Erasmus Mundus scholarship

Quality and Excellence in European Higher Education

Posts Tagged ‘scholarship’

EM alumni on MTV Insomnia

Posted by emundus on April 29, 2010

Indonesian EMA community (the so-called IndoEM) has succeeded promoting Erasmus Mundus in various ways, in close cooperation with the Jakarta Delegation of European Union.

Some means of the promotion are:

  • direct presentations in the universities
  • attending numerous education fairs
  • electronic articles through blogs
  • on-air shows (radio)

On early morning of 24 April (3-5 AM) IndoEM appeared in live show of MTV Insomnia as one of the most exciting ways to target young and dynamic audience of potential Erasmus Mundus students from Indonesia. The alumni networking with the media is considered as the key point to be able to promote EM scholarship in a national scale.

The first on-air show (a joint-effort with Jakarta Delegation of European Union) is at Green Radio 89.2 FM which was broadcasted all over Indonesia. The second one is at Radio Republik Indonesia (the National Indonesian Radio Network) broadcasted all over Indonesia and abroad.

Moving forward to the television network, IndoEM not only promoting the scholarship but also the European cultures to the nation. Targeting to young-adult viewers, IndoEM community participated in MTV Insomnia program – a live TV show broadcasted by MTV Indonesia, which is a part of MTV Asia.

The show was aired on April 24, hosted by VJ Jemima and VJ Sarah. Four EM alumni took part in the show: Dyan Garneta (SEFOTECH.nut 2007), Irfan Mujahid (MEITEI 2007), Ayu Putri (QEM 2006), and Iqbal Akbar (FUSION 2006 – also the President of EMA SEA Chapter). They shared their extraordinary and challenging experiences learning and living in several countries in Europe.

The alumni also invited the MTV viewers to attend the upcoming Europe Day celebration (at Atrium Plasa Senayan, 15-16 May 2010) organized by Jakarta Delegation of European Union for more questions around Erasmus Mundus of which the alumni will participate in the public talk show event. In the last segment, the VJs asked all the alumni who were in the studio watching the live show to appear in the show and greet the MTV viewers.

To know more about Erasmus Mundus promotional events in Indonesia, please follow our twitter account @indoem.


Posted in Promotional Events | Tagged: , , , , , | Leave a Comment »

Apply Erasmus Mundus Sebelum Lulus

Posted by emundus on November 6, 2009

Banyak pengunjung blog ini yang bertanya bagaimana caranya untuk apply Erasmus Mundus sebelum lulus.

Di bawah ini adalah cerita dari beberapa student dan alumni yang memiliki pengalaman yang sama. Semoga dapat menginspirasi Anda semua.

Cassie, EM awardee 2009 untuk program Marine Biodiversity and Conservation

Pada Desember 2008 saya mengajukan beasiswa EM ketika masih belum lulus S1, walaupun sebenarnya tidak ada kejadian yang spesial karena untuk saya semua urusan terhitung mulus…

Di website program saya memang sudah dikatakan bahwa tidak masalah bila pendaftar masih belum lulus kuliah. Namun, kita memang harus menjelaskan secara tertulis bahwa kita memang mahasiswa tingkat akhir yang akan lulus sebelum perkuliahan master dimulai. Saya sendiri mengatakan bahwa saya akan lulus pada bulan Juni 2009 (walaupun akhirnya diwisuda pada bulan Juli 2009). Ijazah saya kirim setelahnya dan tidak ada masalah dan saya sendiri berangkat akhir bulan Agustus 2009.

Mengenai apa yang harus dipersiapkan, menurut saya, penuhi saja semua syarat yang diminta di website dengan sebaik-baiknya. Apabila ada kasus khusus, seperti belum lulus S1 (yang artinya tidak bisa menyerahkan ijazah S1) maka jelaskan secara tertulis. Yang mungkin harus diperhatikan adalah kita harus ‘memasang’ target kelulusan yang masuk akal dan harus berusaha memenuhinya (kan ga lucu kalau kita diterima EM, tapi ga jadi berangkat gara-gara belum lulus. Harusnya setelah tahu diterima, kita jadi lebih semangat untuk lulus!) :)

 

