Hari ini, semua ngomongin beasiswa

Tidak terasa, sudah 6 bulan tidak menulis apapun di blog ini.
Posting terakhir di awal tahun, tahu-tahu sekarang sudah bulan Juli.
Waktu terasa cepat sekali.

Anyway, banyak momen saya hari ini, seputar beasiswa.

Pertama, pengunduran diri dari salah satu team member di kantor.
Alasannya untuk melanjutkan S2 di bidang Master Management di Paris (dengan beasiswa penuh, non Erasmus+).
Dia dapat 1200 EUR per bulan !! (not bad lho)

Jadi, sesi diskusi pengunduran diri yang biasanya tegang menjadi cair, dan kita ngobrol2 mengenai pengalaman kuliah di Eropa.
Kebetulan, ada 1 orang alumni Erasmus+ juga yang sekantor, jadi kita saling share info dan cerita2 unik semasa di Eropa.
Seruu !! (jadi pengen kuliah lagi hahaha ;))

.

Kedua, diminta bantuannya oleh admin Instagram @indonesia_ema untuk posting kegiatan “MEET THE ALUMNI” di FB page Erasmus Mundus Indonesia.

Setiap minggu, akan ditampilkan profil2 alumni Erasmus+ dan menceritakan mengenai berbagai hal seperti apa sih kegiatan mereka sekarang? Kenapa pilih Erasmus+? Juga bagaimana impact Erasmus+ ke dalam kehidupan mereka.

It’s a good chance to know the alumni dan konsultasi beasiswa !!
Follow IG-nya ya.

.

Ketiga, saat santap malam.

Meja sebelah (yang jaraknya paling 20 cm dari meja saya, karena agak mepet ruangannya) diisi 2 orang pemuda, yang lagi seru ngomongin mengenai apply beasiswa. Mulai dari LPDP, Chevening, DAAD, sampai Erasmus+.

Gatel sih pengen ikutan nimbrung pas ngomongin Erasmus+ hahaha..
Tapi kali ini menahan diri aja.. Takut makanan keburu dingin kalau asik ngomongin beasiswa hahaha..

 

Menatap 2017

Tahun 2016 sudah berlalu.

Mari membuat resolusi baru untuk 2017.

Bagi yang sedang merencanakan untuk apply beasiswa, bulan ini mungkin adalah bulan terakhir untuk aplikasi Erasmus+ 2017 (mulai kuliah di Sep/Okt 2017).
Jangan sampai terlewat deadline-nya.

Bagi yang masih kuliah, tetap berjuang untuk menggapai ilmu yang terbaik, nilai yang terbaik, publikasi berkualitas, prestasi tinggi.
Akan jadi modal penting untuk apply beasiswa.

Bagi yang sudah lulus, tetapi belum dapat beasiswa, selama angan dan impian itu masih ada, terus berjuang, terus cari cara bagaimana bisa menjual kualifikasi diri ke pemberi beasiswa.
Saya juga dulu lulus di awal 2004, baru dapat beasiswa 2 tahun kemudian (pertengahan 2006).

Akhir kata, mari gunakan waktu dan tenaga untuk hal-hal positif di 2017.
Segala penghalang yang merintangi kita untuk meraih tujuan, singkirkan saja !!

May you all have a great year !!

Strategi Itu Penting

Sebagaimana sudah saya katakan di beberapa posting yang lalu, belakangan ini saya memang cukup sering menggunakan jasa layanan Uber untuk menunjang aktivitas saya. Besarnya biaya untuk layanan transportasi Uber, ditentukan oleh 2 komponen dasar: jarak dan waktu.

Misalkan saja (hanya untuk ilustrasi), harga per km adalah 3000 rupiah, dan harga per menit (waktu perjalanan) adalah 300 rupiah.
Maka, kalau perjalanan anda sepanjang 20 km, yang ditempuh dalam waktu 30 menit, biaya yang harus anda bayar adalah kurang lebih 69.000 rupiah.

Namun di kala jam-jam sibuk (misal: jam pulang kantor), dan ada banyak permintaan untuk suatu area tertentu (misal: area segitiga emas di Jakarta), maka Uber akan mengenakan yang namanya “surge price”. Ilustrasinya ada di gambar di bawah ini.

 

uber-surge

Surge price ini berfungsi sebagai faktor pengali dari tarif dasar.

Yang saya tahu, “surge price” ini adalah untuk menarik lebih banyak pengemudi Uber untuk masuk ke area yang sedang ramai ini, sehingga para pengguna Uber dapat mendapatkan pelayanan yang lebih cepat. Lebih lengkapnya bisa dibaca di https://newsroom.uber.com/indonesia/informasi-mengenai-harga-ramai-surge-pricing/.

Jadi, menilik ulang contoh sebelumnya, kalau pemesanan anda itu kena surcharge 1,75x, maka jumlah yang harus dibayar menjadi sekitar 120.000 rupiah. Tentunya bagi pengemudi Uber, surge price ini merupakan peningkatan penghasilan yang signifikan (sehingga akan menarik lebih banyak pengemudi untuk masuk ke area yang sedang ramai).

Apa impact surge price bagi pengguna? 
Kebanyakan orang akan menunda perjalanannya, menunggu permintaan mereda (kembali ke tarif normal tanpa surge price atau mendekati tarif normal), baru melakukan pemesanan. Hal ini tentunya adalah perilaku yang wajar, karena pengguna menginginkan harga yang efisien. Namun, bagi Uber, perilaku seperti ini mengurangi jumlah pemesanan mereka.

Perubahan pada Uber minggu ini
Berdasarkan pengamatan saya pribadi, tampilan surge yang menakutkan itu sepertinya ditiadakan. Yang Uber lakukan adalah menampilkan hasil total estimasi biaya perjalanan (yang sudah memasukkan konsep surge, bila berlaku).

Dengan cara ini, pertimbangan pengguna adalah langsung ke hasil akhir, total estimasi biaya perjalanan. Misalkan dari titik A ke B, biasanya harganya 30.000. Namun, pada suatu waktu, harga yang muncul adalah 45.000 (bisa disimpulkan, bahwa surge 1,5x sedang berlaku). Namun, bagi pengguna yang tidak mau pusing, tinggal membuat keputusan apakah harga 45.000 ini memenuhi ekspektasi mereka (jadi pesan atau tidak).

Pertimbangan penggguna untuk membuat keputusan, disederhanakan oleh Uber, dengan harapan lebih banyak pengguna yang melakukan pemesanan (dibandingkan ketika masih menampilkan faktor pengali surge price).


Apa kaitannya dengan beasiswa?
Dari contoh di atas, kita melihat kekreatifan Uber dalam mengemas paket harganya. Dengan menghilangkan tampilan surge dan langsung menampilkan, bisa dibilang tidak ada perubahan konsep perhitungan biaya di sisi Uber. Namun, mereka memberikan nilai tambah bagi penggunanya (dan juga bagi Uber sendiri).

Bagi para pencari beasiswa, ada hal-hal yang mungkin sudah tidak bisa diubah (apalagi kalau sudah lulus), misal saja: nilai IPK, prestasi akademik yang sudah dicapai, kegiatan organisasi yang sudah diikuti. Namun, ada juga hal-hal yang masih bisa diusahakan, misalnya: nilai TOEFL/IELTS, motivation letter, recommendation letter.

Kembali ke contoh Uber di atas, intinya adalah bagaimana mengemas komponen-komponen dasar aplikasi beasiswa yang anda miliki, supaya menjadi suatu kemasan yang menarik bagi pemberi beasiswa. Dengan kata lain, bagaimana caranya menonjolkan diri di aplikasi beasiswa, sehingga menjadi kandidat serius yang bisa dipertimbangkan untuk diberikan beasiswa.

Tidak ada suatu ilmu atau konsep generik untuk hal ini. Perlu pemahaman mengenai apa yang anda punyai, dan apa yang beasiswa harapkan, supaya anda bisa merumuskan suatu konsep aplikasi yang diharapkan bisa “tembus” dan mendapatkan beasiswa.

Memang konsep pemikiran ini sepertinya agak abstrak dan tidak konkret (harus melihat case by case untuk merumuskan strategi yang tepat), tetapi ini adalah salah satu pekerjaan rumah anda sebagai pencari beasiswa (yang pada waktunya nanti, semoga status itu berubah menjadi penerima beasiswa).

Selamat berjuang !! 🙂

Raihlah Kesempatan Terbaik

Selama 2 hari ini, 22 dan 23 Oktober 2016 (Sabtu dan Minggu), pengguna transportasi online Uber mobil (di Jakarta) mungkin tahu (dikirimi email atau notifikasi di aplikasi) kalau Uber mengadakan promo khusus diskon sebesar 35 ribu rupiah, untuk maksimal 5x perjalanan.

uberpromo

Jadi, kalau misalkan biaya perjalanannya 35 ribu atau kurang, maka pengguna jasa tidak usah bayar apa-apa (gratis).
Tetapi kalau lebih dari 35 ribu, tinggal membayar selisihnya saja.

Di tengah kondisi Jakarta yang hujan terus dari pagi, saya menggunakan promo ini.
Agak heran, ketika di jalan menjumpai ada orang2 yang masih ber-ojek ria (hujan-hujanan, tanpa jas hujan).

Ada beberapa kemungkinan:

  • Bukan pengguna Uber, jadi tidak tahu ada promo
  • Jarak tempuhnya jauh, jadi masih lebih murah naik ojek online, dibandingkan naik Uber mobil (walaupun bisa disiasati sih dengan memecah perjalanan menjadi beberapa bagian @ 35 ribu)

Anyway, tidak ada yang salah, pilihan transportasi adalah hak masing-masing orang.
Namun, kalau ada orang yang menempuh jarak dekat, sambil hujan-hujanan, seandainya dia tahu ada promo Uber ini, dia kira-kira akan kesal ga ya hehehe..
Kalau dia ambil promo dari Uber ini, kan selain gratis juga tidak basah-basahan.


Dalam hal beasiswa, kalau kita bisa membuka diri terhadap banyak informasi, akan sangat baik.

Karena, sekalipun kesempatan beasiswa yang cocok dengan profil kita ada, tetapi kalau kita tidak tahu (dan tidak apply), bagaimana bisa dapat beasiswanya.

Bagaimana caranya supaya bisa mendapat banyak informasi?

  • Gabung dengan komunitas pencari beasiswa (milis / grup Facebook / lainnya)
  • Daftarkan email di badan-badan pemberi beasiswa
  • Pro-aktif dalam mencari informasi beasiswa (bisa secara online, ataupun via menghadiri EHEF Indonesia yang akan dimulai dalam 2 minggu ke depan di 3 kota)

Dan semoga, usaha keras yang sudah dilakukan, suatu hari akan membawa hasil yang manis  🙂

Selamat berjuang.

Semuanya adalah Pilihan

Erasmus Mundus (yang sekarang disebut Erasmus+), adalah salah satu beasiswa yang membebaskan penerimanya untuk menentukan masa depannya setelah lulus.

