Sharing Motivasi #3: Jangan Berasa Dikerjain

Ketika saya sudah lulus sidang skripsi S1, pembimbing saya meminta saya untuk menerjemahkan skripsi saya itu dalam bentuk paper berbahasa Inggris. Bingung juga awalnya, untuk apa ya, bukankah sudah ada buku skripsi yang lebih tebal dan lengkap isinya?

Saya sempat menanyakan “untuk apa ya Bu?”.
Jawab beliau “mau saya coba masukkan ke jurnal ilmiah”.
OK lah, karena saya tidak tahu-menahu mengenai jurnal ilmiah, dan si Ibu sudah berjasa besar dalam membimbing skripsi saya, maka saya turuti saja permintaan si Ibu.

Scientific-paper

(Ini cuma ilustrasi paper ya, bukan paper buatan saya)

Sekitar 6 bulan kemudian, saya mendapat kabar bahwa jurnal tersebut telah diterima untuk publikasi di sebuah international conference di Brazil (ternyata si Ibu yang mengirimkan paper ini), dan penulisnya diundang untuk mempresentasikan papernya. Karena lokasinya jauh, dan juga biayanya besar, maka akhirnya si Ibu yang pergi ke Brazil dengan dana dari sponsor beliau.

Bagi orang yang berkecimpung di dunia akademik, publikasi seperti ini sangatlah WOW.
Namun, bagi saya yang di kala itu sudah masuk ke dunia kerja, jujur saja, publikasi seperti ini tidak berdampak pada karir ataupun salary saya.

————–
Anyway, life goes on..
Kalau anda sudah baca posting saya sebelumnya https://emundus.wordpress.com/2013/12/25/sharing-motivasi-2-positive-mindset/ di situ saya menyebutkan bahwa bidang S1 saya berbeda dengan bidang S2.

Lompat bidang seperti ini juga menjadi pertanyaan banyak orang sih.
Kok bisa?
Gimana caranya?

Secara jujur, saya juga tidak tahu pasti kenapa saya bisa diterima di Erasmus Mundus, mengingat jurusan S1 yang berbeda ini. Saya hanya mencoba membuat aplikasi sebaik2nya, menjawab semua pertanyaan “tantangan” di application form secara sejelas-jelasnya dengan argumentasi yang mendukung, dan selalu berharap akan yang terbaik.

Sampai pada suatu kesempatan, dimana ada gathering untuk seluruh mahasiswa/i dan pengajar dari program EM yang saya ambil (catatan: ada 5 universitas yang ikut serta di program ini, dan mahasiswa/i-nya tersebar di 5 universitas tersebut).

Saat dinner di sebuah restoran kecil bernuansa eksotis romantis, saya ngobrol santai dengan si koordinator utama, dan dengan ucapan yang sangat hati-hati saya coba bertanya (dalam hati, duhhh jangan sampai si prof tiba-tiba “ngeh” kalau dia salah terima orang, lalu beasiswa saya distop dan saya dipulangkan hehehe..).

“Prof, jujur nih, saya penasaran saja. Teman-teman sekelas saya semua backgroundnya dari bidang X, dan mereka sudah punya pengetahuan dasar untuk ikut program ini. Tetapi kalau saya kan dari bidang Y, apa yang membuat saya bisa diterima?”

Si prof tersenyum (dia habis minum beberapa gelas bir, saya bertanya-tanya, apa dia mabok ya).
Saya ikut senyum juga sambil harap-harap cemas, jangan-jangan pertanyaan saya salah nih.

Lalu si prof mulai bersuara, dan jawabannya mencengangkan banget.
“Yes, I know you’re different from the others, but we feel if we accept all students from X, then we only know what’s inside.
You are from Y and we expect you to give us other insights to this program, based on your background.
Why we choose you, because we saw that you published a nice paper and rarely a Bachelor student could reach that level, so we expect more from you.”

Wow wow wow..
Rasanya terbang mendengar jawaban tsb.
Jadi paper yang saya kerjain cape-cape dulu itu, ga sia-sia lho !!
Untung pencahayaan di restoran tsb terbatas, jadi mimik muka saya (sepertinya sih) ga kelihatan hehehe..

Anyway, from this story, again, saya mau bilang, kadang ada hal-hal yang pada saat kita menghadapinya/mengalaminya, rasanya ini kerjaan tambahan, rasanya ini ga ada hubungannya dengan plan kita ke depan, rasanya ini cuma buang-buang waktu, rasanya ini cuma bikin cape doang, dll.
Tetapi, kalau kita tetap mengerjakannya dengan sungguh-sungguh, mencoba meraih yang terbaik yang kita bisa, tidak mustahil apa yang sudah kita usahakan tersebut akan berbuah manis di masa yang akan datang.

Walaupun tidak ada jaminan semua kerja keras itu akan berbuah manis, tetapi lebih baik berusaha, daripada menyesal di masa depan dan berharap bisa mengulang waktu.

Semoga menginspirasi.

5 thoughts on “Sharing Motivasi #3: Jangan Berasa Dikerjain

  1. Couldn’t agree more. Mungkin banyak orang bilang there’s no free lunch in this world. Saya ‘disuru’ ngerjain sesuatu, imbalan buat saya mana ya? But hey, bukankan life itself is a free flow feast for all of us?🙂 Semua yang dikerjakan itu, pasti ada maksudnya di belakang hari. Kalaupun tidak berguna buat kita, bisa jadi ada orang lain yang bisa mendapat manfaat.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s