, misal: mencari pekerjaan di perusahaan yang baik dengan posisi dan tawaran remunerasi yang menarik.

Jadi, perlu diingat, peluang itu ada, tinggal bagaimana masing-masing kita memaksimalkan diri untuk menggunakan peluang tersebut sebaik2nya.

Sharing Challenge #1: Bobot Perkuliahan

Catatan:
Apa yang saya alami ini, mungkin saja berbeda dengan pengalaman orang lain.
Apalagi dengan bidang studi yang berbeda, universitas dan negara yang berbeda, pastinya ada banyak variasi.

Di Eropa, (menurut saya) seluruh fasilitas disediakan dengan lengkap, sehingga bisa dibilang limitnya adalah diri anda sendiri. Anda mau jadi luar biasa, atau biasa-biasa saja, atau tidak biasa, itu tergantung tekad dan kemauan anda.

skys-the-limit

Kenapa saya bilang begitu?
– Akses internet yang melimpah (dan sangat cepat)
– Koleksi perpustakaan yang beragam
– Akses ke jurnal-jurnal ilmiah untuk mencari referensi
– Faktor pengajar (di universitas saya, saya tidak ada kesulitan untuk menemui pengajar di luar jam kuliah, mereka menyediakan yang disebut “office hour” bagi mahasiswa/i-nya untuk berkonsultasi)

————

Anyway, kali ini kita akan lihat salah satu contoh materi kuliah yang pernah saya ambil.
Kuliah ini diadakan 1x seminggu selama 2 jam.
Ada juga sesi “exercise”nya diadakan 1x seminggu selama 1 jam.
Dalam 1 semester, ada 8-10 minggu kuliah.
Bobot kuliah ini adalah 3 ECTS.

Untuk mendapatkan Master degree, syarat di program saya adalah 120 ECTS (untuk 4 semester), yang berarti sekitar 30 ECTS per semester. Jadi, kuliah ini, hanyalah 1 dari sekitar 5-6 mata kuliah yang saya ambil pada semester tersebut (note: setiap mata kuliah punya jumlah kredit yang berbeda, ada juga yang sampai 8 ECTS).

Berikut adalah 3 slide terakhir dari salah satu sesi perkuliahan:
Capture

Capture2

Capture3

Jadi, bisa anda bayangkan bobot kuliahnya, kalau 1 kuliah, dalam 1 minggu saja referensinya sebanyak itu.
Ini baru 1 kuliah, belum lagi bobot dari mata kuliah yang lain.

————

Setiap orang punya pengalaman S1 yang berbeda-beda.
Namun, buat saya pribadi, kuliah ini termasuk “shock culture”.
Kuliah S1 saya sangat jarang yang ada referensi ke jurnal ilmiah seperti ini.

Dan seringkali, kalau anda baca 1 jurnal, mau ga mau anda harus refer lagi ke jurnal lainnya (“jurnal lain” maksudnya yaitu jurnal yang di-refer dari jurnal yang anda baca tsb).
In the end, dari 1 jurnal yang ditugaskan, bisa 3-4 jurnal yang dibaca (jadi, kalau ada 4 jurnal yang ditugaskan, maka totalnya bisa lebih dari 10 jurnal yang harus dibaca).

————

Tujuan saya posting mengenai hal ini, tidaklah untuk menakut-nakuti.
Tidak semua kuliah seseram ini.
Ada juga kuliah yang lebih banyak mengedepankan faktor diskusi dan solusi.

Namun, kita harus selalu “prepare for the worst”.
Kalau memang anda benar-benar ingin supaya “maju”, maka sharing ini seharusnya menguatkan anda, bahwa tantangan apapun yang ada di depan, anda akan siap untuk berjuang mengatasinya.
Bukan malah patah arang dan mundur.

Jadilah orang yang kuat, bukan hanya ketika apply beasiswa (ngotot banget), tetapi juga kuat ketika menjalaninya sampai selesai, dengan hasil yang baik.

Selamat berjuang.