Beberapa pilihan teman-teman saya:

  • Lanjut S3 di Eropa (dengan beasiswa Erasmus+ ataupun lainnya)
  • Kerja di Eropa
  • Merajut hidup baru (menikah) dan tinggal di Eropa
  • Kembali ke Indonesia dan bekerja sebagai PNS
  • Kembali ke Indonesia dan bekerja sebagai akademisi
  • Kembali ke Indonesia dan bekerja di bidang swasta
  • Kembali ke Indonesia dan berwiraswasta
  • Kembali ke Indonesia dan terjun ke dunia politik

dan berbagai kemungkinan lainnya.


Dalam sebuah acara kumpul-kumpul dengan beberapa alumni Erasmus Mundus (EM) bulan lalu, baru terkuak bahwa salah satu di antara kami akan segera melanjutkan pendidikan lagi ke Jerman (per hari ini, dia sudah 1 minggu berada di sana), dengan pendanaan dari salah satu beasiswa lokal.

Keputusan yang agak mengejutkan, karena ternyata dia akan menempuh program S2 lagi (walaupun dengan jurusan yang berbeda 180 derajat dengan S2 sebelumnya). Yang lebih mengejutkan, jumlah beasiswa yang akan dia dapatkan hanyalah sekitar 50% dari yang dia peroleh 10 tahun lalu, sebagai penerima beasiswa EM. Terus terang, dengan jumlah segitu, rasanya akan sangat pas-pasan untuk biaya hidup di Jerman.

Anyway, keputusan dan keberanian teman saya ini patut dihargai.
It is his life, and as long he is happy with it, then there is nothing wrong in it.

Di sinilah menurut saya, ada yang namanya passion.
Harus diakui, ada orang-orang yang memang suka berkecimpung di dunia akademik, suka menimba ilmu, suka memperluas pengetahuan melalui berbagai mata kuliah. Dan juga sambil memperluas pengalaman melihat dunia tentunya.

Pengalaman saya pribadi, menjadi mahasiswa adalah salah satu kesempatan terbaik untuk bisa punya waktu luang yang banyak untuk traveling dan melihat sisi lain dunia (dibandingkan dengan kerjaan kantoran hehehe..).


Ada seorang teman lain lagi.
Kami dulu berjuang bersama-sama menempuh S2 di kota dan universitas yang sama di Eropa. Setelah lulus, dan kembali ke Indonesia, tidak lama kemudian dia kembali ke Eropa (Belgia) untuk melanjutkan studi S3. Menyusul kemudian, istri dan kedua anak balitanya. Anak ketiganya baru saja lahir beberapa bulan yang lalu.

Bisa dibilang, dalam 10 tahun terakhir, mungkin 7 tahun sudah dia habiskan di Eropa.
Namun, kondisi Eropa yang teratur, bersih, transportasi yang nyaman, ataupun fasilitas penunjang akademik yang luar biasa, tidak membuat dia untuk memutuskan untuk menghabiskan sisa hidupnya di Eropa. Hatinya ada di Indonesia, kampung halamannya, keluarga besarnya, dan teman-teman masa lalunya.

Apakah ada yang salah? Sekali lagi, tidak.
Setiap orang memiliki pilihan, seperti apa dia ingin merajut masa depannya.


So, what I am trying to say?

  1. Waktu terus berjalan maju, usia terus bertambah (tidak bisa mengulang waktu yang sudah lalu)
  2. Pikirkan baik-baik masa depanmu, keputusanmu hari ini mungkin menentukan masa depan hidupmu
  3. Make good decision for your life, and don’t regret it !!
    Boleh saja mendengar saran dan minta pendapat dari orang lain, tetapi keputusan terakhir ada di tanganmu. It’s your life, by the way !!  😉

life

 

Comfort Zone itu Memang Enak

Untuk menunjang kebutuhan berselancar di dunia maya, saya berlangganan jasa internet mobile dari salah satu provider. As usual, menjelang masa berlaku paket akan berakhir, maka si provider akan memberikan notifikasi, dan saya pun memperpanjang paket tersebut.

Rutinitas seperti ini sudah berlangsung cukup lama, sampai baru-baru ini saya tahu, kalau ternyata sudah ada paket baru yang lebih menarik yang sudah diluncurkan beberapa waktu.

Agak geregetan memang, karena paket yang baru ini lebih sesuai untuk kebutuhan saya. Biaya dan layanan yang ditawarkan lebih optimal.

Namun, dipikir-pikir, tidak bisa menyalahkan si provider karena tidak memberitahu kepada saya mengenai adanya paket baru ini. Lebih kepada dari sisi saya yang memang sudah nyaman dengan paket lama (comfort zone), dan tidak melihat-lihat tawaran baru yang tersedia.


Hal serupa bisa juga terjadi pada beasiswa.

Pada umumnya, fokus kita hanya tertuju pada beasiswa-beasiswa yang sudah “punya nama” dan sudah kita tahu. Satu hal yang pasti, semakin terkenal beasiswa tersebut, berarti semakin banyak aplikan-nya, dan otomatis tingkat persaingannya pun akan semakin ketat (analogi yang sama untuk tingkat persaingan masuk PTN, ada universitas dan jurusan tertentu yang sangat tinggi passing grade-nya).

Padahal ada kemungkinan, ada peluang beasiswa-beasiswa lain yang mungkin juga cocok dengan apa yang kita cari. Jadi, jangan tutup mata, dan teruslah menggali informasi yang ada (baik pasif maupun aktif) !!


Dulu saya lulus S1 di tahun 2004 dan langsung cari-cari beasiswa setelahnya.

Program Erasmus+ (yang dulu namanya masih Erasmus Mundus, disingkat EM) baru dimulai di tahun 2004, tetapi saya tidak tahu akan adanya peluang itu. Sedangkan, salah satu teman yang lulus bareng saya (universitas yang sama, tetapi fakultas yang berbeda), dia malah sudah apply dan dapat beasiswa EM di 2004 (karena fakultasnya punya kerja sama dengan salah satu konsorsium EM). Jadi, ada faktor keterbatasan informasi juga di sini.

Singkat cerita, saya baru dapat EM di tahun 2006 (mulai kuliah Oktober 2006, pengajuan aplikasinya sudah dari akhir 2005). Di kala itu, mungkin karena baru 2 tahun berjalan, sepertinya belum terlalu banyak yang tahu.

2006em

(Intermezzo dikit, foto di atas diambil Agustus lalu, dimana saya dan teman2 seangkatan 2006 baru saja merayakan peringatan 10 tahunan di acara Erasmus+ Pre Departure 2016 di hotel Pullman, Jakarta)

Baru di tahun-tahun selanjutnya, karena semakin banyak yang membicarakan mengenai EM, juga banyak informasi di internet (melalui blog ini salah satunya), maka EM menjadi makin populer sampai saat ini (dan tentunya persaingan menjadi semakin ketat, persyaratan seleksi menjadi semakin banyak).

Ibarat kata, kalau dulu itu, universitas yang butuh mahasiswa (untuk diberikan beasiswa), sekarang ini kebalikannya. Makanya dulu pendaftaran beasiswa EM begitu sederhana dan praktis, dibandingkan sekarang, beberapa pembaca bertanya mengenai biaya pendaftaran, dokumen ini itu yang harus disediakan.

Anyway, jangan putus asa dan jangan terpaku dengan beasiswa Erasmus+ (atau beasiswa terkenal lainnya). Tetap buka mata untuk peluang-peluang lainnya. Who knows, you will find the next “Erasmus+” !!

Selamat berjuang !!

 

It isn’t exciting, but it’s a must

Pernahkah Anda mendapatkan suatu tugas yang rasanya sulit sekali untuk dilakukan?
Tugasnya sih tidak mustahil untuk dilakukan, tetapi motivasi untuk mengerjakannya itu yang hampir tidak ada.

Hal-hal seperti ini ada dalam berbagai aspek kehidupan, misalkan saja pada kegiatan akademik, ada tugas kuliah, baca paper/jurnal, riset mengenai hal baru, buat skripsi, dan sebagainya. Demikian pula pada aspek kehidupan lainnya semisal dunia kerja, rumah tangga, kegiatan organisasi, dan lainnya.

Yang lebih parah adalah kalau hal-hal ini wajib untuk diselesaikan. Semakin menundanya berarti semakin menumpuk pekerjaan “outstanding“.

Menunda untuk memberi kesempatan diri beristirahat, atau menumbuhkan motivasi baru, atau sekedar recharge diri, terkadang memang diperlukan supaya bisa lebih produktif ketika memulai kembali. Namun, bila terus-menerus menunda, then this is not a good sign. Karena, in the end, toh tugas-tugas tersebut harus diselesaikan juga.

Jadi, lebih baik diselesaikan sesegera mungkin, supaya tidak lama-lama membebani pikiran. It is about how you control your mind.


Dalam mencari beasiswa, apa tantanganmu hari ini?
Misal saja:

  • Menyiapkan motivation letter
  • Menyiapkan diri (belajar) untuk tes kemampuan Bahasa Inggris
  • Mencari tahu beasiswa-beasiswa yang tersedia, apa persyaratan dan ketentuannya
  • dan lainnya

Sebisa mungkin, siapkan apa yang sudah bisa disiapkan.

Sehingga ketika kesempatan beasiswa yang dinanti datang, Anda sudah siap dengan amunisi lengkap untuk memenangkan perlombaan tersebut.

Semoga mencerahkan !!

Semua ada kelebihan (dan juga kekurangannya)

Belakangan ini, saya cukup sering menggunakan transportasi berbasis aplikasi online. Tanpa bermaksud mempromosikan merk (tulisan ini bukan pesanan siapapun), saya banyak menggunakan Uber dan Gojek.

Tetapi, ada kalanya juga, di saat atau kondisi tertentu, saya menggunakan taksi berlisensi.

Anyway, inti tulisan saya bukanlah tentang transportasi (ulasan berikut hanya untuk memberi bayangan saja, bukan ulasan komprehensif mengenai perbandingan moda transportasi).

Keunggulan Uber (motor) dan Gojek (motor): 

  • Mudah didapatkan, jam berapapun, tinggal pesan via aplikasi
  • Harga ekonomis (kalau Uber berdasarkan jarak dan waktu, kalau Gojek sudah ditentukan di awal berdasarkan inputan lokasi asal dan tujuan)
  • Relatif lebih cepat menembus kemacetan, dibandingkan mobil

Kelemahannya:

  • Kalau hujan, ya kehujanan; kalau panas, ya kepanasan
  • Terpapar debu sepanjang perjalanan (dibandingkan bila naik mobil)

Keunggulan Uber (mobil) dan Gojek (mobil)

  • Lebih nyaman dibanding motor, dan lebih murah dibandingkan taksi berlisensi
  • Jenis mobil umumnya menggunakan MPV, sehingga lebih banyak tempat bila membawa barang (misal: koper)

Kelemahannya:

  • Terkena peraturan ganjil-genap di beberapa ruas jalan di Jakarta
  • Di beberapa tempat publik (misal: mal, airport), pada umumnya harus menunggu sampai kendaraan datang (dibanding taksi yang sudah standby di pangkalannya)

Keunggulan taksi berlisensi

  • Tidak kena peraturan ganjil-genap
  • Bila ada pangkalan (dan tidak ada antrian panjang), taksi bisa didapatkan lebih cepat dibandingkan kendaraan yang dipesan via aplikasi online

Kelemahannya

  • Harga lebih tinggi

Nah, dalam hubungannya dengan usaha kita untuk meraih sesuatu yang lebih baik, apakah itu beasiswa, pekerjaan, bisnis/usaha, ataupun pasangan hidup, setiap orang pasti memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Terkadang memang mudah melihat “kelebihan/keunggulan” orang lain, sebagaimana pepatah “rumput tetangga lebih hijau”, tanpa menyadari bahwa diri kita juga tentunya punya sesuatu kelebihan, entah itu sudah tampak, atau masih menunggu untuk dimunculkan.

