EU visits Bandung

More info:

http://eeas.europa.eu/delegations/indonesia/more_info/eu_roadshow/index_en.htm

THE EU IS COMING TO YOUR CITY!

The EU is visiting the city of BANDUNG on 12 and 13 February 2016.
What’s on the agenda?

Panel Seminar on Smart Cities

euvisits-bandungseminar

Date/Time: Friday, 12 February 2016, 12:30-15:00
Venue: Aula Barat, Institut Teknologi Bandung, Jl Ganesha No 10, Bandung

Speakers at the seminar include the Ambassadors of the EU, Austria, Belgium, Slovakia and Sweden.

The event is open for public and free of charge.
Registration is required.
Please register by email to ertanti.rizki@gmail.com or sms 0812 1418 4058
Registration format: name_institution_phonenumber_email

Scholarships & Culture Fair

euvisits-bandungfair

Date: Saturday, 13 February 2016
Time: 09:30-12:00 or 13:00-16:00
Venue: Suagi Ballroom, The Papandayan Hotel, Jl Jend Gatot Subroto No 83, Bandung

Attend our info sessions and meet our representatives: the EU, France, Germany, Italy, the Netherlands, Spain, Sweden and the UK.

The event is open for public and free of charge.
Registration is required.
Please register online at http://bit.ly/EUscholarshipsfair

Tips Jitu Mendapatkan Beasiswa Itu….

Terus terang sebenarnya saya bukan orang yang paling tepat untuk membahas topik ini. Ada lebih banyak alumni Erasmus+ (dulu Erasmus Mundus) yang semangat untuk mengejar beasiswanya jauh lebih hebat dari saya. Kalau ditanya tentang bagaimana cara sukses mendapat beasiswa atau apa tips jitu untuk dapat beasiswa, saya akan jawab saya tidak tahu. I really have NO idea. (Terus ngapain bikin postingan ini?) Well, karena saya tahu bagaimana tips jitu untuk menghancurkan perjuangan tersebut. Ha ha ha ha. :D

Dearest teman-teman yang ingin mendapatkan beasiswa (dengan alasan apapun, dengan motivasi apapun),

Ketahuilah, salah satu cara termudah untuk gagal mendapatkan beasiswa adalah dengan berhenti berusaha. You missed 100% chance of every shot you didn’t take. Berusaha dengan setengah hati? Buat saya, itu sama parahnya.

Tanpa kita sadari sebenarnya setiap hari, setiap waktu yang kita habiskan di sekolah, di ruang kuliah, atau di tempat kerja, akan berefek pada keberhasilan kita mendapatkan beasiswa, kalau memang salah satu tujuan hidup kita dapet beasiswa lho ya. (Ah moso’ sih?) Eh… beneran ini. :)

Kalau diingat-ingat, biasanya cari beasiswa itu syarat utama yang selalu diminta adalah CV (Curriculum Vitae atau Daftar Riwayat Hidup), Motivation Letter, dan Recommendation Letter. Bagaimana kita mau buat CV yang keren, kalau kita tidak pernah melakukan sesuatu? Bagaimana mau bikin motivation letter yang menarik, kalau bahkan besok pagi mau ngapain aja tidak terpikir? Bagaimana mau minta Recommendation Letter yang benar-benar menggambarkan kemampuan kita (atau bahkan lebih dari itu), kalau kita tidak pernah berinteraksi dan menjalin hubungan baik dengan orang yang akan kita mintai rekomendasi?

“Tapi tapi tapi tapi… CV saya keren, motivation letter saya luar biasa, pemberi rekomendasi saya adalah orang-orang hebat di bidangnya, dan saya masih gagal mendapatkan beasiswa. Hidupku hampa. Aku terjatuh dalam lautan luka dalam dan tak sanggup bangkit lagi. Toloooooong….”

*doeeeeng, sebentar, saya mau pingsan dulu*

Sampai dimana kita tadi ya? Ada banyak sekali kemungkinan kenapa beasiswa kita tidak dikabulkan (dan sebagian besarnya diluar kontrol kita). Mungkin pemberi beasiswa merasa  dengan kualifikasi dimiliki kita tidak perlu diberi beasiswa, bisa jadi pemberi beasiswa menganggap kita tidak memenuhi target group yang diinginkan, bisa juga karena alasan-alasan sepele seperti ‘kelewatan baca aplikasi kerennya, Bro’. Saya tahu yang terakhir itu nggak lucu, but it might happen, memangnya yang kirim aplikasi cuma 20 orang? Trus kenapa hidupmu jadi hampa? Katanya CVnya keren? Katanya motivation letternya luar biasa? Katanya pemberi rekomendasinya orang-orang hebat?

