Erasmus dan Jalan-jalan

Hello, it’s me… (jangan diterusin nyanyi lagunya mbak Adele ya😛 )

Program beasiswa yang banyak dibahas di blog ini sekarang disebut Erasmus+. Duluuuuuu, disebutnya Erasmus Mundus (makanya nama blog ini emundus—ya siapa tahu ada yang mengira ‘e’-nya berarti ‘electronic’ 😛 ). Why Erasmus? Erasmus adalah seorang cendekiawan berkebangsaan Belanda yang belajar di berbagai negara di Eropa. Yang bersangkutan pernah hidup dan menuntut ilmu di Perancis, Belgia, Inggris, Itali, Jerman, dan Swiss. Tentunya kultur negara-negara tersebut berpengaruh pada perkembangan karakter Erasmus, tapi menurut Lord Acton (googling sendiri ya siapa Lord Acton ini) “none (of those countries-red) set its stamp upon him.” Erasmus adalah orang yang mempopulerkan kembali “Dulce bellum inexpertis”, judul buku yang diterbitkan tahun 1515 ini diambil dari syair Pindar, penyair jaman Yunani kuno. “War is sweet for those who have never experience it”. Okay. Cukup ya kita ngobrol sejarahnya.

Yang unik dari program Erasmus+ ini adalah kesempatan untuk berkelana, dulu memang hanya sebatas Eropa, sekarang sudah merambah ke Asia, Australia, dan Amerika. Why the travel? Kalau jaman Erasmus dulu, kita bisa paham lah, belum ada telepon apalagi email, mau bertanya sama Pak/Bu Guru, ya repot kalau harus kirim-kiriman surat, datengin aja langsung, minta diajarin, sampe pinter. Terus cari guru lain lagi, untuk subyek-subyek yang masih harus dipelajari. Ya gampangnya gitu sih. Kalau dipikir-pikir, ngapain ya taxpayer di Eropa spending their money for students dari negara ketiga? Jawaban gampangnya, ‘tak kenal maka tak sayang’. Komunikasi adalah salah satu masalah terbesar manusia. Selain adanya barrier bahasa, ada juga kegagalan menerjemahkan konteks, level tidak percaya yang tinggi (mistrust), dll.

Rumit ya? Iya, saya yang nulis aja sampe belibet. :P Suatu hari saya bertukar email yang cukup panjang dengan Sekretaris Program yang bertanggungjawab atas keberangkatan, kepulangan, ada segala urusan administrasi saya yang berkaitan dengan beasiswa. Berbalasan email ini disertai dengan emosi yang makin naik di setiap email yang terkirim, hanya karena perkara sepele: biaya transportasi. Kebetulan batas tertinggi transportasi saya adalah X Euro, ternyata karena peak season, biaya transportasi saya jadi 1,2X Euro. Dengan kondisi seperti ini, maunya saya: “Ya udah, beli aja tiket pesawatnya, geser dikit tanggalnya, ntar saya bisa cari tumpangan nginep atau hostel murah dan naik bus atau kereta ke kota tujuan, dengan dana pribadi saya. Kalau 0,2X + nginep hostel sehari mah saya masih hepi-hepi aja kok disuruh bayar sendiri.” Tapi maunya Bu Sekretaris, “Udah sih, kamu tinggal nurut aja. Pokoknya pakai yang ini.” Kondisi seperti ini nggak enak banget deh. Belum kenal, by email, malah diskusinya ngga selesai-selesai. Akhirnya, saya tulis, “Sorry, sepertinya kita ada misunderstanding. Saya nggak pengen merepotkan anda, jangan terlalu khawatir dengan tanggal, saya bisa mandiri kok.” Dan nggak lama ada balasan, “I only want what is best for you.” Terharu nggak sih kalau kayak gitu? Kami menginginkan hal yang sama, she wanted the best for me, I wanted the best for her. But we were fighting each other in the process. Good. Another lesson learnt!🙂