Dalam beberapa reuni dengan teman-teman sekolah di masa lalu, saya melihat bahwa tidak selalu, mereka yang dulunya ranking top 5, populer di sekolah, berpengaruh, saat ini, ada dalam posisi yang sama seperti dahulu. Ada teman-teman yang dulunya biasa-biasa saja, kurang menonjol, tetapi sekarang menjadi seseorang yang mengagumkan.

Jadi, pendapat saya, tergantung bagaimana setiap orang mau “menerima” kondisi dirinya, mengenali kekuatan dan kelemahannya, tidak berputus asa terhadap kelemahan, dan mencari jalan bagaimana bisa menjadi sukses, berhasil, dan meraih apa yang dia berani impikan/cita-citakan.

Sebuah kutipan mengatakan “The journey of a thousand miles begins with one step”. Jadi, jangan berfokus pada kelemahan dan kekuranganmu. Tetaplah miliki impian, dan berjalanlah ke arah yang yang dicita-citakan.

Semoga mencerahkan !!

Berbagi Cerita – dari seorang Supir Uber

Beberapa waktu yang lalu, saya menggunakan jasa Uber untuk menembus kemacetan Jakarta di malam hari (sekitar jam 21:00). Berikut snapshot obrolan santai dengan supirnya.

Saya: Ini banyak banget ya taksi (dengan lampu menyala, tanda tidak ada penumpang) yang mangkal di deoan gedung2 perkantoran (bisa sampai 10 taksi yang berderet menunggu penumpang)

Pak Supir (dengan logat daerahnya yang kental): Iya, sekarang orang carinya Uber.

Supir2 taksi ini pada ga mau pindah sih. Alasannya ga punya mobil. Padahal bisa daftar pakai mobil rental.
Atau, kalau mau mobil sendiri, ada kok yang DP cuma 4 juta, cicilan juga 4 juta. Kalau sehari dapat 500rb, 8 hari selesai lah sudah cicilan bulan itu..

Saya: Emangnya bisa sehari dapat 500rb?

Pak Supir: Bisa lah, kalau dapat order yang jauh2.

Saya paling suka itu dari Bekasi ke airport. Itu pulang dari airport juga ga mungkin kosong (maksudnya, pasti ada penumpang yang akan pesan Uber dari airport). Apalagi kalau ada surcharge (ini tarif pengali, di saat banyak permintaan akan Uber di suatu area tertentu). Ga usah besar2 surchargenya, ga ada yang mau naik. 1,3x atau 1,5x saja sudah mantap kalau ke Bekasi.


Nah, dalam melakukan pencarian beasiswa, beranikah kita untuk mengatur cara pikir dan pola pandang kita untuk optimis seperti si Pak Supir ini?

Tantangan pasti ada.

Kerja keras diperlukan.

Komentar2 orang lain yang mungkin menekan (misalkan dalam konteks cerita di atas, mungkin saja ada yang akan berkomentar “supir Uber terus bertambah, pasti persaingan untuk mendapatkan penumpang semakin ketat”).

Pilihan kembali ke tangan anda, maju terus, atau tetap di tempat, atau memikirkan jalan lain.

quotes-about-change-and-moving-on-39-image

(Gambar diambil dari http://picturelava.com/)

Tips Jitu Mendapatkan Beasiswa Itu….

Terus terang sebenarnya saya bukan orang yang paling tepat untuk membahas topik ini. Ada lebih banyak alumni Erasmus+ (dulu Erasmus Mundus) yang semangat untuk mengejar beasiswanya jauh lebih hebat dari saya. Kalau ditanya tentang bagaimana cara sukses mendapat beasiswa atau apa tips jitu untuk dapat beasiswa, saya akan jawab saya tidak tahu. I really have NO idea. (Terus ngapain bikin postingan ini?) Well, karena saya tahu bagaimana tips jitu untuk menghancurkan perjuangan tersebut. Ha ha ha ha. 😀

Dearest teman-teman yang ingin mendapatkan beasiswa (dengan alasan apapun, dengan motivasi apapun),

Ketahuilah, salah satu cara termudah untuk gagal mendapatkan beasiswa adalah dengan berhenti berusaha. You missed 100% chance of every shot you didn’t take. Berusaha dengan setengah hati? Buat saya, itu sama parahnya.

Tanpa kita sadari sebenarnya setiap hari, setiap waktu yang kita habiskan di sekolah, di ruang kuliah, atau di tempat kerja, akan berefek pada keberhasilan kita mendapatkan beasiswa, kalau memang salah satu tujuan hidup kita dapet beasiswa lho ya. (Ah moso’ sih?) Eh… beneran ini. 🙂

Kalau diingat-ingat, biasanya cari beasiswa itu syarat utama yang selalu diminta adalah CV (Curriculum Vitae atau Daftar Riwayat Hidup), Motivation Letter, dan Recommendation Letter. Bagaimana kita mau buat CV yang keren, kalau kita tidak pernah melakukan sesuatu? Bagaimana mau bikin motivation letter yang menarik, kalau bahkan besok pagi mau ngapain aja tidak terpikir? Bagaimana mau minta Recommendation Letter yang benar-benar menggambarkan kemampuan kita (atau bahkan lebih dari itu), kalau kita tidak pernah berinteraksi dan menjalin hubungan baik dengan orang yang akan kita mintai rekomendasi?

“Tapi tapi tapi tapi… CV saya keren, motivation letter saya luar biasa, pemberi rekomendasi saya adalah orang-orang hebat di bidangnya, dan saya masih gagal mendapatkan beasiswa. Hidupku hampa. Aku terjatuh dalam lautan luka dalam dan tak sanggup bangkit lagi. Toloooooong….”

*doeeeeng, sebentar, saya mau pingsan dulu*

Sampai dimana kita tadi ya? Ada banyak sekali kemungkinan kenapa beasiswa kita tidak dikabulkan (dan sebagian besarnya diluar kontrol kita). Mungkin pemberi beasiswa merasa  dengan kualifikasi dimiliki kita tidak perlu diberi beasiswa, bisa jadi pemberi beasiswa menganggap kita tidak memenuhi target group yang diinginkan, bisa juga karena alasan-alasan sepele seperti ‘kelewatan baca aplikasi kerennya, Bro’. Saya tahu yang terakhir itu nggak lucu, but it might happen, memangnya yang kirim aplikasi cuma 20 orang? Trus kenapa hidupmu jadi hampa? Katanya CVnya keren? Katanya motivation letternya luar biasa? Katanya pemberi rekomendasinya orang-orang hebat?

Saya ingat sekali, angkatan saya dulu dipenuhi dengan anak-anak fresh graduate. Bisa dibilang 80% fresh graduate dan 20% sisanya adalah orang-orang yang sudah memiliki karier dan ingin memperdalam pengetahuannya. Tahun berikutnya, isinya sebagian besar orang-orang yang sudah mapan kariernya dan sedikit sekali fresh graduate yang diberikan beasiswa program tersebut alias kebalikan dari angkatan saya. Coba bayangkan kalau saya tidak mendaftar di tahun awal dan memutuskan untuk menunda, apa nggak lebih kecil chance untuk mendapatkan beasiswa? Ini lho yang saya maksud dengan kita tidak memenuhi target group yang diinginkan. Pemberi beasiswa punya rencana mereka sendiri, punya kriteria sendiri dalam menentukan orang-orang yang akan diterima. Begitu aplikasi kita masuk, ya tinggal berdoa aja, itu sudah diluar kontrol kita. Kita hanya bisa mengontrol sampai, ‘apakah kualitas aplikasi yang kita kirim itu sudah terbaik dari yang bisa kita kirimkan?’

Memang, ada kalanya kegagalan itu menampar kita, bahkan mungkin kalau harapan kita tinggi, rasa gagal itu rasanya seperti ditinju sama Mike Tyson. Tapi kalau nggak move on-move on, kapan mau dapet beasiswanya? Kapaaaaaan? 😛 Kegagalan mendapatkan beasiswa itu bisa dibilang kesempatan untuk menyusun ulang logistik. Kesempatan untuk baca-baca lagi aplikasi yang sudah dikirim. Kesempatan untuk minta tolong rekan sejawat atau sahabat untuk membaca ulang motivation letter atau CV kita. Jangan-jangan ada typo parah disana? Jangan-jangan kalimat-kalimat yang kita susun bagai jajaran pulau dari Sabang sampai Merauke ternyata membingungkan dan tidak jelas maksudnya. Ada baiknya juga kita bicara dengan pemberi rekomendasi, menurut pemberi rekomendasi, dimana kelebihan yang bisa kita ‘jual’? Hal-hal apa yang perlu diperbaiki, hal-hal apa yang perlu ditingkatkan. See? Kegagalan itu bukan berarti pintunya tertutup semua. Kita aja yang belum tahu, setelah ini ada kesempatan yang lebih baik menunggu kita. Saya kok makin merasa ini postingannya bukan tentang beasiswa lagi ya? Pake move on-move on segala. Ha ha ha.

PS. Saya baru saja teringat obrolan santai dengan dosen beberapa waktu silam, “You know what? For me, all those scholarship applicants are all the same. What’s the different between having TOEFL 575, 600, 620? What’s the different of having 3,3, 3,5, or even 4 GPA? For me, once they pass the qualification, they are equal. What important for me was, since I have to do more jobs with administrative things once this batch arrived, I want those students who I can trust to be able to take care on themselves. Those who didn’t make me pick up the phone and hear that one of my students have troubles….” 

Nah kan, ada banyak hal tidak terduga yang mempengaruhi keberhasilan kita untuk dapat beasiswa. So, have no worries, keep on your best (if this is what you really want) dan jangan lupa minta doa restu orang tua. 😀 Selamat mempersiapkan aplikasi beasiswanya ya teman-teman… Ini sudah bulan Desember. Waktunya mempersiapkan aplikasi untuk yang mau daftar tahun depan, karena untuk daftar tahun ini sudah banyak yang memasuki waktu seleksi. 😛

Erasmus dan Jalan-jalan

Hello, it’s me… (jangan diterusin nyanyi lagunya mbak Adele ya 😛 )

Program beasiswa yang banyak dibahas di blog ini sekarang disebut Erasmus+. Duluuuuuu, disebutnya Erasmus Mundus (makanya nama blog ini emundus—ya siapa tahu ada yang mengira ‘e’-nya berarti ‘electronic’ 😛 ). Why Erasmus? Erasmus adalah seorang cendekiawan berkebangsaan Belanda yang belajar di berbagai negara di Eropa. Yang bersangkutan pernah hidup dan menuntut ilmu di Perancis, Belgia, Inggris, Itali, Jerman, dan Swiss. Tentunya kultur negara-negara tersebut berpengaruh pada perkembangan karakter Erasmus, tapi menurut Lord Acton (googling sendiri ya siapa Lord Acton ini) “none (of those countries-red) set its stamp upon him.” Erasmus adalah orang yang mempopulerkan kembali “Dulce bellum inexpertis”, judul buku yang diterbitkan tahun 1515 ini diambil dari syair Pindar, penyair jaman Yunani kuno. “War is sweet for those who have never experience it”. Okay. Cukup ya kita ngobrol sejarahnya.