Nay, EM awardee 2005, MESPOM

menilik umur, koq bisa aku belum lulus S1 pas daftar mespom? hehe…ceritanya, dulu kuliahnya D3, lulus trus kerja dulu. Nyambung S1 tahun 2003, selesai pertengahan 2005 (kira-kira 1.5 tahun). sementara kira-kira pertengahan 2004 sudah mulai cari-cari beassiwa, jadi pengisian formulir pendaftaran dll dilakukan pada saat masih aktif kuliah S1 semester ke-2 (karena nyambung dari D3, jadi hanya perlu 3 semester untuk lulus).
Karena proses aplikasinya sendiri memakan waktu hampir 1 tahunan (agust 2004-agust 2005), jadi waktu itu seluruh proses seleksi berjalan berbarengan dengan masa kuliah sambungan S1 semester 2 dan 3 (akhir).

ada beberapa kolom di form aplikasi yg jadinya tidak bisa terisi, tapi kebetulan program mespom (waktu itu) ada menyebutkan bagaimana harus mengisi form jika statusnya belum lulus (kurang tahu apakah hal ini juga ada di program yg lain). jadi secara persyaratannya, memang dibolehkan. karena kelulusan S1 dulu akan berbarengan dg waktu keberangkatan ke eropa, jaminannya waktu itu hanya transkrip D3 dan transkrip sementara semester 1 S1 (yg 2 semester belum keluar waktu awal pendaftaran). konsorsium merasa ini cukup (setelah beberapa kali korespondensi), dan mereka setuju bahwa sertifikat yg lain-lain (yg belum ada) akan menyusul sesegera mungkin, sehingga aplikasi diproses terlebih dulu tanpa sertifikat kelulusan S1.

untunglah aku diterima, dan bersamaan dg pengurusan visa dll, aku juga sibuk ujian S1, nulis thesis akhir, pendadaran, dan tentu saja, masih kerja full-time senin-jumat :-) waktu aku daftar beasiswa dan mulai melewati tahapan step by step dan selalu lolos, aku mulai melakukan pendekatan ke pihak universitas tempat aku belajar S1 sabtu minggu, menerangkan apa yg akan kutempuh setelah lulus S1, bahkan salah satu dosen memberikan surat rekomendasi untuk mendaftar beassiwa, sehingga pihak universitas juga mendukung penuh. Ini penting karena di akhir semester, pas sudah mau berangkat ke eropa, seharusnya ijasah S1 belum resmi keluar, tapi universitas memutuskan untuk mengurus ijasah asliku untuk diproses lebih dulu, jadi bisa dibawa terbang ke eropa.

sampai di sana, urusan pertama yg harus dilakukan begitu mendarat, yaitu menyerahkan seluruh sisa kelengkapan dokumen yg waktu proses penerimaan dijanjikan akan diberikan. untunglah semua lancar dan tepat waktu, jadi semua pihak lega. nego ke konsorsium mungkin tidak perlu dalam kasusku karena memang konsorsium sudah menyebutkan bahwa untuk yg BELUM lulus S1…boleh daftar…dg ketentuan tersendiri seperti yg sudah aku alami di atas. deg-degannya waktu itu cuman bisa ga ya universitas keluarin ijasah sementara yg lain belum terima. dg pendekatan ke beberapa pihak dan dg niat baik, serta dg membawa nama baik almamamter juga, justru malah mereka dg senang hati membantu dan bangga, karena alumninya ada yg langsung keterima S2 di eropa.

mudah-mudahan sharing ini membantu buat mereka yg senasib dg-ku, atau di situasi yg mirip-mirip. mungkin memang intinya tergantung dr kebijakan pihak konsosrsium masing-masing program yg bisa jadi berbeda-beda. akupun kurang tahu apakah kebijakan yg sama masih juga berlaku di MESPOM sekarang, karena pastinya tiap tahun mereka merevisi persyaratan dan apa yg boleh dan tidak bolehnya. kebetulan aku angkatan pertama di MESPOM. yg penting sih komunikasi dg pihak konsorsium terus menerus (via email) dan aktif membaca detil-detil persyaratan dg seksama (tolong dicatat waktu itu 2005 belum ada semacam forum yg saling bantu seperti sekarang, belum ada tempat bertanya, belum ada yg berpengalaman untuk dimintai saran/pendapat, semua dikerjakan sendiri dan benar-benar mandiri, sampe berangkat ke eropa sendiri, tanpa pelepasan resmi dll). mudah-mudahan sedikit cerita ini membantu bagi yg membutuhkan.