Saya ingat sekali, angkatan saya dulu dipenuhi dengan anak-anak fresh graduate. Bisa dibilang 80% fresh graduate dan 20% sisanya adalah orang-orang yang sudah memiliki karier dan ingin memperdalam pengetahuannya. Tahun berikutnya, isinya sebagian besar orang-orang yang sudah mapan kariernya dan sedikit sekali fresh graduate yang diberikan beasiswa program tersebut alias kebalikan dari angkatan saya. Coba bayangkan kalau saya tidak mendaftar di tahun awal dan memutuskan untuk menunda, apa nggak lebih kecil chance untuk mendapatkan beasiswa? Ini lho yang saya maksud dengan kita tidak memenuhi target group yang diinginkan. Pemberi beasiswa punya rencana mereka sendiri, punya kriteria sendiri dalam menentukan orang-orang yang akan diterima. Begitu aplikasi kita masuk, ya tinggal berdoa aja, itu sudah diluar kontrol kita. Kita hanya bisa mengontrol sampai, ‘apakah kualitas aplikasi yang kita kirim itu sudah terbaik dari yang bisa kita kirimkan?’

Memang, ada kalanya kegagalan itu menampar kita, bahkan mungkin kalau harapan kita tinggi, rasa gagal itu rasanya seperti ditinju sama Mike Tyson. Tapi kalau nggak move on-move on, kapan mau dapet beasiswanya? Kapaaaaaan? :P Kegagalan mendapatkan beasiswa itu bisa dibilang kesempatan untuk menyusun ulang logistik. Kesempatan untuk baca-baca lagi aplikasi yang sudah dikirim. Kesempatan untuk minta tolong rekan sejawat atau sahabat untuk membaca ulang motivation letter atau CV kita. Jangan-jangan ada typo parah disana? Jangan-jangan kalimat-kalimat yang kita susun bagai jajaran pulau dari Sabang sampai Merauke ternyata membingungkan dan tidak jelas maksudnya. Ada baiknya juga kita bicara dengan pemberi rekomendasi, menurut pemberi rekomendasi, dimana kelebihan yang bisa kita ‘jual’? Hal-hal apa yang perlu diperbaiki, hal-hal apa yang perlu ditingkatkan. See? Kegagalan itu bukan berarti pintunya tertutup semua. Kita aja yang belum tahu, setelah ini ada kesempatan yang lebih baik menunggu kita. Saya kok makin merasa ini postingannya bukan tentang beasiswa lagi ya? Pake move on-move on segala. Ha ha ha.

PS. Saya baru saja teringat obrolan santai dengan dosen beberapa waktu silam, “You know what? For me, all those scholarship applicants are all the same. What’s the different between having TOEFL 575, 600, 620? What’s the different of having 3,3, 3,5, or even 4 GPA? For me, once they pass the qualification, they are equal. What important for me was, since I have to do more jobs with administrative things once this batch arrived, I want those students who I can trust to be able to take care on themselves. Those who didn’t make me pick up the phone and hear that one of my students have troubles….” 

Nah kan, ada banyak hal tidak terduga yang mempengaruhi keberhasilan kita untuk dapat beasiswa. So, have no worries, keep on your best (if this is what you really want) dan jangan lupa minta doa restu orang tua. :D Selamat mempersiapkan aplikasi beasiswanya ya teman-teman… Ini sudah bulan Desember. Waktunya mempersiapkan aplikasi untuk yang mau daftar tahun depan, karena untuk daftar tahun ini sudah banyak yang memasuki waktu seleksi. :P

Erasmus dan Jalan-jalan

Hello, it’s me… (jangan diterusin nyanyi lagunya mbak Adele ya :P )

Program beasiswa yang banyak dibahas di blog ini sekarang disebut Erasmus+. Duluuuuuu, disebutnya Erasmus Mundus (makanya nama blog ini emundus—ya siapa tahu ada yang mengira ‘e’-nya berarti ‘electronic’ :P ). Why Erasmus? Erasmus adalah seorang cendekiawan berkebangsaan Belanda yang belajar di berbagai negara di Eropa. Yang bersangkutan pernah hidup dan menuntut ilmu di Perancis, Belgia, Inggris, Itali, Jerman, dan Swiss. Tentunya kultur negara-negara tersebut berpengaruh pada perkembangan karakter Erasmus, tapi menurut Lord Acton (googling sendiri ya siapa Lord Acton ini) “none (of those countries-red) set its stamp upon him.” Erasmus adalah orang yang mempopulerkan kembali “Dulce bellum inexpertis”, judul buku yang diterbitkan tahun 1515 ini diambil dari syair Pindar, penyair jaman Yunani kuno. “War is sweet for those who have never experience it”. Okay. Cukup ya kita ngobrol sejarahnya.