Yang unik dari program Erasmus+ ini adalah kesempatan untuk berkelana, dulu memang hanya sebatas Eropa, sekarang sudah merambah ke Asia, Australia, dan Amerika. Why the travel? Kalau jaman Erasmus dulu, kita bisa paham lah, belum ada telepon apalagi email, mau bertanya sama Pak/Bu Guru, ya repot kalau harus kirim-kiriman surat, datengin aja langsung, minta diajarin, sampe pinter. Terus cari guru lain lagi, untuk subyek-subyek yang masih harus dipelajari. Ya gampangnya gitu sih. Kalau dipikir-pikir, ngapain ya taxpayer di Eropa spending their money for students dari negara ketiga? Jawaban gampangnya, ‘tak kenal maka tak sayang’. Komunikasi adalah salah satu masalah terbesar manusia. Selain adanya barrier bahasa, ada juga kegagalan menerjemahkan konteks, level tidak percaya yang tinggi (mistrust), dll.

Rumit ya? Iya, saya yang nulis aja sampe belibet. 😛 Suatu hari saya bertukar email yang cukup panjang dengan Sekretaris Program yang bertanggungjawab atas keberangkatan, kepulangan, ada segala urusan administrasi saya yang berkaitan dengan beasiswa. Berbalasan email ini disertai dengan emosi yang makin naik di setiap email yang terkirim, hanya karena perkara sepele: biaya transportasi. Kebetulan batas tertinggi transportasi saya adalah X Euro, ternyata karena peak season, biaya transportasi saya jadi 1,2X Euro. Dengan kondisi seperti ini, maunya saya: “Ya udah, beli aja tiket pesawatnya, geser dikit tanggalnya, ntar saya bisa cari tumpangan nginep atau hostel murah dan naik bus atau kereta ke kota tujuan, dengan dana pribadi saya. Kalau 0,2X + nginep hostel sehari mah saya masih hepi-hepi aja kok disuruh bayar sendiri.” Tapi maunya Bu Sekretaris, “Udah sih, kamu tinggal nurut aja. Pokoknya pakai yang ini.” Kondisi seperti ini nggak enak banget deh. Belum kenal, by email, malah diskusinya ngga selesai-selesai. Akhirnya, saya tulis, “Sorry, sepertinya kita ada misunderstanding. Saya nggak pengen merepotkan anda, jangan terlalu khawatir dengan tanggal, saya bisa mandiri kok.” Dan nggak lama ada balasan, “I only want what is best for you.” Terharu nggak sih kalau kayak gitu? Kami menginginkan hal yang sama, she wanted the best for me, I wanted the best for her. But we were fighting each other in the process. Good. Another lesson learnt! 🙂

Melanjutkan topik ‘tak kenal maka tak sayang’, dengan kehadiran kita di sini, kita mengenalkan sesuatu yang lain kepada penduduk sekitar. Buat orang-orang disini, mungkin saya kelihatan seperti minion. Kecil, pendek, bisa jalan, idup lagi *sarcasm_detected*. Bagi saya, mereka itu seperti raksasa, tinggi-tinggi. Kalau saya mau nonton pertunjukan dan terhalang oleh mereka, mau saya loncat-loncat kaya’ apa juga nggak bakal bisa keliatan. Akhirnya ya, “misi Bang, saya gak kliatan, geseran dikit boleh, aye mau liat lenong di depan.” Atau just as simple as, “Haaaaa? Dari Indonesia? Indonesia itu di sebelah mananya Turki?” *pingsan* “Jauh, Brooooo… itu baru separoh jalan. Kami ada di atasnya Australia.” *sambil nunjukin peta*.

Culture yang berbeda membuat adanya perbedaan pola pikir, kurang informasi bisa bikin interpretasi yang berbeda. Baru tadi siang kelas saya membahas tentang tumpukan sampah di lapangan terbuka, praktek yang biasa banget kan di Indonesia? Orang kita buang sampah aja kalo bisa di got depan rumah kita lempar ke sana. (Iya ngga? Ayo ngaku!! Alhamdulillah kalo enggak 🙂 ) Rekan sekelas yang orang Belanda dan Inggris bilang mereka nggak bisa membayangkan kondisi seperti itu. Dibilangnya, ‘ini seriusan ada kasus kaya’ gini? Bikin-bikin nih ya kasusnya? Masak ada sih orang mau hidup di tumpukan bahan busuk beracun kaya gitu?’ Well. Saya cuma bisa manggut-manggut aja, karena udah keduluan temen dari Brazil yang cerita tumpukan sampah kota juga mudah ditemui di dekat kawasan yang dilindungi di sekitar Hutan Amazon. (Sedih nggak sih dengernya?)

Anyway, salah satu hal yang membuat saya tidak berhenti bersyukur adalah kesempatan travelling dari beasiswa model seperti ini. Travel a lot, as much as possible, leave no trace except photographs and kindness. Menurut saya pribadi, nggak perlu lah jadi mahasiswa kutu/kuper (kuliah-pulang/kuliah-perpustakaan). Yang penting bertanggungjawab. Sudah diberi beasiswa, kewajibannya apa? Mendapatkan ilmu sebanyak-banyaknya sesuai dengan bidang yang diambil, selain itu, wawasan dan pengetahuan yang lain juga perlu ditingkatkan, toh? Sehingga kita jadi orang-orang yang lebih dewasa. Sehingga kita benar-benar siap untuk menjadi future leader. Sehingga kita tidak mudah berubah menjadi hakim untuk orang lain. Setuju nggak? After all, other people might have the same destination as us. Who knows, kan? 😀

PS. Walau saya sedang punya waktu luang, saya belum punya topik menarik untuk dibahas di postingan berikutnya. So kalau ada yang pengen dibahas, request aja ya. Kalau nggak ada, ya berarti suka-suka saya. 😀 I’ll see you next time.

Baca. Tunda, Tanya. :)

Halo,

saya penulis tamu di blog ini. Mungkin saya akan beberapa kali menulis disini, untuk selingan di musim ujian. 🙂

Kita mulai dari awal ya… Emundus dan saya kebetulan beberapa kali berbagi jaga stand di pameran-pameran pendidikan dan beasiswa, beberapa kali juga stand kami bersebelahan dengan stand-stand pemberi beasiswa yang lain. LPDP, Dikti, maupun beasiswa-beasiswa dari negara-negara Eropa lain seperti Chevening dari Inggris, Nuffic Neso dari Belanda, DAAD dari Jerman, dan beasiswa-beasiswa lainnya. Banyak lho kesempatan untuk beasiswa ke luar negeri itu. Kalau memang sudah berniat untuk melanjutkan studi ke luar negeri, jangan berhenti di satu kesempatan. Ibarat kata begitu layar terkembang, pantang surut ke belakang. GO! Ndak dapet beasiswa yang satu, ya cari yang lain, ndak perlu tuh tarik napas dulu, tunda beberapa bulan lagi. NO. Just. GO!

Kalau baca-baca postingnya emundus yang telah lalu, beberapa inti post-nya adalah jangan pake manja, jangan kebanyakan tanya. Baca yang banyak, kalau punya pertanyaan yang benar-benar mentok, baru tanya. Mungkin ini kebiasaan kita ya, tradisi kita cenderung lisan padahal di Eropa sini kebanyakan informasi tertulis (kecuali yang tidak). Kebiasaan kita di Indonesia itu mudah sekali bertanya bahkan untuk hal-hal yang sudah tertulis (mohon dibedakan antara menanyakan basic questions dan bertanya untuk konfirmasi ya.)

Ada sedikit cerita tentang kebiasaan ini, kebetulan pada saat terjadi tragedi di Paris beberapa minggu lalu saya baru saja sampai di Paris. Karena satu dan lain hal, saya memutuskan untuk meninggalkan Paris. Segera. Seharusnya saya masih tinggal di Paris beberapa waktu dan tiket sudah dipesan, maka saya berupaya untuk mengganti tiket. Sampai di Gare du Noord yang tiba-tiba penuh orang dan tentara bersenjata di Sabtu pagi, saya ke loket tiket, yang apesnya ditutup. Cek jadwal di papan, ternyata beberapa jadwal diubah karena pengetatan keamanan. Stasiun kereta yang saya tuju adalah stasiun antara, bukan stasiun tujuan akhir, bolak-balik saya cek papan pengumuman, nggak keluar-keluar juga tulisannya. Akhirnya saya putuskan untuk bertanya. Dan apa yang terjadi para pembaca yang budiman? Saya diomelin. Yes. Diomelin. Sama penjaga antrian loket. “See it with your eyes.” Dan dia masih mengomel panjang, yang saya langsung males dengernya. Mak nyos sekali bukan? Dikiranya saya ini nggak berusaha baca-baca di kerumuman yang berantakan itu? 🙂

Selama di sini apa-apa harus mandiri. “Saya tidak tahu,” itu berlaku apabila kita sedang diskusi keilmuan di kampus; tapi nggak ada harganya kalau kita ditanya Kondektur kereta/tram kenapa kita nggak nge-tap kartu di gate. “Saya tidak tahu,” tidak berlaku apabila kita buang sampah pakai kantong yang salah; yang ada sampah kita nggak diangkut sama tukang sampah. Ya selamat aja deh kalo sampai seperti itu 😛

Seperti yang selalu diingatkan, mendapat beasiswa itu bukan goal akhir, mendapatkan beasiswa itu artinya perjuangan baru-mau-akan dimulai. Jangan disangka berjauh-jauh dari keluarga dan teman itu selamanya menyenangkan, jangan dikira bisa pegang salju itu selalu jadi keren. Bergelut dengan musim dingin yang biasanya dilengkapi jackpot hujan dan angin itu tantangan. kalau kuliah pagi, berangkat ke kampus di musim dingin itu artinya ngampus ditemani cahaya bulan. Beberapa bulan kemudian, jam 3 pagi matahari sudah terbit dan mungkin baru tenggelam jam 8 malam. Pictures are indeed worth a thousand words, but pictures are only taken in seconds; yet we need to spend thousand seconds to get the moment. 

Sudah siapkah teman-teman untuk mendapatkan beasiswa di luar negeri?

Happy weekend, I’ll see you next time. 🙂

Refleksi Diri – Bagi yang masih S1

Untuk refleksi diri saja.. Terutama mereka yang masih di bangku S1.

Belajar S1 dengan baik, raih nilai tinggi, buat publikasi2 penting, lalu dapat beasiswa Erasmus+..

Ketika lihat ke belakang, tidak ada yang perlu disesali karena kerja keras yang berbuah manis..

