Belum lama ini, sebuah email singgah di inbox saya. Email forward-an dari salah satu teman EM ini isinya sebagai berikut:
Dear para alumni EM,
Saya hendak mencoba mendapatkan beasiswa EM untuk program XXXXX (Master in …), dan untuk itu dibutuhkan surat referensi akademis dari dua orang. Namun mengingat prestasi akademis saya semasa S1 sangat biasa-biasa saja (IPK saya hanya 2,99) dan nilai C bertebaran di mana-mana, apakah mungkin berharap bahwa para dosen saya memberikan penilaian yang mendukung aplikasi saya? Apalagi, surat referensi itu harus menggunakan formulir baku yang telah disediakan oleh pihak konsorsium. Formulir tersebut cukup detil juga dalam berbagai aspek akademis.Mohon masukan dari para alumni EM yang terhormat.
Terima kasih.
Reply saya adalah sebagai berikut:
Banyak orang yang ga sadar kalau what u do now will determine what you’ll be in the next 5 years.
Kemarin ini, gue abis ketemu dengan 1 orang yang kelahirannya tahun 1981, tetapi di CV kok ditulisnya lulus Bachelor tahun 2008. Setelah ngobrol2, baru terkuak kalau orang ini sibuk di lab dan juga menjadi asdos. Ini yang menyebabkan kuliahnya menjadi kurang terurus, dan di atas kertas, lulus S1 dalam 8 tahun bukanlah prestasi yang bisa dijual.
Anyway, per saat ini (2011), dia sudah menyelesaikan S2 di salah satu universitas negeri ternama, dan punya track record kerjaan yang baik. Jadi, orang ini sudah menutup kekurangannya terdahulu, dan menjadi pribadi yang lebih menarik jualannya.
Moral of the story: Everyone makes mistakes. Namun, bukan berarti ga ada jalan lagi buat mereka2 yg sudah melakukan kesalahan di masa lalu. Hanya saja, they have to strive harder utk mengcover kesalahan masa lalu itu dengan sesuatu yang lebih cemerlang.
Saat ini, if you still have the chance to make your study right, then make it right. Tentunya nilai dan prestasi yang baik akan menjadi modal perang yang sangat berharga menghadapi pesaing beasiswa dari seluruh dunia.