Posted in Articles | Tagged: , , , , | 42 Comments »

Masuk main list, apakah pasti diterima?

Posted by emundus on March 4, 2009

Pertanyaan ini adalah pertanyaan besar bagi sebagian besar calon EM awardees yang sudah mendapatkan konfirmasi dari EMMCnya bahwa mereka dinyatakan masuk ke main list, tetapi masih harus menunggu konfirmasi akhir dari Brussels.

Berikut adalah jawaban dari Ibu Destriani Nugroho, Project Officer dari Delegasi Komisi Eropa untuk Indonesia, yang dari tahun ke tahun telah membantu EM awardees dari Indonesia pada khususnya mulai dari persiapan keberangkatan, pertanyaan-pertanyaan umum, sampai urusan visa.

Bagi yang sudah masuk main list, kemungkinan besar akan diterima.  EC di Brussels hanya memastikan bahwa:

  • Tidak lebih dari 20% penerima beasiswa dalam satu EMMC berasal dari negara yang sama.
  • Diantara 20% tersebut, tidak lebih dari 2 orang berasal dari universitas yang sama.

Ada beberapa kasus sebelumnya kalau penyelenggara EMMC tidak memahami aturan tersebut di atas.  Sehingga walaupun sudah diterima oleh EMMC akhirnya salah satu terpaksa di drop.

Keputusan akhir EC di Brussels sekitar bulan April/May, applicant diharapkan mengecek emailnya setiap hari untuk jaga-jaga kalau ada persyaratan tambahan / perbaikan dokumen yang diperlukan.

Pada saat konfirmasi diterima, pastikan tidak ada “conditional acceptance”  misalnya diterima tetapi harus menyerahkan hasil TOEFL international misalnya.  Kalau ada segera balas email tersebut dan penuhi persyaratannya secepat mungkin.

Destriani Nugroho (Mrs.)
Project Officer
Development Section
Delegation of the European Commission
to Indonesia, Brunei Darussalam and East Timor
Wisma Dharmala Sakti – 16th Floor
Jl. Sudirman 32 – JAKARTA 10220
Tel: (+62 21) 2554 6200 (central) ext. 245
Tel.: (+62 21) 2554 6245 (direct)

Posted in Articles | Tagged: , , , , , , , , | 21 Comments »

Kehidupan mahasiswa/i EM

Posted by emundus on February 26, 2009

Anda tertarik untuk tahu lebih banyak seputar kehidupan para mahasiswa/i Erasmus Mundus?

Bila ya, saya menyarankan anda untuk segera membaca majalah khusus untuk Erasmus Mundus Alumni & Students, EMAnate, Issue 02 (terbaru). Versi elektroniknya bisa didapatkan di:

http://www.em-a.eu/fileadmin/content/EMAnate_issue2.pdf (3.7 MB)

Versi cetaknya? Mohon maaf, saat ini majalah ini baru didistribusikan, khusus untuk anggota EMA saja.

Di halaman 8, anda bisa melihat laporan mengenai kegiatan pameran pendidikan tinggi Eropa / European Higher Education Fair (EHEF) dan kegiatan EMA networking event di Jakarta, November 2008 lalu.

Selamat membaca.

EMAnate issue 02, page 8

EMAnate issue 02, page 8

Posted in Articles | Tagged: , , , , , , , , , , | 1 Comment »

Erasmus Mundus Student Handbook

Posted by emundus on June 22, 2008

http://www.em-a.eu/fileadmin/content/Student_Handbook_Final.pdf (2.2 MB – link updated 15 Oct)

http://www.em-a.eu/fileadmin/content/Student_Handbook_2009.pdf (link updated 7 September 2009)

The new Erasmus Mundus Student Handbook is now available to download! It is an information tool for Erasmus Mundus applicants, as well as for current students. The Student Handbook was composed based on the telephone interviews with students and coordinators, data from the European Commission and expertise of the programme graduates. It will be updated regularly, and your feedback is very welcome.

This handbook is an information tool for Erasmus Mundus applicants as well as for current students covering topics such as preparation of the study (application procedures, obtaining visas) and living in Europe (administrative issues, free-time activities and internship advice).