Maaf kata, buat apa terlalu sibuk ikut kegiatan ini itu kalau membuat kuliah tidak terpegang dan nilai jadi jeblok. Buat apa terlalu pusing ikut campur polemik ini itu kalau itu mengalihkan fokus dari tanggung jawab untuk belajar dengan baik.

Catatan tambahan:

Tidaklah salah ikut berorganisasi dan kegiatan2 kemahasiswaan selama kuliah karena akan membuka perspektif dan melatih nilai-nilai kerja sama, adaptasi, sosialiasi, dan nilai baik lainnya. Harus pintar-pintar bagi waktu supaya bisa seimbang antara mengikuti kuliah dengan kegiatan luar kuliah.

Kalau sudah meraih impian2 itu, silahkan untuk sibuk sana sini, komentar sana sini, ikut polemik ini itu.

Karena waktu tidak bisa berulang. Menit yang baru dilalui saja tidak bisa diulang. Apalagi nilai S1 ??

Padahal salah satu persyaratan utama beasiswa pada umumnya adalah nilai S1. Jadi kalau senjatamu tidak siap, bagaimana mau berkompetisi dengan aplikan lainnya?

retrospect

Jawaban yang Tepat saat Wawancara

Hari ini saya mau melanjutkan pembahasan mengenai “wawancara”. Post ini masih berhubungan dengan post sebelumnya. Konteks yang mau saya bahas mengenai “jawaban yang tepat”.

Salah satu pertanyaan klasik yang hampir selalu muncul saat interview adalah “mengapa pilih perusahaan ini, bukan perusahaan lain (yang setara atau yang lebih besar)”.

Di sesi wawancara kemarin, saya memvariasikan pertanyaannya menjadi “kenapa pilih bank, bukan industri lain yang terkait latar belakang pendidikan” (secara ketiga kandidat ini semuanya dari teknik: 1 dari kimia, 1 dari penerbangan, 1 dari kelautan).

Salah satu kandidat menjawab bahwa dia sudah memutuskan untuk beralih dari latar belakang tekniknya karena saat ini lebih tertarik ke dunia finansial dan bisnis.

Jawaban seperti ini menimbulkan keraguan bahwa si kandidat ini minatnya suka berubah-ubah. Bisa saja saat ini dia tertarik ke bank, lalu kalau tahun depan tertarik ke bidang lain, maka pindah kerja lagi? Hal ini sehubungan dengan investasi perusahaan untuk program Management Trainee yang jumlahnya besar, sehingga tentunya para trainee diharapkan bisa bekerja lama untuk perusahaan.

recruit

Pertanyaan lanjutan yang saya tanyakan adalah “kenapa pilih bank ini (sebut saja bank X), bukan bank besar lainnya seperti bank A, bank B?”

Salah satu kandidat menjawab karena dia sudah membaca nilai-nilai bank X, dan dia merasa dirinya sangatlah sesuai karena memiliki nilai-nilai yang sama dengan bank X.

Jujur, saya agak sebal dengan jawaban2 “idealis” semacam ini. Jadi saya bertanya “apakah kamu sudah baca nilai-nilai bank A dan bank B?”. Si kandidat bilang “Belum”.
(Kalau dia bilang sudah, saya akan tanyakan apa nilai-nilai bank A dan bank B hehe..)

Anyway, jadi mana bisa ditarik kesimpulan seperti jawaban dia sebelumnya. Jawaban dia sebelumnya itu adalah jawaban yang “menghindar” (semoga anda mengerti point saya di sini).

Saya lebih menghargai kandidat yang menjawab “Saat ini lowongan yang sedang dibuka hanyalah untuk bank X. Dan setelah saya mempelajari data-data ketiga bank ini, saya berpendapat bahwa bank X merupakan salah satu bank yang sehat dan secara finansial cukup kuat. Jadi, dalam hal ini, saya memilih bank X.”

——————–
Setelah kurang lebih 1,5 jam, saya meminta ketiga kandidat ini untuk membuat final statement mengapa merekalah yang harus dipilih (dibandingkan kedua kandidat lainnya).

Kandidat pertama sangat sopan, dia tidak membahas mengenai kedua pesaingnya, dia hanya menonjolkan mengenai dirinya saja (mengulang prestasi-prestasi di CVnya).

Kandidat kedua mengatakan bahwa dia tidak tahu kualifikasi kedua pesaingnya, tetapi dia merasa dia unggul karena bisa menjawab seluruh pertanyaan di interview dengan baik.

Kandidat ketiga menjawab bahwa dia menunjukkan dirinya seperti apa adanya, dan “melempar balik” ke panelis, untuk menilai apakah dirinya yang terbaik atau bukan.

Sejujurnya, tidak ada jawaban benar/salah mengenai final statement ini. Yang perlu saya lihat di sini adalah “keyakinan” dalam menjawab.

——————–
Anyway, dari share di atas, apa benang merah yang bisa diambil ?
1. Perlu strategi dan pikiran yang seksama dalam menjawab. Karena dari satu pertanyaan, bisa berlanjut ke pertanyaan-pertanyaan berikutnya.
2. Jangan “lari” atau menghindar dari pertanyaan karena akan menimbulkan keraguan apakah anda orang yang suka lari dari tanggung jawab.
3. Ketika diberi kesempatan untuk menunjukkan superioritas anda, jangan malu-malu. Karena di dalam dunia bisnis, terkadang persaingan itu begitu ketat. Kalau terlalu malu-malu, bisa-bisa kalah dalam kompetisi.

Bayangkan kalau anda sudah apply Erasmus+ dan konsorsium cuma punya 1 sisa beasiswa nih, apakah anda akan “pasrah” saja, atau anda akan memberikan semua alasan untuk konsorsium memilih anda ?

Secara ideal, semua yang punya kualifikasi setara, seharusnya diberikan beasiswa. Tetapi, seringkali dunia tidak seindah itu, dan tindakan anda mungkin menentukan apakah anda yang jadi pemenang atau pecundang.

Happy Saturday !! 🙂

Pengalaman Wawancara

Kemarin sore, saya berkesempatan untuk melakukan wawancara untuk beberapa kandidat pegawai baru untuk program Management Trainee di sebuah lembaga perbankan ternama.

Tiga CV dan hasil ulasan assessment sebelumnya sudah menanti di meja. Menarik mengetahui bahwa ketiga kandidat ini berasal dari universitas yang sama, range tahun lahir 1992-1993, dan kesemuanya berasal dari Teknik.

Dalam tulisan ini, saya bahas 1 aspek saja dari proses wawancara ini. Next time, aspek lainnya.

interview

 

CV mereka menarik, singkat padat, 1-2 lembar saja, dipenuhi berbagai prestasi dan pencapaian yang mengagumkan. Dari CV tersebut, saya memberikan peringkat mana yang nomor 1, 2, dan 3.

Tibalah saat wawancara. Tanya jawab, menguji kemampuan dan ketahanan para kandidat dalam menghadapi pertanyaan2 kritis dari pewawancara.

Tak disangka, kondisi berbalik. Kandidat yang CV-nya paling bagus, ternyata kurang bisa untuk mengkomunikasikan visi dan impiannya. Bahasa Inggrisnya yang kurang lancar juga menjadi halangan bagi dirinya untuk bisa mengekspresikan dirinya secara penuh.

Karena tidak ingin kehilangan kandidat yang baik hanya karena masalah bahasa (yang menurut saya bisa dipelajari dan dilatih), saya memberinya kesempatan untuk menjawab dalam bahasa Indonesia. Namun ternyata hasilnya tidak jauh berbeda. Jawabannya tetap mengawang-awang dan kurang konkret.

Pada akhirnya, saya memilih salah satu dari kedua kandidat lainnya.

Apa lessons learnt-nya, dihubungkan dengan konteks beasiswa?
1. CV yang baik merupakan pembuka jalan supaya calon pemberi beasiswa punya gambaran yang baik mengenai anda.
2. Tidak semua beasiswa membutuhkan sesi wawancara. Di Erasmus+, banyak program yang hanya application-based.
3. Kalau kebetulan beasiswa yang anda apply memerlukan wawancara, maka cara berkomunikasi harus dipelajari, supaya potensi diri anda bisa terlihat sepenuhnya.
4. Salah satu cara untuk menghadapi wawancara adalah: persiapkan list-list pertanyaan yang mungkin utk diajukan oleh pewawancara. Lalu anda siapkan jawaban yang tepat. Lebih bagus kalau bisa ada teman untuk berlatih tanya jawab, apalagi kalau wawancaranya menggunakan Bahasa Inggris.
5. Jawaban yang tepat tidak selalu harus panjang. Terlalu bertele-tele kadang menyebalkan juga.
6. Jawaban harus logis dan konkrit. Mulai dari jawaban utama, yang kemudian bisa dielaborate lebih detil kemudian.
7. Terkadang, jawaban tidak harus 100% benar, tetapi yang penting anda menjawabnya dengan keyakinan, tidak gugup, dan bisa mempertanggung jawabkannya bila ada pertanyaan lanjutan.

Semoga memberikan pencerahan

Celoteh tips mendapatkan beasiswa

Kadang bingung jawab kalau orang bertanya mengenai tips dapat beasiswa..

Secara generik, kalau sesuatu itu bagus dan bersinar, pasti akan cepet laku deh.. lihat aja di pasar, buah atau sayuran yang segar pasti lebih cepat dibeli orang daripada yang layu.

Nah jadi balik ke beasiswa, kalau anda punya nilai akademik yang bagus, bahasa Inggris yang bagus, visi yang jelas, perencanaan yang konkrit, dan cara berkomunikasi yang baik (sehingga bisa memyampaikan ide, gagasan, serta mempresentasikan diri anda di depan calon pemberi beasiswa), rasanya beasiswa sih tinggal tunggu waktu aja 😉

Apalagi peluang beasiswa sekarang ini banyak banget. Di kantor saya saja, tahun ini ada 5 orang yang bersamaan dapat LPDP, jumlah total LPDP 2015 mungkin ribuan. Erasmus+, tahun ini 97 orang dapat beasiswa.

Jadi, rintangan terbesar ya mungkin diri sendiri. Bagaimana mengalahkan godaan2 yang ada, dan lebih menekunkan diri untuk bisa menjadi seorang pribadi yang berkilau.

Note: Saya ga bilang bahwa harus belajar terus, mengurung diri, dan semacamnya. Kehidupan sosial juga penting utk membangun jaringan, melatih komunikasi, membuka perspektif. Work-life balance juga penting. So, do what makes you happy, but don’t forget your dreams. Go towards the right direction !! 🙂

Pengalaman naik GoJek

Beberapa hari yang lalu, saya mencoba pilihan layanan transportasi baru yang sedang ramai diperbincangkan akhir2 ini, GoJek. Jarak yang saya tempuh sekitar 2 km saja.

gojek-2-800x438

 

 

 

 

Abang GoJek pertama ramah, ngajak ngobrol menerangkan mengenai servis GoJek, dan menjelaskan bahwa sedang ada promo. Kalau dia bisa dapat 10 order dalam 1 hari (terlepas dari jarak tempuh dan jumlah argo), maka dia akan dapat bonus tambahan 50rb rupiah. Namun dia mengatakan bahwa saat ini, dia tidak terlalu “ngoyo” karena sedang berpuasa. Saya adalah penumpang ketiganya di hari tsb, jam 11.30 siang.