Yang unik dari program Erasmus+ ini adalah kesempatan untuk berkelana, dulu memang hanya sebatas Eropa, sekarang sudah merambah ke Asia, Australia, dan Amerika. Why the travel? Kalau jaman Erasmus dulu, kita bisa paham lah, belum ada telepon apalagi email, mau bertanya sama Pak/Bu Guru, ya repot kalau harus kirim-kiriman surat, datengin aja langsung, minta diajarin, sampe pinter. Terus cari guru lain lagi, untuk subyek-subyek yang masih harus dipelajari. Ya gampangnya gitu sih. Kalau dipikir-pikir, ngapain ya taxpayer di Eropa spending their money for students dari negara ketiga? Jawaban gampangnya, ‘tak kenal maka tak sayang’. Komunikasi adalah salah satu masalah terbesar manusia. Selain adanya barrier bahasa, ada juga kegagalan menerjemahkan konteks, level tidak percaya yang tinggi (mistrust), dll.

Rumit ya? Iya, saya yang nulis aja sampe belibet. :P Suatu hari saya bertukar email yang cukup panjang dengan Sekretaris Program yang bertanggungjawab atas keberangkatan, kepulangan, ada segala urusan administrasi saya yang berkaitan dengan beasiswa. Berbalasan email ini disertai dengan emosi yang makin naik di setiap email yang terkirim, hanya karena perkara sepele: biaya transportasi. Kebetulan batas tertinggi transportasi saya adalah X Euro, ternyata karena peak season, biaya transportasi saya jadi 1,2X Euro. Dengan kondisi seperti ini, maunya saya: “Ya udah, beli aja tiket pesawatnya, geser dikit tanggalnya, ntar saya bisa cari tumpangan nginep atau hostel murah dan naik bus atau kereta ke kota tujuan, dengan dana pribadi saya. Kalau 0,2X + nginep hostel sehari mah saya masih hepi-hepi aja kok disuruh bayar sendiri.” Tapi maunya Bu Sekretaris, “Udah sih, kamu tinggal nurut aja. Pokoknya pakai yang ini.” Kondisi seperti ini nggak enak banget deh. Belum kenal, by email, malah diskusinya ngga selesai-selesai. Akhirnya, saya tulis, “Sorry, sepertinya kita ada misunderstanding. Saya nggak pengen merepotkan anda, jangan terlalu khawatir dengan tanggal, saya bisa mandiri kok.” Dan nggak lama ada balasan, “I only want what is best for you.” Terharu nggak sih kalau kayak gitu? Kami menginginkan hal yang sama, she wanted the best for me, I wanted the best for her. But we were fighting each other in the process. Good. Another lesson learnt! :)

Melanjutkan topik ‘tak kenal maka tak sayang’, dengan kehadiran kita di sini, kita mengenalkan sesuatu yang lain kepada penduduk sekitar. Buat orang-orang disini, mungkin saya kelihatan seperti minion. Kecil, pendek, bisa jalan, idup lagi *sarcasm_detected*. Bagi saya, mereka itu seperti raksasa, tinggi-tinggi. Kalau saya mau nonton pertunjukan dan terhalang oleh mereka, mau saya loncat-loncat kaya’ apa juga nggak bakal bisa keliatan. Akhirnya ya, “misi Bang, saya gak kliatan, geseran dikit boleh, aye mau liat lenong di depan.” Atau just as simple as, “Haaaaa? Dari Indonesia? Indonesia itu di sebelah mananya Turki?” *pingsan* “Jauh, Brooooo… itu baru separoh jalan. Kami ada di atasnya Australia.” *sambil nunjukin peta*.