The Student Handbook was composed based on the telephone interviews with students and coordinators, data from the European Commission and expertise of programme graduates. It will be updated regularly, and your feedback is very welcome.

Posted in Articles | Tagged: , , , | 2 Comments »

Seni mencari beasiswa, persiapan mendaftar beasiswa & persiapan berangkat

Posted by emundus on May 15, 2008

By: Anggiet Ariefianto
Taken from: Milis beasiswa (beasiswa@yahoogroups.com)

Dear all,
Seorang teman saya minta saya membagikan filosofi saya seputar beasiswa. Berikut ini berapa poin yang sempat terpikir dan pernah saya terapkan.
Harap diingat, tidak semuanya aplikatif, ini adalah persepsi saya, jadi
sangat personal, bukan opini umum dan bukan kebenaran yang hakiki.

Seni Mencari Beasiswa

Memilih beasiswa bisa dilakukan dengan berbagai cara yang semuanya sah.
Idealnya mencari beasiswa itu mengacu kepada kebutuhan, keinginan,
kemampuan dan kemungkinan.

  1. Berdasarkan jurusan
    Sebagian orang memilih beasiswa karena ingin mendalami bidang tertentu yang super spesifik, misalnya nano biologi. Tidak masalah studinya di Negara mana. Jika demikian, yang harus dilakukan adalah  membuat data universitas yang memiliki program yang diingini, kemudian lihat kemungkinannya, adakah beasiswa yang bisa mendukung untuk ambil program itu di uni yang diinginkan.

    Harap diingat, meskipun namanya sama, belum tentu muatan materi ajarnya sama. Ambil contoh misalnya gender studies. Ternyata banyak mainstreamnya seperti women studies, gay studies, domestic violence, gender in development, dst.

    Pengamatan saya di Australia, banyak uni yang sama nama programnya tapi dari mata kuliahnya akan terlihat lebih berfokus ke mana. Ini yang seringkali tidak diantisipasi oleh pendaftar (termasuk saya sendiri). Survey yang akurat dan komprihensif diperlukan, pastikan kita tahu betul apa muatan jurusan yang dituju, karena biasanya pada saat wawancara kita juga harus bisa menjelaskan kenapa kita mau ambil bidang itu di universitas itu

  2. Berdasarkan Negara
    Sebagian orang terobsesi ingin sekolah di negara tertentu. Maka yang harus dilakukan adalah mencari beasiswa yang tersedia dari Negara yang bersangkutan. Seringkali sebuah Negara memberikan lebih dari satu skema beasiswa. Australia misalnya memberikan beasiswa melalui ADS, tetapi juga ada IAFTP. Selain itu universitas Australia juga memiliki skema beasiswanya sendiri.

    Alasan ini yang saya pakai waktu daftar ADS, karena kakak-kakak saya semua dapat ADS, ya saya tidak mau kalah, jadi karena ingin sekolah di Australia ya meriset bidang apa sich yang cocok untuk saya, di universitas mana, dst.

  3. Berdasarkan beasiswa yang ada
    Banyak orang mendaftar beasiswa berdasarkan tawaran yang ada. Ini biasanya terjadi kalau ada beasiswa besar yang memulai seleksi seperti ADS dan Stuned. Dalam hal ini kemampuan untuk memperoleh informasi sangat berperan. Banyak orang tertarik mendaftar karena memperoleh informasi beasiswa yang ternyata cocok untuk mereka. Metode ini saya pakai untuk mendaftar tiga beasiswa terakhir yang saya peroleh. Sering-sering saja mengikuti email-email yang muncul di milis beasiswa. Kalau ada yang kira-kira menarik, kita memenuhi syarat, iseng daftar.

    Harap disadari, biasanya informasi dating mepet atau sudah terlambat, jadi biasakan sedia payung sebelum hujan. Saya selalu punya ijasah IELTS/TOEFL yang masih valid dan referensi2 yang bisa saya sisipkan. Pernah mendaftar beasiswa hanya butuh waktu 2 hari untuk mengumpulkan dokumen, mengisi form dan mengirim. Triknya mudah saja, surat rekomendasi tidak ada tanggalnya, pada bagian akhir mengatakan, mendukung untuk studi lebih lanjut. Jadi semua tidak spesifik. Pada akhirnya hanya perlu modal fotokopi dan ongkos kirim.