Setelah menyelesaikan urusan, saya kembali order GoJek untuk kembali ke tempat asal. Abang GoJek yang kedua ini juga ramah dan sopan. Tetapi, dia lebih cenderung fokus pada jalanan dan lebih cepat mengendarai motornya.

Saya bertanya ke dia mengenai promo 10 order sehari tsb. Dengan bersemangat dia menjelaskan bahwa dia sangat senang dengan promo tsb, karena bisa bawa pulang uang lebih banyak untuk keluarganya. Dan ternyata, di jam 12.30 siang itu, saya adalah pelanggan ke-9-nya di hari tsb. One more to go.

Dia juga bercerita, dia berusaha untuk bisa mendapatkan 20 order, karena ada bonus tambahan lagi kalau bisa mencapainya. Tetapi sejauh ini dia baru berhasil maksimal 18 order per hari.

Apakah di hari tsb, si abang kedua berhasil mencapai 20 order? Saya tidak tahu.

Tetapi kalau lihat bahwa masih jam 12.30 siang, masih ada sekitar 8 jam tersisa untuk dia bekerja; lokasi dia di kawasan Sudirman (banyak permintaan short trip); peluang itu ada.

Pelajaran apa yang bisa kita ambil?
1. Peluang itu ada.
2. Fasilitas sama (handphone + aplikasi + motor).
3. Strategi itu penting, untuk mencapai 10 order, mungkin tidak bisa mengambil orderan yang jauh2, lebih baik ambil orderan yang short trip saja.
4.  Merumuskan mimpi dan tujuan itu perlu. Abang pertama terlihat bahagia dan puas dengan apa yang didapatnya. Abang kedua mgkn puas kalau bisa dapat paling tidak 10 order sehari. Keduanya sepakat berkata bahwa rejeki sudah ada yang mengatur.
5. Pada akhirnya, kemauan dan niatan itulah  yang menentukan hasil yang kita dapat.

Mau beasiswa? Impian yang bagus.
Usahanya gimana?
Tinggal pilih mau seperti abang yang pertama atau yang kedua.

Jangan Sepelekan Hal-Hal Kecil

When opportunity came at your doorstep, do you ready to take it?

Cerita berikut ini sebenarnya dari kehidupan kerja saya, dan tidak ada hubungannya dengan beasiswa. Tetapi, mungkin ada beberapa hal yang bisa dipetik bagi para pencari beasiswa.

Seringkali kita memberikan penilaian negatif terhadap tugas yang diberikan. Ini tugas apa ya? Kok saya ya yang disuruh mengerjakan? Tugas seperti ini sepertinya ga cocok buat saya deh. Di dalam pekerjaan saya di bidang perencanaan, banyak laporan dan analisa yang harus dibuat. Ada laporan teknis yang terkait dengan proyek yang sedang ditangani, ada juga laporan yang sifatnya lebih umum karena ditujukan untuk orang non-teknis, ada juga laporan yang sekedar sebagai risalah catatan pertemuan (meeting). Risalah catatan pertemuan seringkali dipandang sebelah mata karena sifatnya yang hanya untuk dokumentasi semata dan tidak bisa ditonjolkan sebagai suatu prestasi. Padahal membuat risalah juga butuh usaha yang tidak sedikit untuk menganalisa pembicaraan di dalam pertemuan tersebut, dan menuangkannya menjadi risalah yang komprehensif dan bermutu. Jadi, ada beberapa orang, yang kalau kebagian mengerjakan risalah ini, kelihatan kalau mereka kurang suka mengerjakannya. Mukanya cemberut, kerjanya lama, sambil main gadget, dan hasil akhirnya masih perlu banyak koreksi (kelihatan kalau kurang sungguh2 mengerjakannya, karena hatinya tidak di situ). ———— Namun rupanya tugas yang sama, tetapi dalam konteks yang berbeda, bisa ditanggapi secara berbeda. Sekitar 1,5 bulan ke depan, kantor saya akan menyelenggarakan konferensi regional Asia Pasifik di luar Jakarta. Kebetulan, bagian saya mendapatkan tugas untuk menjadi komite penyelenggaraan acara ini. Guess what, ibarat gula, banyak orang yang menyemut mendaftarkan diri secara sukarela untuk bisa menjadi bagian dari komite (mungkin berharap untuk diajak ikut ke lokasi konferensi). Perlu dicatat bahwa dalam konferensi regional ini, tidak semua posisi komite itu mentereng (misal: penyambut tamu, pembicara, MC). Pastinya ada juga posisi-posisi administratif semisal pembuat risalah !! Nah, dari sekian banyak yang menyatakan minatnya, siapakah yang saya pilih? Tentunya saya akan memilih mereka yang kualitas kerjanya sudah terbukti baik untuk setiap bidang yang dibutuhkan. Termasuk untuk pembuat risalah. Jadi, bagi mereka yang kemarin-kemarin malas-malasan mengerjakannya, mohon maaf ya, belum bisa ikut dalam komite.

Pelajaran apa yang bisa diambil dari cerita di atas, dalam hubungannya dengan beasiswa?

  1. Tidak ada orang yang tahu akan masa depan. Kesempatan dan tawaran bisa datang kapan saja, mungkin sekejap. Tergantung diri kita siap/tidak saat itu.
  2. Kalau memang berminat untuk meraih beasiswa, persiapkan diri dari sekarang. Terlepas dari beasiswa yang diminati itu sudah ada/belum, sudah dibuka/belum, persiapkan diri saja. Misalnya: tidak usah tunggu mau tes TOEFL/IELTS baru mati-matian belajar, tidak usah tunggu mau lulus baru belajar sebaik2nya atau “mencuci” mata kuliah untuk memperbaiki nilai IPK.
  3. Setiap hari, setiap ada kesempatan, selalu lakukan setiap hal sebaik2nya untuk meningkatkan nilai diri. Kalau nilai diri anda tinggi, sekalipun tidak ada beasiswa yang ditawarkan, mungkin akan ada orang/institusi yang akan menawarkan beasiswa. Kalaupun beasiswa bukan “jalan” anda, tentunya kualitas tinggi itu selalu menjadi incaran para pemberi kerja.
  4. Jalin hubungan yang baik dengan orang2 sekitar. Misalnya saja dosen pengajar. Mana tahu, suatu waktu di masa depan, dosen ini ditanya oleh relasinya, apakah ada mahasiswa/i yang bisa direkomendasikan untuk beasiswa? Bila kesempatan itu menjadi nyata, kira2 apakah anda yang akan dia rekomendasikan?

Another book ?

CRC-New-books-banner

Beberapa bulan yang lalu, dari hasil kumpul-kumpul dengan beberapa alumni Erasmus Mundus, ada wacana untuk menuangkan cerita dan pengalaman selama masa kuliah di Eropa ke dalam sebuah buku.

Konsepnya mungkin akan agak berbeda dari buku yang pernah diluncurkan sebelumnya (bisa refer ke https://emundus.wordpress.com/2011/07/18/beasiswa-erasmus-mundus-the-stories-behind/).

Namun, karena masih wacana, dan belum tahu akan diwujudkan atau tidak, maka berikut adalah salah satu kisah yang ingin saya share di dalam buku. Kisah berikut ini adalah salah satu cerita adalah mengenai peristiwa-peristiwa yang saya rasakan “ajaib” selama kuliah di Eropa.

Judul: Secangkir kopi untuk nilai A?

Your attitude, not your aptitude, determines your altitude (Zig Ziglar)

Di universitas saya di Italia, setiap pengajar memiliki preferensi masing-masing bagaimana mereka akan memberikan penilaian.

Bisa berdasarkan nilai absolut (misalkan nilai ujian di atas 90 dapat A, antara 80-90 dapat B, dst).
Bisa juga berdasarkan statistik kelas (misalkan 2% nilai terbaik di kelas dapat A, atau nilai rata-rata ditambah sekian deviasi dapat A).
Bisa juga gabungan keduanya, misalkan 2% nilai terbaik di kelas akan dapat A, asalkan nilai tersebut tidak kurang dari 80.

Ada salah satu mata kuliah yang materinya kurang saya sukai (kurang bisa saya pahami), menggunakan penilaian berbasis statistik.

Tantangan di kuliah ini bertambah, dengan adanya seseorang mahasiswa lokal di kelas, yang sangat pintar, cerdas, brilian, dan sering menanyakan pertanyaan yang sangat-sangat susah (susah dimengerti dan susah dijawab). Dia berpotensi merusak statistik nilai di kelas.

Namun, persaingan itu wajar dan alami, kita tidak bisa selalu menganggap diri kita yang paling hebat. Kalau orang lain memang lebih hebat, harus diakui dengan jujur, he/she deserves the credit.

Nah, menjelang akhir perkuliahan, entah bagaimana, si teman yang sangat pintar ini, yang biasanya akrab dengan para dosen, malah bertengkar dan adu mulut dengan dosen kuliah tersebut, hanya karena masalah absen. Diawali dengan beberapa kali datang telat ke kelas, teguran dari dosen yang tidak bisa dia terima, dan berakhir dengan adu mulut di antara keduanya di dalam kelas, yang menyebabkan teman saya itu diusir dari kelas.

Persis di sesi kuliah terakhir sebelum ujian, di saat kelas sedang break, tak disangka saya disapa oleh dosen ini. Entah bagaimana, beliau ingin membeli kopi di vending machine, tetapi tidak membawa kartu miliknya (catatan: seluruh pembayaran di universitas menggunakan kartu identitas yang berfungsi juga sebagai kartu prabayar). Jadi, dia meminjam kartu saya untuk membeli kopinya.

Dalam perjalanan kembali ke ruang kuliah, seorang teman bertanya, mengapa dosen tsb menghampiri saya. Sambil bercanda, saya mengatakan “Perhaps it’s a good sign, a coffee for an A”.

Dan siapa yang sangka, perkataan itu menjadi kenyataan.
Saat nilai diumumkan, saya bukan hanya dapat A, tetapi malah A+, satu-satunya di kelas.
(Sedikit bocoran, yang nantinya akan saya ceritakan lebih lengkap di buku, nilai A+ dari kuliah ini menjadi salah satu penentu di akhir masa kuliah, dimana saya bisa lulus dengan predikat “distinction“)

Apa lessons learnt dari kisah ini?

  1. Sepintar-pintarnya anda, kalau anda tidak menjaga attitude anda, maka bisa jadi anda tidak akan sampai ke altitude yang seharusnya menjadi hak anda.
  2. Tetaplah berusaha (belajar) sebaik-baiknya. Kopi mungkin merupakan faktor penolong (who knows?). Tetapi kalau jawaban ujian anda tidak tepat, rasanya tidak mungkin juga dapat nilai yang baik ya.
  3. Expect good things. Kalau saya menyerah di awal (dan belajar santai2 saja untuk kuliah ini) karena minder terhadap teman saya yang pintar itu, mungkin saya tidak akan bisa melalui ujian dengan baik.
  4. Selalu sediakan saldo yang cukup di kartu prabayar 😉

Mengubah Cara Pandang

Beberapa waktu belakangan ini, di grup Facebook “Erasmus Mundus Indonesia”, banyak cerita-cerita seputar perjuangan, motivasi, dan tips-tips untuk apply beasiswa yang di-share oleh para awardee beasiswa Erasmus+.

fb

Sangat menyenangkan melihat satu sama lain saling berbagi kisah dan cerita inspiratif, sehingga bisa menjadi penyemangat bagi mereka yang sedang mencari beasiswa.