Culture yang berbeda membuat adanya perbedaan pola pikir, kurang informasi bisa bikin interpretasi yang berbeda. Baru tadi siang kelas saya membahas tentang tumpukan sampah di lapangan terbuka, praktek yang biasa banget kan di Indonesia? Orang kita buang sampah aja kalo bisa di got depan rumah kita lempar ke sana. (Iya ngga? Ayo ngaku!! Alhamdulillah kalo enggak :) ) Rekan sekelas yang orang Belanda dan Inggris bilang mereka nggak bisa membayangkan kondisi seperti itu. Dibilangnya, ‘ini seriusan ada kasus kaya’ gini? Bikin-bikin nih ya kasusnya? Masak ada sih orang mau hidup di tumpukan bahan busuk beracun kaya gitu?’ Well. Saya cuma bisa manggut-manggut aja, karena udah keduluan temen dari Brazil yang cerita tumpukan sampah kota juga mudah ditemui di dekat kawasan yang dilindungi di sekitar Hutan Amazon. (Sedih nggak sih dengernya?)

Anyway, salah satu hal yang membuat saya tidak berhenti bersyukur adalah kesempatan travelling dari beasiswa model seperti ini. Travel a lot, as much as possible, leave no trace except photographs and kindness. Menurut saya pribadi, nggak perlu lah jadi mahasiswa kutu/kuper (kuliah-pulang/kuliah-perpustakaan). Yang penting bertanggungjawab. Sudah diberi beasiswa, kewajibannya apa? Mendapatkan ilmu sebanyak-banyaknya sesuai dengan bidang yang diambil, selain itu, wawasan dan pengetahuan yang lain juga perlu ditingkatkan, toh? Sehingga kita jadi orang-orang yang lebih dewasa. Sehingga kita benar-benar siap untuk menjadi future leader. Sehingga kita tidak mudah berubah menjadi hakim untuk orang lain. Setuju nggak? After all, other people might have the same destination as us. Who knows, kan? :D

PS. Walau saya sedang punya waktu luang, saya belum punya topik menarik untuk dibahas di postingan berikutnya. So kalau ada yang pengen dibahas, request aja ya. Kalau nggak ada, ya berarti suka-suka saya. :D I’ll see you next time.

Baca. Tunda, Tanya. :)

Halo,

saya penulis tamu di blog ini. Mungkin saya akan beberapa kali menulis disini, untuk selingan di musim ujian. :)

Kita mulai dari awal ya… Emundus dan saya kebetulan beberapa kali berbagi jaga stand di pameran-pameran pendidikan dan beasiswa, beberapa kali juga stand kami bersebelahan dengan stand-stand pemberi beasiswa yang lain. LPDP, Dikti, maupun beasiswa-beasiswa dari negara-negara Eropa lain seperti Chevening dari Inggris, Nuffic Neso dari Belanda, DAAD dari Jerman, dan beasiswa-beasiswa lainnya. Banyak lho kesempatan untuk beasiswa ke luar negeri itu. Kalau memang sudah berniat untuk melanjutkan studi ke luar negeri, jangan berhenti di satu kesempatan. Ibarat kata begitu layar terkembang, pantang surut ke belakang. GO! Ndak dapet beasiswa yang satu, ya cari yang lain, ndak perlu tuh tarik napas dulu, tunda beberapa bulan lagi. NO. Just. GO!

Kalau baca-baca postingnya emundus yang telah lalu, beberapa inti post-nya adalah jangan pake manja, jangan kebanyakan tanya. Baca yang banyak, kalau punya pertanyaan yang benar-benar mentok, baru tanya. Mungkin ini kebiasaan kita ya, tradisi kita cenderung lisan padahal di Eropa sini kebanyakan informasi tertulis (kecuali yang tidak). Kebiasaan kita di Indonesia itu mudah sekali bertanya bahkan untuk hal-hal yang sudah tertulis (mohon dibedakan antara menanyakan basic questions dan bertanya untuk konfirmasi ya.)

Ada sedikit cerita tentang kebiasaan ini, kebetulan pada saat terjadi tragedi di Paris beberapa minggu lalu saya baru saja sampai di Paris. Karena satu dan lain hal, saya memutuskan untuk meninggalkan Paris. Segera. Seharusnya saya masih tinggal di Paris beberapa waktu dan tiket sudah dipesan, maka saya berupaya untuk mengganti tiket. Sampai di Gare du Noord yang tiba-tiba penuh orang dan tentara bersenjata di Sabtu pagi, saya ke loket tiket, yang apesnya ditutup. Cek jadwal di papan, ternyata beberapa jadwal diubah karena pengetatan keamanan. Stasiun kereta yang saya tuju adalah stasiun antara, bukan stasiun tujuan akhir, bolak-balik saya cek papan pengumuman, nggak keluar-keluar juga tulisannya. Akhirnya saya putuskan untuk bertanya. Dan apa yang terjadi para pembaca yang budiman? Saya diomelin. Yes. Diomelin. Sama penjaga antrian loket. “See it with your eyes.” Dan dia masih mengomel panjang, yang saya langsung males dengernya. Mak nyos sekali bukan? Dikiranya saya ini nggak berusaha baca-baca di kerumuman yang berantakan itu? :)

