Ga enaknya Erasmus Mundus

Hari ini, seorang pengunjung blog ini meminta share mengenai apa ga enaknya selama dapat beasiswa ini.. https://emundus.wordpress.com/2012/11/10/coba-yuk-step-by-step-apply-emmc/comment-page-1/#comment-8716

Bener juga sih, kalau kita mikir enaknya terus, bisa gawat kalau ternyata setelah menjalani sendiri, ternyata ga seindah yang dibayangkan.. Walaupun.. tentunya kita selalu berharap untuk yang terbaik. Anyway, ada quote dari seseorang yang mengatakan “hope for the best, prepare for the worst”..

Anyway, yang saya tulis berikut ini cumalah sebuah share, pengalaman subjektif, dan semoga dapat semakin “menguatkan” niat bagi mereka yang membacanya.. “Menguatkan” dalam hal ilustrasi seperti pohon yang mau menjadi semakin tinggi. Semakin ke atas, semakin kencang anginnya, dan harus kuat bertahan supaya tidak rubuh. Beasiswa EM (dan juga beasiswa lainnya), pastinya akan mengangkat “nilai” anda, baik itu di akademik, di dunia kerja, dan (mungkin) di mata calon mertua. Tetapi mendapatkan beasiswa barulah sebuah step awal untuk menuju impian Anda.

Jadi berikut adalah ga enaknya beasiswa EM, versi saya:

Apa-apa urus sendiri

Di EHEF 2012 kemarin, ada mbak2 ngomel. Apaan sih nih EM, apa-apa suruh liat website, baca sendiri. Ga ada yang bisa ditanya apa..

Gimana pendapat Anda? Kalau saya sih simple aja.. Kalau rule of the game-nya gitu, ya mau ga mau harus diikutin. Dan memang skema EM seperti itu (baca tulisan2 saya sebelumnya, salah satunya https://emundus.wordpress.com/2012/11/03/insights-from-ehef-jakarta-today/). Sekarang ini masih mending.. Bayangkan dulu tahun2 awal adanya beasiswa EM (starting 2004), siapa coba yang bisa ditanyain, dikonsultasiin..

Ga bisa pilih jurusan

Anyway, ini memang kondisi yang ditetapkan oleh pemberi beasiswa, jadi jangan protes.. Kalau protes, berpaling saja ke beasiswa lain.. Perlu diingat, dalam hidup ini, sesuatu yang sifatnya “replaceable” alias mudah tergantikan, posisi tawarnya lemah. Jadi daripada Anda protes, ngomel, coba2 nego untuk masuk program non EM, tetapi dengan biaya dari EM, mending alihkan fokus dan tenaga untuk beasiswa lain yang mungkin lebih sesuai.

Saya pribadi pun ambil jurusan yang bisa dibilang “lompat”. Dan sebenarnya tahun itu saya apply 2 program EM, tetapi kok diterimanya di yang lebih teoretikal.. Padahal saya orangnya practical banget.. Tetapi yah saya commit, toh saya sudah apply, sudah diterima, masa ga diambil.. (sekalipun ada reserve list yang berharap2 untuk gantiin saya)..

Beberapa universitas cenderung “cuek” dengan mahasiswa/i internationalnya

Ini sih pengalaman bbrp teman. Mereka kebetulan ditempatkan di univ dan negara yang cuek. Jadi, harus cari tempat tinggal sendiri, padahal kontrak sewanya pakai bahasa lokal. Di EM itu, kadang kita ga bisa pilih mau belajar di univ/negara mana. Jadi mau ga mau ya mengikuti kehendak konsorsium. Jangan protes!! Hal seperti ini biasanya sudah ditulis di bagian “mobility” saat mendaftar. Dibaca saja baik2.

Kalau saya sih, dalam 2 tahun itu, kebetulan di 2 universitas itu ada semacam badan pengurus housing lah. Jadi, selama kita mau aktif untuk cari tahu dan ikuti prosedur pendaftaran housing, seharusnya bisa dapat. Pada intinya, jangan pernah cuek dan berpikir semua kebutuhan kita akan diurusin ama universitas. Lebih baik selalu berjaga2.

Asuransi kesehatan

Asuransi sih ditanggung full oleh EM. Cuma dulu itu disentralisasi di suatu negara, dan klaim itu dikirim via pos ke kantor asuransi itu. Kalau hilang, ya berarti ga diganti. Dulu saya mengalami hilang klaim, klaim ga dibayar sampai hari terakhir mau pulang ke Indonesia. Tetapi setelah kirim email ke pejabat yang mengurusi EM di Brussels sana, langsung ditelpon, dan langsung ditransfer hari itu juga dananya.