Hari ini, saya membaca salah satu thread yang sedang aktif di grup ini.

Jadi, ada seorang member yang posting demikian:

fb2

Lalu di salah satu komentar, ada yang menulis demikian:

diyan

Well, saya harus bilang, saya sangat setuju dengan komentar di atas.

Terkadang, ketika antara kenyataan tidak sesuai dengan impian atau ekspektasi, maka mencari alasan, menyalahkan kondisi, atau menyesali keadaan memang tindakan yang rasanya beralasan untuk dilakukan. Sayangnya, dengan melakukan hal-hal tersebut, fokus kita teralih pada kondisi yang ada dan kalau tidak diatasi dengan baik, maka bisa membuat makin terpuruk.

Di sisi lain, apalagi bila masih muda (masih bisa mengubah diri dan masih ada banyak waktu), mungkin bisa melihat dari perspektif lain.

Buat list impianmu, letakkan di 1 kotak.

Buat list kondisimu, letakkan di 1 kotak.

Coba hubungkan kedua kotak tersebut, dan identify, ada gap apa saja di antara kondisi dan impian.

Contoh sederhana:

Impian: Kuliah di Eropa

Kondisi: Bahasa Inggris belum lancar, nilai kuliah masih pas-pasan

Maka, dari gap yang ada, anda bisa menentukan langkah apa yang harus diambil untuk mengatasi gap tersebut –> belajar Bahasa Inggris dan belajar lebih giat di kuliah. Teruslah bertanya “how” sampai anda menemukan solusi praktis bagaimana mengatasi gap tersebut.

Misalkan, belajar Bahasa Inggris –> bisa melalui buku, bisa melalui online, bisa melalui les.

  1. Hmm, mungkin yang cocok untuk saya adalah belajar melalui buku, sedangkan ekonomi pas-pasan –> bagaimana caranya?
    Hmm, mungkin bisa tanya2 teman yang pernah les Bahasa Inggris, atau pernah ikut tes TOEFL? Atau coba cari buku2 bagus di pasar loak (tidak perlu malu, saya pun pernah beli buku di toko loak) –> siapa ya kira-kira teman yang bisa dipinjami buku, dan pertanyaan2 lanjutannya (sampai anda menemukan solusi praktis yang bisa dilakukan).
  2. Lalu mungkin harus meluangkan waktu juga.. Mengurangi waktu2 yang dirasa tidak produktif, dan mengarahkannya kepada kegiatan-kegiatan yang produktif dan bermanfaat.

Semoga tulisan di atas bisa dimengerti, dan anda menjadi orang yang semakin tangguh dalam mengatasi masalah.

Refleksi 2014: Timing dan momentum

Tiga hari mendatang, kembali kita dihadapkan pada penghujung tahun 2014.

Apa yang sudah kita capai di 2014?

Apa yang belum kita capai?

Apa yang seharusnya sudah kita capai, tetapi karena sesuatu hal, menjadi tidak tercapai?

Refleksi diri adalah hal yang baik menjelang penghujung tahun, untuk memperbaiki kesalahan atau kekurangan yang ada, sehingga tahun 2015 bisa dilalui dengan lebih baik.

***

Salah satu hal yang menjadi pemikiran saya di 2014 ini adalah mengenai timing dan momentum. Apa maksudnya?

Dalam berbagai hal dalam kehidupan kita, banyak tawaran, yang terkadang sifatnya hanya sekejap atau terbatas ketersediaannya. Terlalu lama berpikir, bisa jadi peluang tersebut sudah tidak berlaku lagi atau sudah diambil oleh orang lain. Terlalu banyak pertimbangan, bisa menjadikan kita tidak merasa siap untuk “pull the trigger” (ambil keputusan). Dan pada akhirnya, bisa saja kita berakhir dengan kekecewaan dan membayangkan seandainya saja kita mengambil keputusan lebih cepat.

Don’t get me wrong ya, saya tidak bilang bahwa tidak perlu berpikir masak-masak dalam membuat keputusan. Tetapi, kita perlu juga mempertimbangkan aspek timing dan momentum dari peluang yang ditawarkan tersebut.

Timing-is-everything

***

Misalkan saja, kalau anda mengikuti proses lelang, kalau anda tidak cepat ambil keputusan dan bersedia menawar lebih tinggi, maka barang yang anda minati mungkin menjadi milik orang lain.

Atau kalau misalkan anda punya rencana untuk keluar negeri, misalkan saja ke Amerika Serikat, di awal 2015, dan anda menunda-nunda untuk membeli mata uang USD, maka kurs USD saat ini yang sudah di atas 12.000 rupiah sudah kurang bersahabat bagi sebagian orang. Mungkin anda akan menyesali, kenapa tidak beli USD ketika masih 11.000 ya.

(Catatan: ilustrasi di atas dengan asumsi anda punya dana yang dibutuhkan untuk membeli USD ketika masih 11.000, tetapi anda tidak melakukannya karena anda berharap kurs USD akan turun menjelang kepergian anda)

usdidr

Per kondisi saat ini pun, tidak ada yang tahu apakah pembelian USD di kurs 12.000 adalah keputusan yang tepat atau tidak. Kalau ke depannya USD menjadi 15.000, maka pembelian saat ini adalah keputusan yang sangat tepat. Tetapi kalau sebaliknya, maka mungkin anda akan menyesal lagi karena beli di harga tinggi.

Dan masih banyak hal lainnya yang dalam pengambilan keputusannya melibatkan timing dan momentum ini.

Terkadang timing ini sangat krusial, sangat cepat. Misalkan saja, telat sedikit, maka harga sudah berubah (dalam hal kurs mata uang yang mengikuti pergerakan pasar).

***

Dalam hal pencarian beasiswa, hal mengenai timing dan momentum ini pun ada.

Realistik saja, namanya juga beasiswa, terkadang peluang yang ada mungkin tidak sesuai dengan bayangan ideal kita (misal: mau kuliah di univ A, jurusan B, penelitian di bidang C, dll). Dan karena begitu banyak pencari beasiswa di dunia ini, lebih banyak dari beasiswa yang disediakan, pastinya akan banyak persaingan dan kompetisi untuk memperebutkan beasiswa yang ada.

Sebuah pertanyaan untuk refleksi diri, manakah yang lebih penting bagi anda?

(1) Mendapatkan beasiswa, tetapi kondisi beasiswanya atau bidang yang dituju mungkin tidak seideal impian anda

(2) Menunggu terus (entah sampai kapan), sampai ada beasiswa yang seluruh kondisi dan bidangnya sesuai impian anda

Tidak ada benar salah, karena ini keputusan masing-masing orang. Satu hal yang perlu dicamkan, keputusan manapun yang anda ambil, akan ada konsekuensi dari setiap keputusan. Yang terpenting di sini adalah penguasaan diri, kalau anda puas akan pilihan anda, dan anda siap akan konsekuensinya.

***

Sebagai penutup, saya menyukai sebuah quote dari Richard Branson.

Beliau adalah pengusaha asal Inggris, yang merupakan pendiri dari Virgin Group.

branson

***

Selamat menghadapi tahun 2015 !!

Jalan-jalan ke Athena

Malam ini sebenarnya saya ga ada niatan untuk nulis post baru.

Masih ada setumpuk kerjaan di samping laptop.

Dua hari mendatang, mulai besok, juga ada meeting full-day dengan orang asing, dimana tentunya saya, sebagai pegawai yang baik, ga bisa telat, harus menjadi guide yang baik, dan siap sedia membantu keperluan mereka.

Tetapi berhubung postingan di FB EM Indonesia lagi seru, dan kebetulan abis mencari foto lama, jadi nostalgila deh malem ini.

Jadi, sekali-sekali saya posting yang santai2 kayak begini saja ya.

Semoga sih bisa memberi penyegaran bagi blog yang sepertinya serius melulu ini hehe..

————

Jadi, ketika itu, tanggal 15 Januari 2008, saya sedang menjalani tahun kedua perkuliahan Erasmus Mundus. Bulan Januari adalah masa break antara semester 3 dan semester 4. Dan berhubung kurikulum program saya menyatakan bahwa semester 4 hanya diisi dengan Master Thesis yang bobotnya 30 ECTS, maka bisa dibilang ga ada kuliah apa-apa yang harus diambil di semester 4 (kecuali ada yang ga lulus di semester sebelumnya).

Nah, karena ada seorang teman (di program yang sama) yang berlangganan newsletter dari salah satu maskapai low-cost “Sky Europe” (yang saat ini sudah bangkrut), maka ketika itu dia memberitahu saya bahwa ada tawaran promo murah yaitu 63 EUR pp (kurs Euro saat itu sekitar 13rb, jadi 63 EUR ekivalen dengan 819rb rupiah). Langsung deh, dalam hitungan menit, saya nulis email di bawah ini ke teman2 yang biasa jalan2 bareng. Serius juga yah tulisan saya di email ini hehe..

trip

Singkat cerita, jadilah kita ke Athens..

Ini tiketnya (untuk 2 orang; kita perginya berempat)..

Bener2 63 EUR lho.. Tidak seperti beberapa maskapai yang nambah asuransi lah, bagasi lah, kursi lah, dll.

athens

Nah jadi, salah satu keuntungan Erasmus Mundus (atau sekarang Erasmus+) adalah sambil kuliah, kita juga bisa dapat kesempatan untuk jalan-jalan keliling Eropa. Syukur2 ada tiket murah seperti contoh di atas.

I really love Sky Europe. Dengan maskapai ini, saya traveling ke banyak tempat dengan harga yang sangat ekonomis. Ketika membaca berita penutupan maskapainya, sempet kepikir, jangan2 gara2 kebanyakan jual tiket murah nih hehehe..

————

Kemarin ini di Destination Europe, ada seorang pengunjung yang bertanya “gimana caranya bisa jalan-jalan? emang beasiswanya dikasih berapa?”. Oleh si narasumber dijawab: “Ya kita ngirit juga di sana, misalkan kalau makan di luar, sehari bisa 20 EUR. Tetapi kalau masak sendiri, 20 EUR mungkin bisa untuk 1 minggu.” (and believe me, I know some folks who can use 20 EUR for 2-3 weeks !!).

Pada intinya, bagaimana kita mencukupkan diri dengan apa yang ada kan?

Tidak semua beasiswa jumlahnya besar, tetapi kalau kita bisa mengelolanya dengan baik, banyak juga yang bisa kita dapat 😉

————

Nah, mau tahu kita kemana saja di Yunani?

Salah satunya ke kompleks Akropolis di Athena:

DSCF3532

Untuk kota-kota lainnya, lengkapnya nantikan di posting berikutnya ya.