Selama di sini apa-apa harus mandiri. “Saya tidak tahu,” itu berlaku apabila kita sedang diskusi keilmuan di kampus; tapi nggak ada harganya kalau kita ditanya Kondektur kereta/tram kenapa kita nggak nge-tap kartu di gate. “Saya tidak tahu,” tidak berlaku apabila kita buang sampah pakai kantong yang salah; yang ada sampah kita nggak diangkut sama tukang sampah. Ya selamat aja deh kalo sampai seperti itu :P

Seperti yang selalu diingatkan, mendapat beasiswa itu bukan goal akhir, mendapatkan beasiswa itu artinya perjuangan baru-mau-akan dimulai. Jangan disangka berjauh-jauh dari keluarga dan teman itu selamanya menyenangkan, jangan dikira bisa pegang salju itu selalu jadi keren. Bergelut dengan musim dingin yang biasanya dilengkapi jackpot hujan dan angin itu tantangan. kalau kuliah pagi, berangkat ke kampus di musim dingin itu artinya ngampus ditemani cahaya bulan. Beberapa bulan kemudian, jam 3 pagi matahari sudah terbit dan mungkin baru tenggelam jam 8 malam. Pictures are indeed worth a thousand words, but pictures are only taken in seconds; yet we need to spend thousand seconds to get the moment. 

Sudah siapkah teman-teman untuk mendapatkan beasiswa di luar negeri?

Happy weekend, I’ll see you next time. :)

Apply Residence Permit for Studies ke Finlandia? Gampang kok

intan farhana

Hey guys, well..berhubung beberapa minggu yang lalu baru aja berkutat dengan berkas-berkas residence permit untuk belajar ke Finlandia. Kali ini saya rasa penting untuk share step by step yang harus dilakukan dalam permohonannya untuk mempermudah teman-teman yang ingin apply juga. *soalnya saya kebingungan juga awalnya, hehe

Okay, kenapa langsung residence permit? Bukannya ngurus visa dulu? Nope, untuk Finlandia, jika kita akan tinggal lebih dari 90 hari, maka kita harus langsung apply residence permit. Jadi jangan bingung ya kalau ada teman kamu yang mau studi ke luar negeri juga tetapi ngurus visa dulu dan residence permitnya di urus setelah sampai ke negara tujuan. So, buat kita yang mau studi ke Finlandia, kita akan langsung apply residence permit for studies.

Nah, untuk apply residence permit ke Finlandia, kita bisa apply secara manual di kedutaan ataupun secara online. *Saya sarankan untuk apply secara online karena lebih murah dan lebih mudah kok. Dan juga…

View original post 771 more words

Memori 1 Agustus 2015 (Erasmus+ Award Ceremony & Pre Departure Briefing)

intan farhana

Jpeg

Pagi itu, Jakarta rasanya sangat bersahabat…no traffic jam (yaiyalah hari sabtu). Tetapi hati dan pikiranku saat itu terjebak di antara dua dunia yang aku sendiri tidak mengerti. Pikiranku melayang ke negeri antah berantah dan entah apa yang aku pikirkan. Jantungku berdebar, dan kemungkinan ini adalah nervous syndrome akut. Ya, aku nervous…nervous akan hal-hal baru dan mengesankan yang pastinya akan aku dapatkan pada hari itu. Eeiits..CUT!! Scene drama seperti ini yang cuma ada di pikiran saya. Let’s straight to the story, hihi.

Alkisah, tanggal 1 Agustus 2015, seluruh awardees beasiswa Erasmus+ diundang ke sebuah event besarnya Erasmus+, yaitu The Award Ceremony and Pre-Departure Briefing. Saya yang pengumuman kelulusannya di bulan November 2014, benar-benar menunggu event ini sejak kelulusan. Foto-foto pre-departure tahun 2014 bikin saya ngiler meen. Hari berlalu, bulan berlalu, akhirnya dapat kepastian tanggal diadakannya pre-departure, dan yang buat saya terus-menerus mengucap syukur adalah saya dapat mengikuti acara ini bersamaan dengan…

View original post 1,327 more words