Motivation Letter #1: Pertimbangkan perspektif pembacanya

Mulai hari ini, saya mau coba menulis mengenai aspek2 motivation letter.

Supaya ga kepanjangan, dan supaya lebih mudah dipahami, akan dibuat artikel2 pendek saja.

Hopefully kali ini bisa lebih rutin meng-update-nya.

Anyway, secara kebetulan, hari ini salah satu langganan majalah saya baru saja mengirimkan edisi terbarunya.

Nah, ketika melihat salah satu halaman advertorialnya, agak2 heran sih.

Kenapa demikian? I’ll try to describe it below.

 

Pernah lihat gambar ini? Ada di mana kira2?

rambu

Lalu bandingkan dengan advertorial di bawah ini (“check in di minimal 6 tempat”).

IMAG0254

Apakah anda menemukan keanehan atau ketidak-sinkronan?

Kalau ya, selamat bagi anda, you have keen eyes.

 

Apa hubungannya dengan motivation letter?

Terkadang dalam motivation letter, kita terlalu terfokus tentang diri kita, bagaimana menjual diri sehebat2nya, sampai kita melupakan perspektif dari orang yang akan membaca, mencoba memahami, dan mencoba menilai diri anda dari secarik motivation letter tersebut.

Memang tidak mungkin untuk menebak 100% jalan pikiran si penilai (dalam hal ini adalah konsorsium yang menerima aplikasi anda). Apalagi dalam kasus EM, sangat mungkin anda bahkan tidak pernah bertemu dengan sang penilai sebelumnya.

Jadi apa yang bisa dilakukan? Walaupun klise, dan mungkin sudah sering disebutkan di berbagai  tips lainnya, gunakan proofread dari orang lain. Bila orang itu tidak banyak mengenal anda, malah mungkin lebih baik, karena dia bisa memberikan penilaian yang jujur mengenai apakah isi motivation letter itu cukup jelas dibaca bagi “orang awam”.

Kalau benar2 tidak ada channel yang bisa digunakan untuk proofread?? Cobalah cari kumpulan laskar beasiswa di dunia maya, Siapa tahu, ada yang berbaik hati mau membantu.

Yang perlu diingat adalah satu, jangan cepat panas membaca feedback hasil proofread tersebut. Kalau memang feedbacknya tidak menyenangkan, at least anggap saja itu sebagai warning, dan masih ada ruang untuk koreksi.

Selamat mencoba.

 

Intermezzo, sirkuit balapnya ada dimana?

Saya juga ga tahu..

Mungkin di sini? Miripkah?

suzukaGambar diambil dari www.formula1.com

7 thoughts on “Motivation Letter #1: Pertimbangkan perspektif pembacanya

  1. Dear Admin

    motivation letter yang baik itu apakah mesti berlembar-lembar? atau 1 lembar tapi to the point ?
    waktu pengalaman admin membuat motivation letter untuk apply EM, apakah seperti pertanyaan diatas?

    Terimakasih

  2. […] Motivation Letter #1: Pertimbangkan perspektif pembacanya Motivation Letter #2: Apakah harus 1 lembar? Motivation Letter #3: Pertanggungjawabkan Tulisan Anda Motivation Letter #4: How to Start Motivation Letter #5: Buat Kerangka Motivation Letter #6: Paragraf Pertama Motivation Letter #7: Paragraf Pertama – Bagaimana Merangkainya Motivation Letter #8: Berikan 1001 alasan Motivation Letter #9: Belajar dari Tokyo Metro Motivation Letter #10: Jangan takut “jual kecap” Motivation Letter #11: Maksimalkan editormu Motivation Letter #12: Sebutkan beasiswanya Motivation Letter #13: Menjadi Seorang Pribadi yang Tangguh Motivation Letter #14: Pro Kontra itu Wajar Motivation Letter #15: Pengalaman Berorganisasi […]

  3. Dear Admin & Pejuang scholarship,

    Adakah yang berkenan membantu saya untuk mengkoreksi motivation letter? Saya sudah membuatnya, tp sesuai dengan penjelasan diatas, menurut kita sudah baik, namun belum tentu orang menilainya baik. Please mohon bantuannya. Trims

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s