Motivation Letter #3: Pertanggungjawabkan Tulisan Anda

responsibilityaheadBenar bahwa motivation letter adalah salah satu sarana untuk “menjual” diri, untuk meyakinkan si pemberi beasiswa kenapa Anda harus dipilih.

Kalau berbicara soal “jualan”, pernahkah anda mendengar bahwa pedagang2 itu selalu punya “kecap” nomor satu? Walaupun  barang yang mereka jual biasa-biasa saja, namun mereka menjualnya seakan2 barang mereka adalah kualitas nomor 1.

Kalau berbicara soal” kecap”, saya juga teringat di masa2 sekolah dan kuliah dulu, ada pelajaran tertentu yang selalu dibercandakan sebagai pelajaran untuk “ngecap”. Jadi, sekalipun kita tidak ngerti2 amat, tetapi kalau ulangan/ujian, yang penting bisa “ngecap” panjang saja. Karena nilainya diukur pakai penggaris, seberapa panjang jawaban anda, bukan seberapa tepat jawaban anda.

—————–

Anyway, dalam motivation letter, hindari kebiasaan menjual “kecap”. Beranilah untuk mempertanggung jawabkan apa yang anda tulis. Misalnya gimana? Katakan anda punya pengalaman sebagai asisten lab. Tetapi di motivation letter, anda menulis sebagai koordinator asisten lab. Ada kemungkinan, bisa ditanya balik during interview (kalau kebetulan program tsb ada interviewnya), apa saja sih kewajiban anda sebagai koordinator? Berapa asisten lab yang anda monitor? Reporting anda kemana?

Bagus kalau kebetulan anda bisa jawab.
Kalau tidak?
Reputasi anda akan ternoda.
Berhati-hatilah.

7eac9a100e794293a774fbc102c3bc74

—————–

Belum lama ini, dalam korespondensi internal di sebuah organisasi dimana saya jadi membernya, ada sebuah email yang menerangkan bahwa fiscal year sudah hampir berakhir, dan masih ada sisa budget yang belum diutilize (note: ini bukan organisasi pemerintah ya). Bagi anggota yang memiliki ide atau rencana kegiatan yang bisa dieksekusi dalam waktu cepat, dipersilahkan untuk segera mengajukan proposalnya supaya bisa dipertimbangkan apakah diberikan dana/tidak.

Seorang teman saya, dengan cepat langsung reply bahwa dia ingin mengadakan acara kumpul2, seminar, dan ramah tamah dengan biaya 100% dari budget tersisa tsb. Ketika saya tanya (note: saya bertanya sebagai seorang teman, bukan sebagai pihak yang memutuskan penggunaan dana), apa saja sih rincian biayanya, berapa orangnya, bagaimana plannya, dia tidak bisa memberikan jawaban secara rinci. Dia bilang, yang penting diapprove saja dulu, kalau sudah diapprove, baru dia akan susun rencana yang detail.

Dalam contoh ini, keadaannya memang nothing to lose.
Dapat dana syukur, ga juga gpp.

Namun, kalau beasiswa, apakah anda juga mau nothing to lose?
Kalau saya sih pastinya expect to win🙂

Semoga artikel  ini memberi pencerahan.

Selamat Idul Fitri 1 Syawal 1434 H bagi yang merayakan.

3 thoughts on “Motivation Letter #3: Pertanggungjawabkan Tulisan Anda

  1. terima kasih atas saran x mbak dan mas mundus. saya sebenar x punya pertanyaan ttg letters of recommendation, saya lulusan psikologi tahun 2008 dan semenjak lulus sampai hari ini saya belum bekerja. sejak lulus saya sudah membantu orang tua dengan ikut mengembangkan usaha di bidang kuliner. saya berencana untuk apply erasmus fipdes, pertanyaan x 1 surat rekomendasi saya minta pada pihak universitas, sedangkan 1 lagi saya harus minta kemana?
    terima kasih sebelum x, mohon bantu dijawab.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s