Talkshow beasiswa di Destination Europe 2014 – Bagian 1

Sehubungan dengan acara Destination Europe 2014, pada hari pertama penyelenggaraannya, 18 Oktober 2014, diadakan ada talkshow mengenai “Jalan-jalan ke Eropa secara gratis, dengan beasiswa”, dimana 6 orang penerima beasiswa berbagi cerita.

Sebagai nara sumber, dihadirkan para “jejawa” penerima beasiswa dari Erasmus Mundus (yang saat ini namanya berubah menjadi Erasmus+), Stuned, DAAD, Chevening, Kementerian, dan pemerintah Italia.

IMG_6389

(Dari kiri ke kanan)

Kedua orang berbaju kuning gonjreng tersebut adalah Yuanita dan Anggara yang menjadi MC untuk talkshow ini. Keduanya pernah mendapatkan beasiswa Erasmus Mundus. Selama masa studinya, Anggara sudah berkeliling ke 12 negara Eropa !! Kalau penasaran, silahkan lihat temukan foto jalan2nya di Facebook Anggara.

Selanjutnya ada Mbak Helena yang adalah perwakilan beasiswa Chevening. Namun ternyata sebelum Chevening, beliau juga pernah mendapatkan beasiswa dari Stuned !!

Selanjutnya, ada Rama (DAAD), dilanjutkan dengan dua orang mas-mas: Idfi dan Garry, masing-masing dari beasiswa Pemerintah Italia dan STUNED. Lalu di ujung, ada Eva (Erasmus Mundus) dan Dita (Kementerian). Rekor Anggara yang mengunjungi 12 negara ternyata dikalahkan oleh Eva yang sudah mengunjungi 22 negara !!

Berikut adalah key points dari talkshow kemarin yang dibagi per topik.

Pembahasaannya ditulis ulang, tidak persis dengan apa yang mereka katakan, tetapi maknanya tidak diubah (sesuai penangkapan saya).

——————-

1. Apply beasiswa itu susah ga sih?

Eva: “Point pentingnya adalah bagaimana “menjual” kualifikasi kita ke pihak pemberi beasiswa. IPK bisa sama, tetapi motivation letter bisa menjadi penentu.”

Dita: “Untuk beasiswa Kementerian, salah satu syaratnya adalah membuat jurnal ilmiah.”

Helena: “Untuk kuliah di UK, level bahasa Inggris yang diperlukan cenderung tinggi dibandingkan dengan negara Eropa lainnya. Namun, untuk mendapatkan skor TOEFL/IELTS yang tinggi, bisa kita usahakan.”

“Rintangannya biasanya berasal dari dalam diri. Menentukan pilihan bidang mana yang mau diambil, fokus mempelajari bidang yang diminati, membuat motivation letter/personal statement (butuh ketekunan, proofread berulang kali, dll), minta surat rekomendasi (harus hubungi dosen, balik ke kampus, dll) bisa menjadi barrier untuk mengajukan aplikasi beasiswa.”

“Kebanyakan orang biasanya terpacu ketika pameran pendidikan, ambil flyer banyak, brosur banyak, tanya sana sini. Tetapi setelah beberapa waktu, motivasinya mulai kendor, dan akhirnya tidak meneruskan mimpinya.”

Rama: “Apply beasiswa itu tidak sulit. Jadikan rintangan sebagai tantangan” (bahasa motivator nih hehe..).

“Terdapat berbagai kualifikasi beasiswa, ada yang syaratnya tinggi, menengah, maupun tidak begitu tinggi. Pada intinya butuh kemauan untuk mencari informasi dan peluang yang tersedia.”

——————-

2. Pengalaman menarik apa yang didapat selama masa studi di Eropa? Dan bagaimana mengenai masalah bahasa selama di Eropa?

Idfi: “Saya memperoleh beasiswa untuk kursus bahasa Italia di kota Siena. Dari Internet, Siena itu adalah kota yang sangat indah. Namun, ketika saya tiba di kota Siena, hari sudah malam, gelap, dan keindahan kota tidak terlihat. Setelah menginap semalam menggunakan jaringan couchsurfing, keesokan paginya ketika saya membuka jendela, saya melihat kabut yang menutupi kota Siena yang indah seperti di foto-foto, mencium bau khas espresso Italia, dan melihat bangunan-bangunan jaman medieval yang melambungkan pikiran saya.”

Helena: “Saya kuliah di kota Cardiff, yang dekat dengan Wales. Di sana, orang2 setempat memiliki bahasa lokal yang sangat berbeda dari Bahasa Inggris.”

“Suatu hari saya berjalan-jalan di pasar setempat dan tertarik untuk membeli pancake strawberry. Si ibu penjual menyapa saya dengan ramah dan menanyakan (dalam Bahasa Inggris) apa yang saya ingin beli. Woww, pikir saya, saya aman karena ibu ini menggunakan Bahasa Inggris. Lalu, dengan hati-hati mengatakan ‘I want to have the strawberry pancake’. Namun, si ibu tidak mengerti apa yang saya ucapkan. Saya coba ulang lagi dengan pelafalan yang lebih hati-hati, sambil menunjuk-nunjuk ke kue yang saya maksud. Barulah si ibu mengerti dan berkata ‘Ooo, you want strawberry pancake’ dengan aksen ‘Brit’-nya  yang sangat kental (untuk aksen ‘Brit’, bayangkan saja kalau anda nonton film Harry Potter). Ternyata, miskomunikasi ini hanya gara-gara aksen saya yang American English !!”

Garry: “Untuk Belanda, 90% penduduknya bisa berbahasa Inggris. Program kuliah pun banyak yang berbahasa Inggris. Bahkan, bila berkunjung ke kota Rotterdam atau Eindhoven, kita bisa mendengar orang berbicara Bahasa Indonesia di tempat umum. Untuk makanan, merk2 mie instan, kecap, saos yang terkenal di Indonesia, bisa didapatkan di toko setempat.”

Rama: “Untuk Jerman, disarankan mencari program kuliah yang berbahasa Inggris. Karena, untuk memahami bahasa Jerman saja sudah sulit, apalagi kalau harus disambi kuliah. Mengambil kursus basic bahasa Jerman sebelum berangkat, sangat disarankan.”

“Kebanyakan orang Jerman tidak mau spontan berbicara Bahasa Inggris. Namun, ada triknya. Cobalah keluarkan kemampuan Bahasa Jerman anda sebaik2nya, walaupun cuma 1-2 kalimat. Nantinya ketika sudah mentok, baru katakan “Entschuldigung” (excuse me), nah biasanya nanti mereka akan coba berbicara dalam Bahasa Inggris.

2 thoughts on “Talkshow beasiswa di Destination Europe 2014 – Bagian 1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s