  4. Berdasarkan jumlah nominal beasiswa
    Biaya hidup di luar negeri biasanya lebih tinggi dari di Indonesia dan banyak beasiswa hanyalah parsial atau mengikuti UMR  Negara setempat, jadi hidup pas-pasan. Beasiswa parsial biasanya hanya memberikan gratis uang sekolah, gratis uang sekolah dan uang saku tapi tidak mengganti tiket, gratis uang sekolah dan akomodasi tapi tidak memberi uang saku dst.

    Pelajari betul skema beasiswa yang diminati, apa saja yang tercover. Kalau memang mau nekat ambil beasiswa parsial, selidiki betul bagaimana menutup kekurangan beasiswanya. Apakah ada badan lain yang dapat membantu (termasuk orang tua, pasangan, jual property dst) ataukah universitas sendiri dapat membantu. Pengalaman teman2 saya yang menerima beasiswa AMINEF beasiswanya memang kurang, tapi universitas tujuan biasanya membantu dgn memberi pekerjaan sebagai asisten dst. Kalau saya pribadi saya punya prinsip saya tidak akan ambil beasiswa yang tidak mengcover penuh.

PERSIAPAN MENDAFTAR BEASISWA
Ketika memilih sebuah beasiswa, ada beberapa hal yang harus diperhatikan untuk memperbesar kemungkinan kita untuk mendapatkan beasiswanya. Karena kesempatan beasiswa hanya datang setahun sekali, harus sangat berhati-hati memilih dan mendaftar beasiswa

  1. Lihat kemampuan dan kesiapan diri sendiri
    Kalau ada tawaran beasiswa, harus ada rekoleksi diri yang jujur. Apakah saya memenuhi syarat terutama dalam hal usia, pekerjaan, latar belakang pendidikan, pendanaan, kesehatan dst. Misalnya, kalau memang tidak punya cadangan dana hindari beasiswa yang parsial, kecuali kalau memang siap menghadapi resiko kesulitan financial di negara orang (meskipun biasanya akhirnya teratasi).

    Kalau memang punya bayi dan beasiswa yang didaftar tidak mengcover keluarga lalu merasa tidak siap meninggalkan keluarga ya jangan daftar dulu, mungkin ditunda sampai anak lebih besar. Pikirkan baik-baik, dapatkah saya meninggalkan keluarga, pekerjaan, kampong halaman dst.

    Selama saya study saya sering sekali jadi tempat curhat ibu-ibu yang harus meninggalkan anak dan suami dan juga suami-suami yang jadi kurang gizi karena jauh dari istri. Pindah ke suatu tempat yang tidak kita kenal, jauh dari keluarga tidak mudah, apalagi kalau kita tidak menguasai bahasa setempat. Pertimbangkan juga stress yang akan muncul kemudian, homesickness dst. Ketika sudah mengambil keputusan, ‘deal with it’, jangan cengeng di negeri orang yang akhirnya akan merepotkan komunitas Indonesia di sana.

    Ketika saya studi di Melbourne ada salah satu rekan saya minta pulang setelah 2 minggu sekolah karena tidak tahan hidup tanpa istri (manja amat sich? Hari gini?)

  2. Lihat posibilitas untuk mendaftar
    Hampir tidak mungkin mendaftar beasiswa tanpa restu dan ijin atasan. Sebelum mendaftar, yakinkan bahwa atasan (artinya bos, pasangan dan keluarga) itu mendukung. Salah satu dosen IALF pernah curhat ke saya karena salah satu kandidat beasiswa AUSAID yang tidak jadi berangkat karena suaminya tidak mengijinkan (lho waktu itu apa tidak pamit?). Saya juga banyak menemukan masalah dimana atasan tidak mengijinkan (alasannya bisa karena sirik, gak mau kehilangan staf, dst.)
  3. Pahami betul persyaratan beasiswa yang akan di daftar
    Setiap beasiswa ada peraturannya sendiri. Ada yang menetapkan batasan usia, hanya terbatas untuk bidang tertentu, hanya untuk kalangan tertentu (berdasarkan geografis, agama, etnis, status pekerjaan dst), harus punya pengalaman kerja minimal ….. tahun, dst. Pastikan bahwa kita memenuhi SEMUA kriteria yang diminta, karena seleksi awal adalah kelengkapan dokumen.
  4. Pahami betul aplikasi beasiswanya
    Mengisi formulir beasiswa juga gampang-gampang susah. Kebanyakan beasiswa menilai kualifikasi pendaftar dari motivation letter. Pengalaman saya membantu anggota milis beasiswa membuat motivation letter, kebanyakan motivation letter dari pendaftar beasiswa Indonesia itu isinya muter2, banyak pakai kata-kata yang berbunga-bunga, padahal kalau disaring tidak ada isinya.

