Banyak pertanyaan yang muncul di Holland Education Fair kemarin seputar tips & trik serta contoh motivation letter milik student/alumni Erasmus Mundus (EM).
Seleksi beasiswa EM yang pada umumnya (beberapa program menyelenggarakan interview) hanya berbasiskan pada aplikasi membuat kehadiran motivation letter ini menjadi salah satu elemen penting bagi konsorsium untuk menilai:
- Kualitas, bobot, kemampuan, dan pengalaman applicant
- Seberapa jauh research yang telah dilakukan applicant untuk program yang dituju
- Apakah tujuan applicant untuk mengambil program ini sesuai dengan tujuan program
Berikut adalah beberapa rangkuman tips & trik dari student/alumni EM pada HEF Jakarta (14-15 November 2009):
- Buat benang merah baik dari latar belakang pendidikan / pekerjaan ke program yang akan diambil.
- Dalam menulis, pikirkan kalau anda ada di posisi konsorsium, mengapa saya harus menerima “A”, bukan “B”. Kualifikasi apa yang dimiliki “A” yang membuatnya bisa unggul dari kandidat lainnya.
- Jangan buru-buru menulis. Ambil waktu untuk memikirkan apa sih keunikan anda yang bisa membedakan anda dari kandidat lainnya, misal: keaktifan di aktivitas lingkungan, partisipasi dalam event nasional, dll. Jangan buat motivation letter yang biasa-biasa saja (yang semua orang bisa bikin).
- Bila memang IPK anda tidak terlalu menonjol, sertakan alasan yang tepat mengapa terjadi demikian. Hindari menyalahkan kesibukan di organisasi, kesibukan di bisnis karena akan mengesankan anda tidak bertanggung jawab pada kegiatan utama anda.
- Bila jurusan S1 anda “tidak nyambung” dengan EMMC yang mau di-apply, adalah tugas anda untuk membantu konsorsium menemukan alasan untuk menerima anda.
- Sertakan tujuan anda dalam mengikuti program (tentunya tidak sekedar untuk mendapatkan gelar S2), apakah untuk memajukan bangsa, mengabdi pada bangsa, menjadi expert di bidang tertentu, dll.
- Hindari keluh kesah, jangan terlalu banyak bercerita tentang masa lalu anda (misal: kesulitan ekonomi, fasilitas tidak mendukung) sebaliknya ceritakan tentang cita-cita, harapan dan tujuan yang ingin anda capai.
Just write things that have made you who you are now.
Why do you want to continue your education/training to a Master level degree.
What motivate you to do such thing, to do another hard work.
What motivate you to choose EMMC, why ‘that’ EMMC.
What motivate you to study in Europe, with that ‘mobility’.
Et cetera…
That’s why it’s called motivation letter.
Write less bullshit, more some things reached by your own hands.
Berikut adalah contoh motivation letter milik student/alumni EM (mohon tidak di-plagiat !!!), untuk menjawab pertanyaan “Motivation Letter seperti apa sih yang bisa tembus beasiswa EM?“. Beberapa bagian mungkin telah di-edit oleh penulisnya.
- Carroline, European Master in Computational Logic, 2007 – PDF
- Efrian, Master of Science in European Forestry, 2006 – PDF
- Dina Mardiana, Master CLE – Culture Letterarie Europee, 2008 – PDF
Link motivation letter lainnya:
A Sample of MOTIVATION STATEMENT for Master Scholarship
Archive for November, 2009
Motivation Letter / Statement of Purpose
Posted by emundus on November 18, 2009
Posted in Articles | Tagged: Beasiswa Erasmus Mundus, holland education fair, motivasi, motivation letter, statement of purpose | 97 Comments »
Apply Erasmus Mundus Sebelum Lulus
Posted by emundus on November 6, 2009
Banyak pengunjung blog ini yang bertanya bagaimana caranya untuk apply Erasmus Mundus sebelum lulus.
Di bawah ini adalah cerita dari beberapa student dan alumni yang memiliki pengalaman yang sama. Semoga dapat menginspirasi Anda semua.
Cassie, EM awardee 2009 untuk program Marine Biodiversity and Conservation
Pada Desember 2008 saya mengajukan beasiswa EM ketika masih belum lulus S1, walaupun sebenarnya tidak ada kejadian yang spesial karena untuk saya semua urusan terhitung mulus…
Di website program saya memang sudah dikatakan bahwa tidak masalah bila pendaftar masih belum lulus kuliah. Namun, kita memang harus menjelaskan secara tertulis bahwa kita memang mahasiswa tingkat akhir yang akan lulus sebelum perkuliahan master dimulai. Saya sendiri mengatakan bahwa saya akan lulus pada bulan Juni 2009 (walaupun akhirnya diwisuda pada bulan Juli 2009). Ijazah saya kirim setelahnya dan tidak ada masalah dan saya sendiri berangkat akhir bulan Agustus 2009.
