Sharing Challenge #1: Bobot Perkuliahan

Catatan:
Apa yang saya alami ini, mungkin saja berbeda dengan pengalaman orang lain.
Apalagi dengan bidang studi yang berbeda, universitas dan negara yang berbeda, pastinya ada banyak variasi.

Di Eropa, (menurut saya) seluruh fasilitas disediakan dengan lengkap, sehingga bisa dibilang limitnya adalah diri anda sendiri. Anda mau jadi luar biasa, atau biasa-biasa saja, atau tidak biasa, itu tergantung tekad dan kemauan anda.

skys-the-limit

Kenapa saya bilang begitu?
– Akses internet yang melimpah (dan sangat cepat)
– Koleksi perpustakaan yang beragam
– Akses ke jurnal-jurnal ilmiah untuk mencari referensi
– Faktor pengajar (di universitas saya, saya tidak ada kesulitan untuk menemui pengajar di luar jam kuliah, mereka menyediakan yang disebut “office hour” bagi mahasiswa/i-nya untuk berkonsultasi)

————

Anyway, kali ini kita akan lihat salah satu contoh materi kuliah yang pernah saya ambil.
Kuliah ini diadakan 1x seminggu selama 2 jam.
Ada juga sesi “exercise”nya diadakan 1x seminggu selama 1 jam.
Dalam 1 semester, ada 8-10 minggu kuliah.
Bobot kuliah ini adalah 3 ECTS.

Untuk mendapatkan Master degree, syarat di program saya adalah 120 ECTS (untuk 4 semester), yang berarti sekitar 30 ECTS per semester. Jadi, kuliah ini, hanyalah 1 dari sekitar 5-6 mata kuliah yang saya ambil pada semester tersebut (note: setiap mata kuliah punya jumlah kredit yang berbeda, ada juga yang sampai 8 ECTS).

Berikut adalah 3 slide terakhir dari salah satu sesi perkuliahan:
Capture

Capture2

Capture3

Jadi, bisa anda bayangkan bobot kuliahnya, kalau 1 kuliah, dalam 1 minggu saja referensinya sebanyak itu.
Ini baru 1 kuliah, belum lagi bobot dari mata kuliah yang lain.

————

Setiap orang punya pengalaman S1 yang berbeda-beda.
Namun, buat saya pribadi, kuliah ini termasuk “shock culture”.
Kuliah S1 saya sangat jarang yang ada referensi ke jurnal ilmiah seperti ini.

Dan seringkali, kalau anda baca 1 jurnal, mau ga mau anda harus refer lagi ke jurnal lainnya (“jurnal lain” maksudnya yaitu jurnal yang di-refer dari jurnal yang anda baca tsb).
In the end, dari 1 jurnal yang ditugaskan, bisa 3-4 jurnal yang dibaca (jadi, kalau ada 4 jurnal yang ditugaskan, maka totalnya bisa lebih dari 10 jurnal yang harus dibaca).

————

Tujuan saya posting mengenai hal ini, tidaklah untuk menakut-nakuti.
Tidak semua kuliah seseram ini.
Ada juga kuliah yang lebih banyak mengedepankan faktor diskusi dan solusi.

Namun, kita harus selalu “prepare for the worst”.
Kalau memang anda benar-benar ingin supaya “maju”, maka sharing ini seharusnya menguatkan anda, bahwa tantangan apapun yang ada di depan, anda akan siap untuk berjuang mengatasinya.
Bukan malah patah arang dan mundur.

Jadilah orang yang kuat, bukan hanya ketika apply beasiswa (ngotot banget), tetapi juga kuat ketika menjalaninya sampai selesai, dengan hasil yang baik.

Selamat berjuang.

7 thoughts on “Sharing Challenge #1: Bobot Perkuliahan

  1. Mas/Mba..saya mau tanya, saat ini sy sedang mencoba utk apply beasswa EM.. masalahnya ada paspor saya sdh expired and harus diperpanjang, sdngkan deadline tgl 15 december ini.. Apakah untuk paspor bisa menyusul? atau memang semua nya harus dikirimkan sblm deadline tersebut? mohon pencerahannya.. Thanks a lot

    • diceritakan saja kondisinya ke konsorsium, dan minta kelonggaran waktu, khusus untuk paspor..
      kalau memang harus di-upload online, sementara minta ijin untuk boleh upload KTP atau paspor terdahulu dulu, sambil menunggu paspor barunya siap.

      should be no big deal kok kalau hanya paspor.

  2. Salam hormat,perkenalkan saya ririn. Kira-kira 2 minggu yg lalu saya mengirimkan aplikasi beasiswa erasmus mundus. Sya telah menerima konfirmasi dari konsorsium bahwa mereka telah menerima aplikasi saya, dan akan mengabari saya hasilnya. Yg menjadi persoalan,2 hari lalu saya mendapati masalah pada email saya,dimana saya tidak bisa mengakses email2 baru. Bahkan email2 ‘penting’ hilang. Saya ingin menanyakan apakah memungkinkan untuk memberitahu konsorsium untuk menghubungi saya lewat email baru saya? Bila ya,bagaimana caranya?
    Saya ucapkan terimakasih…

    • Hubungi contact person di program tsb ASAP.

      Ada 2 opsi:
      1. Minta mereka mengganti email address-nya
      2. Buat aplikasi ulang dengan email yang baru, dan informasikan ke konsorsium supaya aplikasi dengan email yang lama tsb (biasanya ada nomor pendaftaran atau semacamnya) dibatalkan saja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s