    Biasakan mengisi motivation letter itu singkat dan padat, jadi yang membaca langsung mengerti apa yang mau disampaikan, kualifikasi pendaftar dst. Harap diingat bahwa penyeleksi beasiswa itu harus membaca ribuan aplikasi, jadi seleksi pertama biasanya kelengkapan dokumen, setelah itu baru motivation letter dibaca. Dalah satu hari seorang penyeleksi harus membaca puluhan motivation letter. Kalau motivation letter kita tidak jelas, kemungkinan langsung dicoret. Saya biasanya pakai system dot point dalam menulis yang diikuti penjelasan, karena itu sangat memudahkan pembaca untuk mengikuti isi tulisan saya

    Dalam mengisi formulir beasiswa sebaiknya berkonsultasi dengan orang2 yang pernah memperoleh beasiswa itu karena mereka mungkin punya jurus2 jitu yang tidak kita sadari. Pada waktu saya daftar Ausaid, boleh dibilang kakak saya yang mengisi formnya melalui beberapa tahap revisi. Jangan lupa memenuhi SEMUA persyaratan beasiswa. Kalau yang diminta international TOEFL, pastikan yang dikirimkan adalah international TOEFL, jangan yang institusional.

    Kalau diminta tiga referensi, pastikan memang menyertakan tiga referensi. Sebaiknya referensi itu minimal satu dari atasan. Pastikan aplikasi lengkap waktu dikirim dan dikirim sebelum deadline, dst.

  5. Persiapkan peralatan tempur
    Mencari beasiswa itu lebih dari sekedar cari bidang yang diingini dan isi formulir. Ketika kita sudah merasa siap mental untuk mendaftar dan ‘jalan menujur Roma’ sudah dibersihkan dari onak dan duri, persiapkan diri betul. Selidiki budaya dan kebiasaan masyarakat negara tempat tujuan, supaya kamu bisa mengantisipasi kondisi di sana. Dalam setiap wawancara, ada beberapa pertanyaan yang intinya ingin menguji kesiapan mental kita untuk tinggal di negara orang dan pengetahuan kita terhadap kehidupan sosial di sana.

    Setiap wawancara pertanyaannya standar, di sana mau kuliah apa, kenapa ambil kuliah itu, bagaimana nanti mengimplementasikan ilmu yang diperoleh, dst. Lakukan persiapan yang matang sebelum maju wawancara

  6. Banyak berdoa
    Kalau aplikasi sudah dikirim, sambil menunggu panggilan, banyak-banyaklah berdoa, yang diatas juga perlu diyakinkan kenapa beasiswa itu penting buat kamu. Biasakan kalau sudah mendaftar beasiswa segera lupakan, khan belum tentu dapat. Kalau memang dipanggil baru berpanik-panik ria.

PERSIAPAN SETELAH MENERIMA BEASISWA
Ada dua hal penting yang harus dilakukan: persiapkan diri, dan persiapkan
orang lain.

  1. Persiapan diri yang matang
    Persiapan diri ini tidak hanya sebatas membuat data barang yang harus dimasukkan ke dalam koper, tapi juga harus paham bagaimana budaya dan kebiasaan masyarakat setempat, keberadaan masyarakat Indonesia di sana, penginapan hari-hari pertama dimana, iklim dst. Sebelum berangkat harus sudah punya daftar kegiatan yang akan dilakukan, alamat2 yg hrs dituju, mesti lapor diri di uni kapan, dst

    Sekolah di luar negeri itu bukan cuma untuk menambah ilmu, tetapi juga menyelami bagaimana kehidupan di negeri sana. Jadi kalau sekolah di luar, jangan cuma berkumpul dengan sesama orang Indonesia tapi berinteraksilah dengan masyarakat lokal, mengasah kemampuan berbahasa asing dan menyelami serba serbi masyarakat setempat. Itu adalah bagian dari pelajaran beasiswa, bagian dari proses pembelajaran. Dari banyak mengamati, diskusi dan berinteraksi, kita akan belajar banyak hal yang tidak akan kita dapat dari textbook. Jangan lupa banyak jalan-jalan, mumpung sudah sampai sana. Menabung memang perlu, tapi jangan kelewatan.

