Apply Residence Permit for Studies ke Finlandia? Gampang kok

Originally posted on intan farhana:

Hey guys, well..berhubung beberapa minggu yang lalu baru aja berkutat dengan berkas-berkas residence permit untuk belajar ke Finlandia. Kali ini saya rasa penting untuk share step by step yang harus dilakukan dalam permohonannya untuk mempermudah teman-teman yang ingin apply juga. *soalnya saya kebingungan juga awalnya, hehe

Okay, kenapa langsung residence permit? Bukannya ngurus visa dulu? Nope, untuk Finlandia, jika kita akan tinggal lebih dari 90 hari, maka kita harus langsung apply residence permit. Jadi jangan bingung ya kalau ada teman kamu yang mau studi ke luar negeri juga tetapi ngurus visa dulu dan residence permitnya di urus setelah sampai ke negara tujuan. So, buat kita yang mau studi ke Finlandia, kita akan langsung apply residence permit for studies.

Nah, untuk apply residence permit ke Finlandia, kita bisa apply secara manual di kedutaan ataupun secara online. *Saya sarankan untuk apply secara online karena lebih murah dan lebih mudah kok. Dan juga…

View original 771 more words

Memori 1 Agustus 2015 (Erasmus+ Award Ceremony & Pre Departure Briefing)

Originally posted on intan farhana:

Jpeg

Pagi itu, Jakarta rasanya sangat bersahabat…no traffic jam (yaiyalah hari sabtu). Tetapi hati dan pikiranku saat itu terjebak di antara dua dunia yang aku sendiri tidak mengerti. Pikiranku melayang ke negeri antah berantah dan entah apa yang aku pikirkan. Jantungku berdebar, dan kemungkinan ini adalah nervous syndrome akut. Ya, aku nervous…nervous akan hal-hal baru dan mengesankan yang pastinya akan aku dapatkan pada hari itu. Eeiits..CUT!! Scene drama seperti ini yang cuma ada di pikiran saya. Let’s straight to the story, hihi.

Alkisah, tanggal 1 Agustus 2015, seluruh awardees beasiswa Erasmus+ diundang ke sebuah event besarnya Erasmus+, yaitu The Award Ceremony and Pre-Departure Briefing. Saya yang pengumuman kelulusannya di bulan November 2014, benar-benar menunggu event ini sejak kelulusan. Foto-foto pre-departure tahun 2014 bikin saya ngiler meen. Hari berlalu, bulan berlalu, akhirnya dapat kepastian tanggal diadakannya pre-departure, dan yang buat saya terus-menerus mengucap syukur adalah saya dapat mengikuti acara ini bersamaan dengan…

View original 1,327 more words

Refleksi Diri – Bagi yang masih S1

Untuk refleksi diri saja.. Terutama mereka yang masih di bangku S1.

Belajar S1 dengan baik, raih nilai tinggi, buat publikasi2 penting, lalu dapat beasiswa Erasmus+..

Ketika lihat ke belakang, tidak ada yang perlu disesali karena kerja keras yang berbuah manis..

Maaf kata, buat apa terlalu sibuk ikut kegiatan ini itu kalau membuat kuliah tidak terpegang dan nilai jadi jeblok. Buat apa terlalu pusing ikut campur polemik ini itu kalau itu mengalihkan fokus dari tanggung jawab untuk belajar dengan baik.

Catatan tambahan:

Tidaklah salah ikut berorganisasi dan kegiatan2 kemahasiswaan selama kuliah karena akan membuka perspektif dan melatih nilai-nilai kerja sama, adaptasi, sosialiasi, dan nilai baik lainnya. Harus pintar-pintar bagi waktu supaya bisa seimbang antara mengikuti kuliah dengan kegiatan luar kuliah.

Kalau sudah meraih impian2 itu, silahkan untuk sibuk sana sini, komentar sana sini, ikut polemik ini itu.

Karena waktu tidak bisa berulang. Menit yang baru dilalui saja tidak bisa diulang. Apalagi nilai S1 ??

Padahal salah satu persyaratan utama beasiswa pada umumnya adalah nilai S1. Jadi kalau senjatamu tidak siap, bagaimana mau berkompetisi dengan aplikan lainnya?

retrospect

Memahami Skema Mobilitas Erasmus+ Action 1

Mobility scheme (skema mobilitas).
Istilah ini seringkali membingungkan pencari beasiswa.

Di Erasmus+ Action 1, konsep mobiitas ini diterapkan, dalam artian bahwa mahasiswa/i akan belajar di lebih dari 1 universitas, selama masa periode kuliahnya.

