Sharing Motivasi #2: Positive Mindset

Setelah saya lulus S1, ada dua pilihan: bekerja atau melanjutkan S2.
Serupa dengan kebanyakan orang yang mencari beasiswa, masalah klasik mengenai “biaya” juga menghadang saya.
2966

Pada saat itu, S2 sepertinya sesuatu yang “jauh” mengingat untuk S1 saja, saya kerja part-time dan bayar kuliah sendiri.
Anyway, satu hal yang saya mau katakan, tidak ada yang perlu disesali dari kondisi yang ada.
Anggap saja itu tantangan hidup untuk membuat kita naik level.
Yang perlu dipikirkan adalah bagaimana bisa mengatasi tantangan yang ada dan membuktikan bahwa diri kita “mampu”.

Intermezzo sedikit, seorang teman saya, yang tidak bisa bahasa Italia, nekat dadakan berangkat ke Italia untuk kuliah karena dia tiba-tiba dapat beasiswa di sana.

Bayangkan coba, bagaimana dia bisa hidup dan kuliah di sana.

Namun, tekad yang kuat telah menjadikannya seorang pemegang gelar Master per saat ini, dan dia juga sudah bisa berbicara bahasa Italia dengan fasih. Bahkan berencana untuk lanjut ke S3 (di Italia juga) dalam waktu dekat.

3125

Jadi, pada saat itu, saya memutuskan untuk masuk dunia kerja saja dulu.
Toh sambil kerja, bisa sambil apply beasiswa juga.

Dari sekian banyak beasiswa yang saya apply ke berbagai universitas, berbagai lembaga, berbagai negara, jujur saja, lebih banyak yang ditolak atau tidak ada jawaban.
Sampai pada akhirnya ada 1 reply dari seorang profesor di sebuah universitas di negara ginseng, yang tertarik dengan aplikasi saya.

Masalahnya ada di sertifikat TOEFL.
Ketika itu, saya belum punya TOEFL international.

Nah, syaratnya adalah saya harus submit TOEFL dalam 1 bulan, dengan standar nilai tertentu.
Kalau tidak bisa dipenuhi, maka beasiswanya akan gugur.

Bagi saya, “biaya” TOEFL itu tidak kecil.
Jadi rasanya perlu persiapan belajar dulu, tidak bisa diburu-buru.
Sayang kan kalau sudah ambil buru-buru, eh nilainya ga bagus.. It’s a waste of money.
Tetapi di sisi lain, si profesor juga “ngotot”.

Sampai pada akhirnya, kita sama-sama setuju bahwa kita tidak bisa sepakat.
Dan saat itu, saya mundur dari aplikasi beasiswa tersebut.

Sedih? Menyesal? Terpukul?
Ya iyalah, wong itu baru pertama kalinya ditawari beasiswa di LN.
Sudah di depan mata, batal cuma gara-gara TOEFL.
Sempat beberapa waktu masih merenungi saja, duh gue salah ambil keputusan ga sih? Harusnya apa kapan itu ambil TOEFLnya aja ya nekat2an?

FAILURE-beginn...

Anyway, no one knows the future.
Dalam beberapa bulan berikutnya, eh dipanggil jadi main list-nya EM.
Beasiswanya lebih besar jumlahnya, gelarnya double, dan tidak 100% research-based.

Was EM a perfect choice for me?

Not 100%..
Bidangnya berbeda dari S1 saya (walaupun ketika apply, saya sih mirip2kan supaya diterima).
Kuliahnya? Lebih banyak teori daripada hal-hal praktisnya.

Tetapi karena saya memang sudah ngebet pengen S2 di LN, ya saya ambil saja.
Apakah mudah adaptasinya?
Gimana mengatasi perbedaan bidang kuliah S1 dengan S2?
Next time saya sambung lagi..

Gimana kuliahnya? (untuk pertanyaan ini, jawabannya sudah di-share di https://emundus.wordpress.com/2013/12/08/bobot-perkuliahan/)

12 thoughts on “Sharing Motivasi #2: Positive Mindset

  1. Salam. Sy Arum. Setelah membaca di atas, yg ingin ditanyakan, berarti saat apply beasiswa erasmus mundus, aplikan diatas menggunakan jenis TOEFL yg institusional ? atau bgmn ? trmksh.

    • Pertanyaan yang sangat cerdas.

      Jadi, setelah saya memutuskan mundur di beasiswa negara ginseng tersebut, saya menyadari bahwa TOEFL international itu perlu untuk apply beasiswa LN.
      Maka saya menyiapkan diri dan biaya untuk ambil TOEFL international.

      Saya apply EM sudah menggunakan TOEFL international.

      • Terimakasih Jawabanya.

        Sekedar opini, hampir setiap hari sy membaca web ini sebagai bekal krn ingin melanjutkan S2 di LN setelah lulus S1 nanti. Saya memberikan apresiasi tinggi pada pihak admin yg dg baik membalas pertanyaan2 yg terkadang menunjukkan bahwa penanya belum seutuhnya menggali info di web yg sdh sangat lengkap ini.

        Salut!🙂🙂

        Semoga sy bisa menjadi bagian dari penerima Erasmus Mundus asap. Amin

  2. Jangan-jangan cuma saya ya yang lulus EM pake TOEFL institutional? Anyway, mendingan jangan deh, banyak repotnya daripada enggaknya.🙂 Prepare yourself, ambil test TOEFL yang iBT. Beres deh. Great investment for the future (kalo emang niatnya cari beasiswa LN atau kerja di LN yang mensyaratkan applicant submit TOEFL).

  3. hai admin,, saya mau tanya untuk saya baru lulus s1 kimia ipk 3,35 bisa kah saya ikut beasiswa eramus mundus?? berapakah standar minimal ipk buat tembus eramus mundus?? dan bisakan ipk rendah didukung english yg bagus bisa di terima??tolong informasinya…| bisa kah share tahap tahap pendaftaran sampai proses keterimanya itu seperti apa gambarannya… terimakasih..

  4. perlu berapa bulan dari proses kursus toefl sampai ke tahap test toefl n dapet score memadai untuk toefl international? soalnya saya juga lagi berusaha dengan biaya yang pas-pas an hehe😀

    • DI kala itu saya sekitar 3 bulan ya.
      Belajar ekspress..

      Pakai buku Barron’s TOEFL (hardcopy, beli buku second di Kwitang) dan material2 online yang ada di internet..
      Pinjam teman yang ikut preparation TOEFL dan IELTS..

      Kenapa IELTS? Ya saya sih ga pilih2, intinya belajar Inggrisnya saja..

      ——–

      Untuk sekarang, yang jadi momok itu kan speaking juga untuk TOEFL iBT.
      Ini ga ada cara lain sih, harus rajin practice ngomong.

      Kalau anda tinggal di daerah yang banyak turisnya, misal: Jogja atau Bali, mudah cari teman ngomong hehe..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s