[ID] Perubahan pola pikir setelah mendapatkan beasiswa
Posted by emundus on June 16, 2008
Tulisan ini ditulis berdasarkan pengamatan dari diskusi yang berkembang di antara penerima beasiswa EM 2009. Semoga bisa menyadarkan bagi yang membaca, entah sudah dapet beasiswa atau belum.
Saat belum mendapat beasiswa banyak orang yang berharap untuk mendapatkannya. Kadang tanpa mempedulikan lokasinya, bidangnya apakah benar2 sesuai minat atau tidak, berapa grant-nya.
Tetapi setelah mendapat beasiswa banyakyang mulai nuntut macem2. Mulai dari protes kalo ditaro di negara2 tertentu yang visanya sulit atau ga punya perwakilan kedutaan di Indonesia. Protes kalo syarat visanya macem2. Protes kalo negara tempat belajarnya agak di ujung, dan visanya bukan Schengen. Protes kalo harus belajar bahasa lokal untuk kuliahnya.
Ada lagi yang lebih parah, mulai ngebandingin biaya kuliah antara satu progam dengan program lain. Mulai “menyesali” diri karena uang kuliahnya lebih tinggi dibanding program lain sehingga grant yang didapat lebih sedikit. Ada juga yang mulai mikir, bisa bawa keluarga ga ya?
Inilah kurangnya orang2 tipe seperti ini. Cuma semangat di awal doang. Tanpa planning pasti, apply sana sini, uda dapet baru bingung dan nuntut macem2. Males banget ga sih?
Kok sepertinya ga pada sadar diri ya. Coba pada nengok lagi ke belakang, saat belum dapet beasiswa. Saat itu, kalo dapet beasiswa aja rasanya bersyukur banget kan. Jadi uda deh, sekarang karena uda dapet, jangan trus ngebandingin satu sama lain. Toh soal grant itu sudah jelas, transparan, dan gamblang dijelaskan di website program. Tidak ada program yang disembunyikan. Semua orang bisa daftar ke program mana saja. Jadi ga usah pake iri2an.
angie said
ahahahaha….exactly my thought from reading the emails in the mailling list.
I guess people just never satisfied with what they have.
okta said
Setuju,, tp gak semuanya begitu kok..
===believe me, we are so thankful^^====
dina said
kalo sy memposisikan diri sbg mereka, sy bayangkan itu wajar kok, mas Yansen
, karena mungkin mereka ingin mencoba negara2 yg eksotis, yg ‘lain’ drpd pilihan standar. nggak papa, pengalaman aja supaya next time lebih hati-hati
.
apr said
memang terdapat perbedaan antara mereka yang berfikir kritis dan yang berfikir Nrimo
emundus said
tentunya lebih baik menjadi seorang yang kritis sebelum mendaftar. jadi bisa nrimo setelah diterima.
kalau jadi kritisnya baru setelah diterima, itu yang repot.
efrian said
Weukekekek…gw tau knp lo tulis ini bro’….he..he…
setuju lah..beda orang beda rezeki..gak usah bandingin jeruk sama apel….
Yuri said
Hehehe,
salam kenal..
saya jujur aja juga merasa begitu, tapi tdk apa2, lain kali saya mesti hati2… lebih teliti dan kritis.