Terima kasih Malang

UB

Terima kasih bagi teman-teman di Malang yang sudah hadir dalam sesi sharing dan presentasi Erasmus+ di kampus UB yang megah, Sabtu kemarin.

Dari pertanyaan2nya, kelihatan kalau teman-teman ini sudah mempersiapkan diri sebelum datang ke acara ini.
Banyak pertanyaan2 unik yang diajukan, tidak sekedar “apa sih Erasmus+ ?”

Semoga ini adalah awal dari sebuah langkah kesuksesan untuk mendapatkan beasiswa (Erasmus+ ataupun beasiswa lainnya) di masa yang akan datang.

Terima kasih secara khusus untuk 2 orang mahasiswa UB: Ali Akbar Hakim yang menyediakan transportasi selama perjalanan di Malang sampai Batu, dan Dharu Feby Smaradhana yang menyediakan ruangan besar lengkap dengan semua kelengkapan yang dibutuhkan untuk acara.

Bagi yang tidak bisa hadir, berikut saya share-kan beberapa pertanyaan yang muncul dalam sesi ini.

(1) Bagaimana sistem evaluasi di EM, apakah ada target (nilai atau kredit) yang harus dicapai, dan apakah ada sanksi yang diberikan bila tidak mencapai target tsb?
Jawab:

  • Per saat ini, beberapa program memang menerapkan semacam “kontrak” kepada mahasiswa/i-nya, bahwa ada target tertentu yang harus dicapai dalam periode tertentu.
  • Hal ini dikarenakan pihak konsorsium pun harus bertanggung jawab mengenai penggunaan dana hibah yang sudah diberikan oleh Uni Eropa (jangan sampai beasiswa diberikan kepada mereka yang tidak niat kuliah atau malas-malasan).
  • Namun, harus dipahami bahwa karena mahasiswa/i-nya berasal dari berbagai negara dengan atar belakang “kecukupan” ilmu yang berbeda-beda pula, terkadang tidak mudah bagi mereka yang berasal dari negara dengan standar ilmu yang di bawah yang diharapkan, untuk mencapai target yang ditetapkan.
  • Pada akhirnya, apakah sanksi tersebut akan diterapkan/tidak, biasanya di-review secara case by case.

(2) Apakah ada kuota beasiswa untuk setiap negara?
Jawab:

  • Untuk kuota secara negara, Indonesia sayangnya tidak memiliki kuota khusus seperti Western Balkan
  • Sebab itu, aplikan asal Indonesia harus berjuang “keras” untuk bisa menang dalam kompetisi dengan aplikan dari negara lain.
  • Untuk kuota per program, dibatasi maksimal 2 orang dari negara yang sama per programnya. Dengan kata lain, kalau saat ini ada 132 program, maka jumlah maksimum mahasiswa/i Indonesia yang bisa diterima adalah 264 orang.
  • Informasi tambahan bisa refer ke penjelasan salah satu EMMC: http://postgrad.pe.uth.gr/emsep/index.php?option=com_content&view=article&id=83&Itemid=186&lang=en

(3) Terkait mobilitas, bagaimana kalau setelah kuliah di negara/universitas X, kita menginginkan supaya tidak pindah ke univ/negara lainnya (hanya studi di X saja)?
Jawab:

  • Mobilitas adalah sebuah konsep dasar EM (kuliah di minimal 2 negara/universitas).
  • Skema mobilitas sudah diutarakan di awal sejak pendaftaran (transparan).
  • Sebagai awardee beasiswa, yang sudah mendapatkan kesempatan untuk pendidikan yang lebih baik, rasanya sepantasnya kita mencoba untuk mengikuti semua aturan yang berlaku, apalagi yang memang sudah dinyatakan dari awal.
  • Dalam prakteknya, memang kasus seperti ini terjadi, terutama bila universitas tujuan berikutnya tidak “seindah” universitas sebelumnya. Jadi, bila memang hal ini terjadi, cobalah untuk sesegera mungkin bicara dengan koordinator program di univ tsb, untuk dicari solusi bersama yang baiknya seperti apa.

(4) Bagaimana langkah2 yang harus ditempuh supaya bisa masuk main list?
Jawab:

  • Lulus seleksi administrasi (ikuti semua petunjuk pendaftaran, jangan ada yang terlewat atau melanggar aturan)
  • Perhatikan kriteria seleksi penilaian (bila dinyatakan di website program). Misal: kalau mereka menekankan pengalaman riset, titik beratkan kualifikasi di situ.
  • Perhatikan penilaian kualitatif dan kuantitatif.
  • Kuantitatif adalah yang bersifat angka (misal: Indeks Prestasi, nilai TOEFL, ranking universitas asal), yang bisa dengan mudah dibadingkan antara satu aplikan dengan yang lainnya (misal: aplikan yang nilai TOEFLnya 600 tentunya lebih baik daripada yang nilainya hanya 500).
  • Kualitatif adalah aspek penilaian lainnya, misalkan: motivation letter, recommendation/reference letter, pengalaman riset, organisasi, dll; yang penilaiannya subjektif (tergantung apakah informasi yang diberikan, misal dalam motivation letter, bisa meyakinkan konsorsium bahwa anda adalah kandidat yang tepat).
  • Sebisa mungkin, baik kualitatif maupun kuantitatif harus sebaik2nya. Dalam artian, kalau saat ini anda masih di semester2 awal, belajarlah dengan baik supaya nilai kuantitatif anda juga baik. Banyak orang yang sudah di semester akhir, baru menyesal kenapa tidak belajar lebih giat dari dulu.

