Reaching for the top

Walaupun blog ini awalnya diperuntukkan untuk sharing mengenai beasiswa Erasmus Mundus (EM), tetapi makin lama makin sulit bagi saya untuk membuat artikel2 baru karena beberapa hal:

1. Setiap program EM adalah unik, dalam artian persyaratannya berbeda-beda, prosedurnya berbeda-beda (ada yang aplikasi online, ada yang mengharuskan hardcopy), tips dan triknya pun tentunya berbeda-beda.

2. Seluruh informasi toh sudah tersedia pada website masing-masing konsorsium. Menuliskannya secara redundant di sini tidak akan membantu.

Sejak penjualan buku EM: The Stories Behind dan terutama sejak EHEF 2011, saya mengamati, makin hari makin banyak orang yang subscribe di blog ini. Artinya, setiap update pada blog ini akan terupdate di email setiap subscriber. Sebagai pengelola blog ini, tentunya saya juga ingin blog ini dapat berguna bagi setiap subscribernya.

Sebab itu, mungkin (masih sedang dipertimbangkan), mulai post ini, ke depannya saya akan share saja mengenai apa yang ada di benak saya, tentunya dengan konten yang disesuaikan dengan konteks meraih beasiswa, yang diharapkan dapat membuka perspektif, menumbuhkan semangat, maupun memberi pencerahan dalam perjuangan meraih beasiswa. Dengan pola pikir yang positif dan mau berusaha, bagaimanapun ke depannya perjalanan hidup anda, anda bisa menjadi seorang pribadi yang unggul dan berhasil.

Tulisan yang diberi judul “reaching the top” kali ini, lebih diperuntukkan bagi mereka yang masih menjalani masa studi. Baik itu SMU, S1, S2, D3, dll. Ketika saya kuliah S1 dulu, banyak pandangan mengenai aktivitas seperti apa yang baik bagi seorang mahasiswa/i. Ada yang berpendapat makin banyak pengalaman organisasi makin baik karena membuka jaringan, positif untuk ditaruh di CV, belajar untuk berhubungan dengan orang lain, dan yang paling menarik adalah supaya lebih gampang diterima kerja karena banyak perusahaan yang melihat pengalaman berorganisasi sang pelamar.

Saya tidak ingin berpolemik mengenai pilihan mana yang paling baik. Setiap orang memiliki passion dan hobi masing-masing. Kalau anda sudah beli buku EM: The Stories Behind, di situ saya share bahwa saya tidak pernah punya cukup waktu untuk aktif berorganisasi dikarenakan pekerjaan paruh waktu yang harus saya kerjakan di luar masa kuliah. Namun,  ternyata hal itu tidak menghalangi saya untuk mendapatkan beasiswa (ingat, konteks di sini adalah beasiswa EM; untuk beberapa beasiswa lain, pengalaman organisasi mungkin menjadi salah satu syarat utama).

Kalau saat ini anda masih dalam masa studi, dan anda berkeinginan untuk meraih beasiswa, utamakanlah studi anda. Apapun tantangannya, saya percaya selalu ada jalan dan celah yang bisa ditelusuri untuk menjadi “the toppest”. Saya bisa berkata demikian karena saya sudah melaluinya. Dulu itu, saya kuliah PP Jakarta-Depok dan melakukan pekerjaan paruh waktu setelah kuliah. Tiap hari, baru sampai rumah sekitar jam 9 malam. Sabtu dan Minggu pun pekerjaan paruh waktu ini terkadang bisa makan setengah hari. Jadi, kalau mau dipikir, kapan ya waktu belajarnya, waktu bikin tugasnya. Memang tidak mudah, tetapi ketika anda bertekad untuk menjadi seorang pemenang, maka sesuaikanlah tindakan dan kelakuan anda sesuai dengan apa yang anda tuju.

Mungkin akan ada yang komentar, prestasi itu kan tergantung otak. Kalau memang orangnya pintar, mau ga belajar juga nilainya bagus. Tapi coba lihat dari sisi lain (tanpa mendiskreditkan siapapun), bukankah semua orang yang lulus tes masuk perguruan tinggi bonafid adalah pribadi-pribadi terpilih dengan kualitas bonafid? Bila ya, maka timbul pertanyaannya: mengapa tidak semuanya mendapatkan nilai bagus? Mengingatkan, artikel ini konteksnya adalah beasiswa EM. Jadi jangan dihubungkan dengan Bill Gates dan orang-orang lain yang sukses luar biasa, sekalipun mereka drop out dari sekolah.

Sebagai ilustrasi sederhana, bayangkan seorang anak kecil yang dijanjikan oleh orang tuanya untuk pergi ke sebuah tempat yang sangat digemarinya, esok hari. Kira-kira apa yang akan dilakukan si anak? Besar kemungkinan, anak itu akan bangun pagi-pagi benar, mengguncang-guncang bahu ayah ibunya supaya mereka lekas bangun dan bersiap-siap pergi, akan tidak rewel ketika mandi, makan, dan menggunakan seluruh perlengkapan pergi. Jadi, si anak ini sudah mempersiapkan diri untuk menerima hadiahnya, bahkan sebelum dia menerimanya.

Makin tahun, makin banyak orang (di seluruh dunia) yang tahu akan beasiswa EM. Suka atau tidak, persaingan makin ketat. Sebab itu, anda harus menjadi seorang pribadi dengan kelebihan yang unik. Nilai IPK tentunya hanyalah salah satu komponen penilaian. Namun demikian, adalah awal yang baik kalau anda sudah bisa mengamankan “point” dari nilai IPK sehingga ke depan, anda bisa berkonsentrasi ka hal-hal lain semisal persiapan TOEFL, pembuatan surat motivasi, dll.

Seberapa bagus pun CV anda, kalau IPK anda biasa-biasa saja, maka banyak kandidat yang siap “melibas” anda. Sebuah ungkapan mengatakan “hope for the best, prepare for the worst”. Jadi, anggap saja (untuk worst case-nya) pesaing-pesaing anda adalah para superman dan superwoman. Tentunya, anda harus menjadi lebih super (note: perkataan super ini tidak merujuk/berhubungan dengan motivator tertentu) dari mereka supaya bisa menang. Dan kalau saat ini, anda masih bisa berusaha untuk menjadi super, why not?? Jangan tunggu sampai ada penyesalan di kemudian hari. Make it now, and make it right !!

4 thoughts on “Reaching for the top

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s