Signature:050999879533325026d180984587a42aac2502eb44226bcdb5e73a04c11a613b

Supaya bisa lebih mengerti, mari kita lihat contoh langsungnya.
Misal saja, program COSI (Colour in Science and Industry) yang menawarkan studi di 4 universitas berbeda selama 4 semester, cek link berikut:
http://master-colourscience.eu/programme/cimet-master-degree/mobility-scheme-cimet/

Contoh lain, program ME3 (European Joint Masters in Management and Engineering of Environment and Energy), yang bahkan menawarkan beberapa skema mobilitas. Cek link berikut:
http://www.emn.fr/z-de/me3-site/index.php/study-tracks

Perlu diingat, bahwa semua universitas/institusi yang ditawarkan di skema mobilitas, perlu sudah tergabung atau punya perjanjian kerja sama dengan konsorsium penyelenggara program.

Jadi, jangan berpikiran seperti ini:
Saya tertarik untuk ambil Master di bidang lingkungan (environment), jadi ME3 cocok untuk saya. Saya pilih ME3, tapi saya mau universitasnya di A, B, C, D.
(Semoga ilustrasi di atas bisa dimengerti)

Untuk program2 lain yang ditawarkan untuk Action 1, Master degree, bisa dicek di http://bit.ly/EM-emmc.

Jawaban yang Tepat saat Wawancara

Hari ini saya mau melanjutkan pembahasan mengenai “wawancara”. Post ini masih berhubungan dengan post sebelumnya. Konteks yang mau saya bahas mengenai “jawaban yang tepat”.

Salah satu pertanyaan klasik yang hampir selalu muncul saat interview adalah “mengapa pilih perusahaan ini, bukan perusahaan lain (yang setara atau yang lebih besar)”.

Di sesi wawancara kemarin, saya memvariasikan pertanyaannya menjadi “kenapa pilih bank, bukan industri lain yang terkait latar belakang pendidikan” (secara ketiga kandidat ini semuanya dari teknik: 1 dari kimia, 1 dari penerbangan, 1 dari kelautan).

Salah satu kandidat menjawab bahwa dia sudah memutuskan untuk beralih dari latar belakang tekniknya karena saat ini lebih tertarik ke dunia finansial dan bisnis.

Jawaban seperti ini menimbulkan keraguan bahwa si kandidat ini minatnya suka berubah-ubah. Bisa saja saat ini dia tertarik ke bank, lalu kalau tahun depan tertarik ke bidang lain, maka pindah kerja lagi? Hal ini sehubungan dengan investasi perusahaan untuk program Management Trainee yang jumlahnya besar, sehingga tentunya para trainee diharapkan bisa bekerja lama untuk perusahaan.

recruit

Pertanyaan lanjutan yang saya tanyakan adalah “kenapa pilih bank ini (sebut saja bank X), bukan bank besar lainnya seperti bank A, bank B?”

Salah satu kandidat menjawab karena dia sudah membaca nilai-nilai bank X, dan dia merasa dirinya sangatlah sesuai karena memiliki nilai-nilai yang sama dengan bank X.

Jujur, saya agak sebal dengan jawaban2 “idealis” semacam ini. Jadi saya bertanya “apakah kamu sudah baca nilai-nilai bank A dan bank B?”. Si kandidat bilang “Belum”.
(Kalau dia bilang sudah, saya akan tanyakan apa nilai-nilai bank A dan bank B hehe..)

Anyway, jadi mana bisa ditarik kesimpulan seperti jawaban dia sebelumnya. Jawaban dia sebelumnya itu adalah jawaban yang “menghindar” (semoga anda mengerti point saya di sini).

Saya lebih menghargai kandidat yang menjawab “Saat ini lowongan yang sedang dibuka hanyalah untuk bank X. Dan setelah saya mempelajari data-data ketiga bank ini, saya berpendapat bahwa bank X merupakan salah satu bank yang sehat dan secara finansial cukup kuat. Jadi, dalam hal ini, saya memilih bank X.”

——————–
Setelah kurang lebih 1,5 jam, saya meminta ketiga kandidat ini untuk membuat final statement mengapa merekalah yang harus dipilih (dibandingkan kedua kandidat lainnya).

Kandidat pertama sangat sopan, dia tidak membahas mengenai kedua pesaingnya, dia hanya menonjolkan mengenai dirinya saja (mengulang prestasi-prestasi di CVnya).

Kandidat kedua mengatakan bahwa dia tidak tahu kualifikasi kedua pesaingnya, tetapi dia merasa dia unggul karena bisa menjawab seluruh pertanyaan di interview dengan baik.