Melanjutkan topik ‘tak kenal maka tak sayang’, dengan kehadiran kita di sini, kita mengenalkan sesuatu yang lain kepada penduduk sekitar. Buat orang-orang disini, mungkin saya kelihatan seperti minion. Kecil, pendek, bisa jalan, idup lagi *sarcasm_detected*. Bagi saya, mereka itu seperti raksasa, tinggi-tinggi. Kalau saya mau nonton pertunjukan dan terhalang oleh mereka, mau saya loncat-loncat kaya’ apa juga nggak bakal bisa keliatan. Akhirnya ya, “misi Bang, saya gak kliatan, geseran dikit boleh, aye mau liat lenong di depan.” Atau just as simple as, “Haaaaa? Dari Indonesia? Indonesia itu di sebelah mananya Turki?” *pingsan* “Jauh, Brooooo… itu baru separoh jalan. Kami ada di atasnya Australia.” *sambil nunjukin peta*.

Culture yang berbeda membuat adanya perbedaan pola pikir, kurang informasi bisa bikin interpretasi yang berbeda. Baru tadi siang kelas saya membahas tentang tumpukan sampah di lapangan terbuka, praktek yang biasa banget kan di Indonesia? Orang kita buang sampah aja kalo bisa di got depan rumah kita lempar ke sana. (Iya ngga? Ayo ngaku!! Alhamdulillah kalo enggak🙂 ) Rekan sekelas yang orang Belanda dan Inggris bilang mereka nggak bisa membayangkan kondisi seperti itu. Dibilangnya, ‘ini seriusan ada kasus kaya’ gini? Bikin-bikin nih ya kasusnya? Masak ada sih orang mau hidup di tumpukan bahan busuk beracun kaya gitu?’ Well. Saya cuma bisa manggut-manggut aja, karena udah keduluan temen dari Brazil yang cerita tumpukan sampah kota juga mudah ditemui di dekat kawasan yang dilindungi di sekitar Hutan Amazon. (Sedih nggak sih dengernya?)

Anyway, salah satu hal yang membuat saya tidak berhenti bersyukur adalah kesempatan travelling dari beasiswa model seperti ini. Travel a lot, as much as possible, leave no trace except photographs and kindness. Menurut saya pribadi, nggak perlu lah jadi mahasiswa kutu/kuper (kuliah-pulang/kuliah-perpustakaan). Yang penting bertanggungjawab. Sudah diberi beasiswa, kewajibannya apa? Mendapatkan ilmu sebanyak-banyaknya sesuai dengan bidang yang diambil, selain itu, wawasan dan pengetahuan yang lain juga perlu ditingkatkan, toh? Sehingga kita jadi orang-orang yang lebih dewasa. Sehingga kita benar-benar siap untuk menjadi future leader. Sehingga kita tidak mudah berubah menjadi hakim untuk orang lain. Setuju nggak? After all, other people might have the same destination as us. Who knows, kan?😀

PS. Walau saya sedang punya waktu luang, saya belum punya topik menarik untuk dibahas di postingan berikutnya. So kalau ada yang pengen dibahas, request aja ya. Kalau nggak ada, ya berarti suka-suka saya.😀 I’ll see you next time.

7 thoughts on “Erasmus dan Jalan-jalan

  1. Suka banget kak gaya bahasanya. Ngalir banget. Bahas ini dong kak… apa ya hehehe. Bahas bagaimana menumbuhkan rasa semangat untuk mengejar beasiswa ke luar negeri setelah mengalami berkali-kali kegagalan dan seakan -akan semua jalan tertutup buat kita. Lah… malah curhat yak wkwkwkw. Pokoknya gitu lah kak… lagi dalam tahap menata diri buat ga menyerah nih… soalnya bahasa inggris terasa banget jadi penghalang

  2. Very inspiring! Mungkin next time bisa cerita gimana suka dukanya belajar di negeri orang, dan apa yg menjadi motivasi saat lagi down dan, boleh dong tips and trik meraih beasiswa buat anak muda Indonesia lainnya yang punya mimpi dan cita-cita yang sama🙂 Thankyouu mba🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s