Banyak pengunjung blog ini yang bertanya bagaimana caranya untuk apply Erasmus Mundus sebelum lulus.
Di bawah ini adalah cerita dari beberapa student dan alumni yang memiliki pengalaman yang sama. Semoga dapat menginspirasi Anda semua.
Cassie, EM awardee 2009 untuk program Marine Biodiversity and Conservation
Pada Desember 2008 saya mengajukan beasiswa EM ketika masih belum lulus S1, walaupun sebenarnya tidak ada kejadian yang spesial karena untuk saya semua urusan terhitung mulus…
Di website program saya memang sudah dikatakan bahwa tidak masalah bila pendaftar masih belum lulus kuliah. Namun, kita memang harus menjelaskan secara tertulis bahwa kita memang mahasiswa tingkat akhir yang akan lulus sebelum perkuliahan master dimulai. Saya sendiri mengatakan bahwa saya akan lulus pada bulan Juni 2009 (walaupun akhirnya diwisuda pada bulan Juli 2009). Ijazah saya kirim setelahnya dan tidak ada masalah dan saya sendiri berangkat akhir bulan Agustus 2009.
Mengenai apa yang harus dipersiapkan, menurut saya, penuhi saja semua syarat yang diminta di website dengan sebaik-baiknya. Apabila ada kasus khusus, seperti belum lulus S1 (yang artinya tidak bisa menyerahkan ijazah S1) maka jelaskan secara tertulis. Yang mungkin harus diperhatikan adalah kita harus ‘memasang’ target kelulusan yang masuk akal dan harus berusaha memenuhinya (kan ga lucu kalau kita diterima EM, tapi ga jadi berangkat gara-gara belum lulus. Harusnya setelah tahu diterima, kita jadi lebih semangat untuk lulus!)
Nay, EM awardee 2005, MESPOM
menilik umur, koq bisa aku belum lulus S1 pas daftar mespom? hehe…ceritanya, dulu kuliahnya D3, lulus trus kerja dulu. Nyambung S1 tahun 2003, selesai pertengahan 2005 (kira-kira 1.5 tahun). sementara kira-kira pertengahan 2004 sudah mulai cari-cari beassiwa, jadi pengisian formulir pendaftaran dll dilakukan pada saat masih aktif kuliah S1 semester ke-2 (karena nyambung dari D3, jadi hanya perlu 3 semester untuk lulus).
Karena proses aplikasinya sendiri memakan waktu hampir 1 tahunan (agust 2004-agust 2005), jadi waktu itu seluruh proses seleksi berjalan berbarengan dengan masa kuliah sambungan S1 semester 2 dan 3 (akhir).
ada beberapa kolom di form aplikasi yg jadinya tidak bisa terisi, tapi kebetulan program mespom (waktu itu) ada menyebutkan bagaimana harus mengisi form jika statusnya belum lulus (kurang tahu apakah hal ini juga ada di program yg lain). jadi secara persyaratannya, memang dibolehkan. karena kelulusan S1 dulu akan berbarengan dg waktu keberangkatan ke eropa, jaminannya waktu itu hanya transkrip D3 dan transkrip sementara semester 1 S1 (yg 2 semester belum keluar waktu awal pendaftaran). konsorsium merasa ini cukup (setelah beberapa kali korespondensi), dan mereka setuju bahwa sertifikat yg lain-lain (yg belum ada) akan menyusul sesegera mungkin, sehingga aplikasi diproses terlebih dulu tanpa sertifikat kelulusan S1.
untunglah aku diterima, dan bersamaan dg pengurusan visa dll, aku juga sibuk ujian S1, nulis thesis akhir, pendadaran, dan tentu saja, masih kerja full-time senin-jumat
waktu aku daftar beasiswa dan mulai melewati tahapan step by step dan selalu lolos, aku mulai melakukan pendekatan ke pihak universitas tempat aku belajar S1 sabtu minggu, menerangkan apa yg akan kutempuh setelah lulus S1, bahkan salah satu dosen memberikan surat rekomendasi untuk mendaftar beassiwa, sehingga pihak universitas juga mendukung penuh. Ini penting karena di akhir semester, pas sudah mau berangkat ke eropa, seharusnya ijasah S1 belum resmi keluar, tapi universitas memutuskan untuk mengurus ijasah asliku untuk diproses lebih dulu, jadi bisa dibawa terbang ke eropa.
sampai di sana, urusan pertama yg harus dilakukan begitu mendarat, yaitu menyerahkan seluruh sisa kelengkapan dokumen yg waktu proses penerimaan dijanjikan akan diberikan. untunglah semua lancar dan tepat waktu, jadi semua pihak lega. nego ke konsorsium mungkin tidak perlu dalam kasusku karena memang konsorsium sudah menyebutkan bahwa untuk yg BELUM lulus S1…boleh daftar…dg ketentuan tersendiri seperti yg sudah aku alami di atas. deg-degannya waktu itu cuman bisa ga ya universitas keluarin ijasah sementara yg lain belum terima. dg pendekatan ke beberapa pihak dan dg niat baik, serta dg membawa nama baik almamamter juga, justru malah mereka dg senang hati membantu dan bangga, karena alumninya ada yg langsung keterima S2 di eropa.
mudah-mudahan sharing ini membantu buat mereka yg senasib dg-ku, atau di situasi yg mirip-mirip. mungkin memang intinya tergantung dr kebijakan pihak konsosrsium masing-masing program yg bisa jadi berbeda-beda. akupun kurang tahu apakah kebijakan yg sama masih juga berlaku di MESPOM sekarang, karena pastinya tiap tahun mereka merevisi persyaratan dan apa yg boleh dan tidak bolehnya. kebetulan aku angkatan pertama di MESPOM. yg penting sih komunikasi dg pihak konsorsium terus menerus (via email) dan aktif membaca detil-detil persyaratan dg seksama (tolong dicatat waktu itu 2005 belum ada semacam forum yg saling bantu seperti sekarang, belum ada tempat bertanya, belum ada yg berpengalaman untuk dimintai saran/pendapat, semua dikerjakan sendiri dan benar-benar mandiri, sampe berangkat ke eropa sendiri, tanpa pelepasan resmi dll). mudah-mudahan sedikit cerita ini membantu bagi yg membutuhkan.