Saya mau kerjain pe-er dari kantor dulu 😉

Follow me at Twitter @emundusme

Sudah siapkah kita untuk Erasmus+? (refleksi dari artikel mengenai IKEA)

Minggu ini di Twitter, snapshot artikel di bawah ini sedang heboh dibahas oleh para netizen Indonesia.

Anyway, topik pembahasan saya bukan ke soal IKEAnya, bukan juga ke soal revolusi mental (seperti yang tertulis di artikel tsb). Intinya adalah mengenai “attitude” pengunjungnya.

Saya ingin mengkaitkan artikel ini dengan Erasmus+, sudah siapkah kita untuk Erasmus+? (yang intinya terkait “attitude” dari calon aplikannya)

—————-

Dalam acara Destination Europe yang saya hadiri minggu lalu, saya berada di kursi penonton.

Bagi yang belum baca liputannya, bisa cek di:

https://emundus.wordpress.com/2014/10/19/talkshow-beasiswa-di-destination-europe-2014/

https://emundus.wordpress.com/2014/10/20/talkshow-beasiswa-di-destination-europe-2014-bagian-2/

Nah, di depan saya,  ada seorang penonton lainnya yang dengan sangat serius dan bersemangat menyimak talkshow. Saking semangatnya, kadang dia bisa tiba2 gebrak meja dan berceloteh sendiri.

Misal saja ketika sang narasumber bercerita “kuliah di Eropa itu sangat menyenangkan karena …”, mendadak dia berteriak “yesss, I want thatttt”. Atau ketika sang narasumber bilang “disarankan belajar bahasa dulu …”, dia gebrak meja, lalu dengan tampang sedih berceloteh “ya gimana gue belajar bahasa, ini aja kuliah masih begini begitu …” (ngedumel).

Pada sesi pertanyaan juga, ada pengunjung yang bertanya “apa sih syaratnya supaya bisa dapat beasiswa, minimal IPK berapa, apply kemana, dll” – pertanyaan klasik yang sering sekali ditanyakan dari waktu ke waktu.

Saya berpikir, dari waktu ke waktu, pameran ke pameran, tahun ke tahun, EHEF pertama sampai EHEF kesekian di 2014 ini, bagaimana caranya bisa menggugah para calon aplikan beasiswa Erasmus+, supaya kita bisa “move on”.

“Move on” dalam artian (inginnya saya), mari kita sudahi pertanyaan-pertanyaan pemula (informasi ada di ujung jari anda, cuma butuh sedikit Googling), keluh kesah yang tidak membawa kita kemanapun, semangat semu menggebu2 yang muncul saat event lalu melempem setelahnya.. Instead, kita bergerak maju.. Letakkan angan-anganmu, mimpimu, visimu, tujuanmu, cita-citamu pada sesuatu yang lebih konkrit yang mungkin bisa membawamu meraih kuliah (dan tentunya jalan-jalan) di Eropa.

Sebab itu, di EHEF Jakarta 8-9 November nanti, yang tinggal 2 minggu lagi, selain ada presentasi dari berbagai lembaga pendidikan dan beasiswa di ruang presentasi, ada juga konsep baru yang disebut “panggung alumni”. Per saat ini, saya masih meminta dari pihak panitia untuk rancangan ruangan dan layout-nya seperti apa. Dengan harapan, panggung alumni ini bisa digunakan secara maksimal, untuk lebih berinteraksi antara calon aplikan dengan alumni, untuk hal-hal yang lebih konkrit, apakah itu pembahasan mengenai bagaimana menulis motivation letter, bagaimana survive di negeri orang, trik khusus untuk berkuliah di Eropa, maupun hal-hal lainnya.

Sebab itu, saran anda semua sangat penting supaya apa yang kami (para alumni) rancang untuk EHEF nanti bisa memenuhi kebutuhan anda.

https://emundus.wordpress.com/2014/10/20/ehef-2014-jakarta-panggung-alumni/

Selamat menikmati hari Minggu.

Follow me on twitter @emundusme

ikea

Kemana saja?

2329935244_cdc56c7689

Beberapa email masuk ke saya menanyakan kemana saja, sudah sekian lama tidak aktif menulis lagi.
Beberapa email lainnya bahkan langsung ke sasaran, dalam artian menyertakan motivation letter untuk direview.

Well, singkat cerita selama 3 bulan terakhir (Juli-September), hampir setengahnya saya gunakan untuk perjalanan sehubungan dengan pekerjaan. Dan karena perjalanannya melibatkan kunjungan ke 2 negara yang masih mengharuskan visa (dengan proses yang cukup berliku-liku) bagi pemegang paspor Indonesia, maka di bulan Juni itu, saya kejar-kejaran dengan kedutaan supaya bisa dapat visa tepat waktu (karena aplikasinya satu per satu, tidak bisa paralel).

Ada beberapa pengalaman menarik yang saya dapatkan sepanjang perjalanan tsb, dan nanti satu per satu akan di-share.

Belakangan ini saya juga berpikir untuk mengubah blog ini ke arah penggunaan domain pribadi.
Bagi anda para pembaca, seharusnya tidak berdampak.
Bagi saya, saya akan lebih punya akses dalam pengaturan blog ini.
Hal ini masih sedang dipikirkan.

Anyway, hari ini, saya hadir di acara Destination Europe 2014 yang diadakan di Balai Kartini, Jakarta.
Acara yang meriah, menarik, dengan banyak kesempatan untuk mendapatkan suvenir dan hadiah dari negara-negara Eropa.

Dalam 2-3 minggu ke depan, juga akan ada EHEF yang kali ini akan diadakan di beberapa kota.
Dari tahun ke tahun, dari pihak alumni, kita selalu berusaha untuk meningkatkan kualitas informasi yang bisa kita berikan pada saat pameran berlangsung. Tahun ini, semoga ada sesuatu yang baru yang bisa kami berikan.

Besok saya akan tulis liputan talkshow hari ini mengenai “Jalan-jalan ke Eropa secara gratis, dengan beasiswa”, dimana 6 orang penerima beasiswa berbagi cerita. Tidak hanya penerima beasiswa dari Erasmus+ (Erasmus Mundus), tetapi hadir juga penerima beasiswa dari Stuned, DAAD, Chevening, Kementerian, dan pemerintah Italia.

Bagi yang follow Facebook “Erasmus Mundus Indonesia” bisa baca 3 liputan singkat dari saya untuk Destination Europe 2014 hari ini.

Selamat malam dan selamat beristirahat.
Sekian dulu update dari saya.

Apa Makanan Favoritmu?

Apa makanan favorit anda?

Kalau buat saya, 3 makanan favorit saya adalah:
1. Sate padang
satepadang

2. Gulai
gulai

3. Sop buntut
buntut

Bagaimana dengan anda?
Ada yang sama persis, ada yang sama sebagian, ada yang beda sama sekali.

Bagi yang sama
Sate padang dimana yang menurut anda paling enak?
Tentunya berbeda-beda pula toh jawabannya.

Kesimpulan
Demikian pula untuk pilihan program Erasmus Mundus.
Setiap orang punya preferensi bidang maupun kekhususan masing-masing.

Misal saja mengenai bidang makanan (food), paling tidak ada beberapa program berikut di EM yang mengandung kata “food”:

  1. SEFOTECH nut – European MSc in food science, technology and nutrition
  2. FIPDes – Food Innovation and Product Design
  3. Food ID – European Master Food Identity
  4. AFEPA – European Master in Agricultural, Food and Environmental Policy Analysis
  5. EDAMUS – Sustainable Management of Food Quality
  6. EMFOL – Food of Life

Yang mana yang paling cocok?
Tiap orang seleranya berbeda.
Anda lah yang harus coba cari tahu, mana yang paling cocok dengan selera anda.
Apakah itu dari materi kuliahnya, topik risetnya, ataukah pilihan universitasnya, atau yang lainnya.

Cobalah untuk mandiri, dan tidak cuma meminta/mengandalkan “referensi” orang.
Karena referensi orang, belum tentu sesuai untuk anda.

Selamat Tahun Baru 2014

2014

Tahun 2013 sudah berlalu, tahun 2014 sudah datang.
Sebagaimana yang sering dilakukan orang di awal tahun, apa resolusi anda tahun ini?

Bagi yang sudah apply EM atau akan apply dalam waktu dekat), bulan Maret-Juni akan menjadi masa penantian.
Apalagi kalau sudah dapat email dari konsorsium, dan isi emailnya bagus.
Pasti akan ga sabar menanti email berikutnya.

———-

beginning

Jadi di 2014 ini, mulailah dengan baik, jalanilah dengan sebaik-baiknya sepanjang tahun.
Ups and downs may happen, just don’t give up.
Bagi yang masih S1, berjuanglah terus mendapatkan ilmu sebanyak-banyaknya dan nilai setinggi-tingginya.

Sehingga di akhir 2014 nanti, anda bisa membalikkan quote di atas.
Harapan saya, di akhir 2014, anda akan “happy”, rather than “sad” karena ada hal-hal yang sudah direncanakan tetapi belum bisa tercapai.

———-

Mendapatkan beasiswa memang sebuah penantian, sebuah perjuangan, dan bagi sebagian orang, sebuah misteri juga.
Anyway, akan lebih afdol rasanya kalau kita tahu bahwa kita sudah berjuang semaksimal mungkin untuk coba meraih beasiswa.

Kalaupun tidak dapat, mungkin jalan lain menuju kesuksesan sudah menanti kita.
Tapi kalau bisa dapat, pergunakanlah kesempatan tersebut sebaik-baiknya.

Sukses untuk 2014.

Another 14 Days

Another 14 days have gone, and I haven’t write a thing since my last post.
These days are just too hectic.

Sebenarnya kalau mau di-compare dengan masa-masa kuliah EM dulu, load-nya sih mirip2.
Bagi yang belum sempat baca, mungkin lebih baik baca post ini dulu, supaya lebih kebayang load saya waktu kuliah EM itu seperti apa.
https://emundus.wordpress.com/2013/12/08/bobot-perkuliahan/

Nah, satu hal yang beda adalah masalah lalu-lintasnya.
Jakarta ini sudah sangat-sangat kelewatan lah macetnya.
Ga pagi, ga malam, macet terus.
macet

AKibatnya, banyak waktu produktif yang jadi terbuang sia-sia di jalanan (termasuk juga BBM, apalagi yang bersubsidi, yang membuat pengeluaran subsidi pemerintah semakin besar).

I don’t want to get talking into politics, mengingat Pemilu yang semakin dekat (9 April 2014 ya kalo ga salah?).
However, perlu ada seseorang pemimpin yang punya visi bagaimana bisa memajukan Indonesia (termasuk mengatasi kemacetan Jakarta sebagai ibukota) mengingat potensi yang dimilikinya sungguhlah luar biasa.

Ada beberapa ide tulisan yang sudah “matang” di kepala, hanya saja belum ada waktu untuk dituliskan.
Karena mulai minggu depan, saya rencana untuk ambil year-end leave, semoga ide-ide tulisannya bisa segera dituangkan supaya tidak “kematangan” di kepala hehe.

Selamat liburan bagi mereka yang beruntung sedang libur juga.
Enjoy every second of your holiday.