Note: tuh lihat, asuransi kesehatan saja takut sama pejabat EM.. kenapa? karena perusahaan asuransi “replaceable”, kalau kinerjanya ga bagus, siap2 aja diganti.

Anyway, per saat ini, masalah asuransi tidak disentralisasi lagi, tetapi diserahkan pelaksanaannya ke masing2 konsorsium.

Tuntutannya berat

Dibandingkan Indonesia, saya sih merasa kurikulum di Eropa ini lebih “dalam”. Ingat ya, ini pendapat subjektif. Soalnya ada orang2 yang punya pandangan, yang penting selama di luar itu bersosialisasi dengan orang setempat, experience the culture, mengenalkan budaya Indonesia, dll.

Kalau saya pribadi, saya berpendapat prestasi itu juga penting. Bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk “pencitraan” konsorsium ke Brussels. Ya iya dong, konsorsium juga kan ga mau kalau studentnya nilainya ga bagus. Itu menandakan mereka salah seleksi.

Nah, dulu itu karena tuntutannya besar, dan kebetulan jurusan yang saya ambil juga lompat dari jurusan S1 saya, maka saya berjibaku banget untuk adjust. Ibarat lomba lari 400m, temen2 sekelas itu uda 100 meter di depan saya. Belum lagi, mereka juga student2 terbaik dari negara masing2.

Makanya dulu mau belajar bahasa lokal aja ga sempet (padahal gratis lho kelasnya). Orang luar yang ga tahu ceritanya, cuma bisa mencibir ketika tahu saya pulang dari 2 negara ini dan ga bisa ngomong bahasa lokal kedua negara ini. Tetapi, tidak semua kritikan harus diperhatikan. Pembuktian itu bisa dari banyak hal, ga cuma dari kata2 yang defensif terhadap kritikan orang.

Hidup sendiri

Ini belum tentu mudah bagi sebagian orang. Kalau kondisi sedang senang sih mungkin tidak masalah. Tetapi coba bayangkan, Anda di kota kecil, hampir tidak ada orang Indonesia, lalu Anda sakit, masih harus urus diri sendiri, di luar salju tebal dan angin kencang, dokter pun tidak fasih berbahasa Inggris.

Banyak godaan

Di sana banyak godaan untuk have fun dan menikmati hidup. Bentuknya gimana? Bervariasi!!

Tinggal gimana Anda masing2 bisa menjaga diri, fokus pada tujuan Anda, dan ga lupa kalau Anda di sana adalah dengan beasiswa, jadi jangan sia2kan apa yang diimpi2kan oleh banyak orang lain.

———————–

Sebagai tulisan awal, kayaknya 7 point ini dulu..

Sisanya, mungkin nanti nyambung lagi di part-part berikutnya..

Pada intinya, saya merasa hampir sebagian besar pengalaman EM saya itu enak. Kalaupun ada yang kurang enak, ada sisi positif yang bisa diambil untuk pendewasaan diri, menjadi lebih kuat, dan menjadi pohon yang lebih tinggi lagi. Kalaupun ada kecaman2 negatif, itu biasa, di dunia manapun, tidak cuma akademik, selalu ada orang2 yang berusaha mengkritik dan menjatuhkan kita. Tetapi itu hanya berarti bahwa kita ada di depan mereka, atau kita mengancam posisi mereka. Karena kalau kita bukan ancaman, kenapa mereka repot2 ngurusin kita hehehe..

Di penghujung 2012 ini, di masa2 dimana pendaftaran sudah/hampir ditutup, semoga semua applicant bisa mendapatkan hasil terbaik. Dan semoga kita bisa bertemu di pre-departure 2013 nanti.

4 thoughts on “Ga enaknya Erasmus Mundus

  1. Nimbrung ya: untuk yang program Erasmus Mundus-nya di lebih dari satu negara (biasanya Action 1), harus adaptasi berkali-kali terhadap cara belajar, kurikulum, juga biaya hidup. Ini lumayan menguras waktu, emosi, dan duit! Hehehe. Pendekatan tiap institusi dalam konsorsium EM beda-beda, ada yang teoretis ada yang praktis, ada yang kritis ada yang mainstream. Dan biaya hidup negara-negara Eropa Barat (apalagi Skandinavia) relatif lebih mahal ketimbang Eropa Tengah/Timur, kota besar lebih mahal pula daripada kota kecil.. Jadi harus cepat menyesuaikan diri tiap pindahan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s