Mengenai apa yang harus dipersiapkan, menurut saya, penuhi saja semua syarat yang diminta di website dengan sebaik-baiknya. Apabila ada kasus khusus, seperti belum lulus S1 (yang artinya tidak bisa menyerahkan ijazah S1) maka jelaskan secara tertulis. Yang mungkin harus diperhatikan adalah kita harus ‘memasang’ target kelulusan yang masuk akal dan harus berusaha memenuhinya (kan ga lucu kalau kita diterima EM, tapi ga jadi berangkat gara-gara belum lulus. Harusnya setelah tahu diterima, kita jadi lebih semangat untuk lulus!)
![]()
Nay, EM awardee 2005, MESPOM
menilik umur, koq bisa aku belum lulus S1 pas daftar mespom? hehe…ceritanya, dulu kuliahnya D3, lulus trus kerja dulu. Nyambung S1 tahun 2003, selesai pertengahan 2005 (kira-kira 1.5 tahun). sementara kira-kira pertengahan 2004 sudah mulai cari-cari beassiwa, jadi pengisian formulir pendaftaran dll dilakukan pada saat masih aktif kuliah S1 semester ke-2 (karena nyambung dari D3, jadi hanya perlu 3 semester untuk lulus).
Karena proses aplikasinya sendiri memakan waktu hampir 1 tahunan (agust 2004-agust 2005), jadi waktu itu seluruh proses seleksi berjalan berbarengan dengan masa kuliah sambungan S1 semester 2 dan 3 (akhir).ada beberapa kolom di form aplikasi yg jadinya tidak bisa terisi, tapi kebetulan program mespom (waktu itu) ada menyebutkan bagaimana harus mengisi form jika statusnya belum lulus (kurang tahu apakah hal ini juga ada di program yg lain). jadi secara persyaratannya, memang dibolehkan. karena kelulusan S1 dulu akan berbarengan dg waktu keberangkatan ke eropa, jaminannya waktu itu hanya transkrip D3 dan transkrip sementara semester 1 S1 (yg 2 semester belum keluar waktu awal pendaftaran). konsorsium merasa ini cukup (setelah beberapa kali korespondensi), dan mereka setuju bahwa sertifikat yg lain-lain (yg belum ada) akan menyusul sesegera mungkin, sehingga aplikasi diproses terlebih dulu tanpa sertifikat kelulusan S1.
untunglah aku diterima, dan bersamaan dg pengurusan visa dll, aku juga sibuk ujian S1, nulis thesis akhir, pendadaran, dan tentu saja, masih kerja full-time senin-jumat
waktu aku daftar beasiswa dan mulai melewati tahapan step by step dan selalu lolos, aku mulai melakukan pendekatan ke pihak universitas tempat aku belajar S1 sabtu minggu, menerangkan apa yg akan kutempuh setelah lulus S1, bahkan salah satu dosen memberikan surat rekomendasi untuk mendaftar beassiwa, sehingga pihak universitas juga mendukung penuh. Ini penting karena di akhir semester, pas sudah mau berangkat ke eropa, seharusnya ijasah S1 belum resmi keluar, tapi universitas memutuskan untuk mengurus ijasah asliku untuk diproses lebih dulu, jadi bisa dibawa terbang ke eropa.
sampai di sana, urusan pertama yg harus dilakukan begitu mendarat, yaitu menyerahkan seluruh sisa kelengkapan dokumen yg waktu proses penerimaan dijanjikan akan diberikan. untunglah semua lancar dan tepat waktu, jadi semua pihak lega. nego ke konsorsium mungkin tidak perlu dalam kasusku karena memang konsorsium sudah menyebutkan bahwa untuk yg BELUM lulus S1…boleh daftar…dg ketentuan tersendiri seperti yg sudah aku alami di atas. deg-degannya waktu itu cuman bisa ga ya universitas keluarin ijasah sementara yg lain belum terima. dg pendekatan ke beberapa pihak dan dg niat baik, serta dg membawa nama baik almamamter juga, justru malah mereka dg senang hati membantu dan bangga, karena alumninya ada yg langsung keterima S2 di eropa.
mudah-mudahan sharing ini membantu buat mereka yg senasib dg-ku, atau di situasi yg mirip-mirip. mungkin memang intinya tergantung dr kebijakan pihak konsosrsium masing-masing program yg bisa jadi berbeda-beda. akupun kurang tahu apakah kebijakan yg sama masih juga berlaku di MESPOM sekarang, karena pastinya tiap tahun mereka merevisi persyaratan dan apa yg boleh dan tidak bolehnya. kebetulan aku angkatan pertama di MESPOM. yg penting sih komunikasi dg pihak konsorsium terus menerus (via email) dan aktif membaca detil-detil persyaratan dg seksama (tolong dicatat waktu itu 2005 belum ada semacam forum yg saling bantu seperti sekarang, belum ada tempat bertanya, belum ada yg berpengalaman untuk dimintai saran/pendapat, semua dikerjakan sendiri dan benar-benar mandiri, sampe berangkat ke eropa sendiri, tanpa pelepasan resmi dll). mudah-mudahan sedikit cerita ini membantu bagi yg membutuhkan.
