Fosbury Flop

Kemarin ini, saya menghadiri sebuah pelatihan di Jakarta.

Dalam pelatihan ini, salah satu materi yang diberikan, yang saya rasa bisa dikaitkan dengan pencarian beasiswa, adalah mengenai “Fosbury Flop”.
Saya coba Google, salah dua artikel yang menarik bisa dibaca di sini:

https://the16percent.com/2013/06/12/it-depends-on-how-you-define-flop/

http://jamesclear.com/dick-fosbury

dick-fosbury-mexico-city-high-jump

(Gambar diambil dari http://jamesclear.com/)

 

Seperti bisa dibaca di artikel tersebut, sebelum Fosbury bisa membuktikan konsepnya, banyak ejekan, banya ketidak percayaan.
Namun, di sini lah dibutuhkan keberanian untuk melangkah sesuai “kata hati”.

Bagaimana dengan beasiswa?
Kalau dilihat, syarat2 beasiswa kan itu-itu saja: ijazah, transkrip nilai, nilai kemampuan bahasa Inggris, dll.
Apa yang bisa membedakan adalah hal-hal yang sifatnya “subjektif” (tidak hitam putih), misalnya: motivation letter, statement of purpose, CV yang mudah dibaca, dll.
Tentunya banyak contoh dokumen2 tersebut yang tersedia di internet, maupun di komunitas pencari beasiswa, yang bisa dijadikan referensi.

Namun, perlu diingat, dokumen milik si A yg sudah mendapatkan beasiswa, belum tentu cocok untuk si B.
Perlu untuk bisa “membaca” kemauan pemberi beasiswa itu kira-kira seperti apa, dan untuk hal tersebut, butuh usaha “lebih”.

Tidak ada benar salah, hanya pastikan saja jangan sampai menyesal di masa depan, karena waktu tidak bisa berulang.
Gunakanlah waktu sebaik-baiknya untuk investasi masa depanmu.


Apa itu beasiswa Erasmus+?
Bisa baca di: https://emundus.wordpress.com/selamat-datang/

Cara daftarnya?
Bisa baca di: https://emundus.wordpress.com/2012/11/10/coba-yuk-step-by-step-apply-emmc/

 

Advertisements

Summary tips untuk motivation letter

Beberapa bulan lalu, saya menulis seri artikel seputar tips untuk motivation letter.
Karena masih banyak/sering ditanyakan maka berikut summary artikelnya.

Semoga menginspirasi.

Motivation Letter #1: Pertimbangkan perspektif pembacanya
Motivation Letter #2: Apakah harus 1 lembar?
Motivation Letter #3: Pertanggungjawabkan Tulisan Anda
Motivation Letter #4: How to Start
Motivation Letter #5: Buat Kerangka
Motivation Letter #6: Paragraf Pertama
Motivation Letter #7: Paragraf Pertama – Bagaimana Merangkainya
Motivation Letter #8: Berikan 1001 alasan
Motivation Letter #9: Belajar dari Tokyo Metro
Motivation Letter #10: Jangan takut “jual kecap”
Motivation Letter #11: Maksimalkan editormu
Motivation Letter #12: Sebutkan beasiswanya
Motivation Letter #13: Menjadi Seorang Pribadi yang Tangguh
Motivation Letter #14: Pro Kontra itu Wajar
Motivation Letter #15: Pengalaman Berorganisasi

Motivation

Motivation Letter #15: Pengalaman Berorganisasi

Di sini https://emundus.wordpress.com/2013/07/27/motivation-letter-2-apakah-harus-1-lembar/ saya sudah pernah menyebutkan:

Detail mengenai diri anda kan sebenarnya sudah tergambar di dokumen2 lainnya (CV, transkrip, ijazah, dll). Jadi motivation letter ini jangan disalah gunakan. Menurut saya, tujuan utama motivation letter bukanlah untuk men-summary kualifikasi anda (walaupun boleh juga disertakan), tetapi untuk memberikan hal2 yang tidak terlihat di dokumen lainnya.

Dari beberapa motivation letter hasil proofread yang masih terus berdatangan (semoga setelah 15 Januari sudah stop ya hehehe), banyak orang yang berusaha memasukkan pengalaman organisasi atau ekstra kurikuler ke dalam motivation letternya.

Sebenarnya sih tergantung isinya.
Selama alur paragrafnya tetap terjaga (idenya tidak melenceng), dan prestasi yang dimasukkan juga dirasa signifikan untuk mengangkat “jualan”, ya silahkan saja.
Namun, kalau tidak terlalu signifikan, dan malah membuat ide utama paragraf menjadi melenceng, mending di-skip saja.

focus

Toh Erasmus Mundus tidak mensyaratkan ada pengalaman berorganisasi kan? (berdasarkan hasil checking saya di beberapa program EM sih, tidak ada syarat tsb)

Hal ini memang berbeda dari beasiswa2 lainnya yang jelas mensyaratkan pengalaman berorganisasi.

Jadi, kalau saat ini masih nge-draft motivation letter, coba cek sekali lagi.
Alur paragraf itu penting sekali untuk menjaga pembacanya on track pada kualifikasi si aplikan.
Jangan sampai rusak cuma karena ngotot mau masukkin pengalaman berorganisasi.

Motivation Letter #14: Pro Kontra itu Wajar

Kemarin saya mendapatkan email berikut dari seseorang:
motlet

Sebenarnya tanggapan yang berbeda-beda seperti ini adalah sangat wajar, mengingat setiap orang punya sudut pandang dan penilaian masing-masing. Dan karena motivation letter bukanlah ilmu pasti (kalau di matematika, 1+1 pasti sama dengan 2), maka tidak bisa dibilang mana yang benar.

Banyak analoginya.
Misal saja, kalau anda nonton salah satu TV reality show: MasterChef US, masakan oleh orang yang sama, bisa dinilai berbeda-beda oleh setiap juri.

Atau, ada juga sebuah analogi umum mengenai orang tipe pesimis (sisi kiri) vs optimis (sisi kanan):
screen-shot-2012-09-21-at-11-07-37-am

Jadi, pada intinya, listen to your heart and follow your gut.
Para proofreader hanya memberi masukan berdasarkan sudut pandang dan penilaian mereka.
Konsorsium yang akan mengevaluasi aplikasi anda, bisa jadi berbeda pula.

Jadi, karena ini aplikasi anda, masa depan anda, di tengah banyak persimpangan, pilihlah satu jalan yang tidak akan anda sesali di kemudian hari.

Semoga berhasil.