    Perhatikan betul budaya setempat. Salah satu kebiasaan mahasiswa Indonesiayang sangat mengganggu saya adalah kebiasaan ‘numpang makan’. Kalau ada acara kumpul-kumpul datang terlambat, makan langsung pulang. Etika tinggal di luar itu kalau ada acara makan, bawalah makanan untuk dimakan bersama dan karena di luar tidak ada yang punya pembantu, ikut beres-beres setelah acara selesai adalah wajib hukumnya. Acara makan-makan di luar negeri jangan dijadikan ajang perbaikan gizi tapi lebih ke arah silaturahmi.

  2. Persiapan keluarga yang akan dibawa/ditinggal
    Kalau mau bawa keluarga, persiapkan betul mental mereka juga. Saya banyak mengamati tingginya stress pada anak, baik jika anak dibawa bersekolah ataupun ditinggal di rumah. Anak ternyata banyak merasa tersisihkan dalam proses pindah, karena merasa tidak diajak kompromi, merasa terenggut dari dunia yang dia kenal dan ditempatkan di tempat asing, kemudian dia akan mengalami stress kedua saat harus kembali ke Indonesia. Ketika anak ditinggal, ia akan merasa terbuang, bahwa orang tuanya tidak mencintainya ketika mereka pergi sekolah. Memberikan pemahaman pada anak sering butuh waktu yang panjang (hal yang sama juga berlaku untuk orang tua). Jangankan manusia, anjing saya pun stress kalau lihat saya mulai mengisi koper karena artinya ia akan ditinggal dan jadi super manja, tidak mau makan, cari perhatian dst.

    Kalau mau bawa pasangan, ini juga tidak selalu pilihan yang tepat. Biasanya kalau suami yang membawa istri tidak masalah karena istri biasanya lebih pasrah dan mendukung suami. Biasanya suami-suami ini mengalami masalah makan karena banyak yang tidak bisa masak dan baru membaik saat istrinya tiba. Sayangnya kebalikannya tidak selalu sama. Saya banyak jadi tempat curhat istri-istri bete dengan suaminya yang mereka tenteng ke luar negeri. Sayangnya memang masyarakat kita masih sangat chauvinist. Ternyata suami-suami yang jadi pengangguran di luar negeri sering frustrasi karena bosan tidak melakukan apa-apa, banyak yang tidak bisa komunikasi dengan masyarakat luar. Banyak istri-istri mengeluh karena setelah suami tiba pekerjaan bertambah, capek sekolah seharian, sampai di rumah masih harus masak, beres-beres rumah dst. Meskipun banyak juga yang suaminya berubah jadi pinter urus anak, pinter masak dst.

    Saran saya kalau mau bawa pasangan, lihat baik-baik karakter pasangannya, kalau tipe yang bikin repot, lebih baik ditinggal saja di rumah. Atau ikuti yang saya lakukan: Jangan menikah kalau masih suka keluyuran keluar negeri.

Posted in Articles | Tagged: , , , , , | 23 Comments »

EMCL 2008

Posted by emundus on December 7, 2007

The European Master’s Program in Computational Logic

We are glad to offers you the possibility to join our European Master Program of Computational Logic. This program is offered jointly at the Free-University of Bozen-Bolzano in Italy, the Technische Universität Dresden in Germany, the Universidade Nova de Lisboa in Portugal, the Universidad Politecnica de Madrid in Spain and the Technische Universität Wien in Austria. Within this program you have the choice to study at two of the five European universities. You will graduate with a MSc in Computer Science from each of the two universities you have selected. Information on the universities and the program including the application form are provided here:

http://european.computational-logic.org

Read the rest of this entry »

Posted in Articles | Tagged: , , , , | Leave a Comment »

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 577 other followers