Kandidat ketiga menjawab bahwa dia menunjukkan dirinya seperti apa adanya, dan “melempar balik” ke panelis, untuk menilai apakah dirinya yang terbaik atau bukan.

Sejujurnya, tidak ada jawaban benar/salah mengenai final statement ini. Yang perlu saya lihat di sini adalah “keyakinan” dalam menjawab.

——————–
Anyway, dari share di atas, apa benang merah yang bisa diambil ?
1. Perlu strategi dan pikiran yang seksama dalam menjawab. Karena dari satu pertanyaan, bisa berlanjut ke pertanyaan-pertanyaan berikutnya.
2. Jangan “lari” atau menghindar dari pertanyaan karena akan menimbulkan keraguan apakah anda orang yang suka lari dari tanggung jawab.
3. Ketika diberi kesempatan untuk menunjukkan superioritas anda, jangan malu-malu. Karena di dalam dunia bisnis, terkadang persaingan itu begitu ketat. Kalau terlalu malu-malu, bisa-bisa kalah dalam kompetisi.

Bayangkan kalau anda sudah apply Erasmus+ dan konsorsium cuma punya 1 sisa beasiswa nih, apakah anda akan “pasrah” saja, atau anda akan memberikan semua alasan untuk konsorsium memilih anda ?

Secara ideal, semua yang punya kualifikasi setara, seharusnya diberikan beasiswa. Tetapi, seringkali dunia tidak seindah itu, dan tindakan anda mungkin menentukan apakah anda yang jadi pemenang atau pecundang.

Happy Saturday !! :)

Pengalaman Wawancara

Kemarin sore, saya berkesempatan untuk melakukan wawancara untuk beberapa kandidat pegawai baru untuk program Management Trainee di sebuah lembaga perbankan ternama.

Tiga CV dan hasil ulasan assessment sebelumnya sudah menanti di meja. Menarik mengetahui bahwa ketiga kandidat ini berasal dari universitas yang sama, range tahun lahir 1992-1993, dan kesemuanya berasal dari Teknik.

Dalam tulisan ini, saya bahas 1 aspek saja dari proses wawancara ini. Next time, aspek lainnya.

interview

 

CV mereka menarik, singkat padat, 1-2 lembar saja, dipenuhi berbagai prestasi dan pencapaian yang mengagumkan. Dari CV tersebut, saya memberikan peringkat mana yang nomor 1, 2, dan 3.

Tibalah saat wawancara. Tanya jawab, menguji kemampuan dan ketahanan para kandidat dalam menghadapi pertanyaan2 kritis dari pewawancara.

Tak disangka, kondisi berbalik. Kandidat yang CV-nya paling bagus, ternyata kurang bisa untuk mengkomunikasikan visi dan impiannya. Bahasa Inggrisnya yang kurang lancar juga menjadi halangan bagi dirinya untuk bisa mengekspresikan dirinya secara penuh.

Karena tidak ingin kehilangan kandidat yang baik hanya karena masalah bahasa (yang menurut saya bisa dipelajari dan dilatih), saya memberinya kesempatan untuk menjawab dalam bahasa Indonesia. Namun ternyata hasilnya tidak jauh berbeda. Jawabannya tetap mengawang-awang dan kurang konkret.

Pada akhirnya, saya memilih salah satu dari kedua kandidat lainnya.

Apa lessons learnt-nya, dihubungkan dengan konteks beasiswa?
1. CV yang baik merupakan pembuka jalan supaya calon pemberi beasiswa punya gambaran yang baik mengenai anda.
2. Tidak semua beasiswa membutuhkan sesi wawancara. Di Erasmus+, banyak program yang hanya application-based.
3. Kalau kebetulan beasiswa yang anda apply memerlukan wawancara, maka cara berkomunikasi harus dipelajari, supaya potensi diri anda bisa terlihat sepenuhnya.
4. Salah satu cara untuk menghadapi wawancara adalah: persiapkan list-list pertanyaan yang mungkin utk diajukan oleh pewawancara. Lalu anda siapkan jawaban yang tepat. Lebih bagus kalau bisa ada teman untuk berlatih tanya jawab, apalagi kalau wawancaranya menggunakan Bahasa Inggris.
5. Jawaban yang tepat tidak selalu harus panjang. Terlalu bertele-tele kadang menyebalkan juga.
6. Jawaban harus logis dan konkrit. Mulai dari jawaban utama, yang kemudian bisa dielaborate lebih detil kemudian.
7. Terkadang, jawaban tidak harus 100% benar, tetapi yang penting anda menjawabnya dengan keyakinan, tidak gugup, dan bisa mempertanggung jawabkannya bila ada pertanyaan lanjutan.

Semoga memberikan pencerahan