(5) Terkait reserve list, beasiswa lain apa yang bisa di-apply? (ditanyakan oleh salah satu peserta yang merupakan reserve list untuk IT4BI tahun ini)
Jawab:

(6) Apakah kalau tahun ini reserve list, status “acceptance”-nya bisa dibawa ke tahun berikutnya?
Jawab:

  • Coba konsultasikan dengan konsorsium, karena syarat diterima di EMMC itu lebih mudah dibandingkan mendapatkan beasiswa EM.
  • Secara administratif, ada kemungkinan akan disuruh apply lagi tahun depan.
  • Bila apply lagi, jangan menggunakan aplikasi yang sama. Pada aplikasi berikutnya, harus ada perubahan dan nilai tambah yang diberikan.

(7) Bagaimana dengan uang beasiswanya, apakah lancar?
Jawab:

  • So far sih lancar-lancar saja, hanya saja biasanya baru diberikan setelah kita buka rekening di negara EU (supaya mempermudah proses transfer, dan juga biaya transfer yang lebih kecila dibandingkan transfer internasional.)
  • Ada kemungkinan, untuk persiapan keberangkatan awal, harus ada modal awal dulu. Namun, bila hal ini dirasa akan membawa kesulitan, nanti bisa dinegosiasikan case by case. Point pentingnya adalah dapatkan dulu beasiswanya ya !!

(8) Seberapa berpengaruh essay/motivation letter dan recommendation/reference letter dalam mensukseskan aplikasi beasiswa?
Jawab:

  • Lihat lagi pembahasan di atas menjadi kualitatif dan kuantitatif.
  • Bila ada 2 aplikasi yang nilai kuantitatifnya sama, maka penentunya adalah aspek kualitatif ini.
  • Jadi, supaya aplikasi kita bisa “outstanding”, buatlah semua faktor kuantitatif dan kualitatif itu sebaik mungkin.

(9) Bila ada 10 pemberi rekomendasi, apakah akan membuat nilai sebuah aplikasi menjadi lebih bagus dibandingkan aplikasi lain yang pemberi rekomendasinya hanya 2?
Jawab:

  • Belum tentu, kalau konsorsium hanya minta 2 rekomendasi, tetapi anda kasih 10, bisa jadi malah tidak lolos syarat administrasi (saat pendaftaran saja sudah tidak tertib aturan, ada kemungkinan kalau diberi beasiswa nanti malah bisa menimbulkan masalah dalam perkuliahan)
  • Bila memang ada 10 orang pemberi rekomendasi, pilih 2 yang paling bagus. Sisanya bisa anda “simpan” untuk apply beasiswa lainnya (jadi, punya stok pemberi rekomendasi).

(10) Bagaimana mengenai tugas akhir, apakah ada tugas akhir di tiap universitas?
Jawab:

  • Jawabannya ada di course structure, di program yang anda minati (baca baik2).
  • Pada umumnya tugas akhir/thesis cuma 1, tetapi disupervisi oleh beberapa akademisi dari universitas yang pernah dikunjungi.

(11) Bila diterima EM, apakah ada birokrasi tertentu yang harus dijalani (lapor ke siapa, daftar diri kemana, dll)?
Jawab:

  • Tidak ada.
  • Setiap tahun, Delegasi EU akan menyelenggarakan pre-departure. Untuk tahun ini akan diadakan pada 21 Juni 2014 di Jakarta. Acara ini pun sifatnya tidak mandatory, cuma sayang saja kalau tidak hadir😉

(12) Bagaimana peran PPI dalam membantu mahasiswa EM yang akan datang ke Eropa?
Jawab:

  • PPI membantu mahasiswa/pelajar secara umum, tidak khusus untuk mahasiswa EM saja.
  • Tidak semua negara punya PPI yang aktif, tidak semua kota ada PPI-nya.
  • Dalam hal anda akan studi di tempat terpencil yang tidak ada PPI-nya, coba cari kontak orang Indonesia di sana, banyak2 bertanya dengan pihak “International Relations” dari univ yang dituju.
  • Beberapa univ menyadari akan kesulitan mahasiswa asing untuk “settling-in”, maka mereka bisa saja menugaskan mahasiswa lokal untuk membantu anda selama masa studi.

(13) Bagaimana bila masa studi leih dari periode normal (misal: harusnya 2 tahun, menjadi 3 tahun)?
Jawab:

  • Telat lulus adalah hal yang bisa saja terjadi.
  • Dalam hal beasiswa, tidak ada perpanjangan/tambahan.
  • Banyak mahasiswa yang hidup hemat untuk persiapan diri, kalau2 perlu perpanjangan di akhir masa studi.
  • Untuk tuition fee, biasanya ada kebijakan dari univ untuk memberi keringanan selama masa perpanjangan ini.

8 thoughts on “Terima kasih Malang

  1. Terimakasih sudah hadir di kampus kami, Universitas Brawijaya.🙂🙂🙂 semangat bertambah! ~walaupun kehabisan kaos & kalender. hehehe~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s