Posted in Articles | Tagged: application, beasiswa, Beasiswa Erasmus Mundus, belum lulus, scholarship | 42 Comments »
The story of EHEF 2009, Bangkok
Posted by emundus on November 5, 2009
Written by: Netta (SEFOTECH.NUT, 2007 EM awardee)
She will be the presenter of Erasmus Mundus in Holland Education Fair in Yogyakarta, 10 November 2009 –> check this link
Friday (30 October 2009)
Iqbal and I were flying from Jakarta on Friday morning. We arrived at Suvarnabhumi International Airport. Since the immigration queue were quite long, it took us sometime before we cleared the immigration and went to our hotel. PeWe, Danang, and Yansen’s flight were later that day.
I met my old classmate during my EM days, Palm, so after checked in our rooms, the three of us went to have dinner. Well, actually it was a late lunch, none of us were having lunch. On our way, we met Ton, another Thai EM-ers. He then guide us to Siam Paragon, the venue where the EHEF 2009 will be held. All of us walked to Asoke BTS (Bangkok Transit System) Station and took the BTS to Siam Station. The Mall has connecting bridge with the BTS station. There we were, had dinner, sipped the greentea and walked around the mall.
When we came back, it turn out that PeWe, Danang, and Yansen were already arrived. Since they haven’t had dinner, we all agreed to go out again and find some food. Nobody had an idea where we would go to get dinner. “Why don’t we go to Suan Lum Night Bazaar?” said I. That’s the only place I know. We took taxi there (yeah, the taxi were expensive, coz none of us know the market price). PeWe, Danang, and Yansen had dinner, while me and Iqbal were drooling. OK, that’s too much
Since Iqbal and I already had dinner we only order some juices. After dinner we walked around the Night Bazaar and do some souvenirs hunting. It turns out the guys (except Danang) had better ability on bargaining things. Lesson’s learned. Next time, let those guys do the bargaining.
Finished with shopping, we realized that all of us still want to do some adventurous journey. We took Tuk-tuk back to the hotel. (I hope the reader will stop their imagination at this point! Five of us in 1 Tuk-tuk). To be honest, none of us considering having small size. So yeah… there we go. Ho ho ho.
Saturday (31 October 2009)
Saturday morning, D-Day, all of the EMA-SEAers wearing blue EU T-shirts. After breakfast we all met at the hotel lobby. New friends, old friends, all together. Lots of kisses on the cheeks, hugs, and stuffs. After that all of us went to the EHEF venue. It turned out that the event was delayed a bit. So most of us still chit chatting with each others, swapping news, etc.
We had EMers from Thailand, Malaysia, Indonesia, and Vietnam. It’s the first time that we had Vietnam’s delegation in the EMA SEA meeting. Yeaaaay. More members of the big family! When the EHEF officially started, the members were busy explaining Erasmus Mundus and experiencing European life to those who came to our booth.
At the same time, the Directive Boards (Iqbal, Jum, Rebecca, Dee, Fiat, Yansen, and Danang) had their meeting in a secret room (well.. I exaggerated on this part). Thai people enthusiasm was great. Although we got some language barrier problems, still, it turned out great.
After lunch, all of us, including the Directive Boards went to do some sightseeing. We went to Wat Srakesa Rajavaramahavihara (The Golden Mount Temple), then to Wat Pho where we saw the HUGE reclining Budha statue, and the last trip was to a museum. Wow, to honest, the museum had a great presentation. Lots of interactive stuffs, we had a lot of fun!
After visiting the museum, it turned out that we still had 1 hour before our dinner. Then the sightseeing committee brought us to a park near Chao Phraya River. There we were, experiencing the Saturday Nite beside the river. The view of Rama VIII Bridge was great. (Hmm.. Rama VIII bridge is kinda like the mix between Monas and Pasopati Bridge, but in bigger scale). The park was crowded, because people were already started to celebrate Loy Krathong Festival. A lot of shows, mostly theater shows, played in the park.
Dinner was held in a restaurant near a palace which looks like Capitol Hill to me. (Sorry, I forgot the name of the Palace).
Sunday (1 November 2009)
Sunday morning, most of us already checked out, and then went to Vie Hotel where our EMA SEA chapter meeting were held. There, all the directive boards presented their programs and members can choose which team they want to participate in. (Further on minutes and result of the meeting will be the official version by the DB). Be patient people!! ^_^
After lunch, some people flew back to their countries and some who had later flight went back to EHEF event, supporting the Thai EM on explaining EM. The event were closed at 7pm. And until the last minute, I was still there talking with a prospective Thai EM-ers.
All in all, thank you very much for the Thai committee for the great enthusiasm and hospitality. This event will not be this great without their hard work.
Posted in Non-Promotional Events | Tagged: 2009, bangkok, beasiswa, Beasiswa Erasmus Mundus, directive board, ehef, ema, networking event, siam paragon, suan lum, thailand | Leave a Comment »